Alasan Saya Membenci Kata Sempurna

Ada apa dengan satu kata itu? Mengapa saya sangat membencinya? Sempurna. Mendengarnya saja sudah bikin bergidik.

Lebay? Bodo amat.

Memang, setiap orang punya ‘standar sempurna’ masing-masing. Misalnya: anak yang patuh pada orang tua selalu (bahkan tanpa syarat satu pun) dianggap sempurna bagi banyak orang.

Tapi, benarkah selalu demikian? Bagaimana bila anak itu jadinya selalu tergantung pada orang tua dan tidak bisa berpikir untuk diri mereka sendiri? Bagaimana bila sepeninggal mereka, si anak malah jadi sosok yang tidak mandiri, karena terlalu terbiasa didikte?

Bukannya saya menyuruh untuk melawan orang tua, ya. Memang, semua orang tua (yang baik, tentunya) pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Tapi, kadang kriteria ‘sempurna’ bisa sangat menjebak.

Patriarki, Feodalisme, dan Kriteria Sempurna yang Menyiksa Perempuan

Saya mulai membenci kata itu begitu menyadari banyak standar ganda yang berlaku di masyarakat. Ada yang menurut mereka sempurna, ada yang tercela luar biasa. Bukannya tidak mau menghormati orang yang lebih tua, ya. Namun, kadang feodalisme bikin mereka merasa lebih sempurna hingga – ahem! – jadi gila hormat.

Contoh: ini pengalaman seorang teman yang pernah tinggal dengan keluarga pasangan. Selama itu, dia kerap disindir dan dihina-hina karena dianggap tidak memenuhi kriteria ‘istri sempurna’ menurut mereka. (Sayangnya, kasus semacam ini di Indonesia sudah kelewat banyak!) Bikin stres deh, pokoknya.

Bahkan, teman pernah dituntut secara terang-terangan oleh salah satu tetua di keluarga itu, di depan yang lain pula. Tuntutannya masa begini:

“Kalau dikritik sama yang lebih tua nggak boleh sakit hati. Harus terima!”

Enak ya, kalau usia yang lebih tua selalu jadi patokan untuk selalu merasa paling benar?

Pokoknya, banyak sekali alasan saya membenci kata sempurna. Intinya, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Harapan yang mustahil. Apa pun kebaikan yang sudah kita coba lakukan, pasti ada saja yang masih menganggap kita tercela.

Saya sadar, saya tidak dianggap cantik sesuai standar ideal masyarakat patriarki dan media massa. Saya tidak kurus, kurang putih, kurang feminin, dan entah apa lagi. Saya juga berpikir kritis dan suka bertanya dan mendebat bila dirasakan perlu. Ada yang menganggap saya terlalu bawel, berisik, dan banyak maunya. Ada yang bilang saya terlalu serius dan nggak bisa santai.

Terserah sih, kalau mereka beranggapan begitu. Yang pasti, saya bukan orang yang senang dipaksa, apalagi pakai disindir dan diancam-ancam segala. Saya juga bukan robot yang asal menurut saja. Saya tidak mau dan tidak suka seperti itu, apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain yang sebenarnya teramat rapuh.

Intinya, saya hanya mau mengalah bila menurut saya sudut pandang mereka masuk akal. Kasih saran boleh, tapi sisanya tetap keputusan saya. Mungkin di mata banyak orang, saya bukan perempuan sempurna. Terus kenapa? Apa hak mereka untuk mendikte saya? Kenapa mereka tidak membiarkan saya berproses dengan cara saya sendiri?

Sempurna hanya milik Tuhan. Kenapa manusia sering lupa? Mungkin karena mereka tidak sempurna, namun cenderung pelupa dan jumawa.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *