5 Gejala Workaholic Menurut Pengalaman Saya

Jadi workaholic bikin bangga? Eits, nanti dulu. Justru Anda harus waspada. Menjadi seorang gila kerja bukanlah bentuk prestasi, apalagi bila sampai melelahkan diri sendiri.

Memang sih, mungkin Anda bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada mereka yang mungkin kerjanya termasuk ‘biasa-biasa saja’. Mungkin inilah karir yang Anda cintai dan benar-benar nikmati.

Jangan-jangan, Anda sebenarnya juga takut jatuh miskin (lagi?) Mungkin Anda sudah pernah mengalaminya dan hal itu terasa begitu menakutkan. Kalau bisa sih, jangan pernah sampai kejadian lagi.

Sayangnya, kita suka lupa akan satu hal: manusia punya keterbatasan. Manusia bisa merasa lelah dan muak. Ini bukan perkara manja atau terlalu mudah dan cepat menyerah. Maunya yang serba gampangan. Ada banyak ragam faktor yang mungkin menyertainya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk beristirahat lebih banyak dan teratur, coba cek kondisi kesehatan sendiri dulu, baik fisik maupun mental. Apakah kelima (5) ciri ini terjadi pada Anda?

  • Anda selalu kelelahan.

Ini aneh. Gak banyak gerak, tapi sering merasa capek. Makanya, yang nggak paham biasanya langsung menuduh Anda pemalas.

Pokoknya, Anda hanya mau tidur.

  • Tidur serba salah.

Saat melek, rasanya ngantuk banget – sampai-sampai sulit berkonsentrasi. Mood terganggu dan maunya merem terus.

Eh, giliran tidur malah nggak nyenyak. Ada sih, yang akhirnya malah cukup kalap tidurnya – meski dengan bonus mimpi-mimpi aneh, bahkan seram. Makanya, pas akhirnya bangun tidur lagi, badan malah lelah sekali, bukannya segar.

  • Kewaspadaan jadi berkurang.

Dua bulan lalu, saya pernah kecopetan ponsel dan dompet sekaligus dalam semalam. Bagi yang hobi victim-blaming mungkin akan dengan entengnya bilang saya ceroboh. Mungkin hal serupa belum pernah menimpa mereka.

Tenang, saya tidak akan mendoakan hal seburuk itu terjadi sama mereka, hanya untuk membuat mereka mengerti rasanya. Saya tidak perlu membuktikan apa-apa sama siapa pun. Yang saya tahu, malam itu saya juga sedang kelelahan, sehingga kewaspadaan berkurang.

  • Mudah jatuh sakit.

Ini juga sudah bukan cerita baru lagi, sih. Kebanyakan kerja, lupa jaga kondisi badan, dan sakitlah kemudian. Apalagi kalau sakitnya kebetulan sampai lama. Alamat hidupnya terganggu, deh.

Yang paling parah, sampai ada yang pernah dituduh kantornya mau diam-diam resign. Duh.

  • Intinya, jadi sangat kewalahan.

Jujur, saya sudah pernah mengalami defisit finansial yang cukup lama sehingga menjadi beban sesama. Pastinya malu hati dan nggak enak banget ya, meskipun mereka memaklumi dan (untungnya) masih mau membantu.

Namun, lagi-lagi saya juga sempat kebablasan hingga akhirnya kewalahan. Setiap kali ada tawaran kerja freelance, saya main ambil saja tanpa berpikir panjang. Inilah kebiasaan buruk yang harus segera saya hilangkan.

Begitu kecopetan dan kemudian jatuh sakit, barulah saya tersadar. Mau tidak mau saya harus mengurangi load pekerjaan saya yang sudah berlebihan biar hidup terasa lebih sehat, seimbang, dan pekerjaan terasa efektif.

Jangan menunggu sampai mengalami gejala-gejala di atas, ya. Jangan kayak saya. Usahakan hidup seimbang, meskipun sulit. Bekerja memang harus, namun jangan lupa untuk benar-benar menikmati hidup. Percuma punya uang banyak kalau buntutnya lebih banyak habis untuk berobat.

Mendingan buat traveling aja, hehehe…

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *