“DI MATAKU”

“DI MATAKU”

Aku bisa duduk berjam-jam, mendengarkan ceritamu tentangnya.Deskripsimu tentangnya memungkinkanku untuk membayangkannya dengan mata terpejam. Rambutnya yang cokelat panjang dengan semburat merah di bawah sinar matahari. Matanya yang biru…yang membuatmu tidak keberatan terpesona olehnya. Senyumnya…ah, haruskah kulanjutkan?

Seperti biasa, kubiarkan kamu terus mengoceh. Kubuat pensilku menari-nari dengan luwes di atas kertas putih, seperti skater di gelanggang es. Terkadang aku hanya bergumam:”Ya.” Kadang aku terkikik melihat ekspresimu. Mata cokelatmu tampak bercahaya.

Aku tersenyum saat matamu tiba-tiba melembut. Salut buat Dewa Cinta Yunani bernama Cupid. Lihatlah bagaimana anak panahnya ini memberi efek permanen padamu.

Hari itu, tiba-tiba kamu berhenti berbicara dan melihatku menatapmu. Menyadari yang sedang kulakukan, tanganmu perlahan terentang ke depan.

“Boleh nggak, lihat itu?”

“Jangan dulu!” Dengan cepat kulindungi buku sketsaku. Ketika kamu cemberut, kuraih tanganmu sambil tersenyum lembut. “Nanti, ya, kalau aku udah selesai. Janji, kok.”

Senyummu muncul kembali dan kamu pun menurut. Selesai menggambar, kutunjukkan hasilnya padamu.

“Ya, Tuhan!” desismu penuh kekaguman. Kau menatapku dan sketsa itu bergantian, nyaris kehilangan kata-kata. “Dia…”

“Ya.”

“Dia sangat cantik,” pujimu dengan suara agak gemetar oleh emosi. “Kamu membuatnya terlihat lebih cantik di sini.”

“Lha, bukannya katamu dia memang cantik?” aku menggodamu dengan alis terangkat sebelah. Kamu pun terkekeh.

 

Saya mengambil buku sketsa saya dari tangan Anda. Dengan hati-hati aku merobek kertas itu dan menyerahkannya padamu. Ah, sial kau. Kenapa matamu tiba-tiba jadi berkaca-kaca begitu?

Aduh, jangan nangis, dong.

“Terima kasih.” Lalu aku hampir tersedak oleh pelukanmu yang tiba-tiba. Setelah kamu melepaskanku, aku terdiam sesaat.

Andai saja, semua orang bisa sebahagia dirimu…

“Jangan khawatir, aku akan menggambar dia yang versi warna-warni,” ucapku kemudian, dengan agak canggung. “Ngomong-ngomong, kapan akad sama resepsinya?”

“Segera, kamu bakalan mendapatkan undangannya.”

— // —

Malam itu, aku sendirian di kamarku. Berbaring di tempat tidur, menatap dinding yang penuh kertas bergambar sketsa wajah yang sama, namun dengan ekspresi berbeda. Sebagian seakan menatapku balik.

Wajahmu…

Aku menghela napas. Harus kuapakan semua ini?

Kurasakan perhatianku terfokus pada salah satu wajah itu. Aku bangun untuk memandangnya lebih dekat. Kamu yang sedang tersenyum, saat pertama kali bercerita tentangnya. Entah kenapa, aku bisa menangkap cahaya itu di matamu.

Dengan hati-hati, kucopot kertas itu dari dinding dan melepas selotipnya dari semua sisi. Tiba-tiba aku ingin memberikan gambar itu padanya. Ingin kukatakan padanya, “Kamu tahu? Dia selalu seperti ini setiap kali membicarakanmu.”

Lalu, seperti yang sudah kujanjikan, kamu akan mendapatkan satu lagi sketsa berwarna wajah cinta sejatimu.

Restu dari seorang sahabat.

-tamat-

“MOMEN FACE TIME”

Momen Face Time: Antara Tur dan Pulang ke Rumah”

Tur 1:

“Kamu masih marah?”

“Enggak. Kenapa?”

“Terakhir kali kamu cuma bilang: ‘Ya udah, pergi aja sana.’”

“Lha, emang kamu juga harus pergi, bukan?”

“Tapi kamu kayak nggak rela gitu.”

“Bukannya nggak rela.” Wajah bundar berbingkai rambut ikal gelap sebahu itu tampak murung. Lalu, dengan malu dia mengakui: “Kesepian. Kangen.”

Wajah brewokan di layar tertawa. “Ah, kamu,” katanya renyah. “Tinggal dua minggu lagi. Sabar, ya.” Saat si wajah bundar tersenyum lagi, si brewok melanjutkan: “Nanti kalo novel berikutmu sukses lagi hingga difilmkan, kamu juga bakal dapet giliran tur promo di jalan.”

Pembicaraan malam itu berakhir dengan memuaskan. Sosok ramping dan brewokan itu tersenyum saat memutuskan hubungan di ponsel.

“Belum tidur?” tegur laki-laki kribo di ruangan yang sama. Sosok gempal itu sedang membereskan kamera. “Mending tidur dulu. Jam dua nanti kita take shot. Kalo bisa jangan kelamaan.”

“Oke.”

Di tangan si brewok, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Dua wajah bundar berambut ikal, ibarat pinang dibelah dua. Namun, keduanya berbeda usia. Yang kecil selalu menagih yang sama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Kalo Papa bisa ngangkut tas gede ama kamera sekaligus, berarti gendong aku doang juga bisa, dong.”

Lelah? Sangat, namun kapan lagi bisa memeluknya sesuka hati? Sebelum gadis kecil itu terlalu besar dan merasa gengsi.

Tur2:

“Kapan aku pulang? Masih dua minggu lagi.”

“Oh.”

“Kenapa?” Wajah bundar itu tampak geli. “Kewalahan di sana?”

“Nggak.” Wajah brewokan itu tampak malu. Di pangkuannya, ada sosok mungil berwajah bundar juga, namun sudah lama terlelap.

Percuma juga berbohong. Wajah di layar ponsel itu kini menertawakannya.

“Nggak apa-apa.” Sekilas wajah itu tampak menyesal. “Memang kebetulan akulah yang paling banyak di sana.”

“Hei, ini momen kamu,” si brewok langsung buru-buru menenangkan. “Kita sudah sepakat saling mendukung karir masing-masing, tanpa melupakan yang penting.”

“Aku tahu.”

Pembicaraan malam itu berakhir sedikit sendu. Wajah bundar berambut ikal itu tampak agak sedih saat memutuskan sambungan di telepon.

“Kangen rumah?” tanya perempuan berkacamata di sampingnya. “Beruntunglah. Nggak banyak laki-laki atau suami yang berpikiran terbuka seperti dia.” Sosok ini lalu menatapnya dengan senyum penuh pengertian. “Tinggal satu kota lagi, habis itu kamu bisa pulang.”

“Iya.” Wajah bundar itu tersenyum lagi. Di tangan, ada fotonya dengan dua sosok yang paling dicintainya. Ada versi mini dirinya dengan sosok brewok itu.

Versi mininya sudah jago menggombal, terutama setiap kali dia pulang dari perjalanan panjang:

“Papa selalu kangen sama Mama, tuh.”

“Kok tahu?”

“Kata Papa, aku mirip Mama. Habis itu, aku dipeluk dan kita dancing pake lagu kesukaan Mama.”

“Oh.”

 Rumah:

“Hai, sayang.”

Si mungil berwajah bundar dan berambut ikal terbangun. Kedua wajah itu tersenyum di depannya. Hatinya langsung was-was.

“Kali ini Papa atau Mama yang harus pergi?”

Kedua wajah itu tertukar lirik sebelum kembali tersenyum padanya.

“Kali ini nggak ada, sayang,” kata wajah bundar dewasa di depannya. “Papa dan Mama lagi sama-sama di rumah.”

“Asyiiik!” Malam itu, seorang gadis kecil sangat berbahagia, memeluk kedua sosok yang paling dicintainya…

R.

(477 kata)

 

“MATA-MATA ITU DI KEPALANYA”

“Mata-mata Itu di Kepalanya”

Acuhkan saja mereka semua. Mereka hanya berani memandang. Mereka hanya berani menghina dengan tatapan merendahkan.

Benar-benar pelecehan!

Lalu, betapa basinya laki-laki macam mereka, dan sayangnya sebagian besar orang yang dikenalnya, saat memberikan alasan. ‘Kan mereka hanya memberikan pujian dan perhatian. Kenapa dia harus marah? Harusnya dia senang. Bukankah dia seorang perempuan?

Bukankah semua perempuan pada dasarnya senang diperhatikan?

“Cewek seksiii! Sini dong, godain kitaaa…”

“Cantik, kok sombong, sih? Dipanggil gak nengok. Budeg, ya?”

“Galak amat mukanya. Biasa aja, dong. Udah bagus masih ada yang mo nyapa.”

Ah, benci sekali mendengarnya. Mengapa mereka harus melakukannya? Nggak ada kerjaan lain yang lebih penting apa?

Dia hanya tidak ingin diganggu. Tiap lewat jalan yang sama, mereka selalu ada. Pagi dan malam, mereka selalu di sana.

Solusi tolol dari semua orang hanyalah mengacuhkan mereka. Kata mereka, nanti para berandalan itu juga akan bosan.

Hah, betapa naifnya. Bukannya berhenti, mereka malah semakin menjadi-jadi. Terus, dia yang harus mengalah dan lewat jalan lain, begitu? Nggak sudi! Mending mereka yang jaga mata sama mulut. Norak banget, kayak belum pernah lihat perempuan aja!

Mata-mata mereka terus mengganggunya. Tatapan mereka bak anjing liar kelaparan, seakan dia hanyalah sepotong daging yang begitu menggugah selera.

Sialan! Mereka benar-benar menjijikan. Dia benci, benci sekali sama mereka. Saking bencinya, mata-mata mereka seperti mulai bersemayam di dalam kepalanya.

Apa yang harus dilakukannya agar bajingan tolol yang enggan mengerti mau berhenti mengganggunya?

—//—

Dua minggu berlalu. Tidak seperti biasanya, jalanan itu kosong. Di TV, berita kehilangan tiga pemuda santer terdengar. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka. Warga dicekam ngeri.

Di rumah, dia memandangi koleksi bola mata perdananya sambil tersenyum puas. Sudah dicuci bersih, terkumpul di dalam toples berisi cairan formalin di dalam kulkasnya. Tinggal meratakan gundukan tanah yang membuat kebun belakangnya agak berantakan.

Setidaknya, mata-mata itu tidak lagi bersemayam di kepalanya, mengganggunya tiap hari.

 

#MYBODYMYPRIDE: Ini Badanku. Kok Kalian yang Ribut?

#MyBodyMyPride: Ini Badanku. Kok Kalian yang Ribut?

Tumbuh sebagai sosok chubby, kriwil, dan pendek bukan perkara mudah. Apalagi, kakak perempuanku termasuk yang dianggap cantik gara-gara dia tinggi, langsing, dan berambut lurus serta panjang. Gara-gara fisik kami begitu berbeda, mulai deh, berbagai celaan keluar untukku. Dari yang masih bisa dicuekin hingga yang bikin bete plus sakit hati, ada semua.

Mereka cukup tega lho, membanding-bandingkan aku dan kakak secara terang-terangan. Menurut mereka, kakakku lebih cantik. Entah apa gunanya mereka ngomong gitu sama aku.

Akibatnya, sempat aku minder setengah mati dan enggan satu sekolah, kampus, maupun tempat kerja dengan kakakku sendiri. Memang jahat sih, kedengarannya. Habis, mulut mereka juga enggan diam, meski aku sebenarnya nggak suka cari masalah.

Lalu, bagaimana akhirnya aku menepis rasa minder itu, meski orang-orang bermulut usil dan jahat sayangnya akan selalu ada?

Pertama, aku masih punya banyak hal baik dalam hidupku. Pekerjaan bagus. Teman-teman baik dan suportif. Bersyukur sekali mereka bukan tipe yang berpikir dangkal dengan mempermasalahkan penampilanku. Mereka hanya rajin mengingatkanku agar jangan lupa menjaga kesehatan. Biasanya, yang hobi berkomentar jahat begini yang ogah aku jadikan teman:

“Gimana mo dapet cowok kalo nggak kurus-kurus?”

            Oke, saat menulis ini, aku memang masih single. Terus kenapa? Usaha menurunkan berat badan mah, untuk diri sendiri – bukan hanya menyenangkan orang lain. Aku malah seram kalau sampai jatuh cinta sama laki-laki yang hanya menilai perempuan dari fisik belaka.

Lagipula, ada juga kok, laki-laki yang suka model chubby kayak aku. Buktinya, salah seorang sahabat yang juga chubby sudah bersuamikan laki-laki yang baik sekali dan mereka sudah punya anak, lho. Aktor Iko Uwais juga termasuk suami yang baik, karena membela istrinya, Audy Item, saat dikatai gemuk sama netizen di media sosial.

Jadi, ngapain nakut-nakutin aku dengan ancaman ‘susah dapet jodoh karena badan gemuk’? Udah nggak zaman ah, mem-bully siapa pun dengan cara begitu. Lagipula, ada tiga (3) keuntungan yang kudapat karena gemuk, yaitu:

  1. Keponakan yang masih bayi cepat pulas saat kugendong.

Kata kakaknya yang juga masih kecil: “Habis Bibi empuk.” Hahaha.

  1. Jadi nggak cepat ‘gelap mata’ saat berbelanja pakaian.

Ya, habis mau gimana lagi? Nggak semua model cocok di aku juga.

  1. Nggak mudah diculik.

Haha, ini candaan yang sering kulontarkan setiap kali masih ada saja yang mengejek ekstra lemak di badanku. Ya, iyalah. Pasti penculik males juga ngangkut-ngangkut yang berat dan serba salah. Pas masih sadar, mereka bisa kena gampar. Pas dibius, yang mencoba mengangkat bisa tepar.

Nggak usah jauh-jauh menculik. Pas mau menceburkanku ke kolam renang dalam rangka ngerjain aku yang ultah, butuh enam orang laki-laki kuat untuk melakukannya. Hihihi…

Pada tahu Adele, Rebel Wilson, dan Melissa McCarthy, ‘kan? Mereka chubby namun berprestasi. Mereka juga cantik tanpa perlu menonjolkan kecantikan mereka. Bagiku, mereka adalah inspirasi. Meski demikian, aku masih kok, mau usaha menyehatkan badan. Cuma, aku merasa nggak perlu laporan ke siapa-siapa buat pembuktian.

Lagipula, ini badanku. Kok kalian yang ribut?

R.

(Tulisan ini juga disertakan untuk Lomba Menulis Vemale.com dengan Tema: #MyBodyMyPride)

 

“IPF 2016: Harapan Perekonomian Bagi Indonesia dari Usaha Mutiara?”

Blogger Reporter Indonesia

“IPF 2016: Harapan Perekonomian Bagi Indonesia dari Usaha Mutiara?”

Untuk keenam kalinya, Indonesian Pearl Festival atau IPF, kembali diadakan. Kali ini, acara pembukaannya diadakan di Gedung Mina Bahari 3, Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, pada pukul sepuluh pagi. Acara ini diawali dengan pemutaran film dokumenter mengenai penambangan mutiara dari laut, sebelum melalui proses penyaringan hingga menjadi mutiara yang kita kenal.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti. Dalam acara berikut, beliau menyampaikan banyak hal, termasuk mengajak partisipasi masyarakat dalam memajukan usaha mutiara dan perikanan, baik air tawar maupun laut.

Bagaimana tidak? Menurut data terakhir saja, sekitar 70 persen perdagangan mutiara berasal dari Indonesia. Mutiara yang berasal dari negeri kita disebut juga dengan nama “Indonesian South Sea Pearl” (ISSP), yang artinya: “Mutiara Laut Selatan Indonesia”. Sayangnya, stempel pada mutiara tersebut langsung berubah begitu dibawa ke luar negeri. Akibatnya sudah bisa ditebak: selain tidak terlacak, bisa saja mutiara tersebut dijual kembali di negara kita dengan harga yang sangat mahal. Lagi-lagi kita kecolongan.

Namun, seiring perkembangan zaman, dunia semakin lebih peduli. Tidak hanya yang kita makan, asal-muasal suatu produk juga harus mendapatkan perhatian. Misalnya: orang akan enggan membeli ikan bila tahu ikan tersebut ditangkap dengan cara ilegal.

Begitu pula dengan mutiara. Masih menurut Ibu Susi, sudah saatnya bisnis perikanan dan mutiara lebih diekspos lagi agar lebih menarik perhatian dan minat para pembeli. Jangan lagi ada cara birokrat dalam bisnis perikanan dan mutiara yang justru malah menjadi penghambat kemajuan.

Dengan sosialisasi yang tepat dan keterlibatan penuh masyarakat dan pemerintah, maka usaha perikanan dan mutiara di Indonesia akan mengundang ketertarikan dunia, namun tanpa lagi ada acara kecolongan seperti yang sudah-sudah.

Akankah usaha mutiara dan perikanan di Indonesia menjadi harapan baru bagi perekonomian di negeri kita? Jangan hanya berharap dan menunggu hasilnya. Saatnya kita ikut terlibat secara penuh untuk memajukan bisnis ini, terutama karena negara kita adalah negara bahari.

 

 

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

            Bahkan, orang yang nggak kenal-kenal amat juga sok ikut menasihati. Percaya deh, obrolan basa-basi, misalnya sama penjaga warung, yang tadinya nyantai bisa jadi bikin bete begitu mereka tahu status dan umur kamu. Kalo nggak ditanya, kadang pake sekalian diceramahin panjang-lebar.

Bukannya nggak mau nikah, tapi nggak mau melakukannya untuk alasan yang salah. Lagipula, nikah juga nggak bisa sembarangan. Jangan hanya karena diuber umur, demi menyenangkan orang lain (bahkan ortu sendiri, lho!), sampai alasan ‘kebelet’ lantas jadi gegabah. (Kalo dipikir-pikir, kenapa nikah sampai disamakan dengan ingin ke toilet segala, ya? Aneh.) Susahnya? Mau secuek dan sekalem apa pun, ada saja mulut usil yang bikin gerah hingga naik darah. Didiamkan makin ‘jadi’, giliran kita marah yang usil malah enteng menuduh kita sensi. Maunya apa, sih?

Kalo hanya ditanya: “Kapan kawin?”, biasanya saya akan menjawab dengan nada separuh bercanda: “Tentu saja habis ijab kabul. Tapi nggak ada yang saya undang, ya!” Ya, iyalah. Masa saya harus ngundang penonton untuk melihat saya dan suami di malam pertama? Yang bener aja!

Kalo ditanya: “Kapan nikah?”, biasanya saya hanya menjawab: “Ya, doakan saja segera” atau sejenisnya. Apalagi, kebetulan kakak perempuan sudah menikah dan punya empat anak. Adik laki-laki juga sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah.

Saya sendiri masih melajang di atas usia tiga puluh. Apakah situasi ini terdengar sangat familiar?

Sayangnya, jawaban kalem versi saya kadang tidak cukup. Pasti ada saja yang lantas berusaha mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya belum dilamar juga. Yang paling menyakitkan bila keluarga sendiri yang menyerang. Ada tante yang cukup kejam pernah berkomentar begini:

“Kurusin, dong. Kamu mau ‘kan, punya pacar?”

            Sadis banget, ‘kan? Ada juga tante lain yang bilang kalo saja saya berusaha seperti kakak saya (entah apa maksud beliau), mungkin saya akan lebih mudah mendapatkan suami.

Masih soal penampilan, cara berpakaian saya pun dikritik. Lucunya, saya sendiri nggak pernah usil sama gaya berpakaian yang mengkritik. Menurut saya, laki-laki kalo udah beneran cinta pasti nggak akan masalahin bila perempuannya nggak selalu mood ingin dandan. Namanya juga manusia biasa.

Soal kepribadian juga begitu. Ah, itu ‘kan relatif. Hayo, ngaku aja, deh. Pasti pernah bingung ‘kan, kenapa perempuan yang menurut kamu nggak cantik-cantik amat atau kelakuannya nyebelin, tapi malah bisa dapat pasangan yang ganteng dan baik hati. Padahal, bisa aja si laki-laki dikirim Tuhan untuk membuat perempuan itu lebih baik atau laki-laki itu melihat kebaikan lain si perempuan yang belum tentu kelihatan di mata kita.

Ada juga yang lantas langsung mempertanyakan kualitas ibadah si sosok yang belum menikah juga. Pernah dengar atau mengalami sendiri? “Kamu kurang ibadah, kali.” “Kamu pasti kurang puasa/beramal/berbuat baik sama orang/dan lain-lain.” Perkara benar atau salah, siapa juga sih, yang suka dituduh langsung seperti itu? Siapa yang nggak bakalan tersinggung, coba? Memangnya setiap usaha mereka mencari belahan jiwa harus dilaporkan ke kamu sebagai pembuktian belaka?

Intinya, peduli boleh. Jangan sampai menyakiti hati. Daripada selalu usil setengah-mati yang kemudian bikin rusak proses silaturahmi, lebih baik doakan saja mereka dengan baik setiap hari. Harusnya semudah itu. Nggak perlu pakai mem-bully.

Buat yang masih hobi nanya-nanya “Kapan kawin/nikah?” ke saya atau para perempuan lain yang masih lajang, saya ada saran jitu agar kamu nggak bikin orang keki. Selain rajin mendoakan saya dan para perempuan lajang lainnya agar segera dipertemukan dengan belahan jiwa atau diberikan yang terbaik oleh Tuhan, cobalah untuk mulai lebih banyak membaca buku. Jadi, pas kita ketemu, nanyanya nggak yang itu-itu melulu.

R.

(Tulisan ini disertakan untuk lomba menulis dengan tema: #StopTanyaKapan dari Vemale.com .)

http://www.vemale.com/hot-event/96726-lomba-menulis-stoptanyakapan-curahkan-isi-hatimu-di-sini.html