Menonton Hidup di Media Sosial

Di media sosial, hidup kita dinilai dari sebaris status. Sepotong cerita yang tidak lengkap, namun dianggap sumber paling tepat. Hidup kita dipuja-puji dari dua-tiga baris doa, dicela dari separagraf-dua paragraf curhatan. Bahkan, tak jarang foto dan video yang kita tampilkan pun siap jadi sasaran.

Yang sadar punya banyak pilihan. Mereka bisa memoles citra diri mereka agar terlihat mengesankan. Siapa tahu, status atau postingan berikutnya akan banjir pujian. Rasanya membahagiakan, bukan? Bagai candu gratisan, kita merasa seperti mendapatkan tambahan teman. Apalagi, pandemi Covid-19 sialan ini sudah bikin kita sulit ke mana-mana.

Yang tidak sadar mungkin memilih dikendalikan begitu saja dengan situasi media sosial yang cair, berubah, kadang dalam waktu super cepat. Terlalu cepat bahagia saat banyak yang suka, lalu terlalu jatuh dalam nelangsa saat dicela. Penonton di media sosial memang sangat reaktif, cenderung tanpa banyak berpikir. Tanpa sadar, mereka semua begitu mudah dikendalikan.

Di media sosial, hidup kita dinilai hanya dari sebaris status. Yang terlihat rajin membagi doa tampak bagai orang saleh. Yang sering curhat langsung dianggap kesepian, gila perhatian. Yang marah-marah dituduh kurang bersyukur dan perusak suasana. Banyak yang rebutan panggung di dunia maya, demi kebanggaan semu sesaat. Aku. Ada aku. Lihat aku, jangan dia. Pokoknya aku!

Orang yang berbagi kabar bahagia, seperti kelahiran anak, kesuksesan mereka masuk universitas bergengsi, hingga momen jadian dan lamaran, langsung dianggap pamer. Anak-anak yang gemar berbahasa asing di ruang publik langsung dianggap tidak menghargai bahasa dan budaya sendiri. Yang berbahasa daerah dituduh sok eksklusif, sementara yang menuduh kerap menggunakan bahasa nasional sendiri sesuka hati. Perkara ejaan hingga tata bahasa mereka anggap: “Ah, cuman segitu doang. Salah sedikit, ribet amat!”

Banyak yang menganggap standar hidup mereka sudah paling ideal. Suami bekerja, istri harus jadi ibu rumah tangga. Belum punya anak (apalagi setelah bertahun-tahun menikah) dianggap bermasalah. Baru punya anak satu, dianggap kurang. Punya anak banyak, dianggap tidak kira-kira menilik realita. Ekonomi makin susah, kerusakan lingkungan sudah makin parah.

Mereka yang merasa menjadi anak paling berbakti pada orang tua kemudian menghujat juga seorang anak yang pernah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo. Yang harusnya tidak diumbar kemudian terjadi juga. Pelakunya adalah salah satu pekerja di panti jompo tersebut. Meskipun sudah tahu akan bahayanya serba terbuka di media sosial, mereka pun memposting foto ibu tersebut dengan kalimat yang menyakitkan.

“Ibu dibuang anak di panti jompo.”                                  

Entah apa tujuan pelaku menyebarkan kabar seperti itu. Entah kenapa sampai menyebut tempat itu setara dengan tempat sampah. Bukankah itu sama saja dengan menghina rumah sendiri dan seisinya?

Lalu, apa hak mereka yang menghujat, bahkan menyumpahi bahwa si anak akan masuk neraka segala? Bantuin enggak, nyakitin iya. Apakah dengan kekasaran semacam itu, si anak akan serta merta menuruti mereka? Padahal, kenal saja juga tidak. Ikut merasa dirugikan juga tidak. Sungguh, kadang jari-jemari bisa jauh lebih berbahaya daripada isi kepala yang serba penuh cerca.

Kadang … Lebih Baik Tidak Usah Cerita Pada Siapa-siapa

Ini bukan perkara anak kecil ngambekan. Bukan juga pandemi Covid-19 yang jadi penyebab. Masalah ini sesungguhnya sudah lama terjadi, namun kelamaan dibiarkan. Saking lamanya dibiarkan, lama-lama banyak yang menganggapnya normal. Biasa saja, komentar khas mereka yang (terpaksa memilih) mati rasa.

Interaksi sosial dengan sesama manusia lama-lama jadi tidak begitu menyenangkan lagi. Semakin takut atau malas orang bercerita, meskipun bukan UU ITE penyebabnya. Penghakiman dan semangat menghujat tanpa ampun dari sesama, bahkan meskipun belum tahu kisah lengkapnya. Tak heran, kini lebih banyak yang menemukan nyaman dalam kesendirian.

Sudah, tidak perlu cerita apa-apa. Tidak perlu jelaskan pada siapa-siapa. Diam saja. Biarkan mereka terus mencari cacat dari sesama, hanya agar semakin puas menghujat dan merasa diri bebas dari dosa.

Jika hidupmu dinilai hanya dari sebaris status, maka silakan nilai mereka dari komentar yang mereka keluarkan dengan mudahnya. Tidak perlu membalas. Tidak ada gunanya. Biarkan mereka percaya hanya yang ingin mereka percaya. Mereka mengira sudah mendapatkan kisah lengkapnya, seperti biasa. Mereka merasa berjasa telah melaknat sosok yang mereka anggap penuh cela.

Mungkin, hanya sampai situ kemampuan mereka menghargai waktu luang yang ada. Hanya sekian …

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *