“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

Jangan percaya mereka

Yang baik tidak selalu mengalah

meski cerdas memilih

pertarungan mana yang harus dihindari

 

Jangan kalah sama dia

yang pernah membuatmu terluka

Kau berhak bahagia

tanpa perlu membalas perbuatannya

 

Jangan biarkan dia mengubahmu

Kamu lebih kuat daripada itu

Rebut kembali hidup

agar menjatuhkanmu, dia takkan sanggup

 

R.

 

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

Oke, kemungkinan besar bakal ada yang kesinggung dengan tulisan ini. Gimana enggak? Selama ini, mungkin mereka menganggapnya biasa aja.

Sebagai perempuan lajang yang kadang menggunakan aplikasi online dating (masalah pilihan, nggak ada yang hina, kok!), saya bisa memahami rasa frustrasi seorang teman. Gimana enggak? Saya juga kadang mengalaminya. Ini dia tiga (3) hal yang bikin ilfil perempuan saat kenalan lewat online dating:

1.Mengandalkan sapaan standar “Salam kenal dariku, ya.”

“Memang apa yang salah, sih? Terus harusnya gimana?” Mungkin itu reaksi pertama Anda. Namun, coba perhatikan, deh. Setelah mengandalkan greeting template di atas, habis itu apa yang terjadi?

*krik krik*

Persis. Yang ada malah ‘mematikan’ kelanjutan percakapan. Habis ‘salam kenal’, terus apa? Berharap si dia langsung melanjutkan pembicaraan dan mengumbar cerita tentang dirinya? Sori, Anda nggak bisa berharap dia akan membaca pikiran Anda dan berinisiatif seketika. Apalagi bila Anda menulis pesan dengan gaya super alay seperti: “Lam knal daryq y.”

Duh, bisa nggak sih, nulis pesan kayak orang normal? Padahal udah nggak zaman SMS dengan batasan 140 karakter, lho.

Saran: Beneran tertarik sama si dia? Jangan setengah hati. Baca profilnya di akun baik-baik. Bisa kok, memulai obrolan dari situ.

Contoh: si dia ternyata menulis bahwa beberapa film yang sudah pernah dia tonton termasuk “The Avengers: Infinity War” dan “The Incredibles 2”. Awali saja percakapan dengan: “Kamu suka film superhero juga? Menurutmu bagusan DC apa Marvel?”

2. Kebanyakan basa-basi ‘remeh’ tapi ganggu.

Sumber: me.me

“Udah makan?”

“Baru pulang kantor?”

“Belum tidur?”

Okelah, niatnya baik, yaitu memberi perhatian. Bahkan, hal ini udah dianggap lumrah sama orang Indonesia.

Sayangnya, kebanyakan basa-basi remeh begitu lama-lama jadi terasa basi. Membosankan. Rasanya nggak beda dengan kayak dianggap anak kecil. Ya, kurang lebih kayak ortu yang hobi nanya-nanya interogatif gitu.

Kalo ortu sih, masih wajar, ya. Beda cerita kalo baru dalam hitungan hari kenalan, belum apa-apa udah sering berlaku sama. Hmm, nggak ada topik lain, ya? Mungkin saya terdengar kejam karena sejujur ini. Tapi, saya juga bukan tipe pengeluh tanpa kasih solusi.

Saran: Bolehlah sesekali berbasa-basi seperti itu. Namun, jangan sampai berlebihan, sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil atau tahanan kota. Caranya? Mari kita lihat contoh di bawah ini:

Anda: “Sudah makan?”

Dia: “Sudah.”

Anda: “Barusan aku nyoba menu baru di (nama resto atau kafe). Udah pernah ke sana belum? Gimana kalo weekend berikutnya kita makan di sana?”

Tuh, lebih enak, ‘kan? Nggak hanya basa-basi remeh tanpa ujung jadinya.

3.Belum apa-apa udah nunjukin gejala posesif.

Sama kayak kenalan di dunia nyata, ssemua ada prosesnya. Nggak bisa diburu-buru, apalagi dipaksa.

Jujur, saya langsung ilfil seketika saat laki-laki yang baru saja saya kenal (entah lewat online dating atau dunia nyata) udah mulai menunjukkan gejala ‘haus perhatian’ alias posesif. Mulai dari menuntut agar saya segera membalas pesan WA-nya, mengeluhkan kesibukan saya, hingga kepo banget soal teman-teman saya yang kebetulan juga laki-laki.

Yang paling bikin saya murka – alias nggak hanya ilfil – adalah waktu seorang laki-laki dengan seenaknya menelepon ke rumah ortu saya…tiga kali sehari. Ya, betul. Serius, dari pagi, siang, hingga malam. Nggak beda sama jadwal makan dan minum obat.

Saya sampai kena tegur ibu saya yang merasa amat terganggu. Malunya bukan main. Mending telepon sering-sering karena urusan penting. Ini hanya ngajakin ngobrol ngalor-ngidul, padahal saya juga lagi banyak kerjaan…banget. Mana nggak sensitif lagi pas saya lagi kena radang tenggorokan dan diminta dokter istirahat ngomong sampai benar-benar sembuh.

“Kangen…pengen denger suara kamu…”

Astaga, creepy banget. Mungkin dia kira dia perhatian dan romantis banget. Padahal, saya malah curiga dia nggak punya kerjaan lain.

Akhirnya, saya meminta dengan tegas agar dia jangan pernah menelepon lagi. Benar-benar mengganggu. Memangnya orang nggak punya kegiatan?

Saran: Mentang-mentang online dating, jangan lantas berharap hasilnya bakalan instan. Bolehlah ingin lebih saling mengenal, tapi nggak usah buru-buru – apalagi sampai terlalu menggebu-gebu. Perlakukankah dia sebagai manusia atau individu dengan kehidupan sendiri, termasuk privasi yang harus Anda hargai.

Dengan kata lain, nggak usah grusa-grusu ala pemburu mengejar target. Jadinya malah rusuh dan nakutin, tahu?

Kalo ada chemistry dan sama-sama suka (serta keluarga pada suka juga), siapa tahu memang jodohnya. Kalo enggak, masih bisa jadi temen aja kalo mau. Nggak perlu maksa, apalagi sampai nyindir dan ngancem-ngancem segala. Nggak oke, ah.

Terus, tinggal cari yang lain lagi. Nggak usah terlalu ‘kemakan’ sama deadline bikinan sesama manusia mengenai kapan Anda harus menikah. Lha, ‘kan yang nentuin jodoh juga tetap Tuhan?

R.

“RAJA PENCARI DRAMA”

“RAJA PENCARI DRAMA”

Kata mereka,

ini kebiasaan khas wanita

Tak mungkin pria

hingga kau salah satu buktinya

 

Apa maumu?

Dulu kau yang menjauh

meninggalkanku

Kau kira aku akan memohon seperti orang dungu

 

Bung, kau salah strategi

Kini kau kembali

Sayang, aku tak lagi peduli

Silakan cari perhatian setengah mati

 

Raja pencari drama

Hilang satu penontonnya

Puisi picisan dan nyinyir terbuka

Untuk apa?

 

Pengikutmu masih banyak

Tak perlu serakah

Aku sudah muak

dengan rajukanmu yang semakin parah

 

R.

 

“POPBELA SAHABAT PEREMPUAN INDONESIA”

POPBELA SAHABAT PEREMPUAN INDONESIA”

Sebagai perempuan yang gemar membaca dan menulis, artikel konten digital sudah jadi salah satu pilihan saya sehari-hari. Selain sebagai hiburan, saya juga tidak ingin ketinggalan info terkini yang berkaitan dengan kebutuhan perempuan. Salah satunya adalah gaya hidup, terutama bagi perempuan lajang. Karena itulah saya memilih membaca PopBela.

Apa yang menarik dari PopBela? Banyak. Yuk, kita cek satu-satu:

1.Desain website PopBela.com

Desain website-nya rapi, bersih, dan sederhana. Latarnya putih, sehingga semua tulisan dapat terbaca dengan mudah dan jelas. Dengan kombinasi warna merah dan tulisan hitam, fiturnya juga nggak macem-macem.

2. Artikel konten yang ada sesuai dengan kebutuhan perempuan.

Sekilas, mungkin artikel konten yang ada mirip-mirip dengan media digital lain yang diperuntukkan bagi perempuan. Ada tentang kecantikan, rubrik gaya hidup, relationship, kesehatan…pokoknya semua yang dibutuhkan perempuan, deh.

Lalu apa bedanya? Bahasa yang digunakan juga ringan, namun tanpa terkesan alay. Meski masih menggunakan Bahasa Indonesia dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan), kata-kata yang dipilih tidak terkesan kaku. Makanya, saya betah membaca artikel konten PopBela sebanyak-banyaknya saat waktu luang.

3.Desain hurufnya enak dilihat.

Selain nggak terlalu besar atau terlalu kecil, bentuknya juga enak dipandang. Pokoknya, membaca artikel konten PopBela nggak perlu pake acara pusing, apalagi bila harus berlama-lama melototi layar ponsel atau laptop.

4.Banyak pilihan artikel konten yang mewakili berbagai tipe perempuan.

Jujur, saya bukan perempuan yang gemar membaca tips kecantikan. Selain cepat bosan, tidak semua tips kecantikan cocok diterapkan oleh semua perempuan. Ibaratnya, bila jenis kulit muka saya normal cenderung kering, pastinya saya nggak butuh kertas minyak dong, ya.

Salah satu fitur konten yang sering saya baca adalah ‘Rubrik Single’. Untungnya, isinya nggak melulu soal bagaimana mendapatkan pacar atau tips untuk terlihat lebih menarik di mata lawan jenis. Memangnya semua perempuan lajang selalu identik dengan kesepian, nggak bahagia, dan desperate ingin segera punya pacar?

Pada kenyataannya ya, nggak gitu-gitu amat, kok. Perempuan lajang juga tetap harus bahagia dan menikmati hidup. Masih ada keluarga, teman-teman, pekerjaan, hingga waktu luang lebih untuk menekuni hobi yang paling disukai.

PopBela banyak menyediakan artikel konten berisi tips pengembangan diri untuk para perempuan lajang. Beberapa artikel yang paling saya suka di sini termasuk “7 Ilustrasi Ini Tunjukkan Perempuan Berhak Diperlakukan Setara”, “7 Kegiatan Seru untuk Cewek Single di Malam Minggu”, dan masih banyak lagi.

Nah, udah terbukti banget ‘kan, kenapa semua perempuan Indonesia harus baca PopBela? Eh, tapi masih ada satu lagi deh, alasan media digital ini benar-benar sahabat yang baik bagi perempuan Indonesia.

5.Ada tujuh (7) pilar yang menjadi panduan isi PopBela.

Ketujuh (7) pilar tersebut adalah:

  • Kesetaraan gender.
  • Anti pelecehan seksual.
  • Anti perundungan /
  • Anti
  • Persatuan di antara perbedaan ras dan etnis.
  • Persatuan di antara perbedaan agama.
  • Redefinisi kecantikan.

Tuh, keren-keren banget ‘kan, pilarnya? Makanya, PopBela memang pas banget jadi bacaan ringan namun tetap menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Terutama sih, bagi perempuan Indonesia yang peduli dengan Bhinneka Tunggal Ika, kesetaraan gender, hingga menghargai perbedaan – terutama untuk definisi kecantikan. Pastinya, semua perempuan di dunia ini cantik dengan versi masing-masing.

Itulah misi yang dibawakan oleh media digital bernama PopBela.

R.

 

“AKU YANG BARU”

“AKU YANG BARU”

Aku yang baru

tak lagi mencintaimu

Bersyukurlah

karena aku mengalah

meski bukan pasrah

apalagi merasa kalah

 

Tiada lagi amarah

Hanya lelah

Kumohon, menjauhlah

Biar kau yang bedebah

Aku ingin tetap waras

Kali ini lebih tegas

 

Aku yang baru

tak lagi mencintaimu

Benci juga percuma

Buang-buang tenaga

Biar kau jauh-jauh sana

menjaja cinta ke mana-mana

Kalau perlu sampai banting harga!

 

R.

 

“TRAGEDI JENAZAH DI DALAM MOBIL TETANGGA”

“TRAGEDI JENAZAH DI DALAM MOBIL TETANGGA”

Ini bukan cerita horor maupun kasus pembunuhan, meskipun judulnya mungkin lumayan bikin Anda bergidik. Ini hanyalah satu dari sekian banyak kejadian tragis akibat minimnya pemahaman maupun penanganan masalah kesehatan mental.

Saya mendengar cerita ini dari Ibu saat pulang ke rumah liburan Lebaran kemarin:

Salah satu tetangga ada yang punya anggota keluarga dengan kebutuhan sangat khusus. Sebut saja A. Lelaki berusia di atas 40 tahun ini tidak hanya tuna rungu (tuli) dan tuna wicara (bisu), namun juga menderita gangguan mental. A tidak bekerja dan diurus oleh kedua kakaknya. Karena merasa malu dengan kondisinya, A sangat jarang keluar rumah.

Kedua kakak A sama-sama bekerja, bahkan kadang hingga larut malam. Seorang tetangga lain sering datang suka rela untuk memberi A makan sebelum pulang lagi sorenya.

Satu malam, kedua kakak sama-sama terkena lemburan dan belum pulang. Satu-dua tetangga sekilas melihat A keluar rumah sendirian, namun tidak begitu memperhatikan.

Keesokan harinya, kedua kakak A yang pulang larut malam dan langsung tidur tanpa mengecek kamar adiknya panik. Setiap tetangga yang ditanyai mengenai keberadaan A hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu.

Barulah, sorenya terjadi kehebohan. Seorang tetangga lain, sebut saja B, hendak menyalakan mobilnya. Saat membenarkan kaca spion tengah, B melihatnya dan menjerit kaget.

A ditemukan telah tak bernyawa…di bangku belakang mobilnya. Mulutnya menganga dan kemejanya terbuka.

Rekonstruksi TKP

Polisi pun dihubungi dan sekompleks heboh. Sesuai rekonstruksi TKP (Tempat Kejadian Perkara), kejadiannya kira-kira begini:

Malam itu A gelisah. Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil B yang kebetulan diparkir di luar pagar rumah pemiliknya. Pintunya juga tidak terkunci.

Menurut kesaksian B, pukul satu pagi dia terbangun. Khawatir lupa mengunci pintu mobilnya, B memencet tombol kunci elektronik dari balik jendela rumahnya. Klik. Setelah itu, B kembali tertidur.

Paginya, B mengajak anaknya pergi. Karena sang anak sedang malas, akhirnya B memilih naik sepeda motornya ke pasar seorang diri. Barulah sorenya B memutuskan untuk menggunakan mobil. Namun, bau bangkai yang tercium membuatnya was-was.

“Jangan-jangan kaleng berisi cacing untuk umpan ikan tertinggal di mobil,” pikir B, yang kebetulan juga punya hobi memancing ikan. Di situlah B kemudian menemukan jenazah A. Sepertinya, A tewas karena kehabisan napas sekaligus kepanasan setelah 12 jam terkurung di dalam mobil. Setengah hari! Selain panik, mungkin A tidak tahu cara membuka kunci mobil dan tidak bisa berteriak minta tolong…terutama di malam yang sepi.

Merasa kasihan dengan keluarga A, B akhirnya membantu membayar biaya pemakaman dan memberi santunan. Setelah itu, B bahkan langsung memutuskan untuk menjual mobilnya sekalian. Alasannya?

“Saya trauma.”

R.

 

“TIDAK SEMUA HARUS TENTANGMU”

“TIDAK SEMUA HARUS TENTANGMU”

 

Masih banyak topik lain

yang jauh lebih seru

Silakan merasa

aku menulis tentangmu

 

Ayo, marahlah

Aku akan tertawa

Kau tak punya bukti nyata

Kaulah yang sedang kubahas

 

Apa kau sepenting itu?

Astaga, aku geli

Masih banyak cerita lain yang lebih bagu

Sementara kamu pusing sendiri

 

Tak perlu tersinggung

Aku tidak sedang memberimu panggung

Tanggung

Lebih baik kutonton kera menggaruk punggung

 

Puisi ini bukan tentangmu

Sayang, kamu tidak sepenting itu

Namun, bila itu perasaanmu,

itu sama sekali bukan urusanku.

 

R.

 

“MENULIS: Sebuah Katarsis”

“MENULIS: Sebuah Katarsis”

Bagi sebagian orang, menulis tidak hanya soal menulis. Ada proses panjang dan alasan tertentu di baliknya. Sama seperti menggambar atau melakukan hal lain yang dianggap hobi.

Bagi saya, menulis adalah pelarian sejati dari banyak hal di dunia ini. Terlalu banyak yang tertampung di dalam hati dan otak, sehingga kadang sulit sekali untuk keluar dan membicarakannya dengan orang lain. Kalau pun bisa, kadang disertai rasa sakit secara emosional yang sebenarnya cukup mengganggu dan menakutkan.

Maka itulah, saya memutuskan untuk terus menulis.

R.

 

“TERSEOK-SEOK KEMBALI PADA-MU”

“TERSEOK-SEOK KEMBALI PADA-MU”

Aku tak perlu cerita

pada mereka

mengenai perjuanganku

terseok-seok kembali pada-Mu

 

Semoga Engkau tahu

semua usahaku

meski gagal berkali-kali

aku enggan undur diri

 

Aku ingin kembali

meraih ketenangan itu lagi

tanpa perdebatan

tanpa penghakiman

 

Makanya,

akhir-akhir ini

aku lebih banyak diam.

R.

 

“5 CARA MEMINTA MAAF YANG PAYAH”

“5 CARA MEMINTA MAAF YANG PAYAH”

Hei, udah mau Lebaran lagi, nih. Saatnya bertemu dan berkumpul dengan keluarga lagi. Mari sama-sama kembali ke yang fitri…

…dan bukan sekadar basa-basi. (Ups!) Hehe, tapi lagi-lagi itulah manusia. Berbuat salah, lalu menyesal. Ada yang berubah lebih baik. Ada yang belum kapok dan mengulanginya lagi.

Yah, memang nggak semua manusia cukup berbesar hati untuk mengakui kesalahan diri sendiri. Makanya sampai keluar istilah ‘half-assed apology’ alias permintaan maaf yang payah, yaitu setengah hati atau nggak niat. Lima (5) contohnya ada di bawah ini:

  1. Minta maaf karena didesak.

Entah gengsi atau ogah mengalah, meski udah ketahuan salah, masih harus didesak-desak dulu agar maju dan meminta maaf. Jadinya? Udah ucapan nggak jelas, jatuhnya juga nggak ikhlas.

Biasanya banyak yang malah jadi malas nerima yang model beginian. Mending nggak usah sekalian.

2. Minta maaf tapi juga banyak alasan.

“Gue tahu gue salah. Tapi gue berbuat begitu karena…bla-bla-bla…”

Memang, pasti selalu ada alasan di balik setiap perbuatan baik atau pun buruk. Masalahnya, kalau habis minta maaf langsung bikin alasan demi pembenaran atau pemakluman atas perbuatannya, sama juga bohong. Apalagi ketahuan banget kalau alasannya dibuat-buat banget. Gimana yang denger nggak malah balik dongkol lagi?

3. Minta maaf tapi sambil usaha ‘menyeimbangkan skor’.

Maksudnya? “Gue tahu gue salah, tapi elo juga sih, yang…” Minta maaf tapi pakai ngungkit-ngungkit kesalahan lawan bicara, apalagi bila kesalahannya udah duluuu banget dan sama sekali nggak relevan dengan masalah saat ini? Bahkan, yang paling sering kejadian adalah menjadikan kelakuan si lawan bicara sebagai alasan atau pembenaran Anda berbuat jahat sama mereka.

Mending nggak usah ngomong, deh. Serius. Minta maaf kok, ngajak berantem lagi?

4. Minta maaf tapi nggak mau bertanggung jawab membereskan kerusakan yang sudah terlanjur ada karena ulah Anda.

Kabar buruk. Nggak semua masalah bisa selesai hanya dengan maaf doang. Kalau ternyata ada kerusakan yang harus diperbaiki akibat ulah Anda, ya jangan mangkir dengan 1001 alasan. (Satu aja udah enggak banget, apalagi pake nambah sisanya yang berjibun itu!) Entah gimana caranya, tunjukkanlah itikad baik Anda.

Niat mau bertanggung jawab aja udah bagus banget, apalagi kalau benar-benar dikerjakan.

5. Minta maaf, tapi kesalahan yang sama diulang-ulang terus…dan nambah parah pula.

Nah, jangan keki kalau mereka kemudian banyak yang jadi nyinyir:

“Minta maaf melulu. Kapan berubahnya?”

Yah, semoga permintaan maaf kali ini benar-benar dari hati, ditunjukkan dengan aksi penuh tanggung jawab, dan nggak hanya formalitas kala Lebaran.

R.