Tentang Bucin dan Yang Suka Julid

Sebenarnya, saya sedang enggan membahas tentang cinta, romansa, dan sebangsanya. Cuma, sayangnya saya juga sedang muak dengan politik. (Eh, kapan nggak muaknya ya, kalau sering begini?)

Budak. Mendengar satu kata itu saja sudah bikin berjengit. Apalagi, kalau disandingkan dengan kata lain, seperti:

Budak korporat:

Gambar: brilio.net

Dulu, istilah ini pernah beberapa kali saya dengar. Bahkan, pernah juga ada yang memperkenalkan diri sebagai ‘budak korporat’ – dengan nada bangga pula. Tapi, saya menangkapnya malah lain. Mungkin saya yang terdengar julid, tapi kok, ada kesan meremehkan profesi sendiri, meskipun terdengar bangga setengah mati?

Istilah ‘budak korporat’ memberi kesan bahwa mereka hanyalah jongos, pesuruh di dunia korporat. Tidak bisa maupun tidak boleh berpikir sendiri, selama masih terima gaji. Kesannya ada keluhan terpendam di balik sebutan itu.

Mungkin pekerjaan mereka memang berat dan rentan menimbulkan stres. Namun, setiap kali menerima gaji (yang biasanya sih, cukup tinggi), mereka suka mendadak amnesia pernah menyebut diri sendiri sebagai budak-nya korporat. Terserah sih, kalau mereka merasa demikian. Toh, masih lebih merana nggak punya pekerjaan hingga uang.

Bucin (budak cinta):

Orang Indonesia memang paling pintar dan kreatif dalam menciptakan hinaan baru. Kali ini berupa hinaan untuk yang hobi pamer pasangan ke semua orang atau kemesraan dengan kekasih mereka – baik di dunia nyata maupun social media.

Gak hanya itu, sih. Orang yang terlalu memuja dan sering mengalah sama pasangan (apalagi bila pasangan jelas-jelas salah) juga kena sebutan ‘bucin’.

Yang julid:

Sumber: https://unsplash.com/photos/4Bs9kSDJsdc

Okelah, saya akui…saya sendiri kadang-kadang masih suka julid. Mungkin, dulu juga ada masanya saya nyaris (catat ya, NYARIS) ikutan menjadi bucin.

Saya sama sekali nggak membenarkan mereka yang memilih bertingkah seperti ‘bucin’. Mungkin mereka memang sedang jatuh cinta dan sangat bahagia. (Pernah dengar tentang ‘lonjakan endorfin’ di dalam tubuh? Silakan Google sendiri.)

Namun, saya hanya bisa berdoa agar mereka selalu baik-baik saja dan orang yang mereka cintai juga memperlakukan mereka dengan baik. Sederhana saja, tho? Gak perlulah bersikap super sinis dengan menyebut mereka ‘bucin’. Ngapain? Apakah cara ini lantas akan membuat kita menjadi lebih baik? Yakin kita gak pernah melakukan hal serupa saat sedang tergila-gila dengan seseorang?

Kalau nggak pernah, terus ngapain sesumbar menyebut orang lain ‘bucin’, coba? Ingat, kadang sesuatu yang sering diucapkan bisa menjadi doa yang kemudian dikabulkan oleh Tuhan.

Manusia itu mudah sekali berubah hatinya. Awalnya mungkin suka A, besok-besok bisa jadi benci setengah mati dan memilih B. Begitu terus. Gak kebayang ‘kan, kalo suatu saat tiba-tiba kita sendiri yang bersikap seperti ‘bucin’, padahal dulu yang begitu kita permalukan setengah mati? Apa jangan-jangan kita suka menerapkan standar ganda, alias nggak apa-apa kalau pelaku ‘bucin’ itu ya…diri sendiri?

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *