“SEPATU UNTUK FAIZA”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“Kira-kira yang mana ya, yang bagus?”

“Yang itu aja, Ma.” Faiza menunjuk sepatu merah berhak rendah. “Cocok sama gaun buat ke kawinan besok.”

“Oke, kamu cobain dulu, deh.” Untung ada sepasang, jadi bisa sekalian dicoba dua-duanya.

Faiza menunduk dan – di luar dugaan – menarik lepas kedua tungkai prostetik-nya. Berpasang-pasang mata membeliak terkejut. Penjaga toko sampai menahan napas, namun Mama hanya mendelik pada Faiza.

“Apaan?” Faiza menyahut polos. Dipasangnya sepatu pada kaki palsunya, sebelum memasangkan kakinya kembali. Lalu gadis itu berdiri dan mulai berjalan.

“Muat, Ma. Enak.”

Kelar membayar, ibu dan anak keluar toko, diiringi tatapan heran penjaga toko dan pengunjung lain.

(100 KATA – #FFKAMIS “SEPATU”)

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

“DIAM…DI UJUNG PENGHARAPAN…”

Apakah wajah ini sudah menipumu,

dengan senyum palsu

namun hati pilu?

Bukannya tiada syukur telah bertemu

berbagi kisah, meski rasa masih hinggap di kalbu

terlalu malu

hingga kadang lidah kelu

 

Semoga wajah ini cukup ahli menipumu,

saat cinta terasa semu

oleh beda penghalang satu

 

Hingga kini,

aku masih diam

di ujung pengharapan

berharap cinta segera redam

padam, hilanglah sekalian

sebelum sekali lagi

diri ini kembali dalam kehancuran…

 

R.

 

“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?

“TEMAN-TEMAN LAIN JENIS = PENGHALANG CINTA SEJATI?”

Langsung saja, ya:

Satu malam, saya makan bareng seorang teman laki-laki dan seorang kenalan perempuan yang baru saya kenal hari itu. Kebetulan, seharian itu kami semua termasuk rombongan yang sempat barengan ke luar kota untuk menjenguk kawan yang baru punya anak. Selama perjalanan tersebut, si perempuan (yang mobilnya dia pinjamkan khusus untuk perjalanan itu) bisa melihat keakraban saya dengan para teman laki-laki.

Ya, saya senang berteman dengan siapa saja, baik laki-laki maupun sesama perempuan. Memang rasanya pasti beda, namun bukan berarti yang satu lebih baik dan penting daripada yang lain. Sebalnya, kadang saya harus menjelaskan ini berkali-kali pada mereka yang entah kenapa hobi banget nanya gini:

“Emang cewek ama cowok bisa ya, temenan doang?”

Saya akui, memang ada beberapa kasus yang berakhir ‘nggak asik’, seperti rasa suka yang bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya musuhan, cemburu nggak penting, atau persaingan ‘nggak sehat’ dalam rangka memperebutkan satu-satunya cewek di geng cowok (atau sebaliknya, cowok di antara para cewek). Ujung-ujungnya persahabatan jadi korban.

Tapi, apa iya semua harus kayak sinetron basi gitu? Sebentar, saya lanjut cerita dulu, ya.

Singkat cerita, si kenalan perempuan sedang heboh bercerita soal laki-laki yang sedang dekat dengannya. Harapnya, semoga kali ini bisa berlanjut serius. Sebagai sesama perempuan yang mencari hal serupa, saya langsung menyahut setuju.

Namun, entah kenapa mendadak si kenalan perempuan menatap saya dengan aneh. Di luar dugaan, berikutnya keluar deh, ucapan ini dari mulutnya:

“Elo kalo mau cepet dapet cowok yang serius, jangan kebanyakan temenan dan nongkrong ama cowok-cowok.”

Karena malas meladeni tudingan si kenalan perempuan yang baru juga sekali ketemu saya, saya langsung berlagak bodoh. “Maksudnya?”

“Ya, kalo elo lebih sering jadi ‘wingman’ mereka, ntar cowok yang beneran suka ama elo jadi males deketin.”

Di luar dugaan, teman laki-laki saya langsung membela: “Maksud lo, si Ruby harus lebih prissy* dan feminin, gitu?”

(*Prissy = ganjen, kemayu, atau genit. Sekadar tambahan: kalau Anda aslinya memang perempuan feminin dan kemayu – serta merasa nyaman begitu – ya nggak masalah. Nggak berarti Anda lebih rendah daripada saya yang kebetulan memang agak tomboy dan punya cukup banyak teman laki-laki.)

Sebenarnya, malam itu saya mau nyengir melihat si kenalan perempuan langsung cemberut mendengar ucapan teman laki-laki saya. Namun, karena seharian keluar kota bikin lelah, malam sudah larut, dan saya enggan ribut, akhirnya saya menyahut santai:

“Hmm…gimana, ya? Gue nggak tahu gimana caranya jadi orang lain. Gue cuma tahu cara jadi diri sendiri.”

“Memang yang bagus begitu,” dukung teman laki-laki saya. Namun, lagi-lagi perempuan yang duduk di depan kami malam itu enggan mengaku kalah.

“Gue baca soal ini di artikel, sih.”

Yah, hari gini siapa pun bisa bikin artikel opini, ‘kan? (Termasuk saya sendiri, hehehe.) Namun, lagi-lagi saya malas berdebat, jadi hanya membalasnya dengan cerita pengalaman nyata saya sendiri:

“Kakak gue juga punya banyak temen cowok, tapi dia masih bisa dapet suami, tuh.”

Skak mat.

Emang teman-teman lain jenis penghalang jodoh Anda? Ah, kasihan benar mereka selalu jadi kambing hitam. Lagipula, saya paling ogah sama laki-laki cemburuan dan sampai membatasi pertemanan saya. Rugi amat!

Bahkan, adik saya sendiri saja juga pernah bilang begini:

“Kalo itu cowok beneran suka dan nggak insecure, dia bakal nanya dulu soal temen-temen cowok yang deket ama elo. Dia juga nggak mudah terancam sama kehadiran mereka.”

Nggak enaknya, masih banyak yang memandang perempuan yang punya banyak teman laki-laki dengan persepsi ‘miring’.  (Hmm, mungkin mereka harus belajar lebih menegakkan diri biar nggak gampang pusing, hehe.) Padahal, belum tentu juga temenannya pake pegang-pegangan segala (kecuali kalau sampai ada yang nyaris jatuh dari lantai 13 kayak di film-film action!)

Kalau nggak “pasti lesbi” (apalagi bila kebetulan si perempuan tomboy), ya “milik bersama” (maksudnya? Saya akan berusaha pura-pura nggak ngerti ucapan sinis ini), atau “sang primadona”.

Nah, yang terakhir ini bikin saya mau ngakak. Sang primadona? Nggak heran masih aja ada sesama perempuan yang merasa lebih hebat karena punya lebih banyak teman laki-laki daripada sesama perempuan sendiri. Maksudnya apa, diperlakukan kayak ratu, begitu? Haha, ngarep banget, tuh!

Laki-laki yang punya banyak teman perempuan juga suka dapat stereotype nggak enak. Entah sering dikira “pasti gay”, “playboy”, “kurang macho”, hingga “pasti diem-diem jadi rebutan temen-temen ceweknya sendiri”.

Apakah saya bakal cemburu kalau suatu saat punya pasangan yang berteman dengan banyak perempuan? Berhubung saya sendiri juga nggak suka dikekang, asal dia tahu diri dan bisa jaga kepercayaan sih, nggak masalah. Tapi sebelum Anda mulai menakut-nakuti saya dengan kemungkinan si dia tergoda perempuan lain, ini jawaban saya:

“Kalau sampai ‘kejadian’, bukan saya yang bodoh. Dia yang nggak bisa jaga kepercayaan. Selain itu, perempuan pun juga bisa tergoda sama teman laki-lakinya sendiri. Tapi, kenapa sih, kita harus selalu parno begini? ‘Kan manusia punya akal, nggak cuma nurutin napsu doang!”

Kalau percaya jodoh di tangan Tuhan, harusnya kita jangan mudah termakan stereotyping bikinan orang. Toh, nggak semua teman laki-laki bakalan saya goda juga, ‘kan? Kurang kerjaan amat!

R.

 

“INDONESIA, KENAL PRIVASI / PERSONAL SPACE, NGGAK?”

“INDONESIA, KENAL PRIVASI / PERSONAL SPACE, NGGAK?”

Mohon maaf harus bertanya seperti ini (meski sebenernya nggak nyesel-nyesel amat.) Soalnya suka ada yang sensi dan malah balas defensif:

“Jangan suka jelek-jelekin saudara/bangsa sendirilah.”

“Emang elo sendiri orang apa?”

“Emang elo sendiri udah paling bener? Nggak usah muna deh, pasti elo juga udah pernah ‘kan, kepo ama urusan orang lain – meski cuma sekali?”

Tuh, kan? Hampir aja saya jadi malas nulis. Apalagi begitu ada komen khas satu lagi, yang kali ini malah memaklumi:

“Udahlah, namanya juga orang Indonesia. Kepo dan nyinyir itu ibarat udah mendarah-daging.”

“Ya, mereka ‘kan cuma bermaksud baik. Anggep aja bentuk perhatian, daripada malah sengsara dicuekin.”

Hhh…grrh…sabarr…sabarrr…

Anyway, saya nanya gini juga bukan asal nyinyir atau cuma sinis nggak penting. Ada alasannya. Lihat aja di jalan, macet yang makin rapat. Trotoar yang kayaknya bikin nggak rela dibiarin kosong. Kalo nggak ada tukang jualan ya, motor lewat di sana pas macet. Bahkan, nggak jarang mereka mengklakson pejalan kaki yang lebih punya hak atau memaksa mereka minggir dan mengalah, meski pake kekerasan.

Lalu soal mengantri. Seorang teman ekspat pernah nanya begini sama saya (yang terjemahannya begini):

“Harus ya, berdirinya pada mepet begini pas ngantri?”

Iya, memang risih. Tapi gimana, ya? Pasti mereka selalu punya alasan, seperti:

  • Takut diserobot.
  • Takut ketinggalan antrian.
  • Emang dasar ‘aji mumpung’, alias mau mencopet atau melecehkan.

Hadeuhh…

Lalu, satu lagi yang udah kelewat familiar buat orang Indonesia sendiri, terutama sejak adanya media sosial. Mungkin mereka yang untungnya udah berpikiran lebih terbuka bisa menghormati perbedaan pilihan manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Sayangnya, justru yang paling ‘caper’ (cari perhatian) dan berisik justru yang pola pikirnya sempit dan ngotot merasa paling benar sendiri. Entah karena dasar insecure atau memang sengaja mau bikin rame. Biasa, cari sensasi.

Misalnya: ada cowok milih mau nikah sama cewek di bawah usia 25. Kalau ceweknya juga mau sih, terserah.

Yang jadi masalah saat cowok itu dengan entengnya mengejek bahwa cewek-cewek usia 25 ke atas itu udah ketuaan dan cewek-cewek yang lebih milih kuliah duluan (bahkan lanjut sampai S2 dan S3) serta berkarir itu sombongnya setengah mati dan mata duitan. Bahkan, saking desperate-nya, mereka sampai menakut-nakuti dengan membawa-bawa maut (sampai lupa bahwa itu murni takdir Tuhan, termasuk anak di bawah umur yang meninggal duluan dan pastinya belum sempat nikah.)

Cowok-cowok macam ini juga ada yang sampai menyumpah-nyumpahi yang jelek-jelek, seperti: cewek-cewek pintar dan sukses yang bikin mereka insecure bakal berakhir jadi perawan nggak laku dan buntutnya desperate nguber-nguber laki orang, rela jadi madu. Kesannya, perempuan nggak beda dengan barang dagangan yang punya masa expired.

Hasilnya? Ya, dagelan basi. Boleh sih, punya pendapat sesinting dan sedengki apa pun. Cuma ya, nggak usah pake nyerang mereka yang punya pilihan beda, bahkan sampai menghina dan menakut-nakuti segala. Emang mereka bakal langsung nurut dan berubah pikiran?

Nggak usah ngambek juga kalau dikritik sama yang nggak sepakat. Hanya yang benar-benar dewasa yang bisa menerima perbedaan. Kalau lagaknya juga kurang santun gitu, mana ada orang waras yang tahan?

Jujur, saya paling nggak suka disindir-sindir, diancam-ancam, maupun ditakut-takutin. Biasanya, laki-laki macam ini malah bikin saya alergi. Udah nggak percaya diri, masih harus merendahkan orang lain hanya agar membuat dirinya merasa lebih ‘tinggi’.

Semoga masih dan makin banyak orang Indonesia yang mengerti arti privasi. Jadi, nggak ada lagi yang bikin sesak dan sok mendikte sana-sini…

 

R.

 

“SEBUAH KEJATUHAN”

Foto: kriminalitas.com

“SEBUAH KEJATUHAN”

Biarkan…

Biarkan semua tanya

mengambang di udara

Mengapa dan bagaimana bisa?

 

Biarkan kecewa meraja

tanpa mau tahu alasannya

Ingin bicara

meski telah hilang rasa

 

Biarkan…

Biarkan mereka mengira-ngira

Ada 1001 teori di sana

tentang kau yang selalu dianggap kalah berlomba

 

Sekali lagi,

hadapi kejatuhanmu sendiri

Mereka yang berharap terlalu tinggi

kini mana mau peduli…

 

R.

 

“DI MATAKU”

“DI MATAKU”

Aku bisa duduk berjam-jam, mendengarkan ceritamu tentangnya.Deskripsimu tentangnya memungkinkanku untuk membayangkannya dengan mata terpejam. Rambutnya yang cokelat panjang dengan semburat merah di bawah sinar matahari. Matanya yang biru…yang membuatmu tidak keberatan terpesona olehnya. Senyumnya…ah, haruskah kulanjutkan?

Seperti biasa, kubiarkan kamu terus mengoceh. Kubuat pensilku menari-nari dengan luwes di atas kertas putih, seperti skater di gelanggang es. Terkadang aku hanya bergumam:”Ya.” Kadang aku terkikik melihat ekspresimu. Mata cokelatmu tampak bercahaya.

Aku tersenyum saat matamu tiba-tiba melembut. Salut buat Dewa Cinta Yunani bernama Cupid. Lihatlah bagaimana anak panahnya ini memberi efek permanen padamu.

Hari itu, tiba-tiba kamu berhenti berbicara dan melihatku menatapmu. Menyadari yang sedang kulakukan, tanganmu perlahan terentang ke depan.

“Boleh nggak, lihat itu?”

“Jangan dulu!” Dengan cepat kulindungi buku sketsaku. Ketika kamu cemberut, kuraih tanganmu sambil tersenyum lembut. “Nanti, ya, kalau aku udah selesai. Janji, kok.”

Senyummu muncul kembali dan kamu pun menurut. Selesai menggambar, kutunjukkan hasilnya padamu.

“Ya, Tuhan!” desismu penuh kekaguman. Kau menatapku dan sketsa itu bergantian, nyaris kehilangan kata-kata. “Dia…”

“Ya.”

“Dia sangat cantik,” pujimu dengan suara agak gemetar oleh emosi. “Kamu membuatnya terlihat lebih cantik di sini.”

“Lha, bukannya katamu dia memang cantik?” aku menggodamu dengan alis terangkat sebelah. Kamu pun terkekeh.

 

Saya mengambil buku sketsa saya dari tangan Anda. Dengan hati-hati aku merobek kertas itu dan menyerahkannya padamu. Ah, sial kau. Kenapa matamu tiba-tiba jadi berkaca-kaca begitu?

Aduh, jangan nangis, dong.

“Terima kasih.” Lalu aku hampir tersedak oleh pelukanmu yang tiba-tiba. Setelah kamu melepaskanku, aku terdiam sesaat.

Andai saja, semua orang bisa sebahagia dirimu…

“Jangan khawatir, aku akan menggambar dia yang versi warna-warni,” ucapku kemudian, dengan agak canggung. “Ngomong-ngomong, kapan akad sama resepsinya?”

“Segera, kamu bakalan mendapatkan undangannya.”

— // —

Malam itu, aku sendirian di kamarku. Berbaring di tempat tidur, menatap dinding yang penuh kertas bergambar sketsa wajah yang sama, namun dengan ekspresi berbeda. Sebagian seakan menatapku balik.

Wajahmu…

Aku menghela napas. Harus kuapakan semua ini?

Kurasakan perhatianku terfokus pada salah satu wajah itu. Aku bangun untuk memandangnya lebih dekat. Kamu yang sedang tersenyum, saat pertama kali bercerita tentangnya. Entah kenapa, aku bisa menangkap cahaya itu di matamu.

Dengan hati-hati, kucopot kertas itu dari dinding dan melepas selotipnya dari semua sisi. Tiba-tiba aku ingin memberikan gambar itu padanya. Ingin kukatakan padanya, “Kamu tahu? Dia selalu seperti ini setiap kali membicarakanmu.”

Lalu, seperti yang sudah kujanjikan, kamu akan mendapatkan satu lagi sketsa berwarna wajah cinta sejatimu.

Restu dari seorang sahabat.

-tamat-

“Perangi Gagal Jantung Bersama BPJS Kesehatan dan Novartis”

Apa yang ada di benak Anda saat membaca fakta di bawah ini?

“80% penyakit tidak menular (termasuk gagal jantung) disebabkan oleh pilihan gaya hidup yang tidak sehat.”

Mungkin Anda sudah terlalu sering mendengarnya, baik saat membaca majalah kesehatan dan gaya hidup atau artikel kesehatan online. Mungkin juga, Anda kenal seseorang yang menderita gagal jantung, sehingga aktifitas mereka jadi sangat terbatas.

Sabtu kemarin (29/06/2017), saya termasuk salah satu blogger yang beruntung diundang ke acara pengenalan produk Novartis di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, menjelang waktu makan siang. Hadirnya Profesor Bambang Budi Siswanto, MD, profesor dalam bidang pengobatan kardiovaskular, Profesor David Sim dari National Heart Centre di Singapore, Ibu Lily dari BPJS Kesehatan, dan Milan Paleja selaku General Manager Pharma, President Director Novartis Indonesia, semakin menyadarkan kita mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh – terutama jantung.

Acara ini berawal dari video animasi mengenai seorang nenek yang selalu tampak lelah sehingga tidak bisa lagi mengajak anjingnya jalan-jalan. Sang cucu (narator) kemudian bercerita bahwa setelah neneknya mulai mengonsumsi produk Novartis, kesehatannya perlahan membaik.

Ada juga video kisah nyata seorang guru perokok bernama Syahrudi yang waktu itu berusia 47 tahun. Saat akhirnya divonis menderita gagal jantung, mau tidak mau seluruh hidupnya harus berubah. Tidak ada lagi acara hiking, makan-makan enak, hingga merokok pun harus berhenti total.

Gagal jantung adalah kondisi kesehatan serius, yaitu saat jantung tidak bisa lagi memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Otot-otot jantung yang melemah membuat pasokan oksigen yang berasal dari dalam darah tidak tersebar dengan sempurna. Akibatnya, tubuh pun mudah lelah.

Sayangnya, masih banyak orang Indonesia yang salah kaprah soal gagal jantung. Kebanyakan baru memeriksakan diri ke dokter setelah merasakan gejala serius…atau saat sudah parah sekali. Selain itu, sekalinya seseorang divonis menderita gagal jantung oleh dokter, berarti selamanya dia akan tergantung sama obat.

Ibu Lily juga menyarankan agar mengikuti tahapan CERDIK, yaitu:

– Cek kesehatan secara berkala.

– Enyahkan asap rokok.

– Rajin aktifitas fisik.

– Diet sehat.

– Kalori seimbang.

Milan Paleja juga hadir untuk mengenalkan produk Novartis kepada masyarakat. Namun, apa pun obatnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jantung tetap harus jadi yang utama.

Semoga dengan adanya Novartis, perang melawan gagal jantung dapat dimenangkan. Masa depan Indonesia sudah sangat terancam karenanya.

“DI TENGAH LAUTAN TUGAS YANG TIADA TUNTAS…”

“DI TENGAH LAUTAN TUGAS YANG TIADA TUNTAS…”

 

Di tengah lautan tugas

yang tiada tuntas

saat semua bergegas

membawa yang dikemas

tiada lelah boleh dilepas

waktu bisa sangat lugas

lelah tapi harus tegas

ajaib bila masih waras…

 

…kutemukan keabadian

pada senyummu yang menawan

tatapanmu yang menghanyutkan

meski entah sampain kapan

sebelum aku kembali…

 

…bertugas…

 

R.

 

“BARISAN PATAH HATI: STOP NYINYIR!”

“BARISAN PATAH HATI: STOP NYINYIR!

 

“Cowok itu buta sama personality. Mereka selalu maunya sama yang cantik-cantik, langsing, seksi. Perkara itu cewek gak berotak dan mulutnya super bitch urusan belakangan!”

“Kenapa cowok baik-baik lebih banyak yang single? Karena cewek lebih suka bad boy. Lebih menarik, menantang, dan gak ngebosenin.”

 

Kedengaran familiar? Pernah denger kenalan ngomong gini? Jangan-jangan ini juga pernah terucap dari kalimat Anda.

Hmm, gimana ya, ngebahasnya? Baiklah, biar nggak dituduh selalu nyalahin laki-laki, saya akan fair dan mulai dari diri sendiri:

“Kurusin, dong! Mau ‘kan, punya pacar?”

“Kenapa sih, lo gak bisa kayak kakak lo aja?”

“Iya, banyak yang bilang kakak lo lebih cantik daripada elo.”

 

Dari dulu saya bertanya-tanya, kenapa untuk memuji seorang manusia – apalagi perempuan – selalu harus ada perbandingan bernada ‘menjatuhkan’? Sama kayak produk A dan B – atau iklan pemutih kulit (ATAU OBAT DIET!) dengan gambar ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ yang nyebelin banget dan sempet bikin trauma.

Seakan-akan mereka berhak menilai mana yang lebih sempurna, padahal Tuhan sudah menciptakan semua dengan keindahan masing-masing. Berani-beraninya.

Sempat tumbuh dengan kepercayaan diri rendah gara-gara di-bully (yap, dianggap kurang cantik dan kurang berharga untuk dilirik lawan jenis) sempat bikin saya jadi PEMBENCI. Ya, saya membenci diri dan tubuh saya sendiri. Saya membenci sesama perempuan yang entah kenapa selalu dianggap lebih cantik daripada saya. Apalagi, sepertinya mereka punya banyak penggemar laki-laki dan saya…yah, tahu sendirilah.

Saya juga jadi mudah ilfil saat laki-laki yang saya sukai dan mengaku suka cewek baik-baik, buntutnya tetap memilih yang langsing. Meskipun masih berusaha menjaga pertemanan, dalam hati saya memendam sakit hati dan dendam.

Dasar sial, lama-lama kebencian yang begitu menggerogoti dari dalam sempat menghancurkan persahabatan saya dengan seorang laki-laki yang sebenarnya baik sekali. Meskipun sekarang kami sudah berdamai dan saling memaafkan, saya akan selalu mengingat hal itu sebagai pelajaran.

Tapi ini beneran, dulu waktu perempuan (yang dianggap) cantik disukai oleh laki-laki yang saya sukai namun bertabiat jelek, kemarahan saya sempat timbul. Apa sih, yang kurang dari saya? Kurang kurus? Oke, tapi ‘kan selama ini saya udah berusaha baik sama cowok ini. Kok dia nggak ngeh juga, ya?

Waktu itu, saya belum sadar bahwa saya adalah korban verbal bullying yang masih memendam sakit hati, sehingga berubah sombong sekali. Saya baik? Kata siapa?

Banyak yang dengan mudahnya dulu hanya bisa menyuruh saya untuk bersikap cuek dan percaya diri. Nggak pernah ada teguran buat para bully yang dengan entengnya menghina fisik saya dan menganggapnya sebagai ‘cacat’ penyebab laki-laki enggan tertarik dengan saya.

Jujur, butuh waktu lama untuk saya agar sadar. Memang benar, seharusnya saya nggak mudah termakan ucapan jahat mereka bahwa perempuan baru dianggap ‘cantik’ kalau sudah memenuhi syarat-syarat bias patriarki: harus kurus, bisa dan suka dandan, berkulit putih, berambut panjang, dan…yang paling penting, nih. Disukai banyak laki-laki, apalagi yang termasuk kategori tampan standar ‘alpha male’.

Cuma, dasar sial habis ini terganjal standar ganda lagi. Boleh disukai banyak laki-laki selama masih lajang, apalagi kalau bisa ampe bikin mereka taruhan buat menaklukkan si perempuan. Kalau perlu pake berantem segala karena rebutan, berasa si perempuan nggak beda dengan ‘piala berlapis emas’. Huek.

Tapi, perempuan juga jangan sampai jadi ‘murahan’ (lagi-lagi menurut versi patriarki). Nggak boleh ‘tebar pesona’. (Entah menurut versi siapa.) Harus setia (sementara pasangannya boleh ‘ke mana-mana’, bahkan ‘punya lebih dari satu’.)

Jujur, ada keuntungannya juga jadi saya. Mendengar teman-teman sesama perempuan yang pernah dibegitukan, saya jadi kasihan. Harusnya mereka dihargai jauh lebih dari sekadar ‘penaklukkan’. ‘Kan sama-sama manusia. Gimana, sih?

“Nggak tau kenapa gue masih single, padahal gue cowok baik-baik.”

Tuan-tuan, kalo ada yang pernah curhat begini sama saya dan tanggapan saya dingin-dingin saja, maafkan. Jujur, ucapan di atas bikin trauma – mengingatkan saya akan saya yang dulu.

Percaya deh, ngeluh-ngeluh kayak gitu (apalagi ampe ke mana-mana dan di media sosial pula!) nggak bakal ngundang simpati siapa-siapa. Intinya, kita nggak bisa ngatur-ngatur perasaan orang. (Memangnya kita sendiri mau diatur-atur kayak gitu? Silakan jawab sendiri.) 

Kalau orang yang kita suka ternyata menganggap kita bukan tipe mereka dan enggan memberi kesempatan, ya udah. Mundur aja dan nggak usah pake drama.

Kecewa dan sakit hati? Iya, ngerti. Tapi percaya deh, nyinyir soal pilihan mereka akan pasangan hidup nggak akan menyembuhkan. Malah, orang bakal ragu apakah Anda beneran baik dan…dewasa.

Tuhan juga Maha Adil, jadi nggak mungkin hanya orang-orang berkriteria tertentu saja yang berhak bahagia, mencintai, dan dicintai. Be the best version of YOU. Nggak perlu ngikutin orang lain.

Ngapain ngurusin badan buat orang yang sama sekali nggak peduli atau menghargai perasaan kita? Mending lakukan itu buat diri sendiri. Ngapain sok-sokan keliatan badung biar dapat perhatian? Rugi. Kalau pun ada yang cepat tertarik sama kalian, sebuah hubungan memang akan mulai…namun berlandaskan kepura-puraaan. Mau seumur hidup akting jadi orang lain terus, cuma biar pasangan senang?

Begitu ketahuan aslinya, iya kalau mereka mau terima. Kalau kecewa? BYE.

Sosok yang tepat akan mencintai Anda apa adanya dan selalu berusaha membahagiakan Anda. Nggak perlu mentah-mentah ‘mengaminkan’ ucapan manusia mana pun, termasuk yang mengaku sebagai the dating expert. Kenapa? Karena mereka nggak tahu segalanya.

Kalau lain kali denger laki-laki mengklaim bahwa mereka tahu segalanya tentang perempuan (begitu pula sebaliknya, perempuan yang mengaku tahu segalanya tentang laki-laki), ketawain aja. Memangnya mereka udah survei ke seluruh dunia? Jangan-jangan mainnya masih di pojokan aja.

Mending banyak-banyakin kesibukan yang positif…sambil terus berbuat baik sama orang. Nggak perlu berharap hasil instan, karena kebanyakan makan mi instan sendiri aja juga nggak sehat.

R.

 

“SIAPA DIA?”

“SIAPA DIA?”

Matanya begitu dingin menatapku.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Takut-takut aku menggeleng. Benakku berputar begitu cepat, berusaha mengingat-ingat wajahnya…

— // —

“Apa-apaan ini?!”

Alan dan Belinda cekikikan begitu melihatku melototi layar laptop-ku. Terpampang di sana, profil dan detailku pada sebuah…situs kencan.

Astaga, ini bener-bener nggak lucu!

“Sori, El,” ucap Belinda takut-takut, begitu menyadari betapa murkanya aku. Disikutnya si Alan (koreksi, maksudku siAlan!) yang entah kenapa masih berani nyengir. “Ini idenya dia.”

“Eh, elo juga kali, yang ngusulin website itu,” balas Alan membela diri. Wajahnya tampak sewot nggak terima. “Niat kita semula mau bantuin Elma cari jodoh, ‘kan?”

“TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA KALI!” bentakku, yang sukses bikin dua mahluk di depanku berjengit. Kutuding layar laptopku dengan geram. “Sekarang hapus akun gue. Nggak mau tau gimana caranya! Gue nggak pernah ngerasa daftar beginian, kok elo pada enak-enaknya bikin profil gue di sini. Pelanggaran privasi, tauk!”

“I…iya-iya, maaf.” Baru saja Alan mau menyentuh keyboard laptop-ku ketika kutepis tangannya dengan langsung.

“Pake punya lo sendiri!” perintahku kasar. “Dalam sejam masih gue liat itu profil, awas lo berdua!”

Tanpa banyak ribut, kedua mahluk yang harusnya jadi sahabatku itu langsung ngacir, balik ke cubicle masing-masing.

Oke, aku tahu maksud mereka baik. Menurut mereka, aku sudah melajang cukup lama. (Terlalu lama, menurut mereka.) Aku juga nggak gitu tertarik sama situs kencan. Takutnya ketemu orang aneh-aneh. Tahu ‘kan, yang pas online kelihatannya sempurna, tahunya pas kopdar…hiii…

Kadang keponya orang Indonesia nyebelin akut. Okelah, mungkin mereka bahagia karena berpasangan. Tapi nggak berarti yang masih lajang selalu merana, ‘kan? Aku masih bisa cari sendiri kok, tentu dengan caraku juga. Kalo emang mereka punya niat baik, mbok ya tanya yang punya profil dulu baik-baik sebelum daftarin sembarangan. Idiih…

Saat kucek lagi website itu, nama dan fotoku sudah nggak ada. Syukurlah. Damai lagi rasanya…

— // —

Oke, nomor siapa ini? Kenapa dia selalu missed-call dan WA-nya ngajakin ketemuan terus?

Berhubung nggak merasa populer, aku cuekin aja. Eh, lama-lama kok, pesannya makin kasar begini, ya?

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

“Masa lupa, kemarin-kemarin kita udah chatting cukup lama?”

“Kenapa? Aku kurang cakep buat kamu ladenin?”

Grrrh! Merasa malas dengan urusan ini, kuhampiri Alan dan Belinda. Kutunjukkan ponselku, masih dengan tampang geram.

“Dugaan gue dari website sialan itu,” ujarku tanpa basa-basi. Maklum, aku masih marah sama mereka. “Gue nggak mau tahu gimana caranya, elo berdua jelasin ke orang ini supaya nggak gangguin gue lagi. Malesin tau, gak?”

“Gue aja, deh.” Alan mengalah. Diteleponnya nomor itu. Wajahnya tampak amat menyesal saat berusaha menjelaskan perihal salah paham ini. Biarin aja. Kutunggu, melihat Alan mengangguk-angguk pasrah sambil meminta maaf.

Akhirnya…

“Udah, El,” katanya lemas. “Dia nggak bakal gangguin kamu lagi.”

“Good.” Aku berbalik tanpa memberi mereka kesempatan untuk bicara. Meskipun kata Alan orang itu sudah tahu, buat jaga-jaga kublokir nomornya.

— // —

Mungkin aku terlalu cuek, karena merasa nggak populer. Privasiku ya, privasiku.

Makanya, aku kaget setengah mati saat malam itu, laki-laki itu mencegatku di parkiran kantor.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Mungkinkah…

Terlambat. Cipratan air itu melepuhkan kulit wajahku.

 

R.

(500 kata – dari Prompt#144: Siapa Dia? untuk Monday Flash Fiction di http://www.mondayflashfiction.com/2017/07/prompt-144-siapa-dia.html )