“HOMO HOMINI LUPUS”

“HOMO HOMINI LUPUS”

Apa artinya darah

bila sama uang kalah?

Persahabatan rusak

akibat ambisi telak

Cinta dimanipulasi

atas nama berahi

lalu ditinggal pergi

 

Moral hanyalah standar ganda

bagi yang berkuasa

bahkan sampai tega

permainkan agama

tanpa peduli banyak yang terluka

 

Memang manusia

kadang pemangsa sesama…

 

R.

 

“SEORANG LELAKI YANG INGIN KEKASIHNYA KEMBALI”

“SEORANG LELAKI YANG INGIN KEKASIHNYA KEMBALI”

 

Hari itu aku melihatnya

seorang lelaki yang memandang diri

pada cermin, matanya bertemu sang pendosa

yang telah menyakiti cinta sejati

hingga tak tahan dan pergi

meninggalkannya sendiri

 

Hari itu juga, aku melihatnya

seorang lelaki yang ingin berubah

lebih baik dari sebelumnya

pasrah, meski belum rela kalah

berjuang demi kesempatan kedua

agar pintu itu kembali terbuka

 

Hari itu, aku berdoa

agar sang kekasih melihatnya

dan kembali percaya

bahwa mereka masih bisa bersama

sebagai belahan jiwa

hingga akhir hayat tiba

 

Ya, aku hanya bisa berdoa

Semoga saja…

 

R.

 

“DI BALIK YANG TERANIAYA”

“DI BALIK YANG TERANIAYA”

Kau harus waspada

meski kini tengah berjaya

merasa berkuasa

di atas segalanya

bahkan mungkin Sang Pencipta

 

Banyak doa

dari sosok yang terluka

di balik yang teraniaya

Tak semua indah adanya

Banyak harapan kau sengsara

 

Kau harus waspada

karena Tuhan Maha Kuasa

Saat terkabulnya doa mereka

adalah saat kau mulai menderita

bahkan mungkin lebih dari yang pernah mereka terima…

 

R.

(Jakarta, 4 September 2017 – 10:00)

 

“ADA SATU HARI…”

“ADA SATU HARI…”

Ada satu hari

saat semua rapi

teratur tanpa cela

lancar segalanya

 

Lalu ada hari lain

saat semua jalan licin

Percuma hati-hati

Tetap jatuh sendiri

 

Ada juga satu hari

berisi gabungan keduanya

Hmm, mungkin mereka benar

Penonton bisa bubar

bila selalu disuguhi

acara yang sama…

 

R.

 

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

Aku muak dengan tuntutan

dan semua salah paham

meski bagian dari realita

Aku terlalu lelah

Sudah

Diri ini tidak perlu dibela

Biarlah mereka suka-suka

 

Hanya butuh beberapa jam

membuang pikiran kejam

ingin bebas

sebelum strategi bertahan ini membuatku kebas

 

Aku butuh semangat itu

sebentar saja, denganmu…

 

R.

(Jakarta, 8/8/2017 – 8:40)

 

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

Apakah wajah ini sudah menipumu,

dengan senyum palsu

namun hati pilu?

Bukannya tiada syukur telah bertemu

berbagi kisah, meski rasa masih hinggap di kalbu

terlalu malu

hingga kadang lidah kelu

 

Semoga wajah ini cukup ahli menipumu,

saat cinta terasa semu

oleh beda penghalang satu

 

Hingga kini,

aku masih diam

di ujung pengharapan

berharap cinta segera redam

padam, hilanglah sekalian

sebelum sekali lagi

diri ini kembali dalam kehancuran…

 

R.

 

“SEBUAH KEJATUHAN”

Foto: kriminalitas.com

“SEBUAH KEJATUHAN”

Biarkan…

Biarkan semua tanya

mengambang di udara

Mengapa dan bagaimana bisa?

 

Biarkan kecewa meraja

tanpa mau tahu alasannya

Ingin bicara

meski telah hilang rasa

 

Biarkan…

Biarkan mereka mengira-ngira

Ada 1001 teori di sana

tentang kau yang selalu dianggap kalah berlomba

 

Sekali lagi,

hadapi kejatuhanmu sendiri

Mereka yang berharap terlalu tinggi

kini mana mau peduli…

 

R.

 

“DI TENGAH LAUTAN TUGAS YANG TIADA TUNTAS…”

“DI TENGAH LAUTAN TUGAS YANG TIADA TUNTAS…”

 

Di tengah lautan tugas

yang tiada tuntas

saat semua bergegas

membawa yang dikemas

tiada lelah boleh dilepas

waktu bisa sangat lugas

lelah tapi harus tegas

ajaib bila masih waras…

 

…kutemukan keabadian

pada senyummu yang menawan

tatapanmu yang menghanyutkan

meski entah sampain kapan

sebelum aku kembali…

 

…bertugas…

 

R.

 

“DI BALIK BAYANG-BAYANG…”

“DI BALIK BAYANG-BAYANG…”

Di balik bayang-bayang,

ada yang tersenyum senang

Mata itu menyorot tajam

tampak puas dan kejam

 

Di balik bayang-bayang,

sosok itu menikmati setiap pertengkaran

bertepuk tangan pada makian

bersorak-sorai, memuji pembantaian

 

Saat ini,

sosok itu masih terlalu nyaman

sangat cerdas, sulit ketahuan

terlalu pengecut untuk hadir di tempat terang

terlalu licik untuk ikuti aturan

 

Di balik bayang-bayang,

sosok itu hanya berani menunjukkan

senyum culas pengadu domba

merayakan setiap luka

sambil berpegang pada standar ganda…

 

R.

 

“MENCARI SENYUMMU DI TENGAH KEKACAUAN DUNIA…”

“MENCARI SENYUMMU DI TENGAH KEKACAUAN DUNIA…”

 

Aku mencari senyummu

di antara kekacauan dunia

Mungkin saja,

senyum itu senjata terampuh

seperti mata bersorot teduh

yang mampu membunuh

semua angkara di dada

kalau perlu tanpa sisa…

 

R.