Yang ‘Femes’ Belum Tentu Bagus

Foto: https://unsplash.com/photos/Y1e3kANiFRg


‘Femes’? Maksudnya apa ini? Famous (ngetop) kali! Astaga, ini dia yang sering bikin saya gregetan: orang Indonesia yang hobi merusak bahasa. Gak hanya bahasa asing, bahasa sendiri saja juga begitu. Apa gak bisa menulis dengan cara normal? Apalagi, alasannya ada yang bilang biar trendi, ada yang bilang lagi bikin kata serapan baru.

Terserah, deh. Sebagai penulis, penerjemah, dan pengajar bahasa Indonesia dan Inggris, jujur saya pribadi merasa terganggu. Sekadar mengingatkan, sih. Mau dianggap terlalu kaku atau serius, ya silakan saja.

Eh, kok jadi melantur, yah?

Singkat cerita, saya pernah membaca status seorang teman mengenai keberhasilannya mencapai sesuatu. Komentar-komentar yang ada di media sosial seperti biasa: beragam. (Sekadar info, kebetulan saya lagi gak ikutan komentar).

Termasuk komentar yang seperti ini:

“Kita seprofesi, tapi beda nasib. Mungkin karena aku belum ‘femes’ kali ya, beda sama Mas.”

Seperti biasa, orang bebas berpendapat di media sosial. Setiap orang mungkin akan menangkap komentar di atas dengan perspektif berbeda. Ada yang kasihan, ada yang mungkin menganggap orang itu sinis.

Saya sih, tidak merasakan apa-apa saat membacanya. Mungkin karena komentar itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik benak saya:

Famous = Pasti Bagus?

Kayaknya anggapan semacam ini akan selalu menemukan pendukungnya. Apalagi di era media sosial kayak sekarang. Gak peduli ngetopnya hanya sesaat bak supernova. Pokoknya, yang penting dilihat orang dulu, dianggap ada dan penting.

Sayangnya, banyak yang malah pakai cara ‘enggak banget’ buat caper (cari perhatian). Saya sih, rasanya gak perlu sampai memberi contoh spesifik, ya. Intinya, terkenal karena secara langsung maupun enggak mengajak orang berantem di media sosial itu sudah jadi modal andalan buat terkenal.

Saya hanya mau sepakat tiga (3) hal dalam hidup ini, terkait dengan kepopuleran:

  1. Semua butuh proses – dan hanya yang sabar yang bisa menjalaninya dengan ikhlas.
  2. Gak semua yang ‘femes’, viral, trending, atau apalah namanya itu pasti selalu bagus.
  3. Habis femes mau ngapain? Banyak yang gak bisa jawab karena memang belum siap.

Bila untuk yang pertama saja sudah sulit, apa kabar yang berikutnya? Era digital telah memberi kita sebuah ilusi bahwa semuanya selalu bisa dilakukan dan didapatkan secara cepat.

Akibatnya, kesabaran manusia semakin tipis saat ini. Ada kecenderungan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain – dan ini bisa dua arah. Yang merasa sudah lebih besar dari orang lain langsung bersikap jumawa, sementara yang merasa kurang malah jadi stres, uring-uringan sendiri, hingga kurang bersyukur dengan yang sudah didapatkan.

Bagi yang memilih cara kontroversial untuk terkenal (terutama di dunia maya, ya) biasanya lebih banyak berpikir pendek. Pokoknya, orang harus ngeh dulu dengan keberadaan mereka. Terserah bila ada yang suka maupun benci. Daripada gak dilirik, alias merasa jadi biasa-biasa saja. Misalnya: sengaja mengajak berantem orang lain di media sosial demi biar viral.

Makanya, begitu kepikiran untuk mengubah diri atau image, jadinya gak semudah sekali klik langsung posting. Apalagi, orang mungkin sudah banyak yang terlanjur antipati dan menanggapi dengan persepsi miring. Yang ada malah dituduh pencitraan lagi.

Ngomong-ngomong jadi penasaran, nih. Apa sih, yang bikin Anda ingin famous?

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *