“AKU BERMIMPI MEMBUNUHMU”

“AKU BERMIMPI MEMBUNUHMU”

 

Kau tersenyum

Aku kalem

Kau ingin mencium

Kau kupentung

Kau pun berhenti tersenyum

 

Ah, terlalu keras?

Astaga, kau tewas!

Kenapa aku tampak puas?

Sorot mataku keras

Giliranku menyeringai buas

 

Matilah kau, tukang selingkuh

Maaf, harus kubunuh

Amarah membuat otak keruh

Matilah, tukang selingkuh

 

Matilah…

Matilah…

Matilah…

 

…dan aku terbangun

tanpa senyum…

 

Aduh.

 

R.

(Jakarta, 27 Juni 2018 – 12:15)

 

 

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

Aku bukan perempuan romantis. Dulu mungkin iya, sebelum realita mengubahku menjadi sinis. Sebelum luka mengubahku menjadi seorang skeptis.

Bahkan, sejak remaja pun, fantasiku akan hal-hal romantis sudah keburu ‘dibunuh’ oleh cibiran. Mulai dari tubuh gendutku yang selalu dipermasalahkan, dianggap jelek, hingga diprediksi bakal selalu jadi penyebab susah dapat pacar.

“Jangan mau dibodohi rayuan cowok,” kata kakak perempuanku waktu itu. Ironisnya, dia sendiri pencinta lagu-lagu dan film-film romantis. Dia juga paling senang diberi bunga dan dirayu oleh pacarnya. “Itu hanya ada di fiksi.”

Jadilah aku termakan semua ucapan negatif tersebut. Lagipula, sebenarnya dulu aku juga tidak begitu suka dengan konsep pacaran. Untuk apa, sih? Jadinya kayak membatasi pertemanan. Sedikit-sedikit cemburuan. Terlalu banyak aturan.

Lalu, pada akhirnya berantem dan jadi drama. Kemudian putus dan musuhan. Mana masih satu sekolah lagi. Apa enaknya, sih?

Belum lagi kalau cowoknya sakit hati dan memutuskan untuk balas dendam. Misalnya: bikin gosip yang jelek-jelek soal si mantan pacar, bahkan sampai yang tingkat parah seperti: “Dia selingkuh”, “Dia matre”, hingga “Dia gampangan” dan “Eh, dia ‘kan udah nggak perawan lagi, bahkan sebelum sama gue.”

Maka rusaklah reputasi si cewek, bahkan sebelum ada bukti yang kongkrit. (Kalau pun memang benar, apa urusannya dengan seluruh dunia?)

Yang tahan mungkin akan cuek. Yang enggak, tahu-tahu keluar dari sekolah atau diam-diam depresi. Paling parah bunuh diri, seperti yang banyak diekspos di media sosial akhir-akhir ini.

Apa gunanya jatuh cinta kalau akhirnya terluka?

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Pada suatu masa, barangkali iya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan puisi dan prosa, sudah pernah kutulis atas nama cinta. Meskipun demikian, pada kenyataannya, aku tetap seorang lajang yang begitu takut memberi kesempatan pada cinta.

Di sinilah, mereka mulai menyalahkanku. Mengapa aku hanya termangu, tanpa sekali pun berusaha maju? Takut patah hati menjadi alasan basiku.

“Dari mana kamu tahu kalau belum pernah sekali pun mencobanya?”

“Jatuh cinta boleh, tapi tetap harus pakai otak! Hati-hati.”

Ah, sesederhana itukah? Buktinya, aku jadi serba salah. Terlalu hati-hati dibilang kelewat pemilih dan pengecut. Giliran mengambil risiko terus gagal, daftar hinaan bertambah. Mulai dari dianggap kurang hati-hati, kegeeran, sama desperate dan…nggak pake otak.

Begitu pula bila cowok yang kusukai mereka anggap ‘di bawah standar’:

“Nggak ada yang lain?”

Giliran sebaliknya:

“Yakin dia beneran suka sama kamu? Jangan-jangan hanya manfaatin kamu doang.”

Maka kamu tahu jadinya aku seperti apa. Aku kembali ragu. Maju-mundur. Makanya, pada akhirnya semua cowok yang kusukai selalu pergi. Mungkin ini terdengar cengeng, tapi inilah kenyataannya. Aku tidak tahu cara membuat mereka mau tinggal. Aku juga tidak mau memohon. Gengsi. Apa kabar harga diri?

Tanpa kusadari, lama-lama semua tulisanku berubah muram, kering, dan basi. Lebih banyak kisah patah hati dan dendam kesumat (kepada mereka yang dianggap menyakiti dan cari mati). Banyak juga kisah bunuh diri karena depresi.

Aku tidak romantis lagi. Lama-lama tulisanku mulai sering dikeluhkan pembaca: terlalu gloomy.

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Dulu pernah, meski hanya sebentar. Habis itu, tidak lagi.

“Kutunggu kamu, cinta

Bagai lelaki menanti pengantinnya…”*

Apa maksudnya itu? Kamu mengirimiku puisi dengan dua bait itu sebagai sebagian isinya, tanpa penjelasan apa-apa. Apakah kamu sedang mencoba melamarku? Astaga, kamu bahkan belum kukenalkan pada Ibu.

Kita bahkan belum pernah sekali pun bertemu. (Maaf, Sayangku. Video chat tidak dihitung.) Masih kurang, karena kita belum pernah berinteraksi di dunia nyata, saling melihat bagaimana masing-masing di keseharian, dan semacamnya.

Mengapa dua bulan lalu kuputuskan untuk menerima ajakanmu membina hubungan jarak jauh ini?

Ada teman-teman yang lagi-lagi menyarankanku. Cobalah. Siapa tahu kali ini kamulah laki-laki baik yang memang untukku, jodohku.

Ya, aku percaya kamu laki-laki baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada laki-laki di luar sana yang membuktikan mereka salah. Aku pun cantik, berharga, dan patut dicintai. Sejak awal, kamu bahkan tidak takut atau gengsi untuk jujur mengenai kekuranganmu sebagai manusia.

Namun, apakah lantas aku bisa langsung jatuh cinta padamu dan menjawab ya, aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi? Apakah aku akan senaif itu, lalu tega meninggalkan keluarga dan melupakan aturan agama?

Aku mungkin mulai sayang padamu, namun akalku masih menjejak di bumi. Kita masih harus bertemu. Masih banyak yang harus kita bahas.

Mungkin, ada untungnya juga aku bukan perempuan romantis lagi. Aku jadi lebih hati-hati.

Semoga kamu serius. Aku muak kembali merasa (di)bodoh(i).

Mungkin, bila memang kamu orangnya, setelah ini aku bisa kembali menulis sesuatu yang romantis…

– Selesai –

(Jakarta, 4 Februari 2018)

 

“ATAS NAMA DENDAM”

“ATAS NAMA DENDAM”

1001 alasan kau kemukakan

atas nama dendam

yang penting ada pembalasan

agar dia selalu terkecam

 

“Dia bajingan.

Dia pikir dia pujaan.

Kenapa tidak mati saja?

Aku ingin bahagia.”

 

1001 alasan dan pemakluman

banyak pembenaran

kau terluka

harusnya dia juga

mata dibalas mata

semakin panas api angkara

 

bukan, bukan cahaya

semuanya buta…

 

R.

(Jakarta, 26 Juni 2018 – 15:30)

“TENTANG TUKANG SELINGKUH DAN KORBAN-KORBAN MEREKA”

“TENTANG TUKANG SELINGKUH DAN KORBAN-KORBAN MEREKA”

Apa pun alasannya, dari dulu saya memang paling nggak tahan sama tukang selingkuh. Apalagi yang dengan bangganya memamerkan korban-korban mereka yang sama sekali nggak tahu apa-apa. Kayak piala aja.

Entah kenapa, masih banyak yang menganggap tukang selingkuh itu juara – apalagi yang wajahnya dianggap rupawan (cantik buat cewek atau ganteng buat cowok). Bahkan, banyak yang nggak segan-segan malah ‘mengamini’ perilaku mereka yang justru malah jauh banget dari kata ‘rupawan’.

“Ooh, karena sadar dia ganteng / cantik sih, makanya selingkuh. Coba kalo jelek, nggak tau diri namanya.”

Mereka nggak sadar, pujian menyesatkan maca itu (meski mungkin maksudnya bercanda, meski menurut saya norak!) justru malah menyuburkan perilaku menyakitkan bernama selingkuh. Menyakitkan? Ya iyalah, buat korban-korbannya! Mereka juga rakus, sih. Karena satu aja nggak cukup, mereka sampai harus ambil jatah orang lain.

Selain itu, ucapan tersebut juga dapat menimbulkan stigma bagi mereka yang dianggap berparas rupawan. Ada yang langsung dicurigai sebagai player. Ada juga yang meski jelas-jelas sudah berpasangan, masih dideketin dan dirayu-rayu juga sama yang lain.

Harapan mereka? Tentu saja agar yang dirayu dan dideketin mau-mau aja diajak selingkuh. Apalagi kalo kebetulan mereka juga punya rasa percaya diri yang sangat rendah, sehingga harus selalu dikagumi banyak orang.

Mau pelakunya laki-laki atau perempuan, menurut saya sama saja. Menyebalkan! And please, jangan bawa-bawa istilah ‘pelakor’ (perebut laki orang) yang norak itu. Kesannya hanya perempuan pihak yang bersalah, sementara laki-laki nggak berdaya menolak rayuan.

Nggak berdaya? Bah, lucu! Banyak juga perempuan yang nggak sadar telah dipermainkan, lalu langsung ditumbalkan dengan tuduhan ‘penggoda’ saat affair terkuak dan tercium pasangan sah (istri), sementara laki-laki yang berulah berlagak setia. Padahal, cadangan mereka di mana-mana. Benar-benar perilaku pengecut dan nggak bertanggung jawab!

Brengsek banget, ‘kan? Berarti tidak semua yang disebut ‘perempuan idaman lain’ atau apalah namanya yang menjadi biang keladi perselingkuhan. Bisa jadi selama ini mereka emang beneran nggak sadar udah ditipu mentah-mentah (bahkan sampai busuk pula) sama laki-laki yang mengaku cinta dan ingin setia hanya sama mereka. Bah!

Lalu, bagaimana dengan korban perselingkuhan? Selain patah hati, merasa tolol karena udah (di)bodoh(i) dengan sedemikian rupa, bersalah, jelek, nggak cukup baik, marah, dan benci – bisa jadi mereka malah sulit percaya cinta lagi. Emang tukang selingkuh peduli? Kebanyakan malah 11-12 sama psikopat / sosiopat sejati!

R.

 

“CINTA DARI MATA YANG DINGIN DAN MATI”

“CINTA DARI MATA YANG DINGIN DAN MATI”

Kubaca ucapan manismu di layar

Cukup sudah kutersadar

Kau pasti berharap di sana

di tempat dia selalu berada

 

Dia mulai terbuai di angkasa

Dia sudah jatuh cinta

Kau pasti rajin bercerita

semua fantasimu tentangnya

 

Tidak, aku tidak mendendam

Murka telah kupendam

Suka-sukalah kau dengannya

Jangan sakiti dia – atau dia akan merana

 

Semoga hanya aku yang dikhianati

namun kau memang gemar bermain hati

Kau senang dapat banyak perhatian

Tapi bagiku, kau gampangan

 

Inilah cinta,

dari mata yang dingin dan mati

fantasi, penuh dusta sejati

Kuyakin kau akan segera bosan

tinggalkan dia dengan air mata tergenang

 

Kau rancukan cinta dengan senggama

penyihir kejam dengan mantar berbahaya

Tunggulah dinginnya balasan sempurna

Kau akan selamanya terluka!

 

R.

(Jakarta, 22 Juni 2018 – 20:30)

 

“POPMAMA.COM: Media Digital untuk Para Mama Generasi Milenial”

“POPMAMA.COM: Media Digital untuk Para Mama Generasi Milenial”

Belum jadi mama, tapi udah suka baca artikel tentang parenting, terutama buat para ibu? Kenapa enggak? Itulah yang saya lakukan, terutama demi kepentingan riset tulisan. Salah satunya, tentu saja, adalah membaca artikel konten dari media digital bernama PopMama.

Apa yang menarik dari media digital yang cocok untuk para mama generasi milenial ini? Yuk, kita ulik satu-persatu:

1.Desain website PopMama.

Meskipun tampil dengan konsep feminin dan lembut demi mendukung karakter sosok mama atau keibuan, nggak ada kesan kaku di sana. Malah sesuai dengan kata ‘pop’ yang diusung brand ini. Warnanya juga segar, jadi semakin enak dipandang.

Latar putihnya bikin tulisan artikel konten PopMama mudah dan enak dibaca. Bila ‘adik’-nya, PopBela, dikombinasikan dengan warna merah, maka PopMama pakai warna ungu yang lembut.

2.Konten-konten PopMama.

Menjadi mama pasti sibuk sekali. Bahkan untuk mama yang paling suka membaca sekali pun, meluangkan waktu untuk melirik barang satu-dua artikel saja mungkin sudah sulit. Nggak hanya si kecil, bahkan papa pun minta perhatian mama.

Karena itulah, konten-konten PopMama cocok sekali untuk dibaca Mama yang super sibuk. Ringkas, padat, dan tidak terlalu bertele-tele. Tiap artikel membahas topik seputar kebutuhan mama, entah dalam mengurus keluarga maupun merawat diri.

3.Desain hurufnya enak dilihat.

Berhubung nge-pop dan untuk para mama generasi milenial, PopMama juga perhatian sama desain hurufnya. Harus yang enak dilihat, biar mama nggak pusing bacanya. Apalagi bila harus berlama-lama menatap layar ponsel atau laptop Mama. Belum lagi bila mata Mama lelah karena bergadang menjaga si kecil yang sedang tidak enak badan.

Terus, apa lagi ya, yang seru dari PopMama?

4.Banyak artikel konten pilihan yang mewakili kebutuhan mama di PopMama.

Mama baru punya anak pertama dan jadi orang tua? Pastinya ada rasa deg-degan dong, ya. Jangan khawatir. Selain bisa tanya-tanya sama para mama lain yang sudah lebih berpengalaman, Mama juga bisa baca-baca artikel konten di PopMama.

Si kecil sedang sakit atau mogok makan? Ada juga tips cara menanganinya. Mama juga selalu diingatkan untuk tetap menjaga kesehatan tubuh dan merawat penampilan diri. Kalau bukan Mama, siapa lagi? Dengan tubuh sehat dan penampilan yang enak dilihat, Mama pasti lebih merasa nyaman dan makin bahagia dengan diri sendiri. Ingat, bila Mama happy, keluarga juga ikutan happy.

Ada juga kisah-kisah nyata tentang keluarga lain. Ada yang bahagia, ada yang bikin sedih. Nah, semoga kisah-kisah yang sedih tidak ikut bikin Mama sedih. Semoga Mama tidak perlu mengalami masalah yang sama dan tetap berbahagia dengan keluarga Mama.

Setelah itu, masih ada nggak ya, kelebihan PopMama lainnya? Oh, ternyata masih ada lagi, yaitu:

5.Tiga (3) fitur / tools andalan PopMama.

Apa sajakah ketiga (3) fitur atau tools tersebut?

  • Baby Names Finder buat Mama yang lagi mempersiapkan nama untuk calon bayi kecil Mama nanti.
  • Ovulation Calendar untuk membantu Mama mengecek perhitungan masa subur, terutama bila Mama ingin segera memiliki anak.
  • Due Date Calculator. Bingung menghitung masa kehamilan Mama, terutama yang baru pertama kali? Ada fitur ini yang dapat membantu Mama memperkirakan jadwal lahir si kecil. Tapi, jangan lupa cocokkan juga dengan perkiraan ahli ginekologi Mama, ya.

PopMama memang media digital sahabat untuk para mama generasi milenial.

R.

 

“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

Jangan percaya mereka

Yang baik tidak selalu mengalah

meski cerdas memilih

pertarungan mana yang harus dihindari

 

Jangan kalah sama dia

yang pernah membuatmu terluka

Kau berhak bahagia

tanpa perlu membalas perbuatannya

 

Jangan biarkan dia mengubahmu

Kamu lebih kuat daripada itu

Rebut kembali hidup

agar menjatuhkanmu, dia takkan sanggup

 

R.

 

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

Oke, kemungkinan besar bakal ada yang kesinggung dengan tulisan ini. Gimana enggak? Selama ini, mungkin mereka menganggapnya biasa aja.

Sebagai perempuan lajang yang kadang menggunakan aplikasi online dating (masalah pilihan, nggak ada yang hina, kok!), saya bisa memahami rasa frustrasi seorang teman. Gimana enggak? Saya juga kadang mengalaminya. Ini dia tiga (3) hal yang bikin ilfil perempuan saat kenalan lewat online dating:

1.Mengandalkan sapaan standar “Salam kenal dariku, ya.”

“Memang apa yang salah, sih? Terus harusnya gimana?” Mungkin itu reaksi pertama Anda. Namun, coba perhatikan, deh. Setelah mengandalkan greeting template di atas, habis itu apa yang terjadi?

*krik krik*

Persis. Yang ada malah ‘mematikan’ kelanjutan percakapan. Habis ‘salam kenal’, terus apa? Berharap si dia langsung melanjutkan pembicaraan dan mengumbar cerita tentang dirinya? Sori, Anda nggak bisa berharap dia akan membaca pikiran Anda dan berinisiatif seketika. Apalagi bila Anda menulis pesan dengan gaya super alay seperti: “Lam knal daryq y.”

Duh, bisa nggak sih, nulis pesan kayak orang normal? Padahal udah nggak zaman SMS dengan batasan 140 karakter, lho.

Saran: Beneran tertarik sama si dia? Jangan setengah hati. Baca profilnya di akun baik-baik. Bisa kok, memulai obrolan dari situ.

Contoh: si dia ternyata menulis bahwa beberapa film yang sudah pernah dia tonton termasuk “The Avengers: Infinity War” dan “The Incredibles 2”. Awali saja percakapan dengan: “Kamu suka film superhero juga? Menurutmu bagusan DC apa Marvel?”

2. Kebanyakan basa-basi ‘remeh’ tapi ganggu.

Sumber: me.me

“Udah makan?”

“Baru pulang kantor?”

“Belum tidur?”

Okelah, niatnya baik, yaitu memberi perhatian. Bahkan, hal ini udah dianggap lumrah sama orang Indonesia.

Sayangnya, kebanyakan basa-basi remeh begitu lama-lama jadi terasa basi. Membosankan. Rasanya nggak beda dengan kayak dianggap anak kecil. Ya, kurang lebih kayak ortu yang hobi nanya-nanya interogatif gitu.

Kalo ortu sih, masih wajar, ya. Beda cerita kalo baru dalam hitungan hari kenalan, belum apa-apa udah sering berlaku sama. Hmm, nggak ada topik lain, ya? Mungkin saya terdengar kejam karena sejujur ini. Tapi, saya juga bukan tipe pengeluh tanpa kasih solusi.

Saran: Bolehlah sesekali berbasa-basi seperti itu. Namun, jangan sampai berlebihan, sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil atau tahanan kota. Caranya? Mari kita lihat contoh di bawah ini:

Anda: “Sudah makan?”

Dia: “Sudah.”

Anda: “Barusan aku nyoba menu baru di (nama resto atau kafe). Udah pernah ke sana belum? Gimana kalo weekend berikutnya kita makan di sana?”

Tuh, lebih enak, ‘kan? Nggak hanya basa-basi remeh tanpa ujung jadinya.

3.Belum apa-apa udah nunjukin gejala posesif.

Sama kayak kenalan di dunia nyata, ssemua ada prosesnya. Nggak bisa diburu-buru, apalagi dipaksa.

Jujur, saya langsung ilfil seketika saat laki-laki yang baru saja saya kenal (entah lewat online dating atau dunia nyata) udah mulai menunjukkan gejala ‘haus perhatian’ alias posesif. Mulai dari menuntut agar saya segera membalas pesan WA-nya, mengeluhkan kesibukan saya, hingga kepo banget soal teman-teman saya yang kebetulan juga laki-laki.

Yang paling bikin saya murka – alias nggak hanya ilfil – adalah waktu seorang laki-laki dengan seenaknya menelepon ke rumah ortu saya…tiga kali sehari. Ya, betul. Serius, dari pagi, siang, hingga malam. Nggak beda sama jadwal makan dan minum obat.

Saya sampai kena tegur ibu saya yang merasa amat terganggu. Malunya bukan main. Mending telepon sering-sering karena urusan penting. Ini hanya ngajakin ngobrol ngalor-ngidul, padahal saya juga lagi banyak kerjaan…banget. Mana nggak sensitif lagi pas saya lagi kena radang tenggorokan dan diminta dokter istirahat ngomong sampai benar-benar sembuh.

“Kangen…pengen denger suara kamu…”

Astaga, creepy banget. Mungkin dia kira dia perhatian dan romantis banget. Padahal, saya malah curiga dia nggak punya kerjaan lain.

Akhirnya, saya meminta dengan tegas agar dia jangan pernah menelepon lagi. Benar-benar mengganggu. Memangnya orang nggak punya kegiatan?

Saran: Mentang-mentang online dating, jangan lantas berharap hasilnya bakalan instan. Bolehlah ingin lebih saling mengenal, tapi nggak usah buru-buru – apalagi sampai terlalu menggebu-gebu. Perlakukankah dia sebagai manusia atau individu dengan kehidupan sendiri, termasuk privasi yang harus Anda hargai.

Dengan kata lain, nggak usah grusa-grusu ala pemburu mengejar target. Jadinya malah rusuh dan nakutin, tahu?

Kalo ada chemistry dan sama-sama suka (serta keluarga pada suka juga), siapa tahu memang jodohnya. Kalo enggak, masih bisa jadi temen aja kalo mau. Nggak perlu maksa, apalagi sampai nyindir dan ngancem-ngancem segala. Nggak oke, ah.

Terus, tinggal cari yang lain lagi. Nggak usah terlalu ‘kemakan’ sama deadline bikinan sesama manusia mengenai kapan Anda harus menikah. Lha, ‘kan yang nentuin jodoh juga tetap Tuhan?

R.

“RAJA PENCARI DRAMA”

“RAJA PENCARI DRAMA”

Kata mereka,

ini kebiasaan khas wanita

Tak mungkin pria

hingga kau salah satu buktinya

 

Apa maumu?

Dulu kau yang menjauh

meninggalkanku

Kau kira aku akan memohon seperti orang dungu

 

Bung, kau salah strategi

Kini kau kembali

Sayang, aku tak lagi peduli

Silakan cari perhatian setengah mati

 

Raja pencari drama

Hilang satu penontonnya

Puisi picisan dan nyinyir terbuka

Untuk apa?

 

Pengikutmu masih banyak

Tak perlu serakah

Aku sudah muak

dengan rajukanmu yang semakin parah

 

R.

 

“POPBELA SAHABAT PEREMPUAN INDONESIA”

POPBELA SAHABAT PEREMPUAN INDONESIA”

Sebagai perempuan yang gemar membaca dan menulis, artikel konten digital sudah jadi salah satu pilihan saya sehari-hari. Selain sebagai hiburan, saya juga tidak ingin ketinggalan info terkini yang berkaitan dengan kebutuhan perempuan. Salah satunya adalah gaya hidup, terutama bagi perempuan lajang. Karena itulah saya memilih membaca PopBela.

Apa yang menarik dari PopBela? Banyak. Yuk, kita cek satu-satu:

1.Desain website PopBela.com

Desain website-nya rapi, bersih, dan sederhana. Latarnya putih, sehingga semua tulisan dapat terbaca dengan mudah dan jelas. Dengan kombinasi warna merah dan tulisan hitam, fiturnya juga nggak macem-macem.

2. Artikel konten yang ada sesuai dengan kebutuhan perempuan.

Sekilas, mungkin artikel konten yang ada mirip-mirip dengan media digital lain yang diperuntukkan bagi perempuan. Ada tentang kecantikan, rubrik gaya hidup, relationship, kesehatan…pokoknya semua yang dibutuhkan perempuan, deh.

Lalu apa bedanya? Bahasa yang digunakan juga ringan, namun tanpa terkesan alay. Meski masih menggunakan Bahasa Indonesia dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan), kata-kata yang dipilih tidak terkesan kaku. Makanya, saya betah membaca artikel konten PopBela sebanyak-banyaknya saat waktu luang.

3.Desain hurufnya enak dilihat.

Selain nggak terlalu besar atau terlalu kecil, bentuknya juga enak dipandang. Pokoknya, membaca artikel konten PopBela nggak perlu pake acara pusing, apalagi bila harus berlama-lama melototi layar ponsel atau laptop.

4.Banyak pilihan artikel konten yang mewakili berbagai tipe perempuan.

Jujur, saya bukan perempuan yang gemar membaca tips kecantikan. Selain cepat bosan, tidak semua tips kecantikan cocok diterapkan oleh semua perempuan. Ibaratnya, bila jenis kulit muka saya normal cenderung kering, pastinya saya nggak butuh kertas minyak dong, ya.

Salah satu fitur konten yang sering saya baca adalah ‘Rubrik Single’. Untungnya, isinya nggak melulu soal bagaimana mendapatkan pacar atau tips untuk terlihat lebih menarik di mata lawan jenis. Memangnya semua perempuan lajang selalu identik dengan kesepian, nggak bahagia, dan desperate ingin segera punya pacar?

Pada kenyataannya ya, nggak gitu-gitu amat, kok. Perempuan lajang juga tetap harus bahagia dan menikmati hidup. Masih ada keluarga, teman-teman, pekerjaan, hingga waktu luang lebih untuk menekuni hobi yang paling disukai.

PopBela banyak menyediakan artikel konten berisi tips pengembangan diri untuk para perempuan lajang. Beberapa artikel yang paling saya suka di sini termasuk “7 Ilustrasi Ini Tunjukkan Perempuan Berhak Diperlakukan Setara”, “7 Kegiatan Seru untuk Cewek Single di Malam Minggu”, dan masih banyak lagi.

Nah, udah terbukti banget ‘kan, kenapa semua perempuan Indonesia harus baca PopBela? Eh, tapi masih ada satu lagi deh, alasan media digital ini benar-benar sahabat yang baik bagi perempuan Indonesia.

5.Ada tujuh (7) pilar yang menjadi panduan isi PopBela.

Ketujuh (7) pilar tersebut adalah:

  • Kesetaraan gender.
  • Anti pelecehan seksual.
  • Anti perundungan /
  • Anti
  • Persatuan di antara perbedaan ras dan etnis.
  • Persatuan di antara perbedaan agama.
  • Redefinisi kecantikan.

Tuh, keren-keren banget ‘kan, pilarnya? Makanya, PopBela memang pas banget jadi bacaan ringan namun tetap menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Terutama sih, bagi perempuan Indonesia yang peduli dengan Bhinneka Tunggal Ika, kesetaraan gender, hingga menghargai perbedaan – terutama untuk definisi kecantikan. Pastinya, semua perempuan di dunia ini cantik dengan versi masing-masing.

Itulah misi yang dibawakan oleh media digital bernama PopBela.

R.