“BULLY” (PENINDAS)

“Bully” (Penindas)

Memang benar lidah tak bertulang

Luwesnya bukan kepalang

Bercakap tanpa henti

meski telinga lelah setengah mati

 

Tinju mudah melayang

terutama mereka yang merasa jagoan

Yang penting lawan terjengkang

kalau bisa tunggang-langgang ketakutan

 

Tiada hangat di sorot mata

Bibir mencibir penuh hina

Ada dingin dalam tawa

Ah, mereka kira mereka segalanya

 

Mereka kira akan dapat kehormatan

dengan nyali kerdil dan mental bajingan

Tinggal tunggu tanggal mainnya

saat ada yang ingin melenyapkan mereka

selamanya dari dunia…

 

R.

(Jakarta, 7 Oktober 2016 – 7:30 am)

 

 

“SAAT HUJAN BAGAI PELURU…”

“Saat Hujan Bagai Peluru…”

Kadang tetes hujan melesat bagai peluru,

berkali-kali menghajar wajahku

Setidaknya, mereka tidak kejam menghunus

menembus hati yang sedang membiru

 

Lalu, ada saja duka lama

menggedor-gedor pintu

bagai candu yang menuntut lebih dari sebelumnya

membuatku lari bersembunyi

merebahkan diri di lantai

Ah, kukira sudah kutendang pergi

 

Itukah tawa Iblis?

Tak pernah kudengar dia begitu sinis

Aku tetap sendiri berjuang

menyuruh mereka diam

Diamlah!

Kepala ini sudah penat oleh masalah

hingga dingin kuacuhkan

meski hanya angin penawar dekapan…

 

Kata mereka, para malaikat turun bersama hujan

mendengarkan setiap doa,

yang mengirim mereka kembali pada Sang Maha Pencipta

Inginkah Dia agar aku melalui hal yang sama?

Baiklah

Tergantung Kebijakan-Nya

kapan ingin mengangkat semua luka…

 

R.

(Jakarta, 14 Oktober 2016 – 5:00)

 

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

Ada merah di matanya,

dengan marah bersemayam di sana

bercampur rindu dan rasa kalah

Mungkin hatinya sedang patah

 

“Apa kabar temanmu?”

Ah, dia gagal menyembunyikan sendu

Bahkan, sepertinya dia ingin aku tahu

meski saat itu aku lebih memilih membisu

 

Ada rindu dari tanya itu

Sayang, tiada solusi di benakku

Apalagi, aku sedang enggan berurusan dengan cinta

Takut kembali berakhir sepertinya:

lagi-lagi kecewa…

 

R.

(Jakarta, 13 September 2016)

 

“1 SEPTEMBER 2016”

“1 SEPTEMBER 2016”

Kau mencari yang dulu kau tinggal

Untuk apa?

Semoga kali ini kau terpental

menjauh untuk selamanya

 

Kau mencari yang dulu kau tinggal

seperti bocah mencari mainan lama

enggan menerima kenyataan karena bebal

Kau pikir kau istimewa

 

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi

Lebih baik kau pergi

Tinggalkan dia sendiri

Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

 

Masih terus mencari?

Selamat berusaha

Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa

alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

 

R.

(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

 

“1 AGUSTUS 2016”

“1 AGUSTUS 2016”

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi

sambil membaca berita hari ini

atau tumpukan pesan untuk diri…

 

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri

si penyebab sakit hati

kini ingin bertemu kembali

 

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi

sembari menebalkan dinding hati

mengunci semua yang perlu dilindungi

Jangan sampai terluka lagi

 

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah

Usahakan segera enyah

Kalau bisa, sekalian sampai musnah

Jangan mau kalah

 

Selamat pagi, diri

Mari habiskan pahitnya kopi…

 

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)

 

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

Percayalah…

Siapa pun dirimu

sendiri atau di tengah kerumunan

mereka yang barangkali bisa kau sebut teman

 

Pasti ada…

Pasti ada yang kerap luput dari matamu

sepasang mata yang sesekali memandang dalam diam

menyimpan rahasia, berupa sebuah kekaguman…

 

…berharap akan satu kisah…

Tak perlu yang luar biasa

atau pakem bak mitos “bahagia selamanya”…

 

…cukup satu kisah

Semoga cukup indah…

 

R.

(Jakarta, 2 Agustus 2016 – 16:00)

 

“DI PERSIMPANGAN JALAN…”

“DI PERSIMPANGAN JALAN…”

Akulah sosok yang dulu kau sayang,

sekaligus kau kendalikan

yang katamu anak kecil yang tidak tahu apa-apa

dan cengeng luar biasa

 

Akulah sosok yang kau tekan,

yang katamu tak pernah mendengarkan

Setelah semua yang kau lakukan,

bagimu akulah yang kau anggap pengkhianat

pergi melenggang

 

Begitu saja?

Ah, cerita lama

Dari dulu, tuduhanmu itu-itu saja

Selalu seluruh dunia yang membuatmu terluka

 

Akulah yang mungkin masih kau sayang,

namun kali ini tidak bisa lagi kau kendalikan

Kau tak mungkin tahu segalanya

Kau bukan tuhan

 

Mungkin aku memang keras kepala

Setidaknya, kini aku baik-baik saja

Tiada dendam, hanya mati rasa

Kau telah membunuh semua yang ada

hingga tiada lagi yang tersisa

 

Tiada benci

Lebih baik jalan sendiri-sendiri

daripada kau memaksa untuk kembali

masuk ke dalam hidupku lagi

mencederai damai

meracuni dengan rasa iri dan sakit hati…

R.

(Jakarta, 30 Juli 2016 – 21:35)