Usia Cuma Angka

Tiga kata dalam kalimat di atas memang benar. Banyak alasan di balik judul tulisan kali ini, yang kalau dalam Bahasa Inggris artinya: “Age is just a number.”

November tahun ini, saya berusia 38. Ya, sebagai perempuan yang kebetulan juga masih lajang, saya merasa tidak perlu malu untuk mengakuinya. Wong memang kenyataan, kok. Bertambah tua adalah takdir, secara alami tak mungkin bisa dihindari oleh siapa pun. Mau jutaan kali oplas juga percuma.

Cuma, saya memang masih suka bercanda seperti ini:

“Umur saya 19…untuk yang kedua kalinya.”

Hahaha, semoga pada paham, ya. Kalo enggak, ya maaf.

Nah, kembali lagi ke soal usia cuma angka. Banyak bukti yang kadang menunjukkan bahwa pernyataan itu benar. Menurut pengalaman saya sendiri, inilah beberapa buktinya:

  1. Masih ada yang mengira saya lebih muda dari usia sebenarnya.

Hehehe, boleh dong, sesekali narsis sedikit? Masih ada yang mengira saya lebih muda dari usia sebenarnya. (Yah, paling mentok satu dekade lebih muda. Lumayan banget, ‘kan?) Sampai-sampai ada yang pernah meminta izin melihat KTP saya gara-gara nggak percaya.

“Rahasianya apa, sih?”

Jujur…enggak ada sama sekali. Saya nggak berani bawa-bawa air wudhu seperti kebanyakan orang (entah serius atau bercanda). Saya hanya berusaha menerima hidup apa adanya. Toh, kalo apa-apa terlalu dibawa stres, yang ada kita juga ‘kan, yang menderita?

  • Lebih cuek berteman dengan dan belajar dari siapa saja.

Sebenarnya, dari dulu saya sudah berusaha cuek. Sayangnya, sekeliling dulu masih terkesan kaku dan terkotak-kotak. Yang senior temenan sama senior. Yang masih anak bawang suka nggak dianggap – dan akhirnya hanya berteman dengan yang seumur. Entah kenapa, ada rasa gengsi di situ.

Tapi itu dulu, pas masih zaman sekolah. Zaman kuliah adalah saat transisi, karena bertemu lebih banyak ragam manusia. Kadang yang senior justru lebih asik daripada yang seumur. Kadang yang lebih muda juga belum tentu manja dan nggak tahu apa-apa.

  • Sadar bahwa yang lebih tua juga belum tentu lebih dewasa.

Jujur, saya sendiri juga bukan penggemar feodalisme. Saya paling muak dengan sosok-sosok yang berkuasa (entah karena lebih tua, atasan, senior, atau siapa pun yang pegang uang dan pengaruh lebih banyak), namun jadi tamak dan gila hormat. Saking gilanya sampai nggak bisa bedain antara kritikan dengan hinaan.

Makanya, saya percaya bahwa yang lebih tua juga belum tentu lebih dewasa. Pemimpin nggak selalu benar. Yang muda juga nggak selalu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Justru, bisa jadi mereka jauh lebih tahu kondisi sekarang daripada generasi sebelumnya yang mungkin sudah terlanjur di posisi nyaman.

Makanya, saya tidak anti atau alergi untuk belajar dari yang lebih muda. Tidak perlu terlalu memuja harga diri dan ego kalau ingin maju dan bisa bekerjasama dengan banyak orang. Lagipula, zaman sudah berubah…cepat lagi. Romantisme masa lalu (“Dulu lebih enak, bla…bla…bla…”) juga tidak akan membawa kita ke mana-mana, kecuali ninabobo belaka.

Saat ini, saya tidak mau menambah stres dengan target-target yang terlalu ngoyo. Saya hanya ingin berusaha melakukan yang saya bisa saat ini dengan sebaik mungkin. Kalau ada target-target khusus lainnya…hmm, sepertinya tidak perlu diceritakan. Takutnya kecewa bila ternyata kemudian tidak kesampaian.

Dengan kata lain, realistis aja, deh!

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *