Tentang yang Tak Tampak

Foto: unsplash.com

“If I was invisible,

then I could just watch you in your room.

If I was invisible,

I’d make you mine tonight…”

(“Invisible” – Clay Aiken)

Apa yang ada di benak kita saat mendengar kata ‘tak tampak’, ‘tak kasat mata’, atau ‘invisible’ dalam Bahasa Inggris?

Jika masih anak-anak atau memang dasar hobi berkhayal, ada dua (2) kemungkinan yang tergambar di pikiran:

  • Yang tidak kelihatan pasti sesuatu yang menyeramkan.

“Hiiih…awas, jangan ke situ! Nanti ada setan.”

Sewaktu kecil, mungkin kita pernah ditakut-takuti seperti itu. Agar menurut, ada orang dewasa (mau itu orang tua sendiri, pengasuh, atau siapa pun itu) suka menunjuk-nunjuk satu tempat, terus bilang begitu.

Namanya juga anak-anak. Karena nggak bisa melihat apa pun yang disebut ‘setan’ oleh orang dewasa, imajinasi kita sebagai anak berkembang. Kita mulai mudah (dibuat) cemas atau ketakutan oleh sesuatu yang tidak tampak.

Tapi, ada juga anak-anak yang berani dan malah (tambah) penasaran. Mereka akan balas bertanya:

“Mana setannya? Nggak kelihatan, tuh.”

Selain itu, mereka juga bakal berkhayal seperti ini:

  • Seperti jubah gaib Harry Potter hingga Invisible Girl –nya Fantastic 4.

Enak ya, kalo punya jubahnya Harry Potter? Bisa menghilang kalo lagi kepingin. Ke mana-mana bebas, gak bakalan kelihatan. Kalo lagi kepingin ngumpet, tinggal pake…terus mojok, deh.

Sayangnya, Susan Storm dari Fantastic 4 nggak bisa milih semudah itu. Kalo lagi stres berat, dia bisa nggak kelihatan seketika. Butuh usaha super ekstra untuk akhirnya bisa mengendalikan diri – biar enggak asal menghilang. Bayangin kalo kamu mendadak jadi tak kasat mata di depan orang yang rentan kena serangan jantung. Hiii…

Nah, itu kalo anak-anak. Kalo remaja dan orang dewasa gimana?

Lebih Rumit: Antara Ingin Dilihat Sekaligus Mendingan Ngumpet Saja

Percaya atau tidak, ternyata banyak juga adegan di novel-novel dan film-film komedi romantis yang terinspirasi dari kejadian nyata. Remaja suka ada yang serba salah: berharap dilirik gebetan, tapi kadang terlalu malu-malu untuk menegur duluan.

Sialnya, yang terjadi justru malah diperhatikan gebetan pada saat yang salah. Misalnya: jatuh di depan umum dengan posisi yang memalukan. Duh, rasanya seperti berharap ditelan bumi sekalian. Begitu pula yang mungkin terjadi saat dewasa.

Kali ini, contohnya juga banyak. Berharap nggak kepergok atasan pas pengen pulang tepat waktu jam kantor selesai, sebelum keburu ditahan buat lemburan. (Meski kerjaan hari itu sudah selesai, bukan nggak mungkin atasan nggak tiba-tiba minta kita ngerjain yang lain, kan? Hmmm…) Berharap ada yang ngeh dengan prestasi di kantor tanpa harus dicap penjilat.

Selain itu, kadang ada harapan ide di kantor tidak terendus duluan oleh rival, yang kemungkinan siap membajak kapan saja kita lengah. Terdengar paranoid? Hmm, hari gini apa yang nggak mungkin, sih?

Dalam hubungan romantis juga demikian. Ada harapan pasangan yang cuek akan lebih menunjukkan penghargaan atas kontribusi Anda dalam hubungan kaliam berdua. Kalau si dia cuek hanya karena kurang ekspresif sih, masih nggak masalah. Lain cerita kalau ternyata dia memang (udah) nggak peduli (lagi). Mau terus atau udahan? Terserah Anda, seperti biasa.

Saya setuju dengan ucapan seorang teman:

“Setiap kali mendengar kata ‘invisible’, kesan yang gue dapet cuma kalo rasanya sedih.”

Bila masih banyak yang berpendapat bahwa sendirian itu menyedihkan, menurut saya malah tidak selalu. Ada yang jauh lebih menyedihkan, yaitu perasaan ‘tidak dianggap’. Ada, namun lebih seperti tiada artinya. Berada di tengah kerumunan, namun tetap merasa kesepian. Lebih sering diperlakukan seperti pajangan, dipamerkan ke mana-mana tanpa pernah ditanya maunya.

Bila bersuara, dianggap sumber keributan. Perusak suasana. Jadinya nggak damai, deh.

Begitu pula dengan mereka yang tiba-tiba (memilih?) ‘menghilang’ dari kehidupan kita…

Bisa jadi, ada rasa tak aman yang tengah mendera. Ketakutan akan disakiti oleh salah satu – atau mungkin lebih – dari mata-mata yang tengah mengawasi mereka. Siapa kawan, siapa lawan? Entahlah. Manusia selalu mudah berubah. Sering, mereka rentan kehilangan arah.

Tentu saja, risikonya adalah terpaksa tidak terlihat oleh orang-orang yang sangat menyayangi mereka. Sedih, itu pasti. Mereka pasti akan merasa sangat kehilangan. Meninggalkan rasa rindu berupa ketidakpastian seperti ini sungguh kejam, tapi mungkin mereka sedang tidak punya pilihan.

Apa salah yang ditinggalkan? Mungkin tidak ada. Mungkin masalahnya jauh lebih rumit dari yang dikira.

Apa pun itu, semoga kita tidak perlu merasa tidak terlihat atau tidak dianggap. Pasti ada kok, yang ngeh dengan keberadaan Anda dan artinya bagi mereka. (Semoga juga selalu karena hal positif, ya.)

Kadang memang lebih baik yang memperhatikan Anda yang berkualitas meski hanya sedikit. Setia, tidak mudah menjatuhkan saat Anda terpuruk. Mendukung, namun juga tetap mengkritik agar Anda tetap ingat untuk selalu memperbaiki diri.

Semoga tidak ada lagi yang (merasa perlu) menghilang, hanya demi merasa aman. Suara Anda berhak didengar. Jangan biarkan mereka – atau siapa pun – memaksa Anda untuk bersembunyi.

Memang, tidak semua hal harus diceritakan pada dunia. Namun, mohon jangan biarkan mereka yang menyayangi Anda berduka terlalu lama. Kabar-kabarilah.

Siapa pun dan di mana pun Anda berada saat ini, semoga Anda baik-baik saja. Semoga Anda hanya butuh waktu sendiri, bukan karena takut akan disakiti.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *