“‘TIDAK’ ARTINYA ‘TIDAK'”

‘Tidak’ Artinya Tidak”

Mata menerawang

jauh ke depan

Sosok familiar

berubah total

menjawab tantangan

demi rasa penasaran

 

Tubuh (di)rusak

Jiwa berontak

sebelum total (di)rombak

Hilang pegangan

Tiada yang aman

terlambat menolak

 

“Yang penting senang.”

Benarkah demikian?

Dia yang untung

Kau yang buntung

Ikuti maunya

berakhir terluka

 

Cinta?

Ah, tidak juga

Dia pura-pura

Kau tidak tahu apa-apa

Berikan semua

tapi belum tentu menerima

 

Dia akan pergi

Kau kembali sendiri

Banyak yang baru

dan kau akan tergugu

Dunia tak mau tahu

hanya menganggapmu

murahan dan dungu

 

Tinggal rasa benci

Tiada sisa lagi

Masihkah harga diri

dengan tubuh ini?

Dia tak peduli

banyak yang sakit hati

 

Mata selesai

menerawang dengan ngeri

Oh, prediksi

Diri terselamatkan Ilahi

dari mahluk tak tahu diri

budak birahi

 

Tataplah dia

Usahakan tak tergoda

Katakan “Tidak!”

dengan tegas dan apa adanya

Jika dia murka,

tinggalkan saja

 

Kau terlalu berharga

Dia begitu hina

Lebih baik cari yang lain saja

Daripada dengannya,

berakhir sia-sia

bahkan terseret ke neraka…

 

R.

 

“SEKADAR CANTIK?”

“Sekadar Cantik?”

Jujur, kalau soal tokoh perempuan, saya lebih suka membaca media luar ketimbang media lokal. Ya, meski media luar masih sama juga – tidak bisa lepas dari pakem ‘super basi’ yang mereka gunakan dalam menggambarkan tokoh perempuan yang mereka liput. Apalagi di dunia hiburan.

Okelah, memang sulit mengelak gambaran fisik bila temanya dunia hiburan. Contohnya, fashion dan runway. Pasti supermodel disebut ganteng atau cantik.

Lalu, kenapa untuk tema-tema lainnya, seperti: figur politik, sosial, hukum, dan bahkan olahraga – tokoh perempuan yang kebetulan langsing, terlihat anggun dan elegan harus disematkan embel-embel ‘cantik’ selalu, padahal isi beritanya bukan itu?

Beberapa kali saya pernah menyinggung hal ini dengan beberapa orang yang saya kenal. Sayangnya, reaksi mereka kurang menyenangkan. Nggak hanya nggak sepakat (nggak maksa juga sih, saya), mereka langsung menganggap saya aneh, lebay (berlebihan), hingga – yang paling lazim keluar – sirik.

“Ah, itu mah, udah biasa kali. Kenapa dimasalahin?”

“Namanya juga cewek. Pasti seneng dong, kalo dianggep cantik. Emang lo gak suka?”

“Elo aja kali yang sirik, karena nggak ada yang bilang elo cantik!”

Begitulah. Karena sudah terbiasa, lama-lama dianggap wajar dan nggak apa-apa. Namanya juga pemikiran yang “sangat sederhana”. Siapa pun bisa.

Ada yang salah dengan pujian ‘cantik’? Sama sekali tidak. Cantik itu pujian yang baik untuk perempuan, meski seharusnya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya pujian yang baik untuk kaum saya.

Kalau ada yang bilang saya cantik, saya senang. Wajar, tho? Saya juga senang memuji keponakan perempuan saya yang bernama Gira dengan kata-kata ini:

“Gira-ku, you’re so pretty!”

Namun, saya juga memujinya sebagai gadis kecil yang baik, cerdas, dan berani. Mengapa? Meski bukan ibunya, saya tidak ingin Gira tumbuh dengan kepercayaan dangkal bahwa kesuksesan terbesar seorang perempuan hanyalah dari banyaknya orang yang memujinya ‘cantik’ (secara fisik).

Saya tidak ingin saat dia menyadari bahwa saat tidak semua orang memperhatikan dan mengaguminya, pertanyaan pertama yang hinggap di benaknya adalah: “Aku kurang cantik, ya?”

Oke, balik lagi ke persoalan pemberitaan perempuan di media massa. Mungkin para pemikir yang “sangat sederhana” menganggap saya berlebihan dan mencari-cari masalah yang sebenarnya sama sekali tidak ada. Sayangnya, bahkan dari sesama perempuan juga begitu.

Apakah saya hanya sirik karena malah dianggap nggak secantik kakak saya (mamanya Gira, seperti waktu kami remaja dulu) atau nggak seperti teman perempuan yang selalu sukses membuat laki-laki hetero menoleh saat dia lewat?

Saya nggak akan muna. Dulu iya, karena tahu sendiri betapa kejamnya manusia menghina sesama, bahkan sama mereka yang nggak pernah mau ganggu siapa-siapa. Sudah begitu pakai alasan ‘hanya bercanda’, dengan harapan tidak kena marah.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang mengalami perlakuan demikian. Tidak heran, akhirnya perempuan malah jadi musuh paling kejam dan saling ‘menjegal’ sesamanya dengan berbagai cara. Kalau kata teman saya: nggak pake kode etik sisterhood yang benar.

Ada juga yang beralasan agar beritanya lebih ‘menjual’. Sialnya, ini menyebabkan tokoh perempuan yang jadi berita lebih banyak terfokus pada hal-hal yang teramat dangkal, alias yang tampak di permukaan saja.

Contohnya sudah terlalu banyak. Dulu, polwan cantik pernah jadi #trendingtopic. Tahu sendiri kriteria standarnya, ‘kan? Masih muda, tinggi semampai, langsing, berambut indah (lurus dan gelap) serta rapi, muka ramping, kulit putih nan mulus, jago dandan, dan murah senyum. Lalu, sempat ada netizen yang berkomentar bahwa saat para polwan yang dianggap cantik itu jadi pusat perhatian, rekan-rekan mereka yang dianggap tidak termasuk kategori tersebut seakan kurang layak jadi bahan liputan.

“Ah, nggak segitunya juga kali.”

Benarkah? Adakah yang serius tertarik dengan sepak-terjang mereka di lapangan? Sudah berapa kasus yang mereka tuntaskan? Apakah rekan-rekan mereka yang laki-laki sudah memperlakukan mereka dengan setara, alias nggak sebatas pelayan domestik di kantor yang bisa disuruh-suruh bikin kopi dan sejenisnya?

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pujian cantik. Yang bikin saya makin lama makin eneg adalah saat kata itu jelas-jelas ‘dipaksakan’ menjadi bagian dari judul berita, padahal isinya jelas-jelas nggak relevan atau bahkan di luar konteks.

Pernah ada berita tentang (masih) polwan cantik yang meninggal. Ngapain perlu ada kata ‘cantik’ di situ? Apakah tujuannya agar pembaca bakal berkomentar: “Kasihan, cantik-cantik meninggal”? Apakah karena mereka dianggap cantik lantas seharusnya berhak hidup lama daripada mereka yang dianggap ‘nggak masuk hitungan cantik’? Beats me.

Ada juga berita tentang figur politik perempuan. Ya, meskipun program kerja mereka ikut disebut di dalam artikel, entah kenapa kata ‘cantik’ harus diselipkan di sana.

Yang paling terakhir tentu saat jurnalis senior Ira Kusno tampil di TV dalam debat para kandidat untuk Gubernur Jakarta kemarin. (Saya ketinggalan berita? Nggak juga. Biasa aja.) Lagi-lagi hanya pujian ‘cantik’ yang keluar, terutama mengingat usia beliau yang sudah 40-an.

Tidak hanya itu, disebut ‘cantik’ tidak semata-mata membuat perempuan hanya bertabur pujian dangkal. Masih banyak juga yang sinis dan malah bersikap bak misoginis (pembenci perempuan) sejati, seperti para netizen yang mengomentari penampilan Ira Kusno saat itu:

“Cantik-cantik buat apa. Ndak ada yang mau jadikan dia istri.”

“Gajinya buat makan, shopping, sama ngerawat bodi doang kali, ya?”

Memangnya kenapa kalau beliau belum menikah? Lalu, dari mana bisa menyimpulkan bahwa beliau memang menggunakan gajinya hanya untuk kegiatan-kegiatan tersebut? Sudah pernah tanya orangnya langsung, belum? Awas, fitnah.

Kalau memang benar, kenapa sewot? Toh, itu bukan uang Anda. Yang dilakukan seorang perempuan dengan gaji mereka ya, urusan mereka – selama nggak menyakiti orang lain.

Sedihnya, sekarang saya jadi sangsi sendiri. Seberapa banyakkah manusia Indonesia cerdas sekaligus berhati yang sudi memandang perempuan tidak hanya dari penampilan luar belaka? Padahal, sudah banyak perempuan berpendidikan tinggi, lho.

Semoga masih cukup banyak dan media tidak hanya memanjakan pasar berisi rombongan otak “yang demikian”, serta perempuan seharusnya jangan mau juga dilihat dan dianggap ‘sekadar cantik’ saja…

R.

 

“SOSOK YANG KAU KENAL”

“Sosok yang Kau Kenal”

Jadi, kamu ingin mengenalku? Maksudmu, benar-benar ingin mengenalku?

Aku tahu, bukan itu persisnya ucapanmu. Semua dari cara kita berinteraksi, bahkan sejak hari pertama bertemu. Dua orang yang berasal dari dua dunia yang jauh berbeda, di ruang guru pagi itu. Menanti jadwal kelas masing-masing, di ruang yang selalu sepi sebelum pukul sepuluh. Dua orang yang awalnya saling berdiam diri, hanya menyapa sedikit sebelum sibuk dengan diri masing-masing.

Lalu, pukul sepuluh tiba dan kita akan mengajar di kelas masing-masing. Setelah itu, kita akan terpisah oleh jadwal. Kamu tetap di tempat kursus itu, sementara aku harus mengajar di cabang lain, mengejar waktu.

Begitu terus selama tahun pertama. Hingga akhirnya kita mulai mengobrol lebih banyak dari sebelumnya. Perlahan membuka diri, saling berbagi cerita. Sama sepertiku, kamu tampak hati-hati. Mata hazel-mu lekat mengawasi.

Benarkah kita berdua bisa saling percaya?

Kamu heran denganku. Setiap kamu menyapaku dengan “How are you?”, butuh waktu lama bagiku sebelum akhirnya menjawab: “Oh, fine. Thanks. You?”

            Mata hazel-mu sekilas menyipit curiga. Itu pertanyaan yang mudah. Kenapa aku jawabnya lama? Karena rasanya aku jarang ditanya, bahkan di rumah. Namun, kamu tidak mengatakan apa-apa.

Kurasa, kamu hanya menunggu saat yang tepat…

—//—

Lima tahun kemudian:

            Jadi, kamu telah mengenalku. Waktu berlalu dan kamu telah cukup – dan bahkan mungkin benar-benar – mengenalku. Jauh lebih banyak dari mereka yang sudah lebih lama berada di dekatku.

Kamu sudah tahu semuanya tentang mereka, meski dengan Mama-lah kamu paling dekat. Aku tahu kamu sedih melihat kami tidak sedekat kamu dan mamamu. Makanya, kita pernah sampai beberapa kali pergi bertiga.

Jangan salah. Aku sayang Mama dan tidak ingin durhaka, namun beliau hanya ingin tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Beliau hanya ingin damai, bukan kenyataan maupun kejujuran.

Karena itulah, aku sudah lama berhenti bercerita pada mereka. Tidak ada gunanya. Yang ada aku hanya dianggap aneh, berisik, dan merusak suasana. Tidak normal.

Selamat. Kamu sudah beberapa kali melihat sisi terburukku, yang entah kenapa kamu anggap sangat manusiawi. Kamu sudah melihatnya dan tidak kabur maupun menghakimi. Aku yang suka mengamuk dan kadang meninju dinding atau pintu lemari hingga nyaris remuk. Kalau mereka tahu, paling mereka hanya menyuruhku untuk sabar dan tidak marah-marah, tanpa pernah mau tahu atau peduli dengan penyebab amarahku. Paling mereka hanya akan menganggapku berlebihan. Sekian.

Aku yang pernah beberapa kali menangis sesenggukan atau histeris di pelukmu atau pangkuanmu. Kalau sama mereka, paling aku hanya akan dikatai cengeng, lemah, dan sensi. Apa tuh, sekarang sebutan barunya? Baper, bawa perasaan? Persetan. Seolah-olah manusia yang masih memakai perasaan itu jauh lebih hina daripada mereka yang sudah tidak pedulian.

Aku…yang masih harus mengonsumsi obat penenang.

Aku yakin, mereka juga tidak akan suka bila aku memutuskan untuk berhenti total memakai perasaan dan mulai bersikap kejam. Tapi…ah, sudahlah. Memikirkan mereka akhir-akhir ini melelahkan.

Satu hal yang pasti, kadang keluarga tidak selalu sedarah dan justru malah jauh lebih pengertian.

Dan kita telah saling menemukan…

 

R.

            (Dari Tantangan Menulis Monday Flash Fiction, Prompt#137: “Inside Out” – http://www.mondayflashfiction.com/2017/01/prompt-137-inside-out.html?m=1 – 468 kata)

 

“JANGAN SAMAKAN!”

“Jangan Samakan!”

Jangan samakan kami dengan kelemahan

Ingatlah ibu yang membawamu dalam kandungan

Jangan samakan kami dengan ketidaktegasan

Saat kami tegas, malah kau hina dengan sebutan:

“Sundal tak tahu aturan!”

Jangan anggap kami selalu mudah (dibuat) ketakutan

Kami bukan pengecut sok jantan

yang hobi merendahkan perempuan!

 

R.

 

“5 ALASAN DI BALIK PEMBERIAN KESEMPATAN KEDUA”

“5 Alasan di Balik Pemberian Kesempatan Kedua”

Mengapa Anda atau seseorang yang Anda kenal memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua, entah kepada sahabat yang pernah berkhianat atau mantan yang pernah mematahkan hati? Kelima (5) alasan di bawah ini bisa jadi berada di baliknya:

1. Masih ada rasa sayang dan keinginan agar orang itu tetap jadi bagian hidup mereka.

Terdengar sentimental memang. Beruntunglah bila Anda punya sosok seperti ini dalam hidup Anda, sebrengsek apa pun Anda. Bila Anda seperti ini, Anda akan dipuji sebagai orang berhati besar. Beruntunglah mereka yang memiliki Anda dalam hidup mereka.

Sayangnya, tipe ini juga dianggap lemah dan bodoh, karena mau saja terus-terusan dikerjai. Ibarat keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama, berkali-kali pula. Entah mereka yang selalu punya alasan di balik kebrengsekan sikap Anda atau Anda yang lagi-lagi terjebak pada ‘pesona lama’, hingga terancam ‘buta nalar’.

Saran: pernah dengar istilah ‘tough love’? Masih sayang sama mereka boleh, nggak ada yang berhak melarang. Bukannya mendendam, tapi ada baiknya mereka tetap diberi pelajaran yang bisa bikin mereka jera.

Jangan heran bila sikap mereka tidak lagi sama setelah kebrengsekan Anda yang ke sekian kali. Namanya juga manusia. Kadar kesabaran tiap orang berbeda-beda.

Jika Anda masuk ke dalam kategori ini, jangan lupa tetap memperhatikan diri sendiri. Jangan sampai terlalu sayang sama mereka bikin Anda malah merugi dan menumbalkan diri sendiri.

Cinta adalah pengorbanan sejati? Omong-kosong. Jika benar-benar sayang diri sendiri, justru jangan mau selalu diperlakukan seperti keset untuk membersihkan alas kaki. Lagi butuh dicari-cari, giliran kelar ditinggal seorang diri. Harus membersihkan ‘sisa-sisa kotoran’ yang mereka tinggalkan lagi.

2. Kesannya sudah memaafkan, padahal diam-diam ada agenda balas dendam.

Ini termasuk jenis yang menyeramkan. Ibaratnya ‘menghitung dosa’. Semakin banyak kesalahan yang dilakukan orang lain, semakin banyak catatan tertanam dalam ingatan mereka. Semakin lama mereka disakiti oleh orang yang sama, maka semakin marah mereka…meski dalam diam.

Ujung-ujungnya bisa ditebak: pembalasan dendam mereka bakalan lebih kejam.

Saran: Jangan keburu senang dulu bila mereka sudah kembali menerima Anda dalam hidup mereka, lalu berlagak bahwa “yang lalu biarlah berlalu”. Selain meminta maaf dengan tulus, usahakan agar tidak mengulangi kesalahan yang lalu.

Jika Anda termasuk kategori ini, tidak perlu memaksakan diri untuk ketemuan, apalagi sampai langsung menerima mereka kembali dalam hidup Anda. Bilang saja terus terang bahwa saat ini Anda sedang “perlu waktu”, agar pikiran bisa jernih kembali dan hati tidak panas lagi.

Mungkin masih ada kesempatan untuk kembali dekat seperti dulu, mungkin juga tidak. Ada juga yang sepakat bahwa “lebih baik berjauhan tapi akur, ketimbang dekat tapi saling menyakiti.”

Memutus tali silaturahmi? Belum tentu, selama saat papasan di jalan masih bisa saling menyapa ramah dan sopan, alih-alih pura-pura nggak kenal.

3. Menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Argumen ini juga sentimental, apalagi bila dua atau lebih orang sudah lama saling kenal. Ibaratnya, sudah tahu bobrok dan boroknya masing-masing. (Bahkan, mungkin sudah nggak kehitung lagi, berapa kali acara bentak-bentakan, cakar-cakaran, gebuk-gebukan, hingga tusuk-tusukan terjadi. Hmm, semoga relasi kalian tidak sama kayak relasi anggota geng di film-film, yah?)

Nggak hanya mereka, Anda juga sadar dengan kebiasaan buruk Anda. Hobi mengulangi kesalahan yang sama, tapi masih berharap mereka menerima Anda kembali dengan tangan terbuka seperti Anda yang melakukan hal serupa untuk mereka.

Saran: Memang benar, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi, mau sampai kapan itu jadi alasan untuk enggan memperbaiki diri? Hebat sekali bila Anda dan mereka masih bisa saling toleransi dengan kekurangan masing-masing, apalagi dalam waktu yang lama.

Sayangnya, bila tidak juga ada perbaikan, relasi semacam itu berpotensi menciptakan ‘racun’ atau ‘bom waktu’ yang bisa meledak sewaktu-waktu. Pada akhirnya, semua tersakiti dan hubungan sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

4. Si pemberi kesempatan kedua hanya lebih baik, namun belum tentu semuanya akan sama lagi.

Ingat lagu lama The Corrs yang berjudul “Forgiven, Not Forgotten”? Memaafkan bisa saja mudah, tapi melupakan? Belum tentu. Sama seperti kertas yang pernah diremas-remas atau penghapus yang ujungnya sudah terpakai, semuanya tidak akan bisa 100% kembali seperti dulu.

Ibarat kategori pertemanan di Facebook. Bisa jadi awalnya ada yang masuk daftar ‘Close Friends’ (Sahabat Dekat). Setelah ada masalah, bisa saja ada yang dipindah ke sekadar ‘Friends’ (Teman). atau bahkan ‘Acquaintances’ (Kenalan). Masih lebih mending ‘kan, daripada di-unfriend atau malah diblokir sekalian?

Saran: Jika mereka begini, bersyukurlah. Jangan jadi ngelunjak dan berharap terlalu banyak. Jika Anda seperti ini, berarti Anda hanya mengendalikan hidup Anda.

Intinya, selama masalah (sudah dianggap) selesai dan jelas serta nggak perlu dibahas lagi, Anda baik-baik saja. Masih mau nongkrong bareng mereka lagi atau enggak itu hak Anda. Netral dan akur saja.

Situasi bisa berubah tergantung keputusan semua pihak. Jika mereka memutuskan untuk memasukkan Anda kembali ke dalam daftar ‘VIP’ (Very Important People) mereka, selamat. Jangan merusaknya dengan mengulangi kesalahan serupa atau malah lebih parah.

Begitu pula dengan keputusan Anda untuk melakukan hal yang sama dengan mereka. Nggak usah gengsi bila dalam hati masih ada rasa sayang. Apalagi bila mereka sudah menunjukkan kesungguhan untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam hidup Anda. Kenapa tidak?

5. Tergantung masalahnya.

Jika masalahnya nggak parah-parah amat dan mereka sudah berjanji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, bolehlah mereka dikasih kesempatan kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Tergantung level kesabaran Anda.

Jika sudah parah? Bisa-bisa Anda jauh lebih sangar dari harimau yang ekornya terinjak. Prinsip Anda: “Tiada maaf lagi bagimu. HUH!” #lebaymodeon

Saran: Selamat karena bisa memilah masalah. Namun, kalau bisa sih, Anda jangan sampai kayak Kategori Nomor 2. Karena mengerikan, Anda berpotensi dijauhi banyak orang akibat metode yang demikian. Toh, Anda sendiri juga belum tentu nggak pernah salah. Ya, nggak?

Jadi, yang mana Anda?

R.

 

“MENURUT SAYA, 5 RESOLUSI TAHUN BARU INI TIDAK REALISTIS”

“MENURUT SAYA, 5 RESOLUSI TAHUN BARU INI TIDAK REALISTIS”

Kemungkinan besar tulisan ini akan mengundang protes, tapi saya punya argumen sendiri.

Sudah lama saya tidak membuat resolusi tahun baru. Kalau ada, biasanya sedikit sekali, namun lebih terarah. Biar lebih realistis, jadi nggak akan rentan stres bila ternyata nggak tercapai.

Beda pendapat itu biasa, jadi nggak masalah kalau pada nggak sepakat sama saya. Ada beda tipis antara keinginan dengan resolusi. Bila keinginan bisa tidak terbatas (hingga yang paling ‘ajaib’ sekali pun), maka resolusi tergantung dari cara mengusahakannya.

Menurut saya, 5 resolusi tahun baru ini tidak realistis. Apa saja dan mengapa?

  1. Ingin menjadi kaya-raya.

Mau sekaya apa? Kaya macam apa? Bila tidak spesifik, jadinya hanya berandai-andai. Apalagi bila kemudian tujuan dari menjadi kaya itu sendiri tidak jelas.

Saran:

            Mungkin banyak penasihat keuangan yang memberi nasihat sejenis, seperti: “Mengurangi belanja yang ‘tidak perlu’…” (dan silakan tentukan sendiri kategori “tidak perlu” yang dimaksud) atau “Menabung lebih banyak dari tahun lalu, yaitu sekitar…persen” (dan silakan isi sendiri, sesuai kebutuhan.)

Ada juga yang mungkin menyarankan untuk berinvestasi, seperti produk asuransi. Jadi isi ATM nggak hanya keluar-masuk dan terpangkas biaya administrasi. Yang pasti, menjadi kaya mendadak hanya terjadi di sinetron…atau bila Anda menang lotere miliaran rupiah (yang kemungkinannya setara dengan melihat artis ibukota lewat pas di depan Anda, alias belum tentu tiap hari.)

2. Ingin segera menikah (namun belum punya calon pendamping hidup atau minimal pacar yang bersedia diajak menikah.)

Saya nggak sinis, alias realistis. Resolusi ini hanya berhasil jika beberapa hal di bawah ini sudah terpenuhi:

  • Kehendak Tuhan. (Nggak dapet ini, ya nggak jalan.)
  • Sudah punya calon pendamping hidup atau pacar yang bersedia diajak menikah. (Kalau belum, terserah. Mau nunggu mereka bersedia atau cari yang punya kemauan sama?)
  • Restu dari keluarga kedua belah pihak. (Percaya deh, secinta-cintanya sama calon pasangan, butuh kesabaran ekstra bila masih ada keluarga yang nggak rela. Kawin lari hanya romantis di novel, karena nggak ada keributan seputar surat-surat resmi, dimusuhi keluarga sendiri, hingga…silakan lanjutkan daftar ini.)
  • Nggak hanya wacana, alias sedang berusaha diwujudkan atau sudah hampir rampung.
  • Punya tujuan menikah yang jelas, alias bukan hanya takut diuber umur (memangnya hantu?), gerah sama omongan orang, hingga…malu menjomblo terus. (Padahal, koruptor miliaran rupiah saja santai meski putus urat malu, sementara kamu hanya belum dipertemukan dengan jodohmu. Sesederhana itu.)

Kalau masih jomblo, nggak ada yang melarang bila ingin segera mencari calon pasangan hidup. Usaha memang perlu, tentu dengan catatan: nggak bikin targetmu lari ketakutan gara-gara baru kenalan sehari, besoknya langsung ngajak nikah. Lain cerita kalau mereka sama ‘bernyali’-nya, meski menikah butuh lebih dari sekadar keberanian – seperti yang sering digadang-gadangkan mereka yang hobi nyinyir sama para lajang sebagai sosok-sosok pengecut.

Saran:

Silakan fokus pada usaha memperbaiki diri sendiri, entah dari segi kepribadian atau yang lainnya. (Ini hanya diri sendiri yang harus tahu. Jangan mau didikte orang lain melulu!) Perluas pergaulan, ikut komunitas, banyak-banyakin kenalan teman baru. Terdengar klise, tapi bisa jadi jodohmu ketemu di situ.

3. Ingin punya momongan tahun ini (terutama karena sekeliling sudah pada ‘sumbang suara’ alias bersuara sumbang, mengingat pernikahan sudah berlangsung lama tanpa tanda-tanda kehadiran calon penerus gen keluarga.)

Mohon maaf bila topik ini sangat sensitif dan berpotensi menyinggung banyak pembaca, tapi percayalah…saya bukan mereka yang hobi cari-cari ‘cacat’ penyebab seseorang sulit punya keturunan, apalagi dengan lidah tajam mereka.

Mungkin kamu dan pasangan sudah lama menikah. Usaha sih, pasti ada, ya. Sayangnya, mungkin kamu berada di antara mereka yang hobi banget nanya-nanya yang sama terus tiap tahun: “Kapan nih, kasih papa-mamamu cucu? Nggak kasihan ama mereka?” Ya, ibarat menagih utang atau memesan menu di restoran. Sampai-sampai menginterogasi, sudah sejauh mana usaha kalian dalam memperoleh keturunan (yang nyata-nyata melanggar ‘wilayah pribadi’ kalian, alias usil.)

Ada juga yang pasti memberi jutaan saran dengan sangat murah hati, yang menurut mereka pasti dijamin ‘tokcer’. (Amin, semoga benar bila kalian memang menginginkannya.) Yang sadis juga nggak kalah ‘heboh’, mulai dari menuduh kalian kurang usaha hingga…mempertanyakan masalah kesuburan.

Padahal, begitu akhirnya punya anak (apalagi dalam jumlah banyak, jaraknya deketan pula atau kembar sekalian!), belum tentu juga mereka mau bantu mengurus atau minimal dititipkan seharian penuh. Nah, lho. Kemarin yang ribut minta anak siapa?

Saran:

Jika ada yang memberi usul mengenai cara-cara bikin anak yang menurut mereka ‘tokcer’, diterima saja sambil mengucapkan terima kasih. Nggak perlu juga selalu laporan sama mereka mengenai usaha kamu dan pasangan. (Memangnya bintang reality show yang dikit-dikit butuh penonton?)

Buat yang mulutnya ngalahin cabe yang harganya lagi selangit, cukup tutup kuping sambil banyak-banyak berdoa untuk menyabarkan diri. Toh, yang penting nggak ikutan kayak mereka, lupa kalau anak itu karunia Tuhan – sama kayak rezeki lain, seperti: harta, tahta, dan jodoh. Minta sih, bisa. Kalau memang belum dikasih, mereka mau apa?

Belum diberi juga? Masih ada alternatif lain, seperti: mengadopsi anak atau merawat anak-anak terlantar. Mungkin bisa juga jadi paman dan bibi kesayangan para keponakan. Bodo amat sama mereka yang entah kenapa kekeuh bilang: “Enakan juga punya anak sendiri.” Nggak seorang pun yang berhak bikin orang lain merasa kurang atau tidak berguna, karena anak bukan piala yang dipamerkan ke mana-mana.

4. Ingin kurus (pokoknya sebelum tahun ini berakhir.)

Saya masih chubby? Iya, tapi resolusi ini sudah lama sekali saya buang entah ke mana. Jujur, dulu sempat termakan ucapan orang-orang berotak dangkal dan berhati kerdil. Kuruslah bila mau punya pacar. Kuruslah biar dianggap cantik sama cowok. Idih.

Berhubung lahir dengan gen tulang besar, jangan harap saya bakalan kayak Ariana Grande yang aslinya memang mungil. Mau pakai pil diet, susu pelangsing, sampai crash diet juga percuma. Yang ada (terutama yang terakhir), saya malah berakhir di ICU.

Saya pernah kehilangan 20 kilogram. Serius. Tapi, butuh dua tahun, berkat program olahraga dan pengaturan pola makan dari ahlinya. Habis itu, masih ada yang berkomentar negatif, mulai dari yang bilang gigi saya jadi gede kayak gigi kuda hingga yang mengira saya berubah jadi penderita anoreksia atau bulimia.

Susah juga, ya? Nggak kelar-kelar kalau terus ngikutin maunya manusia.

Saran:

Fokuslah untuk menjadi lebih sehat, bukan kurus. Olahraga, jaga pola makan, hingga menghindari stres – termasuk yang diakibatkan mulut-mulut usil yang entah kenapa segitu tertariknya sama ekstra lemak di badanmu. Bayangin, tiap ketemu yang disinggung itu melulu. Entah kurang baca buku atau lagi belajar jadi ahli gizi beneran.

Intinya, jangan biarkan orang lain mengatur-atur tubuhmu, kecuali kamu beneran membayar mereka sebagai gym trainer atau ahli gizi pribadi.

5. Resolusinya kebanyakan.

Ini termasuk kasus klasik. Saking banyaknya keinginan, tahu-tahu daftar resolusi tahun baru sampai di poin ke sepuluh dan seterusnya. Kalau memang yakin bisa melunasi semuanya sih, nggak masalah. Yang sering terjadi malah nggak fokus dan stres begitu gagal mencapai semuanya dalam setahun.

Saran:

Ada tiga (3) yang menurut saya bisa dicoba, yaitu:

  • Nggak usah banyak-banyak bila nggak yakin bisa kepegang semua.
  • Kerjakan satu-satu, lalu sisanya bisa dilanjutkan tahun depan bila belum kesampaian.
  • Nggak perlu harus di tahun baru, sebenarnya bikin resolusi bisa kapan saja kamu mau.

Seperti biasa, ada yang sepakat dan enggak. Yang pasti, selama resolusinya bagus-bagus, saya mah tetap mendoakan yang terbaik. Hanya Tuhan kok, yang bisa membantu kita melampaui segala kemustahilan, meski usaha sama berpikir realistis juga perlu. Wajib malah.

R.

 

“PADA SUATU MASA, KAU MENGUSIK IMANNYA”

“Pada Suatu Masa, Kau Mengusik Imannya”

Pada suatu masa

kau masuk ke dalam hidupnya

memberi ilusi cinta

membuatnya berharap dan terluka

 

Pada masa lainnya

kau hengkang begitu saja

sempat membuatnya hampa

hingga bertumbuh murka

 

Masih ada masa berikutnya

hati beku oleh amarah

Benci telah mengubah isi hati

selalu meragukan cinta

 

Karenamu, kini dia berbeda

Tak lagi naif dan mudah percaya

Berdirilah di hadapannya

Sorot matanya tak lagi sama

 

Demi masa dari semua masa

semoga dia selalu dilindungi Sang Pencipta

dari semua bahaya

termasuk yang ingin menyakitinya

 

Jangan, jangan lagi mengganggunya

bila tidak bisa menjanjikan apa-apa

dan akhirnya kembali pergi juga

Dia sudah muak dengan air mata…

 

R.

(Jakarta, 16 Januari 2017 – 17:25)

 

“TENTANG BAPER”

“Tentang Baper”

“Jadi orang jangan suka baper. Biasa aja, dong!”

Sering dicela kayak gitu sama orang lain? Jangan-jangan Anda sendiri juga tukang cela dan kalimat itu salah satu andalan Anda, entah beneran untuk kebaikan orang itu atau Anda hanya ingin mereka diam.

Banyak serba-serbi baper (bawa perasaan). Ada yang menurut Anda wataknya memang cemen banget, sedikit-sedikit tersinggung. Baru dicela sedikit saja sudah mewek, kayak anak kecil kalah rebutan permen. Ada yang menganggapnya normal, karena namanya juga manusia. Kalau udah nggak punya perasaan lagi, namanya apa, dong?

Hayo, memangnya Anda sendiri nggak pernah baper? Ngaku aja, deh. Nggak usah malu atau sok tegar segala, bahkan langsung mem-bully mereka yang Anda anggap baperan. Lagipula, tingkatannya juga beda-beda, sama kayak reaksi mereka. Ada yang memang bisanya hanya menangis, jadi tukang ngadu, hingga yang sedikit-sedikit update status di social media. (Yakin Anda nggak pernah melalui masa-masa ini?)

Lalu, bagaimana sosok baper yang diam-diam membahayakan, alias menakutkan? Ada yang diam-diam langsung mendoakan kemalangan Anda karena dendam. Ada juga yang mencoba menyakiti Anda, bahkan secara langsung maupun tidak. Kalau dendam mereka terbalaskan, apakah Anda nggak akan kena giliran baper juga? Yakin?

Saya selalu heran dengan mereka yang merasa bisa berucap seenaknya tanpa peduli bakalan menyakiti perasaan orang lain. Lucunya, giliran diperlakukan sama, mereka malah marah dan defensif. Lalu, kata-kata itu pun keluar dengan enaknya:

“Jangan baper.

            Haha, standar ganda. Apalagi bila Anda kebetulan lebih tua dari mereka yang sering Anda cela-cela dan sepelekan. Enak banget, ya? Usia dipakai untuk alasan asal bicara, sementara yang lain lebih baik terima dan diam saja. Nggak berhak marah.

Padahal, seharusnya Anda bersyukur bila mereka marah secara terang-terangan sama Anda, bukannya malah meremehkan dan menganggap perasaan mereka sama sekali nggak sepenting maunya Anda. Mengapa demikian?

  1. Setidaknya mereka masih menganggap Anda berhak atas kejujuran mereka. Bayangkan amarah yang dipendam terlalu lama dan menumpuk, lalu suatu saat meledak saat mereka mengamuk. Akibatnya bisa jauh lebih parah daripada yang selama ini Anda asumsikan sebagai ‘kelewat baper’. Mau pilih yang mana?
  2. Lebih baik Anda tahu segera bahwa mereka marah, daripada diam-diam mereka menyumpah-nyumpah. (Ada yang bilang, lebih gawat lagi bila sakit hati mereka terbawa hingga ke ‘akhirat’. ..) Jadi, biar lain kali Anda lebih banyak berpikir dulu sebelum asal nyablak. Kedekatan Anda dengan mereka juga bukan jaminan mereka bisa Anda perlakukan seenaknya.
  3. Bila mereka sampai berhenti baper, sebaiknya Anda waspada, karena artinya Anda sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi mereka. Kalau mereka memang sedari awal tidak begitu penting bagi Anda, ya sudah.

Sebelum menuduh mereka atau orang lain ‘kelewat baper’, bagaimana kalau Anda berkaca dulu? Yakin Anda sendiri nggak pernah begitu? Jangan-jangan, selama ini Anda merasa hanya Anda-lah yang berhak untuk baper.

R.

 

“BLOGGER PEMULA BENAH-BENAH DOMAIN”

“Blogger Pemula Benah-benah Domain”

Saya membeli dan mulai menggunakan domain ini pada pertengahan 2016 kemarin. Awalnya masih ada /wp/ di belakangnya, jadi agak aneh dan kurang SEO-friendly. (Tentu saja, ini saya dapatkan dari teman sesama blogger, namun sudah lebih berpengalaman.)

Jadilah saya harus reinstall. Untung prosesnya tidak rumit. Namun, konsekuensinya adalah: semua tautan yang pernah saya bagi sebelumnya jadi error. Mereka sudah tidak bisa diakses lagi.

Sekian laporan benah-benah singkat saya.

R.

 

“MONSTER DAN SOSOK ITU DI KASTIL SUNYI”

“Monster dan Sosok Itu di Kastil Sunyi”

Sang Monster kembali terbangun

Dengarlah dia meraung

Kasil Sunyi kini riuh

Dindingnya terancam rubuh

 

Kamu takkan pernah mengerti

Terlalu lama dia hidup di sini

Kadang Monster itu membuatnya ngeri

kadang tameng sakit hati

atas mereka yang tidak peduli

 

Mungkin sudah terlambat bagimu

untuk menariknya keluar dari situ

tanpa menyertakan Monster itu

Kembali keduanya menyatu

siap menyerbu

 

Terlalu lama kamu mengacuhkannya

menganggap sepi semua yang dia rasa

Terlalu sering kamu berpura-pura

bahwa semua baik-baik saja

 

Sang Monster dan dia?

Kini tiada bedanya

Bolehlah kamu tertawa

seperti biasa, selalu mengecilkannya

Jangan kaget bila dia murka

 

Mungkin kamu bisa kembali lega

saat sekian kali berpura-pura

Tidak, tidak ada apa-apa

Dia hanya bersikap aneh saja

 

Maka dia akan menutup pintu

kembali menenangkan Monster itu

agar Kastil kembali Sunyi

Tidak ada yang berisik setengah mati

Cukup kamu saja yang mendapatkan perhatian dari sana-sini

 

Puas?

 

R.

(Jakarta, 23 Desember 2016 – 7:00)