Ketegangan Singkat di Dreamland Beach

Foto: https://unsplash.com/photos/OZ_vh3Jgr3o

Dreamland Beach, sore hari. Ini pantai terakhir yang kudatangi bersama Tony, sahabatku, saat kami berdua berlibur ke Bali. Sebelumnya, kami masih menyempatkan diri mampir ke salah satu gerai tato di tengah Kuta-Seminyak. Aku mendapatkan tato temporer berupa kalajengking hitam di lengan kiriku. Tony mendapatkan tato ornamen unik di belakang lehernya.

Awalnya, semua baik-baik saja. Kami hanya berenang-renang seperti para pengunjung lainnya. Matahari perlahan mulai terbenam. Beberapa peselancar – lokal hingga mancanegara – sibuk berlaga, mengikuti ombak-ombak besar yang seakan ingin melentingkan mereka ke udara bersama papan selancar mereka.

Kuakui, aku bukan perenang baik. Bahkan, sudah lama sekali aku tidak berenang. Jangankan di laut, di kolam renang saja aku canggungnya bukan main. Sewaktu masih berenang di hotel Sanur, Tony tertawa melihatku.

“When was the last time you went swimming?”

“Uh, that’s a good question.”

Tony sendiri cukup jago berenang. Dia pernah bercerita bahwa di Australia, olahraga ini termasuk wajib bagi semua warga negara. Bahkan, sebisa mungkin, anak-anak sudah harus mulai dikenalkan dengan olahraga air ini sejak usia tiga tahun. Alasannya?

“Kita ‘kan negara kepulauan juga,” kata Tony menjelaskan. “I’m surprised Indonesia doesn’t have this regulation. What if a tsunami occurs?”

Iya juga, sih. Apalagi, kejadian berikutnya membuatku ingin kembali mengasah kemampuan berenangku yang rupanya raib ditelan waktu.

Sore itu, setelah berenang-renang sedikit, kami berdua memutuskan untuk duduk di tepi pantai – di atas pasir yang entah kenapa lebih tipis dari pasir di pantai-pantai lain yang sudah kami kunjungi di Bali. Sunset mulai terlihat lebih indah seperti lukisan.

Tanpa kusadari, ternyata ombak mulai membesar, hingga menerjang semakin jauh ke pinggir pantai. Tiba-tiba, kurasakan pasir di bawah kakiku semakin menipis dan berputar keras, seperti pasir isap. Tubuhku mulai terseret ke dalam air. Kucoba untuk berbalik dan berdiri, namun kakiku tidak menemukan pijakan kuat. Aku panik dan menggapai-gapai di udara.

Dengan tangkas, Tony langsung menangkap tanganku. Kukira dia sudah cukup kuat untuk menarikku kembali ke pantai. Namun, kulihat dia mulai ikut terseret arus bersamaku. Aku mulai menelan banyak air. Di sela-sela gempuran air laut, masih bisa kulihat mata hazelnya yang menyorot ketakutan…

Ya, Tuhan, pikirku kalut saat itu. Kami berdua akan mati tenggelam bila dia tidak melepaskanku…

Di tengah kepanikanku, perutku bertumbukan dengan sesuatu yang keras dan kasar di bawahku. Aku sudah tidak terpikir untuk mengecek apakah itu bulu babi atau hewan lain yang sama berbahayanya. Kusentuh benda itu dan langsung bersorak girang dalam hati.

Batu karang!

Dengan sisa-sisa tenagaku, kutekan batu karang itu. Berhasil! Aku berdiri, membebaskan tubuhku dari perangkap ombak bercampur pasir. Separuh terhuyung, aku menubruk Tony. Secara refleks dia merangkulku dan langsung bergerak mundur secepat mungkin. Kami berdua akhirnya kembali berdiri di pantai, sama-sama terengah-engah dan saling berangkulan. Tetes-tetes air laut jatuh dari rambutku.

“Are you okay?” tanyanya sambil memeriksaku. Aku hanya mengangguk karena masih harus mengatur napas. Berdua kami kembali ke sepasang kursi pantai yang kami sewa dari penduduk lokal. Kami duduk bersandar dan langsung menyelimuti diri dengan handuk masing-masing. Kukenakan kacamata hitamku, meski matahari sudah tidak menyilaukan lagi.

Tiba-tiba ponsel Tony dari kantong celana pendeknya di ujung kursi berdering. Tony langsung menjawabnya. Aneh, suaranya masih bisa terdengar tenang, padahal beberapa saat sebelumnya kami sama-sama dicekam kengerian yang nyaris mengambil nyawaku…dan mungkin nyawanya juga.

Beberapa menit kemudian, Tony menyudahi percakapan di telepon dan menatapku.

“That was Minnie,” ujarnya, menyebut nama teman kami berdua. “She wondered if we were having fun.”

“Uh, we certainly did,” balasku sambil nyengir. Kami berdua tertawa dan langsung tos tinju masing-masing. “Thank you for that. I owe you one.”

“No problem.”

Kami masih sempat larut dalam sunyi, menikmati sunset di depan mata, sebelum saatnya berkemas-kemas dan mengejar pesawat di Bandara Ngurah Rai malam itu.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *