Dari yang Sudah Muak Ngomongin Politik

Saya mungkin satu dari sekian banyak orang Indonesia yang sekarang sudah amat muak dengan politik dalam negeri. Sebisa mungkin saya sudah nggak mau ngomongin lagi secara terang-terangan, apalagi soal 01, 02, hingga 21 – 22 Mei 2019 kemarin. Pokoknya sudah cukup.

Apakah berarti saya memutuskan untuk bersikap netral? Nggak juga. Yang pasti, kemarin saya nggak golput. Cuma, biarlah pilihan saya cukup Tuhan yang tahu. Manusia lain nggak perlu ikut campur.

Kalau pun ingin netral juga nggak bebas celaan. Kalau nggak dibilang pengecut, cari aman doang, ya munafik. Bukan kabar baru, tho? Penyederhanaan istilah yang luar biasa umum dilakukan orang-orang kita yang entah kenapa begitu suka dengan drama.

Capek? Ya, pastinya juga capek banget.

Padahal, mereka yang memutuskan untuk nggak mau lagi ngomongin politik bukan berarti nggak peduli. Mereka hanya merasa nggak perlu buktiin ke siapa-siapa – bahkan ke seluruh dunia, terutama lewat social media – bahwa mereka (sebenarnya) masih memperhatikan.

Mereka lebih peduli dengan mencari solusi ketimbang saling menghina, menuduh, menyalahkan, dan menjatuhkan. Mereka lebih fokus melihat dari dua sisi dan menyimpan opini mereka sendiri. Nggak semua hal harus dibagi-bagi.

Apakah mereka total tidak membahasnya sama sekali? Belum tentu. Mereka hanya memilih untuk membahas politik dalam negeri dengan orang-orang tertentu. Orang-orang terpilih ini bisa berpikir dan menganalisa secara objektif, nggak fanatik buta hingga baperan tingkat akut, dan nggak suka mengumbar terlalu banyak lewat social media.

Itu pun nggak sering-sering amat. Ngapain coba? Masih banyak topik seru lain buat dibahas.

Ignore, Mute, Unfollow, Unfriend, Report, Hingga Blokir

Banyak yang rajin menebar kebencian dan fitnah lewat social media. Bahkan, nama Tuhan kerap dibawa-bawa, terutama saat dengan entengnya melaknat sesama. Nggak tanggung-tanggung, kayak udah nggak inget kalau kemarin kita berpuasa dan merayakan Lebaran. Masih saja ada yang meramaikan social media dengan kedengkian akut. ‘Luar biasa’.

Banyak yang mengeluhkan hal ini. Bahkan, banyak juga yang akhirnya bikin ancaman terbuka, kalau mereka akan memilih setidaknya salah satu dari fitur di sub-judul artikel ini di atas. Saya mengerti. Pasti rasanya melelahkan sekali melihat timeline akhir-akhir ini.

Saya sendiri tidak pernah melakukan hal serupa, mengancam secara terbuka. Saya cukup melakukan yang harus dilakukan. Nggak perlu bilang-bilang juga.

R.

6 thoughts on “Dari yang Sudah Muak Ngomongin Politik

  1. aku juga sama bang udah muak bahas beginian. semua stasiun TV ngomongin terus tapi gak pernah ada solusi. aku pusing lah. aku cuma berharap orang-orang harus lebih membuka matanya menyelesaikan masalah pendidikan daripada ngomongin politik yang gak ada ujungnya.

  2. Sampe kesel pengen nonaktifkan medsos atau mau pukulin satu2 yg masih aja nulis postingan politik. Belum lagi sekarang ditambah postingan para pemabuk agama. haish…kapan bisa baca postingan medsos yg positif semua isinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *