“OH, JAKARTA!”

“OH, JAKARTA”

Sekembalinya aku dari liburan Sydney, aku tidak pernah sama lagi. Banyak yang telah terjadi.

Apa rasanya kembali ke Jakarta, ke semua kekacauan yang familiar? Polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas (berisik dan ganggu banget soalnya)…

Mungkin ini rasanya terlalu lama berada di satu tempat yang sama. Setiap kali mendapatkan kesempatan traveling ke tempat lain (yang buatku jarang terjadi), hanya satu yang selalu kurasakan saat liburan (harus) berakhir:

Aku tidak mau pulang.

Namun, seperti biasa, akhirnya aku pulang juga. Kembali ke kamar kosku yang sempit namun nyaman, dengan AC, koneksi wifi, dan TV kabel berlangganan. Hanya sesekali aku keluar, entah untuk mencari makan, bertemu teman, hingga kerja. Oh, satu lagi: pulang ke keluarga. Satu hal yang pasti, aku tidak mau dituduh tidak sayang atau mulai lupa sama mereka hanya gara-gara jarang berkunjung.

Hhh, kadang mereka enggan mengerti, ada batas tipis antara peduli dengan menghakimi. Meskipun Mama sudah lama mengerti dengan pilihanku, tidak berarti seluruh dunia harus setuju. Semesta masih menunjukkan warna-warni untukku, lebih beragam dari lampu-lampu dari sekitar Jakarta.

“Kadang elo emang harus belajar diam dan cuek sama mereka,” kata Wina, sahabatku di Sydney. Sudah sembilan tahun dia tinggal di sana bersama suaminya, Ant. “Tapi nggak enaknya, di sini kalo enggak biasa ama sepi elo bisa garing juga, Ri. Jam lima toko-toko udah banyak yang tutup. Nggak banyak temen-temen yang beneran bisa lo andelin di sini.”

Ya, bisa dibilang berbeda dengan Jakarta. Lebih dari tiga dekade aku hidup di sini. Aku menjadi saksi hidup geliat perkembangan (dan kemunduran) ibukota negeri ini. Mulai dari semakin banyaknya mal dan hotel, penggusuran paksa pemukiman rumah penduduk (rata-rata secara kasar atau sabotase berupa pembakaran yang disengaja), dan kursi politik yang kerap jadi rebutan.

Saat baru pulang, Mama seperti bisa melihat sesuatu di wajahku. Bahkan, sebelum aku berani menyebut yang sudah kudiskusikan dengan Wina, Ant, dan Toby (sahabatku yang satu lagi di sana), mendadak Mama menyahut:

“Kamu kalo mau coba aja apply pekerjaan di sana. Siapa tahu…”

Yeah, siapa tahu…

— // —

Semula aku sempat tidak (mau) terlalu memikirkannya. Takut kecewa bila tidak kesampaian. Jadi, untuk beberapa saat, aku hanya kirim CV ke pekerjaan menulis apa pun yang bisa kukirimkan. Bahkan, meski tidak pernah jadi mahasiswa teladan, kucoba juga berburu beasiswa ke sana. Short course tiga – enam bulan pun juga tidak masalah.

Hidup memang lucu. Kadang Tuhan mengujimu dengan cara yang tak pernah kau duga.

Saat Adam mengajakku menikah dan berhasil meraih restu keluargaku, aku tidak menolak. Namun, saat Adam mendapat kabar bahwa pekerjaan barunya mengharuskan dia berada di Sydney, perutku mendadak mulas setengah mati. Antara bahagia…dan sedih.

Bahagia, karena petualangan baru yang kunanti-nantikan akhirnya terkabul. Aku juga akan bertemu Wina, Ant, dan Toby lagi. Menjelajahi Sydney dan sekitarnya. Belajar budaya dan kebiasaan di sana…

Namun, aku juga akan merindukan Jakarta. Bukan, bukan polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas, dan mal-mal yang tinggi menyesakkan.

Tidak ada lagi jalan-jalan sama Mama, memeluk para keponakan, makan sate ayam di pinggir jalan, datang ke perkumpulan puisi, dan…ah, masih banyak lagi.

Oh, Jakarta. Ternyata jeratmu masih kuat juga…

R.

 

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.

 

“DALAM MIMPIMU” (Kecemasan Seorang Ibu)

“DALAM MIMPIMU” (Kecemasan Seorang Ibu)

Tidak ada yang memintamu untuk selalu tangguh. Entah dari mana kamu bisa mendapatkan pemikiran seperti itu.

Beberapa bulan sesudah pemakaman ayahmu, kamu pindah. Pekerjaan barumu jauh dari rumah. Kamu perlu menyewa kamar kos, karena lalu lintas semakin gila macetnya.

Seperti semua ibu, Mama tidak mau kamu pergi. Andai saja Mama selalu bisa menahanmu agar tetap di sini.

Tentu saja, Mama juga tahu bahwa kamu tidak akan bahagia bila begitu. Mama tahu ini bukan berarti kamu tidak sayang Mama lagi, apa pun tuduhan mereka terhadapmu. Sejak usia 18, kamu sudah amat menginginkan hidup mandiri.

“Lagipula,” katamu, “harusnya sekarang giliran aku menjaga Mama, bukan sebaliknya.”

Aku mendesah. Baiklah.

Tiga tahun kemudian, semua masih sama. Kita hidup terpisah, meski masih satu kota. Hanya sesekali kamu pulang, itu pun saat akhir pekan. Kadang kita bertemu di mal atau restoran dan berdua seharian.

Mama kangen kamu. Mama kangen saat-saat itu di beranda depan pada Minggu pagi, sambil mengerjakan TTS koran Minggu sementara kita minum kopi. Kadang kamu membawa buku untuk dibaca atau menulis di buku catatanmu.

Kita sudah jarang mengobrol. Mama mengerti, kamu sibuk. Kamu juga sudah dewasa. Mungkin kamu merasa sudah waktunya belajar menyelesaikan masalahmu sendiri.

Jangan berharap yang tidak-tidak. Kamu tahu banyak yang tidak menanggapi peringatan itu dengan serius.

Kamu pulang akhir pekan itu. Seperti biasa, malam itu kamu tidur di kamar lamamu. Mama sedang melewati pintu kamarmu saat Mama mendengar kamu seperti sedang menggumam. Sepertinya kamu sedang mengigau, jadi Mama membuka pintu dan masuk ke kamarmu.

“Stop.” Keningmu berkerut saat tidur. Kamu tampak marah. “Stop. Sudah. Jangan lihat Kakak terus! Lihat aku. Aku juga anak Mama, tahu!”

Mama tertegun, sulit untuk mempercayai yang barusan Mama dengar. Itukah penyebab kamu berhenti bercerita sama Mama? Kamu pikir Mama lebih sayang kakakmu?

Itu tidak benar. Kamu tahu Mama juga sayang kamu. Masalahnya, selama ini kakakmu-lah yang paling banyak menuntut perhatian. Kamu lebih banyak diam saja. Selama ini, Mama kira kamu baik-baik saja.

Maaf bila kamu merasa kamu sudah tidak bisa bercerita lagi sama Mama…

“Aku kangen Tobey…”

Kali ini kamu terdengar sedih. Hati Mama ikutan pilu. Kamu selalu ingin punya seorang abang. Mama juga sayang dengan sahabat kamu yang bermata hazel. Tobey selalu menjagamu. Dia selalu perhatian saat dekat.

Mama tahu kamu selalu kangen setiap kali dia pulang ke negaranya, sayang…

Mama kira hanya itu, namun kemudian kamu menyebut nama lain dalam tidurmu:

“Max…jangan.”

Siapa itu? Kali ini kerutan di dahimu tidak hanya karena amarah, namun juga…rasa takut. Kamu pun mulai bergerak gelisah dalam tidurmu, masih sambil mengigau. Suara igauanmu bertambah jelas.

“Stop. Aku nggak mau, Max, hentikan! Kamu bikin sakit ini.”

Darah Mama membeku. Max itu siapa, sayang? Kenapa dia sampai menyakitimu?

Mama terpaksa mencengkeram kedua tanganmu saat kamu mulai mencakar-cakar lenganmu sendiri. Bukan, bukan mencakar, Mama menyadari sesuatu. Kamu seperti sedang berusaha melepaskan cengkeraman seseorang di tanganmu.

“Lepaskan, Max. Kubilang jangan! Stop, kamu menyakiti aku.” Sekarang kamu menangis. Sambil memohon, Mama membangunkanmu:

“Bangun. Sayang, bangunlah!”

Akhirnya kamu berhenti menangis dan berguncang, lalu membuka mata. Mama kira kamu sudah benar-benar bangun, jadi Mama hanya membujuk, “Sssh, udah nggak apa-apa. Kau nggak apa-apa. Sssh…”

Lalu kamu kembali jatuh tertidur. Sepanjang sisa malam itu, Mama berbaring di sampingmu, memegang tangan dan membelai rambutmu…

— // —

Kamu terlihat begitu berbeda keesokan harinya. Tak ada ekspresi merengut maupun air mata. Apa Mama hanya berkhayal semalam, ya? Kamu tersenyum sambil menghabiskan sarapanmu.

“Mama nggak apa-apa?”

“Apa? Oh, nggak apa-apa.” Lalu Mama pun ikut sarapan. Suasana sunyi, hanya suara sendok kita yang beradu pada mangkuk.

Setelah itu, tibalah saatmu untuk pergi lagi. Akhir pekan hampir berlalu. Saatnya menyambut awal minggu yang baru. Saatnya bekerja kembali.

“Kamu perlu bawa sesuatu?” Mama ingin tahu. Saat kamu hanya menggeleng, Mama hanya bisa tersenyum dan berharap, “Jaga diri baik-baik ya, nak.”

“Aku sangat sayang Mama.” Kamu balas tersenyum, yang membuat Mama seperti melihat hantu papamu selama beberapa saat. Mama jadi sesak dan membatin:

Aku gagal ya, Ray? Coba kamu masih di sini. Kamu selalu lebih memahaminya.

Entah mengapa, tatapanmu itu mendadak mengingatkan Mama akan waktu kamu berumur enam tahun dan tidak sengaja memecahkan keramik kesayangan Mama. Waktu itu kamu tidak menangis, namun matamu menyiratkan rasa takut – seperti sebuah permintaan maaf dalam diam.

“Mama juga sayang kamu, nak.” Yah. Lagi-lagi Mama melewatkan kesempatan itu. Mama hanya diam berdiri saat kamu mencium pipi Mama, lalu berbalik dan pergi. Saat pintu tertutup, Mama pun terduduk dan menangis.

Apakah kamu juga menyembunyikan air matamu setiap kali berbalik? Mama rasa, mimpi serammu semalam sudah cukup memberikan petunjuk. Mama sudah mendengar semuanya lebih dari cukup.

Tapi, bagaimana Mama bisa membujukmu agar mau cerita saat kamu bangun? Bagaimana cara Mama meyakinkanmu, Mama tidak akan marah? Mama janji, sayang, biarpun Mama belum tentu siap mendengar semuanya. Mama hanya ingin tahu apa yang menggelisahkanmu akhir-akhir ini.

Tolong, kamu bisa cerita sama Mama…

Tidak pernah ada yang meminta kamu untuk selalu kuat, jadi Mama tidak mengerti kenapa kamu tetap memilih demikian…

R.

 

“HANYA SEKALI…”

“HANYA SEKALI…”

Sejam berlalu. Raunganmu yang menyayat masih terdengar di balik pintu.

“Maafkan aku.” Begitu ulangmu. Sisanya lebih banyak berupa ratapan tidak jelas. Yang tidak biasa mendengar laki-laki dewasa bersikap seperti itu mungkin akan bergidik mendengarnya.

Namun, aku masih bergeming. Tak kupedulikan tatapan Mama yang matanya sudah merah dan berair.

“Maafkan suamimu, nak. Dia hanya khilaf. Lagipula, untung hanya sekali dan langsung ketahuan.”

Hanya sekali? Ingin aku tertawa. Alangkah naifnya Mama dan semua orang. Mungkin maksud mereka baru sekali ketahuan, meski mungkin perbuatannya sudah berkali-kali di belakangku. Siapa tahu, perempuan itu bukan satu-satunya.

“Laila, tolonglah,” pinta Mama lagi. “Maafkan Nino, sayang. Mama yakin kamu adalah istri yang baik.”

Ya, ya, ya. Aku selalu mendengarnya di mana-mana. Istri yang baik harus selalu memaafkan suami, sebrengsek dan sebejat apa pun kelakuan laki-laki itu.

Lalu, bagaimana dengan suami? Apa yang terjadi bila situasi terbalik, si istri yang selingkuh? Aku ingat May, temanku yang pernah khilaf sekali. Suaminya yang terlanjur jijik langsung menggugat cerai dan menyebutnya pelacur murahan. Bahkan, belum puas laki-laki itu membalas dendam, dengan teganya dia menyebar aib May ke mana-mana. Laman media sosial May sampai penuh dengan umpatan dari para netizen yang berperan sebagai bully, main hakim sendiri.

Mama juga langsung melarangku berteman dengan May.

“Perempuan baik-baik nggak pantes temenan ama perempuan macam itu.”

Astaga, Mama ngapain? Kulihat beliau memutar kunci pintu.

“Mama, jangan.” Terlambat. Kamu telah masuk dan kini berlutut di depanku, sambil menggenggam erat kedua tanganku. Masih menangis dan meraung-raung, bak adegan sinetron basi.

Kutahan rasa mual sebisaku, karena ingat tanganmu pernah menyentuh perempuan lain. Perempuan itu, yang telanjang di balik selimut bersamamu di kamar hotel itu. Mimpi terburukku saat memergokimu.

“Laila, maafkan aku.” Kembali mataku dan mata Mama bertemu. Ah, sial. Sorot mata beliau yang basah masih sama. Apa iya aku mau jadi anak durhaka karena enggan menurutinya?

Nino, kamu beruntung karena kamu laki-laki. Mereka akan selalu memintaku memaafkanmu dan menerimamu kembali…

—//—

Kalau semua mengira aku bidadari sempurna yang langsung memaafkanmu begitu saja, salah besar. Aku memang perempuan, tapi aku juga masih manusia biasa. Aku berhak marah dan merasa sakit hati sebagai seorang istri. Butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan rasa percayaku lagi.

Aku melakukan ini demi Mama, yang entah kenapa lebih malu bila kita sampai bercerai. Padahal, akulah anaknya yang disakiti.

Setidaknya, kamu sekarang lebih sadar dan tahu diri. Kamu berusaha keras sekali untuk mendapatkan kepercayaanku lagi. Mulai jarang hangout dengan teman-temanmu. Habis kerja langsung pulang ke rumah. Berusaha lebih memanjakanku kali ini.

Awalnya, aku masih bersikap dingin. Namun, kamu juga tidak menyerah. Hmm, mungkin Mama memang benar. Barangkali kamu memang tulus ingin berubah.

Akhirnya, malam itu kita kembali seperti dulu. Bercinta di atas ranjang itu, sebagai suami dan istri yang kembali bersatu. Ada lega di wajahmu.

“Laila, aku mencintaimu…”

—//—

Kita kembali berbahagia, namun kenapa akhir-akhir ini sama-sama mudah lelah? Jatuh sakit dan sembuhnya suka lama. Ringkih, padahal belum juga terlalu tua. Kita sama-sama masih suka olahraga dan menjaga pola makan.

Beberapa kali, aku mengajakmu ke dokter. Kamu menolak dengan alasan sibuk, meski kutahu sebenarnya kamu gengsi. Jadi aku selalu pergi sendiri.

Sampai akhirnya dokter menyarankanku untuk melakukan tes yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tiga huruf singkatan virus yang menjadi nama tes itu membuatku ngeri…

—//—

“Nino, kita harus bicara.”

Wajahmu memucat, disertai tanda-tanda ekspresi defensif.

“Laila, aku udah gak selingkuh lagi. Sumpah.”

“Aku percaya.” Senyumku tipis saat kuserahkan amplop putih itu padamu. Untuk menjawab sorot tanya pada matamu, kujelaskan, “Aku baru tes dari klinik.”

“Oh.” Ada harap pada wajahmu saat membuka amplop itu. Kamu bahkan hampir tersenyum. “Apa kamu-“

“Sayangnya bukan.” Kutunggu reaksimu dengan jantung berdebar-debar.

Benar saja, wajahmu memucat. Matamu berkaca-kaca saat kembali menatapku. Yang kamu tidak tahu, beberapa jam sebelumnya aku sudah menangis sendirian, sambil menunggumu pulang kantor.

Kamu tahu aku tidak pernah selingkuh. Hanya butuh tiga huruf itu untuk membuatku diam membisu, sementara kamu kembali tampak merasa bersalah seperti dulu.

Aku sudah tidak mendengar ucapanmu lagi. Yang kuingat malah dua kata yang mereka semua ucapkan padaku dulu, saat kau terpergok selingkuh dan aku diminta untuk memaafkanmu:

“Hanya sekali…”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“SEPATU UNTUK FAIZA”

“Kira-kira yang mana ya, yang bagus?”

“Yang itu aja, Ma.” Faiza menunjuk sepatu merah berhak rendah. “Cocok sama gaun buat ke kawinan besok.”

“Oke, kamu cobain dulu, deh.” Untung ada sepasang, jadi bisa sekalian dicoba dua-duanya.

Faiza menunduk dan – di luar dugaan – menarik lepas kedua tungkai prostetik-nya. Berpasang-pasang mata membeliak terkejut. Penjaga toko sampai menahan napas, namun Mama hanya mendelik pada Faiza.

“Apaan?” Faiza menyahut polos. Dipasangnya sepatu pada kaki palsunya, sebelum memasangkan kakinya kembali. Lalu gadis itu berdiri dan mulai berjalan.

“Muat, Ma. Enak.”

Kelar membayar, ibu dan anak keluar toko, diiringi tatapan heran penjaga toko dan pengunjung lain.

(100 KATA – #FFKAMIS “SEPATU”)

“SIAPA DIA?”

“SIAPA DIA?”

Matanya begitu dingin menatapku.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Takut-takut aku menggeleng. Benakku berputar begitu cepat, berusaha mengingat-ingat wajahnya…

— // —

“Apa-apaan ini?!”

Alan dan Belinda cekikikan begitu melihatku melototi layar laptop-ku. Terpampang di sana, profil dan detailku pada sebuah…situs kencan.

Astaga, ini bener-bener nggak lucu!

“Sori, El,” ucap Belinda takut-takut, begitu menyadari betapa murkanya aku. Disikutnya si Alan (koreksi, maksudku siAlan!) yang entah kenapa masih berani nyengir. “Ini idenya dia.”

“Eh, elo juga kali, yang ngusulin website itu,” balas Alan membela diri. Wajahnya tampak sewot nggak terima. “Niat kita semula mau bantuin Elma cari jodoh, ‘kan?”

“TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA KALI!” bentakku, yang sukses bikin dua mahluk di depanku berjengit. Kutuding layar laptopku dengan geram. “Sekarang hapus akun gue. Nggak mau tau gimana caranya! Gue nggak pernah ngerasa daftar beginian, kok elo pada enak-enaknya bikin profil gue di sini. Pelanggaran privasi, tauk!”

“I…iya-iya, maaf.” Baru saja Alan mau menyentuh keyboard laptop-ku ketika kutepis tangannya dengan langsung.

“Pake punya lo sendiri!” perintahku kasar. “Dalam sejam masih gue liat itu profil, awas lo berdua!”

Tanpa banyak ribut, kedua mahluk yang harusnya jadi sahabatku itu langsung ngacir, balik ke cubicle masing-masing.

Oke, aku tahu maksud mereka baik. Menurut mereka, aku sudah melajang cukup lama. (Terlalu lama, menurut mereka.) Aku juga nggak gitu tertarik sama situs kencan. Takutnya ketemu orang aneh-aneh. Tahu ‘kan, yang pas online kelihatannya sempurna, tahunya pas kopdar…hiii…

Kadang keponya orang Indonesia nyebelin akut. Okelah, mungkin mereka bahagia karena berpasangan. Tapi nggak berarti yang masih lajang selalu merana, ‘kan? Aku masih bisa cari sendiri kok, tentu dengan caraku juga. Kalo emang mereka punya niat baik, mbok ya tanya yang punya profil dulu baik-baik sebelum daftarin sembarangan. Idiih…

Saat kucek lagi website itu, nama dan fotoku sudah nggak ada. Syukurlah. Damai lagi rasanya…

— // —

Oke, nomor siapa ini? Kenapa dia selalu missed-call dan WA-nya ngajakin ketemuan terus?

Berhubung nggak merasa populer, aku cuekin aja. Eh, lama-lama kok, pesannya makin kasar begini, ya?

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

“Masa lupa, kemarin-kemarin kita udah chatting cukup lama?”

“Kenapa? Aku kurang cakep buat kamu ladenin?”

Grrrh! Merasa malas dengan urusan ini, kuhampiri Alan dan Belinda. Kutunjukkan ponselku, masih dengan tampang geram.

“Dugaan gue dari website sialan itu,” ujarku tanpa basa-basi. Maklum, aku masih marah sama mereka. “Gue nggak mau tahu gimana caranya, elo berdua jelasin ke orang ini supaya nggak gangguin gue lagi. Malesin tau, gak?”

“Gue aja, deh.” Alan mengalah. Diteleponnya nomor itu. Wajahnya tampak amat menyesal saat berusaha menjelaskan perihal salah paham ini. Biarin aja. Kutunggu, melihat Alan mengangguk-angguk pasrah sambil meminta maaf.

Akhirnya…

“Udah, El,” katanya lemas. “Dia nggak bakal gangguin kamu lagi.”

“Good.” Aku berbalik tanpa memberi mereka kesempatan untuk bicara. Meskipun kata Alan orang itu sudah tahu, buat jaga-jaga kublokir nomornya.

— // —

Mungkin aku terlalu cuek, karena merasa nggak populer. Privasiku ya, privasiku.

Makanya, aku kaget setengah mati saat malam itu, laki-laki itu mencegatku di parkiran kantor.

“Kau tidak tahu siapa aku, ya?”

Mungkinkah…

Terlambat. Cipratan air itu melepuhkan kulit wajahku.

 

R.

(500 kata – dari Prompt#144: Siapa Dia? untuk Monday Flash Fiction di http://www.mondayflashfiction.com/2017/07/prompt-144-siapa-dia.html )

 

“CAN WE DANCE, PAPA?”

“Can We Dance, Papa?”

“Can we dance, Papa?”

Kamu ingin tahu rasanya, setelah melihatku berdansa dengan Mama. Mama mengalah dan kuraih kedua tangan mungilmu. Karena tinggi kita masih terpaut jauh, kuminta kamu berdiri di atas kedua kakiku.

“Nanti kaki Papa sakit.”

“Nggak apa-apa. Papa masih kuat.” Dan berdansalah kita, sementara Mama memotret dan merekam. Kamu terkikik geli, sebelum bertanya:

“Apa aku nanti bisa setinggi Papa?”

Kugendong kamu dan kutatap mata zaitunmu.

“Kalau kamu setinggi Mama, hanya laki-laki baik yang boleh berdansa denganmu.”

—//—

Malam itu, aku datang menjemput ke sekolah setelah SMS darimu. Kita sempat bertengkar hebat soal laki-laki itu. Aku tidak suka caranya memperlakukanmu, namun saat itu kamu begitu tergila-gila padanya dan tidak mendengarkanku. Tipikal remaja keras kepala.

Kutemukan kamu duduk sendirian di parkiran, bergaun biru dan tiara menghias rambutmu. Makeup di wajahmu sudah luntur. Ah, gadis kecilku menangis…

“Mana dia?” tuntutku geram. Buru-buru kamu berdiri dan memelukku.

“Jangan, Pa,” pintamu pilu. “Dia nggak penting. Udah kuputusin.”

Kupeluk kamu selama beberapa saat. “Mau pulang sekarang?”

Anehnya, kamu menggeleng. Kamu malah mengelap wajahmu dengan tisu dan menggandengku kembali ke lapangan olahraga. Prom masih berlangsung. Tak peduli tatapan aneh teman-teman dan para guru, kamu hanya memintaku:

“Just dance with me, Papa.”

Itulah permintaan maafmu. Aku mengerti. Setidaknya, aku sempat mengirimkan tatapan mengancam pada bocah yang mematahkan hatimu malam itu…

—//—

Wedding host mengumumkan dansa pertama. Kamu tampak cantik sekali dengan gaun putihmu.

“Let’s dance, Papa.” Kutunggu sampai kamu sudah duduk nyaman di pangkuanku. Beberapa orang merapikan gaunmu agar tidak tersangkut di bawah kursi rodaku. Stroke sialan.

Musik mengalun. Kupencet tombol ‘on’ dan kursi rodaku bergerak pelan. Di hari terbahagiamu, kita berdansa lagi seperti dulu. Kamu masih memeluk leherku dan menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku tersenyum pada laki-laki muda yang meminangmu. Ya, hari ini kamu telah menemukan pasangan dansa abadimu sendiri. Aku bahagia…

(dari Prompt#143 Monday Flash Fiction: “Can We Dance?” – 299 kata)

 

“Pensil Warna Si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Pensil Warna si Kembar dan Teman-teman Baru”

“Selamat ulang tahun, Ethan dan Emma.”

Kedua anak berambut pirang itu tersenyum saat membuka kado dari orang tua mereka. Mata biru dan senyum mereka melebar saat melihat sekotak pensil warna berisi 24 pilihan.

“Terima kasih, Mom dan Dad.”

“Sekalian kado pindahan, karena kalian telah bersikap manis dengan kepindahan ini,” ujar ayah mereka bangga. Ethan dan Emma langsung bergantian memeluk orang tua mereka.

“Kami boleh menggambar di beranda depan, Mom and Dad?” tanya keduanya kompak. Ayah dan ibu mereka mengangguk.

“Oke,” ujar ayah mereka. “Tapi masuk ya, kalau sudah waktu makan malam.”

“Oke.” Ethan dan Emma segera ke beranda depan dengan kotak pensil warna dan buku gambar mereka. Mereka langsung duduk di meja dan mulai menggambar.

Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka. Ethan dan Emma sama-sama mendongak dan melihat kedua anak itu.

Keduanya mungkin seumur, dengan tinggi badan dan rambut gelap berombak yang sama. Kulit mereka juga pucat, seperti anak-anak yang jarang terkena sinar matahari.

“Hai,” sapa Emma ramah. “Mau ikut gambar sama kami?”

“Hmm, kami nggak bisa gambar,” kata anak yang perempuan. Anak laki-laki di sampingnya tampak pendiam. “Tapi boleh lihat saja?”

“Boleh.” Ethan langsung mengenalkan diri. “Aku Ethan dan ini adik kembarku, Emma. Kami hanya beda lima menit.”

“Kalian kembar juga?” tanya Emma penasaran. Kedua anak berambut gelap itu mengangguk.

“Aku Beth dan ini adikku, Bryan,” kata anak yang perempuan. “Aku lebih tua tujuh menit dari Bryan.”

“Hai,” sapa Bryan malu-malu.

“Duduklah,” undang Ethan. Bryan dan Beth duduk semeja dengan Ethan dan Emma. Tak lama, keempat anak itu langsung mengobrol dengan akrab. Sesekali Beth cekikikan saat melihat Emma dan Ethan menggambar mereka berempat. Lalu Beth bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah rumah di ujung jalan, beberapa meter dari rumah baru Ethan dan Emma.

“Tapi rumah kalian terlihat gelap,” komentar Emma, yang langsung dipelototi oleh Ethan. Belum sempat Beth menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah:

“Ethan, Emma! Ayo, makan.”

“Oke, Mom,” balas Ethan dan Emma berbarengan. Beth dan Bryan langsung berdiri.

“Kami harus pulang juga,” ujarnya, lalu menggandeng adiknya. Saat keduanya pergi, Ethan dan Emma melambai pada mereka. Di atas, langit mulai menggelap.

“Besok main ke sini lagi, ya.”

–//–

“Tadi kalian ngobrol sama siapa?”

“Teman-teman baru kami, Dad,” kata Ethan ceria. “Mereka kembar juga.”

“Ini Bryan, dan yang ini Beth.” Emma menunjuk gambar dua anak berambut gelap di samping dua anak berambut pirang. “Aku pakai pensil warna merah untuk bibir Beth. Habis dia pucat sekali, sih.”

“Oh.”

–//–

“Serius, Dan?”

“Mereka berdua tadi di beranda depan,” ujar ayah si kembar. Malam itu, Ethan dan Emma telah lelap di kamar masing-masing. “Mungkin mereka hanya punya teman khayalan. Masih tujuh tahun. Fase biasa.”

Wajah Hannah, istri Dan, memucat. Ditunjukkannya potongan koran lama yang bertanggal enam bulan yang lalu.

“Mereka bilang anak-anak itu namanya Bryan dan Beth?”

Hening mencekam. Keduanya membaca berita pembantaian seorang jaksa muda dan keluarganya suatu malam, di rumah dekat rumah mereka. Semuanya ditemukan tewas.

Termasuk anak kembar mereka yang bernama Bryan dan Bethany…

(Prompt#142 – Pensil Warna – 487 kata)

 

 

“BOLEH KUPINJAM LELAKIMU?”

“Boleh Kupinjam Lelakimu?”

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.

Aku sering melihatmu bersamanya. Aku melihat caranya memeluk dan menciummu, meski di depan umum malam itu. Kamu tersenyum kikuk. Kuduga mungkin ini pacar serius pertama atau keduamu.

Yang kulihat, ada ragu di matamu, bercampur jengah dan malu. Mungkin juga sedikit rasa takut. Mungkin kamu memang menyukai perhatiannya.

Namun, matanya tidak bisa menipuku. Ada gairah yang bergelora di sana, yang membuatnya menginginkanmu lebih dari yang ingin kau berikan untuknya.

Prediksiku? Kalian berdua tidak akan bertahan lama. Terlalu berbeda dalam hampir segalanya. Dia ingin bebas melakukan semuanya denganmu. Baginya, moral dan agama adalah belenggu…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tidak lebih.

Jika dia ingin memberiku lebih, aku takkan menolak. Aku juga menyukainya, tidak peduli seluruh dunia akan menganggapku apa. Sudah banyak sebutan untukku: sundal, perempuan murahan, pelacur, tak punya moral…

Lucunya, lelaki bajingan yang suka tidur dengan banyak perempuan (termasuk denganku, tentu saja) juga menyebutku demikian di muka umum. Haha, kenapa? Situ kurang puas?

Ah, kurasa mereka hanya tidak mau terima bahwa perempuan juga bisa demikian. Benar-benar standar ganda. Ego mereka sudah terlalu lama berkuasa.

Mau sampai kapan aku terus begini? Ah, mungkin ini hanya idealisme tingkat tinggi, tanpa hasil yang benar-benar berarti.

Sampai standar ganda sialan itu tidak ada lagi…

—***—

Boleh kupinjam lelakimu? Ah, tak perlu. Malam itu aku sudah mendapatkannya, lebih dari hanya hangat lidahnya.

Sesuai dugaanku, lama-lama dia bosan dengan penolakanmu. Dia sendiri yang datang ke bar ini, mencari pelampiasan dan menemukanku.

Jujur, aku tidak peduli bila nanti kamu tahu. Bahkan, aku ingin kamu segera tahu, karena aku justru sedang menolongmu.

Aku hanya ingin menunjukkan, seperti apa sebenarnya lelaki yang mengaku mencintaimu…

R.

(Untuk Monday Flash Fiction Prompt#139: “Boleh Kupinjam Lelakimu?” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-139-boleh-kupinjam-lelakimu.html – 276 kata)

 

“TANGAN-TANGAN PENGATUR SI CANTIK”

“Tangan-tangan Pengatur Si Cantik”

“Kamu cantik.”

Pujian itu selalu kudengar dari kecil. Mereka senang mengajakku bercermin, sambil sesekali memainkan rambut panjangku. Rambut yang tidak boleh dipotong, larang mereka.

“Nanti kamu keliatan kayak anak laki-laki, nggak cantik lagi.”

Padahal, aku gerah. Panas, apalagi siang-siang. Aku juga dilarang main lari-larian di kebun bareng abangku dan para sepupu. Kata mereka, anak perempuan harus anggun, duduk manis, dan penurut. Nggak boleh berkotor-kotor. Nanti nggak cantik lagi.

Jadilah aku duduk di antara para tetua, dengan gaun putih bersihku. Sesekali tangan Bunda membetulkan cara dudukku atau menyibakkan rambutku yang mulai kembali berantakan. Nggak peduli aku yang cemberut karena malu jadi tontonan.

Membosankan.

Bunda, aku bukan boneka. Aku anakmu…

-***-

“Kamu cantik.”

Setiap gadis remaja pasti senang mendengar pujian itu, apalagi dari pemuda yang mereka suka di sekolah.

Begitu pula aku. Dia tersenyum padaku, membuatku tersipu. Katanya dia suka dan ingin aku jadi pacarnya. Kuiyakan saja, meski tidak benar-benar mengerti maksudnya.

Awalnya, semua terasa indah. Lama-lama menyebalkan. Sama saja kayak Bunda dan semua orang. Terlalu banyak aturan. Aku harus dandan sesuai maunya. Nggak boleh pulang terlalu malam, kecuali hanya kalau sedang jalan sama dia. Jangan keseringan nongkrong sama teman-teman, dia kesepian.

Jangan berteman sama laki-laki lain, dia cemburu.

Akhirnya, aku lelah. Aku minta putus. Di luar dugaan, dia malah menamparku. Lalu, malam itu dia membantingku ke tanah. Aku ingin menjerit, namun tangannya langsung beringas membungkamku.

Malam itu, tangannya menjelma seribu. Sia-sia aku melawan. Dia terus menimpaku, memukuliku seakan aku adalah sansak untuk petinju.

Lalu, seperti anak kecil bermain boneka, dia mulai melucuti pakaianku. Satu-satu…

-***-

“Bunda, aku masih cantik, ‘kan?”

Aku bingung. Kenapa Bunda menangis? Aku ‘kan cuma tanya.

Luka-luka di wajah dan tubuhku sudah berkurang banyak, meski hidungku tidak lagi sama. Daguku juga sedikit bergeser.

Mereka tidak pernah menangkapnya. Kata mereka, di sini setidaknya aku aman. Banyak tangan yang mengurusku. Mereka sangat memanjakanku, seperti seorang putri raja. Membangunkanku tiap pagi, memandikanku, mendandaniku seperti boneka cantik. Seperti Bunda dan semua orang dulu.

Mereka sabar dan baik sekali. Mereka menyuapiku saat makan. Kurasa mereka semua malaikat berbaju serba putih.

“Bunda jangan menangis. Lihat, akhirnya aku bisa duduk diam dan anggun. Lihat, kali ini aku menurut, kok. Aku masih cantik ‘kan, Bunda?”

R.

(Dari Monday Flash Fiction Prompt#138: “Tangan-tangan” http://www.mondayflashfiction.com/2017/04/prompt-138-tangan-tangan.html?m=1  – 359 kata.)