Sudah sebulan lebih aku tidak keluar rumah. Wabah Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan Virus Corona sukses membuat seluruh dunia kalah – atau lebih tepatnya, dipaksa mengalah.

Semua rencanaku bubar jalan. Mau menerbitkan buku puisi Bahasa Inggris perdanaku, editorku harus pulang dulu ke kampung halamannya. Apa boleh buat, rencana itu terpaksa ditunda. Pekerjaanku apa lagi. Tidak ada lagi acara ke kantor (padahal hanya itu satu-satunya kesempatanku untuk mengobrol dengan si periset imut-imut dari Estonia. Singkat cerita, kami berkenalan dan jadi teman hanya gara-gara tanpa sengaja rebutan kursi di co-working space tempat kami bekerja.)

Orderan menulis jadi terpangkas. Mau tidak mau, aku terpaksa berjibaku lebih giat lagi mencari order tambahan. Kalau tidak, ya judulnya tidak makan. Iya kalau jadinya kurusan. Kalau buntutnya sakit dan rentan ketularan? Hiii…aku belum siap berkafan dan masuk kuburan.

Tadinya, Mama minta aku pulang. Tentu saja, permintaan beliau terpaksa kutolak demi keamanan semua orang. Mama sudah di atas 60, tinggal sama para keponakan yang menderita asma. Kira-kira?

Mau tidak mau, aku terpaksa bertahan hidup seorang diri. Mulai berhemat, meski sebisa mungkin tetap harus makan. Baca buku, termasuk yang sudah pernah dan akhirnya kuulang. Menulis seperti orang gila. Menyanyi meskipun bukan diva. Nonton TV sampai bosan luar biasa. Mendengarkan radio biar kamar nggak terasa sepi-sepi amat.

Banyak video-call sama teman-teman, meski belum tentu ada stok bahan obrolan.

Banyak cerita cukup lucu sepanjang wabah Covid-19. Bila harus kusebutkan, entah beneran lucu atau miris. Misalnya: ada saat aku mencoba video-call dengan Mama. Diangkat sih, tapi butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari kenapa di layar hanya tampak pipi beliau.

Yah, Mama kira itu hanya voice-call. Huhuhu…padahal lagi ingin melihat wajah beliau…

Jalan masuk ke pemukiman tempat tinggalku diportal. Jangan mikir aneh-aneh dulu soal caraku untuk keluar-masuk, hanya untuk belanja di Alfamart. Berhubung bukan sosok atletis, nggak mungkin kan, tiba-tiba aku sok-sokan lompat galah?

Dalam tiap radius beberapa meter, ada dispenser dan botol sabun cair yang nganggur. Fungsinya tentu saja buat cuci tangan gratis. Satu waktu, aku menderita bosan akut hingga iseng bikin balon-balon dari gelembung sabun saat cuci tangan. Kutiup-tiup dengan suka cita hingga balon-balon sabun tersebut mengudara. Rasanya cukup menyenangkan…

…hingga kusadari mata-mata para tetangga yang tengah menatapku, seolah-olah aku sudah gila.

Apa lagi, ya? Oh, ini juga hobi yang sudah pernah kulakukan waktu kecil. Aku hobi mengejr-ngejar kucing di jalanan. Biasanya baru berhenti bila kucing incaranku ngumpet di bawah mobil, masuk ke rumah orang, atau loncat ke atap rumah sekalian.

Bila masih loncat ke atap mobil? Hihihihi…belum puas rasanya bila belum bikin si kucing trauma. Biasanya mobil itu kugoyang-goyangkan hingga si kucing akhirnya terpaksa loncat dan pindah ke tempat persembunyian lain.

Sialnya, pas menjelang tengah malam sehabis belanja di Alfamart, aku agak terlalu heboh menggoyang-goyangkan mobil tempat kucing incaranku mangkal di atap. Nggak hanya si kucing yang loncat menyelamatkan diri, aku juga harus lari gara-gara alarm mobil mendadak berbunyi. Gak mungkin kan, aku punya penjelasan bagus saat para tetangga sekitar – termasuk yang punya mobil – keluar dan memergokiku di TKP?

Entah kapan wabah ini berakhir. Moga-moga, aku masih waras sesudah Corona tertangani…

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *