“MALAM PUISI JAKARTA: Tentang Negeri yang Butuh Puisi”

Apa yang tengah dibutuhkan negeri ini akhir-akhir ini? Di media sosial, mungkin sudah banyak yang berspekulasi. Mungkin ada juga yang memutuskan untuk tetap nyinyir setengah mati. Ada yang hidup dengan apatisme tingkat tinggi, namun yang optimis juga masih banyak sekali.

Namun, sesekali luangkanlah waktu di malam Minggu. Lebih tepatnya, di Kaffeine Kline, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Di sanalah Malam Puisi Jakarta selalu berkumpul. Kami bercengkerama, bergantian membacakan puisi atau sajak suka-suka. Mengapa suka-suka? Bisa milik sendiri, bisa karya pujangga yang sudah punya nama.

Bisa juga, karya dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Daerah atau Bahasa Asing lainnya. (Tentu saja, kecuali Bahasa Indonesia dan Inggris, mohon dibantu dari segi penerjemahannya, ya.) Yang penting, sama-sama bebas berekspresi dengan puisi.

Seperti yang kami lakukan pada hari Sabtu (7 September 2019) kemarin di sana. Dimulai sekitar pukul delapan malam, Malam Puisi Jakarta diawali dengan perkenalan dan pembacaan puisi oleh moderator malam itu, Al Muhtadi. Kemudian dilanjutkan dengan Rara Iswahyudi yang juga penggerak Malam Puisi Depok.

Sesudahnya, suasana mulai menghangat. Ada Budi Winawan yang berpuisi tentang pola, Mas Wahyu yang berpuisi tentang perjuangan lewat aroma semerbak kopi Sumatra. Tak ketinggalan Jeje, Melda, dan Lily yang rajin mengisi panggung Malam Puisi. Pokoknya, semakin banyak yang bersemangat untuk tampil berekspresi.

Ada juga Fahdiar yang membacakan puisi sesuai tema malam itu, “Negeri Ini Butuh Puisi”. Mas Dimas membacakan salah satu puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?” Sarita juga membacakan puisi karya sendiri tentang kota yang sebentar lagi tidak istimewa. (Tahu ‘kan, yang mana?)

Namun, malam itu Malam Puisi Jakarta kedatangan tamu istimewa. Nenek Siti Hajar yang berusia 70 tahun tidak mau kalah sama yang muda-muda. Dengan semangat membara, beliau membacakan puisi untuk Presiden Joko Widodo. Waaah, keren banget, deh! Sayang buat kalian yang ketinggalan.

Tapi, jangan khawatir, kok. Malam Puisi Jakarta masih akan ada setiap bulan, di tempat yang sama. Tunggu saja jadwal berikutnya. Cek terus kami di Twitter atau Instagram.

Sampai jumpa bulan depan. Teruslah warnai negeri dengan indahnya puisi. Sayang sekali kalau damai di hati rusak oleh benci dan caci-maki.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *