“IPF 2016: Harapan Perekonomian Bagi Indonesia dari Usaha Mutiara?”

Blogger Reporter Indonesia

“IPF 2016: Harapan Perekonomian Bagi Indonesia dari Usaha Mutiara?”

Untuk keenam kalinya, Indonesian Pearl Festival atau IPF, kembali diadakan. Kali ini, acara pembukaannya diadakan di Gedung Mina Bahari 3, Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, pada pukul sepuluh pagi. Acara ini diawali dengan pemutaran film dokumenter mengenai penambangan mutiara dari laut, sebelum melalui proses penyaringan hingga menjadi mutiara yang kita kenal.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti. Dalam acara berikut, beliau menyampaikan banyak hal, termasuk mengajak partisipasi masyarakat dalam memajukan usaha mutiara dan perikanan, baik air tawar maupun laut.

Bagaimana tidak? Menurut data terakhir saja, sekitar 70 persen perdagangan mutiara berasal dari Indonesia. Mutiara yang berasal dari negeri kita disebut juga dengan nama “Indonesian South Sea Pearl” (ISSP), yang artinya: “Mutiara Laut Selatan Indonesia”. Sayangnya, stempel pada mutiara tersebut langsung berubah begitu dibawa ke luar negeri. Akibatnya sudah bisa ditebak: selain tidak terlacak, bisa saja mutiara tersebut dijual kembali di negara kita dengan harga yang sangat mahal. Lagi-lagi kita kecolongan.

Namun, seiring perkembangan zaman, dunia semakin lebih peduli. Tidak hanya yang kita makan, asal-muasal suatu produk juga harus mendapatkan perhatian. Misalnya: orang akan enggan membeli ikan bila tahu ikan tersebut ditangkap dengan cara ilegal.

Begitu pula dengan mutiara. Masih menurut Ibu Susi, sudah saatnya bisnis perikanan dan mutiara lebih diekspos lagi agar lebih menarik perhatian dan minat para pembeli. Jangan lagi ada cara birokrat dalam bisnis perikanan dan mutiara yang justru malah menjadi penghambat kemajuan.

Dengan sosialisasi yang tepat dan keterlibatan penuh masyarakat dan pemerintah, maka usaha perikanan dan mutiara di Indonesia akan mengundang ketertarikan dunia, namun tanpa lagi ada acara kecolongan seperti yang sudah-sudah.

Akankah usaha mutiara dan perikanan di Indonesia menjadi harapan baru bagi perekonomian di negeri kita? Jangan hanya berharap dan menunggu hasilnya. Saatnya kita ikut terlibat secara penuh untuk memajukan bisnis ini, terutama karena negara kita adalah negara bahari.

 

 

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

“SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA”

Ada merah di matanya,

dengan marah bersemayam di sana

bercampur rindu dan rasa kalah

Mungkin hatinya sedang patah

 

“Apa kabar temanmu?”

Ah, dia gagal menyembunyikan sendu

Bahkan, sepertinya dia ingin aku tahu

meski saat itu aku lebih memilih membisu

 

Ada rindu dari tanya itu

Sayang, tiada solusi di benakku

Apalagi, aku sedang enggan berurusan dengan cinta

Takut kembali berakhir sepertinya:

lagi-lagi kecewa…

 

R.

(Jakarta, 13 September 2016)

 

“Insiden Telur”

“INSIDEN TELUR”

Waktu kecil, banyak kenakalan khas yang mungkin kamu pernah lakukan. Apalagi kalau kamu tumbuh di era 80-90an. Kayak cerpen atau film zaman dulu, daftar kenakalan khas anak-anak pasti seputar: mencuri mangga dari pohon tetangga, menjahili orang, hingga berantem for the sake of berantem. Udah, gitu aja.

Kalau aku? Hmm, aku sudah pernah cerita soal ini ke sahabatku dan acara radio lokal dulu. Waktu itu, sahabatku baru saja putus dan minta ditemani ke Bandung. Ceritaku ini sempat bikin dia ngakak habis-habisan.

Baguslah. Setidaknya, aku bisa bikin dia berhenti menangis.

Kalau acara radio lokal, sebenarnya waktu itu lagi super random. Di Twitter, mereka membuka sesi curhat dengan tema: “Kenakalan Masa Kecil”. Entah kenapa, ceritaku dianggap menarik. Aku ditelepon penyiarnya dan diminta untuk menceritakan versi lengkapnya…secara ON-AIR.

Seperti sahabatku, kedua penyiar radio pagi itu ngakak hebat. Penasaran? Giliran kalian yang memutuskan.

Kalau mau tahu kisah kenakalanku secara lengkap, silakan tanya Mama. Di sini, aku cuma mau cerita satu saja.

Ada masa di mana Mama enggan mengajakku ke toserba (toko serba ada, yang sekarang lebih terkenal dengan sebutan convenient store atau mini market. Entah kenapa.) Waktu itu, aku masih TK dan lagi senang-senangnya nonton film kartun. Gara-gara itulah insiden yang sama sempat berulang.

Sumpah, waktu itu aku nggak bermaksud menyusahkan. Aku hanya ingin melihat…anak ayam. Anak ayam, bebek, itik, dan…pokoknya semua unggas yang pastinya bertelur.

PRAK! PRAK!! CEPROT!!!

“RUBYYY!”

Wajah Mama merah-padam oleh geram. Anehnya, waktu itu aku malah cekikikan. Kedua tanganku sudah belepotan kuning telur mentah, sementara pecahan cangkangnya berserakan di lantai swalayan.

“Mau lihat anak ayam/bebek/itik…”

Hanya itu yang selalu jadi alasanku. Nggak kebayang Mama dulu harus membayar ratusan ribu, hanya untuk biaya ganti rugi pecahnya telur-telur itu. Aduh, bila mengingatnya sekarang, aku jadi malu. Ajaib Mama masih sabar punya anak badung sepertiku.

Pernah juga Nini (yang sekarang sudah almarhumah) mengajakku berbelanja. Pulang-pulang, beliau menenteng sekantung plastik…namun berisi telur-telur yang sudah pecah. Mama heran dan langsung bertanya:

“Ma, itu telur udah pada pecah kenapa dibeli?”

Dengan wajah datar, Nini waktu itu hanya menudingku yang – entah kenapa – masih juga berani cekikikan.

“Tanya anakmu.”

Ups.

Kalau sekarang, kami sudah bisa menertawakan ‘insiden telur’ tersebut. Tapi, diam-diam aku khawatir juga.

Duh, nanti kalau sudah punya anak sendiri, bakal kayak begini juga nggak, ya? Kualat, deh!

R.

(Jakarta, 9 September 2016 – ditulis saat Pertemuan Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta, Slipi – Petamburan)

 

“RUMAH DI UJUNG JALAN”

“RUMAH DI UJUNG JALAN”

Sekilas, rumah berlantai tiga di ujung jalan itu tampak suram. Tapi, kamu akan berubah pikiran bila melihat para penghuninya.

Satu keluarga tinggal di dalamnya. Ada suami, istri, dan kedua anak mereka. Pasangan itu masih tampak muda untuk ukuran orang tua dari dua anak yang sudah masuk sekolah dasar.

Sang suami, Adrian, adalah seorang jaksa penuntut yang sudah berhasil memenjarakan banyak pelaku kriminal. Dia laki-laki tampan berwajah ramah, dengan kerut samar yang muncul setiap dia tersenyum. Istrinya, Cara, adalah seorang ibu rumah-tangga sekaligus konsultan hortikultura dari rumah. Cantik, cerdas, dan kelihatan rajin merawat diri. Tipikal soccer mom. Rajin mengantar-jemput kedua anak mereka yang masih sekolah. Menyetir Pontiac Fiero tua yang masih bagus kondisinya, entah keluaran tahun berapa.

Kedua anak mereka ternyata kembar berusia delapan tahun. Yang laki-laki bernama Bryan dan yang perempuan Beth, mungkin panggilan dari ‘Bethany’ atau ‘Elizabeth’. Keduanya juga manis, baik dan ramah, meski Bryan lebih pendiam. Beth-lah yang rajin menyapaku setiap kali berpapasan.

“Hi, Mr. Franks.”

            Siang itu, kedua anak itu saling bergandengan saat masuk ke dalam rumah. Kuperhatikan mereka, sebelum masuk ke dalam rumah sewaku sendiri di seberang. Ada yang harus kuselesaikan…

—***—

“Jangan lupa. Tepat tengah malam.”

            Kubaca lagi SMS dari klienku dengan enggan. Lewat jendela, kuperhatikan rumah itu di ujung jalan. Tampak sepi dan tenang. Semua penghuninya pasti sudah terlelap.

Kulirik senapan otomatisku dan menghela napas. Mungkin kamu akan heran, kenapa baru kali ini rasanya berat menjalankan tugasku.

Untuk pertama kalinya, aku diminta ‘menangani’ satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak. Salahku, yang kali ini membiarkan diriku terlalu dekat dengan targetku sendiri…

(Untuk Tantangan Mingguan “Monday Flash Fiction” dengan Prompt#125: “Rumah di Ujung Jalan”)

 

“1 SEPTEMBER 2016”

“1 SEPTEMBER 2016”

Kau mencari yang dulu kau tinggal

Untuk apa?

Semoga kali ini kau terpental

menjauh untuk selamanya

 

Kau mencari yang dulu kau tinggal

seperti bocah mencari mainan lama

enggan menerima kenyataan karena bebal

Kau pikir kau istimewa

 

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi

Lebih baik kau pergi

Tinggalkan dia sendiri

Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

 

Masih terus mencari?

Selamat berusaha

Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa

alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

 

R.

(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

 

“DI MATAMU”

“DI MATAMU”

Di mataku, kamu sosok yang membingungkan. Ada kalanya kamu membuatku lelah, namun aku belum ingin menyerah.

Ada kalanya, kamu tersenyum ramah padaku, sama seperti pada semua orang. Bagiku, dunia menjadi lebih cerah berkat senyummu yang merekah. Tapi…ah, dasar sial. Aku takut kamu menganggapku gombal.

Siapa yang telah menyebabkanmu berpikir demikian? Mengapa sepertinya sulit bagimu untuk percaya akan tulusnya pujian?

Sesekali sorot matamu masih tampak jauh. Ada kalanya, kamu gagal menyembunyikan luka. Jika sedang begitu, senyummu berubah kaku.

Ada amarah dan pedih yang beku di matamu. Setiap ditanya, kamu hanya mengangkat bahu. Kadang kamu menggeleng dan menjawab: “Nggak apa-apa.”

Kusadari juga sikap beberapa temanmu. Ada yang bermata elang, menatapku curiga. Gerak-gerikku diawasi dengan sedemikian rupa, terutama saat berada terlalu dekat denganmu.

Mereka berusaha menjagamu, entah kenapa. Padahal, kuyakin kamu tidak serapuh itu.

“Sekalinya lengah, perempuan selalu lebih mudah dipermainkan,” ucapmu geram. “Begitu kalah, tetap perempuan yang akan selalu disalahkan!”

            Ah, pedihnya nada suaramu. Mungkin karena itulah, malam itu kamu begitu murka. Selepas acara pembacaan puisi dan cerpen yang kita ikuti setiap minggu, acara kumpul bersama berakhir bencana.

Aku menyesal. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin menciummu saat kita berdua sedang di dapur. Sentimental ala film Hollywood. Kamu langsung sadar dan mendorongku.

“Mundur.” Astaga, suaramu sedingin es. Tanpa menunggu responku yang sedang shock, kamu langsung kabur. Meninggalkan acara begitu saja, tak peduli panggilan dari teman-temanmu:

“Lho, Bri?? Kok pergi??”

— *** —

Kamu benar-benar marah. Tidak satu pun telepon dariku yang kamu jawab. Pesan WA dariku juga tidak kamu balas.

Kamu juga menolak duduk dekat denganku setiap acara mingguan itu. Kamu enggan menatapku. Bila terpaksa, kamu seperti menatap mahluk paling hina di matamu. Jujur, aku tidak tahan dianggap begitu. Sama tidak tahannya dengan mendengarmu berdebat dengan teman-temanmu sendiri soal aku. Suaramu meninggi, sarat oleh emosi:

“Okay, fine! Gue yang parno dan lebay kalo gitu, ya?”

            Aku harus tahu dari teman-temanmu mengenai yang pernah terjadi. Dari mereka, kutahu soal laki-laki itu. Sosok di masa lalu yang pernah menyakitimu.

Meski berhasil menciummu, setidaknya kamu takkan sudi membiarkannya memaksamu untuk melakukan yang lebih dari itu. Ini bukan masalah moral bagimu. Dia meminta terlalu banyak. Kamu sudah menetapkan pilihan dan laki-laki itu sama sekali tidak menghargaimu.

Rasa kagum sekaligus sedihku bertambah untukmu. Kagum, karena dengan tegas dan berani kamu menampik laki-laki sialan itu. Kamu bahkan tidak takut ditinggal pergi.

Sedih, karena kamu jadi takut bahwa laki-laki hanya mengincar tubuhmu. Aku tidak begitu…

— *** —

Kamu menerima buket mawar putih dan boneka beruang besar berwarna cokelat muda di depan pintu rumahmu. Ada amplop tersemat di antara tangan boneka. Kamu duduk di beranda depan dan membukanya. Suratku kamu baca.

Lalu, kamu hanya memeluk boneka itu. Ada tetes-tetes air dari matamu.

Diam-diam kuamati dirimu dari salah satu mobil yang diparkir di depan rumahmu. Kulirik kotak kecil dari beludru biru di tanganku.

Cincin ini bisa menunggu. Saat ini, aku hanya butuh kamu menerima maaf dariku. Aku akan sabar menunggu, hingga saat kamu bisa melihatku seperti ini di matamu:

Briana, aku bukan laki-laki itu. Aku bukan sosok yang mau menyakitimu…

            R.

            (Untuk tantangan menulis mingguan “Monday Flash Fiction” dengan prompt #124: “Di Matamu”.)

 

Menambah Keberuntungan Diri dengan ‘The Luck Factor’

Blogger Reporter Indonesia

 

Menambah Keberuntungan Diri dengan ‘The Luck Factor’ 

Oke, sebenarnya saya sudah lama ingin segera menulis hasil liputan saya bersama tim BRID  (Blogger Reporter Indonesia) pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 9:00 WIB kemarin. Namun, karena kesibukan yang super padat akhir-akhir ini, saya baru sempat menuliskannya. Maaf, ya.

Singkat cerita, apa yang kami dapatkan dari seminar “The Luck Factor” bersama Muchlis Anwar waktu itu? Ternyata resep-resep beliau sangat sederhana, namun sering sekali kita sepelekan. Pada dasarnya, keberuntungan tiap orang berbeda dan bukan karena Tuhan pilih kasih. Dari segenap usaha yang kita lakukan untuk meraih keberuntungan, sekitar 20 persennya adalah keberuntungan. Namun, keberuntungan itu akan hilang bila kita terlalu sering meracuni hati kita dengan perasaan cemburu atau iri dengan keberuntungan orang lain. Padahal, kita bisa kok, mendapatkan keberuntungan-keberuntungan yang kita inginkan. Mulai saja sering menerapkan faktor-faktor keberuntungan di bawah ini:

The Luck Factor #1:

Senyum adalah ibadah. Senyumlah dengan ikhlas, meski sedang ditimpa masalah. Ingat, kita bukanlah pusat dunia. Di luar sana, pasti banyak yang jauh lebih bermasalah daripada kita. Jadikanlah senyum itu sebagai kekuatan untuk berdiri tegak, tegar melalui cobaan, hingga membantu sesama. Tidak perlu mengemis perhatian dan rasa kasihan dari seluruh dunia. Justru, kita-lah harus jadi penyemangat pertama bagi diri sendiri, sebelum berusaha menyemangati orang lain.

The Luck Factor #2:

Sering berdoa? Baguslah. Untuk siapa? Diri sendiri? Jangan berhenti sampai di situ. Kenapa tidak mendoakan semua orang, alias tidak hanya yang kita kenal saja? Saya ingat, seorang kawan pernah berujar bahwa apabila saya rajin mendoakan kebaikan bagi orang lain, maka para malaikat akan balas mendoakan kebaikan untuk saya. Wuih, siapa sih, yang tidak mau didoakan kebaikan oleh ciptaan Tuhan yang paling setia pada-Nya?

Tapi, doanya harus ikhlas. Jangan diam-diam mengharapkan balasan. Bahkan, seluruh dunia tidak perlu tahu siapa saja yang kita doakan. Cukup kita dan Beliau saja.

The Luck Factor #3:

Banyak-banyaklah bersyukur, bahkan untuk hal-hal paling kecil (atau yang sering kita anggap remeh) sekali pun. Seperti: masih bisa bangun dan bernapas, makan dengan lahap, berjalan kaki ke sekolah/tempat kerja, dan sebagainya. Bahkan, tertimpa kemalangan pun juga bisa kita syukuri, karena selalu ada yang dapat kita pelajari darinya. Kita semua hanya manusia biasa. Tidak ada yang sempurna. Anggaplah itu sebagai pengingat.

The Luck Factor #4:

Buatlah orang lain merasa beruntung. Tidak perlu jauh-jauh. Misalnya: jangan suka menawar harga saat berbelanja dari pedagang kecil. Siapa tahu, kita adalah pembeli pertama dan satu-satunya sepanjang hari itu. Kita tidak pernah tahu, kan?

The Luck #5:

Dekatilah Tuhan. Jadikanlah ibadah sebagai forum komunikasi kita yang paling pribadi dengan-Nya.

Semoga hasil seminar di atas berguna.

R.

 

 

 

“1 AGUSTUS 2016”

“1 AGUSTUS 2016”

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi

sambil membaca berita hari ini

atau tumpukan pesan untuk diri…

 

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri

si penyebab sakit hati

kini ingin bertemu kembali

 

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi

sembari menebalkan dinding hati

mengunci semua yang perlu dilindungi

Jangan sampai terluka lagi

 

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah

Usahakan segera enyah

Kalau bisa, sekalian sampai musnah

Jangan mau kalah

 

Selamat pagi, diri

Mari habiskan pahitnya kopi…

 

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)

 

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

#StopTanyaKapan Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

            Bahkan, orang yang nggak kenal-kenal amat juga sok ikut menasihati. Percaya deh, obrolan basa-basi, misalnya sama penjaga warung, yang tadinya nyantai bisa jadi bikin bete begitu mereka tahu status dan umur kamu. Kalo nggak ditanya, kadang pake sekalian diceramahin panjang-lebar.

Bukannya nggak mau nikah, tapi nggak mau melakukannya untuk alasan yang salah. Lagipula, nikah juga nggak bisa sembarangan. Jangan hanya karena diuber umur, demi menyenangkan orang lain (bahkan ortu sendiri, lho!), sampai alasan ‘kebelet’ lantas jadi gegabah. (Kalo dipikir-pikir, kenapa nikah sampai disamakan dengan ingin ke toilet segala, ya? Aneh.) Susahnya? Mau secuek dan sekalem apa pun, ada saja mulut usil yang bikin gerah hingga naik darah. Didiamkan makin ‘jadi’, giliran kita marah yang usil malah enteng menuduh kita sensi. Maunya apa, sih?

Kalo hanya ditanya: “Kapan kawin?”, biasanya saya akan menjawab dengan nada separuh bercanda: “Tentu saja habis ijab kabul. Tapi nggak ada yang saya undang, ya!” Ya, iyalah. Masa saya harus ngundang penonton untuk melihat saya dan suami di malam pertama? Yang bener aja!

Kalo ditanya: “Kapan nikah?”, biasanya saya hanya menjawab: “Ya, doakan saja segera” atau sejenisnya. Apalagi, kebetulan kakak perempuan sudah menikah dan punya empat anak. Adik laki-laki juga sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah.

Saya sendiri masih melajang di atas usia tiga puluh. Apakah situasi ini terdengar sangat familiar?

Sayangnya, jawaban kalem versi saya kadang tidak cukup. Pasti ada saja yang lantas berusaha mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya belum dilamar juga. Yang paling menyakitkan bila keluarga sendiri yang menyerang. Ada tante yang cukup kejam pernah berkomentar begini:

“Kurusin, dong. Kamu mau ‘kan, punya pacar?”

            Sadis banget, ‘kan? Ada juga tante lain yang bilang kalo saja saya berusaha seperti kakak saya (entah apa maksud beliau), mungkin saya akan lebih mudah mendapatkan suami.

Masih soal penampilan, cara berpakaian saya pun dikritik. Lucunya, saya sendiri nggak pernah usil sama gaya berpakaian yang mengkritik. Menurut saya, laki-laki kalo udah beneran cinta pasti nggak akan masalahin bila perempuannya nggak selalu mood ingin dandan. Namanya juga manusia biasa.

Soal kepribadian juga begitu. Ah, itu ‘kan relatif. Hayo, ngaku aja, deh. Pasti pernah bingung ‘kan, kenapa perempuan yang menurut kamu nggak cantik-cantik amat atau kelakuannya nyebelin, tapi malah bisa dapat pasangan yang ganteng dan baik hati. Padahal, bisa aja si laki-laki dikirim Tuhan untuk membuat perempuan itu lebih baik atau laki-laki itu melihat kebaikan lain si perempuan yang belum tentu kelihatan di mata kita.

Ada juga yang lantas langsung mempertanyakan kualitas ibadah si sosok yang belum menikah juga. Pernah dengar atau mengalami sendiri? “Kamu kurang ibadah, kali.” “Kamu pasti kurang puasa/beramal/berbuat baik sama orang/dan lain-lain.” Perkara benar atau salah, siapa juga sih, yang suka dituduh langsung seperti itu? Siapa yang nggak bakalan tersinggung, coba? Memangnya setiap usaha mereka mencari belahan jiwa harus dilaporkan ke kamu sebagai pembuktian belaka?

Intinya, peduli boleh. Jangan sampai menyakiti hati. Daripada selalu usil setengah-mati yang kemudian bikin rusak proses silaturahmi, lebih baik doakan saja mereka dengan baik setiap hari. Harusnya semudah itu. Nggak perlu pakai mem-bully.

Buat yang masih hobi nanya-nanya “Kapan kawin/nikah?” ke saya atau para perempuan lain yang masih lajang, saya ada saran jitu agar kamu nggak bikin orang keki. Selain rajin mendoakan saya dan para perempuan lajang lainnya agar segera dipertemukan dengan belahan jiwa atau diberikan yang terbaik oleh Tuhan, cobalah untuk mulai lebih banyak membaca buku. Jadi, pas kita ketemu, nanyanya nggak yang itu-itu melulu.

R.

(Tulisan ini disertakan untuk lomba menulis dengan tema: #StopTanyaKapan dari Vemale.com .)

http://www.vemale.com/hot-event/96726-lomba-menulis-stoptanyakapan-curahkan-isi-hatimu-di-sini.html

“REUNI SMA TANPA PERUT RATA”

“REUNI SMA TANPA PERUT RATA”

“Ugh…uugh…uuugghh…”

Ah, bedebah. Rok hitam, celana panjang hitam, dan jeans andalanku. Semua tidak ada yang muat. Bagaimana ini? Besok aku mau reuni. Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu mereka.

Sudah terbayang komentar-komentar sadis dan tatapan miris teman-teman SMA-ku dulu.

“Apa kabar? Makin gemuk aja!”

“Ah, dia mah, emang gak pernah kurus dari dulu.”

“Ini udah anak ke berapa?”

Grr…grrrh…grrrhh… Belum apa-apa aku sudah panas duluan. Bisa kubayangkan wajah-wajah mencibir Amanda dan geng para pesoleknya waktu SMA. Huh! Mentang-mentang aku chubby, aku selalu di-bully.

Kutatap bayangan perutku yang jauh dari rata di cermin. Ah, aku harus menyembunyikannya. Tapi, bagaimana caranya?

Apa aku tidak usah datang saja?

“I know what you’re thinking.” Suara bariton Ben mengagetkanku. Lelaki jangkung yang sudah hampir botak itu menghampiriku dan memelukku dari belakang. Kulihat wajah kami berdampingan saat sama-sama menatap cermin. Wajahnya tampak serius.

“Kalau aku temenin, kamu mau datang, ‘kan?”

—***—

Akhirnya, hari yang kutakutkan tiba juga. Mana Ben tetap keukeuh menemaniku ke Reuni 10 Tahun SMA-ku. Begitu deh, kalau kamu menikah dengan psikolog. Kata Ben, aku harus menghadapi semua hantuku di masa lalu, cepat atau lambat.

Iya juga, sih. Tapi…ah, kata orang masa SMA adalah yang paling indah. Bagiku mah, enggak. Sering di-bully, dikatai, diganggu sampai sakit hati. Amanda dan gengnya emang secantik Gadis Sampul, sih. Sayangnya, mereka juga merasa bahwa (dianggap) cantik berarti bisa suka-suka menghina orang lain. Cuih.

“Maaf.” Seorang perempuan tinggi dan…sangat gemuk, bahkan lebih besar dariku, menyenggolku tanpa sengaja. Aku dan Ben lirik-lirikan. Suamiku tersenyum sambil menggenggam tanganku. Hatiku sedikit lebih tenang.

“Damai! Oh, my God,” seru seorang perempuan kriwil gembira. Ternyata dia adalah Cherry, sahabatku waktu sekelas dulu. “Akhirnya kamu datang juga. Kamu cantik banget!”

Kami berpelukan. Kukenalkan dia pada Ben, suamiku. Cherry mengenalkanku pada Edo, suaminya. Kami juga bernostalgia dengan beberapa teman lama, sampai…

“Amanda!”

Deg. Jantungku berdegup lebih keras saat mataku mencari-cari sosok yang sempat menjadi momok masa remajaku.

Dan aku pun melihatnya. Sosok yang dipanggil Amanda itu balas menyahut. Dia adalah seorang perempuan tinggi besar dan sangat gemuk yang bertabrakan denganku barusan.

Oh…

R.

(Jakarta, 15 Juli 2016 – untuk Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta: “Rata/Flat” di Setiabudi One, Kuningan – pukul 20:00)

(Ada juga di: http://csjakartawritersclub.blogspot.co.id/2016/08/reuni-sma-tanpa-perut-rata.html)