“PENGECUT”

“PENGECUT”

Aman di balik akun palsu

Hina sesama sesukamu

Membawa agama dengan sumpah serapah

Saya lelah

 

Menghujat pelaku bunuh diri

Peduli setan dengan keluarga yang (makin) tersakiti

Apa gunanya mencaci-maki?

Mereka takkan kembali

 

Korban pelecehan kau serang

Pelaku kalian agung-agungkan

Memang,

sulit bila adil tidak sejak dalam pikiran

 

Celaka

Dengan mulut yang berisik suaranya,

kalian banyak bercokol di Indonesia!

 

R.

 

“YANG SUKA TERLUPAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL”

“YANG SUKA TERLUPAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL”

Ada dua contoh kasus nyata. Setelah membaca tulisan saya di Facebook mengenai perjalanan saya ke Sydney kemarin, seorang sahabat menegur kesalahan saya. Lewat japri (jalur pribadi) di WA, dia menulis:

“Beberapa nama restonya ada yang salah.”  Lalu dia langsung mengurutkan nama-nama yang harus segera saya ganti.

Apakah saya merasa malu, tersinggung, atau marah? Ya, enggaklah. Selain memang benar harus dikoreksi, cara menegurnya juga masih sopan. Baik-baik, tidak merendahkan, dan tidak di depan orang-orang.

Ini yang suka terlupakan di era media sosial. Saat semuanya serba mudah, kita suka kebablasan. Asal pasang status, komen, hingga buntutnya berantem.

Padahal, di setiap platform media sosial, ada yang namanya japri alias fitur messenger atau DM (Direct Message). Tinggal dipake buat yang masih cukup sadar untuk nggak berusaha mempermalukan sesamanya, meskipun mungkin menurut mereka memang salah.

Namun, ada juga yang mendebat dengan alasan klise:

“Suka-suka gue dong, mau nulis / komen apa.”

“Kita nggak bisa ngendaliin reaksi orang atas postingan kita.”

“Orang yang nggak siap dikritik di depan umum itu cengeng. Nggak beda sama yang maksa UU anti kritik itu disahkan!”

Ups, yang terakhir kayaknya agak nyerempet-nyerempet…ah, sudahlah.

Untuk komen pertama dan kedua, saya setuju. Sebagai manusia berakal dan tahu cara pakai media sosial, harusnya kita memang sama-sama sadar bahwa manusia itu beragam.

Untuk yang ketiga? Saya kurang setuju. Selain kasar dan subjektif, ada beberapa pertimbangan lain hal tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan:

  1. Kayak yang udah disebutin tadi, pake fitur japri juga gampang, kok. Sama gampangnya dengan langsung klik buat komen biasa. Bedanya cuma pesan itu khusus untuk orang yang ditujukan, bukan sejuta umat. Ya, nggak?
  2. Gak mau di-bully di depan umum? Ya, jangan lakukan yang sama ke orang lain. Jangan juga pake standar ganda. Buat Anda, itu hanya kasih pendapat, meski caranya kasar ngalahin preman pasar. Siapa juga sih, orang waras beradab yang tahan? Giliran kebalik, Anda malah merasa dihakimi. Lha, piye?
  3. Ingat HRD. Zaman sekarang, perusahaan nggak hanya ngandelin CV. Mereka juga mengecek riwayat media sosial calon karyawan. Meskipun Anda bukan tukang curhat, melihat cara Anda berdebat dengan orang kayak abis makan bon cabe level 10, yang baca apa nggak ngeri? Daripada kantor tambah drama, mending nggak usah ambil risiko hire orang yang berpotensi selalu jadi petasan cabe.

Semua orang memang bebas menggunakan media sosial sesuai keinginan masing-masing. Ya, asal siap bertanggung jawab aja dengan pilihannya sendiri.

 

R.

 

“PARA PENDOSA”

“PARA PENDOSA”

Izinkan aku bertepuk tangan

sebagai kekaguman

atas hidup kalian

yang seakan bebas cobaan

lolos dari godaan

tanda sempurnanya iman

 

Selamat, ya

Hidup kalian sudah sempurna

hingga memilih mencela

mereka yang dianggap pendosa

berharap mereka masuk neraka

 

Kita memang selalu lebih mudah

menghujat sesama pendosa

enggan membantu mereka

memperbaiki kekurangan yang ada

sehingga lupa

kita juga harus berkaca

 

Ada racun di lidah

Ada semangat menyakiti

dalam jari-jemari

yang mengetik pesan penuh benci

yang menjauhkan semua dari iman sejati

 

Kalian berharap mereka

selamanya di neraka

meski belum ada

yang memberi kabar

takdir kalian di surga

 

Mari, saling mengingatkan

akan kebaikan

tanpa perlu bersikap seperti bajingan

 

Salam,

Sesama Pendosa

 

R.

 

“OH, JAKARTA!”

“OH, JAKARTA”

Sekembalinya aku dari liburan Sydney, aku tidak pernah sama lagi. Banyak yang telah terjadi.

Apa rasanya kembali ke Jakarta, ke semua kekacauan yang familiar? Polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas (berisik dan ganggu banget soalnya)…

Mungkin ini rasanya terlalu lama berada di satu tempat yang sama. Setiap kali mendapatkan kesempatan traveling ke tempat lain (yang buatku jarang terjadi), hanya satu yang selalu kurasakan saat liburan (harus) berakhir:

Aku tidak mau pulang.

Namun, seperti biasa, akhirnya aku pulang juga. Kembali ke kamar kosku yang sempit namun nyaman, dengan AC, koneksi wifi, dan TV kabel berlangganan. Hanya sesekali aku keluar, entah untuk mencari makan, bertemu teman, hingga kerja. Oh, satu lagi: pulang ke keluarga. Satu hal yang pasti, aku tidak mau dituduh tidak sayang atau mulai lupa sama mereka hanya gara-gara jarang berkunjung.

Hhh, kadang mereka enggan mengerti, ada batas tipis antara peduli dengan menghakimi. Meskipun Mama sudah lama mengerti dengan pilihanku, tidak berarti seluruh dunia harus setuju. Semesta masih menunjukkan warna-warni untukku, lebih beragam dari lampu-lampu dari sekitar Jakarta.

“Kadang elo emang harus belajar diam dan cuek sama mereka,” kata Wina, sahabatku di Sydney. Sudah sembilan tahun dia tinggal di sana bersama suaminya, Ant. “Tapi nggak enaknya, di sini kalo enggak biasa ama sepi elo bisa garing juga, Ri. Jam lima toko-toko udah banyak yang tutup. Nggak banyak temen-temen yang beneran bisa lo andelin di sini.”

Ya, bisa dibilang berbeda dengan Jakarta. Lebih dari tiga dekade aku hidup di sini. Aku menjadi saksi hidup geliat perkembangan (dan kemunduran) ibukota negeri ini. Mulai dari semakin banyaknya mal dan hotel, penggusuran paksa pemukiman rumah penduduk (rata-rata secara kasar atau sabotase berupa pembakaran yang disengaja), dan kursi politik yang kerap jadi rebutan.

Saat baru pulang, Mama seperti bisa melihat sesuatu di wajahku. Bahkan, sebelum aku berani menyebut yang sudah kudiskusikan dengan Wina, Ant, dan Toby (sahabatku yang satu lagi di sana), mendadak Mama menyahut:

“Kamu kalo mau coba aja apply pekerjaan di sana. Siapa tahu…”

Yeah, siapa tahu…

— // —

Semula aku sempat tidak (mau) terlalu memikirkannya. Takut kecewa bila tidak kesampaian. Jadi, untuk beberapa saat, aku hanya kirim CV ke pekerjaan menulis apa pun yang bisa kukirimkan. Bahkan, meski tidak pernah jadi mahasiswa teladan, kucoba juga berburu beasiswa ke sana. Short course tiga – enam bulan pun juga tidak masalah.

Hidup memang lucu. Kadang Tuhan mengujimu dengan cara yang tak pernah kau duga.

Saat Adam mengajakku menikah dan berhasil meraih restu keluargaku, aku tidak menolak. Namun, saat Adam mendapat kabar bahwa pekerjaan barunya mengharuskan dia berada di Sydney, perutku mendadak mulas setengah mati. Antara bahagia…dan sedih.

Bahagia, karena petualangan baru yang kunanti-nantikan akhirnya terkabul. Aku juga akan bertemu Wina, Ant, dan Toby lagi. Menjelajahi Sydney dan sekitarnya. Belajar budaya dan kebiasaan di sana…

Namun, aku juga akan merindukan Jakarta. Bukan, bukan polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas, dan mal-mal yang tinggi menyesakkan.

Tidak ada lagi jalan-jalan sama Mama, memeluk para keponakan, makan sate ayam di pinggir jalan, datang ke perkumpulan puisi, dan…ah, masih banyak lagi.

Oh, Jakarta. Ternyata jeratmu masih kuat juga…

R.

 

“MENGUSIR HANTU”

“MENGUSIR HANTU”

Kamu tak boleh takut

meski bermimpi buruk

Mana doa-doamu

untuk mengusir hantu?

 

Kamu tak boleh kalut

meski terpuruk

Mana semangatmu

untuk menghalau setan itu?

 

Kamu tak boleh takut

Hanya mimpi buruk

Tak perlu kalut

Jangan terpuruk

Kamu tak boleh takut

Pakai doa dan semangatmu

 

Usirlah hantu itu!

 

R.

 

“NGGAK SEMUA YANG VIRAL BERGUNA UNTUK DIBAHAS: Makeup Meghan dan ‘Dilan’ yang Jadi Minke”

“NGGAK SEMUA YANG VIRAL BERGUNA UNTUK DIBAHAS: Makeup Meghan dan ‘Dilan’ yang Jadi Minke”

Mungkin saya termasuk salah satu yang cuek. Selain udah terlalu banyak orang yang pasti akan membahas topik yang sedang viral, saya juga lihat-lihat dulu topiknya.

Bolehlah nggak sepakat. Namanya juga perkara selera, jadi pasti subjektif. Lagipula, bukankah hidup akan membosankan bila semuanya (dipaksa) harus sama?

Gambar: tempo.co

Saya termasuk yang nggak heboh soal pernikahan Meghan Markle dan Pangeran Harry (yang kini bergelar Duchess dan Duke of Sussex. Eh, saya nulisnya kebalik, ya? Biarin deh, sekali-sekali perempuan yang duluan.) Biasa aja. Ngefans enggak, benci juga enggak.

Makanya, saya bingung pas ada yang debat soal makeup pengantin di media sosial. Ada yang berpendapat pengantin perempuan harusnya dandan se-pangling mungkin. (Baca: lebih menor dari biasanya, tapi jangan ampe kayak pemain lenong. Nggak cocok aja.)

Ada juga yang apresiasi dandanan pilihan Sang Duchess ini. Sederhana, nggak ribet, pokoknya kayak pribadi orangnya. Denger-denger sih, Pangeran Harry sendiri juga termasuk santai untuk ukuran anak bangsawan.

Membaca selentingan komen para netizen (baik yang pro maupun anti #PanglingPanglingClub) mau nggak mau bikin saya geli. Hebohnya luar biasa, meski nggak semua berprofesi makeup artist juga. Nggak ada yang diundang ke kawinannya pula. Hihihihi…

Gambar: wowkeren.com

Terus masih ada ribut-ribut soal Iqbaal Ramadhan yang didapuk sutradara Hanung Bramantyo untuk memerankan sosok Minke di film “Bumi Manusia”. (Buat yang belum tahu, “Bumi Manusia” ini satu dari tetralogi novel karya Pramoedya Ananta Toer. Kalo belum ngeh beliau siapa, silakan ngobrol-ngobrol deh, sama generasi sebelum kalian – terutama yang lahir sebelum zaman internet.)

Nggak apa-apa kalo emang belum tahu, asal jangan asal komen dulu sebelum mencari tahu. Postingan di media sosial emang bisa dihapus, namun yang terlanjur screenshot dan share massal tetap bisa bikin malu. (Apalagi yang namanya nggak disensor, hehe.)

Jujur, saya sendiri juga belum baca dan nonton “Dilan 1990”, jadi nggak akan berkomentar banyak. Sama kayak yang pertama, percuma juga kalo sengit memprotes terpilihnya Iqbaal untuk berperan sebagai Minke.

Pilihan banyak. Mau nggak nonton karena terlanjur antipati atau nonton untuk cari tahu sendiri, silakan.

R.

 

“SENDIRI”

“SENDIRI”

 

Tiada yang sedih

dari arti sendiri

meski kata mereka

aku gagal mengundang cinta

 

Cinta?

Kata siapa?

Untuk apa?

Cinta sudah di sini

Ini bukan penyangkalan diri

 

Bahagia itu pilihan

abstrak dan terbuka

untuk baiknya perubahan

bukan yang digantungkan

pada hadirnya seseorang

 

Lebih baik sendiri

daripada bertahan

dengan yang senang menyakiti

demi pengakuan

mereka yang belum pasti

atau sungguh peduli…

 

R.

 

“Bukan Pertanyaan ‘KAPAN KAWIN?’ yang Jadi Masalah”

“Bukan Pertanyaan ‘KAPAN KAWIN?’ yang Jadi Masalah”

Menjelang Lebaran, pasti banyak yang udah siap-siap mudik, ya. Selain ketemu keluarga besar, main sama ponakan, makan enak (eh, awas puasanya percuma kalo baru liat opor aja udah kalap!)…apa lagi, ya? Pokoknya liburan, deh.

Cuma, yang bikin para jomblo (apalagi yang udah usia 20-an ke atas) rada males bin jiper…yaaa, itu. Tanya-tanya dari para tetua di keluarga seputar hal yang sama tiap tahun:

“Kapan kawin?”

Mungkin ada yang tahan, mungkin juga ada yang bawaannya mau kabur aja. Bahkan, nggak jarang ada yang langsung nyiapin jawaban ‘super kreatif’ – mulai dari yang masih sopan, lucu, hingga yang kasar banget macam “Situ kapan mati?” Kayak meme yang bertebaran di media sosial itu, lho.

Oke, saya nggak nyaranin kalian melakukan yang terakhir. Selain suasana Lebaran jadi tambah rusak, alamat dicap kurang ajar sama ortu. Emang sih, bukan kalian yang ngajak ribut. Tapi, siapa sih, yang nggak bosen ditanya-tanya gitu terus tiap tahun?

“Eh, siapa yang ngajak ribut? Udah bagus masih ditanyain. Itu tandanya masih dipeduliin, tauk! Situ aja yang baper dan lebay.”

Hmm, sulit juga membantah pake emosi, terutama mengingat generasi sebelumnya nganggep semua tanya-tanya itu biasa. Toh, sebelum makin banyaknya pilihan karir dan kegiatan sosial kayak sekarang, kebanyakan mikirnya hidup itu simpel aja. Lahir, sekolah, kuliah, kerja, nikah, terus punya anak, dan si anak juga diharapkan nikah setelah gede. Sekian. Wajar aja, sih.

Bahkan, ada juga yang menggunakan teori evolusi Charles Darwin sebagai alasan pertanyaan “Kapan kawin?” itu penting banget. Ingin bertahan hidup (meski mungkin maksudnya selalu diingat orang, bahkan saat udah mati sekali pun)? Ya, berketurunan. Syukur-syukur anak-anak yang dibesarkan kemudian masih ingat balas budi dengan enggak menelantarkan ortu mereka saat usia senja.

Terus, apa yang salah dan jadi masalah? Kenapa kemudian kita yang masih jomblo ini (bahkan yang sampai kepala tiga, terutama perempuan) malah dianggep lebay nan defensif karena responnya begitu negatif?

Sebenernya sih, bukan pertanyaan “Kapan kawin?” / “Kapan nikah?” yang jadi masalah. Serius, apalagi kalo kebetulan yang ditanya udah punya calon (alias pacar yang nggak cuman main-main sesaat, tapi beneran mau sampai akad dan akhir hayat). Lha, kalo belum? Siap-siap aja dikasih wejangan untuk buru-buru punya pacar (sama kayak disuruh buru-buru beli tiket kereta atau pesawat karena yang mau mudik dari tahun ke tahun pasti tambah banyak.)

Lha, kalo nggak sreg dengan usul itu? Meski nggak jawab atau cuman kasih senyuman (atau malah kasih jawaban sopan super klasik: “Doain aja”), malah tambah dikuliahin: “Udah, nggak usah terlalu milih. Ntar keburu ketuaan dan malah nggak ada yang mau milih kamu, lho.” Hebat ya, kayak peramal aja.

Apalagi kalo perempuan, yang sedihnya selalu lebih banyak dinilai dari penampilan mereka doang. Suruh kurusin badan lah, suruh dandan dikit lah, lebih feminin lah, sama entah apa lagi. Udah gitu masih juga ditambah saran-saran ‘mengerikan’ lainnya, kayak: “Jangan kepinteran, cowok nanti takut ama kamu” atau “Udaah, jangan karir mulu yang dipikirin”, hingga “Mungkin kalo kamu lebih kalem orangnya…”

Aduh, kesannya semua perempuan bergelar S2, S3, dan berkarir emang cuman mau pamer gelar, terus jadi ngerendahin laki-laki. Hare gene…

Sekali lagi, yang jadi masalah bukan pertanyaan “Kapan kawin?”, tapi reaksi mereka pas nggak mendapatkan jawaban sesuai harapan. Lha, kalo emang merasa wajar bertanya begitu, harusnya siap terima juga dong, apa pun jawaban dari lawan bicara? Kalo mereka emang belum kepikiran ke situ, mbok ya nggak usah maksa, apalagi pake nge-bully apalagi sampai nge-judge segala. Gitu…

Intinya, kalo nggak mau dapet respon lebay, bolehlah nanya “Kapan kawin?”, tapi nggak usah lebay komen yang enggak-enggak begitu jawaban mereka nggak sesuai harapan. Akur? Yuk, ah. Mending Lebaran makan ketupat sayur, daripada komen nyinyir yang bikin pengen kabur.

R.

 

 

“BERHENTI!”

“BERHENTI!”

Mungkin aku harus berhenti

menulis puisi

Benakku teracuni

Hati tersakiti

Tiada cerita lain lagi

 

Namun tangan ini

pemberontak sejati

seperti benak yang masih

bergulir meski teracuni

meski hati terkhianati

oleh kosongnya janji-janji

 

Aku masih sulit berhenti

menulis banyak puisi

mencoba meredam dendam

murka di dalam hati

mencari penawar

untuk benak yang masih teracuni…

 

…berharap bayangmu berhenti

datang dan mengganggu sekali

membuatku gila setengah mati…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Kau telah merusak cinta

menghina arti setia

dengan sekian benci…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Jangan buatku berdoa

kau sendirian sampai mati…

 

Berhenti…

Berhentilah menyakiti

dengan hadir di sini

atau bernyali untuk kembali…

 

Berhenti!

 

R.

 

“5 ALASAN ORANG NARSIS SEBENARNYA PATUT DIKASIHANI”

“5 ALASAN ORANG NARSIS SEBENARNYA PATUT DIKASIHANI”

Oke, sekali lagi, orang narsis tidak melulu ama dengan yang hobi foto-foto selfie di media sosial. Singkat cerita, ada beberapa ciri khas mereka yang berperilaku narsisistik. Mulai dari menganggap semua hal selalu berkaitan dengan mereka, paling anti disalahkan (meski bukti jelas-jelas menunjukkan mereka yang salah), hingga tega berbohong demi kelihatan sempurna.

Ciri lain: selalu haus perhatian dan pengakuan, terutama dari orang-orang yang kebetulan (masih) mereka butuhkan. Ada kalanya kita tertipu, melihat mereka sepertinya selalu tertimpa masalah dan jadi korban.

Kadang kita butuh waktu cukup lama untuk tahu. Kita baru menyadarinya saat lama-lama lelah secara fisik dan mental. Ini gara-gara relasi yang tidak seimbang. Apa-apa harus selalu maunya mereka.

Giliran Anda yang butuh, mereka berlagak nggak tahu. Bahkan, ada yang sampai kabur segala.

Pasti banyak juga saran untuk menghadapi si narsis ini (terutama yang akut). Kalo bisa, jauh-jauh, deh. Interaksi seperlunya aja.

Kalo yang narsis ini kebetulan orang terdekat? Hmm, susah juga. Bila pacar bisa tinggal diputusin, teman tinggal dijauhin, maka keluarga sendiri lebih rumit lagi.

Mungkin ada yang masih berusaha membantu si narsis ini, misalnya dengan membujuknya untuk ikut konseling. Bukan perkara mudah, mengingat mereka merasa nggak ada yang salah dengan diri mereka.

Pernah atau sering dibikin sakit hati sama tipe ini? Lima (5) alasan di bawah ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya patut dikasihani, sehingga Anda tidak perlu terlalu makan hati:

1.Mereka tidak punya empati.

Boro-boro miskin empati. Yang ada malah nggak punya sama sekali. Nggak heran, hubungan sosial mereka dengan orang lain rentan terganggu sekali, bahkan dengan keluarga sendiri. Lagipula, siapa juga yang tahan, sih?

Kerugiannya? Mungkin mereka memang lebih senang sendiri. Tapi, bukan berarti diam-diam nggak banyak yang menyumpahi. Hiii…

2.Yang betah sama mereka hanya orang-orang tertentu.

Memang ada yang lebih banyak terlihat sendirian. Kalo pun enggak, yang tahan berdekatan sama mereka – apalagi dalam jangka waktu lama – hanyalah kalangan tertentu. Silakan cek beberapa kemungkinan di bawah ini:

  • Pengikut buta / para pemuja.
  • Orang-orang yang cuek.
  • Oportunis sejati.

Buat yang oportunis, biasanya mereka juga lagi butuh sesuatu dari si narsis ini. Toh, pada kenyataannya, nggak ada yang lebih penting bagi si narsis kecuali diri sendiri.

3.Mereka akan sulit berkembang.

Mungkin si narsis ini kebetulan termasuk cerdas atau punya kelebihan lain, seperti skill dan sifat ambisius. Bahkan, mungkin saja mereka termasuk berprestasi secara akademis saat sekolah dan kuliah dulu.

Lalu, apa masalahnya? Ego tinggi dan kesombongan mereka, tentu saja. Udah merasa paling benar sendiri, enggan kompromi, dan suka merendahkan orang lain lagi.

Pada akhirnya, mereka akan sulit berkembang, baik dari segi karir maupun relasi sosial. Kalau pun dapat jabatan tinggi, biasanya belum tentu bertahan lama. Kalau pun lama, perusahaan lama-lama akan menderita karena mereka. Jadi, meski kerjaan bagus dan stabil, biasanya posisi mereka di situ-situ aja, se-ambisius apa pun mereka berusaha naik jabatan. Pihak HRD lebih jeli melihat aslinya mereka.

4.Dikelilingi teman-teman sejati? Yakin?

Sulit punya hubungan tulus dengan model begini. Mereka hanya mau menerima pengikut setia, bukan orang yang cukup kritis dan peduli untuk menjadikan mereka pribadi yang lebih baik.

5.Mereka selalu gelisah.

Jangan mudah tertipu tampilan luar mereka yang nyaris selalu tenang dan tampak sempurna. Sesungguhnya, mereka selalu gelisah.

Jangan samakan sifat ambisius dengan obsesi akan kesempurnaan. Karena ingin selalu dianggap paling baik dalam banyak hal, ada yang sampai perlu berbohong. Bohongnya juga nggak kira-kira dan kadang cerita mereka terdengar sangat luar biasa.

Kalau ketahuan? Mereka akan terpaksa menutupi kisah-kisah mereka yang nggak konsisten, terutama begitu sadar ‘korban-korban’ mereka bisa saling bertemu dan klarifikasi. Bahkan, kalau perlu sampai mencari kambing hitam segala. Kalau mau lihat contohnya, silakan tonton film semacam “The Talented Mr.Ripley”-nya Matt Damon.

Ingat-ingat saja kalo lain kali terpaksa berurusan dengan si narsis. Jadi, nggak perlu terlalu makan hati.

R.

 

Sumber:

https://science.idntimes.com/experiment/bayu/orang-narsis-gak-suka-lihat-dirinya-sendiri

https://www.alodokter.com/anda-termasuk-orang-narsis-pastikan-di-sini

https://relationship.popbela.com/single/dinalathifa/tanda-cowok-narsis

http://jatim.tribunnews.com/2017/03/20/10-ciri-orang-narsis-nomor-4-menohok-banget-termasuk-orang-narsiskah-kamu