“HANYA SEKALI…”

“HANYA SEKALI…”

Sejam berlalu. Raunganmu yang menyayat masih terdengar di balik pintu.

“Maafkan aku.” Begitu ulangmu. Sisanya lebih banyak berupa ratapan tidak jelas. Yang tidak biasa mendengar laki-laki dewasa bersikap seperti itu mungkin akan bergidik mendengarnya.

Namun, aku masih bergeming. Tak kupedulikan tatapan Mama yang matanya sudah merah dan berair.

“Maafkan suamimu, nak. Dia hanya khilaf. Lagipula, untung hanya sekali dan langsung ketahuan.”

Hanya sekali? Ingin aku tertawa. Alangkah naifnya Mama dan semua orang. Mungkin maksud mereka baru sekali ketahuan, meski mungkin perbuatannya sudah berkali-kali di belakangku. Siapa tahu, perempuan itu bukan satu-satunya.

“Laila, tolonglah,” pinta Mama lagi. “Maafkan Nino, sayang. Mama yakin kamu adalah istri yang baik.”

Ya, ya, ya. Aku selalu mendengarnya di mana-mana. Istri yang baik harus selalu memaafkan suami, sebrengsek dan sebejat apa pun kelakuan laki-laki itu.

Lalu, bagaimana dengan suami? Apa yang terjadi bila situasi terbalik, si istri yang selingkuh? Aku ingat May, temanku yang pernah khilaf sekali. Suaminya yang terlanjur jijik langsung menggugat cerai dan menyebutnya pelacur murahan. Bahkan, belum puas laki-laki itu membalas dendam, dengan teganya dia menyebar aib May ke mana-mana. Laman media sosial May sampai penuh dengan umpatan dari para netizen yang berperan sebagai bully, main hakim sendiri.

Mama juga langsung melarangku berteman dengan May.

“Perempuan baik-baik nggak pantes temenan ama perempuan macam itu.”

Astaga, Mama ngapain? Kulihat beliau memutar kunci pintu.

“Mama, jangan.” Terlambat. Kamu telah masuk dan kini berlutut di depanku, sambil menggenggam erat kedua tanganku. Masih menangis dan meraung-raung, bak adegan sinetron basi.

Kutahan rasa mual sebisaku, karena ingat tanganmu pernah menyentuh perempuan lain. Perempuan itu, yang telanjang di balik selimut bersamamu di kamar hotel itu. Mimpi terburukku saat memergokimu.

“Laila, maafkan aku.” Kembali mataku dan mata Mama bertemu. Ah, sial. Sorot mata beliau yang basah masih sama. Apa iya aku mau jadi anak durhaka karena enggan menurutinya?

Nino, kamu beruntung karena kamu laki-laki. Mereka akan selalu memintaku memaafkanmu dan menerimamu kembali…

—//—

Kalau semua mengira aku bidadari sempurna yang langsung memaafkanmu begitu saja, salah besar. Aku memang perempuan, tapi aku juga masih manusia biasa. Aku berhak marah dan merasa sakit hati sebagai seorang istri. Butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan rasa percayaku lagi.

Aku melakukan ini demi Mama, yang entah kenapa lebih malu bila kita sampai bercerai. Padahal, akulah anaknya yang disakiti.

Setidaknya, kamu sekarang lebih sadar dan tahu diri. Kamu berusaha keras sekali untuk mendapatkan kepercayaanku lagi. Mulai jarang hangout dengan teman-temanmu. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Berusaha lebih memanjakanku kali ini.

Awalnya, aku masih bersikap dingin. Namun, kamu juga tidak menyerah. Hmm, mungkin Mama memang benar. Barangkali kamu memang tulus ingin berubah.

Akhirnya, malam itu kita kembali seperti dulu. Bercinta di atas ranjang itu, sebagai suami dan istri yang kembali bersatu. Ada lega di wajahmu.

“Laila, aku mencintaimu…”

—//—

Kita kembali berbahagia, namun kenapa akhir-akhir ini sama-sama mudah lelah? Jatuh sakit dan sembuhnya suka lama. Ringkih, padahal belum juga terlalu tua. Kita sama-sama masih suka olahraga dan menjaga pola makan.

Beberapa kali, aku mengajakmu ke dokter. Kamu menolak dengan alasan sibuk, meski kutahu sebenarnya kamu gengsi. Jadi aku selalu pergi sendiri.

Sampai akhirnya dokter menyarankanku untuk melakukan tes yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tiga huruf singkatan virus yang menjadi nama tes itu membuatku ngeri…

—//—

“Nino, kita harus bicara.”

Wajahmu memucat, disertai tanda-tanda ekspresi defensif.

“Laila, aku udah gak selingkuh lagi. Sumpah.”

“Aku percaya.” Senyumku tipis saat kuserahkan amplop putih itu padamu. Untuk menjawab sorot tanya pada matamu, kujelaskan, “Aku baru tes dari klinik.”

“Oh.” Ada harap pada wajahmu saat membuka amplop itu. Kamu bahkan hampir tersenyum. “Apa kamu-“

“Sayangnya bukan.” Kutunggu reaksimu dengan jantung berdebar-debar.

Benar saja, wajahmu memucat. Matamu berkaca-kaca saat kembali menatapku. Yang kamu tidak tahu, beberapa jam sebelumnya aku sudah menangis sendirian, sambil menunggumu pulang kantor.

Kamu tahu aku tidak pernah selingkuh. Hanya butuh tiga huruf itu untuk membuatku diam membisu, sementara kamu kembali tampak merasa bersalah seperti dulu.

Aku sudah tidak mendengar ucapanmu lagi. Yang kuingat malah dua kata yang mereka semua ucapkan padaku dulu, saat kau terpergok selingkuh dan aku diminta untuk memaafkanmu:

“Hanya sekali…”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“Kira-kira yang mana ya, yang bagus?”

“Yang itu aja, Ma.” Faiza menunjuk sepatu merah berhak rendah. “Cocok sama gaun buat ke kawinan besok.”

“Oke, kamu cobain dulu, deh.” Untung ada sepasang, jadi bisa sekalian dicoba dua-duanya.

Faiza menunduk dan – di luar dugaan – menarik lepas kedua tungkai prostetik-nya. Berpasang-pasang mata membeliak terkejut. Penjaga toko sampai menahan napas, namun Mama hanya mendelik pada Faiza.

“Apaan?” Faiza menyahut polos. Dipasangnya sepatu pada kaki palsunya, sebelum memasangkan kakinya kembali. Lalu gadis itu berdiri dan mulai berjalan.

“Muat, Ma. Enak.”

Kelar membayar, ibu dan anak keluar toko, diiringi tatapan heran penjaga toko dan pengunjung lain.

(100 KATA – #FFKAMIS “SEPATU”)

“DI MATAKU”

“DI MATAKU”

Aku bisa duduk berjam-jam, mendengarkan ceritamu tentangnya.Deskripsimu tentangnya memungkinkanku untuk membayangkannya dengan mata terpejam. Rambutnya yang cokelat panjang dengan semburat merah di bawah sinar matahari. Matanya yang biru…yang membuatmu tidak keberatan terpesona olehnya. Senyumnya…ah, haruskah kulanjutkan?

Seperti biasa, kubiarkan kamu terus mengoceh. Kubuat pensilku menari-nari dengan luwes di atas kertas putih, seperti skater di gelanggang es. Terkadang aku hanya bergumam:”Ya.” Kadang aku terkikik melihat ekspresimu. Mata cokelatmu tampak bercahaya.

Aku tersenyum saat matamu tiba-tiba melembut. Salut buat Dewa Cinta Yunani bernama Cupid. Lihatlah bagaimana anak panahnya ini memberi efek permanen padamu.

Hari itu, tiba-tiba kamu berhenti berbicara dan melihatku menatapmu. Menyadari yang sedang kulakukan, tanganmu perlahan terentang ke depan.

“Boleh nggak, lihat itu?”

“Jangan dulu!” Dengan cepat kulindungi buku sketsaku. Ketika kamu cemberut, kuraih tanganmu sambil tersenyum lembut. “Nanti, ya, kalau aku udah selesai. Janji, kok.”

Senyummu muncul kembali dan kamu pun menurut. Selesai menggambar, kutunjukkan hasilnya padamu.

“Ya, Tuhan!” desismu penuh kekaguman. Kau menatapku dan sketsa itu bergantian, nyaris kehilangan kata-kata. “Dia…”

“Ya.”

“Dia sangat cantik,” pujimu dengan suara agak gemetar oleh emosi. “Kamu membuatnya terlihat lebih cantik di sini.”

“Lha, bukannya katamu dia memang cantik?” aku menggodamu dengan alis terangkat sebelah. Kamu pun terkekeh.

 

Saya mengambil buku sketsa saya dari tangan Anda. Dengan hati-hati aku merobek kertas itu dan menyerahkannya padamu. Ah, sial kau. Kenapa matamu tiba-tiba jadi berkaca-kaca begitu?

Aduh, jangan nangis, dong.

“Terima kasih.” Lalu aku hampir tersedak oleh pelukanmu yang tiba-tiba. Setelah kamu melepaskanku, aku terdiam sesaat.

Andai saja, semua orang bisa sebahagia dirimu…

“Jangan khawatir, aku akan menggambar dia yang versi warna-warni,” ucapku kemudian, dengan agak canggung. “Ngomong-ngomong, kapan akad sama resepsinya?”

“Segera, kamu bakalan mendapatkan undangannya.”

— // —

Malam itu, aku sendirian di kamarku. Berbaring di tempat tidur, menatap dinding yang penuh kertas bergambar sketsa wajah yang sama, namun dengan ekspresi berbeda. Sebagian seakan menatapku balik.

Wajahmu…

Aku menghela napas. Harus kuapakan semua ini?

Kurasakan perhatianku terfokus pada salah satu wajah itu. Aku bangun untuk memandangnya lebih dekat. Kamu yang sedang tersenyum, saat pertama kali bercerita tentangnya. Entah kenapa, aku bisa menangkap cahaya itu di matamu.

Dengan hati-hati, kucopot kertas itu dari dinding dan melepas selotipnya dari semua sisi. Tiba-tiba aku ingin memberikan gambar itu padanya. Ingin kukatakan padanya, “Kamu tahu? Dia selalu seperti ini setiap kali membicarakanmu.”

Lalu, seperti yang sudah kujanjikan, kamu akan mendapatkan satu lagi sketsa berwarna wajah cinta sejatimu.

Restu dari seorang sahabat.

-tamat-

“SIAPA DIA?”

“SIAPA DIA?”

Matanya begitu dingin menatapku.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Takut-takut aku menggeleng. Benakku berputar begitu cepat, berusaha mengingat-ingat wajahnya…

— // —

“Apa-apaan ini?!”

Alan dan Belinda cekikikan begitu melihatku melototi layar laptop-ku. Terpampang di sana, profil dan detailku pada sebuah…situs kencan.

Astaga, ini bener-bener nggak lucu!

“Sori, El,” ucap Belinda takut-takut, begitu menyadari betapa murkanya aku. Disikutnya si Alan (koreksi, maksudku siAlan!) yang entah kenapa masih berani nyengir. “Ini idenya dia.”

“Eh, elo juga kali, yang ngusulin website itu,” balas Alan membela diri. Wajahnya tampak sewot nggak terima. “Niat kita semula mau bantuin Elma cari jodoh, ‘kan?”

“TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA KALI!” bentakku, yang sukses bikin dua mahluk di depanku berjengit. Kutuding layar laptopku dengan geram. “Sekarang hapus akun gue. Nggak mau tau gimana caranya! Gue nggak pernah ngerasa daftar beginian, kok elo pada enak-enaknya bikin profil gue di sini. Pelanggaran privasi, tauk!”

“I…iya-iya, maaf.” Baru saja Alan mau menyentuh keyboard laptop-ku ketika kutepis tangannya dengan langsung.

“Pake punya lo sendiri!” perintahku kasar. “Dalam sejam masih gue liat itu profil, awas lo berdua!”

Tanpa banyak ribut, kedua mahluk yang harusnya jadi sahabatku itu langsung ngacir, balik ke cubicle masing-masing.

Oke, aku tahu maksud mereka baik. Menurut mereka, aku sudah melajang cukup lama. (Terlalu lama, menurut mereka.) Aku juga nggak gitu tertarik sama situs kencan. Takutnya ketemu orang aneh-aneh. Tahu ‘kan, yang pas online kelihatannya sempurna, tahunya pas kopdar…hiii…

Kadang keponya orang Indonesia nyebelin akut. Okelah, mungkin mereka bahagia karena berpasangan. Tapi nggak berarti yang masih lajang selalu merana, ‘kan? Aku masih bisa cari sendiri kok, tentu dengan caraku juga. Kalo emang mereka punya niat baik, mbok ya tanya yang punya profil dulu baik-baik sebelum daftarin sembarangan. Idiih…

Saat kucek lagi website itu, nama dan fotoku sudah nggak ada. Syukurlah. Damai lagi rasanya…

— // —

Oke, nomor siapa ini? Kenapa dia selalu missed-call dan WA-nya ngajakin ketemuan terus?

Berhubung nggak merasa populer, aku cuekin aja. Eh, lama-lama kok, pesannya makin kasar begini, ya?

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

“Masa lupa, kemarin-kemarin kita udah chatting cukup lama?”

“Kenapa? Aku kurang cakep buat kamu ladenin?”

Grrrh! Merasa malas dengan urusan ini, kuhampiri Alan dan Belinda. Kutunjukkan ponselku, masih dengan tampang geram.

“Dugaan gue dari website sialan itu,” ujarku tanpa basa-basi. Maklum, aku masih marah sama mereka. “Gue nggak mau tahu gimana caranya, elo berdua jelasin ke orang ini supaya nggak gangguin gue lagi. Malesin tau, gak?”

“Gue aja, deh.” Alan mengalah. Diteleponnya nomor itu. Wajahnya tampak amat menyesal saat berusaha menjelaskan perihal salah paham ini. Biarin aja. Kutunggu, melihat Alan mengangguk-angguk pasrah sambil meminta maaf.

Akhirnya…

“Udah, El,” katanya lemas. “Dia nggak bakal gangguin kamu lagi.”

“Good.” Aku berbalik tanpa memberi mereka kesempatan untuk bicara. Meskipun kata Alan orang itu sudah tahu, buat jaga-jaga kublokir nomornya.

— // —

Mungkin aku terlalu cuek, karena merasa nggak populer. Privasiku ya, privasiku.

Makanya, aku kaget setengah mati saat malam itu, laki-laki itu mencegatku di parkiran kantor.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Mungkinkah…

Terlambat. Cipratan air itu melepuhkan kulit wajahku.

 

R.

(500 kata – dari Prompt#144: Siapa Dia? untuk Monday Flash Fiction di http://www.mondayflashfiction.com/2017/07/prompt-144-siapa-dia.html )

 

“CAN WE DANCE, PAPA?”

“Can We Dance, Papa?”

“Can we dance, Papa?”

Kamu ingin tahu rasanya, setelah melihatku berdansa dengan Mama. Mama mengalah dan kuraih kedua tangan mungilmu. Karena tinggi kita masih terpaut jauh, kuminta kamu berdiri di atas kedua kakiku.

“Nanti kaki Papa sakit.”

“Nggak apa-apa. Papa masih kuat.” Dan berdansalah kita, sementara Mama memotret dan merekam. Kamu terkikik geli, sebelum bertanya:

“Apa aku nanti bisa setinggi Papa?”

Kugendong kamu dan kutatap mata zaitunmu.

“Kalau kamu setinggi Mama, hanya laki-laki baik yang boleh berdansa denganmu.”

—//—

Malam itu, aku datang menjemput ke sekolah setelah SMS darimu. Kita sempat bertengkar hebat soal laki-laki itu. Aku tidak suka caranya memperlakukanmu, namun saat itu kamu begitu tergila-gila padanya dan tidak mendengarkanku. Tipikal remaja keras kepala.

Kutemukan kamu duduk sendirian di parkiran, bergaun biru dan tiara menghias rambutmu. Makeup di wajahmu sudah luntur. Ah, gadis kecilku menangis…

“Mana dia?” tuntutku geram. Buru-buru kamu berdiri dan memelukku.

“Jangan, Pa,” pintamu pilu. “Dia nggak penting. Udah kuputusin.”

Kupeluk kamu selama beberapa saat. “Mau pulang sekarang?”

Anehnya, kamu menggeleng. Kamu malah mengelap wajahmu dengan tisu dan menggandengku kembali ke lapangan olahraga. Prom masih berlangsung. Tak peduli tatapan aneh teman-teman dan para guru, kamu hanya memintaku:

“Just dance with me, Papa.”

Itulah permintaan maafmu. Aku mengerti. Setidaknya, aku sempat mengirimkan tatapan mengancam pada bocah yang mematahkan hatimu malam itu…

—//—

Wedding host mengumumkan dansa pertama. Kamu tampak cantik sekali dengan gaun putihmu.

“Let’s dance, Papa.” Kutunggu sampai kamu sudah duduk nyaman di pangkuanku. Beberapa orang merapikan gaunmu agar tidak tersangkut di bawah kursi rodaku. Stroke sialan.

Musik mengalun. Kupencet tombol ‘on’ dan kursi rodaku bergerak pelan. Di hari terbahagiamu, kita berdansa lagi seperti dulu. Kamu masih memeluk leherku dan menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku tersenyum pada laki-laki muda yang meminangmu. Ya, hari ini kamu telah menemukan pasangan dansa abadimu sendiri. Aku bahagia…

(dari Prompt#143 Monday Flash Fiction: “Can We Dance?” – 299 kata)

 

“Pensil Warna Si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Pensil Warna si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Selamat ulang tahun, Ethan dan Emma.”

Kedua anak berambut pirang itu tersenyum saat membuka kado dari orang tua mereka. Mata biru dan senyum mereka melebar saat melihat sekotak pensil warna berisi 24 pilihan.

“Terima kasih, Mom dan Dad.”

“Sekalian kado pindahan, karena kalian telah bersikap manis dengan kepindahan ini,” ujar ayah mereka bangga. Ethan dan Emma langsung bergantian memeluk orang tua mereka.

“Kami boleh menggambar di beranda depan, Mom and Dad?” tanya keduanya kompak. Ayah dan ibu mereka mengangguk.

“Oke,” ujar ayah mereka. “Tapi masuk ya, kalau sudah waktu makan malam.”

“Oke.” Ethan dan Emma segera ke beranda depan dengan kotak pensil warna dan buku gambar mereka. Mereka langsung duduk di meja dan mulai menggambar.

Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka. Ethan dan Emma sama-sama mendongak dan melihat kedua anak itu.

Keduanya mungkin seumur, dengan tinggi badan dan rambut gelap berombak yang sama. Kulit mereka juga pucat, seperti anak-anak yang jarang terkena sinar matahari.

“Hai,” sapa Emma ramah. “Mau ikut gambar sama kami?”

“Hmm, kami nggak bisa gambar,” kata anak yang perempuan. Anak laki-laki di sampingnya tampak pendiam. “Tapi boleh lihat saja?”

“Boleh.” Ethan langsung mengenalkan diri. “Aku Ethan dan ini adik kembarku, Emma. Kami hanya beda lima menit.”

“Kalian kembar juga?” tanya Emma penasaran. Kedua anak berambut gelap itu mengangguk.

“Aku Beth dan ini adikku, Bryan,” kata anak yang perempuan. “Aku lebih tua tujuh menit dari Bryan.”

“Hai,” sapa Bryan malu-malu.

“Duduklah,” undang Ethan. Bryan dan Beth duduk semeja dengan Ethan dan Emma. Tak lama, keempat anak itu langsung mengobrol dengan akrab. Sesekali Beth cekikikan saat melihat Emma dan Ethan menggambar mereka berempat. Lalu Beth bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah rumah di ujung jalan, beberapa meter dari rumah baru Ethan dan Emma.

“Tapi rumah kalian terlihat gelap,” komentar Emma, yang langsung dipelototi oleh Ethan. Belum sempat Beth menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah:

“Ethan, Emma! Ayo, makan.”

“Oke, Mom,” balas Ethan dan Emma berbarengan. Beth dan Bryan langsung berdiri.

“Kami harus pulang juga,” ujarnya, lalu menggandeng adiknya. Saat keduanya pergi, Ethan dan Emma melambai pada mereka. Di atas, langit mulai menggelap.

“Besok main ke sini lagi, ya.”

–//–

“Tadi kalian ngobrol sama siapa?”

“Teman-teman baru kami, Dad,” kata Ethan ceria. “Mereka kembar juga.”

“Ini Bryan, dan yang ini Beth.” Emma menunjuk gambar dua anak berambut gelap di samping dua anak berambut pirang. “Aku pakai pensil warna merah untuk bibir Beth. Habis dia pucat sekali, sih.”

“Oh.”

–//–

“Serius, Dan?”

“Mereka berdua tadi di beranda depan,” ujar ayah si kembar. Malam itu, Ethan dan Emma telah lelap di kamar masing-masing. “Mungkin mereka hanya punya teman khayalan. Masih tujuh tahun. Fase biasa.”

Wajah Hannah, istri Dan, memucat. Ditunjukkannya potongan koran lama yang bertanggal enam bulan yang lalu.

“Mereka bilang anak-anak itu namanya Bryan dan Beth?”

Hening mencekam. Keduanya membaca berita pembantaian seorang jaksa muda dan keluarganya suatu malam, di rumah dekat rumah mereka. Semuanya ditemukan tewas.

Termasuk anak kembar mereka yang bernama Bryan dan Bethany…

(Prompt#142 – Pensil Warna – 487 kata)

 

 

“BOLEH KUPINJAM LELAKIMU?”

“Boleh Kupinjam Lelakimu?”

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.

Aku sering melihatmu bersamanya. Aku melihat caranya memeluk dan menciummu, meski di depan umum malam itu. Kamu tersenyum kikuk. Kuduga mungkin ini pacar serius pertama atau keduamu.

Yang kulihat, ada ragu di matamu, bercampur jengah dan malu. Mungkin juga sedikit rasa takut. Mungkin kamu memang menyukai perhatiannya.

Namun, matanya tidak bisa menipuku. Ada gairah yang bergelora di sana, yang membuatnya menginginkanmu lebih dari yang ingin kau berikan untuknya.

Prediksiku? Kalian berdua tidak akan bertahan lama. Terlalu berbeda dalam hampir segalanya. Dia ingin bebas melakukan semuanya denganmu. Baginya, moral dan agama adalah belenggu…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tidak lebih.

Jika dia ingin memberiku lebih, aku takkan menolak. Aku juga menyukainya, tidak peduli seluruh dunia akan menganggapku apa. Sudah banyak sebutan untukku: sundal, perempuan murahan, pelacur, tak punya moral…

Lucunya, lelaki bajingan yang suka tidur dengan banyak perempuan (termasuk denganku, tentu saja) juga menyebutku demikian di muka umum. Haha, kenapa? Situ kurang puas?

Ah, kurasa mereka hanya tidak mau terima bahwa perempuan juga bisa demikian. Benar-benar standar ganda. Ego mereka sudah terlalu lama berkuasa.

Mau sampai kapan aku terus begini? Ah, mungkin ini hanya idealisme tingkat tinggi, tanpa hasil yang benar-benar berarti.

Sampai standar ganda sialan itu tidak ada lagi…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Ah, tak perlu. Malam itu aku sudah mendapatkannya, lebih dari hanya hangat lidahnya.

Sesuai dugaanku, lama-lama dia bosan dengan penolakanmu. Dia sendiri yang datang ke bar ini, mencari pelampiasan dan menemukanku.

Jujur, aku tidak peduli bila nanti kamu tahu. Bahkan, aku ingin kamu segera tahu, karena aku justru sedang menolongmu.

Aku hanya ingin menunjukkan, seperti apa sebenarnya lelaki yang mengaku mencintaimu…

R.

(Untuk Monday Flash Fiction Prompt#139: “Boleh Kupinjam Lelakimu?” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-139-boleh-kupinjam-lelakimu.html – 276 kata)

 

“TANGAN-TANGAN PENGATUR SI CANTIK”

“Tangan-tangan Pengatur Si Cantik”

“Kamu cantik.”

Pujian itu selalu kudengar dari kecil. Mereka senang mengajakku bercermin, sambil sesekali memainkan rambut panjangku. Rambut yang tidak boleh dipotong, larang mereka.

“Nanti kamu keliatan kayak anak laki-laki, nggak cantik lagi.”

Padahal, aku gerah. Panas, apalagi siang-siang. Aku juga dilarang main lari-larian di kebun bareng abangku dan para sepupu. Kata mereka, anak perempuan harus anggun, duduk manis, dan penurut. Nggak boleh berkotor-kotor. Nanti nggak cantik lagi.

Jadilah aku duduk di antara para tetua, dengan gaun putih bersihku. Sesekali tangan Bunda membetulkan cara dudukku atau menyibakkan rambutku yang mulai kembali berantakan. Nggak peduli aku yang cemberut karena malu jadi tontonan.

Membosankan.

Bunda, aku bukan boneka. Aku anakmu…

-***-

“Kamu cantik.”

Setiap gadis remaja pasti senang mendengar pujian itu, apalagi dari pemuda yang mereka suka di sekolah.

Begitu pula aku. Dia tersenyum padaku, membuatku tersipu. Katanya dia suka dan ingin aku jadi pacarnya. Kuiyakan saja, meski tidak benar-benar mengerti maksudnya.

Awalnya, semua terasa indah. Lama-lama menyebalkan. Sama saja kayak Bunda dan semua orang. Terlalu banyak aturan. Aku harus dandan sesuai maunya. Nggak boleh pulang terlalu malam, kecuali hanya kalau sedang jalan sama dia. Jangan keseringan nongkrong sama teman-teman, dia kesepian.

Jangan berteman sama laki-laki lain, dia cemburu.

Akhirnya, aku lelah. Aku minta putus. Di luar dugaan, dia malah menamparku. Lalu, malam itu dia membantingku ke tanah. Aku ingin menjerit, namun tangannya langsung beringas membungkamku.

Malam itu, tangannya menjelma seribu. Sia-sia aku melawan. Dia terus menimpaku, memukuliku seakan aku adalah sansak untuk petinju.

Lalu, seperti anak kecil bermain boneka, dia mulai melucuti pakaianku. Satu-satu…

-***-

“Bunda, aku masih cantik, ‘kan?”

Aku bingung. Kenapa Bunda menangis? Aku ‘kan cuma tanya.

Luka-luka di wajah dan tubuhku sudah berkurang banyak, meski hidungku tidak lagi sama. Daguku juga sedikit bergeser.

Mereka tidak pernah menangkapnya. Kata mereka, di sini setidaknya aku aman. Banyak tangan yang mengurusku. Mereka sangat memanjakanku, seperti seorang putri raja. Membangunkanku tiap pagi, memandikanku, mendandaniku seperti boneka cantik. Seperti Bunda dan semua orang dulu.

Mereka sabar dan baik sekali. Mereka menyuapiku saat makan. Kurasa mereka semua malaikat berbaju serba putih.

“Bunda jangan menangis. Lihat, akhirnya aku bisa duduk diam dan anggun. Lihat, kali ini aku menurut, kok. Aku masih cantik ‘kan, Bunda?”

R.

(Dari Monday Flash Fiction Prompt#138: “Tangan-tangan” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-138-tangan-tangan.html?m=1  – 359 kata.)

 

“BESAR PASAK DARIPADA TIANG”

“Besar Pasak Daripada Tiang” (Tantangan Menulis Kontenesia Gathering, 19 Februari 2017)

Dulu saya sempat berjanji pada kru redaksi Kontenesia. Janji apa? Saya akan mem-posting tantangan menulis lucu-lucuan ini waktu di Jogja.

Namun, catatan kemarin sempat hilang. Berdasarkan ingatan, inilah tantangan menulis lucu-lucuan yang sempat saya lakukan bareng Saudara Adi waktu itu:

“Besar Pasak Daripada Tiang”

(Dua orang baru saja dinobatkan sebagai pemburu vampir. Tugas perdana mereka? Membasmi pasukan vampir yang menguasai satu kota. Namun, malam itu keduanya sibuk berdebat perihal penggunaan senjata.)

Adi: “Kita pake tiang aja.”

Ruby: “Apa? Nggak salah, tuh? Mending pake pasak aja.”

Adi: “Ah, ngapain? Tiang lebih gampang ditemukan. Lebih panjang pula.”

Ruby: “Tapi pasak lebih besar.”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

(Sayangnya, pertengkaran mereka terdengar oleh pasukan vampir. Kedua pemburu vampir itu pun tewas mengenaskan…bahkan sebelum melaksanakan tugas perdana mereka. Semuanya gara-gara mereka sibuk meributkan senjata apa yang mau mereka gunakan: pasak apa tiang?)

Sekian.

Garing? Biarin. Kadang ini yang bisa didapat dari mengikuti tantangan menulis selama 30 menit. Tapi, waktu itu sih, kami cukup bikin ketawa para kru redaksi.

Ingin tahu kami bisa menulis apa lagi? Tenang, tidak hanya lelucon jayus. Kami juga bisa menulis yang serius. Cek saja website kami di http://kontenesia.com/.

R.

 

“MOMEN FACE TIME”

Momen Face Time: Antara Tur dan Pulang ke Rumah”

Tur 1:

“Kamu masih marah?”

“Enggak. Kenapa?”

“Terakhir kali kamu cuma bilang: ‘Ya udah, pergi aja sana.’”

“Lha, emang kamu juga harus pergi, bukan?”

“Tapi kamu kayak nggak rela gitu.”

“Bukannya nggak rela.” Wajah bundar berbingkai rambut ikal gelap sebahu itu tampak murung. Lalu, dengan malu dia mengakui: “Kesepian. Kangen.”

Wajah brewokan di layar tertawa. “Ah, kamu,” katanya renyah. “Tinggal dua minggu lagi. Sabar, ya.” Saat si wajah bundar tersenyum lagi, si brewok melanjutkan: “Nanti kalo novel berikutmu sukses lagi hingga difilmkan, kamu juga bakal dapet giliran tur promo di jalan.”

Pembicaraan malam itu berakhir dengan memuaskan. Sosok ramping dan brewokan itu tersenyum saat memutuskan hubungan di ponsel.

“Belum tidur?” tegur laki-laki kribo di ruangan yang sama. Sosok gempal itu sedang membereskan kamera. “Mending tidur dulu. Jam dua nanti kita take shot. Kalo bisa jangan kelamaan.”

“Oke.”

Di tangan si brewok, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Dua wajah bundar berambut ikal, ibarat pinang dibelah dua. Namun, keduanya berbeda usia. Yang kecil selalu menagih yang sama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Kalo Papa bisa ngangkut tas gede ama kamera sekaligus, berarti gendong aku doang juga bisa, dong.”

Lelah? Sangat, namun kapan lagi bisa memeluknya sesuka hati? Sebelum gadis kecil itu terlalu besar dan merasa gengsi.

Tur2:

“Kapan aku pulang? Masih dua minggu lagi.”

“Oh.”

“Kenapa?” Wajah bundar itu tampak geli. “Kewalahan di sana?”

“Nggak.” Wajah brewokan itu tampak malu. Di pangkuannya, ada sosok mungil berwajah bundar juga, namun sudah lama terlelap.

Percuma juga berbohong. Wajah di layar ponsel itu kini menertawakannya.

“Nggak apa-apa.” Sekilas wajah itu tampak menyesal. “Memang kebetulan akulah yang paling banyak di sana.”

“Hei, ini momen kamu,” si brewok langsung buru-buru menenangkan. “Kita sudah sepakat saling mendukung karir masing-masing, tanpa melupakan yang penting.”

“Aku tahu.”

Pembicaraan malam itu berakhir sedikit sendu. Wajah bundar berambut ikal itu tampak agak sedih saat memutuskan sambungan di telepon.

“Kangen rumah?” tanya perempuan berkacamata di sampingnya. “Beruntunglah. Nggak banyak laki-laki atau suami yang berpikiran terbuka seperti dia.” Sosok ini lalu menatapnya dengan senyum penuh pengertian. “Tinggal satu kota lagi, habis itu kamu bisa pulang.”

“Iya.” Wajah bundar itu tersenyum lagi. Di tangan, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Ada versi mini dirinya dengan sosok brewok itu.

Versi mininya sudah jago menggombal, terutama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Papa selalu kangen sama Mama, tuh.”

“Kok tahu?”

“Kata Papa, aku mirip Mama. Habis itu, aku dipeluk dan kita dancing pake lagu kesukaan Mama.”

“Oh.”

 Rumah:

“Hai, sayang.”

Si mungil berwajah bundar dan berambut ikal terbangun. Kedua wajah itu tersenyum di depannya. Hatinya langsung was-was.

“Kali ini Papa atau Mama yang harus pergi?”

Kedua wajah itu tertukar lirik sebelum kembali tersenyum padanya.

“Kali ini nggak ada, sayang,” kata wajah bundar dewasa di depannya. “Papa dan Mama lagi sama-sama di rumah.”

“Asyiiik!” Malam itu, seorang gadis kecil sangat berbahagia, memeluk kedua sosok yang paling dicintainya…

R.

(477 kata)