“ADA SATU HARI…”

“ADA SATU HARI…”

Ada satu hari

saat semua rapi

teratur tanpa cela

lancar segalanya

 

Lalu ada hari lain

saat semua jalan licin

Percuma hati-hati

Tetap jatuh sendiri

 

Ada juga satu hari

berisi gabungan keduanya

Hmm, mungkin mereka benar

Penonton bisa bubar

bila selalu disuguhi

acara yang sama…

 

R.

 

“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

“BEDA GENDER = BEDA REPUTASI?”

Seorang kawan baru, laki-laki dari Amerika, pernah bercerita jujur pada saya. Sebut saja namanya Billy*. Ngakunya, dulu dia ‘badung’ banget. (Ini kata dia lho, ya.) Suka clubbing, main perempuan, hingga membayar pekerja seks komersial. Alasannya super standar: masih muda, mau senang-senang (dan sekaligus mumpung masih punya uang dan perempuannya juga nggak keberatan – alias konsensual), serta…’namanya juga cowok’.

            Seperti biasa, seluruh dunia seakan memaklumi perilaku laki-laki ini. Bahkan sampai ada yang menganggapnya ‘jantan’ dan ‘jagoan’, entah dari mana.

“Terus?” tanya saya. “Sekarang gimana?”

“Sekarang aku anak baik-baik, dong,” jawabnya bangga. “Cuma, pacarku yang sekarang galak dan cemburuan. Dia gak suka aku ke tempat-tempat kayak gitu lagi, meski hanya ngebir. Dia juga selalu kesel kalo aku pergi ke suatu tempat tanpa ngabarin dia.”

“Oh.” Hmm, mungkin karena sang pacar sudah tahu ‘masa lalu’ kawan saya ini, dia jadi khawatir. Ya, takut kawan saya kembali ‘tergoda’ akan gairah lama kehidupan malam yang pernah dirasakannya. Nggak heran juga, sih. Sebagai sesama perempuan, saya mungkin akan begitu juga bila mengetahui sejarah seksual pasangan saya yang sekarang.

Dari cerita kawan, sepertinya sang pacar termasuk ‘perempuan baik-baik’ yang ideal versi masyarakat patriarki, terutama di Indonesia. Cantik, langsing, berkulit cerah, berambut hitam panjang (maaf, saya rada kepoin foto mereka berdua di media sosial), dan…anak rumahan. Nggak begitu suka keluar rumah, apalagi malam-malam. Jadi, nggak kayak laki-laki yang menjadi kawan baru saya ini yang ngakunya suka clubbing. Idaman sekali, bukan?

Singkat cerita, kawan saya mengaku sudah bosan main-main. Kali ini dia hanya ingin serius dengan satu perempuan saja (ya, si pacar itu). Kemudian saya langsung membayangkan rasanya jadi si pacar. (Bukan, bukan karena diam-diam naksir!) Meski ada sedikit keraguan sama dia, saya masih percaya bahwa dalam hal ini, setiap orang berhak mendapatkan ‘kesempatan kedua’. Semua orang lho, ya. Nggak hanya satu gender saja.

Saya yakin, pasti banyak yang ngomong begini sama pacar kawan saya:

“Ayolah, kasih Billy kesempatan. Dia sudah berubah, kok. Bukan kayak dulu lagi.”

Biasanya, perempuan akan luluh, apalagi dengan tambahan embel-embel: “Demi kamu.” Kedengarannya romantis sekali, bukan? (Padahal, ke depannya nanti, siapa tahu?) Ibarat kisah dongeng tenar “Si Cantik dan Si Buruk Rupa” (meski kawan saya sebenarnya ganteng, serius!), si perempuan menerima laki-laki dengan apa adanya.

Sekarang, coba situasinya dibalik. Kawan saya seorang perempuan yang berpacaran dengan laki-laki. (Anggap saja namanya jadi Bella*, biar saya nulisnya juga lebih gampang, hehe.) Reaksi sekitar bila mengetahui sejarah seksualitas Bella akan sama nggak, ya?

Sayangnya, masih enggak. Pasti bakalan banyak yang nyinyir, bahkan sesama perempuan sendiri. Pasti bakalan banyak yang ngomong begini ke pacarnya Bella:

“Ih, yakin mau ama dia? Udah ‘bekas’ gitu, pasti pernah ditidurin banyak cowok.”

“Pasti itu cewek murahan, deh. Gatelan. Yakin bisa setia ama elo?”

“Lu gak bisa dapet yang masih perawan aja? Payah lu!”

Saya tidak sedang menghakimi kawan saya karena masa lalunya. Apa pun pilihan seseorang terkait seksualitas mereka, baik laki-laki maupun perempuan, sama sekali bukan urusan saya. Itu hak, urusan, dan tanggung-jawab pribadi mereka, sama seperti keputusan saya dalam hal yang sama.

Yang bikin saya kesal? Lagi-lagi ketidakadilan ini. Kesannya hanya laki-laki yang boleh ‘bertobat’. (Kalau hal ini mau dikaitkan dengan moral dan ajaran agama, ya.) Lihat saja. Lebih banyak laki-laki yang masih bisa menikahi perawan (kalau selaput dara yang jadi ukuran, ya), meski sebenarnya mereka sendiri sudah tidak perjaka. Sialnya, persepsi gender masyarakat pun hingga kini masih saja sama:

“Wajarlah bila laki-laki begitu. Perempuan harus nrimo.

Glek.

            Sayangnya, saat perempuan yang jujur soal sejarah seksualitas mereka, yang ada malah ditinggal. Belum cukup, kadang si laki-laki sampai merasa harus cerita ke mana-mana, sehingga semakin sedikit laki-laki lain yang mau memberi kesempatan pada si perempuan. (Kata siapa hanya perempuan yang berpotensi jadi tukang gosip?) Nambah lagi deh, celaan dan hinaan yang diterima si perempuan. Syukur-syukur nggak bikin dia sampai down, trauma, lalu menyakiti diri atau bahkan bunuh diri.

Kalau pun ada laki-laki yang mendekati, biasanya mereka yang sudah tahu sejarah seksualitas si perempuan hanya mencari seks, karena otomatis menganggap si perempuan ‘gampangan’. Dalih mereka pasti begini: “Ah, udah ‘bekas’ ini. Pasti udah biasa dong, sama laki-laki?”

Kalau ada laki-laki yang beneran ingin serius dengan si perempuan tanpa peduli sama masa lalunya…wah, pastinya langka sekali. Menurut mereka, entah dia memang baik sekali atau bodoh setengah mati. Yang mem-bully pasti bakalan ngomong begini: “Inget, bro. Ibarat botol Aqua tapi segelnya udah lepas, bro.”

            Apa yang dapat kita pelajari dari dua contoh kasus di atas? Beda gender kok, bisa beda ‘reputasi’?

  1. Saya salut dengan pacar kawan saya dan perempuan lain yang mau menerima laki-laki apa adanya. Nggak ada yang salah dengan itu. Hebat malah.
  2. Meski kita semua ngakunya percaya bahwa semua orang berhak dapat kesempatan kedua, kenyataannya nggak demikian. Lebih banyak laki-laki yang mendapatkannya, sementara perempuan selalu diingatkan akan ‘kesalahan’ masa lalu mereka. (Ya, terlepas karena pernah diperkosa atau perkara konsensual – pokoknya main pukul rata aja.)
  3. Perempuan masih disamakan dengan barang atau objek. Permen yang harus dibungkus-lah, botol Aqua wajib segel-lah. Padahal, belum tentu laki-laki senang kalau disamakan dengan semut atau binatang kelaparan lainnya. Baru lihat daging secuil saja sudah beringas. Kalau pun ada, celakanya malah bangga dan pamer dengan cerita ke mana-mana. Wah, gawat!
  4. Masih banyak yang termakan mitos bahwa keperawanan seorang perempuan itu dilihat dari selaput dara. Padahal, ada yang tebal, tipis, atau malah nggak ada sama sekali. Baca jurnal medis dong, biar nggak salah kaprah tentang organ dan kesehatan reproduksi perempuan. Jangan mentok di viagra terus!
  5. Nggak salah kok, berpegang teguh pada moral dan agama. Ya, asal nggak yang palsu ya, alias hanya berlaku untuk ‘kalangan tertentu’. (Baca: laki-laki boleh ‘suka-suka’ atas nama ‘cari pengalaman’, sementara perempuan wajib perawan sebelum menikah.)
  6. Nggak gampang jujur sama pasangan soal sejarah seksualitas kita. Jangan sampai malah bikin dilema: jujur salah, nggak jujur terus ketahuan makin tambah salah. Sayang, masih belum banyak laki-laki yang cukup berbesar hati menerima kenyataan ini dari calon istri mereka. (Boleh protes kalau saya terbukti salah. Buktikan dong, jangan omong doang.)
  7. Ketika laki-laki sudah bosan ‘main-main’ dan ingin serius, maka ia bisa berubah/bertobat menjadi lebih baik. Sementara itu, perempuan harus sudah dari awal mempunyai reputasi ‘baik’. Dalam hal ini, entah mengapa laki-laki lebih layak dipercaya ketika ingin berubah, dibandingkan perempuan.

 

Padahal, seharusnya laki-laki (yang sudah tidak perjaka) lebih tahu diri dan berterima kasih pada perempuan yang masih mau menerima mereka apa adanya. Coba bayangin, apa jadinya kalau kami juga kekeuh mau memilih yang perjaka saja sebagai calon suami? Mungkin kalian tidak keberatan dan bisa bebas kembali ‘ke mana-mana’ dan ‘suka-suka’. Tapi, kalau memang sudah cinta, harusnya ini nggak jadi masalah, ‘kan? Kalau sampai masih juga iya, menurut saya sih, kalian tidak setulus itu dalam mencintai seorang perempuan. Sayangnya, kalian masih hobi sekali memakai standar ganda. Kamilah yang selalu diharapkan untuk menerima kalian apa adanya.

Andai saja, keperjakaan bisa dibuktikan secara ilmiah. Sayangnya enggak.

Kalau mau menggunakan perspektif agama, bukankah Tuhan Maha Pengampun? Kenapa dalam hal ini, perempuan terus yang lagi-lagi dihakimi?

Bagaimana dengan saya sendiri?

Jujur, kecemasan saya bukan pada soal perjaka atau tidaknya si laki-laki yang akan jadi calon suami, siapa pun dia nanti. Apakah dia masih akan memandang saya setara dengan berlian yang harus disimpan di dalam lemari besi setiap saat, permen yang harus dibungkus rapat, atau botol Aqua yang harus ada segelnya? Apakah dia tidak akan memandang saya sebagai manusia, sama sepertinya – bisa punya salah alias jauh dari sempurna?

Jika ingin membantah hasil pengamatan saya, tidak perlu membela diri dengan awal kalimat: “Tidak semua laki-laki…”. Cukup buktikan saja dengan tidak terlalu keras menghakimi perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah, apa pun penyebabnya. Bukankah pasangan yang baik adalah pasangan yang berkepribadian baik, saling menyayangi dan menghormati? Bukankah hal-hal itu jauh lebih abadi daripada keperjakaan maupun keperawanan itu sendiri?

R.

(*Nama narasumber telah diubah)

 

“6 TIPS ELEGAN BERTEMAN DENGAN LAWAN JENIS”

“6 TIPS BERTEMAN DENGAN LAWAN JENIS” (Dari Mama dan Sahabat-sahabat Beliau)

Saya ingat satu hari penuh kegembiraan bersama Mama dan sahabat-sahabat beliau. (Serius.) Benar-benar random, saya yang tadinya hanya berniat mengantar beliau bertemu mereka terus pamit dan cabut malah diajak ikutan. Makan-makan, nonton film, hingga menerima tantangan menyanyi jazz impromptu di salah satu kafe di ibukota. Pokoknya seru banget.

Tapi, kita nggak akan membahas soal itu di sini. Justru, saya terinspirasi dari cerita-cerita persahabatan mereka yang seru-seru dan cukup langka.

“Ruby, Tante, Om, sama Mama udah temenan dari SD, lho.”

Mungkin ini bukan cerita yang istimewa amat. Cuma, gara-gara kemaren-kemaren sempet ada yang mengaitkan “banyak berteman dengan lawan jenis” dengan “susah dapet jodoh”, rasanya soal ini harus saya angkat.

“Emang cewek ama cowok bisa ya, temenan doang?”

Kenapa enggak? Kenapa untuk berteman dengan tulus aja harus pake mempermasalahkan jenis kelamin segala? Buktinya banyak yang bisa, sampai bertahun-tahun lamanya lagi. Mama dan sahabat-sahabat beliau contoh nyata.

Nahh, dari mereka, ini dia 6 tips elegan berteman dengan lawan jenis:

1. Perlakukan semua teman sebagai manusia sederajat.

Males banget kalo dikit-dikit nganggep cewek yang temenan ama cowok (yang kebetulan dianggap) ganteng pasti diem-diem naksir atau ‘friendzone’ itu dianggep naas.

Kalau emang temenannya tulus, nggak usah parno si A bakalan diem-diem naksir atau khawatir Anda bakalan jadi jatuh cinta sama si B. Jalanin aja dulu. Kalo dikit-dikit “merasa begini-begitu”, sepertinya Anda harus memeriksakan diri dulu. Serius. Ke mana? Mana saya tahu?

2. Kalo di tengah persahabatan kepalang naksir? Silakan milih.

Sama aja kayak sama gebetan yang belum resmi jadi temen. Anda boleh mempertimbangkan banyak hal. Kalo si dia jawab iya, kalo enggak gimana. Mau milih tetap temenan atau udahan juga bisa dibicarakan bersama. Udah pada gede juga, bukan?

3. Kalau mereka yang naksir? Ya, sama juga.

Intinya, harus sama-sama berani jujur dan siap dengan keputusan masing-masing. Yang pasti, kalau sampai salah satu jadi ilfil dan enggan berteman lagi, berarti mereka belum cukup dewasa untuk menerima kenyataan. Anda sendiri juga nggak mau ‘kan, temenan sama orang yang dikit-dikit bikin drama? Capeklah.

Perasaan memang suka nggak pilih tempat, waktu, atau orang. Tapi, harusnya bisa ‘kan, bernalar untuk memilih yang benar? Perasaan juga nggak bisa dipaksa kali.

4. Hargai pasangan masing-masing.

Baik pasangan Anda maupun pasangan teman, jangan sampai ada yang merasa cemburu dan disepelekan. Hindari kebiasaan memanggil teman dengan panggilan ‘sayang’, meskipun niatnya hanya bercanda. Apalagi sudah menikah, jangan sampai Anda lebih memprioritaskan sahabat daripada pasangan.

Ketimbang pasangan cemburu hingga mengeluarkan larangan untuk tetap berteman, kenapa nggak saling kenalin aja pasangan masing-masing? Siapa tahu jadi malah nambah teman dan nggak canggung lagi.

Khawatir pasangan masing-masing malah menyelingkuhi kalian? Aduh, kok pikirannya jelek melulu, sih? Yang penting selama saling awas dan mengingatkan aja, kalau ada batas yang tetap harus diikuti. Intinya, kalo nggak mau disakitin, ya jangan nyakitin.

5. Dilarang curhat soal (keburukan) pasangan ke teman lawan jenis.

Nggak usah sama teman lain jenis, sama yang sejenis aja atau siapa pun juga jangan. Kata orang bijak: “Aib pasangan sebaiknya ditutup serapat mungkin.” (Hmm, kalo KDRT kayaknya lain bahasan, nih.)

Ada yang bilang, potensi selingkuh awalnya dari situ. Seasyik apa pun sahabat, sebisa mungkin jangan sampai melakukan hal ini. Kadang batasan aman memang tetap diperlukan.

6. JANGAN BAPERAN!

Nggak cuma cewek, cowok juga bisa, lho. Kalo nggak, mana mungkin ada cowok ngeluh: “But I’m a nice guy!” saat cintanya ditolak cewek yang cuma ingin jadi temannya? Sama aja dengan cewek yang udah keburu kegeeran sama perhatian cowok, padahal si cowok juga biasa aja.

Bertemanlah tulus, alias nggak pake modus. Baik sama orang yang disuka jangan langsung berharap dia bakalan naksir juga, begitu pula sebaliknya. Kalo dibaikin orang, jangan lantas berharap mereka pasti naksir. Emang susah sih, tapi bukan berarti nggak mungkin, ‘kan?

See? Kata siapa cewek sama cowok nggak bisa temenan doang? Kata siapa juga banyak berteman dengan lawan jenis bikin susah dapet jodoh? Lagipula, seperti kata orang-orang:

“Semua tergantung orangnya juga lagi.”

 

R.

 

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

“SEBENTAR SAJA, DENGANMU…”

Aku muak dengan tuntutan

dan semua salah paham

meski bagian dari realita

Aku terlalu lelah

Sudah

Diri ini tidak perlu dibela

Biarlah mereka suka-suka

 

Hanya butuh beberapa jam

membuang pikiran kejam

ingin bebas

sebelum strategi bertahan ini membuatku kebas

 

Aku butuh semangat itu

sebentar saja, denganmu…

 

R.

(Jakarta, 8/8/2017 – 8:40)

 

“HANYA SEKALI…”

“HANYA SEKALI…”

Sejam berlalu. Raunganmu yang menyayat masih terdengar di balik pintu.

“Maafkan aku.” Begitu ulangmu. Sisanya lebih banyak berupa ratapan tidak jelas. Yang tidak biasa mendengar laki-laki dewasa bersikap seperti itu mungkin akan bergidik mendengarnya.

Namun, aku masih bergeming. Tak kupedulikan tatapan Mama yang matanya sudah merah dan berair.

“Maafkan suamimu, nak. Dia hanya khilaf. Lagipula, untung hanya sekali dan langsung ketahuan.”

Hanya sekali? Ingin aku tertawa. Alangkah naifnya Mama dan semua orang. Mungkin maksud mereka baru sekali ketahuan, meski mungkin perbuatannya sudah berkali-kali di belakangku. Siapa tahu, perempuan itu bukan satu-satunya.

“Laila, tolonglah,” pinta Mama lagi. “Maafkan Nino, sayang. Mama yakin kamu adalah istri yang baik.”

Ya, ya, ya. Aku selalu mendengarnya di mana-mana. Istri yang baik harus selalu memaafkan suami, sebrengsek dan sebejat apa pun kelakuan laki-laki itu.

Lalu, bagaimana dengan suami? Apa yang terjadi bila situasi terbalik, si istri yang selingkuh? Aku ingat May, temanku yang pernah khilaf sekali. Suaminya yang terlanjur jijik langsung menggugat cerai dan menyebutnya pelacur murahan. Bahkan, belum puas laki-laki itu membalas dendam, dengan teganya dia menyebar aib May ke mana-mana. Laman media sosial May sampai penuh dengan umpatan dari para netizen yang berperan sebagai bully, main hakim sendiri.

Mama juga langsung melarangku berteman dengan May.

“Perempuan baik-baik nggak pantes temenan ama perempuan macam itu.”

Astaga, Mama ngapain? Kulihat beliau memutar kunci pintu.

“Mama, jangan.” Terlambat. Kamu telah masuk dan kini berlutut di depanku, sambil menggenggam erat kedua tanganku. Masih menangis dan meraung-raung, bak adegan sinetron basi.

Kutahan rasa mual sebisaku, karena ingat tanganmu pernah menyentuh perempuan lain. Perempuan itu, yang telanjang di balik selimut bersamamu di kamar hotel itu. Mimpi terburukku saat memergokimu.

“Laila, maafkan aku.” Kembali mataku dan mata Mama bertemu. Ah, sial. Sorot mata beliau yang basah masih sama. Apa iya aku mau jadi anak durhaka karena enggan menurutinya?

Nino, kamu beruntung karena kamu laki-laki. Mereka akan selalu memintaku memaafkanmu dan menerimamu kembali…

—//—

Kalau semua mengira aku bidadari sempurna yang langsung memaafkanmu begitu saja, salah besar. Aku memang perempuan, tapi aku juga masih manusia biasa. Aku berhak marah dan merasa sakit hati sebagai seorang istri. Butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan rasa percayaku lagi.

Aku melakukan ini demi Mama, yang entah kenapa lebih malu bila kita sampai bercerai. Padahal, akulah anaknya yang disakiti.

Setidaknya, kamu sekarang lebih sadar dan tahu diri. Kamu berusaha keras sekali untuk mendapatkan kepercayaanku lagi. Mulai jarang hangout dengan teman-temanmu. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Berusaha lebih memanjakanku kali ini.

Awalnya, aku masih bersikap dingin. Namun, kamu juga tidak menyerah. Hmm, mungkin Mama memang benar. Barangkali kamu memang tulus ingin berubah.

Akhirnya, malam itu kita kembali seperti dulu. Bercinta di atas ranjang itu, sebagai suami dan istri yang kembali bersatu. Ada lega di wajahmu.

“Laila, aku mencintaimu…”

—//—

Kita kembali berbahagia, namun kenapa akhir-akhir ini sama-sama mudah lelah? Jatuh sakit dan sembuhnya suka lama. Ringkih, padahal belum juga terlalu tua. Kita sama-sama masih suka olahraga dan menjaga pola makan.

Beberapa kali, aku mengajakmu ke dokter. Kamu menolak dengan alasan sibuk, meski kutahu sebenarnya kamu gengsi. Jadi aku selalu pergi sendiri.

Sampai akhirnya dokter menyarankanku untuk melakukan tes yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tiga huruf singkatan virus yang menjadi nama tes itu membuatku ngeri…

—//—

“Nino, kita harus bicara.”

Wajahmu memucat, disertai tanda-tanda ekspresi defensif.

“Laila, aku udah gak selingkuh lagi. Sumpah.”

“Aku percaya.” Senyumku tipis saat kuserahkan amplop putih itu padamu. Untuk menjawab sorot tanya pada matamu, kujelaskan, “Aku baru tes dari klinik.”

“Oh.” Ada harap pada wajahmu saat membuka amplop itu. Kamu bahkan hampir tersenyum. “Apa kamu-“

“Sayangnya bukan.” Kutunggu reaksimu dengan jantung berdebar-debar.

Benar saja, wajahmu memucat. Matamu berkaca-kaca saat kembali menatapku. Yang kamu tidak tahu, beberapa jam sebelumnya aku sudah menangis sendirian, sambil menunggumu pulang kantor.

Kamu tahu aku tidak pernah selingkuh. Hanya butuh tiga huruf itu untuk membuatku diam membisu, sementara kamu kembali tampak merasa bersalah seperti dulu.

Aku sudah tidak mendengar ucapanmu lagi. Yang kuingat malah dua kata yang mereka semua ucapkan padaku dulu, saat kau terpergok selingkuh dan aku diminta untuk memaafkanmu:

“Hanya sekali…”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“Kira-kira yang mana ya, yang bagus?”

“Yang itu aja, Ma.” Faiza menunjuk sepatu merah berhak rendah. “Cocok sama gaun buat ke kawinan besok.”

“Oke, kamu cobain dulu, deh.” Untung ada sepasang, jadi bisa sekalian dicoba dua-duanya.

Faiza menunduk dan – di luar dugaan – menarik lepas kedua tungkai prostetik-nya. Berpasang-pasang mata membeliak terkejut. Penjaga toko sampai menahan napas, namun Mama hanya mendelik pada Faiza.

“Apaan?” Faiza menyahut polos. Dipasangnya sepatu pada kaki palsunya, sebelum memasangkan kakinya kembali. Lalu gadis itu berdiri dan mulai berjalan.

“Muat, Ma. Enak.”

Kelar membayar, ibu dan anak keluar toko, diiringi tatapan heran penjaga toko dan pengunjung lain.

(100 KATA – #FFKAMIS “SEPATU”)

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

Apakah wajah ini sudah menipumu,

dengan senyum palsu

namun hati pilu?

Bukannya tiada syukur telah bertemu

berbagi kisah, meski rasa masih hinggap di kalbu

terlalu malu

hingga kadang lidah kelu

 

Semoga wajah ini cukup ahli menipumu,

saat cinta terasa semu

oleh beda penghalang satu

 

Hingga kini,

aku masih diam

di ujung pengharapan

berharap cinta segera redam

padam, hilanglah sekalian

sebelum sekali lagi

diri ini kembali dalam kehancuran…

 

R.

 

“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?

“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?”

Langsung saja, ya:

Satu malam, saya makan bareng seorang teman laki-laki dan seorang kenalan perempuan yang baru saya kenal hari itu. Kebetulan, seharian itu kami semua termasuk rombongan yang sempat barengan ke luar kota untuk menjenguk kawan yang baru punya anak. Selama perjalanan tersebut, si perempuan (yang mobilnya dia pinjamkan khusus untuk perjalanan itu) bisa melihat keakraban saya dengan para teman laki-laki.

Ya, saya senang berteman dengan siapa saja, baik laki-laki maupun sesama perempuan. Memang rasanya pasti beda, namun bukan berarti yang satu lebih baik dan penting daripada yang lain. Sebalnya, kadang saya harus menjelaskan ini berkali-kali pada mereka yang entah kenapa hobi banget nanya gini:

“Emang cewek ama cowok bisa ya, temenan doang?”

Saya akui, memang ada beberapa kasus yang berakhir ‘nggak asik’, seperti rasa suka yang bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya musuhan, cemburu nggak penting, atau persaingan ‘nggak sehat’ dalam rangka memperebutkan satu-satunya cewek di geng cowok (atau sebaliknya, cowok di antara para cewek). Ujung-ujungnya persahabatan jadi korban.

Tapi, apa iya semua harus kayak sinetron basi gitu? Sebentar, saya lanjut cerita dulu, ya.

Singkat cerita, si kenalan perempuan sedang heboh bercerita soal laki-laki yang sedang dekat dengannya. Harapnya, semoga kali ini bisa berlanjut serius. Sebagai sesama perempuan yang mencari hal serupa, saya langsung menyahut setuju.

Namun, entah kenapa mendadak si kenalan perempuan menatap saya dengan aneh. Di luar dugaan, berikutnya keluar deh, ucapan ini dari mulutnya:

“Elo kalo mau cepet dapet cowok yang serius, jangan kebanyakan temenan dan nongkrong ama cowok-cowok.”

Karena malas meladeni tudingan si kenalan perempuan yang baru juga sekali ketemu saya, saya langsung berlagak bodoh. “Maksudnya?”

“Ya, kalo elo lebih sering jadi ‘wingman’ mereka, ntar cowok yang beneran suka ama elo jadi males deketin.”

Di luar dugaan, teman laki-laki saya langsung membela: “Maksud lo, si Ruby harus lebih prissy* dan feminin, gitu?”

(*Prissy = ganjen, kemayu, atau genit. Sekadar tambahan: kalau Anda aslinya memang perempuan feminin dan kemayu – serta merasa nyaman begitu – ya nggak masalah. Nggak berarti Anda lebih rendah daripada saya yang kebetulan memang agak tomboy dan punya cukup banyak teman laki-laki.)

Sebenarnya, malam itu saya mau nyengir melihat si kenalan perempuan langsung cemberut mendengar ucapan teman laki-laki saya. Namun, karena seharian keluar kota bikin lelah, malam sudah larut, dan saya enggan ribut, akhirnya saya menyahut santai:

“Hmm…gimana, ya? Gue nggak tahu gimana caranya jadi orang lain. Gue cuma tahu cara jadi diri sendiri.”

“Memang yang bagus begitu,” dukung teman laki-laki saya. Namun, lagi-lagi perempuan yang duduk di depan kami malam itu enggan mengaku kalah.

“Gue baca soal ini di artikel, sih.”

Yah, hari gini siapa pun bisa bikin artikel opini, ‘kan? (Termasuk saya sendiri, hehehe.) Namun, lagi-lagi saya malas berdebat, jadi hanya membalasnya dengan cerita pengalaman nyata saya sendiri:

“Kakak gue juga punya banyak temen cowok, tapi dia masih bisa dapet suami, tuh.”

Skak mat.

Emang teman-teman lain jenis penghalang jodoh Anda? Ah, kasihan benar mereka selalu jadi kambing hitam. Lagipula, saya paling ogah sama laki-laki cemburuan dan sampai membatasi pertemanan saya. Rugi amat!

Bahkan, adik saya sendiri saja juga pernah bilang begini:

“Kalo itu cowok beneran suka dan nggak insecure, dia bakal nanya dulu soal temen-temen cowok yang deket ama elo. Dia juga nggak mudah terancam sama kehadiran mereka.”

Nggak enaknya, masih banyak yang memandang perempuan yang punya banyak teman laki-laki dengan persepsi ‘miring’.  (Hmm, mungkin mereka harus belajar lebih menegakkan diri biar nggak gampang pusing, hehe.) Padahal, belum tentu juga temenannya pake pegang-pegangan segala (kecuali kalau sampai ada yang nyaris jatuh dari lantai 13 kayak di film-film action!)

Kalau nggak “pasti lesbi” (apalagi bila kebetulan si perempuan tomboy), ya “milik bersama” (maksudnya? Saya akan berusaha pura-pura nggak ngerti ucapan sinis ini), atau “sang primadona”.

Nah, yang terakhir ini bikin saya mau ngakak. Sang primadona? Nggak heran masih aja ada sesama perempuan yang merasa lebih hebat karena punya lebih banyak teman laki-laki daripada sesama perempuan sendiri. Maksudnya apa, diperlakukan kayak ratu, begitu? Haha, ngarep banget, tuh!

Laki-laki yang punya banyak teman perempuan juga suka dapat stereotype nggak enak. Entah sering dikira “pasti gay”, “playboy”, “kurang macho”, hingga “pasti diem-diem jadi rebutan temen-temen ceweknya sendiri”.

Apakah saya bakal cemburu kalau suatu saat punya pasangan yang berteman dengan banyak perempuan? Berhubung saya sendiri juga nggak suka dikekang, asal dia tahu diri dan bisa jaga kepercayaan sih, nggak masalah. Tapi sebelum Anda mulai menakut-nakuti saya dengan kemungkinan si dia tergoda perempuan lain, ini jawaban saya:

“Kalau sampai ‘kejadian’, bukan saya yang bodoh. Dia yang nggak bisa jaga kepercayaan. Selain itu, perempuan pun juga bisa tergoda sama teman laki-lakinya sendiri. Tapi, kenapa sih, kita harus selalu parno begini? ‘Kan manusia punya akal, nggak cuma nurutin napsu doang!”

Kalau percaya jodoh di tangan Tuhan, harusnya kita jangan mudah termakan stereotyping bikinan orang. Toh, nggak semua teman laki-laki bakalan saya goda juga, ‘kan? Kurang kerjaan amat!

R.

 

“INDONESIA, KENAL PRIVASI / PERSONAL SPACE, NGGAK?”

“INDONESIA, KENAL PRIVASI / PERSONAL SPACE, NGGAK?”

Mohon maaf harus bertanya seperti ini (meski sebenernya nggak nyesel-nyesel amat.) Soalnya suka ada yang sensi dan malah balas defensif:

“Jangan suka jelek-jelekin saudara/bangsa sendirilah.”

“Emang elo sendiri orang apa?”

“Emang elo sendiri udah paling bener? Nggak usah muna deh, pasti elo juga udah pernah ‘kan, kepo ama urusan orang lain – meski cuma sekali?”

Tuh, kan? Hampir aja saya jadi malas nulis. Apalagi begitu ada komen khas satu lagi, yang kali ini malah memaklumi:

“Udahlah, namanya juga orang Indonesia. Kepo dan nyinyir itu ibarat udah mendarah-daging.”

“Ya, mereka ‘kan cuma bermaksud baik. Anggep aja bentuk perhatian, daripada malah sengsara dicuekin.”

Hhh…grrh…sabarr…sabarrr…

Anyway, saya nanya gini juga bukan asal nyinyir atau cuma sinis nggak penting. Ada alasannya. Lihat aja di jalan, macet yang makin rapat. Trotoar yang kayaknya bikin nggak rela dibiarin kosong. Kalo nggak ada tukang jualan ya, motor lewat di sana pas macet. Bahkan, nggak jarang mereka mengklakson pejalan kaki yang lebih punya hak atau memaksa mereka minggir dan mengalah, meski pake kekerasan.

Lalu soal mengantri. Seorang teman ekspat pernah nanya begini sama saya (yang terjemahannya begini):

“Harus ya, berdirinya pada mepet begini pas ngantri?”

Iya, memang risih. Tapi gimana, ya? Pasti mereka selalu punya alasan, seperti:

  • Takut diserobot.
  • Takut ketinggalan antrian.
  • Emang dasar ‘aji mumpung’, alias mau mencopet atau melecehkan.

Hadeuhh…

Lalu, satu lagi yang udah kelewat familiar buat orang Indonesia sendiri, terutama sejak adanya media sosial. Mungkin mereka yang untungnya udah berpikiran lebih terbuka bisa menghormati perbedaan pilihan manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Sayangnya, justru yang paling ‘caper’ (cari perhatian) dan berisik justru yang pola pikirnya sempit dan ngotot merasa paling benar sendiri. Entah karena dasar insecure atau memang sengaja mau bikin rame. Biasa, cari sensasi.

Misalnya: ada cowok milih mau nikah sama cewek di bawah usia 25. Kalau ceweknya juga mau sih, terserah.

Yang jadi masalah saat cowok itu dengan entengnya mengejek bahwa cewek-cewek usia 25 ke atas itu udah ketuaan dan cewek-cewek yang lebih milih kuliah duluan (bahkan lanjut sampai S2 dan S3) serta berkarir itu sombongnya setengah mati dan mata duitan. Bahkan, saking desperate-nya, mereka sampai menakut-nakuti dengan membawa-bawa maut (sampai lupa bahwa itu murni takdir Tuhan, termasuk anak di bawah umur yang meninggal duluan dan pastinya belum sempat nikah.)

Cowok-cowok macam ini juga ada yang sampai menyumpah-nyumpahi yang jelek-jelek, seperti: cewek-cewek pintar dan sukses yang bikin mereka insecure bakal berakhir jadi perawan nggak laku dan buntutnya desperate nguber-nguber laki orang, rela jadi madu. Kesannya, perempuan nggak beda dengan barang dagangan yang punya masa expired.

Hasilnya? Ya, dagelan basi. Boleh sih, punya pendapat sesinting dan sedengki apa pun. Cuma ya, nggak usah pake nyerang mereka yang punya pilihan beda, bahkan sampai menghina dan menakut-nakuti segala. Emang mereka bakal langsung nurut dan berubah pikiran?

Nggak usah ngambek juga kalau dikritik sama yang nggak sepakat. Hanya yang benar-benar dewasa yang bisa menerima perbedaan. Kalau lagaknya juga kurang santun gitu, mana ada orang waras yang tahan?

Jujur, saya paling nggak suka disindir-sindir, diancam-ancam, maupun ditakut-takutin. Biasanya, laki-laki macam ini malah bikin saya alergi. Udah nggak percaya diri, masih harus merendahkan orang lain hanya agar membuat dirinya merasa lebih ‘tinggi’.

Semoga masih dan makin banyak orang Indonesia yang mengerti arti privasi. Jadi, nggak ada lagi yang bikin sesak dan sok mendikte sana-sini…

 

R.

 

“SEBUAH KEJATUHAN”

Foto: kriminalitas.com

“SEBUAH KEJATUHAN”

Biarkan…

Biarkan semua tanya

mengambang di udara

Mengapa dan bagaimana bisa?

 

Biarkan kecewa meraja

tanpa mau tahu alasannya

Ingin bicara

meski telah hilang rasa

 

Biarkan…

Biarkan mereka mengira-ngira

Ada 1001 teori di sana

tentang kau yang selalu dianggap kalah berlomba

 

Sekali lagi,

hadapi kejatuhanmu sendiri

Mereka yang berharap terlalu tinggi

kini mana mau peduli…

 

R.