“YANG MANA DIRIMU?”

“YANG MANA DIRIMU?”

Terombang-ambing

kau tunjukkan diri

kadang hangat, kadang dingin

bagai cuaca di bumi

selepas efek rumah kaca

kadang gerah, kadang bikin merinding

 

Yang mana dirimu?

Aku harus tahu

Mengapa cinta ibarat catur?

Setiap langkah harus diatur

Apakah kau hanya ingin

aku takluk secara utuh

agar kau dapat berkuasa penuh?

 

Jangan frustrasi

Yang ada malah lelah sendiri

sementara aku sudah muak sekali

Masa semua harus maunya laki-laki?

Katanya perempuan dihargai

bukan ditindas setengah mati

 

Jadi, yang mana dirimu?

Tak perlu takut terlihat lemah di hadapanku

 

R.

 

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

Bisakah aku menjadi pahlawanmu,

meski tanpa kekuatan super

atau kostum dan topeng itu?

 

Bisakah?

Mungkin tidak

meski tetap mau

dan cinta terdengar semu

 

Maukah aku menjadi pahlawanmu,

meski mungkin tidak perlu

karena bisa saja kau meninggalkanku

dan ilusi cinta hanya menyisakan sembilu

 

Mungkin itu bukan peranku

dan kamu hanya ada

pengisi beberapa bab saja

namun bukan sebagai tokoh utama

dan cinta hanya fatamorgana

impian remeh gadis remaja

 

Siapkah aku

bila akhir kisah ini

hanyalah aku yang kembali

dan lagi-lagi sendiri?

 

R.

(Jakarta, 19/9/2017 – 10:05 am)

 

“PINTU HATI”

“PINTU HATI”

Dahulu,

aku pernah peringatkanmu

Tak banyak yang beruntung

Tak semua bisa masuk

Banyak yang pulang dengan murung

 

Kini,

bisakah kamu memegang janji

takkan menyakiti?

Jangan buatku memohon pada Ilahi

untuk mengusirmu pergi.

 

R.

 

“BANYAK YANG INGIN KUUCAP”

“BANYAK YANG INGIN KUUCAP”

Banyak yang ingin kuucap

meski tak selalu cakap

dan cenderung gagap

 

Banyak, namun selalu gagal

Kamu membuat nyaliku mental

Kadang aku sebal

 

Banyak, hingga kini masih saja

terkunci, namun liar bergerilya di hati dan kepala

Ada rasa benci pada diri yang tak berdaya

 

Banyak yang ingin kuucap

terutama kata cinta

khusus untukmu saja…

 

R.

 

“SAHABAT SEMPURNA”

“SAHABAT SEMPURNA”

Sampai kapan pun,

kau takkan menemukannya

sosok yang selalu santun

sahabat sempurna

 

Kau ingin dia tanpa cela

selalu membuatmu bahagia

seiya sekata

tiada bantah maupun usul berbeda

 

Selamat mencari

meski lupa berkaca diri

karena kamu pun manusia

yang tak luput dari cela…

 

R.

(Jakarta, 15/10/2017 – 22:00)

 

“CUKUP UNTUKMU”

“CUKUP UNTUKMU”

Terima kasih

Kau tidak berharap

aku harus secantik bidadari

Tuntutanmu tak pernah kalap

 

Kau biarkan aku melihat

kilasan-kilasan lampau

dalam bait-bait sajak

berisi semua lukamu

 

Aku tidak bisa berjanji

akan sempurna setengah mati

Yang kutahu,

kuingin kau merasa aman di hatiku

Begitu pula aku di hadapanmu

 

Semoga aku cukup baik untukmu

seperti kamu yang telah baik padaku

dan ada dari-Nya, berupa restu…

 

R.

(Jakarta, 26 Februari 2018 – 11:15)

 

“TAKUT YANG NYATA”

“TAKUT YANG NYATA”

Aku tidak ingat
kapan terakhir kali menangis di pelukan seseorang.
Mungkin aku hanya berusaha lupa
agar selalu kuat.
Ada kalanya, semua harus dijalani sendirian.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya
apakah aku sedingin ini adanya.
Aku bukan orang yang mudah
apalagi terbuka untuk urusan cinta.
Ada takut yang nyata
seperti kembali ditinggal saat mulai merasa.

Semoga kamu nyata
bukan cuma janji dan akhirnya sama
atau malah lebih parah dari mereka.

#puisiJanuari2018
#tentangakudanpujangga
#takutyangnyata

 

“MARI BERPRASANGKA”

“MARI BERPRASANGKA”

 

Mari berprasangka

demi seiya dan sekata

dengan pemangku kebijakan

dengan pembuat aturan

 

Mari berprasangka

meski terkecoh tampak luarnya

Telanjangi mereka

Permalukan pada dunia

 

Mari berprasangka

agar jiwamu yang beringas

bisa semakin puas

bagai monster haus darah nan buas

 

Anggap saja privasi

apalagi hak asasi

hanyalah alasan para bedebah

yang sengaja dicari-cari

 

Mari,

tanpa peduli

bila suatu saat nanti

semua dapat gilirannya sendiri

 

Hiii…

 

R.

(Jakarta, 7 Februari 2018 – 18:00)

 

“RINDU?”

“RINDU?”

Rindu?

Ah, gengsi aku

Untuk apa bilang begitu?

Bisa-bisa harga diri runtuh

Tapi, warasku juga jauh dari utuh

 

Duh, rindu

Kenapa harus ada itu?

Kenapa pula kita harus begitu jauh?

Padahal, bisa saja semua ini ilusi semu

Kata mereka, harusnya aku lebih tahu

 

Ah, aku benci dengan rindu

Paranoia ibarat langit kelabu

Bagaimana kalau jenuh,

lalu ada yang tergoda untuk…selingkuh?

Huh!

 

Haruskah aku malu

gara-gara rindu?

Apa kutepis saja gengsi itu,

agar dia tahu?

Lalu?

 

Ah, sudahlah

Setidaknya biar dia tahu

Mungkin dia juga rindu

Semoga dia tidak menertawakanku

agar aku segera bangun dari khayalan semu

 

Mana kutahu?

Ah, yang penting bilang dulu.

 

R.

(Jakarta, 12 Januari 2018 – 17:45)

 

 

“BAHASA EGO-MU”

“BAHASA EGO-MU”

Tak perlu pamerkan usiamu,

kecerdasan, atau apa pun yang kau mau

Mungkin kau sudah terbiasa

berlaku seenaknya

tanpa peduli ada yang tak suka

apalagi sampai terluka

 

Kadar kedewasaanmu akan tampak

saat kritikan wajar buatmu tersentak

lalu kau menuduh mereka galak

sebelum pergi begitu saja

seperti anak manja yang marah dan kecewa

ngambek luar biasa…

 

R.

(Jakarta, 21 Januari 2018 – 14:45)