“DI BALIK BAYANG-BAYANG…”

“DI BALIK BAYANG-BAYANG…”

Di balik bayang-bayang,

ada yang tersenyum senang

Mata itu menyorot tajam

tampak puas dan kejam

 

Di balik bayang-bayang,

sosok itu menikmati setiap pertengkaran

bertepuk tangan pada makian

bersorak-sorai, memuji pembantaian

 

Saat ini,

sosok itu masih terlalu nyaman

sangat cerdas, sulit ketahuan

terlalu pengecut untuk hadir di tempat terang

terlalu licik untuk ikuti aturan

 

Di balik bayang-bayang,

sosok itu hanya berani menunjukkan

senyum culas pengadu domba

merayakan setiap luka

sambil berpegang pada standar ganda…

 

R.

 

“MENCARI SENYUMMU DI TENGAH KEKACAUAN DUNIA…”

“MENCARI SENYUMMU DI TENGAH KEKACAUAN DUNIA…”

 

Aku mencari senyummu

di antara kekacauan dunia

Mungkin saja,

senyum itu senjata terampuh

seperti mata bersorot teduh

yang mampu membunuh

semua angkara di dada

kalau perlu tanpa sisa…

 

R.

 

“SELAMAT DATANG DI ALAM MIMPIKU”

“SELAMAT DATANG DI ALAM MIMPIKU”

 

Semalam aku kembali melihatmu

muncul di luar kendaliku

Haruskah aku terganggu?

Aku tak tahu

Rasa ini masih ambigu

 

Bagaimana ini?

Kenapa kau bisa di sini?

Padahal, gerbang ini sudah lama kukunci

Tidak sembarang orang bisa kemari

Lagi-lagi diri mengkhianati

 

Akankah kau kembali ada

di malam-malam berikutnya?

Tak sudi aku kehilangan daya

Setengah mati kuhindari satu kata

khawatir merasa bodoh dan berakhir kecewa

kembali pada bencana yang sama

seperti semua kisah lama

 

Ah, sepertinya waktuku telah tercuri

bahkan saat lelap sendiri

Mungkin kau memang harus di sini

meski entah sampai kapan…atau akankah kau juga pergi

dan aku kembali sendiri

 

Selamat datang di alam mimpiku

meski kau sendiri tidak tahu…

 

R.

 

“KADANG AKU HANYA INGIN DIAM-DIAM MEMANDANGIMU”

“KADANG AKU HANYA INGIN DIAM-DIAM MEMANDANGIMU”

Ya, aku tahu

Aku sedang mendebat isi kepala

bernegosiasi dengan hati

pertanyakan kewarasan diri

 

Mungkin kau akan ngeri

ketakutan setengah mati

saat mengetahui hal ini

Makanya, lebih banyak kuberdiam diri

atau menulis banyak puisi

 

Kadang-kadang,

aku hanya ingin diam-diam memandangimu

dari jauh

agar kau tidak perlu tahu…

 

R.

 

“LEWAT MATA JERNIHMU”

“Lewat Mata Jernihmu”

 

Mungkin aku belum benar-benar mengerti

seperti kau yang baru belajar memahami

indah warna-warni dunia ini

yang selalu kulihat, terus berganti

 

Kata mereka,

kau titipan dari surga

generasi penerus manusia

agar tiada lagi bencana

maupun pertikaian antar sesama

 

Ingin kulihat lagi dunia

lewat mata jernihmu

sebelum tumbuh dengan prasangka

membawa semua luka

pemberian realita…

 

R.

 

 

“CINTA…ATAU OBSESI?”

“Cinta…atau Obsesi?”

Jangan bengong

Sibukkan diri

Jangan sampai pikiran kosong

Salah-salah gila sendiri

 

Sudah, berhentilah memikirkannya

dia, yang belum tentu pasti

Yakin ini cinta?

Jangan-jangan cuma obsesi

 

Bolehlah kagum atau suka

Jangan lupa menjaga hati

Bila bukan dia orangnya,

setidaknya kamu lebih waras kali ini

 

Semoga kali ini benar-benar cinta yang nyata,

bukan hanya obsesi

Ya, kamu sudah muak dengan luka yang sama

Jangan sampai tertipu lagi…

 

R.

 

“DARI GADIS YANG SULIT PERCAYA”

“Dari Gadis yang Sulit Percaya”

Aku terlalu tua untuk cerita dongeng

harapan semu dan cerita cinta cengeng

Ini dunia nyata

Aku harus sadar sepenuhnya

 

Aku memang bukan putri raja

namun juga enggan menghamba

pada mereka yang manja

selalu minta diperlakukan seperti dewa

 

Mungkin sudah tidak ada lagi pangeran

tertutup laki-laki bertabiat kejam

selalu ingin berkuasa dan merendahkan perempuan

lebih banyak menyuruh mereka diam

 

Aku enggan berhenti percaya

namun yang sering kulihat sama

Aku juga mulai sering mengunci pintu

khawatir mereka masuk dan menginjak keping-keping hatiku

yang hingga kini belum rampung menyatu

 

Maaf, ini bukan rasa benci

hanya takut setengah mati

Tak sudi tertipu lagi

lalu merasa bodoh sendiri…

 

R.

 

“TERLALU DINI UNTUK CINTA?”

“Terlalu Dini untuk Cinta?”

Enggan kusebut ini cinta

Terlalu dini rasanya

mengingat kita jarang berjumpa

 

Kurasa ini masih ambigu

dan aku masih terlalu malu

Mungkin kau tertawa bila tahu

 

Namun ada yang nyata

seperti senyum itu yang mencipta bahagia

atau sajak-sajakmu penembus sukma…

 

…atau air matamu yang membuat pilu

Ah, rasanya aku terlalu lama terpaku

Mungkin ini hanya angan-angan semu

 

Mungkin terlalu dini

Mungkin aku yang harus tahu diri

jangan berharap pada yang belum pasti…

 

Barangkali ini juga ilusi

ibarat candu abadi

penawar rindu dalam sunyi

mencoba berdamai dengan sepi…

 

R.

 

“KAU TIDAK PERNAH TAHU”

“Kau Tidak Pernah Tahu”

Kau hanya tahu nama

tanpa pernah ingin mengenalnya

Kau hapal wajah

namun curhatnya mungkin bikin kau lelah

 

Kau terlalu bahagia

Ya, tiada yang sempurna

Kau kira kau tahu semua

termasuk cara menyelamatkan nyawa

 

Kau tidak pernah benar-benar tahu

Kau hanya tahu mereka menyerah

mengejar alam barzah

kalah oleh masalah

 

Bagimu mereka pengecut

yang baru segitu sudah kalut

Kamu sibuk bikin status tentang mereka

jiwa-jiwa merana

tanpa peduli kawan dan keluarga

yang kehilangan dan berduka

lalu kian terluka

setelah membaca gunjinganmu di social media…

 

Kau kira kau tahu segalanya

tapi bahkan enggan mendekati mereka

mengajak bicara

menjadi pendengar yang sabar

mencegah mereka menyerah…

 

R.

 

“UNTUK PUJANGGA DENGAN SAJAK-SAJAK INDAHNYA”

“Untuk Pujangga dengan Sajak-sajak Indahnya”

Terlalu malu kusebut namamu

terutama karena kita jarang bertemu

Ah, siapakah aku?

Hanya sosok yang senang belajar selalu

 

Kau tak tahu

wajahmu mulai terpatri di benakku

Mungkin karena sajak-sajak itu

menumbuhkan rasa yang mungkin masih ambigu

atau malah semu dan tabu

 

Untuk saat ini,

aku hanya ingin menikmati sajak-sajakmu

Mungkin aku masih belum berani

berharap lebih dari itu…

 

R.