“TERUNTUK #ALEPPO”

“TERUNTUK #ALEPPO”

Di satu sisi dunia,

semua ceria

jalani hidup seperti biasa

di bawah cerahnya angkasa

 

Di sisi lainnya,

banyak yang terluka

kehilangan dan penuh duka

lari dan sembunyi, bertaruh nyawa

 

Di mata media,

ada ragam cerita

Ada yang percaya

Ada yang menuduh pura-pura

 

Datang, datanglah ke sana

Lihat sendiri, apa adanya

Mungkin kau akan beruntung, masih bernyawa

saksi hidup perjuangan nyata…

 

R.

(Jakarta, 17 Desember 2016 – 16:15)

 

 

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

Entah kenapa kepikiran untuk menulis tentang ini. Mungkin karena sekarang sudah makin banyak contoh ‘ajaib’ seputar orang pintar (dari yang asli pintar sampai yang pintar kw sekian.)

Jadi, inilah mereka:

1. Orang yang (beneran) pintar.

Orang ini bisa kelihatan dari banyak sisi. Juara satu di kelas, juara umum di sekolah, atau IPK selalu di atas 3.5 selama kuliah? Yang pasti, lebih banyak prestasi nyata ketimbang sensasi belaka.

Enggak hanya itu, mereka juga jago menghibur orang, kreatif dalam mendesain karya seni, jagoan olahraga di lapangan, hingga…jago padu-padan dalam hal berpakaian dan dandan. (Nah, tolong jangan nganggep mereka dangkal dulu. Enggak semua orang punya selera fashion yang bagus, lho.)

Apa pun jenis kepintaran mereka, bakalan makin oke bila mereka rela ‘membagi’-nya dengan orang lain yang mau belajar, alias enggak disimpen sendiri. Selain itu, mereka juga pintarnya karena usaha, bukan cuma-cuma. Otak cerdas kalo enggak terus dimanfaatkan sama aja dengan otot lembek akibat jarang (atau malah enggak) olahraga. Ups! *langsung noyor diri sendiri*

2. Orang pintar yang (terlalu) bahagia dengan diri sendiri.

Nggak ada yang salah dengan jadi pintar, apalagi sampai berbahagia karenanya. Selain hidup terasa lebih mudah, yang hormat dan kagum sama kita juga banyak.

Jeleknya? Terlalu bahagia bisa menciptakan kesombongan. Berbagi kepintaran dengan orang lain beda dengan sekadar memamerkannya. Bukan kagum yang didapat, lama-lama malah muak yang melihat.

Haruskah kita membenci sosok macam ini? Menurut saya sih, biarin aja. Mungkin diam-diam mereka belum yakin kalau mereka pintar dan berharga, makanya masih cari-cari pengakuan dengan cara pamer ke mana-mana. Nggak apa-apa, itu hak mereka. Mau sebal, kasihan, atau peduli setan, itu juga hak Anda.

Merasa keganggu? Cuekin aja, selama mereka nggak secara langsung menyakiti Anda. Ya, asal mereka nggak sampai menjadi kategori nomor berikut ini:

3. Orang yang pintar menjatuhkan orang lain di depan umum.

Saya enggak sedang bicara soal adegan slapstick basi, di mana Karakter A sengaja menyandung Karakter B hingga jatuh, lalu ngakak sepuas-puasnya sementara si B mengaduh kesakitan. Untuk orang macam ini, mungkin ada yang akan memberikan pembelaan yang enggak kalah basi dengan adegan di atas:

“Wajar, namanya juga orang pintar.”

Oke, apa IQ di atas 140-sekian berarti legitimasi untuk menghina atau merendahkan orang? Hmm, kok jadi inget psikopat atau sosiopat di film-film thriller psikologi, yah?

Orang pintar yang masuk kategori ini harus hati-hati, apalagi bila dengan enaknya mereka mengatai korban mereka yang marah dengan sebutan “baper” (bawa perasaan). Mungkin mereka bakalan komen begini:

“Enggak usah baper gitu, deh! B ajah. Gue ‘kan cuma bercanda. Abis elo,,,(lemot/terlalu serius/terlalu sensi/dll.), sih.”

Kenapa mereka harus hati-hati? Selain kemungkinan bakalan disumpahin kejedot ampe gegar otak kronis sama korbannya atau disakiti oleh mereka yang mau balas dendam, tipe ini juga berisiko mengalami kemandekan. Karena merasa udah paling pintar daripada yang lain, biasanya mereka malah enggak terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan diri. Padahal, mendiang Steve Jobs aja pernah ngomong gini:

“Stay hungry. Stay foolish.” (Jangan cepat puas. Jangan merasa sudah pintar.)

4. Orang pintar yang enggan kelihatan pintar.

Jenis ini juga terbagi dua lagi. Yang pertama, mungkin mereka hanya ingin merendah. Mereka merasa nggak ada gunanya juga pamer ke mana-mana atau bahkan masih merasa kurang pintar. Jadi, lebih baik mereka diam-diam mengembangkan diri, sampai saatnya mereka sudah cukup pede untuk unjuk gigi.

Yang kedua justru jenis yang paling berbahaya, yaitu yang diam-diam karena punya ‘agenda terselubung’ atau modus. Biarin aja banyak orang yang menganggap mereka bego, nggak ngerti apa-apa, dan diam saja pas di-bully. Justru ‘penyamaran’ mereka semakin sempurna berkat anggapan miring orang-orang tersebut.

Jangan senang dulu bila Anda merasa di atas angin karena pernah merendahkan orang lain, karena bisa saja balasan dari mereka akan lebih mengerikan. Ya, karena diam-diam mereka telah merencanakannya dengan super matang, termasuk menghitung jumlah ‘dosa’ Anda selama menyakiti mereka.

Pokoknya, tipe ini juga termasuk kalem dan hati-hati dalam berucap hingga bertindak.

5. Orang pintar…dengan tanda kutip. (Baca: “pintar”.)

Ada yang berusaha kelihatan pintar dengan cara-cara ‘ajaib’. Mulai dari sengaja dandan super rapi kayak karakter nerd/kutu buku di film-film – lengkap dengan kaca mata (padahal mata mereka masih sehat-sehat saja.) Ada yang sengaja bawa buku-buku tebal ke mana-mana. (Perkara itu buku beneran dibaca dan dimengerti, urusan belakangan.)

Begitu pula saat berdiskusi atau berdebat dengan orang ini. Entah kenapa, mendadak ragam definisi maupun istilah canggih, alias ‘kelas berat’ kayak tesis anak S2 keluar semua dari mulut mereka. Jika Anda termasuk orang awam dan langsung minder mendengarnya, wajar saja. Mungkin mereka sedang berusaha kelihatan pintar, alias mengidap ‘superiority complex’. (Duh, saya kok jadi ikutan, ya?)

Yang menggelikan bila terbukti bahwa mereka sebenarnya enggak ngerti-ngerti amat dengan semua jargon tersebut…atau bahkan salah menempatkannya pada konteks percakapan. Waduh.

Untuk yang satu ini, enggak usah benci-benci amatlah sama mereka. Biasa aja. Kalau peduli, bisa kita kasih tahu baik-baik bahwa mereka enggak perlu sedemikian rupa hanya buat bikin kita terkesan. Kalau enggak, diamkan saja.

Ada juga yang “pintar” karena “pemberian lebih” berupa indera ketiga. Nah, ada yang menggunakannya dengan niat menolong orang lain, ada yang malah menyalahgunakannya untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Apa pun itu, buat saya percaya sama Tuhan tetap harus nomor satu.

Apakah semua orang bisa pintar? Bisa, meski mungkin kadarnya berbeda dan keahlian yang mereka kuasai juga tidak sama. Namanya juga manusia. Pasti ada ragamnya, dong.

Tapi, jangan harap semuanya bisa didapat dengan cara instan. Kebetulan, saya jadi ingat karakter kekasih dr. Reid (Matthew Gray-Gubler), dr. Maeve Donovan (Beth Riesgraf) dalam serial favorit saya, “Criminal Minds”(Awas, spoiler buat yang belum nonton episode ini!) Sebelum mati, Maeve sempet ngomong gini sama penjahatnya:

“Genious is hard work.” (Jenius itu hasil kerja keras.)

Orang pintar sih, banyak. Cuma, berapa yang benar-benar berkualitas hingga bermanfaat bagi orang lain, alias nggak cuma jadi bully yang tambah bikin keruh suasana?

Mau jadi orang pintar macam apa? Seperti biasa, selamat memilih dan bertanggung jawab.

R.

 

“MEMULAI KEMBALI”

“Memulai Kembali”

Aku tidak ingin menunggu. Aku ingin menciptakan waktu.

Ya, aku tidak ingin menunggu waktu yang tepat, karena itu hanya mitos. Tidak pernah ada waktu yang tepat. Yang tepat hanya waktu yang ingin kita sempatkan.

Aku ingin menciptakan momentum itu, saat kita nanti kembali bersama. Aku ingin kita memulai segalanya kembali dari awal, karena kita sama-sama menginginkannya.

Karena itulah, kusisihkan hari ini khusus untukmu. Kita tahu, sebelumnya sudah terlalu banyak kesalahpahaman. Terlalu banyak pertengkaran. Aku yang terlalu keras kepala dan kamu yang tidak mau mendengar. Lelah, lemah, kalah. Pada akhirnya, kita sama-sama mudah menyerah. Sudah, hentikan saja semuanya. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja.

Waktu pun berlalu. Namun, tak surut jua rasa rindu. Kita pun memutuskan untuk kembali bertemu. Jangan lagi menunggu. Belum tentu esok akan ada waktu luang itu.

Sekarang, di sinilah aku. Di kafe tempat kita pertama kali bertemu, menunggu. Tapi, di mana kamu? Kenapa yang datang malah sahabatmu?

“Hai, Damai.”

—***—

Maafkan aku. Maafkan aku yang sering ragu untuk meluangkan waktu denganmu.

Salahkan ego dan gengsiku. Bahkan, sejak kita berpisah dulu, aku sudah memendam siksa di dalam diamku.

Makanya, aku bersyukur saat kamu duluan yang akhirnya kembali menghubungiku. Semakin bersyukur saat tahu bahwa kamu pun memendam rindu. Baiklah, mari kita sama-sama berdamai dengan masa lalu. Saatnya memulai lagi yang baru.

Aku tahu, hari ini sudah kau sisihkan khusus untukku. Aku juga melakukan hal yang sama untukmu. Aku bahkan sudah berjanji akan lebih memperhatikanmu kali ini, tidak seperti dulu. Tidak ada lagi aku yang egois dan selalu merasa paling benar sendiri. Demi kamu.

Aku sudah pernah kehilanganmu. Jangan pernah sampai terjadi lagi…

Percayalah, sebenarnya aku ingin segera ke kafe itu lagi, setelah sekian lama. Aku ingin kita kembali bersama, seperti dulu.

Kuharap kamu percaya. Dengarkanlah sahabatku saat dia tiba. Lalu, kemarilah segera.

Semoga…aku masih ada…

—***—

“Damai, Adrian kecelakaan…”

 

“PUAS YANG BUAS”

“Puas yang Buas”

Mereka kerap hanya ada

berkumpul saat bahagia

Senyum dan polah si mungil di depan mereka

ibarat tontonan belaka

 

Ada yang tidak puas

selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas

Mengaku manusia, namun buas

hanya saat dilihat, mereka berkoar-koar soal moralitas

 

Ayunan tangan dan selangkangan

pencipta banjir air mata

jerit jiwa-jiwa muda

kian terluka dan ternoda

 

Manipulasi emosi

tak cukup sekali

kalau perlu tanpa henti

sampai mereka tak bernyawa lagi

 

Ke manakah mereka?

Hanya diam seribu bahasa

setelah beralasan: “Bukan anak saya”,

atau: “Urusan keluarga mereka.”

Saat menutupi aib lebih berguna

jauh berharga daripada nyawa

 

Mereka pun terpencar

meninggalkan jiwa-jiwa rusak terpapar

perlahan kehilangan pendar

Tragedi kelar

Massa bubar

Tinggal cerita lama di surat kabar

 

Kapan mereka mau beraksi?

Haruskah menanti

saat mahluk buas itu mulai menyakiti

anak-anak yang mereka cintai?

 

Akankah mereka kian membisu,

dalam bumi yang makin membara

namun penuh jiwa-jiwa dingin, kosong, dan sunyi?

 

Karena mereka masih bernapas,

namun dengan nurani yang mulai kebas

perlahan terancam mati…

 

R.

 

“MUNGKIN SAYA BUTUH LIBURAN…”

“Mungkin Saya Butuh Liburan…”

Entah kenapa, menjelang akhir tahun selalu membawa penyesalan tersendiri. Belum inilah, masih kurang itulah. Ini juga bukan hanya perkara duit, melainkan pencapaian dalam hidup itu sendiri.

Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang akan saya lakukan berikutnya?

Jangan salah. Saya masih senang dengan banyak hal yang saya lakukan sekarang, termasuk menulis.

Yang jadi masalah? Entah kenapa, rasanya ada yang monoton dalam hidup saya. Rasanya saya berubah menjadi robot. Bekerja secara otomatis. Menulis tanpa rasa.

Hidup, tapi seakan lupa untuk merasakan hidup itu sendiri.

“Mungkin lo butuh liburan kali,” saran seorang teman, saat kami bertemu untuk satu sesi karaoke penghilang stres. “Nulis sambil travelling ke mana dulu, gitu. Ganti suasana.”

Hmm, sebenarnya sudah lama sekali saya menginginkannya. Perkara duit selalu jadi kendala. Tapi…ah, ‘kan selalu ada cara lain.

Hanya saja, saat ini saya belum menemukannya.

Mungkin teman saya benar. Saya hanya butuh liburan…

R.

 

“Selepas Satu Malam Itu…”

“Selepas Satu Malam Itu…”

Bertemu denganmu adalah kesialan. Mengenalmu adalah kesalahan.

Bersamamu setara dengan kegilaan…meski sesaat.

Ya, mereka semua akan bilang aku melakukan kesalahan saat denganmu. Aku yang kata mereka sedang rapuh setelah patah hati terakhirku, sehingga tidak lagi mampu berpikir jernih. Kamu yang…ah, harus kusebut apa, ya? Bajingan? Tukang cari mangsa berupa mereka yang berjenis kelamin perempuan?

Pencari selingan? Ah, untungnya jadi kau, wahai laki-laki yang menganggapku menawan. Yang malam itu cukup lancang untuk menciumku, bahkan saat kencan pertama.

Yang langsung mengajakku ke kamar selepas makan malam, saat itu juga. Yang memberi saran konyol berupa role-playing:

            “Kita bisa jadi siapa pun yang kita inginkan malam ini.”

            Aku tersenyum. Ya, malam itu kuikuti saja permainanmu. Kita bisa jadi dua jiwa kesepian yang mencari pelampiasan. Persetan dengan moral! Aku muak terkungkung olehnya, sementara kalian para laki-laki bebas ke mana-mana dan “ngapain aja” – bahkan sama “siapa saja”.

            Mungkin, bagimu semua ini sama saja. Hanya rutinitas pengusir kebosanan sang petualang.

Lalu, bagaimana denganku?

Ah, entahlah. Sudahlah, aku tidak peduli lagi. Yang kutahu, kamu sangat tipikal. Kuyakin banyak sekali laki-laki sepertimu di luar sana. Ya, meskipun lagi-lagi mereka akan memberikan argumen basi yang sama, hanya agar aku tidak terlalu kecewa dan memandang suram pada cinta serta seluruh dunia:

“Tidak semua laki-laki…”

            Heh, mungkin benar. Tidak semua, tapi banyak, ‘kan? Seperti kamu contohnya. Bebas, tidak pedulian. Kamu ingin melakukan semuanya tanpa aturan maupun pengamanan. Sangat tipikal.

Setidaknya, kamu tidak pernah berpura-pura baik dan bermartabat, seperti mereka yang selalu berharap pada perawan di pelaminan, sementara mereka sendiri boleh suka-suka.

Pagi itu, kamu masih terlelap di ranjang kamar hotelmu. Semalam kamu bilang bahwa kamu terbiasa bangun siang, paling sekitar jam dua.

Cepat-cepat aku berpakaian. Lalu aku diam-diam keluar dari kamarmu dan kabur lewat tangga darurat gedung itu. Tidak ada ciuman, berbeda dengan semalam.

Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak perlu, karena kita berdua sama-sama tahu. Kita tidak akan bertemu lagi setelah malam itu. Mungkin kamu akan meneleponku. Mungkin aku yang tidak mau. Tidak ada untungnya bagiku.

Hanya satu yang mungkin belum kamu tahu…atau bahkan tidak akan peduli. Malam itu, aku memberimu hadiah dari mantan suamiku. Mungkin diam-diam kamu juga sudah punya atau barangkali ada juga yang lainnya.

Tidak masalah. Kita bisa saling bertukar racun, saling membunuh dalam diam. Tidak perlu bilang-bilang. Toh, malam itu kita juga sama-sama senang.

Selamat menikmati hadiah terkutuk dari mantan suamiku, yang pernah dia dapatkan juga entah dari siapa di luar sana. Yang kini dan selamanya bersemayam dalam tubuhku, membunuh janin yang pernah kami ciptakan berdua.

Hadiah yang tak pernah kuminta itulah bentuk penghargaannya…untuk seorang istri yang selama ini setia, penurut, dan lebih banyak diam di rumah saja…

 

“CANDU DIGITAL”

“Candu Digital”

Ada saat mulut berucap

atau jemari lincah menari

di atas papan ketik laptopmu

atau ponsel terbaru

 

Apa yang keluar?

 

Pekerjaan?

Gosip dan gunjingan?

Informasi atau lelucon basi?

Ekspresi cinta atau benci?

Nasihat, motivasi, atau caci-maki?

 

Sudah kelar

Masih ramai atau sudah bubar?

 

Mulut berucap ibarat lidah mencecap

Telinga pengang, gagal mendengar

Gegap gempita di luar

Otak gegar dan jiwa bergetar

 

Jemari kian lincah

lebih lihai dari lidah

Mungkin sudah ahli, malah…

 

…sementara otak dan hati terancam (di)bungkam,

terlupakan di pojok gelap ruangan

seiring batin perlahan menghitam…

 

R.

(Jakarta, 19 Oktober 2016 – 17:00)

 

“MERINDUKAN SENJA YANG BERCERITA”

“Merindukan Senja yang Bercerita”

Berlawanan dengan mayoritas manusia yang kukenal di zaman itu (dan mungkin juga sekarang), hidupku sebenarnya baru dimulai menjelang senja. Ya, setidaknya itulah pendapatku saat mulai berusia belasan tahun.

Bagaimana tidak? Seperti anak-anak lainnya, kegiatanku dari pagi hingga menjelang sore seragam. Bangun pagi. Mandi dan sarapan (yang bergizi). Lalu ke sekolah dan belajar sepanjang hari. Ya, setidaknya hari Minggu libur. Hanya satu hari itulah aku bisa relatif suka-suka sepanjang hari.

Di saat-saat seperti itulah aku baru merasa benar-benar ‘hidup’. Bukannya lantas keluyuran di luar rumah tanpa henti, hingga harus diteriaki untuk pulang saat Magrib tiba.

Aku hanya di rumah. Aku tumbuh bersama George Kirrin dan ketiga sepupu serta anjing peliharaannya. Terbangun malam-malam untuk melihat Ryan Dallion dan sepupu serta sahabat tua mereka berburu barang-barang keramat. (Untuk yang satu ini, aku sempat kucing-kucingan dengan Mama sebelum beliau akhirnya menyerah.) Berkhayal tinggal di apartemen berisi tetangga-tetangga rupawan bak boneka Ken dan Barbie berjalan di Melrose Place. (Ini juga sempat bikin Mama was-was.)

Ya, entah kenapa dunia nyataku malah sempat membosankan. Lebih banyak duduk seharian dan menghapal nama-nama, rumus, dan sebangsanya, ketimbang berdiskusi atau membuat sesuatu. Pelajaran Bahasa sempat terasa menarik, sebelum gurunya tahu-tahu mulai lebih banyak mengajak kami untuk fokus pada tata bahasa dan karya ilmiah yang kaku dan serius. Tidak ada lagi fiksi dan puisi.

Semakin bertambah usia, senjaku berubah. Waktu sekolah yang semakin panjang. Jam kuliah yang tidak tetap. Begitu pula kesibukan kerja yang seakan tiada habisnya.

Lalu, aku mulai merindukan senjaku. Senja sepi, duduk sendiri dengan secangkir kopi dan setidaknya satu novel untuk membawa benakku kabur sejenak dari sini. Acara TV. Buku tulis, pensil, atau pulpen untuk menulis puisi atau fiksi.

Bagaimana caraku untuk mendapatkan senjaku kembali?

Mau tidak mau, akhirnya aku harus berkompromi. Ada waktu yang bisa kucuri-curi. Break antara jadwal mengajar. Saat menunggu redanya kemacetan. Lebih produktif dari hanya diam. Lebih baik daripada hanya mengeluh bosan atau bergosip ke semua orang. Sudah terlalu banyak yang begitu, jadi sebisa mungkin aku enggan ikutan.

Ya, ada kalanya senja yang dulu akhirnya bisa kudapatkan kembali. Tidak setiap hari, namun masih lebih baik daripada tidak sama sekali…

R.

 

“LIFESTYLE?”

“Lifestyle?”

Setiap orang punya kebiasaan masing-masing untuk mengisi hidup mereka dari hari ke hari. Ya, kegiatan suka-suka yang mereka lakukan. Karena sering, lama-lama jadi kebiasaan.

Kebiasaan itulah yang kemudian menjadi gaya hidup. Sebenarnya biasa saja, sih. Nggak gitu istimewa juga. Cuma diglamorkan dengan terjemahan bahasa Inggris, yaitu: lifestyle. Coba saja lirik majalah-majalah atau tabloid yang sampulnya warna-warni ceria itu. Lebih banyak yang memakai kata lifestyle, mengingat ‘gaya hidup’ agak kepanjangan.

Pernah ada yang menuduh saya nggak punya lifestyle. Haha, lucu sekali, bukan? Alasannya: saya nggak gitu suka nongkrong, main biliar, ke kafe, hingga minum-minum di bar. Kalau pun pernah beberapa kali terlihat di sana, itu pun karena diajak teman. Jarang-jarang. Kalau pun iya, nggak selalu sampai ikutan minum juga. (Dulu, sekarang udah enggak.) Biasa saja. ‘Kan berhak milih mana yang paling nyaman. Ngapain juga nyusahin diri sendiri, hanya untuk mengesankan orang-orang? Iya kalau mereka beneran teman. Kalau bukan?

Lucunya, yang menuduh saya nggak punya lifestyle dengan alasan yang sedemikian ceteknya itu sesama anak bangsa. Saya mah, ketawa saja. Apalagi pas dia dengan bangganya bilang bahwa lifestyle yang dia punya itu termasuk ngebir, main biliar, ke kafe atau bar, hingga clubbing. Kalau nggak gitu namanya bukan lifestyle.

Baiklah, terserah Anda, bung.

Buntutnya dia meminta nomor ponsel saya. Saya kasih…nomor bapak saya. (Haha!) Sori, bung. Lifestyle saya termasuk tidak memberi kesempatan laki-laki yang merendahan saya, tapi sebenarnya kelihatan banget nggak cerdasnya. Kasihan. Baca kamus dulu deh, mas. Silakan tanya guru Bahasa – Inggris dan Indonesia – kalau masih bingung juga. Bukan yang dulu hobi bolos sama tidur di kelas, ‘kan?

Haha, I know I’m bitchy kalau lagi kesal…dan saya percaya alasan saya masuk akal. Tapi rasanya berbeda dengan saat beberapa kali nongkrong di bar dengan teman-teman ekspat. Pas ada yang nanya apakah saya sering ke bar A atau pub B, jawaban saya selalu sama:

“I don’t normally do this.”

“I’m just observing.”

“I’m looking for an inspiration/story ideas.”

Respon mereka?

“Really? What do you normally do?”

“Let me guess. You’re a writer.”

Dari situlah obrolan berkualitas kemudian mengalir. Tentang buku, film, politik, sosial, hingga kelakuan orang-orang sekitar yang cenderung ‘ajaib’ – terutama setelah botol/gelas/pitcher ke sekian. Nggak ada yang saling merendahkan. Biasa saja.

Bukannya menggeneralisir. Hanya pengalaman pribadi.

Saya suka baca buku, terutama saat sendirian di kamar atau di kafe, dengan secangkir kopi di atas meja. Saya suka menulis (pastinya), menonton film, hingga menyanyi dan mengamati. Bagi saya, lifestyle setiap orang unik dan menarik. Selalu ada cerita yang bisa ditulis.

R.

(Jakarta, 11 November 2016 – Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Jakarta’s Couchsurfing dengan tema: “Gaya Hidup/Lifestyle”.)

 

 

“TIDAK SUKA?”

“Tidak Suka?”

Bagimu, aku terlalu banyak bicara

meski berupa tulisan di social media

Ah, bukan aku satu-satunya

Sadar atau tidak, kamu juga sama

 

Bagiku, aku punya hak serupa

Sungguh, tak perlu kau baca semua

bila memang tidak suka

Toh, manusia tinggal memilih saja…

 

R.

(Jakarta, 22 November 2016 – 11:00)