“WASPADALAH! INI 13 TANDA SI DIA CEMBURU BUTA”

“WASPADALAH! Ini 13 Tanda Si Dia Cemburu Buta”

Banyak yang masih percaya bahwa cemburu adalah bumbu dari percintaan. Kata mereka, kalau nggak cemburu, berarti nggak benar-benar sayang. Pacar terlalu dekat sama teman lain, kita santai saja. Padahal, bisa saja mereka malah ‘keenakan’ dan buntutnya malah selingkuh.

Selain nggak sayang, nggak cemburu bisa jadi ‘diam-diam selingkuh’. Makanya, jangan tenang dulu kalau si dia santai-santai saja saat kita terlalu dekat dengan kawan yang berlainan jenis. Bisa jadi ini taktiknya agar nggak ketahuan ‘jalan sama yang lain juga’.

Banyak teori seputar kadar cemburu yang wajar. Misalnya: Anda marah saat pacar memanggil teman dengan sebutan ‘sayang’ dan di depan Anda pula? Ya, wajar. Jika pacar saya seperti itu, saya pasti akan langsung mengajaknya ke tempat sepi daaan… (silakan bayangkan sendiri kalau berani.)

Tapi, wajar nggak sih, kalau sedikit-sedikit cemburu? Ini dia 13 tanda si dia sudah cemburu buta, alias kebablasan. Waspadalah!

 

  1. Anda hanya bersikap ramah sama mereka, namun habis itu si dia jutek seharian.

Ini tanda paling klasik sekaligus paling cepat kelihatan. Coba ingat-ingat lagi: gimana interaksi Anda dengan orang lain selama ini, terutama lawan jenis? Masih suka merangkul erat sahabat dan terlalu lama di depan pacar? Jangan heran bila si dia marah.

Namun, bila pasangan keki hanya karena Anda mencium adik atau tersenyum ramah pada pelayan restoran, kemungkinan rasa cemburunya sudah overdosis.

 

  1. Kalian sering berantem hanya karena masalah kecil, seperti lelucon atau perkara naksir selebriti.

Sering mengalami hal konyol macam ini? Anda ketahuan suka dengan selebriti. Lalu si dia bertanya, lebih ganteng/cantik siapa – dia atau mereka?

*krik…krik…krik…*

Sayangnya, apa pun jawaban Anda, ‘bom’ itu akan tetap terpicu dan meledak. Nggak jawab? Makin dicecar, karena Anda dianggap ‘cari mati’. Wakwaw!

 

  1. Kayaknya, si dia butuh banget tahu seluruh perincian kegiatan harian Anda – kalau perlu sampai per detik. Bahkan, medsos Anda pun ikut dipantau!

“Sayang, hari ini mau ke mana?”

“Kerja.”

“Habis itu?”

“Nge-gym.”

“Ama siapa aja?”

“Andi, Niko, Desi, Ivan – “

“Sebentar, Desi itu siapa?”

“Pacarnya Ivan?”

“Beneran? Kok biasanya dia gak ikut?”

“……….”

 

“Habis kerja kujemput, ya?”

“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kok.”

“Kok nggak mau? Hayo, jangan-jangan mau ketemu cowok diem-diem, ya? Siapa dia? Jawab!”

“……….”

 

“Sayang, itu siapa sih, yang suka nge-like sama komen foto-foto kamu di FB? Ganjen amat!”

Sebentar, ini pacar apa satpam? Jangan bilang Anda harus bikin laporan khusus tiap hari. Masih bisa napas?

 

  1. Si dia sampai rela jadi ‘bayangan’ atau bahkan ‘kembar siam’ ..bila memungkinan.

Sekilas rasanya seperti selebriti dan bodyguard-nya. Bedanya, si bodyguard bukan hadir untuk melindungi Anda, melainkan mengawasi Anda agar tidak macam-macam atau ‘dimacam-macamin’ sama orang lain (entah seperti apa maksudnya).

Sekian.

 

  1. Tuduhan “Kamu selingkuh!” lebih sering keluar daripada ucapan sayang.

Ada dua tipe untuk pacar seperti ini. Pertama, yang sok cool depan umum, lalu ‘meledak’ pas tinggal berdua. Masih relatif sopan, padahal hanya jaim agar perilaku ganjil mereka nggak cepat ketahuan.

Kedua, si pembuat drama. Yang ini bahkan nggak segan-segan membentak-bentak Anda di depan umum atau – sialnya – melakukan kekerasan fisik. Tujuannya? Tentu saja mempermalukan Anda sekaligus mencari dukungan para penonton.

Enakan yang mana? Nggak ada. Yang satu bikin Anda merasa deg-degan bak main di film thriller, yang satu bikin keki karena berasa main di sinetron basi.

 

  1. Teman-teman merasa tidak nyaman saat Anda datang dengan si dia.

Iya, mereka tahu betapa Anda sangat mencintainya, meski sulit memahami alasannya. Mungkin Anda punya kesabaran luar biasa.

Masalahnya? Mereka ngeri dengan pacar Anda.

 

  1. Si dia mulai membatasi dengan siapa Anda boleh bicara dan berteman. Bahkan, yang ekstrim adalah sampai ngotot meminta password ponsel dan akun media sosial Anda!

“Aku nggak percaya sama si Indro. Dia pasti mau rebut kamu dariku.”

“Jangan temenan sama Naya lagi, deh. Jijik aku lihat dia keganjenan sama kamu.”

Apa repotnya punya pacar kayak begini? Lama-lama jumlah teman Anda bisa habis. Bahkan, tipe seperti ini nggak segan-segan melarang teman-teman Anda (terutama yang beda gender) untuk dekat-dekat. Ini juga dilakukan di belakang Anda.

Jangan heran kalau lama-lama semua teman Anda lantas melipir…lalu ngacir. Awas, ada anjing – eh, pacar – galak!

Jangan pernah memberikan password ponsel dan akun media sosial Anda. Bisa-bisa separuh daftar nama teman hilang dalam sekejap. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia?

 

  1. Anda mulai sering dilanda stres.

Kapan terakhir kali bisa tersenyum dan tertawa lepas? Sering sakit kepala dan susah tidur? Kadar emosi naik-turun tanpa sebab jelas?

Jangan-jangan Anda stres. Cinta sama pasangan sih, boleh. Tapi, sayangilah diri Anda juga. Jangan sampai kesehatan Anda jadi korban.

 

  1. Si dia malah selingkuh beneran untuk ‘membalas perbuatan Anda’.

Hiks, beramah-tamah sama pelayan restoran saja dihadiahi selingkuh. Tapi, untuk yang satu ini, Anda patut curiga. Jangan-jangan ini hanya alasan mengada-ada, karena sebenarnya dia-lah yang tukang selingkuh namun egois.

 

  1. Anda mulai sering ‘kucing-kucingan’ dan tidak bisa lagi jujur sama si dia. Bahkan, bisa jadi Anda malah memilih selingkuh beneran agar ‘penderitaan’ Anda berakhir, meski mengorbankan reputasi Anda.

Ini ibarat lirik lagu Slank:

“Ngebohong salah…jujur malah tambah salah…”

Anda lelah dicurigai terus-terusan. Lama-lama Anda memilih ‘kucing-kucingan’ sama pacar, bahkan selingkuh beneran. Tanggung amat, biar putus sekalian.

Sayangnya, cara ini juga berisiko ‘merusak’ reputasi Anda. Si dia pasti akan bercerita ke mana-mana mengenai betapa brengseknya Anda dan dia-lah yang jadi korban. Mau?

 

  1. Si dia sering banget mengancam “Putus!” Eh, giliran dikabulkan, malah mengancam bunuh diri!

Emotional blackmailer selalu berusaha bikin Anda merasa bersalah karena nggak mau menuruti semua keinginan mereka. Bahkan, ucapan khas mereka lainnya adalah: “Aku nggak mungkin kayak gini kalo bukan gara-gara kamu.”

Nah, lho.

 

  1. Saat mengajak teman-teman kumpul tanpa kehadiran si dia, mereka malah was-was.

Mereka senang melihat Anda. (Ya, apalagi sudah lama sekali kalian nggak nongkrong bareng.) Namun, pertanyaan berikut mereka keluar dengan nada was-was:

“Pacarmu mana?”

Ini sudah pertanda sangat serius bila Anda sampai harus menunggu si dia sibuk, keluar kota, atau keluar negeri sekalian – hanya biar bisa nongkrong sama teman-teman.

 

  1. Puncaknya: Anda atau si dia sama-sama berpotensi sebagai pelaku kekerasan dalam hubungan.

Silakan cek berita kriminal. Ada berapa kasus kekerasan dan pembunuhan akibat cemburu buta?

 

Tentu saja, kita tidak bisa langsung memperlakukan pasangan pencemburu buta sebagai pribadi mengerikan yang harus dijauhi. Kalau memang masih sayang dan percaya bahwa hubungan kalian masih bisa diselamatkan, kenapa tidak mencari tahu sebabnya dan mencari solusinya bersama-sama?

Mungkin si dia punya trauma masa lalu, seperti pernah ditinggalkan pacar sebelumnya karena selingkuh. Mungkin juga rasa minder membuatnya begitu posesif sama Anda karena takut kehilangan. Apa pun itu, cobalah mendampinginya dalam masa pemulihan. Jangan takut konseling ke psikolog bila diperlukan.

Kalau si dia masih cemburu juga? Semua terserah Anda. Masih mau mempertahankan cinta tapi terpenjara dan tersiksa…atau mencari hubungan yang lebih ‘sehat dan seimbang’?

 

R.

 

“5 ALASAN DI BALIK PEMBERIAN KESEMPATAN KEDUA”

“5 Alasan di Balik Pemberian Kesempatan Kedua”

Mengapa Anda atau seseorang yang Anda kenal memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua, entah kepada sahabat yang pernah berkhianat atau mantan yang pernah mematahkan hati? Kelima (5) alasan di bawah ini bisa jadi berada di baliknya:

1. Masih ada rasa sayang dan keinginan agar orang itu tetap jadi bagian hidup mereka.

Terdengar sentimental memang. Beruntunglah bila Anda punya sosok seperti ini dalam hidup Anda, sebrengsek apa pun Anda. Bila Anda seperti ini, Anda akan dipuji sebagai orang berhati besar. Beruntunglah mereka yang memiliki Anda dalam hidup mereka.

Sayangnya, tipe ini juga dianggap lemah dan bodoh, karena mau saja terus-terusan dikerjai. Ibarat keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama, berkali-kali pula. Entah mereka yang selalu punya alasan di balik kebrengsekan sikap Anda atau Anda yang lagi-lagi terjebak pada ‘pesona lama’, hingga terancam ‘buta nalar’.

Saran: pernah dengar istilah ‘tough love’? Masih sayang sama mereka boleh, nggak ada yang berhak melarang. Bukannya mendendam, tapi ada baiknya mereka tetap diberi pelajaran yang bisa bikin mereka jera.

Jangan heran bila sikap mereka tidak lagi sama setelah kebrengsekan Anda yang ke sekian kali. Namanya juga manusia. Kadar kesabaran tiap orang berbeda-beda.

Jika Anda masuk ke dalam kategori ini, jangan lupa tetap memperhatikan diri sendiri. Jangan sampai terlalu sayang sama mereka bikin Anda malah merugi dan menumbalkan diri sendiri.

Cinta adalah pengorbanan sejati? Omong-kosong. Jika benar-benar sayang diri sendiri, justru jangan mau selalu diperlakukan seperti keset untuk membersihkan alas kaki. Lagi butuh dicari-cari, giliran kelar ditinggal seorang diri. Harus membersihkan ‘sisa-sisa kotoran’ yang mereka tinggalkan lagi.

2. Kesannya sudah memaafkan, padahal diam-diam ada agenda balas dendam.

Ini termasuk jenis yang menyeramkan. Ibaratnya ‘menghitung dosa’. Semakin banyak kesalahan yang dilakukan orang lain, semakin banyak catatan tertanam dalam ingatan mereka. Semakin lama mereka disakiti oleh orang yang sama, maka semakin marah mereka…meski dalam diam.

Ujung-ujungnya bisa ditebak: pembalasan dendam mereka bakalan lebih kejam.

Saran: Jangan keburu senang dulu bila mereka sudah kembali menerima Anda dalam hidup mereka, lalu berlagak bahwa “yang lalu biarlah berlalu”. Selain meminta maaf dengan tulus, usahakan agar tidak mengulangi kesalahan yang lalu.

Jika Anda termasuk kategori ini, tidak perlu memaksakan diri untuk ketemuan, apalagi sampai langsung menerima mereka kembali dalam hidup Anda. Bilang saja terus terang bahwa saat ini Anda sedang “perlu waktu”, agar pikiran bisa jernih kembali dan hati tidak panas lagi.

Mungkin masih ada kesempatan untuk kembali dekat seperti dulu, mungkin juga tidak. Ada juga yang sepakat bahwa “lebih baik berjauhan tapi akur, ketimbang dekat tapi saling menyakiti.”

Memutus tali silaturahmi? Belum tentu, selama saat papasan di jalan masih bisa saling menyapa ramah dan sopan, alih-alih pura-pura nggak kenal.

3. Menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Argumen ini juga sentimental, apalagi bila dua atau lebih orang sudah lama saling kenal. Ibaratnya, sudah tahu bobrok dan boroknya masing-masing. (Bahkan, mungkin sudah nggak kehitung lagi, berapa kali acara bentak-bentakan, cakar-cakaran, gebuk-gebukan, hingga tusuk-tusukan terjadi. Hmm, semoga relasi kalian tidak sama kayak relasi anggota geng di film-film, yah?)

Nggak hanya mereka, Anda juga sadar dengan kebiasaan buruk Anda. Hobi mengulangi kesalahan yang sama, tapi masih berharap mereka menerima Anda kembali dengan tangan terbuka seperti Anda yang melakukan hal serupa untuk mereka.

Saran: Memang benar, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi, mau sampai kapan itu jadi alasan untuk enggan memperbaiki diri? Hebat sekali bila Anda dan mereka masih bisa saling toleransi dengan kekurangan masing-masing, apalagi dalam waktu yang lama.

Sayangnya, bila tidak juga ada perbaikan, relasi semacam itu berpotensi menciptakan ‘racun’ atau ‘bom waktu’ yang bisa meledak sewaktu-waktu. Pada akhirnya, semua tersakiti dan hubungan sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

4. Si pemberi kesempatan kedua hanya lebih baik, namun belum tentu semuanya akan sama lagi.

Ingat lagu lama The Corrs yang berjudul “Forgiven, Not Forgotten”? Memaafkan bisa saja mudah, tapi melupakan? Belum tentu. Sama seperti kertas yang pernah diremas-remas atau penghapus yang ujungnya sudah terpakai, semuanya tidak akan bisa 100% kembali seperti dulu.

Ibarat kategori pertemanan di Facebook. Bisa jadi awalnya ada yang masuk daftar ‘Close Friends’ (Sahabat Dekat). Setelah ada masalah, bisa saja ada yang dipindah ke sekadar ‘Friends’ (Teman). atau bahkan ‘Acquaintances’ (Kenalan). Masih lebih mending ‘kan, daripada di-unfriend atau malah diblokir sekalian?

Saran: Jika mereka begini, bersyukurlah. Jangan jadi ngelunjak dan berharap terlalu banyak. Jika Anda seperti ini, berarti Anda hanya mengendalikan hidup Anda.

Intinya, selama masalah (sudah dianggap) selesai dan jelas serta nggak perlu dibahas lagi, Anda baik-baik saja. Masih mau nongkrong bareng mereka lagi atau enggak itu hak Anda. Netral dan akur saja.

Situasi bisa berubah tergantung keputusan semua pihak. Jika mereka memutuskan untuk memasukkan Anda kembali ke dalam daftar ‘VIP’ (Very Important People) mereka, selamat. Jangan merusaknya dengan mengulangi kesalahan serupa atau malah lebih parah.

Begitu pula dengan keputusan Anda untuk melakukan hal yang sama dengan mereka. Nggak usah gengsi bila dalam hati masih ada rasa sayang. Apalagi bila mereka sudah menunjukkan kesungguhan untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam hidup Anda. Kenapa tidak?

5. Tergantung masalahnya.

Jika masalahnya nggak parah-parah amat dan mereka sudah berjanji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, bolehlah mereka dikasih kesempatan kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Tergantung level kesabaran Anda.

Jika sudah parah? Bisa-bisa Anda jauh lebih sangar dari harimau yang ekornya terinjak. Prinsip Anda: “Tiada maaf lagi bagimu. HUH!” #lebaymodeon

Saran: Selamat karena bisa memilah masalah. Namun, kalau bisa sih, Anda jangan sampai kayak Kategori Nomor 2. Karena mengerikan, Anda berpotensi dijauhi banyak orang akibat metode yang demikian. Toh, Anda sendiri juga belum tentu nggak pernah salah. Ya, nggak?

Jadi, yang mana Anda?

R.

 

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

            Bahkan, orang yang nggak kenal-kenal amat juga sok ikut menasihati. Percaya deh, obrolan basa-basi, misalnya sama penjaga warung, yang tadinya nyantai bisa jadi bikin bete begitu mereka tahu status dan umur kamu. Kalo nggak ditanya, kadang pake sekalian diceramahin panjang-lebar.

Bukannya nggak mau nikah, tapi nggak mau melakukannya untuk alasan yang salah. Lagipula, nikah juga nggak bisa sembarangan. Jangan hanya karena diuber umur, demi menyenangkan orang lain (bahkan ortu sendiri, lho!), sampai alasan ‘kebelet’ lantas jadi gegabah. (Kalo dipikir-pikir, kenapa nikah sampai disamakan dengan ingin ke toilet segala, ya? Aneh.) Susahnya? Mau secuek dan sekalem apa pun, ada saja mulut usil yang bikin gerah hingga naik darah. Didiamkan makin ‘jadi’, giliran kita marah yang usil malah enteng menuduh kita sensi. Maunya apa, sih?

Kalo hanya ditanya: “Kapan kawin?”, biasanya saya akan menjawab dengan nada separuh bercanda: “Tentu saja habis ijab kabul. Tapi nggak ada yang saya undang, ya!” Ya, iyalah. Masa saya harus ngundang penonton untuk melihat saya dan suami di malam pertama? Yang bener aja!

Kalo ditanya: “Kapan nikah?”, biasanya saya hanya menjawab: “Ya, doakan saja segera” atau sejenisnya. Apalagi, kebetulan kakak perempuan sudah menikah dan punya empat anak. Adik laki-laki juga sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah.

Saya sendiri masih melajang di atas usia tiga puluh. Apakah situasi ini terdengar sangat familiar?

Sayangnya, jawaban kalem versi saya kadang tidak cukup. Pasti ada saja yang lantas berusaha mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya belum dilamar juga. Yang paling menyakitkan bila keluarga sendiri yang menyerang. Ada tante yang cukup kejam pernah berkomentar begini:

“Kurusin, dong. Kamu mau ‘kan, punya pacar?”

            Sadis banget, ‘kan? Ada juga tante lain yang bilang kalo saja saya berusaha seperti kakak saya (entah apa maksud beliau), mungkin saya akan lebih mudah mendapatkan suami.

Masih soal penampilan, cara berpakaian saya pun dikritik. Lucunya, saya sendiri nggak pernah usil sama gaya berpakaian yang mengkritik. Menurut saya, laki-laki kalo udah beneran cinta pasti nggak akan masalahin bila perempuannya nggak selalu mood ingin dandan. Namanya juga manusia biasa.

Soal kepribadian juga begitu. Ah, itu ‘kan relatif. Hayo, ngaku aja, deh. Pasti pernah bingung ‘kan, kenapa perempuan yang menurut kamu nggak cantik-cantik amat atau kelakuannya nyebelin, tapi malah bisa dapat pasangan yang ganteng dan baik hati. Padahal, bisa aja si laki-laki dikirim Tuhan untuk membuat perempuan itu lebih baik atau laki-laki itu melihat kebaikan lain si perempuan yang belum tentu kelihatan di mata kita.

Ada juga yang lantas langsung mempertanyakan kualitas ibadah si sosok yang belum menikah juga. Pernah dengar atau mengalami sendiri? “Kamu kurang ibadah, kali.” “Kamu pasti kurang puasa/beramal/berbuat baik sama orang/dan lain-lain.” Perkara benar atau salah, siapa juga sih, yang suka dituduh langsung seperti itu? Siapa yang nggak bakalan tersinggung, coba? Memangnya setiap usaha mereka mencari belahan jiwa harus dilaporkan ke kamu sebagai pembuktian belaka?

Intinya, peduli boleh. Jangan sampai menyakiti hati. Daripada selalu usil setengah-mati yang kemudian bikin rusak proses silaturahmi, lebih baik doakan saja mereka dengan baik setiap hari. Harusnya semudah itu. Nggak perlu pakai mem-bully.

Buat yang masih hobi nanya-nanya “Kapan kawin/nikah?” ke saya atau para perempuan lain yang masih lajang, saya ada saran jitu agar kamu nggak bikin orang keki. Selain rajin mendoakan saya dan para perempuan lajang lainnya agar segera dipertemukan dengan belahan jiwa atau diberikan yang terbaik oleh Tuhan, cobalah untuk mulai lebih banyak membaca buku. Jadi, pas kita ketemu, nanyanya nggak yang itu-itu melulu.

R.

(Tulisan ini disertakan untuk lomba menulis dengan tema: #StopTanyaKapan dari Vemale.com .)

http://www.vemale.com/hot-event/96726-lomba-menulis-stoptanyakapan-curahkan-isi-hatimu-di-sini.html

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

Ini mungkin traumatis bagi yang tidak suka anjing. Buat yang suka mungkin akan sedih, kecuali bila tahu cara menanganinya.

Saya mendatangi satu kantor untuk urusan pekerjaan. Setiap selesai sesi, saya selalu keluar dari gedung dengan perasaan deg-degan. Mengapa demikian?

Seekor anjing berbulu cokelat yang selalu mangkal di bawah mobil sedan hitam yang terparkir di luar rajin menyalak setiap saya lewat. Entah kenapa. Para ahli ‘sahabat manusia’ ini bisa berpendapat bahwa saya telah masuk ke dalam ‘wilayah kekuasaan’-nya. Jadi, si doggy merasa terancam dengan kehadiran saya. (Ya’elah, memangnya saya mau ngapain, sih? Ke sana saja juga cuma seminggu sekali!)

Selama dua kunjungan pertama, saya masih aman-aman saja. Cukup ikuti pepatah “anjing menggonggong, kafilah berlalu” secara harafiah. Serius. Saya hanya melenggang santai sementara si anjing ribut menyalak dari bawah mobil, terutama karena saya sudah diyakinkan pak satpam bahwa si doggy cuma ‘menang gertak’ doang.

Merasa aman-aman saja, kunjungan ketiga saya juga pakai cara yang sama selesai sesi pagi itu. Eh, di luar dugaan, si anjing tidak hanya menyalak – tapi mendadak juga keluar dari bawah mobil dan mulai mengejar. Meskipun belum pernah punya anjing sendiri, saya cukup tahu bedanya anjing yang hanya mengajak main dengan yang beneran ingin mengejar.

Ekor si anjing kaku, tidak bergerak-gerak.

Apakah saya tetap bersikap cool? Sayangnya tidak.

“WAAAAA!!”

“GUKGUKGUKGUKGUK!!”

“TOLOOONG…!!” Silakan bayangkan sosok chubby berbaju kantoran (lengkap dengan sepatu hak tingginya) berlarian di lapangan parkir kantor orang lain dalam rangka menghindari manuver agresif si doggy. Jangan heran bila saya kemudian sukses menjadi tontonan – hiburan gratis lebih tepatnya – pagi itu untuk para satpam dan tukang parkir. Ada yang tertawa, ada juga yang berusaha membantu. Sayangnya, saya keburu panik.

“Bu, tenang, bu…jangan lari…”

“WAAAAA, TOLOOONG…!!”

Untunglah, akhirnya salah satu satpam berhasil menangkap dan menahan si anjing – pas sebelum pipa celana panjang saya tersambar moncongnya dan saya nyaris loncat ke atas kap mobil terdekat. Maklum, refleks.

Si doggy berbulu cokelat yang sebenarnya tampak lucu itu (kalau tidak menyerang) baru diam menurut – dan dengan muka takut – setelah kepalanya dipukul sama pak satpam. Hiks, sebenarnya saya malah jadi kasihan melihatnya. Tapi, mau bagaimana lagi?

Meski gemetaran, saya masih bisa pulang sendirian. Sempat cerita-cerita sama beberapa teman. Saran-saran yang saya dapat rata-rata sama: jangan panik, jangan teriak, jangan lari, dan…jongkok. (Lho??)

Penasaran, akhirnya malam itu juga saya iseng Google mencari tips seputar tindakan bila mendadak dikejar anjing. Inilah yang saya dapatkan:

  1. Jangan lari.

Oke, berhubung mereka berkaki empat, larinya pasti lebih cepat. Kata orang, semakin kita lari, mereka akan semakin mengejar.

Kenyataannya: sumpah, tadinya saya beneran hanya mau jalan. Masalahnya, saya sama sekali tidak mengira bahwa si anjing bakal memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan mulai mengejar.

Selain itu, ada tiga skenario terburuk yang langsung menghantui benak saat itu:

  • Kalau digigit, saya harus disuntik anti rabies. Belum lagi air liurnya yang mengandung najis itu. Hiiih…
  • Kalau hanya celana yang digigit, alamat harus belanja yang baru. (Saya malas.)
  • Saya tidak mau sampai harus menyakiti si anjing, bahkan atas nama membela diri. Misalnya: menendang, menimpuk dengan batu, hingga mengayunkan tas ke kepalanya. (Kalau sesama manusia, lain cerita.)

2. Bersikap tenang.

Menurut sumber yang saya baca, bila kita bersikap cuek, si doggy bakalan bosan dan berhenti mengganggu.

Kenyataannya: gara-gara dua kunjungan pertama saya masih aman-aman saja, yang namanya kejutan pasti bakal bikin siapa pun kelabakan. Makanya, pepatah lama yang saya pakai di atas tadi harusnya ditambahkan sedikit:

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Wahai, kafilah. Pastikan anjing itu tidak menggonggong sambil menghampirimu.”

3. Hindari kontak mata dengan si anjing.

Sama saja bila berurusan dengan tukang gencet di sekolah dulu. Semakin kita berani menatap, semakin kita diganggu.

Kenyataannya: hah, boro-boro! Dia di bawah mobil, kapan pula kita saling lihat-lihatan?

4. Klaim wilayah Anda.

Kenyataannya: apanya yang mau diklaim kalau saya hanya ke sana seminggu sekali?

Masih banyak lagi sih, tips-nya. Cuma, berhubung saya masih selamat – alias tidak sampai tergigit – jadi cukup sampai di sini saja.

“Sebentar, Ibu ke sini tiap hari apa saja?”

“Selasa, Pak.”

“Oke.”

Hmm, sepertinya mereka akan mengungsikan si anjing dulu setiap kali saya datang. Waduh, jadi makin nggak enak hati, nih. Tapi, kalau adegan kejar-kejaran pagi itu di lapangan parkir difilmkan, kira-kira masuk genre mana, ya? Jeritan saya sih, lumayan buat dipakai di film horor. Hehe…

Mungkin ada juga yang menganggap saya penakut. Ah, biarin. Memangnya mereka sendiri seberani itu? Belum tentu. Anggap saja saya diingatkan mahluk berkaki empat dan berbulu cokelat itu untuk mulai berolahraga. Jadi, lain kali…

Sebentar. Lain kali?

Nggak. Pokoknya nggak ada lain kali. Jangan sampai kejadian lagi.

Amit-amit!

R.

Sumber pendukung:

http://www.kompasiana.com/ervipi/10-tips-ampuh-ketika-kamu-dikejar-anjing_54f3a8d6745513992b6c7d65

eyeondna.com (Gambar)