“TIDAK CUKUP”

“TIDAK CUKUP”

Di mata mereka,

kamu tidak akan pernah cukup.

Tidak cukup baik,

tidak cukup cantik,

tidak cukup langsing,

hingga nyaris bikin sinting.

 

Bagi mereka,

kamu juga kurang populer

kalau perlu ikutan teler

bagai seleb karbitan

yang mencari perhatian.

 

Apa lagi yang kurang?

Menurut mereka,

kamu kurang berharga

masih saja sendiri di kepala tiga

Tak ada pria

Semua prestasimu dianggap percuma

 

Kadang kamu memang harus tutup telinga

karena mereka akan nyinyir selamanya

untuk menyembunyikan fakta

mereka sendiri tidak cukup bahagia…

 

Semoga mereka bukan mayoritas orang Indonesia…

 

R.

 

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

Entah apa anak-anak zaman sekarang (sori, ogah pake istilah “jaman now” yang sebenernya merusak tatanan bahasa dan nggak konsisten pula) masih menikmati cerita-cerita dongeng. Mungkin masih, mungkin enggak. Mungkin ada, meski caranya berbeda.

Intinya, cerita-cerita dengan happy ending terbukti membesarkan generasi berpikiran optimis. Berbuat baiklah, maka Anda akan mendapatkan balasan yang baik pula.

Lalu, apa jadinya bila realita ternyata menyebalkan? Nggak sesuai harapan? Contohnya banyak, apalagi di usia dewasa.

Nggak hanya kecewa saat IPK tinggi justru tidak mengantarkanmu ke karir impian. Sebaik apa pun berusaha memperlakukan sesama di lingkungan sosial (mungkin juga baik menurut banyak orang, nggak hanya keyakinan pribadi), pasti ada saja yang nggak suka dan berusaha menjegal.

Salah siapa? Diri sendiri? Belum tentu. Memang itulah hidup. Sama halnya dengan urusan karir dan percintaan.

Pada dasarnya, semua orang ingin bekerja dengan baik. Jika dulu kita dengan mudahnya memandang sosok yang dipecat sebagai satu-satunya yang bersalah, sekarang sudah tidak lagi. Banyak pertimbangan lain yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah ‘politik kantor’.

Merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tenang, Anda bukan satu-satunya. Ada beberapa hal yang memang masih patut diperjuangkan, ada yang tidak. Lagi-lagi, semua terserah Anda.

Bergantung pada keuletan diri dalam melihat peluang bagus adalah salah satu ciri dan cara bertahan hidup. Bolehlah banyak yang menjanjikan macam-macam. Pada kenyataannya, banyak juga yang berani dan bahkan tega melanggar kesepakatan, apa pun alasannya.

Pada akhirnya, hanya diri sendirilah yang bisa diandalkan. Kadang tidak perlu ribut, membalas dendam, atau berharap kemalangan menimpa mereka yang pernah berbuat salah pada Anda. Ini juga berlaku di urusan percintaan.

“Kenapa dia begini sih, sama aku? Memangnya aku kurang apa?”

Jangan pernah percaya dengan pakem yang terlalu menggeneralisir. Orang yang baik pasti akan selalu mendapatkan jodoh yang baik. Kalau sampai dapat yang jahat, pasti ada yang salah dengan diri Anda. Introspeksi dulu.

Kalau nggak dapet-dapet? Apalagi.

Serius, jangan terlalu percaya. Pada kenyataannya, semua manusia berproses. Ada naik, ada turun. Nggak ada yang nyaris 100% baik, kecuali malaikat.

Jangan kagum dulu dengan mereka yang sukses dan bisa punya banyak gandengan yang bisa gantian – apalagi dalam saat bersamaan. Masih banyak hal lain yang jauh lebih layak dianggap prestasi. Kalau Anda orangnya, jangan dulu berbangga hati. Apalagi bila caranya pakai bikin orang baper setengah mati. Bayangkan itu terjadi pada anak sendiri. Masih bisa maki-maki, tapi ogah berkaca sendiri?

Jangan juga terlalu benci. Bisa jadi orang yang butuh begitu banyak ‘penggemar’ sebenarnya minder sekali. Tanpa mereka, dia ibarat kehilangan pengakuan dan citra diri.

Sedih itu wajar. Marah dan sakit hati itu manusiawi. Hati-hati dengan sikap jumawa mendadak dengan komentar: “Gue kurang baik apa, sih?”

Yakin Anda beneran sebaik yang Anda kira? Silakan jawab sendiri.

Saya pernah membaca wawancara Oprah Winfrey dengan penyanyi asal Inggris, Seal, mengenai masa lalunya yang kelam. Saat menyebut sang ayah yang abusive sebagai contoh yang baik, penonton sempat shock. Buru-buru Seal mengoreksi:

“Ayah saya adalah contoh nyata mengenai yang tidak boleh dilakukan.”

Hhh, lega. Kirain apa.

Realita menyebalkan pasti jadi cerita. Bukan, bukan selalu karena kita yang bermasalah, kurang keren, atau bahkan dianggap membosankan sama orang.

Bukan juga karena kita memang pantas diperlakukan demikian. Seperti percakapan dua orang yang pernah saya dengar suatu malam:

“Denger cerita tentang kantor lo yang sering telat kasih gaji tapi nuntut macem-macem setengah mati bikin gue jadi bersyukur sekali.”

“Hah, kenapa?”

“Bikin gue jadi lebih bersyukur sama kondisi gue. Meski usaha keluarga, gue tetap dididik keras, termasuk harus mulai dari level bawah banget. Tapi, seenggaknya mereka tetap bayar gaji gue sesuai kontrak.”

Bagaimana dengan urusan cinta? Bolehlah menyesal sudah pernah pacaran dengan orang itu. Ternyata dia tidak memperlakukan Anda dengan baik.

Namun, sayangnya ada orang yang memang bebal. Jadi, percuma juga berharap dia sadar akan kesalahannya. Tunggu saja sampai dia kena sendiri ganjarannya.

Justru dengan pernah bertemu dengan orang seperti dia, Anda jadi lebih tahu untuk memilih yang lebih baik berikutnya. Bahkan, bila suatu saat menikah dan punya anak, Anda bisa mengajari mereka untuk memperlakukan orang lain lebih baik. Siapa tahu? Hitung-hitung berbagi pengalaman, dengan harapan orang lain akan:

  • Menghindari kesalahan yang sama.
  • Lebih baik dengan sesama.
  • Lebih bersyukur dengan hidup mereka, apalagi kalau kebetulan memang masih lebih baik.

R.

 

“MEMORI SYDNEY 2”

“MEMORI SYDNEY 2”

Ke sanalah aku berlari

meninggalkan sakit hati

menenangkan diri

berburu inspirasi

 

Akankah ke sana lagi?

Aku rindu jalan-jalan sepi

Aku harus kembali

semoga dengan restu Ilahi…

 

R.

 

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

Patah hati. Pasti sudah banyak ide cerita, film, dan lagu tentangnya. Banyak juga yang jadi curhat gara-gara patah hati.

Yang berusaha menghibur, mulai dari yang hanya mendengarkan hingga memberi nasihat (yang mereka percaya sebagai proses penyembuhan)? Banyak juga. Bahkan, nggak semua bertahan lama. Kadang ada yang sampai gemas setengah mati hingga jumawa menghakimi.

“Move on aja susah amat, sih! Gue aja tiga bulan udah punya pacar lagi.”

“Kelamaan lo berdukanya. Manja amat, sih?”

Mau tahu yang paling kubenci dari patah hati? Bukan, bukan si penyebab patah hati. Tapi, bahkan patah hati saja terlalu digeneralisir.

Pertama, ini bukan hanya masalah putus sama pacar. Ada yang patah hati gara-gara cerai, ditinggal mati, hingga kehilangan hak asuh atas anak atau kematian binatang peliharaan. Tim sepak bola favorit kalah saja bisa bikin patah hati.

Panutan, kayak seleb atau politisi, bikin kecewa? Apa lagi. Korban perang yang terpaksa harus mengungsi? Luar biasa kalo nggak depresi, apalagi sampai ingin bunuh diri.

Terus, yakin penyembuhannya ama semua, cukup dengan nasihat “Move on aja”?

Kedua, ini dia yang paling kubenci. Oke, mungkin maksud mereka baik. Mereka nggak mau kita terlalu lama bersedih dan segera berbahagia lagi.

Tapi, proses tiap orang ‘kan, beda-beda lagi. Tergantung kasusnya. Bisa aja ada yang langsung move on dan segera punya pacar lagi. Perkara itu hanya rebound, beneran sayang, hingga hanya karena takut kesepian? Siapa yang tahu, sih? Ngapain buang-buang waktu berspekulasi? Mending urus diri sendiri.

Ada juga yang milih sendiri dulu. Celakanya, malah dituduh belum sembuh, sulit move on, hingga kelewat picky. Aduh, memangnya Anda siapa, sih? Yakin situ lulusan psikologi? Ada empati?

Ingin membantu orang sembuh dari patah hati? Pertama, cek dulu kapasitas diri. Nggak semua hal sama dan selalu bisa dimengerti.

Kedua, nggak yakin bisa kasih solusi? Stop menghakimi. Biar mereka menemukan obatnya sendiri.

R.

(Jakarta, 19 April 2018 – dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta. Tema: ‘kesembuhan’.)

 

“MEMORI SYDNEY”

“MEMORI SYDNEY”

Entah kapan lagi

aku bisa kembali

saat ini

hanya ingin bekukan memori

 

Aku gagal hentikan waktu

di luar kuasaku

ada rindu

untuk kalian selalu

 

Satu akhir pekan di Sydney

sejuk dan hangat di hati…

 

R.

 

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.

 

“DRASTIS”

“DRASTIS”

Hanya butuh satu kata cinta

untuk mengubah gaya bercerita

menjadi lebih optimis dan ceria

sehingga pembaca ikut bahagia

 

Hanya butuh sepercik dusta

untuk merusak semua

mengubah alur cerita

kembali gelap dan bergelimang duka

 

Ah, cinta…

Betapa drastis pengaruhnya…

 

R.

(Jakarta, 30 April 2018 – 9:15)

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?”

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?

Hmm, kayaknya lagi pada ribut perkara spoiler film tertentu ya, minggu kemarin? Sebenernya, masalah ini udah ada dari dulu. Ya, bahkan sejak DVD bajakan, internet, hingga unduhan gratis belum kepikiran oleh siapa pun. (Yah, ketahuan deh, umur saya.)

Kalau era ’90-an dulu orang masih pada dulu-duluan ke bioskop saat film terbaru dirilis, sekarang sampai harus bikin acara khusus bertitel ‘premiere’ segala. Ya, biar tetap ada yang dateng dan makin rame, apalagi kalo filmnya emang udah ditunggu banget. Kadang sponsor bisa bejibun dan ampe artis serta para kru ikutan nongol.

Kemudahan era digital emang bikin semuanya jadi serba cepat. Saking cepatnya, ada yang jadi nggak sabaran dan lantas mau cari keuntungan lain. Ya, mulai dari beli DVD bajakan (yang biasanya lebih murah) hingga unduh gratisan sendiri.

Bahkan, ada yang nggak tanggung-tanggung: unduh sendiri, nonton gratis, terus jual lagi sebagai DVD bajakan. Dapet uang, lho.

Ah, lagi-lagi namanya juga Indonesia. Yang jualan DVD bajakan aja ampe punya lapak sendiri di mall sama trade centre. Hehehe…

Oke, balik lagi ke soal spoiler film. Hmm, enaknya gimana, ya?

Kalo zaman dulu, temen yang udah nonton satu film duluan di bioskop minimal masih nanya dulu sebelum cerita:

“Eh, nggak apa-apa nih, gue ceritain semuanya?”

Ada juga sih, yang hanya cerita sedikit, lalu menutupnya dengan: “Sisanya nonton sendiri, deh. Biar lebih seru.”

Sayangnya, kedua jenis teman di atas jadi ‘nggak banyak membantu’ begitu era media sosial sekarang. Gimana enggak? Banyak acara tebar spoiler film terkini (apalagi yang lagi trending banget) selancar tukang gosip di media sosial nyinyirin aib tetangga lewat status. Hihihihi….

Kalo udah kayak gini, apa daya? Mau marah juga percuma. Apalagi, seperti Anda, para penyebar spoiler ini dengan suka cita akan pake pakem yang sama:

“Suka-suka gue. Lo gak suka, tinggal gak usah baca / unfollow / remove / unfriend!”

Oh, wow. Sampai segitunya ternyata. Sementara itu, yang masih percaya dan merasa bahwa spoiler mengurangi kenikmatan nonton film beranggapan bahwa para penyebarnya termasuk:

  1. Orang-orang egois, gak mikir yang belum nonton dan merusak suasana.
  2. Pamer, mentang-mentang udah nonton duluan.
  3. Nomor 1 dan 2.

Lalu, gimana menurut saya sendiri?

Beruntunglah, saya seorang penulis yang bisa menikmati film dari sisi apa pun. Toh, sensasi menonton sendiri secara langsung dengan hanya mendengar cerita orang pasti berbeda.

Kalo bisa sih, jangan ada spoiler. Kalo emang udah kepalang, saya juga nggak akan menambah drama yang nggak perlu dengan marah-marah, apalagi sampai unfriend segala. Hadeuh, udah ribut karena politik, sekarang mau ribut karena spoiler? Please, deh!

R.

“WAHAI, PEREMPUAN YANG UDAH BERSTATUS ‘NYONYA’”

“WAHAI, PEREMPUAN YANG UDAH BERSTATUS ‘NYONYA’: BAIK-BAIK DEH SAMA TEMEN-TEMENMU YANG MASIH JOMBLO”

(*PERINGATAN: Tulisan ini dibuat berdasarkan beberapa contoh kasus nyata. Mohon maaf bila ada yang ketar-ketir dan merasa tersentil. Semoga Anda tidak termasuk yang dibahas di sini.)

Percayalah, ini bukan ancaman. Kami nggak sedang berusaha nakut-nakutin kalian, baik yang baru nikah hari ini, kemaren, minggu lalu, bulan lalu, dan seterusnya. Sumpah, serius. Kami juga nggak nganggep kalian semua sama.

Kalo mau balik ke jaman single dulu, mungkin rasanya masih lebih mudah. Ya, nongkrong bareng, ngobrolin topik yang sama, hingga curhat-curhatan. Apalagi kalo kita termasuk dalam satu girl squad yang sama. Pokoknya seru banget, deh.

Lalu, seperti halnya takdir dalam hidup, laki-laki mulai hadir dalam hidup kita. Mungkin ada yang pacaran bentar, terus putus. Ada yang pacaran lama atau hingga menikah. Ada yang langsung menikah, dengan alasan takut dikejar umur hingga menghindari zina. Yowis, nggak apa-apa. Namanya juga pilihan masing-masing.

Lalu yang masih jomblo ampe sekarang gimana? Ya, nggak apa-apa juga. Tulisan ini juga dibuat bukan dalam rangka sirik sama kalian yang sudah menemukan jodoh. Sebagai teman, kami ikut bahagia kok, kalian akhirnya menemukan partner hidup (apalagi yang bener-bener dicari dan sesuai keinginan sendiri.)

Terus, kenapa kok, judul tulisan ini kesannya ngancem gitu?

Nah, gini. Okelah kalian lagi seneng-senengnya sebagai pengantin baru. Yang tadinya ketar-ketir saat gandengan, sekarang nggak usah takut lagi karena udah sah. Yang tadinya merasa galau karena kesepian, sendiri, dan nggak ada lawan jenis yang ngasih perhatian, sekarang diperhatiin tiap hari. (Bahkan, ada yang ampe sedetil-detilnya, termasuk gimana cara berpakaian hingga siapa aja temen-temennya.)

Percaya deh, kita ngerti. Namun, untuk menjaga hubungan baik dengan temen-temen jomblo kalian (itu kalo kalian masih mau, lho), ini ada sedikit saran dari saya (sebagai perwakilan para jomblo):

Pas usaha ngejodohin kita dengan laki-laki rekomendasi kalian:

Makasih karena udah berniat baik sama kami, ingin kami juga bahagia seperti kalian. Percaya deh, kalo kami emang bener-bener tertarik dan suka laki-lakinya juga, kalian berjasa karena telah membantu kami menemukan jodoh kami.

Tapiii…eitss, ada tapinya, nih. Tapiii, lihat-lihat dululah, yang mana teman kalian yang emang bener-bener pengen dijodohin. Kalo berhasil, syukur. Kalo nggak, ya jangan langsung nyalahin kami dan nuduh kami ‘kurang usaha’ atau ‘terlalu picky’. Bisa aja lakinya juga nggak selera sama macam kami. Perasaan ‘kan, nggak bisa dipaksa. Ada tuh, yang namanya che-mis-try.

Makanya, sebelum jadi mak comblang, tanya dulu kebutuhan temen-temen jomblo kalian. Bisa aja nggak semuanya ngebet ingin buru-buru nikah juga, terutama karena ngiri lihat kalian. Bisa aja mereka masih punya target lain yang ingin dicapai dan nikah bukan jadi urutan perdana. Paham?

Komentar untuk temen-temen jomblo kalian:

Okelah, obrolan udah nggak mungkin lagi sama.  Kalian udah sibuk mikirin tagihan bulanan, kerjaan, urusan rumah tangga, ngeladenin suami, ngurus anak sakit, dan lain-lain. Sementara itu, temen-temen jomblo kalian mungkin masih ada yang dating around, naikin jenjang karier, ampe ikut komunitas yang seru-seru plus traveling.

Trus, apa yang salah? Nggak ada, hanya beda timeline hidup aja. Cuma, yang bikin temen-temen jomblo kalian jengah yaaa…komentar-komentar kalian yang seperti ini:

“Inget, umur lo udah berapa?”

“Elo kayaknya harus ngurusin badan / lebih dandan / lebih ramah ama cowok / dll…”

Aduh, nggak cukup sebagian dari kami diteror saban tahun pas acara kumpul keluarga besar? Kirain temen-temen minimal jadi sumber dukungan andalan. Nggak nyangka ternyata sebagian dari kalian ada yang berubah jadi sama aja. Padahal, kalo diinget-inget dulu, omongan kalian beda, lho.

“Elo pasti bakalan menemukan jodoh lo, kok. Semua ada waktunya.”

“Yang penting enjoy your life, deh.”

Mungkin maksud kalian baik. Mungkin sebagian dari kami kalian anggap terlalu sensitif. Tapi, coba deh, bayangin kalau kalian yang digituin juga. Selain jodoh emang di tangan Tuhan, ucapan kalian lebih terdengar arogan daripada jadi penyemangat.

Wahai, para perempuan yang udah berstatus ‘nyonya’. Baik-baik deh, sama temen-temen kalian yang masih jomblo. Caranya gampang banget, kok. Nggak perlu usil ungkit-ungkit status jomblo mereka, karena siapa tahu mereka masih betah. Bolehlah nawarin diri jadi mak comblang, tapi nggak usah maksa kalo mereka nggak mau.

Selain itu, nggak perlulah merasa superior karena udah nikah duluan. Biasa aja. Toh, nikah itu sebenernya juga ibadah kepada Yang Maha Kuasa. Jangan hanya dijadikan ajang pamer status sosial, apalagi untuk nunjukin ke perempuan lain bahwa kalian (dianggap) ‘lebih menarik’ sama ‘lebih laku’. Nggak perlu, ya. Udah tahun 2018 juga soalnya. Kalian ‘kan juga bukan barang dagangan. Masa masih mau pakai istilah ‘laku-nggak laku’?

Kalian nggak perlu cari validasi dari pasangan mengenai betapa berharganya kalian. Di mata kami, kalian tetap cantik, cerdas, dan baik hati kok, selama nggak merasa serba lebih daripada kami.

Akhir kata, yang paling penting sih, saling ngedoain kebahagiaan masing-masing. Semudah itu, ngapain milih cara yang berpotensi bikin drama yang nggak perlu? Kita sama-sama udah dewasa, ‘kan?

R.

 

“YANG MANA DIRIMU?”

“YANG MANA DIRIMU?”

Terombang-ambing

kau tunjukkan diri

kadang hangat, kadang dingin

bagai cuaca di bumi

selepas efek rumah kaca

kadang gerah, kadang bikin merinding

 

Yang mana dirimu?

Aku harus tahu

Mengapa cinta ibarat catur?

Setiap langkah harus diatur

Apakah kau hanya ingin

aku takluk secara utuh

agar kau dapat berkuasa penuh?

 

Jangan frustrasi

Yang ada malah lelah sendiri

sementara aku sudah muak sekali

Masa semua harus maunya laki-laki?

Katanya perempuan dihargai

bukan ditindas setengah mati

 

Jadi, yang mana dirimu?

Tak perlu takut terlihat lemah di hadapanku

 

R.