“1 SEPTEMBER 2016”

“1 SEPTEMBER 2016”

Kau mencari yang dulu kau tinggal

Untuk apa?

Semoga kali ini kau terpental

menjauh untuk selamanya

 

Kau mencari yang dulu kau tinggal

seperti bocah mencari mainan lama

enggan menerima kenyataan karena bebal

Kau pikir kau istimewa

 

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi

Lebih baik kau pergi

Tinggalkan dia sendiri

Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

 

Masih terus mencari?

Selamat berusaha

Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa

alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

 

R.

(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

 

“1 AGUSTUS 2016”

“1 AGUSTUS 2016”

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi

sambil membaca berita hari ini

atau tumpukan pesan untuk diri…

 

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri

si penyebab sakit hati

kini ingin bertemu kembali

 

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi

sembari menebalkan dinding hati

mengunci semua yang perlu dilindungi

Jangan sampai terluka lagi

 

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah

Usahakan segera enyah

Kalau bisa, sekalian sampai musnah

Jangan mau kalah

 

Selamat pagi, diri

Mari habiskan pahitnya kopi…

 

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)

 

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

“SAAT ‘SEMOGA’ BERKISAH…”

Percayalah…

Siapa pun dirimu

sendiri atau di tengah kerumunan

mereka yang barangkali bisa kau sebut teman

 

Pasti ada…

Pasti ada yang kerap luput dari matamu

sepasang mata yang sesekali memandang dalam diam

menyimpan rahasia, berupa sebuah kekaguman…

 

…berharap akan satu kisah…

Tak perlu yang luar biasa

atau pakem bak mitosĀ “bahagia selamanya”…

 

…cukup satu kisah

Semoga cukup indah…

 

R.

(Jakarta, 2 Agustus 2016 – 16:00)

 

“DI PERSIMPANGAN JALAN…”

“DI PERSIMPANGAN JALAN…”

Akulah sosok yang dulu kau sayang,

sekaligus kau kendalikan

yang katamu anak kecil yang tidak tahu apa-apa

dan cengeng luar biasa

 

Akulah sosok yang kau tekan,

yang katamu tak pernah mendengarkan

Setelah semua yang kau lakukan,

bagimu akulah yang kau anggap pengkhianat

pergi melenggang

 

Begitu saja?

Ah, cerita lama

Dari dulu, tuduhanmu itu-itu saja

Selalu seluruh dunia yang membuatmu terluka

 

Akulah yang mungkin masih kau sayang,

namun kali ini tidak bisa lagi kau kendalikan

Kau tak mungkin tahu segalanya

Kau bukan tuhan

 

Mungkin aku memang keras kepala

Setidaknya, kini aku baik-baik saja

Tiada dendam, hanya mati rasa

Kau telah membunuh semua yang ada

hingga tiada lagi yang tersisa

 

Tiada benci

Lebih baik jalan sendiri-sendiri

daripada kau memaksa untuk kembali

masuk ke dalam hidupku lagi

mencederai damai

meracuni dengan rasa iri dan sakit hati…

R.

(Jakarta, 30 Juli 2016 – 21:35)