“BUNUH DIRI”

BUNUH DIRI:

“Tentang Mereka yang ‘Menyerah’ dan yang Ditinggalkan…”

Masih segar di ingatan saya saat mendengar kabar duka mengenai Tommy Page, salah satu penyanyi pop favorit masa remaja saya, serta video live bunuh diri seorang laki-laki yang sempat menggegerkan hadirin Facebook dan sekitarnya.

Jumat minggu lalu, saya makan siang di salah satu warung langganan saat yang punya memberi kabar mengejutkan:

Ada mahasiswa dari kampus dekat warung yang terjun dari lantai teratas gedung kampusnya malam sebelumnya, sekitar pukul sepuluh. Penyebabnya? Hingga kini saya memilih tidak mau tahu, meski rasa penasaran sempat mendorong saya ke TKP hari itu juga. Penasaran dan mumpung dekat.

Apa yang saya harapkan begitu tiba di sana? Jujur, nyaris tidak ada. Karena kejadiannya malam sebelumnya dan pas jam-jam sepi, pasti penanganannya lebih cepat.

Benar dugaan saya. Nggak ada lagi police line. Semua sudah dibersihkan. Bahkan, dengar-dengar pihak kampus melarang pers memasuki wilayah kampus dan mencari tahu lebih lanjut.

Yang ada hanya desas-desus hingga spekulasi. Kata “bunuh diri” disebut berkali-kali. Ada wajah-wajah bingung bercampur penasaran.

Seperti kasus-kasus serupa, efek domino pun terjadi. Sebagian bisa dibayangkan, sisanya silakan dilihat.

Orang tua, keluarga, dan kawan-kawan dekat mendiang yang bersedih. Kenalan yang nggak begitu dekat dan bertanya-tanya, entah dalam hati atau ke sana kemari.

Lalu, tukang gosip, para spekulator, hingga pembagi opini ‘cuma-cuma’. Nggak bisa dicegah, meski sayangnya…mereka nggak sadar dengan bahayanya. Bolehlah berpendapat dan mengingatkan bahwa bunuh diri itu dosa dalam semua ajaran agama, apa pun alasannya.

Yang bablas adalah para spekulator dan pemberi opini ini blak-blakan menyebut semua pelaku bunuh diri sebagai pendosa berwatak lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Lucunya, kenal aja juga enggak.

Benarkah mahasiswa itu bunuh diri? Entahlah. Kalau dipikir-pikir, ngapain dia selarut malam itu ada di gedung kampus, lantai teratas pula? Ada yang tahu?

Kita nggak pernah benar-benar tahu penyebab bunuh diri seseorang, kecuali bila mereka meninggalkan pesan atau usaha gagal dan mereka dipaksa bercerita. Atau ada ahli medis dan keluarga yang mengetahui lebih jelas sejarah depresi mereka.

Sayangnya, masalah gangguan mental atau depresi masih begitu mudah distigma di sini. Mereka yang dengan entengnya mencerca, terutama di media sosial, sering melupakan satu hal penting ini:

Orang tua, keluarga, dan teman-teman dekat pelaku yang berduka. Bayangkan perasaan mereka saat membaca komentar merendahkan di media sosial mengenai sosok yang mereka sayangi, rindukan, dan mungkin kasihani. Komentar-komentar dari orang-orang yang tidak kenal lagi.

Singkat saja, ya. Kalau belum bisa membayangkan perasaan mereka, sekarang mari kita balik keadaannya:

Bagaimana bila pelaku bunuh diri adalah orang yang Anda kenal (dan mungkin sangat Anda sayangi), lalu Anda membaca komentar-komentar bernada menghakimi serupa di media sosial tentang mereka?

Toh, komentar-komentar itu cuma hanya akan semakin melukai hati mereka yang ditinggalkan. Kenal juga belum tentu.

R.

 

“PEREMPUAN JUGA BERNAMA”

“Perempuan Juga Bernama”

Waktu kecil dan saat ditanya asal-usul saya, saya tanyakan pada Mama:

“Ma, aku orang apa, sih?”

“Bilang aja orang Jawa,” jawab Mama waktu itu. “Papa kamu ‘kan orang Jawa.”

“Tapi Mama ‘kan orang Sunda. Kenapa nggak disebut juga?”

“Kita semua ‘kan ikut Papa.”

Jawaban itu tidak masuk akal dan tidak membuat saya puas. Jadinya, setiap kali ada yang bertanya mengenai asal-usul saya, saya jawab saja: “Jawa-Sunda.”

Begitu pula saat ditanya nama orang tua. Entah kenapa mereka hanya mau tahu nama Papa. Padahal, yang membesarkan saya ‘kan, Papa dan Mama. Kenapa peran Mama kayak nggak dianggap – dan bahkan cenderung dikesampingkan?

Saya pun tetap berkeras menyebut nama kedua ortu setiap kali ditanya tentang mereka, meskipun mereka hanya ingin tahu tentang Papa. Pokoknya, Mama harus dapat tempat yang sama.

Saat bertemu teman-teman yang lebih berwawasan, saya baru tahu makna sebenarnya dari pertanyaan mengenai ‘asal-usul’. Bukan, bukan etnis ortu – tapi tempat kelahiran saya.

Akhirnya, saya menjawab ‘Jakarta’ setiap kali ditanya soal asal-usul saya. Tentu saja, tidak lupa menambahkan etnis ortu. Pasalnya, masih ada saja yang secara otomatis mengira saya orang Betawi, hanya gara-gara jawaban itu. Padahal, ‘kan nggak semua yang lahir di Jakarta otomatis orang Betawi.

Kadang malas berdebat, terutama bila mereka berkeras. Yah, apa boleh buat. Masih banyak yang belum paham dengan konsep ini.

“Bapak Bla-bla-bla dan Istri…Bapak dan Ibu (Nama Suami)…Nyonya (Nama Belakang Suami)…ibu/mamanya (Nama Anak)…”

Lalu, soal nama perempuan.

Oke, saya nggak akan menggugat sesama perempuan yang lebih memilih memakai nama belakang suaminya setelah mereka menikah, seperti adat di Barat. Itu masalah pilihan pribadi. Selama nama depan masih dipakai…ya, okelah.

Ada pengalaman menyedihkan seputar pemanggilan nama perempuan setelah menikah. Mungkin ada yang bangga dan merasa wajar bila dipanggil dengan sebutan Ibu/Nyonya/Mrs. + Nama Lengkap Suami. Hihi, semoga belum sampai lupa nama asli sendiri.

Pernah saya menghadiri acara pertunangan. Saat mengenalkan seluruh anggota keluarga dari dua calon mempelai, kebanyakan yang saya dengar seperti ini:

“Ini om dari pihak ibu calon mempelai, Bapak Bla-bla-bla dan Istri…itu om kedua, Bapak Bla-bla-bla dengan Istri…” Begitu terus.

Selesai acara, saya bertanya (atau lebih tepatnya, menggugat.) Jawaban mereka makin bikin saya sedih:

“Ntar kelamaan.”

“‘Kan yang penting nama bapaknya.”

Yang bikin saya melongo dan makin kecewa: yang menjawab di atas justru SESAMA PEREMPUAN! Aaargh, frustrasiii!! Terus, istri/ibunya anak-anak nggak wajib dikenal juga gitu?

Lantas, apa gunanya anak-anak perempuan yang sudah diberi nama-nama terbaik (sesuai doa orang tua mereka), bila nantinya hanya untuk “dilupakan” begitu saja setelah menikah? Padahal, para ortu pasti sudah memilih nama paling bagus untuk mereka, sama seperti memilih nama untuk anak-anak laki-laki mereka.

Terus, dianggap nggak penting-penting amat untuk dikenalkan ke orang-orang dan diingat, begitu?

Belum lagi saat punya anak. Mungkin ada yang menganggapnya lucu dan merupakan suatu kebanggaan saat disebut “Ibunya Adi”, “Mamanya Bintang”, atau “Emaknya Juli”. Nggak ada yang salah dengan ekspresi rasa sayang dan kebanggaan terhadap anak. Serius.

Tapi saya yakin, bukan itu yang tercantum di akte kelahiran maupun KTP, SIM, atau bahkan paspor mereka. Lalu, apakah anak-anak juga diajarkan untuk mengingat nama ibu mereka dengan benar, bukan hanya nama bapak? Maaf, saya beneran kepo.

Seorang kawan yang awal tahun ini menikah pernah mengkritik hal serupa di FB-nya. (Silakan dibaca dan di-reshare https://www.facebook.com/hera.khaerani/posts/10154326490127688 .) Salah satu pernyataan kawan saya ini benar-benar mengena di hati saya (entah bagaimana dengan hati Anda sekalian):

“Masyarakat tak semestinya membunuh seseorang dengan melupakan namanya.” (Hera Khaerani)

Apa yang salah dengan meluangkan waktu dan kapasitas otak untuk mengenal dan mengingat nama sesama perempuan? Padahal, mereka selalu sudi menyebut, mengenal, dan bahkan menghapal nama-nama laki-laki – bahkan yang panjang-panjang dan bergelar sekali pun.

Lucunya, mereka masih menegaskan mengenai pentingnya menghormati sosok ibu. Yah, salah satu esensi dari menghormati seseorang – siapa pun itu – berawal dari mengenal, menyebut, dan mengingat nama mereka dengan baik dan benar.

Gimana mau benar-benar menghormati sosok ibu, bila meluangkan waktu untuk menyebut dan mengingat namanya saja tidak mau?

Seperti biasa, selamat berpikir. Nggak susah, kok. Sebenarnya sederhana saja, namun sudah terlalu sering disepelekan.

R.

 

 

 

“UNTUK PUJANGGA DENGAN SAJAK-SAJAK INDAHNYA”

“Untuk Pujangga dengan Sajak-sajak Indahnya”

Terlalu malu kusebut namamu

terutama karena kita jarang bertemu

Ah, siapakah aku?

Hanya sosok yang senang belajar selalu

 

Kau tak tahu

wajahmu mulai terpatri di benakku

Mungkin karena sajak-sajak itu

menumbuhkan rasa yang mungkin masih ambigu

atau malah semu dan tabu

 

Untuk saat ini,

aku hanya ingin menikmati sajak-sajakmu

Mungkin aku masih belum berani

berharap lebih dari itu…

 

R.

 

“Nggak Ada yang Salah dengan Perempuan Mandiri”

“Nggak Ada yang Salah dengan Perempuan Mandiri”

Duh, udah 2017 masih ngeributin yang itu-itu juga? Gak capek? Gak maju-maju, dong?

Sebenarnya, sudah lama sekali saya ingin menulis tentang ini. Sejak sering baca komen nyinyir dan ngancem dari mereka yang merasa ‘gentlemen’ di media sosial, namun isi komen mereka justru menyatakan sebaliknya:

“Ya udah, kalo perempuan mau mandiri. Jadi gak butuh laki-laki, nih? Berarti pas nge-date gak akan kita bayarin atau malah kita minta bayarin. Bawa barang berat gak akan kita bantu angkutin. Nggak akan kita bukain pintu atau tarikin kursi pas duduk. Gak akan juga kita anterin pulang pas malem-malem sendirian dan kita juga bakalan diem aja kalo ada preman yang gangguin di jalan. Bisa semuanya sendiri, ‘kan? Trus sah-sah aja dong, kalo kita mukul kalian karena kesel? ‘Kan katanya mo disamain ama laki-laki.”

Wah, wah, wah, ada mahluk (yang katanya) berlogika malah emosi, nih. Apalagi sampai bikin pernyataan berpolemik di media sosial segala:

“Perempuan mandiri itu mengerikan bagi laki-laki.”

Masa? Ngeri di mana-nya, sih? Apakah lantas mereka bertaring dan selalu pengen makan orang, termasuk para laki-laki jantan? Ngeri-an mana sama laki-laki yang selalu memandang perempuan sebagai objek seksual, meskipun pakaiannya udah paling longgar dan ‘tutupan’?

Sedihnya, bahkan dari sesama perempuan masih ada yang ‘termakan’ dengan kepercayaan menyesatkan yang sama:

“Rugi amat mau jadi mandiri. Ntar cowok-cowok pada lari, karena ngerasa gak dibutuhin lagi atau bahkan merasa disaingi. Padahal, enak kalo barang berat selalu dibawain, makan dibayarin, minta apa pun dibeliin – apalagi kalo udah jadi suami. Gak perlu kerja lagi.”

Hmm, sebentar. Ini pada mau cari suami…apa kuli yang juga berfungsi sebagai anjungan tunai mandiri (ATM)? Iya kalo suaminya tajir, sehat selalu, dan gak pelit setengah mati. Gimana kalo suami mendadak di-PHK dan susah cari kerja lain dalam waktu singkat? Gimana kalo suami mendadak ‘ke lain hati’ dan ninggalin Anda sendiri, apalagi bila anak-anak masih kecil-kecil?

Gimana kalo suami jatuh sakit parah, lalu kemudian meninggal dunia? Situ siap?

Terus, maukah para suami rela dirongrong para istri soal uang, meskipun memang menurut ajaran agama suami sebagai pencari nafkah?

“Mikirnya negatif melulu, sih.”

Yah, berpikir positif memang perlu. Tapi, jangan lupa juga untuk tetap realistis. Ini bukan cerita dongeng di mana cinta selalu mengalahkan segala prahara di rumah tangga, termasuk mahalnya biaya hingga munculnya pihak ketiga. Nikah nggak semata-mata menyelesaikan masalah finansial, alias happy ending lalu udah.

Yang salah dari perempuan mandiri? Gak ada. Saya malah bingung sama mereka yang merasa terancam dan ketakutan setengah mati.

Kenapa istilah ‘mandiri’ lantas otomatis disamakan dengan ‘menjadi manusia super’ atau ‘menjadi sosok yang nggak butuh orang lain sama sekali’? Manusia pada dasarnya saling membutuhkan, sekecil apa pun itu. Nggak peduli laki-laki atau perempuan.

Nggak usah jauh-jauh. Contoh: tukang bangunan yang rata-rata laki-laki kekar juga nggak ada yang 100 persen kerja sendirian. Jadi, ada apa dengan obsesi mustahil untuk kelihatan bagai superhero begini? Tuntutan masyarakat?

Yakin situ gak capek terus-terusan menyiksa diri, hanya demi memenuhi standar sosial yang belum tentu ada yang bisa memenuhi? Boro-boro sempurna, mendekati saja mustahil. Mungkin ada perempuan yang menolak bantuan atau tawaran membayar dari laki-laki. Ya udah, nggak usah maksa. Cukup cari perempuan lain yang mau. Pasti masih ada, kok.

Nggak perlu bete, terus nyinyir karena ngambek. Nggak perlu ngancem-ngancem atau juga nakut-nakutin segala, seperti bakalan susah dapet pacar atau ‘berat jodoh’ (bila kebetulan si perempuan masih single). Biarlah memvonis takdir seseorang cukup jadi kerjaan Tuhan. Anda nggak perlu ikutan.

Stereotyping negatif selalu menyakitkan buat semua orang. Pasti pada gak terima dong ya, kalo ada perempuan yang menuduh bahwa semua laki-laki itu pasti bajingan – hanya karena ada segelintir yang pernah menyakitinya? Pasti argumen yang sering keluar adalah: “Gak semua laki-laki gitu, kok.”

Nah, biarlah saya pakai cara serupa. Nggak semua perempuan mandiri akan menyepelekan atau nggak menghargai bantuan dari laki-laki atau siapa pun. Nggak usah sampai segitunya takut nggak dibutuhin lagi, deh. Kalau sampai ada orang yang kayak begitu (laki-laki maupun perempuan), kemungkinan besar mereka masih terjebak paham sesat bahwa mandiri berarti nggak butuh orang lain.

Menjadi sosok mandiri adalah hak sekaligus pilihan bagi setiap orang, siapa pun Anda. Lagipula enak kok, sama orang yang mandiri. Mereka nggak bakalan terlalu sering manja dan merepotkan orang lain. Mereka nggak akan mudah cari drama hanya karena merasa ‘kurang diperhatikan’.

Mereka bahkan akan senang membantu bila ada waktu luang dan Anda tidak keberatan. (Lumayan ‘kan, bisa istirahat barang sebentar?) Menjadi mandiri juga bukan berarti mereka bisa segalanya, kok. Mana mungkin ada manusia se-sempurna itu?

Percaya deh, sekalinya minta bantuan, berarti mereka memang sedang benar-benar butuh – bukan sekadar manja atau bahkan azas manfaat.

Makanya, nggak disarankan juga bagi perempuan untuk keterusan berperan sebagai ‘damsels-in-distress’. Salah-salah hidup Anda bisa cepat kelar, apalagi bila bantuan belum tentu selalu ada di tempat.

“Tapi laki ‘kan, suka minder sama perempuan yang lebih cerdas dan mandiri. Kenapa nggak pura-pura aja sih, seenggaknya untuk menyenangkan hati mereka?”

Waduh, ini lagi. Apa maksudnya dengan ‘pura-pura’? Berhenti jadi diri sendiri? Berlagak manja dan nggak tahu apa-apa, hanya agar selalu dilindungi?

Mau berapa lama pura-pura kayak gitu, hanya agar laki-laki yang disukai senang? Sampai kalian menikah dan punya anak? Alangkah ganjilnya bila kemudian Anda mengajari anak untuk tidak berbohong, karena Anda sendiri memulai hubungan sama bapak mereka dulu dengan kebohongan?

Alamat stres seumur hidup karena kesannya jadi merendahkan diri sendiri.

Ingin merasa dibutuhkan? Sebenarnya gampang, kok.

1. Nggak usah nunggu dimintain tolong, tapi tawarkan bantuan duluan.

Gimana kalo si perempuan menolak? Nggak usah marah. Perhatian atau sayang boleh, tapi nggak perlu sampai memperlakukan perempuan bak barang pecah belah. Selama dia masih bisa, kenapa harus membatasi?

Bantuan terbaik yang dibutuhkan perempuan mandiri sebenarnya berupa dukungan, keyakinan bahwa dia bisa melakukan banyak hal. Percaya deh, akan ada masanya perempuan mandiri minta tolong…dan itu bukan karena akhirnya mengakui kelemahan mereka. Namanya juga manusia, pasti Anda juga pernah begitu, ‘kan?

2. Pastikan nggak ada MODUS TERSELUBUNG di balik sikap ‘gentlemen’ yang sebenarnya berpotensi merugikan semua pihak.

Contoh ekstrim: seorang teman perempuan pernah pacaran dengan laki-laki ini. Waktu jadian, pacarnya royal setengah mati. Hobi mentraktir dan membelikannya macam-macam, meskipun teman tidak pernah meminta.

Sayangnya, laki-laki ini kemudian berubah jadi tukang ngatur dan maksa. Teman saya nggak boleh keseringan nongkrong-lah sama teman-temannya, nggak boleh terlalu dekat sama si A, nggak boleh inilah…

Merasa tertekan dan tersiksa, teman saya akhirnya memutuskan hubungan. Merasa sakit hati, mantannya lalu mengirimkan tumpukan bon alias tagihan dari semua yang pernah dia bayarkan sewaktu mereka masih pacaran. Katanya semua itu utang yang harus dikembalikan teman saya.

Nggak hanya itu, si mantan pun menyebar gosip jelek tentang teman. Bersyukurlah dia, karena teman memilih sama sekali nggak meladeni. Bahkan, dari situ teman bisa tahu, mana yang mudah terhasut dan mana pihak yang benar-benar teman sejati.

Apakah akhirnya teman saya membayar? Ya, meskipun akhirnya ditolak juga uangnya sama si mantan, dengan alasan: “Udah, sumbangin aja.” Taktik manipulasi psikologis gara-gara sakit hati akibat diputusin.

“Kurang baik apa gue coba ama itu cewek?” Serius, nih? Dari mana Anda tahu Anda memang benar sebaik itu? Apakah karena semua yang telah Anda berikan, namun balasannya ternyata di luar harapan?

Kecewa itu manusiawi. Namun, apa pun yang terjadi, mengeluh demikian secara terang-terangan (apalagi di media sosial) sama sekali nggak akan membuat Anda terlihat dan terdengar lebih baik, Tuan-tuan. Jadinya malah sombong dan menyedihkan, karena memang manusia pun banyak kekurangan. Anggap saja kalian berdua memang bukan jodoh dan…ya, sudah. Let it go.

3. Jika tawaran diterima atau sudah dimintai bantuan, jangan lantas jadi jumawa maupun meremehkan.

Niat baik saja ternyata nggak cukup, karena penyampaian yang menyinggung juga berpotensi membuat Anda terdengar menyebalkan:

“Aku anterin pulang, deh. Perempuan gak baik pulang sendirian malem-malem. Ntar dilecehin di jalan, lho.” (Ingat, ucapan adalah doa. Gak usah nyumpahin gitu.)

“Kamu aja deh, yang duduk. Perempuan ‘kan, mahluk lemah, cepet capek.” (Sumpah, rasanya pengen mencabut kursi bus atau kereta dan melayangkannya ke muka Anda…andai saja saya sekuat Hulk. Hehe.)

“Aku udah nolongin kamu, lho. Jangan lupa, belum tentu kamu bisa apa-apa kalo waktu itu gak ada aku.” (Maunya apa, upacara penghargaan khusus? Ucapan terima kasih aja masih kurang, Mas?)

Padahal, bantuan Anda justru mungkin akan lebih diterima dengan manis tanpa harus ada ’embel-embel’ merendahkan seperti contoh-contoh di atas:

“Aku anterin pulang ya, mumpung searah/lagi ada mobil/bisa bareng? Biar sekalian ada temen ngobrol di jalan.”

“Duduk aja dulu. Aku nggak apa-apa. Mumpung ada kursi.”

“Syukurlah waktu itu aku bisa bantu. Masih perlu bantuan lagi?”

Nah, lebih enak didengar, ‘kan? Jangan lupa senyum manis tapi tulus, siapa tahu perempuan mandiri incaran Anda luluh dan menghargai tawaran Anda. Kalau mereka tetap nggak mau? Ya udah, lewat aja. Perkara selesai, nggak perlu pake drama. Nggak perlu ngomong macem-macem ke orang lain tentang penolakan mereka.

Kalau sudah dimintai tolong juga jangan ogah-ogahan dan bahkan meremehkan urusan perempuan – menganggap kebutuhannya nggak sepenting kebutuhan Anda. Cukup bilang nggak bisa atau lagi capek kalau memang demikian adanya. Jangan lantas membantu setengah hati, tapi sambil ngedumel:

“Dasar perempuan, mintanya macam-macam.”

Kalau begitu caranya, jangan heran bila lama-lama semua perempuan malas minta tolong maupun tergantung sama Anda. Mending mereka minta sama yang lain atau mencoba sendiri.

Udah deh, ngapain hari gini masih nyinyir dan merasa terancam sama perempuan mandiri? Setiap orang punya kelebihan dan kekuatannya masing-masing, kok. Gak usah nakut-nakutin mereka dengan ancaman “Ntar cowok ngeri, lho!” Justru, laki-laki yang ngeri sama mereka memang nggak sepadan.

Ingat, doa yang baik kadang jauh lebih manjur untuk melindungi perempuan daripada bersikap seperti pengawal pribadi hampir 24 jam atau bahkan yang lebih parah – membatasi ruang gerak mereka dan melarang mereka melakukan apa-apa. Mereka manusia juga lho, bukan properti yang harus dikurung di lemari besi.

R.

 

“BUKAN KAMBING CONGEK, PAJANGAN HIDUP, ATAU OBAT NYAMUK”

“Bukan Kambing Congek, Pajangan Hidup, atau Obat Nyamuk”

Mayoritas teman-teman sudah berpasangan, sementara Anda masih sendirian? Bila kurang percaya diri, bisa-bisa Anda merasa kesepian – alias feeling left out kalau dalam bahasa Inggris.

Apalagi saat mereka ngajakin ketemuan atau nongkrong bareng, misalnya: dalam rangka mengenalkan pasangan mereka. Kalau asli sudah putus asa, mungkin Anda akan buru-buru cari gebetan – atau minimal memohon-mohon pada sahabat gay Anda agar sudi jadi “pacar gadungan”. (Oke, ini menyedihkan.)

Habis mau bagaimana lagi? Julukan untuk mereka dalam situasi ini juga nggak kalah ‘mengenaskan’.

Entah dari mana julukan kambing congek buat si lajang yang lagi ngumpul sama teman-teman mereka yang sudah berpasangan. Padahal, saya tahu saya bukan kambing dan termasuk rajin membersihkan telinga. (Ewww, gak usah ampe detil gini, kaleee!)

Julukan lain: pajangan hidupNah, mengingat saya termasuk yang nggak bisa diam, kayaknya julukan ini juga nggak cocok buat saya.

Lalu, bagaimana dengan obat nyamuk? Nah, ini jauh lebih ajaib lagi. Gimana mau jadi obat nyamuk, kalau darah saya termasuk menu favorit para vampir kecil bersayap ini?

Mungkin ada beberapa teman yang pernah punya pengalaman nggak enak seputar nongkrong bareng teman dan pasangan mereka pas lagi lajang. Pasangan di depan Anda malah sibuk mesra-mesraan, sementara Anda… *krik krik* ibarat pajangan. *krik krik*

Tapi, masa iya sih, harus selalu kayak begitu? Kalau mereka memang benar-benar teman yang baik, masa ngajak Anda ketemuan hanya buat jadi penonton? Mereka pasti juga akan meluangkan waktu mengobrol dengan Anda, termasuk mengajak Anda dan pacar saling mengenal. (Meski mungkin ada yang diam-diam ketar-ketir, takut malah salah kecantol. Hihihihi…)

Jangan lupa, Anda sendiri juga harus proaktif sekaligus jaga sikap. Jangan lantas diam saja karena merasa canggung. Ada kok, cara mainnya biar nggak berasa kambing congek, pajangan hidup, atau pun obat nyamuk:

1. Bila Anda memang sama-sama sudah berteman dengan mereka berdua, cukup bersikap biasa saja.

Anggap saja sedang nongkrong dengan dua teman yang kebetulan berpasangan. Ini jauh paling mudah daripada beberapa situasi lain berikutnya.

2. Selama pacar termasuk ramah dan tidak mudah cemburuan, harusnya sih, nggak masalah.

Apalagi niat si teman untuk mengenalkan pasangannya. Mengobrollah dengan mereka berdua, jangan hanya dengan teman saja. Justru Anda bisa mulai mengenal sosok yang sedang membahagiakan teman Anda ini. Siapa tahu, akhirnya Anda bisa berteman dengan mereka berdua.

3. Respek itu penting.

– Jika teman perempuan:

Oke, saya ambil contoh sederhana dari sudut pandang perempuan. Bila teman Anda juga perempuan, jangan sekali-sekali flirting dengan pacarnya – meski niatnya hanya bercanda. Bersikap ramah boleh, namun jangan berlebihan saat memuji si pacar. Misalnya: “Kamu ganteng banget deh, makanya temenku suka. Kamu mirip…” (menyebut nama seleb)

Jangan juga berusaha mencuri-curi saat bersentuhan dengannya, meskipun hanya ‘nggak sengaja nabrak’ atau bersalaman terlalu lama. Ingat, persahabatan jadi taruhan!

Kalau pacar teman ternyata ganjenan? Jangan mau ditinggal berdua, meskipun diam-diam Anda suka. Nggak perlu juga mengadu ke teman, karena khawatir salah paham. Biarlah teman akan tahu dengan sendirinya nanti.

– Jika teman laki-laki:

Kalau teman laki-laki? Jagalah perasaan pacar, apalagi bila sang pacar termasuk yang mudah cemburuan. Meskipun mungkin Anda sudah dekat dengan sahabat layaknya saudara, hindari saling memanggil dengan julukan ‘sayang’. Jangan terlalu banyak bersentuhan di depannya, karena sang pacar bisa langsung menganggap Anda sebagai ‘ancaman’.

Berusahalah mengenal pacar si teman. Namun bila tanggapannya ‘dingin’, nggak perlu memaksakan diri. Salah-salah Anda malah dianggap mau cari muka lagi.

4. Jangan memaksakan diri nongkrong bareng mereka berdua bila Anda baru saja putus.

Tunggulah hingga perasaan Anda ‘netral’ kembali (atau mungkin sudah punya pasangan lagi). Emosi yang masih labil rentan bikin Anda bete saat melihat kedekatan teman dan pasangannya, meskipun jelas-jelas mereka nggak ada maksud bikin Anda iri setengah mati.

Kalau yakin masih kuat? Lanjut.

5. Pastikan Anda tidak sedang naksir salah satu dari mereka.

Oke, lagi-lagi ini dari sudut pandang perempuan. Misalnya: Anda sudah mengenal sahabat perempuan dan pacarnya, namun diam-diam jatuh cinta dengan sang pacar. Atau ada rasa nggak rela saat sahabat laki-laki Anda bersanding dengan perempuan pilihannya…yang ternyata bukan Anda. Yakin mau nyiksa diri? Kalau masih kuat, lanjut.

Di sini Anda harus tegas sama diri sendiri (bukan hanya tega, ya.) Milih persahabatan atau menuruti perasaan yang belum tentu bertahan lama? Apalagi bila sahabat selama ini sudah banyak berbuat baik pada Anda. Yakin mau bikin drama dengan mencoba merayu pacarnya/menyatakan perasaan pada sahabat laki-laki saat dia sudah punya pacar?

6. Nggak perlu buru-buru cari pasangan, hanya biar nggak kalah sama teman.

Nggak usah takut merasa ketinggalan. Ini bukan balapan. Justru, inilah saatnya Anda menjadi sosok lajang yang berkualitas dengan rasa percaya diri yang tinggi, alias nggak minta dikasihani. Anda nggak takut ‘menonjol’ di antara teman-teman yang sudah berpasangan.

Bahkan, Anda cukup tegar dengan mengacuhkan cemoohan mereka yang bertanya-tanya, kok Anda masih sendirian aja?

Bukan nggak mungkin ada yang malah akan mengajak Anda kenalan atau mungkin teman dan pacarnya berusaha menjodohkan Anda dengan kenalan mereka yang sama-sama masih single. Kenapa enggak? Siapa tahu ada yang cocok. Kita nggak pernah tahu, ‘kan?

7. Berkaca dari interaksi teman dan pasangan di depan mata, Anda bisa belajar mempersiapkan diri untuk hubungan berikutnya.

Merasa baper karena melihat teman mendapatkan perlakuan romantis dari sang pacar? Jangan. Justru Anda bisa berkaca dari mereka, sehingga tahu persis hubungan macam apa yang Anda inginkan berikutnya. Sementara itu, Anda masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi sosok yang lebih baik saat ‘si dia’ datang ke dalam kehidupan Anda…siapa pun orangnya.

Nggak perlu menghindar dengan beragam alasan saat diajak nongkrong bareng teman dan pasangannya, cuma gara-gara Anda masih sendiri. Anda bisa kok, tetap ikut berbahagia melihat teman bahagia, meskipun belum ikutan ‘berdua’. Selama masih tahu cara membawa diri dan menjaga sikap, nggak perlu lagi merasa bagai kambing congek, pajangan hidup, maupun obat nyamuk.

R.

 

 

“MONSTER-MONSTER BERWUJUD MANUSIA”

“Monster-monster Berwujud Manusia”

Monster-monster itu berwujud manusia

Mereka sangat nyata

Wajah jauh dari seram,

namun laku lebih kejam

 

Mereka gemar memangsa

Korbannya siapa saja

tidak pandang bulu, selama ada

Selalu ada niat dan rencana

 

Mereka rajin berganti rupa

munafik luar biasa

Setelah memangsa

akan mundur dan puas tertawa

 

Mereka buas di mata dan jiwa

selalu menuding korban mereka

barang rusak atau sampah

tak lagi berguna di dunia

 

Haruskah bersembunyi di rumah,

seperti mereka yang memilih kalah?

Tidak!

Justru para monster itulah yang harus dipenjara

agar tidak lagi menyakiti siapa-siapa…

 

R.

 

“BESAR PASAK DARIPADA TIANG”

“Besar Pasak Daripada Tiang” (Tantangan Menulis Kontenesia Gathering, 19 Februari 2017)

Dulu saya sempat berjanji pada kru redaksi Kontenesia. Janji apa? Saya akan mem-posting tantangan menulis lucu-lucuan ini waktu di Jogja.

Namun, catatan kemarin sempat hilang. Berdasarkan ingatan, inilah tantangan menulis lucu-lucuan yang sempat saya lakukan bareng Saudara Adi waktu itu:

“Besar Pasak Daripada Tiang”

(Dua orang baru saja dinobatkan sebagai pemburu vampir. Tugas perdana mereka? Membasmi pasukan vampir yang menguasai satu kota. Namun, malam itu keduanya sibuk berdebat perihal penggunaan senjata.)

Adi: “Kita pake tiang aja.”

Ruby: “Apa? Nggak salah, tuh? Mending pake pasak aja.”

Adi: “Ah, ngapain? Tiang lebih gampang ditemukan. Lebih panjang pula.”

Ruby: “Tapi pasak lebih besar.”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

(Sayangnya, pertengkaran mereka terdengar oleh pasukan vampir. Kedua pemburu vampir itu pun tewas mengenaskan…bahkan sebelum melaksanakan tugas perdana mereka. Semuanya gara-gara mereka sibuk meributkan senjata apa yang mau mereka gunakan: pasak apa tiang?)

Sekian.

Garing? Biarin. Kadang ini yang bisa didapat dari mengikuti tantangan menulis selama 30 menit. Tapi, waktu itu sih, kami cukup bikin ketawa para kru redaksi.

Ingin tahu kami bisa menulis apa lagi? Tenang, tidak hanya lelucon jayus. Kami juga bisa menulis yang serius. Cek saja website kami di http://kontenesia.com/.

R.

 

“SENDIRIAN VERSUS BARENGAN”

“SENDIRIAN VERSUS BARENGAN: Mau Mandiri atau Main Tunggu-tungguan?”

Dalam perjalanan ke bioskop terdekat, saya papasan sama teman dan pacarnya. Kami pun terlibat dalam percakapan ini:

Teman: “Mo kemana?”

Saya: “Nonton.”

Teman: “Nonton apaan?”

Saya: (menyebutkan judul film)

Teman: (sumringah) “Wah, aku juga mo nonton itu sebenernya.” (langsung nyenggol dan berpaling pada pacarnya) “Tapi dia gak mo nonton itu, sih.”

Pacar: (nyengir)

Teman: (melihat saya) “Mo nonton ama siapa?”

Saya: “Sendiri.”

Teman: (kaget) “Kok sendiri?”

Oke, adegannya saya pause dulu sampai sini, ya. Ntar lanjut lagi.

Pasti sudah banyak yang membahas ini di artikel-artikel lainnya. Saya sendiri pernah menulis tentang ini di sini. Seorang teman dengan blog film-nya, Distopiana, juga pernah menulis hal serupa.

Kenapa, ya? Apa yang salah dengan melakukan apa-apa sendirian? Lagipula juga nggak ganggu orang. Hak asasi pribadi lho, sama kayak bernapas.

Entah kenapa banyak yang langsung memandang saya dengan aneh – atau bahkan terang-terangan menganggap kebiasaan ini menyedihkan, kayak yang bersangkutan nggak punya teman sama sekali.

Oke, sekarang kita lanjutkan lagi sisa obrolan tadi:

Saya: “Iya, sendiri.”

Teman: “Minggu depan aja, deh. Aku gak bisa kalo sekarang atau weekend ini.”

Saya: (menaikkan sebelah alis) “Aku bisanya sekarang.”

Teman: (tampak kecewa) “Oh, oke. Met nonton kalo gitu.”

Bisa dibilang, saya suka menjaga keseimbangan sebisa mungkin dalam hal ini. Nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa saya anak tengah. Ada kalanya saya memang ingin bersenang-senang dengan orang lain atau sekelompok orang, seperti: keluarga, teman, atau siapa saja.

Ada kalanya saya hanya ingin melakukan sesuatu sendirian dan rasanya seru juga. Lagipula, kalo dipikir-pikir, nonton film di bioskop sendirian juga nyaman. Kenapa harus selalu menunggu teman? Toh, pas film diputar, kita akan sibuk dengan alam pikiran masing-masing saat menonton. Kalo ngobrol mah, namanya ganggu penonton lain. (Ini juga etiket yang entah kenapa masih belum juga dipahami mayoritas penonton Indonesia, sayangnya.)

Kalo mo nonton sambil ngobrol mah, mending di rumah aja. Nunggu film itu keluar di saluran berbayar macam HBO atau TV lokal (iya kalo ditayangin).Cari DVD ori (kalo ada budget dan bila Anda sangat menghargai karya seni) atau bajakan – atau ngunduh sekalian yang gratisan kalo emang udah nggak sabaran. (Risiko tanggung sendiri, seperti biasa.)

“Tapi ‘kan lebih seru kalo abis nonton langsung ada temen yang bisa diajak diskusi soal film itu.”

Hmm, mungkin itu menurut Anda. Terserah, sih. Tiap orang ‘kan, beda-beda. Termasuk saya. Mungkin saja ada yang tidak merasakan hal itu sebagai kebutuhan yang sangat mendesak.

Butuh banget diskusi sama teman? Nontonnya juga nggak perlu selalu barengan. Bisa aja Anda nonton sekarang sementara besok giliran teman, terus pas ketemu langsung diskusi, deh.

Salah satu yang kadang bikin saya segan saat harus melakukan sesuatu barengan orang lain adalah…perkara main tunggu-tungguan. Ya, nunggu semua teman segeng punya waktu luang di saat yang sama. Nunggu si dia lagi nggak sibuk.

Nunggu ada yang mau nemenin…

Apa iya semua harus kayak gitu? Apalagi bila misalnya selera hiburan Anda termasuk minoritas. Teman-teman segeng lebih suka K-Pop, sementara Anda sukanya musik indie. Si dia ogah diajak nonton musikal, sementara Anda muak nemenin dia nonton film action yang premis ceritanya begitu-begitu aja.

Selain itu, bayangin juga bila Anda sudah janjian sama mereka, entah itu untuk nonton bareng atau cuma ketemuan. Ehh, di saat-saat terakhir mereka malah batal datang. Masih bagus kalo ngabarin atau ngasih alasan.

Kalo enggak? Tinggal coret nama mereka dari daftar undangan, apalagi bila keseringan. Tunggu aja mereka ngabarin bila udah nggak sibuk lagi. Gitu aja, nggak usah pake drama.

Paling parah bila Anda sudah kepalang beli tiket. Meskipun misalnya mereka janji akan mengganti duit yang terlanjur hilang, tetap saja menjengkelkan.

Bila acaranya memang benar-benar yang ingin Anda tonton, apakah lantas nggak jadi cuma gara-gara “nggak ada yang nemenin”? Justru malah Anda yang rugi.

Takut garing atau mati gaya? Justru ini saat Anda bisa fokus total sama yang Anda tonton. Nggak perlu keganggu sama temen yang suka komentar atau nyalain hape yang sinar di layarnya bisa bikin sakit mata dan Anda jadi ingin membanting hape mereka ke lantai.

Nggak perlu keganggu pas si dia mendadak ngajak ngobrol atau… (*silakan isi sendiri, saya malah ngeri, hihihi*) Bukannya sok moralis ya, tapi saya bukan orang yang rela buang-buang duit dengan niat nonton film di bioskop…buntutnya malah “bikin adegan film sendiri”. Males banget.

Selain itu, Anda pegang kendali penuh atas hiburan yang Anda inginkan hari itu. Nggak perlu kalah suara sama teman-teman segeng soal selera. Nggak perlu berdebat dengan si dia soal genre pilihan.

Dengan kata lain, ini hari bebas konflik. Silakan puas-puasin memanjakan diri. Nggak perlu tergantung atau menuruti siapa saja (kadang dengan setengah hati, dengan alasan nggak mau ribut atau dicap perusak suasana alias “nggak asyik”.)

Lagipula, kalo merasa bahwa menghabiskan waktu dengan diri sendiri adalah menyedihkan, bayangkan anggapan mereka yang menghabiskan waktu dengan Anda.

Ya, persis.

R.

 

“CERMIN UNTUK SANG PRIMADONA”

“Cermin untuk Sang Primadona”

Terkejutlah, wahai sang primadona

kau yang gemar pura-pura

berlagak bersahaja

hanya agar dikagumi semua

namun dusta adanya

 

Ada tipu dalam senyummu

Sikap manis yang palsu

Kau kira kau begitu lucu

setiap kali merendahkanku

 

Aku tak heran, wahai primadona

Aku sudah biasa dihina

termasuk dianggap perasa

Lama-lama aku diam saja

 

Akan ada masa

tabirmu tersibak sempurna

di depan mereka semua

yang melihatmu apa adanya

 

Ah, sekian saja

Ternyata kau punya cacat yang sama

Selamat berkaca

Aku bahkan tak lagi perlu berucap apa-apa…

 

R.

 

“5 ALASAN SAYA BUKAN FASHION BLOGGER”

Fashion? Saya? Mungkin yang sudah kenal dan pernah melihat saya tidak akan percaya. Mungkin ada juga yang berharap bahwa akhirnya – sebagai perempuan – saya mulai lebih peduli penampilan. Tapi…ah, kenapa sih, harus selalu dikaitkan dengan ‘perempuan’?

Oke, memang perempuan rata-rata suka dandan dan peduli penampilan. Nggak cuma food blogger, fashion blogger juga banyak. Apakah lantas saya juga wajib ikutan?

Inilah lima (5) alasan saya bukan fashion blogger:

1. Saya memang aslinya nggak gitu suka dandan.

Kapan saya pernah kelihatan dandan? Saat kerja, acara formal, atau ke kawinan. Nge-date mungkin termasuk, meski tergantung jenis acaranya.

Gara-gara pada jarang melihat saya dandan, banyak yang minta: “Tiap hari kayak gini, dong. Biar cantik.” (Hiks, jadi kalo enggak berarti enggak cantik, dong? *baper kumat* )

Alamat bisa telat ngantor dan kurang tidur kalau mau dandan maksimal seperti yang mereka minta kalau tiap hari. Mungkin banyak perempuan lain yang tidak keberatan dan itu terserah mereka. Tapi saya…

 

2. Saya chubby, tomboy, dan…sempet minder.

Dulu sih, fashion untuk kategori XL belum semarak dan semodis sekarang. Pilihannya masih sangat terbatas. Makanya, saya sempat malas belanja pakaian, kecuali kalau memang udah kepaksa banget. Misalnya:

  • Baju lama udah kesempitan. (Hiks, selalu malu mengakuinya.)
  • Warnanya sudah pudar dan kainnya menipis. (Alamat “turun pangkat” jadi baju tidur.)
  • Rusak atau robek.
  • Mulai diprotes banyak orang: “Perasaan baju lo itu-itu terus, deh. Nggak ada yang lain apa?” (Beliin-lah, jangan cuma protes doang. Hehehe.)

Kebetulan, saya juga tomboy. Lebih suka pakai kaos dan celana panjang (yah, meski sekarang mulai sedikit lebih kompromi). Dulu suka kesal saat ke bagian pakaian perempuan dan nggak nemu ukuran saya.

Solusinya? Beli baju laki-laki atau pinjam punya adik yang sudah lama tidak dipakai. Tapi, lama-lama adik protes: “Beli sendiri-lah!” Kakak perempuan juga sama: “Jangan pake baju cowok terus, dong!”

Solusi dari Mama? Beli kain dari toko lalu ke penjahit langganan. Selain itu, lebih banyak berburu barang di distro atau ITC.

From: dreamstime.com

3. Saya memang nggak suka belanja baju maupun ke salon.

Saya lebih tertarik ke bazaar buku murah daripada midnight sale. Yang bikin kesel, komentar-komentar yang muncul seperti ini:

“Kok aneh, ya? Padahal elo ‘kan cewek.”

Begitu pula soal ke salon. Kalau nggak kepaksa banget, mendingan nggak usah. (Catatan: Jangan pernah sekali pun menyuruh saya bereksperimen seperti ini: meluruskan/mengecat rambut dan mencabut alis. Lebih baik cabut geraham bungsu daripada cabut alis dan merusak tekstur rambut. TITIK.)

Padahal, nggak lantas saya langsung berganti kelamin ‘kan, hanya gara-gara nggak suka dua kegiatan itu? Memang, kadang manusia suka aneh. Ngakunya menerima perbedaan, tapi giliran tahu soal ini, saya langsung dianggap ‘ajaib’. Padahal ini soal selera, kayak hobi dan makanan favorit.

4. Saya lebih suka sepatu keds dan sandal daripada high heels. Saya bakalan lebih memilih ransel atau tas besar sesuai keperluan.

Entah siapa yang mula-mula punya ide gila bernama sepatu hak tinggi dan menyebar paham bahwa perempuan pasti akan terlihat lebih cantik dan seksi saat memakainya. Bahkan, dengar-dengar malah bangsawan laki-laki di Prancis dulu memakainya atas nama simbol status.

Padahal, lama-lama sepatu high heels amat menyiksa, apalagi yang model stiletto. (Cocok buat senjata pembunuhan. Serius. Tonton aja “Single White Female” kalo nggak percaya.) Selain berisiko kecelakaan saat lari, susah jalan, hingga hak yang tersangkut di lubang trotoar, ini dia daftar beberapa gangguan kesehatan kaki akibat kelamaan memakai high heels:

  • Tumit pecah-pecah
  • Jari-jari kapalan
  • Kuku kaki mudah retak
  • Nyeri sendi
  • Kemungkinan terkena varises di usia senja

Dengan kata lain: seksi di mananya? Mau itu bikinan si Juragan Jimmy atau Mas Manolo yang harganya sampai berdigit-digit itu, tetap saja saya ngeri bila harus memakainya dalam waktu lama.

Hehe, kayak saya sanggup beli aja…

5. Sudah banyak fashion blogger lain yang lebih keren.

Contohnya? Silakan cek punya teman saya: Talkative Tya atau beberapa fashion blogger kece lainnya di sini: https://www.hitsss.com/ini-dia-10-fashion-bloggers-influencers-indonesia-nan-stylish-dan-populer-bagian-1/.

Jadi, kalau mau cari tips seputar penampilan atau review produk kosmetik terbaru, jangan di sini, ya.

R.