7 Alasan Nggak Perlu Iri Sama Anak Manja

Entahkenapa kita harus berurusan dengan model begini. Kalau masih hanya teman, bisa sih, nggak perlu terlalu dekat. Kalau hanya kenalan biasa, masih bisa dihindari alias berurusan seperlunya.

Kalau keluarga sendiri? Ya, lain lagi. Mau menghindar, kok nggak enak hati. Padahal,model begini hobinya nyusahin sekali – baik sama diri sendiri maupun orang lain di sekitar mereka.

Ada yang kemudian bisa berubah, terutama dengan pendidikan yang tepat dan kemauan keras dari diri sendiri. Namun, sisanya memang keras kepala karena merasa sudah kelewat “nyaman” nyuruh-nyuruh orang.Kalau nggak diturutin, ngambek. Malas bergerak, padahal secara fisik masih mampu.

Kalau dikira jadi anak manja (atau yang dimanja) itu selalu enak, sebenarnya enggak juga. Ini dia tujuh (7) alasannya:

Mereka manusia paling merepotkan di dunia.

Okelah kalau mereka masih bayi, kanak-kanak, atau bahkan berkebutuhan khusus. (Bahkan, yang berkebutuhan khusus pun seringnya lebih mandiri daripada yang enggak. Malu nggak, sih?) Mungkin mereka sendiri nggak peduli, selama masih ada yang melayani. Hanya dengan cara itu mereka merasa lebih penting dan tinggi.

Padahal,sebenarnya mereka sangat merepotkan. Syukur-syukur kalau bisa segera sadar.Kalau enggak? Tinggal tunggu makin banyak yang menjauh. Susah sendiri, deh.

Mereka nggak peduli sama kesehatan diri sendiri.

“Tolong, dong. Aku capek, nih.”

Sering disuruh-suruh sama model begini, bahkan untuk hal paling remeh sekali pun? Apa iya mereka selalu selemah itu? Mungkin awalnya mereka enak, nggak perlu capek dan nggak perlu mikir. Tinggal nyuruh-nyuruh orang lain dan terima jadi.

Kalau ada yang salah? Tinggal omelin yang mereka suruh-suruh. Gampang banget, ‘kan?Apalagi bagi yang merasa itu memang hak mereka.

Tunggu saja sampai mereka tua. Karena malas bergerak dan lebih banyak tidur serta makan, otot mereka jadi kendor. Daya tahan tubuh rendah, makanya makin cepat capek dan gampang sakit pula. Tuh, malah makin nyusahin diri sendiri sama orang lain, ‘kan?

Soal otak? Jangan tanya. Yang ada malah bahaya makin lemot, gara-gara males gerak dan mikir. Nggak usah yang ribet seperti masalah kelas dunia, yang simpel seperti mengurus diri sendiri saja ogah.

Mereka lebih rentan kena depresi.

Memang,nggak semua depresi timbul karena rasa malas. (Untuk isu kesehatan mental, sebaiknya cek sumber lain yang lebih terpercaya. Jangan tanya saya.) Namun, lama-lama terlalu menuruti rasa malas juga bisa bikin depresi. Lha, kok bisa?

Begitulah bila orang sulit menerima kenyataan bahwa hidup bukan melulu soal mereka.Lama-lama semua orang bisa kehilangan sabar juga kali, harus selalu melayani kemauan si anak manja yang tanpa henti.

Jelas-jelas mereka termasuk jenis paling ‘ganggu’.

Apa yang biasa dilakukan orang aktif bila bosan? Ya, mereka terus cari kegiatan.Kadang, kalau perlu sampai capek sekalian.

Kalau enggak? Ya, mereka akan memanfaatkan waktu untuk santai. Toh, manusia memang sebaiknya hidup seimbang. Jangan sibuk terus.

Nah,kalau anak manja? Gara-gara kebiasaan malas mikir sendiri, biasanya mereka langsung gelisah dan malah merecoki orang lain.

“Bosen, nih. Enaknya ke mana, ya? Ngapain, ya?”

Tuh,‘kan? Saking kebiasaan dimanja, sampai lupa berpikir untuk dirinya sendiri.Padahal, bisa jadi kerjaan di depan mata mereka banyak yang harus mereka selesaikan. Payah…eh, kasihan.

Mereka jadi kurang bersyukur dengan yang sudah didapatkan.

Selain dikit-dikit ngeluh, mereka kurang bersyukur dengan yang sudah mereka dapatkan.Padahal mudah lho, tinggal nyuruh-nyuruh orang. Siapa juga sih, yang tahan lama-lama sama model begini? Malah nyebar-nyebarin aura negatif. Ih!

Mereka nggak mudah bertahan sendirian.

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Ya,gimana mau tahan? Namanya juga anak manja. Kecuali mereka sadar dengan shock therapy ini dan mau berubah.

Mereka teman ngobrol paling membosankan di dunia.

Gimana nggak bosen, kalau topik bahasan mereka nggak jauh-jauh dari keluhan ‘capek’ hingga “Kok orang nggak mau pada ngertiin gue, ya?”

Jadi,nggak ada gunanya iri sama anak manja, apalagi sampai pakai kata ‘banget’. Justru hidup Anda lebih berharga, berwarna, dan bahagia…karena selalu bergerak dan berusaha.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *