Tentang Ultah, Hadiah, dan Kehadiran

Maaf, karena kesibukan, saya tidak sempat update blog saya sesering biasanya. Sebenarnya, saya sudah lama ingin menulis tentang ini.

Ya, November tahun ini saya berusia 38. Saya tidak akan mencoba menutup-nutupinya dengan bersikap sok muda. (Pembahasan ini ada di tulisan sebelumnya, “Usia Cuma Angka”.) Namun saya juga nggak mau sok bijak meskipun usia sudah pasti bakal dikategorikan ‘tua’ oleh banyak orang. Memang kenyataan. Mau gimana lagi?

Jujur, saya udah lama gak gitu peduli dengan perayaan ultah sendiri. (Saya malah lebih heboh sama ultah orang lain, apalagi kalo menurut saya mereka sangat penting. Bahkan, kalo bisa saya kasih hadiah sekalian lebih baik lagi.) Bukan karena nggak mau ketahuan tua (wong barusan udah blak-blakan ngaku umur sendiri, kok!)

Tentang Hadiah dan Kehadiran

Namanya juga transisi alami. Bila waktu kecil dulu selalu berharap kado setiap kali ultah, kini tidak lagi. Bukan, bukannya saya menolak bila dikasih kado – apalagi yang asyik-asyik macam buku tulis bersampul lucu (saya suka nulis), ditraktir makan hingga nonton film, atau…apa sajalah. Yang penting ikhlas dan gak ngeluh di kemudian hari. (Awas kalo sampai ketahuan ya, hehehe…)

Kalo sekarang? Ya, dapet syukur, enggak juga gak masalah. Lagipula, kalo mau kasih hadiah kadang juga nggak perlu saat-saat khusus, kok. Saya sendiri kadang juga suka random, alias mendadak menghadiahi diri sendiri dengan apa pun yang saya suka. Mau itu novel bahasa Inggris, nonton film di bioskop sendirian, sampai karaoke sejam (yang juga sendirian…serius.)

Kadang hadiah terindah bukan berupa barang. Kadang hadiah terindah adalah kehadiran orang-orang tersayang, terutama mereka yang sempat lama terpisah.

Singkat cerita, hari Sabtu itu sesudah ulang tahun saya, seorang teman sekaligus mantan rekan kerja mengajak ketemuan. Ngopi-ngopi, seperti dulu kala. Ada enaknya jadi imigran digital. Meskipun melek internet, kami sama-sama tidak terobsesi untuk mendokumentasikan pertemuan random kami sore itu.

Dia pernah menjadi inspirasi beberapa tulisan saya. Jika ada yang bertanya seberapa istimewanya dia, saya tidak mungkin menjadikannya inspirasi tulisan kalau dia tidak seistimewa itu. Jadi, meskipun tidak ada selfie atau pun keinginan untuk menulis lengkap kisah pertemuan atau reuni singkat kami sore itu, saya masih akan mengingatnya.

Malamnya, saya makan malam bersama keluarga. Sederhana saja. Sama sederhananya dengan pemikiran ini tentangnya:

Kadang cinta bukan soal bisa atau mau bersama atau tidak. Kadang cinta adalah menerima realita. Meskipun tidak bersama, masih jauh lebih baik berteman saja daripada pura-pura cinta padahal hanya memanfaatkan – atau malah tidak dianggap siapa-siapa…

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *