“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER”

“7 CARA MEMASTIKAN TEMAN ONLINE BUKAN SCAMMER

“Hati-hati. Jangan-jangan dia scammer.”

“Halah, baru dirayu gitu aja udah klepek-klepek. Gimana ntar pas ketemu? Alamat elo gampang ditipu.”

“Orang mah, bisa ngomong apa aja di internet kalo mau. Elo harus bisa milah-milah kalo gak mau jadi korban juga.”

Sering banget dengar ucapan-ucapan skeptis di atas, saat tahu Anda punya teman online yang belum pernah Anda temui? Mungkin rasanya agak kesal, ya. Selain seperti berusaha merusak kebahagiaan pribadi, sekilas ada perasaan tertohok karena seperti dianggap…bodoh.

Meskipun cara mereka agak ketus, sebenarnya mereka peduli. Nggak apa-apa, sih. Apalagi, kasus penipuan lewat internet bukan berita baru lagi. Mulai dari permintaan titip barang dengan sejumlah uang transferan hingga…perdagangan gelap manusia. Hiiih!

Tapi, apa iya semuanya harus berakhir setragis itu? Ada juga kok, yang ketemu sahabat baik dan jodoh lewat internet. Banyak lagi. Biar nggak keburu parno dan langsung antipati, ada tujuh (7) cara untuk memastikan teman online Anda bukan seorang scammer:

  1. Biasanya, lebih aman kenalan di grup online komunitas tertentu daripada sekadar random chat.

Bukan berarti semua yang di random chat punya niat nggak bagus, ya. Kalau masih khawatir, mendingan lewat grup online komunitas tertentu saja. Contoh: klub penulis atau blogger. Biasanya sih, mereka menggunakan nama asli dan lebih jujur.

2. Mulai dari diri sendiri: jangan baperan alias terlalu berharap.

Ingat, dunia nyata beda sama film roman favoritmu. Jangan gampang percaya sama konsep basi bernama “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Semua perlu proses, bahkan termasuk cara bikin mie instan sendiri. Jalani saja dulu. Apa pun hasilnya nanti, kamu harus berani memutuskan: mau lanjut apa udahan?

3. Pakai nama asli dan nggak ‘sok misterius’.

Dari mana bisa tahu nama mereka asli? Nah, ini cukup tricky. Yang pasti, kalau mereka pakai nama alias – bahkan yang alay – siap-siap hengkang aja. (Lagian kok seleranya gitu?) Apalagi kalau mereka ogah kasih nama asli, tapi menuntut Anda yang harus jujur sama mereka.

Silakan memanfaatkan mesin pencari Google dan sejenisnya, termasuk media sosial. Kalau nama mereka ‘pasaran’, cocokkan dengan cerita mereka untuk mendapatkan info tambahan.

4. Perhatikan tata bahasa mereka saat

Yang amatiran pasti bohongnya parah dan cepat ketahuan (terutama bila Anda sangat teliti.) Contoh: ngaku lulusan S2 dan dari luar negeri pula, tapi tata bahasanya berantakan saat chatting. Ngaku pernah lama di satu negara, tapi bahasa negara tersebut saja tidak tahu.

5. Berani video chat dan cukup sering.

Sekarang teknologi sudah lebih enak. Kalau dulu masih bisa pakai ID dan foto profil palsu. Sekarang sudah susah mengelak kalau dimintai video chat. Saat berinteraksi lewat media ini, Anda bisa menilai sendiri: mereka beneran mau jadi teman (atau pacar, misalnya) atau iseng doang?

6. Nggak pernah minta full ID atau menitipkan kiriman nggak jelas.

Nah, kalau ini modus khas andalan scammer. Minta data lengkap Anda, tapi nggak jelas buat apa. Mendadak mau menitipkan kiriman dari luar negeri, tapi entah kenapa bisa tertahan di bea cukai Malaysia. Anehnya, paket tersebut baru bisa disebut bila Anda mau mentransfer-

Ah, sudah pada tahu, ‘kan? Anggap saja tulisan remeh ini sebagai pengingat.

7. Minta tolong teman-teman yang berbakat ‘intel’ untuk diam-diam menyelidiki si teman online ini.

Masih takut juga? Saatnya mengambil langkah ini, apalagi bila si teman online sudah fixed mau mengunjungi Anda. (Lengkap dengan screenshot bukti tiket penerbangan, jadwal kunjungan, dan lain sebagainya.) Misalnya: teman yang berprofesi sebagai jurnalis, jagoan IT, hingga yang kebetulan tinggal di tempat yang sama dengan si teman online. (Siapa tahu juga ternyata mereka saling kenal.)

Sisanya? Tinggal berdoa dan berharap yang terbaik. Kalau mau ada yang menambahkan, boleh sekali.

Waspada dan hati-hati wajib. Sampai parno dan mencurigai semua orang yang mengajak kenalan lewat online sebagai scammer, kayaknya jangan sampai segitunya, deh. Kita nggak pernah tahu apakah mereka suatu saat akan membawa manfaat bagi kita.

Bahkan, kalau masih mau pakai mindset begitu, sebenarnya Anda sendiri juga bisa kok, berpotensi sebagai scammer. Cuma, apa untungnya, sih?

R.

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

“KUBURAN TUAMU DI ALAM MIMPIKU”

Ada mimpi aneh tentangmu

Kita di lahan terbuka

saat kau berkata:

“Di sinilah kukubur

sisa-sisa diriku yang dulu.”

 

Maka menggalilah kau

dengan separuh tenaga

dengan potongan kisah

yang tumpah-ruah

dari mulutmu yang terengah

sementara sisanya tersimpan

terpendam dalam-dalam

di bawah tanah.

 

Hampir selesai,

perlahan kau berhenti

Kupinta kau campakkan sekop itu,

saat kulihat gemetar lengan kekarmu.

 

“Tidak usah,”

kuyakinkan kamu

yang kini berekspresi beku.

“Aku tidak perlu melihatnya hari ini.

Toh, aku masih di sini.”

 

Ingin kuraih tanganmu,

namun aku kembali terbangun di kamar tidurku…

 

R.

(Jakarta, 3/1/2017 – 14:38)

 

“RAGAM MAKNA DIAM”

“RAGAM MAKNA DIAM”

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Jujur, saya kangen. Kesibukan baru saya akhir-akhir ini memang membuat blog ini lama terbengkalai.

Jadi, mengapa tahu-tahu judulnya “Ragam Makna Diam”, seperti yang saya tulis di atas? Apakah saya sedang ingin ngambek dengan seseorang?

Haha, tebakan standar, bukan? Diam pasti memendam dendam…atau minimal ngambekan. Mungkin saya sudah pernah menulis hal ini.

Banyak yang mengartikan diam sebagai ngambek atau marah. Lagi musuhan? Daripada segera menyelesaikan masalah, mending diam-diaman saja. Antara malas ribut, gengsi, atau memang ingin menyingkirkan mereka dari hidup Anda dengan segera. Pokoknya, tunggu mereka yang harus ngomong duluan. Jangan sampai kalah.

Padahal, bisa saja sebenarnya Anda yang salah. Buat yang nggak mengagungkan gengsi dan harga diri – serta masih menganggap pihak lain berharga, mereka akan menganggap diam-diaman begini sebagai sifat kekanak-kanakan.

Ada yang memilih diam dengan alasan lebih bijak. Bisa saja, mereka selalu mendebat yang sama dan pakai ngotot pula. Intinya, Anda harus mengakui mereka benar dan Anda (serta orang lain) selalu salah, barulah mereka berhenti merongrong seperti anak kecil yang tengah merajuk. Bikin malas, ‘kan? Daripada buang-buang tenaga, mending diam. Toh, masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting.

Ada yang diam karena sedang lelah, sakit, atau mungkin juga muak. Ada juga yang tidak perlu alasan. Kalau memang lagi ingin diam, terus kenapa? Banyak yang lupa bahwa kadang diam itu masih jauh lebih baik daripada banyak bicara, namun ucapannya sama sekali nggak berguna. Bikin sakit hati atau sumber berisik saja.

Lagipula, diam pun seharusnya juga bisa dinikmati. Dua orang yang sudah sangat dekat biasanya sudah tidak perlu (terlalu) banyak bicara lagi.

Bagaimana dengan saya? Buat saya, diamnya seseorang kadang mempunyai keuntungan tersendiri, seperti:

  1. Nggak perlu dicerewetin orang lain terus (apalagi untuk masalah yang itu-itu lagi), jadi saya bisa konsen ke hal lain yang lebih penting. (Percayalah, menulis pun butuh ketenangan.)
  2. Saya bisa memperhatikan “hal-hal yang tidak mereka katakan”, padahal sebenarnya sangat ingin mereka ungkapkan. Kadang mata, ekspresi wajah, sama gerak tubuh suka nggak sinkron dengan ucapan mereka.

Bagaimana dengan Anda? Yang mana arti diam Anda?

Semoga di tahun 2018 nanti, kita semakin bijak dalam berucap – dan tidak selalu menghindari masalah dengan bungkam seribu bahasa…

R.

 

“GADIS YANG INGIN MENJADI MANUSIA SUPER”

“GADIS YANG INGIN MENJADI MANUSIA SUPER”

Cita-citanya masih sama

agar dia selalu kuat

tidak mudah terluka

terutama oleh para bangsat

 

Cita-citanya masih sama

namun usia sudah bicara

membuatnya kecewa

dan lagi-lagi terluka

 

Andai dunia selalu aman

mungkin dia akan punya

cita-cita yang sama sekali berbeda

bukan kemustahilan…

 

R.

(Jakarta, 8/9/2017 – 3:40 pm)

 

“DALAM MIMPIMU” (Kecemasan Seorang Ibu)

“DALAM MIMPIMU” (Kecemasan Seorang Ibu)

Tidak ada yang memintamu untuk selalu tangguh. Entah dari mana kamu bisa mendapatkan pemikiran seperti itu.

Beberapa bulan sesudah pemakaman ayahmu, kamu pindah. Pekerjaan barumu jauh dari rumah. Kamu perlu menyewa kamar kos, karena lalu lintas semakin gila macetnya.

Seperti semua ibu, Mama tidak mau kamu pergi. Andai saja Mama selalu bisa menahanmu agar tetap di sini.

Tentu saja, Mama juga tahu bahwa kamu tidak akan bahagia bila begitu. Mama tahu ini bukan berarti kamu tidak sayang Mama lagi, apa pun tuduhan mereka terhadapmu. Sejak usia 18, kamu sudah amat menginginkan hidup mandiri.

“Lagipula,” katamu, “harusnya sekarang giliran aku menjaga Mama, bukan sebaliknya.”

Aku mendesah. Baiklah.

Tiga tahun kemudian, semua masih sama. Kita hidup terpisah, meski masih satu kota. Hanya sesekali kamu pulang, itu pun saat akhir pekan. Kadang kita bertemu di mal atau restoran dan berdua seharian.

Mama kangen kamu. Mama kangen saat-saat itu di beranda depan pada Minggu pagi, sambil mengerjakan TTS koran Minggu sementara kita minum kopi. Kadang kamu membawa buku untuk dibaca atau menulis di buku catatanmu.

Kita sudah jarang mengobrol. Mama mengerti, kamu sibuk. Kamu juga sudah dewasa. Mungkin kamu merasa sudah waktunya belajar menyelesaikan masalahmu sendiri.

Jangan berharap yang tidak-tidak. Kamu tahu banyak yang tidak menanggapi peringatan itu dengan serius.

Kamu pulang akhir pekan itu. Seperti biasa, malam itu kamu tidur di kamar lamamu. Mama sedang melewati pintu kamarmu saat Mama mendengar kamu seperti sedang menggumam. Sepertinya kamu sedang mengigau, jadi Mama membuka pintu dan masuk ke kamarmu.

“Stop.” Keningmu berkerut saat tidur. Kamu tampak marah. “Stop. Sudah. Jangan lihat Kakak terus! Lihat aku. Aku juga anak Mama, tahu!”

Mama tertegun, sulit untuk mempercayai yang barusan Mama dengar. Itukah penyebab kamu berhenti bercerita sama Mama? Kamu pikir Mama lebih sayang kakakmu?

Itu tidak benar. Kamu tahu Mama juga sayang kamu. Masalahnya, selama ini kakakmu-lah yang paling banyak menuntut perhatian. Kamu lebih banyak diam saja. Selama ini, Mama kira kamu baik-baik saja.

Maaf bila kamu merasa kamu sudah tidak bisa bercerita lagi sama Mama…

“Aku kangen Tobey…”

Kali ini kamu terdengar sedih. Hati Mama ikutan pilu. Kamu selalu ingin punya seorang abang. Mama juga sayang dengan sahabat kamu yang bermata hazel. Tobey selalu menjagamu. Dia selalu perhatian saat dekat.

Mama tahu kamu selalu kangen setiap kali dia pulang ke negaranya, sayang…

Mama kira hanya itu, namun kemudian kamu menyebut nama lain dalam tidurmu:

“Max…jangan.”

Siapa itu? Kali ini kerutan di dahimu tidak hanya karena amarah, namun juga…rasa takut. Kamu pun mulai bergerak gelisah dalam tidurmu, masih sambil mengigau. Suara igauanmu bertambah jelas.

“Stop. Aku nggak mau, Max, hentikan! Kamu bikin sakit ini.”

Darah Mama membeku. Max itu siapa, sayang? Kenapa dia sampai menyakitimu?

Mama terpaksa mencengkeram kedua tanganmu saat kamu mulai mencakar-cakar lenganmu sendiri. Bukan, bukan mencakar, Mama menyadari sesuatu. Kamu seperti sedang berusaha melepaskan cengkeraman seseorang di tanganmu.

“Lepaskan, Max. Kubilang jangan! Stop, kamu menyakiti aku.” Sekarang kamu menangis. Sambil memohon, Mama membangunkanmu:

“Bangun. Sayang, bangunlah!”

Akhirnya kamu berhenti menangis dan berguncang, lalu membuka mata. Mama kira kamu sudah benar-benar bangun, jadi Mama hanya membujuk, “Sssh, udah nggak apa-apa. Kau nggak apa-apa. Sssh…”

Lalu kamu kembali jatuh tertidur. Sepanjang sisa malam itu, Mama berbaring di sampingmu, memegang tangan dan membelai rambutmu…

— // —

Kamu terlihat begitu berbeda keesokan harinya. Tak ada ekspresi merengut maupun air mata. Apa Mama hanya berkhayal semalam, ya? Kamu tersenyum sambil menghabiskan sarapanmu.

“Mama nggak apa-apa?”

“Apa? Oh, nggak apa-apa.” Lalu Mama pun ikut sarapan. Suasana sunyi, hanya suara sendok kita yang beradu pada mangkuk.

Setelah itu, tibalah saatmu untuk pergi lagi. Akhir pekan hampir berlalu. Saatnya menyambut awal minggu yang baru. Saatnya bekerja kembali.

“Kamu perlu bawa sesuatu?” Mama ingin tahu. Saat kamu hanya menggeleng, Mama hanya bisa tersenyum dan berharap, “Jaga diri baik-baik ya, nak.”

“Aku sangat sayang Mama.” Kamu balas tersenyum, yang membuat Mama seperti melihat hantu papamu selama beberapa saat. Mama jadi sesak dan membatin:

Aku gagal ya, Ray? Coba kamu masih di sini. Kamu selalu lebih memahaminya.

Entah mengapa, tatapanmu itu mendadak mengingatkan Mama akan waktu kamu berumur enam tahun dan tidak sengaja memecahkan keramik kesayangan Mama. Waktu itu kamu tidak menangis, namun matamu menyiratkan rasa takut – seperti sebuah permintaan maaf dalam diam.

“Mama juga sayang kamu, nak.” Yah. Lagi-lagi Mama melewatkan kesempatan itu. Mama hanya diam berdiri saat kamu mencium pipi Mama, lalu berbalik dan pergi. Saat pintu tertutup, Mama pun terduduk dan menangis.

Apakah kamu juga menyembunyikan air matamu setiap kali berbalik? Mama rasa, mimpi serammu semalam sudah cukup memberikan petunjuk. Mama sudah mendengar semuanya lebih dari cukup.

Tapi, bagaimana Mama bisa membujukmu agar mau cerita saat kamu bangun? Bagaimana cara Mama meyakinkanmu, Mama tidak akan marah? Mama janji, sayang, biarpun Mama belum tentu siap mendengar semuanya. Mama hanya ingin tahu apa yang menggelisahkanmu akhir-akhir ini.

Tolong, kamu bisa cerita sama Mama…

Tidak pernah ada yang meminta kamu untuk selalu kuat, jadi Mama tidak mengerti kenapa kamu tetap memilih demikian…

R.

 

“MANAJEMEN PATAH HATI”

“MANAJEMEN PATAH HATI”

Hmm, judulnya rada aneh, ya? Kenapa harus ada manajemen patah hati?

Eh, tapi kalau manajemen amarah saja ada, kenapa yang ini enggak? Nggak mustahil juga lho, ketimbang jadi sulit berfungsi secara sosial dan malah dikatain baperan sama yang “nggak peka” (dan SOK LEBIH TEGAR).

Patah hati itu banyak, lho. Nggak hanya putus cinta, ditolak gebetan, hingga cerai. Kematian orang-orang tercinta juga bisa bikin patah hati. Kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) hingga konflik di daerah tinggal apalagi.

Reaksi mereka menghadapi patah hati juga berbeda-beda. Ada yang jadi lebih rajin berdoa. Ada yang meluapkan emosi dengan mendengarkan musik, mau itu lagu mellow yang menyayat hingga lagu metal yang berpotensi bikin kuping meledak. Ada juga yang bermeditasi, menulis, menggambar, melukis, jalan-jalan, hingga travelling.

Lalu, gimana reaksi orang-orang terdekat soal si patah hati ini? Pastinya beragam juga. Ada yang dengan sombongnya menganggap Anda baperan, cengeng, dan hinaan sejenis lainnya. Ada yang bersimpati, namun tidak semua bertahan lama.

Bisakah Anda menyalahkan mereka semua? Sebaiknya tidak perlu. Toh, kalian juga sesama manusia. Sebelum menuduh mereka tidak peduli maupun tidak perhatian, tanyakan pada diri sendiri dulu: bisa nggak melakukan hal yang sama bila diminta?

Bersyukurlah bila mereka masih mau berada di sisi Anda. Namun, siap-siap juga. Tidak semua bertahan lama. Ada juga yang akhirnya pergi.

Tiada yang abadi. Namun, bila mereka masih betah dengan Anda, bersyukurlah. Jangan juga terlalu larut dalam kesedihan. Lakukan sesuatu untuk bangkit kembali, karena hidup tidak akan menunggu.

Anda bisa curhat berbusa-busa, bahkan hingga seluruh dunia akhirnya muak juga dengan cerita yang sama. Habis itu apa? Harus ada kelanjutannya.

Jika kematian sosok tercinta menjadi penyebab Anda patah hati, harus ada cara untuk merelakannya. Berduka terus tidak akan membuat mereka kembali. Temukanlah cara untuk mengenang mereka dengan baik.

Bagaimana bila kekerasan di rumah menjadi penyebabnya? Seharusnya rumah menjadi tempat teraman. Jika pergi adalah jawabannya, berarti Anda memang perlu merawat diri Anda sendiri dulu. Nggak perlu takut dibilang egois. Anda juga berharga. Jangan Anda terus yang harus berkorban dan mengalah.

Setelah itu, apa langkah selanjutnya? Terserah, tapi lakukanlah sesuatu. Hidup tidak pernah menunggu. Bolehlah bersedih, namun mau sampai kapan terus mengasihani diri sendiri?

Kasih tak sampai memang menyebalkan. Mau itu putus, cerai, atau ditolak – nggak ada yang enak. Nggak mau ngomong sama mereka lagi itu manusiawi. Nggak apa-apa. Kata siapa Anda harus selalu kuat?

Memaafkan masa lalu dan menerima kenyataan sebelum melaju butuh hati yang sangat besar. Mungkin saat ini Anda merasa belum bisa melakukannya. Tidak apa-apa, semua butuh proses. Tidak bisa dipaksa.

Maukah Anda? Pilihan itu selalu ada.

Jika suatu saat nanti Anda memutuskan untuk tetap berbicara, berteman, dan bahkan menolong orang yang pernah membuat Anda patah hati, Anda tidak sedang bersikap sok kuat atau berada dalam penyangkalan akut.

Anda hanya bersikap lebih dewasa.

R.

 

“HOMO HOMINI LUPUS”

“HOMO HOMINI LUPUS”

Apa artinya darah

bila sama uang kalah?

Persahabatan rusak

akibat ambisi telak

Cinta dimanipulasi

atas nama berahi

lalu ditinggal pergi

 

Moral hanyalah standar ganda

bagi yang berkuasa

bahkan sampai tega

permainkan agama

tanpa peduli banyak yang terluka

 

Memang manusia

kadang pemangsa sesama…

 

R.

 

“5 KARAKTER YANG BIASA JADI TERSANGKA PEMBUNUH DALAM FILM-FILM THRILLER”

“5 KARAKTER YANG BIASA JADI TERSANGKA PEMBUNUH DALAM FILM-FILM THRILLER”

Ngomongin penjahat atau monster legendaris dalam film-film horor mah, udah biasa. Nah, gimana dengan film-film thriller? Justru karena penjahatnya sesama manusia (dan bisa langsung megang juga), malah makin seram jadinya.

Nah, buat yang suka film-film thriller dengan tokoh pembunuh manusia, pasti suka lihat kelima (5) karakter ini yang biasa jadi tersangka pembunuh. Padahal, belum tentu. Seperti apa sajakah mereka?

  1. Si aneh.
Gambar: pinterest.com

Karena kelakuan maupun penampilan mereka dianggap ‘ganjil’, begitu ada kejadian buruk, mereka duluan yang kena tuduh. Contoh: laki-laki tua gila berwajah seram, gadis kuper penyuka ilmu klenik, hingga laki-laki canggung yang hobi memaksa perempuan pas PDKT (pendekatan). Ada lagi, nggak?

2. Si pemarah.

“Gue bunuh lo kalo ampe ketemu lagi!” Suka ketemu model begini? Begitu yang diancam besoknya ditemukan dalam keadaan habis dibantai, tersangka pertama pasti orang yang terakhir ngancem-ngancem bakalan bunuh. Saran: hati-hati kalau marah di depan umum. Mulutmu, harimaumu.

3. Si masa lalu kelam.

Ini juga kasihan sih, sebenarnya. Nggak ada yang mau di-judge karena kesalahan masa lalu mereka. Misalnya: dulu pernah terlibat kasus kekerasan, nggak sengaja membunuh orang, dan sejenisnya. Mukanya nggak perlu seram sih, tapi begitu polisi ngeluarin datanya dari berkas kasus lama mereka…yah, gitu deh.

4. Si rival.

Nggak semua rival korban pembunuhan bersikap aneh, pemarah, atau terang-terangan menunjukkan rasa nggak suka. Misalnya: saingan untuk posisi peran utama dalam pagelaran teater hingga yang seremeh rebutan pacar idaman. Celakanya, gara-gara udah sering ada kasus serupa, si rival ikut kena tuduhan.

5. Si pecemburu.

Si pecemburu juga cukup kompleks. Misalnya: ada mantan pacar yang berubah jadi psycho stalker begitu diputusin. Ada yang pemarah dan selalu berusaha membalas si korban terang-terangan, meskipun nggak sampai membunuh. Ada yang sengaja bersaing dengan cara licik agar si korban kalah, entah dalam apa pun.

Twist-nya: Bisa jadi daftar di atas SALAH SEMUA!

Kok bisa? Sama seperti di dunia nyata, kita cenderung melihat apa yang kita ingin lihat. Orang yang sering kita anggap aneh bisa saja orang yang kemudian menjadi penyelamat kita. Bisa jadi selama ini mereka hanya unik dan bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang lain.

Banyak orang pemarah yang kemudian menyesali ucapan mereka. Begitu pula mereka yang punya masa lalu kelam. Soal rival dan sosok pecemburu juga lihat-lhat dulu. Rival yang waras pasti masih memilih jalan yang nggak akan menyulitkan mereka sendiri di kemudian hari. Sosok pecemburu bisa saja ingin kembali memenangkan kekasih hati, bukan hanya membalas sakit hati.

Untuk film thriller yang oke, pelaku pembunuhan yang sebenarnya sering banget di luar dugaan, seperti:

  1. Si cupu.

Hati-hati bila selama ini kamu termasuk yang suka mem-bully orang yang biasa kamu anggap cupu dan nggak cool. Dalam film-film thriller, pembalasan dari mereka biasanya dua kali lebih mengerikan.

2. Si penakut.

Gambar: businessinsider.com

Kesal dengan si penakut? Hmm, awas. Bisa saja selama ini mereka pura-pura, menunggu semua orang sebelum ‘membuka topeng’ mereka. Kadang mereka memang sengaja merepotkan semua orang, hanya agar pada akhirnya nanti – hanya mereka yang selamat!

3. ‘Teman semua orang’.

Lho, kok bisa? Mungkin kesannya kita jadi parno ya, seperti para profiler FBI di serial “Criminal Minds”. Salah satu tersangka potensial adalah mereka yang justru kelihatan baik-baik saja di depan semua orang. Baik, ramah, perhatian, dan rajin menolong – bahkan termasuk sama aparat hukum. Denger-denger kemungkinan besar mereka menderita narsisisme dan ‘superhero complex’, ingin dianggap baik sama semua orang. Padahal, bisa jadi mereka juga biang kerok masalah yang kemudian ‘sok-sok’ mereka ‘tangani’.

Hmm, mungkin ini kesannya jadi bikin kita parno maupun jadi curigaan sama semua orang. Ah, namanya juga film. Tapi, boleh juga jadi acuan agar jangan mudah juga berprasangka sama orang, mau itu yang kelakuannya baik banget atau malah aneh dan kesannya galak banget, gitu.

Kita nggak pernah tahu…(ooooh… *backsound suara serem*)

R.

 

“EGOSENTRIS PENCINTA PEDAS”

“EGOSENTRIS PENCINTA PEDAS”

Oke, mungkin harusnya saya nulis ini pas semua orang lagi pada ngeributin harga cabe. Tapi harap maklum, orang sibuk kadang baru keingetnya sekarang-sekarang.

Banyak yang berasumsi semua orang Indonesia pasti doyan pedas. Mungkin gara-gara rendang dari Padang udah kepalang ngetop secara global. Mungkin karena emang banyak menu Nusantara yang pakai sambal.

Sebenarnya, saya juga ogah memamerkan fakta bahwa sebagai orang Indonesia, saya malah nggak suka pedas. Habis, perlakuan yang didapat justru malah bikin tambah ‘panas’.

“Kok nggak suka sambal? Aneh, deh.”

“Mana enak makan gitu doang? Makan paling nikmat itu pake sambel kali.”

“Cobain dikit aja, deh. Nggak se-lebay itu kok, pedesnya.”

Halah, maksain selera banget! Padahal, lidah dan selera tiap orang ‘kan beda-beda.

Giliran saya maksain makan yang pedas-pedas, hasilnya ya gini:

  1. Harus nenggak barang tiga – lima gelas minuman dingin, berhubung lidah kayak kebakar. Lebay?
  2. Sakit perut nggak kira-kira. Rekor paling jempolan adalah saat kari India sukses bikin isi perut masih panas selama tiga hari berturut-turut!
  3. Mulas dan muntah-muntah.

Jangan harap simpati dari pencinta sambal yang suka nggak sadar kalau mereka itu egosentris. Nggak semua sih, tapi ada. Komen favorit mereka kayak gini:

“Halah, lebay. Baru gitu doang udah kepedesan.”

Ngeselin banget, ‘kan? Entah karena lidah mereka udah lama ikutan ‘pedas’ atau kelewat bangga karena merasa kuat menerima ‘pedas’ – nya masakan maupun komentar dari mahluk lain.

Hmm, apa jangan-jangan saya aja yang suka sama sesuatu yang serba pahit, seperti halnya kehidupan? Nggak nyambung, memang. Bodo amat.

R.

 

“SEORANG LELAKI YANG INGIN KEKASIHNYA KEMBALI”

“SEORANG LELAKI YANG INGIN KEKASIHNYA KEMBALI”

 

Hari itu aku melihatnya

seorang lelaki yang memandang diri

pada cermin, matanya bertemu sang pendosa

yang telah menyakiti cinta sejati

hingga tak tahan dan pergi

meninggalkannya sendiri

 

Hari itu juga, aku melihatnya

seorang lelaki yang ingin berubah

lebih baik dari sebelumnya

pasrah, meski belum rela kalah

berjuang demi kesempatan kedua

agar pintu itu kembali terbuka

 

Hari itu, aku berdoa

agar sang kekasih melihatnya

dan kembali percaya

bahwa mereka masih bisa bersama

sebagai belahan jiwa

hingga akhir hayat tiba

 

Ya, aku hanya bisa berdoa

Semoga saja…

 

R.