Apa rasanya menjadi seorang perempuan lajang berusia 37 tahun? Apakah ada yang istimewa? Haruskah dibawa nelangsa, bahagia, atau malah biasa saja?

Mungkin banyak yang langsung stres saat menyadari belum meraih hal-hal yang sudah didapatkan perempuan lain dalam usia sama – atau bahkan malah lebih muda. Ya, menikah. Ya, punya anak. Ya, entah apa lagi yang (dianggap) sesuai standar (sempurna?) masyarakat.

Haruskah saya juga merasa demikian? Untuk apa? Bukankah bahagia itu (seharusnya) pilihan, apa pun kondisinya?

Pada kenyataannya, manusia akan selalu berkomentar dan berpendapat mengenai sesamanya. Yang nyinyir dan menghakimi (sialnya) akan selalu ada. Mereka juga nggak bisa berbuat banyak, apalagi saya. Takdir hanya milik-Nya. Bukan kita yang pegang nomor urut dan sebagainya. Manusia hanya bisa berusaha.

Saat ini, saya hanya ingin menikmati hidup saya, apa pun kondisinya. Mungkin saya hanya sering pulang ke kamar kosong dan menulis. Mungkin saya memang bekerja setiap hari.

Banyak teman seangkatan saya yang udah menikah dan punya anak. Banyak juga yang lebih muda dan sudah mencapai fase hidup tersebut.

Lalu, apa yang jadi masalah? Nggak ada. Terima saja bahwa hidup setiap orang memang berbeda-beda. Nggak akan ada yang bisa 100 persen sama, bahkan meskipun dipaksa. Hanya karena beda, bukan berarti hina. Sesederhana itu saja.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *