“TERUNTUK #ALEPPO”

“TERUNTUK #ALEPPO”

Di satu sisi dunia,

semua ceria

jalani hidup seperti biasa

di bawah cerahnya angkasa

 

Di sisi lainnya,

banyak yang terluka

kehilangan dan penuh duka

lari dan sembunyi, bertaruh nyawa

 

Di mata media,

ada ragam cerita

Ada yang percaya

Ada yang menuduh pura-pura

 

Datang, datanglah ke sana

Lihat sendiri, apa adanya

Mungkin kau akan beruntung, masih bernyawa

saksi hidup perjuangan nyata…

 

R.

(Jakarta, 17 Desember 2016 – 16:15)

 

 

“PUAS YANG BUAS”

“Puas yang Buas”

Mereka kerap hanya ada

berkumpul saat bahagia

Senyum dan polah si mungil di depan mereka

ibarat tontonan belaka

 

Ada yang tidak puas

selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas

Mengaku manusia, namun buas

hanya saat dilihat, mereka berkoar-koar soal moralitas

 

Ayunan tangan dan selangkangan

pencipta banjir air mata

jerit jiwa-jiwa muda

kian terluka dan ternoda

 

Manipulasi emosi

tak cukup sekali

kalau perlu tanpa henti

sampai mereka tak bernyawa lagi

 

Ke manakah mereka?

Hanya diam seribu bahasa

setelah beralasan: “Bukan anak saya”,

atau: “Urusan keluarga mereka.”

Saat menutupi aib lebih berguna

jauh berharga daripada nyawa

 

Mereka pun terpencar

meninggalkan jiwa-jiwa rusak terpapar

perlahan kehilangan pendar

Tragedi kelar

Massa bubar

Tinggal cerita lama di surat kabar

 

Kapan mereka mau beraksi?

Haruskah menanti

saat mahluk buas itu mulai menyakiti

anak-anak yang mereka cintai?

 

Akankah mereka kian membisu,

dalam bumi yang makin membara

namun penuh jiwa-jiwa dingin, kosong, dan sunyi?

 

Karena mereka masih bernapas,

namun dengan nurani yang mulai kebas

perlahan terancam mati…

 

R.

 

“CANDU DIGITAL”

“Candu Digital”

Ada saat mulut berucap

atau jemari lincah menari

di atas papan ketik laptopmu

atau ponsel terbaru

 

Apa yang keluar?

 

Pekerjaan?

Gosip dan gunjingan?

Informasi atau lelucon basi?

Ekspresi cinta atau benci?

Nasihat, motivasi, atau caci-maki?

 

Sudah kelar

Masih ramai atau sudah bubar?

 

Mulut berucap ibarat lidah mencecap

Telinga pengang, gagal mendengar

Gegap gempita di luar

Otak gegar dan jiwa bergetar

 

Jemari kian lincah

lebih lihai dari lidah

Mungkin sudah ahli, malah…

 

…sementara otak dan hati terancam (di)bungkam,

terlupakan di pojok gelap ruangan

seiring batin perlahan menghitam…

 

R.

(Jakarta, 19 Oktober 2016 – 17:00)

 

“TIDAK SUKA?”

“Tidak Suka?”

Bagimu, aku terlalu banyak bicara

meski berupa tulisan di social media

Ah, bukan aku satu-satunya

Sadar atau tidak, kamu juga sama

 

Bagiku, aku punya hak serupa

Sungguh, tak perlu kau baca semua

bila memang tidak suka

Toh, manusia tinggal memilih saja…

 

R.

(Jakarta, 22 November 2016 – 11:00)

 

“SAAT JUMAWA BERTAHTA”

“Saat Jumawa Bertahta”

Ancamanmu begitu nyata

saat kau akhirnya di singgasana

Wahai, Sang Raja

Hati-hati dengan ucapanmu, Baginda

walau kau merasa seputih istana

 

Kau berharap tunduknya dunia

hanya karena kau begitu kaya

Kini kau makin berkuasa

merasa bebas semena-mena

Kau pikir kaulah segalanya

 

Coba tebak, ‘Yang Mulia’

Di mata-Nya, kau bukan apa-apa

Seperti kami yang bagimu bukan siapa-siapa

Nikmatilah jumawa

meski sementara

mumpung kau masih bernyawa…

 

R.

(Jakarta, 14 November 2016 – 8:30)

 

“BULLY” (PENINDAS)

“Bully” (Penindas)

Memang benar lidah tak bertulang

Luwesnya bukan kepalang

Bercakap tanpa henti

meski telinga lelah setengah mati

 

Tinju mudah melayang

terutama mereka yang merasa jagoan

Yang penting lawan terjengkang

kalau bisa tunggang-langgang ketakutan

 

Tiada hangat di sorot mata

Bibir mencibir penuh hina

Ada dingin dalam tawa

Ah, mereka kira mereka segalanya

 

Mereka kira akan dapat kehormatan

dengan nyali kerdil dan mental bajingan

Tinggal tunggu tanggal mainnya

saat ada yang ingin melenyapkan mereka

selamanya dari dunia…

 

R.

(Jakarta, 7 Oktober 2016 – 7:30 am)

 

 

“SAAT HUJAN BAGAI PELURU…”

“Saat Hujan Bagai Peluru…”

Kadang tetes hujan melesat bagai peluru,

berkali-kali menghajar wajahku

Setidaknya, mereka tidak kejam menghunus

menembus hati yang sedang membiru

 

Lalu, ada saja duka lama

menggedor-gedor pintu

bagai candu yang menuntut lebih dari sebelumnya

membuatku lari bersembunyi

merebahkan diri di lantai

Ah, kukira sudah kutendang pergi

 

Itukah tawa Iblis?

Tak pernah kudengar dia begitu sinis

Aku tetap sendiri berjuang

menyuruh mereka diam

Diamlah!

Kepala ini sudah penat oleh masalah

hingga dingin kuacuhkan

meski hanya angin penawar dekapan…

 

Kata mereka, para malaikat turun bersama hujan

mendengarkan setiap doa,

yang mengirim mereka kembali pada Sang Maha Pencipta

Inginkah Dia agar aku melalui hal yang sama?

Baiklah

Tergantung Kebijakan-Nya

kapan ingin mengangkat semua luka…

 

R.

(Jakarta, 14 Oktober 2016 – 5:00)

 

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

Ada merah di matanya,

dengan marah bersemayam di sana

bercampur rindu dan rasa kalah

Mungkin hatinya sedang patah

 

“Apa kabar temanmu?”

Ah, dia gagal menyembunyikan sendu

Bahkan, sepertinya dia ingin aku tahu

meski saat itu aku lebih memilih membisu

 

Ada rindu dari tanya itu

Sayang, tiada solusi di benakku

Apalagi, aku sedang enggan berurusan dengan cinta

Takut kembali berakhir sepertinya:

lagi-lagi kecewa…

 

R.

(Jakarta, 13 September 2016)

 

“1 SEPTEMBER 2016”

“1 SEPTEMBER 2016”

Kau mencari yang dulu kau tinggal

Untuk apa?

Semoga kali ini kau terpental

menjauh untuk selamanya

 

Kau mencari yang dulu kau tinggal

seperti bocah mencari mainan lama

enggan menerima kenyataan karena bebal

Kau pikir kau istimewa

 

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi

Lebih baik kau pergi

Tinggalkan dia sendiri

Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

 

Masih terus mencari?

Selamat berusaha

Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa

alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

 

R.

(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

 

“1 AGUSTUS 2016”

“1 AGUSTUS 2016”

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi

sambil membaca berita hari ini

atau tumpukan pesan untuk diri…

 

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri

si penyebab sakit hati

kini ingin bertemu kembali

 

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi

sembari menebalkan dinding hati

mengunci semua yang perlu dilindungi

Jangan sampai terluka lagi

 

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah

Usahakan segera enyah

Kalau bisa, sekalian sampai musnah

Jangan mau kalah

 

Selamat pagi, diri

Mari habiskan pahitnya kopi…

 

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)