“JADI KORBAN KEKERASAN KOK, MALAH BANGGA?”

Pertanyaan ini sering mampir di benak saya setiap kali melihat kebanggaan semu (dan kerap berlebihan) dari generasi lama. Dari angkatan tua ini, kalian pasti pernah dengar ocehan sejenis yang mengagung-agungkan diri (dan rekan-rekan seangkatan mereka), tapi sekaligus merendahkan generasi muda (yang di bawah mereka):

“Dulu digampar bokap ampe nyaris bonyok gak sampai ngadu, kok. Anak-anak sekarang pada lembek banget. Baru ditabok sekali aja udah mewek, terus curhat ke mana-mana, galau di medsos. Pake bawa-bawa hak asasi segala … “

Hmm, apa jangan-jangan malah kalian lagi yang lebih sering ngomong kayak gini ke generasi yang lebih muda?

Oke, saya paham kalau yang namanya ‘generation gap’ (jarak antar generasi atau angkatan) akan selalu ada. Wajar saja bila beda pemahaman hingga pandangan hidup, berhubung tumbuh besar di zaman berbeda. Cuma, kewajaran ini jadi nggak asik saat salah satu generasi merasa lebih unggul daripada generasi lainnya. Dalam hal ini, generasi yang lebih tua meremehkan yang lebih muda. Ini hanyalah wajah lain dari ‘ageism’.

Gak Semua Memang, Tapi …

… banyak. Sudahlah, nggak usah bawa-bawa angka hanya untuk mengecilkan masalah. Satu orang sok dari generasi mana pun saja sebenarnya sudah masalah.

Ngomong-ngomong, jadi korban kekerasan kok, malah bangga? Berasa prestasi, ya? Butuh disakiti dari direndahkan orang lain dulu, baru merasa kuat? Butuh merendahkan orang lain dulu yang tidak bernasib sama – lebih beruntung malah – hanya dianggap lebih jagoan?

Kenapa, sih? Pada gila validasi, gara-gara dulu waktu kecil (merasa) nggak pernah (dianggap) berarti?

Berani bertaruh, yang merasa jagoan karena merasa sudah ‘survive’ jadi korban kekerasan nggak akan mau kalau sampai harus mengalami hal yang sama lagi. Cara kalian merendahkan generasi sekarang sebagai generasi yang ‘manja-manja dan payah’ sebenarnya hanya proyeksi kegetiran diri sendiri dan dendam sama masa lalu.

Wajar kok, kalau merasa sakit hati dan berpendapat bahwa hidup ini tidak adil. Masa kecil kalian mungkin lebih banyak menderita daripada generasi sekarang yang menurut kalian lebih banyak enaknya. Memangnya akan mengubah keadaan bila melampiaskan rasa frustrasi kalian dengan cara merendahkan mereka? Memangnya akan mengembalikan waktu yang sudah hilang?

Seperti biasa, saya paling muak sama kesombongan macam ini. Sudahlah, bilang saja niat kalian hanya ingin balas dendam ke generasi yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal masa lalu pahit kalian, lalu kalian minta bertanggung jawab atas perasaan kalian. Terus, kalian kecewa begitu respon mereka adalah langsung balas melawan, karena sudah lebih sadar akan – yes, kalimat yang menurut kalian hanya jadi andalan anak manja saat didisiplinkan – hak asasi mereka sebagai manusia. Berbeda dengan zaman kalian dulu.

Main perbandingan dengan generasi sekarang juga nggak adil dan percuma. Memangnya kalian sudi generasi kalian dinilai sebagai angkatan yang kaku, arogan, dan hobi memaksakan kehendak? Atau malah nggak peduli? Paling kalian cukup memberi cap ‘kurang ajar’, ‘nggak sopan’, sama ‘nggak respek sama yang lebih tua’ kepada yang mengkritik kalian? Gitu ‘kan, cara mainnya? Padahal semua manusia sama-sama bisa salah, berapa pun umurnya.

Biasa, namanya juga senioritas. Yang nggak suka atau nggak terima terus berani melawan cukup kalian sebut ‘cengeng dan manja’. Gaslighting orang hanya biar diri sendiri merasa lebih superior emang paling gampang!

Setiap generasi punya masalah dan tantangan masing-masing, kok. Jadi, nggak usahlah merasa yang paling tangguh se-jagad, padahal sesungguhnya inner child kalian yang terluka. Mending cari bantuan profesional ketimbang melampiaskan amarah kalian ke generasi yang sama sekali nggak tahu apa-apa masalah kalian dulu. Udah gak adil, salah tempat pula!

Cobalah berdamai dengan realita agar tidak menjadi sosok menyebalkan. Toh, kejulidan kalian sama “enaknya” jadi generasi sekarang juga nggak akan menghasilkan apa-apa yang berguna. Waktu nggak akan bisa otomatis diulang.

Kecuali … yah, kalian mau usaha dan bisa bikin mesin waktu, terus balik ke masa lalu …

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *