Jangan Sampai Patah Hati Bikin Sakit

Hah, apa? Jangan sampai hati bikin sakit? Maksudnya gimana, sih? Bukannya patah hati saja sudah menyakitkan, ya?

Memang. Bohong saja kalo sampai ada yang sok tangguh, mengaku nggak apa-apa. Yang ada hanya mereka yang memutuskan untuk tidak memperlihatkan sakit hati mereka kepada dunia. (Jiaaah…)

Lalu, gimana caranya supaya tidak tambah sakit – alias sakit beneran secara fisik? Oke, waktunya mendetoksifikasi diri sendiri secara bertahap.

  1. Ingat-ingatlah kondisi diri sendiri sebelum bertemu mereka dulu.

Gimana dulu sewaktu belum ketemu / berurusan dengan mereka? Baik-baik saja, ‘kan? Masih punya banyak alasan lain untuk menjalani hidup dengan lebih berbahagia.

Mungkin pas ada mereka, kesannya hidup jadi terasa lebih indah dan penuh warna. Otomatis Anda jadi merasa lebih berbahagia. Pokoknya, luar biasa.

Makanya, begitu mereka pergi (apalagi bila mainnya mendadak begini), Anda langsung patah hati. Wajar sih, tapi usahakan jangan sampai perasaan itu malah bikin Anda jadi sakit badan. Rugi!

Bila sebelum ada mereka hidup masih berjalan, kenapa begitu nggak ada mereka Anda nggak akan mungkin baik-baik saja?

Berilah waktu pada diri sendiri untuk berduka. Tapi, sebaiknya juga jangan terlalu lama. Habis itu, segeralah bangkit kembali.

Dunia ini masih butuh kamu.

  • Sibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang lebih berarti.

Ayolah, hidup Anda tidak mungkin hanya berkutat di sekitar mereka. Pasti masih banyak lagi hobi maupun kegiatan yang bisa jadi jauh lebih seru dan bermakna. Bila masih punya pekerjaan bergaji bagus (apalagi di era pandemi #Covid19 ini), bersyukurlah.

Saya nggak menjamin bahwa sakitnya akan langsung hilang karena banyak kegiatan. Saya hanya bisa menjamin bahwa semua kegiatan tersebut adalah pengalih perhatian.

Mau sampai kapan? Maaf, itu bukan keputusan saya. Semua tergantung pada usaha dan kepasrahan Anda. Lho, kok pasrah? Ya, iyalah. Meskipun pengen sembuh patah hatinya cepat, ada kalanya berpura-pura bahwa diri baik-baik saja sama sekali bukan solusi. Jalani saja dulu prosesnya…

  • Tetap menjaga kondisi tubuh.

Sedih kehilangan sosok tersayang itu wajar. Namun, jangan sampai lupa untuk tetap merawat diri. Nggak usah langsung yang serba ekstrim seperti mendadak ganti gaya rambut atau penampilan. Yang sederhana aja dulu, seperti tetap makan makanan sehat, berolahraga teratur, dan tidur yang cukup. Terdengar klise? Coba aja dulu, baru ngomong.

Soalnya, semakin lalai menjaga kondisi tubuh, semakin mudah kita terserang depresi. Nah, nggak mau, ‘kan? Yuk, mulai kembali menyayangi diri sendiri secara bertahap. Yang butuh dukungan orang lain jangan malu untuk meminta tolong.

  • Berproses untuk merelakan.

Untuk melupakan seseorang yang pernah sangat berarti memang berat. Ada yang butuh waktu lama untuk merelakan, ada yang cepat. Nggak ada yang benar atau salah dalam hal ini.

Nggak usah merasa bersalah bila masih susah move on. Setiap orang prosesnya beda-beda, kok. Gak perlu takut juga dibilang ‘bucin’ (budak cinta) bila ketahuan masih sedih gara-gara si penyebab patah hati.

Berproseslah untuk merelakan. Memaksakan diri untuk melupakan atau pura-pura nggak kenal justru malah berbahaya bagi kesehatan mental. Berlagak gak sakit hati? Apalagi. Malah berbahaya sekali bagi kewarasan diri.

Sekali lagi, patah hati itu wajar. Namanya juga manusia. Biar saja sesama manusia lainnya menyebut Anda baper, bucin, atau bahkan pecundang. Mereka hanyalah sekumpulan mahluk pongah sok tegar. Nggak penting!

Jangan lupa juga untuk menyayangi diri sendiri. Jangan putus sumber dukungan mental dan spiritual Anda dengan yang lain. Ada keluarga, teman, hingga Tuhan.

Pokoknya, jangan sampai jatuh sakit beneran hanya gara-gara patah hati. Belum tentu juga mereka peduli, malah Anda yang rugi sendiri.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *