“MONSTER DAN SOSOK ITU DI KASTIL SUNYI”

“Monster dan Sosok Itu di Kastil Sunyi”

Sang Monster kembali terbangun

Dengarlah dia meraung

Kasil Sunyi kini riuh

Dindingnya terancam rubuh

 

Kamu takkan pernah mengerti

Terlalu lama dia hidup di sini

Kadang Monster itu membuatnya ngeri

kadang tameng sakit hati

atas mereka yang tidak peduli

 

Mungkin sudah terlambat bagimu

untuk menariknya keluar dari situ

tanpa menyertakan Monster itu

Kembali keduanya menyatu

siap menyerbu

 

Terlalu lama kamu mengacuhkannya

menganggap sepi semua yang dia rasa

Terlalu sering kamu berpura-pura

bahwa semua baik-baik saja

 

Sang Monster dan dia?

Kini tiada bedanya

Bolehlah kamu tertawa

seperti biasa, selalu mengecilkannya

Jangan kaget bila dia murka

 

Mungkin kamu bisa kembali lega

saat sekian kali berpura-pura

Tidak, tidak ada apa-apa

Dia hanya bersikap aneh saja

 

Maka dia akan menutup pintu

kembali menenangkan Monster itu

agar Kastil kembali Sunyi

Tidak ada yang berisik setengah mati

Cukup kamu saja yang mendapatkan perhatian dari sana-sini

 

Puas?

 

R.

(Jakarta, 23 Desember 2016 – 7:00)

 

“MARRIED VERSUS SINGLE: KOK PADA NYINYIR?”

“Married versus Single: Kok Pada Nyinyir?”

Tulisan ini dibuat karena:

  1. Saya pernah baca salah satu artikel online tentang jurnalis perempuan dari sebuah media yang kerap dituduh ‘nyinyir’. (Berhubung saya jarang baca media tersebut, saya memilih tidak berkomentar lebih lanjut. Tapi silakan baca di sini:  http://www.mojok.co/2016/12/cadar-mbak-dian-dan-fobia-atribut/ .)

Lalu, entah kenapa jurnalis itu pernah ditanya: “Mbak udah nikah?” Begitu dijawab belum, langsung deh, komentar berikutnya keluar: “Oh, pantes nyinyir. Belum nikah, sih.”

Entah apa hubungannya status lajang dengan kenyinyiran seseorang. Bahkan, menurut saya sih, justru si narsum yang nyinyir to the max.

2. Seorang kawan bercerita tentang satu kenalannya. Sudah menikah dan punya anak, tapi rajin banget nyinyir lewat status update-nya di media sosial. Orang yang nggak dia suka atau pun yang nggak memuja-muja dia langsung disindir habis-habisan.

Hmm, biasanya sih, kalau sudah menikah dan punya anak (apalagi banyak) pasti sibuk sekali. Apalagi perempuan, terutama mengingat di Indonesia masih ada anggapan bahwa urusan rumah tangga dan anak itu cuma buat istri seorang. Nggak peduli si istri juga kerja kantoran, sementara si suami (kalau masih bermental patriarki akut) tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah dan suruh-suruh istri, meski si istri lagi sibuk nyuapin bayi. Hiii, bikin kekiii! Masa mau minum doang nggak bisa ambil sendiri?

Tuh, ‘kan? Barusan saya jadi ikutan nyinyir.

Hmm, sepertinya kenalan kawan saya itu masih kurang sibuk atau sangat jago dalam mengalokasi waktu dan tenaga, sehingga masih sempat-sempatnya nyinyir harian di media sosial. Tapi, lagi-lagi ini cuma asumsi saya lho, ya. Nggak perlu diiyain juga nggak apa-apa.

3. Curhatan ini berasal dari teman satu kos. Awas, jangan mudah merasa ‘tertampar’ saat membacanya:

“Kadang gue suka bingung sama mereka yang udah married dan punya anak, tapi hobi banget nyinyir ama yang single begini: ‘Elo mah enak, belum ada tanggungan dan masih bebas ke mana aja dan ngapain aja.’ Kayak kita nggak pernah punya masalah dan hanya mereka yang berhak ngeluh. Berasa lebih penting gitu.

“Gue sebenarnya nggak mau nyebut-nyebut begini, karena takut langsung dituduh nggak ikhlas. Tau sendiri ‘kan, orang suka gampang banget menyimpulkan? Ada single yang menghidupi ortu yang udah pensiun dan mungkin sakit. Ada yang malah bantuin sodara-sodara mereka yang justru udah menikah duluan. Kayak gini kita selalu dianggap nggak ada tanggungan dan bebas-bebas aja?

“Gue jadi curiga, jangan-jangan yang suka ngomong gitu diem-diem nyesel udah nikah tapi belum puas single-nya…”

4. Ini lagi yang bikin saya diam-diam bergidik: orang single yang dengan entengnya ngomong gini sama yang udah married:

“Elo enak, soal duit tinggal minta suami.”

Nyinyir semua. Nggak yang single, nggak yang udah married. Nggak ada bedanya.

Saya jadi ingat tulisan Ayu Utami dalam “Parasit Lajang”. Banyak perawan tua (perempuan yang tidak pernah menikah dan punya anak, apa pun alasannya) nyinyir karena sebenarnya mereka terluka dan dilukai secara sosial. Dianggap nggak cukup cantik, nggak cukup baik, nggak laku (kayak barang jualan, bukannya orang!), dan sebutan merendahkan lainnya. Karena diperlakukan demikian, mereka jadi nyinyir sama yang sudah menikah.

Padahal, kenyataannya nggak semua begitu. Ada yang cuek dan memilih bahagia dengan hidup serta pilihan mereka, apa pun alasannya dan terlepas dari mulut usil mereka yang nggak terima.

Lagipula, kalau mereka masih bisa sabar, kenapa orang lain harus pada ribut, coba?

Barangkali ini tidak banyak terjadi pada laki-laki lajang, namun saya pernah terlibat obrolan ‘nggak enak’ ini sama…yah, nggak usah sebut nama, deh. Ntar ada yang baper lagi karena merasa kesindir.

“Kamu sekarang ngekos, tinggal sendirian?”

“Iya.”

“Berarti nggak ikut ngurus para keponakan di rumah, dong?”

Jujur, saya malas menjawab. Bukannya nggak sayang sama para keponakan (meski lagi-lagi, mereka yang berpikiran sederhana mungkin nggak akan sepakat). Gemas saja dengan anggapan mereka bahwa para lajang pasti lebih banyak waktu luang dan nggak sesibuk mereka yang sudah menikah.

Bahkan, jika para lajang beneran sibuk (kerja, hang out sama teman, memperluas jaringan bisnis, menekuni hobi, hingga…ya, usaha cari jodoh sendiri), kenyinyiran masih berlanjut:

“Pantes lo gak kawin-kawin. Sibuk melulu, sih.”

Terus, kenapa sih, pada hobi nyinyir? Ada hubungannya sama status? Ya, nggak juga, kok.

  1. Mereka ingin kelihatan (dan dianggap) superior. Kalau yang single bangga dengan kekuasaan mereka untuk mengatur hidup dan waktu mereka, yang married bangga karena merasa status sosial mereka ‘naik’. Yang single merasa bahwa yang married (apalagi yang ketahuan ribut ingin secepat mungkin, biasanya karena desakan ortu, lingkungan, atau merasa ‘dikejar umur’) itu orang-orang kesepian yang nggak bisa sendiri. Yang married memandang yang single (apalagi kalau dia perempuan di atas usia 30) sebagai sosok egois, pemalas, dan pengecut karena dianggap enggan ‘membuka hati’ dan membagi hidup dengan orang lain.
  2. Mereka sebenarnya sedang punya masalah dan nggak se-bahagia itu, lalu melampiaskannya ke orang lain (terutama yang nggak senasib) dengan cara yang ‘enggak banget’.

Contoh:

(Single tapi melarat): “Elo enak, duit tinggal minta suami.”

(Married tapi harus meninggalkan hobi traveling dan nongkrong sama teman, terutama bila pasangan posesif banget): “Elo enak, masih bebas.”

3. Mereka muak terus dinyinyirin sama orang-orang kepo, jadi balas nyinyir. Boleh saja bilang bahwa balas dendam itu nggak baik, tapi kadar kesabaran tiap orang beda, lho. Intinya, jika Anda nggak mau kena semprot, ya jangan mulai nyemprot duluan terus malah menuntut mereka untuk sabar.

Singkat cerita, kita nggak pernah benar-benar tahu semua yang dialami orang lain, begitu pula sebaliknya. Nggak usah saya sebut detailnya, deh. Nggak semua harus dikasih lihat, ‘kan? Lagipula, bukan itu inti dari tulisan ini.

Sayangnya, ini masih jadi potret realita masyarakat kita. Nggak cuma isu ibu rumah tangga versus ibu bekerja kantoran (yang menurut saya sudah nggak ada gunanya lagi diributkan), ada juga married versus single. Nyinyir itu potensi semua orang, terlepas status hingga gender Anda. (Hayo, nggak usah sok macho, Tuan-tuan. Pasti pernah nyinyir juga ‘kan, meski sekali?)

Terlalu biner dalam memandang status juga bikin kita begitu mudah berasumsi dan menghakimi. Tanpa sadar, hasil cablakan kita jadinya begini:

  • Nggak bermanfaat.
  • Menyinggung perasaan orang.
  • Membuka aib sendiri.

Kita sering lupa bahwa dalam setiap fase hidup, masalah akan selalu ada dan beda-beda. Nggak bisa dan sebaiknya memang nggak usah dibandingin, karena memang nggak mungkin dan nggak adil. Setiap orang harus mengatasinya dengan cara terbaik versi mereka, serta sebisa mungkin nggak sampai harus mengecilkan orang lain.

Sudah yakin dengan pilihan Anda? Berbahagialah, nggak usah pakai menjatuhkan nilai diri orang lain. Menyesal dengan pilihan Anda? Ya, jangan melampiaskannya pada orang lain, apalagi mereka yang nggak ngerti apa-apa. Misery loves company? Pasti. Sebaliknya? Belum tentu.

Jadi, mau sampai kapan pada nyinyir?

R.

 

“SATU INDONESIA: Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia”

“SATU INDONESIA: Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia”

Di usianya yang ke-60, Astra mengadakan Seminar dengan Para Blogger pada hari Jumat, 23 Desember 2016 di Midtown, sebuah kafe yang terletak di Senopati, Jakarta Selatan. Acara yang berlangsung dari pukul 18:30 hingga 20:30 ini dimaksudkan untuk mengenalkan Satu Indonesia Awards dalam rangka memberikan inspirasi bagi anak bangsa untuk lebih memajukan negeri.

Acara ini diawali dengan film pendek mengenai Astra dan perkenalan para narasumber yang hadir pada malam itu. Yulian Warman dari Manajemen Program Lingkungan Astra menjelaskan sekilas tentang sejarah Astra, berikut Satu Indonesia Awards. SIA diadakan dalam rangka mencari bibit-bibit baru, para pemuda dan pemudi yang dinilai telah berkontribusi positif untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

Maharani, seorang aktivis dari Lombok, juga bercerita perihal kegiatannya menanam gaharu bersama para mahasiswa di sana. Menurut keterangan beliau, sejak tahun 2000, mereka menggunakan teknologi khusus yang dapat mempercepat tumbuhnya tanaman gaharu. Tanaman gaharu kemudian juga bisa dipakai untuk membiayai anak sekolah.

Wicaksono yang juga dikenal sebagai Ndoro Kakung, berbicara mengenai perubahan trend social media di tahun 2017. Yang cukup menggetarkan para blogger, kehadiran dan koneksi antar platform social media yang semakin canggih kemungkinan akan membuat blogging sangat tertinggal oleh zaman.

Apalagi dengan kehadiran Vurb, di mana pengguna dapat memanfaatkannya sebagai neo-PDA (new personal digital assistant). Mau mengecek film yang sedang main di bioskop terdekat atau tempat makan yang mudah dicapai? Tinggal gunakan aplikasi ini.

Ada lagi Spectacles, kamera video mini yang dapat dipasang di kaca mata hitam. Kini yang biasa terlihat di film-film fiksi ilmiah telah menjadi nyata. Sebagai travel blogger, writer, atau bahkan videographer, Anda dapat memanfaatkan aplikasi ini.

Arbain Rambey, fotografer profesional yang sudah malang-melintang di dunia media, baik cetak maupun online, juga  berbicara mengenai hadirnya kamera ponsel yang mengubah dunia fotografi secara signifikan. Kini, semua orang bisa memotret. Bahkan, beberapa media dipercaya telah menggunakan foto-foto dari para netizen yang diposting di laman social media mereka. Ada yang membelinya dan maupun hanya memintanya, selama masih seizin yang punya.

Semoga Satu Indonesia Awards dari Astra dapat semakin menginspirasi anak bangsa untuk lebih banyak memberi sumbangan positif bagi negeri, daripada hanya caci-maki.

astra3

astra4

astra5

astra6

astra7

“JUJUR?”

“Jujur?”

Jujur selalu?

Ah, jangan naif begitu

apalagi disertai kekasaran itu

meski sesuai maumu

hanya agar mereka tahu

semua isi benakmu

Persetan dengan sopan-santun palsu

bagai munafik yang berlaku

 

Jujur selalu?

Ya, kamu merendahkanku

yang memilih diam membisu

bak pengecut yang enggan berjibaku

sembunyi di balik slogan damai

netralitas tukang cari aman sejati

atas nama toleransi

Sosok egois yang tidak peduli

hanya memikirkan diri sendiri

 

Jujur selalu dan sekali?

Aku muak setengah mati

Kamu hanya menghina tanpa henti

berkoar-koar ke sana kemari

bikin orang sakit hati

tanpa ada tawaran solusi

Kesombonganmu memuakkan sekali

Entah kapan kamu mau berhenti

 

Jujur saja?

Aku muak dengan drama

Lagi-lagi keributan yang sama

tanpa menghasilkan apa-apa

kecuali saling menghina

mengutuk yang berbeda

mencela yang tidak tahu apa-apa

menyumpahi yang diam saja

 

Jujur?

Rasanya ingin kabur

sebelum ada yang keburu takabur

Namun, kamu akan kembali menyebutku pengecut

dengan mulut yang kecut

sementara panggung ini masih penuh badut…

 

R.

(Jakarta, 14 Desember 2016 – 16:00)

 

“MATA-MATA ITU DI KEPALANYA”

“Mata-mata Itu di Kepalanya”

Acuhkan saja mereka semua. Mereka hanya berani memandang. Mereka hanya berani menghina dengan tatapan merendahkan.

Benar-benar pelecehan!

Lalu, betapa basinya laki-laki macam mereka, dan sayangnya sebagian besar orang yang dikenalnya, saat memberikan alasan. ‘Kan mereka hanya memberikan pujian dan perhatian. Kenapa dia harus marah? Harusnya dia senang. Bukankah dia seorang perempuan?

Bukankah semua perempuan pada dasarnya senang diperhatikan?

“Cewek seksiii! Sini dong, godain kitaaa…”

“Cantik, kok sombong, sih? Dipanggil gak nengok. Budeg, ya?”

“Galak amat mukanya. Biasa aja, dong. Udah bagus masih ada yang mo nyapa.”

Ah, benci sekali mendengarnya. Mengapa mereka harus melakukannya? Nggak ada kerjaan lain yang lebih penting apa?

Dia hanya tidak ingin diganggu. Tiap lewat jalan yang sama, mereka selalu ada. Pagi dan malam, mereka selalu di sana.

Solusi tolol dari semua orang hanyalah mengacuhkan mereka. Kata mereka, nanti para berandalan itu juga akan bosan.

Hah, betapa naifnya. Bukannya berhenti, mereka malah semakin menjadi-jadi. Terus, dia yang harus mengalah dan lewat jalan lain, begitu? Nggak sudi! Mending mereka yang jaga mata sama mulut. Norak banget, kayak belum pernah lihat perempuan aja!

Mata-mata mereka terus mengganggunya. Tatapan mereka bak anjing liar kelaparan, seakan dia hanyalah sepotong daging yang begitu menggugah selera.

Sialan! Mereka benar-benar menjijikan. Dia benci, benci sekali sama mereka. Saking bencinya, mata-mata mereka seperti mulai bersemayam di dalam kepalanya.

Apa yang harus dilakukannya agar bajingan tolol yang enggan mengerti mau berhenti mengganggunya?

—//—

Dua minggu berlalu. Tidak seperti biasanya, jalanan itu kosong. Di TV, berita kehilangan tiga pemuda santer terdengar. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka. Warga dicekam ngeri.

Di rumah, dia memandangi koleksi bola mata perdananya sambil tersenyum puas. Sudah dicuci bersih, terkumpul di dalam toples berisi cairan formalin di dalam kulkasnya. Tinggal meratakan gundukan tanah yang membuat kebun belakangnya agak berantakan.

Setidaknya, mata-mata itu tidak lagi bersemayam di kepalanya, mengganggunya tiap hari.

 

“2016 – MENULIS DAN KOMUNITAS”

“2016 – Menulis dan Komunitas”

Apa arti 2016 bagi saya?

Banyak menulis dan ikut komunitas. Bahkan, bisa dibilang saya lagi getol-getolnya nemplok sana-sini, baik di dunia nyata maupun maya. Banyak ketemu wajah-wajah baru dan mengenal nama-nama baru.

Intinya, memperluas jaringan pertemanan…dan (semoga) bisnis. Saya masih baru di sini. Para freelancer (penulis dan blogger) yang sudah lebih dulu bergerilya di bidang ini telah menginspirasi dan membagikan tips kepada saya dengan amat murah hati. Tanpa mereka, mungkin saya masih clueless hingga kini.

Namanya juga belajar, perjalanan saya nggak bisa dibilang selalu mulus. Pernah gagal? Iya. Pernah mengecewakan orang? Sayang sekali juga demikian. Namun, saya memutuskan untuk tidak mudah patah arang dan menjadikan semuanya sebagai bahan pembelajaran. Bukankah pengalaman selalu guru terbaik?

Bisa dibilang, menulis adalah cinta sejati saya. Bahkan, saking cintanya, saya lebih senang menulis daripada mengobrol. Lagipula, menulis itu enak. Nggak akan ada yang dengan seenaknya memotong opini kita, berbeda dengan saat berbicara.

Lalu, bagaimana dengan hobi saya yang senang nemplok sana-sini, setiap ada komunitas yang membuat saya tertarik? Apalagi bila komunitas tersebut sesuai dengan minat saya.

Selain menyukai fiksi dan puisi, saya juga ingin menepis tuduhan miring yang pernah dilontarkan seseorang pada saya: saya nggak punya banyak teman, saya nggak bisa berteman, dan yang paling parah…saya terlalu tergantung sama satu teman. Agak konyol juga memang, mengingat sudah di kepala tiga, tapi masih juga mudah ‘termakan’ celaan orang yang nggak berdasar. Padahal, celaan itu keluar hanya karena orang itu kesal gara-gara saya nggak mau mengikuti maunya.

Ya, akhirnya saya berhasil membuktikan teori miring tersebut. Lagipula, saya juga bisa sendirian. Saya nggak melulu tergantung sama satu teman, meski mungkin dulu banyak yang melihat saya sering banget nongkrong sama satu teman tertentu. Ternyata saya bisa juga menambah teman, terutama karena saya yang memilih demikian. Saya memilih membuka pintu agar mereka semua bisa datang dan masuk ke dalam hidup saya. Ini sesuatu yang jarang sekali saya lakukan waktu remaja dan di awal usia 20-an.

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal:

Saya melakukannya hanya untuk saya, bukan untuk membalas ucapan menyakitkan orang itu. Saya berhak bahagia. Meskipun mungkin orang yang sama akan tetap mencibir, menganggap bahwa semua orang itu juga belum tentu tulus mau berteman dengan saya, rasanya tidak masalah. Saya tidak peduli lagi. Selama niat saya baik dan tetap waspada, kenapa tidak? Kenapa harus selalu takut?

Kenapa harus (mudah) merasa bodoh bila ternyata saya melakukan kesalahan? Namanya juga belajar. Nggak ada yang berhak menuntut saya agar menjadi sempurna seperti versi mereka. Biarlah setiap manusia memperbaiki diri dengan cara dan kecepatan mereka masing-masing. Jangan kaburkan batas antara ‘peduli’ dengan ‘usil setengah mati’ lewat ucapan jahat. Nggak ada gunanya juga.

Makanya, saya sebisa mungkin nggak mau terlalu usil sama urusan pribadi orang lain. Cukup saling mengingatkan yang baik-baik, setelah itu terserah mereka.

Selalu membenci orang yang menyakiti kita memang selalu cara termudah. Mendoakan hal terburuk terjadi sama mereka juga bisa. Saya yakin banyak yang melakukannya. Saya dulu juga melakukan hal buruk tersebut.

Bila doa jelek kita terkabul, apakah kita lantas akan berbahagia karenanya? Senang di atas penderitaan orang lain, mungkin sama seperti orang yang pernah bahagia di atas penderitaan kita? Lalu, apa bedanya kita dengan mereka?

Bisa jadi, lama-lama kita akan semakin kesepian karena dijauhi banyak teman. Silakan menuduh mereka selalu enggan menerima kita apa adanya. Kenyataannya, bisa saja mereka khawatir bakalan kena giliran disumpahi bila gagal menerima target sempurna ‘sahabat sejati’ versi kita.

Tunggu sebentar. Benarkah kita sendiri sudah se-sempurna itu? Yakin?

Semoga semua yang pernah atau (sayangnya) masih hobi menyakiti orang lain dengan ucapan jahat (baik sengaja atau tidak) diberi kebahagiaan yang cukup. Ya, cukup banyak agar mereka tidak perlu lagi merasa harus menyakiti orang lain, hanya agar membuat diri mereka merasa lebih baik dan bahagia. Kasihan aja bila mentalitas mereka masih di situ-situ saja. Mandek dan nggak naik kelas.

Untuk menyambut tahun baru 2017, selamat berharap dan menggapai hal-hal terbaik untuk kita semua. Semoga berkah. Aamiin…

R.

 

“TERUNTUK #ALEPPO”

“TERUNTUK #ALEPPO”

Di satu sisi dunia,

semua ceria

jalani hidup seperti biasa

di bawah cerahnya angkasa

 

Di sisi lainnya,

banyak yang terluka

kehilangan dan penuh duka

lari dan sembunyi, bertaruh nyawa

 

Di mata media,

ada ragam cerita

Ada yang percaya

Ada yang menuduh pura-pura

 

Datang, datanglah ke sana

Lihat sendiri, apa adanya

Mungkin kau akan beruntung, masih bernyawa

saksi hidup perjuangan nyata…

 

R.

(Jakarta, 17 Desember 2016 – 16:15)

 

 

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

Entah kenapa kepikiran untuk menulis tentang ini. Mungkin karena sekarang sudah makin banyak contoh ‘ajaib’ seputar orang pintar (dari yang asli pintar sampai yang pintar kw sekian.)

Jadi, inilah mereka:

1. Orang yang (beneran) pintar.

Orang ini bisa kelihatan dari banyak sisi. Juara satu di kelas, juara umum di sekolah, atau IPK selalu di atas 3.5 selama kuliah? Yang pasti, lebih banyak prestasi nyata ketimbang sensasi belaka.

Enggak hanya itu, mereka juga jago menghibur orang, kreatif dalam mendesain karya seni, jagoan olahraga di lapangan, hingga…jago padu-padan dalam hal berpakaian dan dandan. (Nah, tolong jangan nganggep mereka dangkal dulu. Enggak semua orang punya selera fashion yang bagus, lho.)

Apa pun jenis kepintaran mereka, bakalan makin oke bila mereka rela ‘membagi’-nya dengan orang lain yang mau belajar, alias enggak disimpen sendiri. Selain itu, mereka juga pintarnya karena usaha, bukan cuma-cuma. Otak cerdas kalo enggak terus dimanfaatkan sama aja dengan otot lembek akibat jarang (atau malah enggak) olahraga. Ups! *langsung noyor diri sendiri*

2. Orang pintar yang (terlalu) bahagia dengan diri sendiri.

Nggak ada yang salah dengan jadi pintar, apalagi sampai berbahagia karenanya. Selain hidup terasa lebih mudah, yang hormat dan kagum sama kita juga banyak.

Jeleknya? Terlalu bahagia bisa menciptakan kesombongan. Berbagi kepintaran dengan orang lain beda dengan sekadar memamerkannya. Bukan kagum yang didapat, lama-lama malah muak yang melihat.

Haruskah kita membenci sosok macam ini? Menurut saya sih, biarin aja. Mungkin diam-diam mereka belum yakin kalau mereka pintar dan berharga, makanya masih cari-cari pengakuan dengan cara pamer ke mana-mana. Nggak apa-apa, itu hak mereka. Mau sebal, kasihan, atau peduli setan, itu juga hak Anda.

Merasa keganggu? Cuekin aja, selama mereka nggak secara langsung menyakiti Anda. Ya, asal mereka nggak sampai menjadi kategori nomor berikut ini:

3. Orang yang pintar menjatuhkan orang lain di depan umum.

Saya enggak sedang bicara soal adegan slapstick basi, di mana Karakter A sengaja menyandung Karakter B hingga jatuh, lalu ngakak sepuas-puasnya sementara si B mengaduh kesakitan. Untuk orang macam ini, mungkin ada yang akan memberikan pembelaan yang enggak kalah basi dengan adegan di atas:

“Wajar, namanya juga orang pintar.”

Oke, apa IQ di atas 140-sekian berarti legitimasi untuk menghina atau merendahkan orang? Hmm, kok jadi inget psikopat atau sosiopat di film-film thriller psikologi, yah?

Orang pintar yang masuk kategori ini harus hati-hati, apalagi bila dengan enaknya mereka mengatai korban mereka yang marah dengan sebutan “baper” (bawa perasaan). Mungkin mereka bakalan komen begini:

“Enggak usah baper gitu, deh! B ajah. Gue ‘kan cuma bercanda. Abis elo,,,(lemot/terlalu serius/terlalu sensi/dll.), sih.”

Kenapa mereka harus hati-hati? Selain kemungkinan bakalan disumpahin kejedot ampe gegar otak kronis sama korbannya atau disakiti oleh mereka yang mau balas dendam, tipe ini juga berisiko mengalami kemandekan. Karena merasa udah paling pintar daripada yang lain, biasanya mereka malah enggak terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan diri. Padahal, mendiang Steve Jobs aja pernah ngomong gini:

“Stay hungry. Stay foolish.” (Jangan cepat puas. Jangan merasa sudah pintar.)

4. Orang pintar yang enggan kelihatan pintar.

Jenis ini juga terbagi dua lagi. Yang pertama, mungkin mereka hanya ingin merendah. Mereka merasa nggak ada gunanya juga pamer ke mana-mana atau bahkan masih merasa kurang pintar. Jadi, lebih baik mereka diam-diam mengembangkan diri, sampai saatnya mereka sudah cukup pede untuk unjuk gigi.

Yang kedua justru jenis yang paling berbahaya, yaitu yang diam-diam karena punya ‘agenda terselubung’ atau modus. Biarin aja banyak orang yang menganggap mereka bego, nggak ngerti apa-apa, dan diam saja pas di-bully. Justru ‘penyamaran’ mereka semakin sempurna berkat anggapan miring orang-orang tersebut.

Jangan senang dulu bila Anda merasa di atas angin karena pernah merendahkan orang lain, karena bisa saja balasan dari mereka akan lebih mengerikan. Ya, karena diam-diam mereka telah merencanakannya dengan super matang, termasuk menghitung jumlah ‘dosa’ Anda selama menyakiti mereka.

Pokoknya, tipe ini juga termasuk kalem dan hati-hati dalam berucap hingga bertindak.

5. Orang pintar…dengan tanda kutip. (Baca: “pintar”.)

Ada yang berusaha kelihatan pintar dengan cara-cara ‘ajaib’. Mulai dari sengaja dandan super rapi kayak karakter nerd/kutu buku di film-film – lengkap dengan kaca mata (padahal mata mereka masih sehat-sehat saja.) Ada yang sengaja bawa buku-buku tebal ke mana-mana. (Perkara itu buku beneran dibaca dan dimengerti, urusan belakangan.)

Begitu pula saat berdiskusi atau berdebat dengan orang ini. Entah kenapa, mendadak ragam definisi maupun istilah canggih, alias ‘kelas berat’ kayak tesis anak S2 keluar semua dari mulut mereka. Jika Anda termasuk orang awam dan langsung minder mendengarnya, wajar saja. Mungkin mereka sedang berusaha kelihatan pintar, alias mengidap ‘superiority complex’. (Duh, saya kok jadi ikutan, ya?)

Yang menggelikan bila terbukti bahwa mereka sebenarnya enggak ngerti-ngerti amat dengan semua jargon tersebut…atau bahkan salah menempatkannya pada konteks percakapan. Waduh.

Untuk yang satu ini, enggak usah benci-benci amatlah sama mereka. Biasa aja. Kalau peduli, bisa kita kasih tahu baik-baik bahwa mereka enggak perlu sedemikian rupa hanya buat bikin kita terkesan. Kalau enggak, diamkan saja.

Ada juga yang “pintar” karena “pemberian lebih” berupa indera ketiga. Nah, ada yang menggunakannya dengan niat menolong orang lain, ada yang malah menyalahgunakannya untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Apa pun itu, buat saya percaya sama Tuhan tetap harus nomor satu.

Apakah semua orang bisa pintar? Bisa, meski mungkin kadarnya berbeda dan keahlian yang mereka kuasai juga tidak sama. Namanya juga manusia. Pasti ada ragamnya, dong.

Tapi, jangan harap semuanya bisa didapat dengan cara instan. Kebetulan, saya jadi ingat karakter kekasih dr. Reid (Matthew Gray-Gubler), dr. Maeve Donovan (Beth Riesgraf) dalam serial favorit saya, “Criminal Minds”(Awas, spoiler buat yang belum nonton episode ini!) Sebelum mati, Maeve sempet ngomong gini sama penjahatnya:

“Genious is hard work.” (Jenius itu hasil kerja keras.)

Orang pintar sih, banyak. Cuma, berapa yang benar-benar berkualitas hingga bermanfaat bagi orang lain, alias nggak cuma jadi bully yang tambah bikin keruh suasana?

Mau jadi orang pintar macam apa? Seperti biasa, selamat memilih dan bertanggung jawab.

R.

 

“MEMULAI KEMBALI”

“Memulai Kembali”

Aku tidak ingin menunggu. Aku ingin menciptakan waktu.

Ya, aku tidak ingin menunggu waktu yang tepat, karena itu hanya mitos. Tidak pernah ada waktu yang tepat. Yang tepat hanya waktu yang ingin kita sempatkan.

Aku ingin menciptakan momentum itu, saat kita nanti kembali bersama. Aku ingin kita memulai segalanya kembali dari awal, karena kita sama-sama menginginkannya.

Karena itulah, kusisihkan hari ini khusus untukmu. Kita tahu, sebelumnya sudah terlalu banyak kesalahpahaman. Terlalu banyak pertengkaran. Aku yang terlalu keras kepala dan kamu yang tidak mau mendengar. Lelah, lemah, kalah. Pada akhirnya, kita sama-sama mudah menyerah. Sudah, hentikan saja semuanya. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja.

Waktu pun berlalu. Namun, tak surut jua rasa rindu. Kita pun memutuskan untuk kembali bertemu. Jangan lagi menunggu. Belum tentu esok akan ada waktu luang itu.

Sekarang, di sinilah aku. Di kafe tempat kita pertama kali bertemu, menunggu. Tapi, di mana kamu? Kenapa yang datang malah sahabatmu?

“Hai, Damai.”

—***—

Maafkan aku. Maafkan aku yang sering ragu untuk meluangkan waktu denganmu.

Salahkan ego dan gengsiku. Bahkan, sejak kita berpisah dulu, aku sudah memendam siksa di dalam diamku.

Makanya, aku bersyukur saat kamu duluan yang akhirnya kembali menghubungiku. Semakin bersyukur saat tahu bahwa kamu pun memendam rindu. Baiklah, mari kita sama-sama berdamai dengan masa lalu. Saatnya memulai lagi yang baru.

Aku tahu, hari ini sudah kau sisihkan khusus untukku. Aku juga melakukan hal yang sama untukmu. Aku bahkan sudah berjanji akan lebih memperhatikanmu kali ini, tidak seperti dulu. Tidak ada lagi aku yang egois dan selalu merasa paling benar sendiri. Demi kamu.

Aku sudah pernah kehilanganmu. Jangan pernah sampai terjadi lagi…

Percayalah, sebenarnya aku ingin segera ke kafe itu lagi, setelah sekian lama. Aku ingin kita kembali bersama, seperti dulu.

Kuharap kamu percaya. Dengarkanlah sahabatku saat dia tiba. Lalu, kemarilah segera.

Semoga…aku masih ada…

—***—

“Damai, Adrian kecelakaan…”

 

“PUAS YANG BUAS”

“Puas yang Buas”

Mereka kerap hanya ada

berkumpul saat bahagia

Senyum dan polah si mungil di depan mereka

ibarat tontonan belaka

 

Ada yang tidak puas

selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas

Mengaku manusia, namun buas

hanya saat dilihat, mereka berkoar-koar soal moralitas

 

Ayunan tangan dan selangkangan

pencipta banjir air mata

jerit jiwa-jiwa muda

kian terluka dan ternoda

 

Manipulasi emosi

tak cukup sekali

kalau perlu tanpa henti

sampai mereka tak bernyawa lagi

 

Ke manakah mereka?

Hanya diam seribu bahasa

setelah beralasan: “Bukan anak saya”,

atau: “Urusan keluarga mereka.”

Saat menutupi aib lebih berguna

jauh berharga daripada nyawa

 

Mereka pun terpencar

meninggalkan jiwa-jiwa rusak terpapar

perlahan kehilangan pendar

Tragedi kelar

Massa bubar

Tinggal cerita lama di surat kabar

 

Kapan mereka mau beraksi?

Haruskah menanti

saat mahluk buas itu mulai menyakiti

anak-anak yang mereka cintai?

 

Akankah mereka kian membisu,

dalam bumi yang makin membara

namun penuh jiwa-jiwa dingin, kosong, dan sunyi?

 

Karena mereka masih bernapas,

namun dengan nurani yang mulai kebas

perlahan terancam mati…

 

R.