“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

“JANGAN BIARKAN DIA MENGUBAHMU”

Jangan percaya mereka

Yang baik tidak selalu mengalah

meski cerdas memilih

pertarungan mana yang harus dihindari

 

Jangan kalah sama dia

yang pernah membuatmu terluka

Kau berhak bahagia

tanpa perlu membalas perbuatannya

 

Jangan biarkan dia mengubahmu

Kamu lebih kuat daripada itu

Rebut kembali hidup

agar menjatuhkanmu, dia takkan sanggup

 

R.

 

“RAJA PENCARI DRAMA”

“RAJA PENCARI DRAMA”

Kata mereka,

ini kebiasaan khas wanita

Tak mungkin pria

hingga kau salah satu buktinya

 

Apa maumu?

Dulu kau yang menjauh

meninggalkanku

Kau kira aku akan memohon seperti orang dungu

 

Bung, kau salah strategi

Kini kau kembali

Sayang, aku tak lagi peduli

Silakan cari perhatian setengah mati

 

Raja pencari drama

Hilang satu penontonnya

Puisi picisan dan nyinyir terbuka

Untuk apa?

 

Pengikutmu masih banyak

Tak perlu serakah

Aku sudah muak

dengan rajukanmu yang semakin parah

 

R.

 

“AKU YANG BARU”

“AKU YANG BARU”

Aku yang baru

tak lagi mencintaimu

Bersyukurlah

karena aku mengalah

meski bukan pasrah

apalagi merasa kalah

 

Tiada lagi amarah

Hanya lelah

Kumohon, menjauhlah

Biar kau yang bedebah

Aku ingin tetap waras

Kali ini lebih tegas

 

Aku yang baru

tak lagi mencintaimu

Benci juga percuma

Buang-buang tenaga

Biar kau jauh-jauh sana

menjaja cinta ke mana-mana

Kalau perlu sampai banting harga!

 

R.

 

“TIDAK SEMUA HARUS TENTANGMU”

“TIDAK SEMUA HARUS TENTANGMU”

 

Masih banyak topik lain

yang jauh lebih seru

Silakan merasa

aku menulis tentangmu

 

Ayo, marahlah

Aku akan tertawa

Kau tak punya bukti nyata

Kaulah yang sedang kubahas

 

Apa kau sepenting itu?

Astaga, aku geli

Masih banyak cerita lain yang lebih bagu

Sementara kamu pusing sendiri

 

Tak perlu tersinggung

Aku tidak sedang memberimu panggung

Tanggung

Lebih baik kutonton kera menggaruk punggung

 

Puisi ini bukan tentangmu

Sayang, kamu tidak sepenting itu

Namun, bila itu perasaanmu,

itu sama sekali bukan urusanku.

 

R.

 

“TERSEOK-SEOK KEMBALI PADA-MU”

“TERSEOK-SEOK KEMBALI PADA-MU”

Aku tak perlu cerita

pada mereka

mengenai perjuanganku

terseok-seok kembali pada-Mu

 

Semoga Engkau tahu

semua usahaku

meski gagal berkali-kali

aku enggan undur diri

 

Aku ingin kembali

meraih ketenangan itu lagi

tanpa perdebatan

tanpa penghakiman

 

Makanya,

akhir-akhir ini

aku lebih banyak diam.

R.

 

“PENGECUT”

“PENGECUT”

Aman di balik akun palsu

Hina sesama sesukamu

Membawa agama dengan sumpah serapah

Saya lelah

 

Menghujat pelaku bunuh diri

Peduli setan dengan keluarga yang (makin) tersakiti

Apa gunanya mencaci-maki?

Mereka takkan kembali

 

Korban pelecehan kau serang

Pelaku kalian agung-agungkan

Memang,

sulit bila adil tidak sejak dalam pikiran

 

Celaka

Dengan mulut yang berisik suaranya,

kalian banyak bercokol di Indonesia!

 

R.

 

“PARA PENDOSA”

“PARA PENDOSA”

Izinkan aku bertepuk tangan

sebagai kekaguman

atas hidup kalian

yang seakan bebas cobaan

lolos dari godaan

tanda sempurnanya iman

 

Selamat, ya

Hidup kalian sudah sempurna

hingga memilih mencela

mereka yang dianggap pendosa

berharap mereka masuk neraka

 

Kita memang selalu lebih mudah

menghujat sesama pendosa

enggan membantu mereka

memperbaiki kekurangan yang ada

sehingga lupa

kita juga harus berkaca

 

Ada racun di lidah

Ada semangat menyakiti

dalam jari-jemari

yang mengetik pesan penuh benci

yang menjauhkan semua dari iman sejati

 

Kalian berharap mereka

selamanya di neraka

meski belum ada

yang memberi kabar

takdir kalian di surga

 

Mari, saling mengingatkan

akan kebaikan

tanpa perlu bersikap seperti bajingan

 

Salam,

Sesama Pendosa

 

R.

 

“MENGUSIR HANTU”

“MENGUSIR HANTU”

Kamu tak boleh takut

meski bermimpi buruk

Mana doa-doamu

untuk mengusir hantu?

 

Kamu tak boleh kalut

meski terpuruk

Mana semangatmu

untuk menghalau setan itu?

 

Kamu tak boleh takut

Hanya mimpi buruk

Tak perlu kalut

Jangan terpuruk

Kamu tak boleh takut

Pakai doa dan semangatmu

 

Usirlah hantu itu!

 

R.

 

“SENDIRI”

“SENDIRI”

 

Tiada yang sedih

dari arti sendiri

meski kata mereka

aku gagal mengundang cinta

 

Cinta?

Kata siapa?

Untuk apa?

Cinta sudah di sini

Ini bukan penyangkalan diri

 

Bahagia itu pilihan

abstrak dan terbuka

untuk baiknya perubahan

bukan yang digantungkan

pada hadirnya seseorang

 

Lebih baik sendiri

daripada bertahan

dengan yang senang menyakiti

demi pengakuan

mereka yang belum pasti

atau sungguh peduli…

 

R.

 

“BERHENTI!”

“BERHENTI!”

Mungkin aku harus berhenti

menulis puisi

Benakku teracuni

Hati tersakiti

Tiada cerita lain lagi

 

Namun tangan ini

pemberontak sejati

seperti benak yang masih

bergulir meski teracuni

meski hati terkhianati

oleh kosongnya janji-janji

 

Aku masih sulit berhenti

menulis banyak puisi

mencoba meredam dendam

murka di dalam hati

mencari penawar

untuk benak yang masih teracuni…

 

…berharap bayangmu berhenti

datang dan mengganggu sekali

membuatku gila setengah mati…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Kau telah merusak cinta

menghina arti setia

dengan sekian benci…

 

Berhenti…

Jangan datang lagi…

Jangan buatku berdoa

kau sendirian sampai mati…

 

Berhenti…

Berhentilah menyakiti

dengan hadir di sini

atau bernyali untuk kembali…

 

Berhenti!

 

R.