5 Sumber Ide Menulis Andalan

Banyak teman dan kenalan yang bertanya mengenai cara saya bisa menulis begitu banyak. (Haduh, padahal belum sempet nerbitin buku lagi, nih!) Dari mana semua idenya? Kenapa saya memilih topik tersebut? Apakah saya punya ritual khusus atau harus berada dalam kondisi tertentu? Hmm, kayaknya harus dijawab satu-satu ini.

Daftar ini bisa bertambah panjang. Banyak alasan untuk menulis topik tertentu. Ritual khusus? Hmm, kayaknya enggak ada, tuh. Untuk lebih jelasnya, inilah lima (5) sumber ide menulis andalan sejauh ini:

1.Memperhatikan keadaan sekitar.

Apa iya hidup saya selalu seru? Nggak juga. Kadang biasa aja. Kalo terlalu seru, salah-salah saya malah nggak sempet nulis apa-apa dan dalam waktu lama.

Kadang banyak hal menarik di sekitar yang justru sering kita acuhkan. Misalnya: salah seorang editor saya paling suka mendokumentasikan kebiasaan dua kucing peliharaannya yang aneh-aneh. Saya hobi nguping obrolan orang-orang nggak dikenal yang kebetulan semeja makan saat di warung.

2.Membaca dan menonton film.

Gambar: https://unsplash.com/photos/2aKwWD-VuU8 (by.Luo Ping)

Kayaknya udah keniscayaan kalo mau nulis banyak harus banyak baca (dan nonton film). Intinya, belajar juga dari karya orang lain (bukannya nyontek lho, ya. Beda banget.) Bahkan, ada seorang teman yang pernah menyarankan saya untuk menambah variasi bacaan dan tontonan. Jadi, jangan hanya mau dengan yang saya suka dan sudah terbiasa.

3.Mimpi dan khayalan.

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Jangan pernah menganggap diri terlalu tua untuk kedua hal ini kalo mau bisa sering menulis. Memang, tetap menjejak realita itu penting. Namun, jangan sampai kreatifitas kita jadi kering, gara-gara kita ‘membunuh’-nya dengan anggapan kita terlalu tua untuk bermimpi, berkhayal, dan menganalisa keduanya. Justru, dari situlah ide-ide segar dan kadang gila tercipta.

Makanya, saya juga punya jurnal mimpi atau dream journal. Sebisa mungkin, setiap mimpi yang saya ingat begitu bangun langsung saya catat. Siapa tahu bisa jadi ide cerita seru.

4.Ikut tantangan menulis.

Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8 (by.Thought Catalog)

Ada yang butuh dorongan untuk menulis, terutama bila sedang bingung atau mengalami writers’ block. Solusinya bisa dengan banyak ikutan tantangan menulis. Nggak hanya lomba berhadiah dan pekerjaan sampingan (sebagai penulis konten), saya juga mendapatkannya dari klub menulis dan komunitas puisi yang saya ikuti.

5.Postingan media sosial.

Suka pusing baca status curhatan atau meme aneh-aneh yang diposting orang lain? Eneg baca twitwar atau sindiran #nomention? Geli ama curhatan yang kayaknya…ah, kok lebih cocok jadi konsumsi pribadi, apalagi seputar urusan ranjang? Percaya deh, bukan hanya kita yang merasakannya. Bahkan, sadar nggak sadar, kita juga suka melakukan hal serupa.

Jadi, hati-hati ya, sebelum main tuding ke wajah sesama.

Selain dengan harapan bisa sekalian numpang viral, kadang ini juga cara saya memberi komentar dengan lebih hati-hati. Daripada cenderung reaktif dan langsung menjawab di kolom komentar (apalagi bila yang ngajak debat sebenernya hanya mau cari menang), mending saya kasih tulisan panjang sekalian.

Nah, ini baru lima (5), lho. Kalo kamu sumber ide nulisnya dari mana aja?

R.

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”

Oke, kemungkinan besar bakal ada yang kesinggung dengan tulisan ini. Gimana enggak? Selama ini, mungkin mereka menganggapnya biasa aja.

Sebagai perempuan lajang yang kadang menggunakan aplikasi online dating (masalah pilihan, nggak ada yang hina, kok!), saya bisa memahami rasa frustrasi seorang teman. Gimana enggak? Saya juga kadang mengalaminya. Ini dia tiga (3) hal yang bikin ilfil perempuan saat kenalan lewat online dating:

1.Mengandalkan sapaan standar “Salam kenal dariku, ya.”

“Memang apa yang salah, sih? Terus harusnya gimana?” Mungkin itu reaksi pertama Anda. Namun, coba perhatikan, deh. Setelah mengandalkan greeting template di atas, habis itu apa yang terjadi?

*krik krik*

Persis. Yang ada malah ‘mematikan’ kelanjutan percakapan. Habis ‘salam kenal’, terus apa? Berharap si dia langsung melanjutkan pembicaraan dan mengumbar cerita tentang dirinya? Sori, Anda nggak bisa berharap dia akan membaca pikiran Anda dan berinisiatif seketika. Apalagi bila Anda menulis pesan dengan gaya super alay seperti: “Lam knal daryq y.”

Duh, bisa nggak sih, nulis pesan kayak orang normal? Padahal udah nggak zaman SMS dengan batasan 140 karakter, lho.

Saran: Beneran tertarik sama si dia? Jangan setengah hati. Baca profilnya di akun baik-baik. Bisa kok, memulai obrolan dari situ.

Contoh: si dia ternyata menulis bahwa beberapa film yang sudah pernah dia tonton termasuk “The Avengers: Infinity War” dan “The Incredibles 2”. Awali saja percakapan dengan: “Kamu suka film superhero juga? Menurutmu bagusan DC apa Marvel?”

2. Kebanyakan basa-basi ‘remeh’ tapi ganggu.

Sumber: me.me

“Udah makan?”

“Baru pulang kantor?”

“Belum tidur?”

Okelah, niatnya baik, yaitu memberi perhatian. Bahkan, hal ini udah dianggap lumrah sama orang Indonesia.

Sayangnya, kebanyakan basa-basi remeh begitu lama-lama jadi terasa basi. Membosankan. Rasanya nggak beda dengan kayak dianggap anak kecil. Ya, kurang lebih kayak ortu yang hobi nanya-nanya interogatif gitu.

Kalo ortu sih, masih wajar, ya. Beda cerita kalo baru dalam hitungan hari kenalan, belum apa-apa udah sering berlaku sama. Hmm, nggak ada topik lain, ya? Mungkin saya terdengar kejam karena sejujur ini. Tapi, saya juga bukan tipe pengeluh tanpa kasih solusi.

Saran: Bolehlah sesekali berbasa-basi seperti itu. Namun, jangan sampai berlebihan, sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil atau tahanan kota. Caranya? Mari kita lihat contoh di bawah ini:

Anda: “Sudah makan?”

Dia: “Sudah.”

Anda: “Barusan aku nyoba menu baru di (nama resto atau kafe). Udah pernah ke sana belum? Gimana kalo weekend berikutnya kita makan di sana?”

Tuh, lebih enak, ‘kan? Nggak hanya basa-basi remeh tanpa ujung jadinya.

3.Belum apa-apa udah nunjukin gejala posesif.

Sama kayak kenalan di dunia nyata, ssemua ada prosesnya. Nggak bisa diburu-buru, apalagi dipaksa.

Jujur, saya langsung ilfil seketika saat laki-laki yang baru saja saya kenal (entah lewat online dating atau dunia nyata) udah mulai menunjukkan gejala ‘haus perhatian’ alias posesif. Mulai dari menuntut agar saya segera membalas pesan WA-nya, mengeluhkan kesibukan saya, hingga kepo banget soal teman-teman saya yang kebetulan juga laki-laki.

Yang paling bikin saya murka – alias nggak hanya ilfil – adalah waktu seorang laki-laki dengan seenaknya menelepon ke rumah ortu saya…tiga kali sehari. Ya, betul. Serius, dari pagi, siang, hingga malam. Nggak beda sama jadwal makan dan minum obat.

Saya sampai kena tegur ibu saya yang merasa amat terganggu. Malunya bukan main. Mending telepon sering-sering karena urusan penting. Ini hanya ngajakin ngobrol ngalor-ngidul, padahal saya juga lagi banyak kerjaan…banget. Mana nggak sensitif lagi pas saya lagi kena radang tenggorokan dan diminta dokter istirahat ngomong sampai benar-benar sembuh.

“Kangen…pengen denger suara kamu…”

Astaga, creepy banget. Mungkin dia kira dia perhatian dan romantis banget. Padahal, saya malah curiga dia nggak punya kerjaan lain.

Akhirnya, saya meminta dengan tegas agar dia jangan pernah menelepon lagi. Benar-benar mengganggu. Memangnya orang nggak punya kegiatan?

Saran: Mentang-mentang online dating, jangan lantas berharap hasilnya bakalan instan. Bolehlah ingin lebih saling mengenal, tapi nggak usah buru-buru – apalagi sampai terlalu menggebu-gebu. Perlakukankah dia sebagai manusia atau individu dengan kehidupan sendiri, termasuk privasi yang harus Anda hargai.

Dengan kata lain, nggak usah grusa-grusu ala pemburu mengejar target. Jadinya malah rusuh dan nakutin, tahu?

Kalo ada chemistry dan sama-sama suka (serta keluarga pada suka juga), siapa tahu memang jodohnya. Kalo enggak, masih bisa jadi temen aja kalo mau. Nggak perlu maksa, apalagi sampai nyindir dan ngancem-ngancem segala. Nggak oke, ah.

Terus, tinggal cari yang lain lagi. Nggak usah terlalu ‘kemakan’ sama deadline bikinan sesama manusia mengenai kapan Anda harus menikah. Lha, ‘kan yang nentuin jodoh juga tetap Tuhan?

R.

“WASPADALAH! INI 13 TANDA SI DIA CEMBURU BUTA”

“WASPADALAH! Ini 13 Tanda Si Dia Cemburu Buta”

Banyak yang masih percaya bahwa cemburu adalah bumbu dari percintaan. Kata mereka, kalau nggak cemburu, berarti nggak benar-benar sayang. Pacar terlalu dekat sama teman lain, kita santai saja. Padahal, bisa saja mereka malah ‘keenakan’ dan buntutnya malah selingkuh.

Selain nggak sayang, nggak cemburu bisa jadi ‘diam-diam selingkuh’. Makanya, jangan tenang dulu kalau si dia santai-santai saja saat kita terlalu dekat dengan kawan yang berlainan jenis. Bisa jadi ini taktiknya agar nggak ketahuan ‘jalan sama yang lain juga’.

Banyak teori seputar kadar cemburu yang wajar. Misalnya: Anda marah saat pacar memanggil teman dengan sebutan ‘sayang’ dan di depan Anda pula? Ya, wajar. Jika pacar saya seperti itu, saya pasti akan langsung mengajaknya ke tempat sepi daaan… (silakan bayangkan sendiri kalau berani.)

Tapi, wajar nggak sih, kalau sedikit-sedikit cemburu? Ini dia 13 tanda si dia sudah cemburu buta, alias kebablasan. Waspadalah!

 

  1. Anda hanya bersikap ramah sama mereka, namun habis itu si dia jutek seharian.

Ini tanda paling klasik sekaligus paling cepat kelihatan. Coba ingat-ingat lagi: gimana interaksi Anda dengan orang lain selama ini, terutama lawan jenis? Masih suka merangkul erat sahabat dan terlalu lama di depan pacar? Jangan heran bila si dia marah.

Namun, bila pasangan keki hanya karena Anda mencium adik atau tersenyum ramah pada pelayan restoran, kemungkinan rasa cemburunya sudah overdosis.

 

  1. Kalian sering berantem hanya karena masalah kecil, seperti lelucon atau perkara naksir selebriti.

Sering mengalami hal konyol macam ini? Anda ketahuan suka dengan selebriti. Lalu si dia bertanya, lebih ganteng/cantik siapa – dia atau mereka?

*krik…krik…krik…*

Sayangnya, apa pun jawaban Anda, ‘bom’ itu akan tetap terpicu dan meledak. Nggak jawab? Makin dicecar, karena Anda dianggap ‘cari mati’. Wakwaw!

 

  1. Kayaknya, si dia butuh banget tahu seluruh perincian kegiatan harian Anda – kalau perlu sampai per detik. Bahkan, medsos Anda pun ikut dipantau!

“Sayang, hari ini mau ke mana?”

“Kerja.”

“Habis itu?”

“Nge-gym.”

“Ama siapa aja?”

“Andi, Niko, Desi, Ivan – “

“Sebentar, Desi itu siapa?”

“Pacarnya Ivan?”

“Beneran? Kok biasanya dia gak ikut?”

“……….”

 

“Habis kerja kujemput, ya?”

“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kok.”

“Kok nggak mau? Hayo, jangan-jangan mau ketemu cowok diem-diem, ya? Siapa dia? Jawab!”

“……….”

 

“Sayang, itu siapa sih, yang suka nge-like sama komen foto-foto kamu di FB? Ganjen amat!”

Sebentar, ini pacar apa satpam? Jangan bilang Anda harus bikin laporan khusus tiap hari. Masih bisa napas?

 

  1. Si dia sampai rela jadi ‘bayangan’ atau bahkan ‘kembar siam’ ..bila memungkinan.

Sekilas rasanya seperti selebriti dan bodyguard-nya. Bedanya, si bodyguard bukan hadir untuk melindungi Anda, melainkan mengawasi Anda agar tidak macam-macam atau ‘dimacam-macamin’ sama orang lain (entah seperti apa maksudnya).

Sekian.

 

  1. Tuduhan “Kamu selingkuh!” lebih sering keluar daripada ucapan sayang.

Ada dua tipe untuk pacar seperti ini. Pertama, yang sok cool depan umum, lalu ‘meledak’ pas tinggal berdua. Masih relatif sopan, padahal hanya jaim agar perilaku ganjil mereka nggak cepat ketahuan.

Kedua, si pembuat drama. Yang ini bahkan nggak segan-segan membentak-bentak Anda di depan umum atau – sialnya – melakukan kekerasan fisik. Tujuannya? Tentu saja mempermalukan Anda sekaligus mencari dukungan para penonton.

Enakan yang mana? Nggak ada. Yang satu bikin Anda merasa deg-degan bak main di film thriller, yang satu bikin keki karena berasa main di sinetron basi.

 

  1. Teman-teman merasa tidak nyaman saat Anda datang dengan si dia.

Iya, mereka tahu betapa Anda sangat mencintainya, meski sulit memahami alasannya. Mungkin Anda punya kesabaran luar biasa.

Masalahnya? Mereka ngeri dengan pacar Anda.

 

  1. Si dia mulai membatasi dengan siapa Anda boleh bicara dan berteman. Bahkan, yang ekstrim adalah sampai ngotot meminta password ponsel dan akun media sosial Anda!

“Aku nggak percaya sama si Indro. Dia pasti mau rebut kamu dariku.”

“Jangan temenan sama Naya lagi, deh. Jijik aku lihat dia keganjenan sama kamu.”

Apa repotnya punya pacar kayak begini? Lama-lama jumlah teman Anda bisa habis. Bahkan, tipe seperti ini nggak segan-segan melarang teman-teman Anda (terutama yang beda gender) untuk dekat-dekat. Ini juga dilakukan di belakang Anda.

Jangan heran kalau lama-lama semua teman Anda lantas melipir…lalu ngacir. Awas, ada anjing – eh, pacar – galak!

Jangan pernah memberikan password ponsel dan akun media sosial Anda. Bisa-bisa separuh daftar nama teman hilang dalam sekejap. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia?

 

  1. Anda mulai sering dilanda stres.

Kapan terakhir kali bisa tersenyum dan tertawa lepas? Sering sakit kepala dan susah tidur? Kadar emosi naik-turun tanpa sebab jelas?

Jangan-jangan Anda stres. Cinta sama pasangan sih, boleh. Tapi, sayangilah diri Anda juga. Jangan sampai kesehatan Anda jadi korban.

 

  1. Si dia malah selingkuh beneran untuk ‘membalas perbuatan Anda’.

Hiks, beramah-tamah sama pelayan restoran saja dihadiahi selingkuh. Tapi, untuk yang satu ini, Anda patut curiga. Jangan-jangan ini hanya alasan mengada-ada, karena sebenarnya dia-lah yang tukang selingkuh namun egois.

 

  1. Anda mulai sering ‘kucing-kucingan’ dan tidak bisa lagi jujur sama si dia. Bahkan, bisa jadi Anda malah memilih selingkuh beneran agar ‘penderitaan’ Anda berakhir, meski mengorbankan reputasi Anda.

Ini ibarat lirik lagu Slank:

“Ngebohong salah…jujur malah tambah salah…”

Anda lelah dicurigai terus-terusan. Lama-lama Anda memilih ‘kucing-kucingan’ sama pacar, bahkan selingkuh beneran. Tanggung amat, biar putus sekalian.

Sayangnya, cara ini juga berisiko ‘merusak’ reputasi Anda. Si dia pasti akan bercerita ke mana-mana mengenai betapa brengseknya Anda dan dia-lah yang jadi korban. Mau?

 

  1. Si dia sering banget mengancam “Putus!” Eh, giliran dikabulkan, malah mengancam bunuh diri!

Emotional blackmailer selalu berusaha bikin Anda merasa bersalah karena nggak mau menuruti semua keinginan mereka. Bahkan, ucapan khas mereka lainnya adalah: “Aku nggak mungkin kayak gini kalo bukan gara-gara kamu.”

Nah, lho.

 

  1. Saat mengajak teman-teman kumpul tanpa kehadiran si dia, mereka malah was-was.

Mereka senang melihat Anda. (Ya, apalagi sudah lama sekali kalian nggak nongkrong bareng.) Namun, pertanyaan berikut mereka keluar dengan nada was-was:

“Pacarmu mana?”

Ini sudah pertanda sangat serius bila Anda sampai harus menunggu si dia sibuk, keluar kota, atau keluar negeri sekalian – hanya biar bisa nongkrong sama teman-teman.

 

  1. Puncaknya: Anda atau si dia sama-sama berpotensi sebagai pelaku kekerasan dalam hubungan.

Silakan cek berita kriminal. Ada berapa kasus kekerasan dan pembunuhan akibat cemburu buta?

 

Tentu saja, kita tidak bisa langsung memperlakukan pasangan pencemburu buta sebagai pribadi mengerikan yang harus dijauhi. Kalau memang masih sayang dan percaya bahwa hubungan kalian masih bisa diselamatkan, kenapa tidak mencari tahu sebabnya dan mencari solusinya bersama-sama?

Mungkin si dia punya trauma masa lalu, seperti pernah ditinggalkan pacar sebelumnya karena selingkuh. Mungkin juga rasa minder membuatnya begitu posesif sama Anda karena takut kehilangan. Apa pun itu, cobalah mendampinginya dalam masa pemulihan. Jangan takut konseling ke psikolog bila diperlukan.

Kalau si dia masih cemburu juga? Semua terserah Anda. Masih mau mempertahankan cinta tapi terpenjara dan tersiksa…atau mencari hubungan yang lebih ‘sehat dan seimbang’?

 

R.

 

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

“TIPS BILA DIKEJAR ANJING DAN KENYATAANNYA”

Ini mungkin traumatis bagi yang tidak suka anjing. Buat yang suka mungkin akan sedih, kecuali bila tahu cara menanganinya.

Saya mendatangi satu kantor untuk urusan pekerjaan. Setiap selesai sesi, saya selalu keluar dari gedung dengan perasaan deg-degan. Mengapa demikian?

Seekor anjing berbulu cokelat yang selalu mangkal di bawah mobil sedan hitam yang terparkir di luar rajin menyalak setiap saya lewat. Entah kenapa. Para ahli ‘sahabat manusia’ ini bisa berpendapat bahwa saya telah masuk ke dalam ‘wilayah kekuasaan’-nya. Jadi, si doggy merasa terancam dengan kehadiran saya. (Ya’elah, memangnya saya mau ngapain, sih? Ke sana saja juga cuma seminggu sekali!)

Selama dua kunjungan pertama, saya masih aman-aman saja. Cukup ikuti pepatah “anjing menggonggong, kafilah berlalu” secara harafiah. Serius. Saya hanya melenggang santai sementara si anjing ribut menyalak dari bawah mobil, terutama karena saya sudah diyakinkan pak satpam bahwa si doggy cuma ‘menang gertak’ doang.

Merasa aman-aman saja, kunjungan ketiga saya juga pakai cara yang sama selesai sesi pagi itu. Eh, di luar dugaan, si anjing tidak hanya menyalak – tapi mendadak juga keluar dari bawah mobil dan mulai mengejar. Meskipun belum pernah punya anjing sendiri, saya cukup tahu bedanya anjing yang hanya mengajak main dengan yang beneran ingin mengejar.

Ekor si anjing kaku, tidak bergerak-gerak.

Apakah saya tetap bersikap cool? Sayangnya tidak.

“WAAAAA!!”

“GUKGUKGUKGUKGUK!!”

“TOLOOONG…!!” Silakan bayangkan sosok chubby berbaju kantoran (lengkap dengan sepatu hak tingginya) berlarian di lapangan parkir kantor orang lain dalam rangka menghindari manuver agresif si doggy. Jangan heran bila saya kemudian sukses menjadi tontonan – hiburan gratis lebih tepatnya – pagi itu untuk para satpam dan tukang parkir. Ada yang tertawa, ada juga yang berusaha membantu. Sayangnya, saya keburu panik.

“Bu, tenang, bu…jangan lari…”

“WAAAAA, TOLOOONG…!!”

Untunglah, akhirnya salah satu satpam berhasil menangkap dan menahan si anjing – pas sebelum pipa celana panjang saya tersambar moncongnya dan saya nyaris loncat ke atas kap mobil terdekat. Maklum, refleks.

Si doggy berbulu cokelat yang sebenarnya tampak lucu itu (kalau tidak menyerang) baru diam menurut – dan dengan muka takut – setelah kepalanya dipukul sama pak satpam. Hiks, sebenarnya saya malah jadi kasihan melihatnya. Tapi, mau bagaimana lagi?

Meski gemetaran, saya masih bisa pulang sendirian. Sempat cerita-cerita sama beberapa teman. Saran-saran yang saya dapat rata-rata sama: jangan panik, jangan teriak, jangan lari, dan…jongkok. (Lho??)

Penasaran, akhirnya malam itu juga saya iseng Google mencari tips seputar tindakan bila mendadak dikejar anjing. Inilah yang saya dapatkan:

  1. Jangan lari.

Oke, berhubung mereka berkaki empat, larinya pasti lebih cepat. Kata orang, semakin kita lari, mereka akan semakin mengejar.

Kenyataannya: sumpah, tadinya saya beneran hanya mau jalan. Masalahnya, saya sama sekali tidak mengira bahwa si anjing bakal memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan mulai mengejar.

Selain itu, ada tiga skenario terburuk yang langsung menghantui benak saat itu:

  • Kalau digigit, saya harus disuntik anti rabies. Belum lagi air liurnya yang mengandung najis itu. Hiiih…
  • Kalau hanya celana yang digigit, alamat harus belanja yang baru. (Saya malas.)
  • Saya tidak mau sampai harus menyakiti si anjing, bahkan atas nama membela diri. Misalnya: menendang, menimpuk dengan batu, hingga mengayunkan tas ke kepalanya. (Kalau sesama manusia, lain cerita.)

2. Bersikap tenang.

Menurut sumber yang saya baca, bila kita bersikap cuek, si doggy bakalan bosan dan berhenti mengganggu.

Kenyataannya: gara-gara dua kunjungan pertama saya masih aman-aman saja, yang namanya kejutan pasti bakal bikin siapa pun kelabakan. Makanya, pepatah lama yang saya pakai di atas tadi harusnya ditambahkan sedikit:

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Wahai, kafilah. Pastikan anjing itu tidak menggonggong sambil menghampirimu.”

3. Hindari kontak mata dengan si anjing.

Sama saja bila berurusan dengan tukang gencet di sekolah dulu. Semakin kita berani menatap, semakin kita diganggu.

Kenyataannya: hah, boro-boro! Dia di bawah mobil, kapan pula kita saling lihat-lihatan?

4. Klaim wilayah Anda.

Kenyataannya: apanya yang mau diklaim kalau saya hanya ke sana seminggu sekali?

Masih banyak lagi sih, tips-nya. Cuma, berhubung saya masih selamat – alias tidak sampai tergigit – jadi cukup sampai di sini saja.

“Sebentar, Ibu ke sini tiap hari apa saja?”

“Selasa, Pak.”

“Oke.”

Hmm, sepertinya mereka akan mengungsikan si anjing dulu setiap kali saya datang. Waduh, jadi makin nggak enak hati, nih. Tapi, kalau adegan kejar-kejaran pagi itu di lapangan parkir difilmkan, kira-kira masuk genre mana, ya? Jeritan saya sih, lumayan buat dipakai di film horor. Hehe…

Mungkin ada juga yang menganggap saya penakut. Ah, biarin. Memangnya mereka sendiri seberani itu? Belum tentu. Anggap saja saya diingatkan mahluk berkaki empat dan berbulu cokelat itu untuk mulai berolahraga. Jadi, lain kali…

Sebentar. Lain kali?

Nggak. Pokoknya nggak ada lain kali. Jangan sampai kejadian lagi.

Amit-amit!

R.

Sumber pendukung:

http://www.kompasiana.com/ervipi/10-tips-ampuh-ketika-kamu-dikejar-anjing_54f3a8d6745513992b6c7d65

eyeondna.com (Gambar)