14+ Hari Hidup Tanpa Ponsel

Ini bukan eksperimen alias nggak sengaja. Sekitar satu setengah bulan lalu, saya kecopetan di halte/shelter bus Trans-Jakarta pada malam hari. Dompet dan ponsel raib dalam sekejap. Makanya, saya sempat mengalami yang namanya 14+ hari hidup tanpa ponsel. Seperti inilah rasanya:

  • Bingung.

Biasanya pegang ponsel, begitu kecopetan enggak. Pastinya bingung. Mau menelepon nggak bisa, mau setel alarm pun nggak mungkin juga…

  • Dianggap kayak ‘anak hilang’.

“Gue nelpon lo gak diangkat-angkat.”

“WA-ku kok nggak dibales-bales, sih? Nomormu masih yang sama, ‘kan?”

“Lu ke mane aje, sih? Dihubungi susah beut!”

Dikira menghindar, disangka anak hilang. Padahal ponselnya doang yang hilang gara-gara kecopetan.

  • Lumayan bisa ‘menghilang’ sesaat.

Hehe, lama-lama enak juga hidup sesaat tanpa ponsel. Tidur lebih nyenyak, bebas gangguan pesan. Bahkan, bebas juga gangguan pesan dari grup Whatsapp yang kadang bisa rame di jam-jam tidur…ups!

  • Jadi agak malas pergi jauh sendirian.

Yah, mau nggak mau masih ada rasa nggak aman yang tersisa. Apalagi kalo perginya sampai larut malam. Berhubung juga nggak bisa pake aplikasi ojek online gara-gara waktu itu belum ada ponsel (lagi), akhirnya lebih sering merepotkan teman dan orang lain. (Maaf, ya.)

Kalo lagi nggak ada yang bisa direpotin, alamat balik ngandelin Trans-Jakarta, taksi, hingga opang (ojek pangkalan). Akhirnya juga lebih banyak di rumah kalo lagi nggak perlu-perlu pergi amat.

  • Bisa tahu mereka yang beneran peduli.

Mungkin terdengar klise dan melankolis, tapi memang benar adanya. Biarin aja ada yang mau nyebut saya baperan. (Kesannya, punya perasaan dan jadi manusia biasa itu sebuah kelemahan bagi yang hobi komentar gitu ke sesama.)

Musibah dapat menunjukkan mana orang-orang yang beneran peduli sama kita. Nggak perlu sampai langsung berbaik hati mengganti ponsel kita (ngarep!), mendoakan yang terbaik saja sudah cukup. Serius. Mereka juga tidak mengganggu saya dengan banyak pertanyaan atau komentar bernada menyalahkan. Tahu sendiri ‘kan, beda sama ‘netizen maha benar’?

Menurut mereka, Anda pasti ceroboh kalau sampai kena musibah. Ada juga yang menduga Anda ‘kurang beramal’ atau bahkan ‘kurang beriman’. Hebat ya, kualitas keimanan seseorang langsung bisa diukur hanya dari musibah yang menimpa mereka?

Ah, sudahlah. Yang penting kini saya sudah punya ponsel. (Hmm, lebih tepatnya sih, Galaxy Tab.) Saya juga berhasil menyelamatkan nomor ponsel lama saya.

Terima kasih kepada berbagai pihak – baik teman maupun keluarga – yang telah menolong dan menyemangati saya saat musibah kemarin. Bagi yang menyalahkan dan menuduh saya ceroboh, saya hanya berdoa semoga musibah yang sama takkan pernah menimpa kalian.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *