Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Bermain Kata dan Rima Bersama “BERPUISI DENGAN GEMBIRA”

Bermain Kata dan Rima Bersama “BERPUISI DENGAN GEMBIRA”

Komunitas puisi di Jakarta bisa dibilang cukup banyak. Sebenarnya, aku sudah lama wira-wiri antar komunitas puisi di Jakarta, tepatnya sejak 2015. Namun, karena dulu belum kepikiran untuk menulis ulasan tentang tiap komunitas yang pernah kudatangi di blog, aku hanya kepikiran posting penampilanku saja selama di sana di akun media sosialku.

Nah, mulai 2026 ini (meskipun telat juga), kuputuskan untuk mulai sering bikin review soal berbagai kegiatan komunitas yang kuikuti di Jakarta. Sekadar informasi, ini proyek sukarela. Tidak ada yang secara khusus membayarku maupun mengajakku jadi endorser mereka. Ada yang sudah kutulis juga di blog Bahasa Inggris milikku di https://rubyastari.medium.com/ . Yang lainnya di sini.

Sekilas Mengenai Berpuisi Dengan Gembira

Christian Paskah Pardamean Situmorang adalah salah satu pendiri komunitas puisi ini. Berpuisi Dengan Gembira hadir dengan kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, dikritik, dan dilecehkan.

Kelompok ini dibangun pada 1 Desember 2023 dengan sebuah pembacaan puisi daring. Acara ini mendapatkan sambutan luas saat diadakan di Kedai Patjarmerah pada Januari 2024 lalu oleh Christian, beserta Annisa Ramadhani,  Radhitya Yoga, Nanda Putri Nugrahani, dan Fadhila Eka Ratnasari.

Meskipun baru dua kali menghadiri acara Berpuisi Dengan Gembira sejauh ini, aku mendapat kesan baik dan menyenangkan dari kegiatan mereka:

Januari 2026

Ini kegiatan perdanaku bersama Berpuisi Dengan Gembira. Tanggal 17 Januari 2026, mereka mengadakan acara membaca puisi secara daring berjudul “Terima Kasih Sudah Bertahan”. Mereka bahkan mengundang Ratih Ratnasari, M.Psi. Di sini, Kak Ratih berperan sebagai fasiliator.

Berhubung aku tidak bisa banyak bercerita karena ada peserta yang tidak bersedia diekspos, aku hanya akan menulis review ini dari sudut pandangku saja.

Singkat cerita, malam itu peserta diajak berefleksi mengenai alasan mereka bertahan hidup hingga sejauh ini. Setelah itu, masing-masing peserta dipersilakan untuk menulis puisi selama 20 menit.

Penasaran dengan puisiku? Sayangnya, aku tidak bisa menunjukkannya di sini. Aku mengikutsertakan puisi tersebut dalam buku kumpulan puisi komunitas ini. Ya, Berpuisi Dengan Gembira merayakan tiga tahun keberadaan mereka. Kapan bukunya akan keluar? Ditunggu saja!

Maret 2026

Karena Kongsi 8, Jatinegara, Jakarta Timur, akan ditutup permanen pada 15 Maret 2026, Berpuisi Dengan Gembira menyempatkan diri menggelar acara puisi di sana. Pada 7 Maret 2026 (bertepatan di tengah bulan puasa bagi umat Muslim, Ramadan), acara mereka bertajuk “Hangat di Kening, Manis Dikenang”.

Sayangnya, sore itu aku tidak bisa berlama-lama di sana. Namun, setidaknya aku menyempatkan membaca satu puisi, berinteraksi dengan kawan-kawan sesama pencinta puisi, dan juga mengelus-elus kucing abu-abu gelap yang gemuk dan lucu – yang dipanggil ‘Sayang’.

Nah, kalau saat ini, aku bisa membagi puisiku di sini:

“Puisi Perpisahan”

Harapan yang kumiliki saat ini

Adalah agar Tuhan yang Maha Kuasa

Sudi menghapus rasa kasih yang tak sampai

Dari hati yang kian renta dan lelah ini

Dan mengganti isinya dengan pengingat

Bahwa taka da yang selamanya menetap …

Semoga aku bisa terus ikut kegiatan-kegiatan selanjutnya bersama Berpuisi Dengan Gembira.

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

INGIN AKU BERBAGI

Foto: https://unsplash.com/photos/a-picture-of-a-flag-painted-on-the-side-of-a-building-qQ_3Se2Vy20

Ingin aku berbagi

Seporsi – dua porsi

Karena piring ini selalu terisi

Sementara kalian harus berlari

Putus asa mencari-cari

Menunggu yang jatuh dari langit

Berharap meski sedikit

Bukan musibah yang memicu jerit

 

Ingin aku berbagi

Segelas – dua gelas

Mungkin berbotol-botol hingga tandas

Agar dahagamu terobati

Alih-alih kalah oleh dehidrasi

Hingga harus meninggalkan bumi

 

Ingin aku berbagi

Ah, tak cukup ingin ini

Bila yang berkuasa kian keji

Menyiksamu tanpa henti

Mengendalikan dunia dengan tangan besi

Hingga tak banyak saksi yang berani

Dan memilih tunduk pada sunyi

 

Ingin aku berbagi

Meski dalam keterbatasan diri

Meski sungguh malu pada Ilahi

Melihat sabar kalian yang tak bertepi

Sementara aku?

Aku?

Bisa apa aku?

Hanya berpuisi

Berdoa tanpa henti

Menyesali jarak antar negeri

Mengutuk mereka yang kian menghalangi

Atas nama ajaran sesat penuh benci

Yang begitu ingin kalian mati

 

Falastin,

Maafkan kasih kami

Yang seakan tiada arti

Entah sampai kapan,

Kalian harus menghadapi semua cobaan ini …

R.

#freepalestine #bebaskanPalestina

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Tips Main-main Antar Komunitas yang Aman, Nyaman, dan Tetap Sopan di Jakarta

5 Tips Main-main Antar Komunitas yang Aman, Nyaman, dan Tetap Sopan di Jakarta

Bosan keliling mall tanpa tujuan jelas? Malas nongkrong berlama-lama di kafe tanpa ada kegiatan jelas atau obrolan berguna bareng teman? Berarti ini saatnya kamu mulai menjajal berbagai komunitas yang ada di Jakarta. Tinggal cek di mesin pencari macam Google atau sesuaikan algoritma media sosialmu. Bahkan, kamu tidak perlu pakai aplikasi kencan segala.

Misalnya: kamu yang suka buku bisa gabung di klub buku. Setiap bulan, kalian berkumpul untuk membahas buku genre atau karya penulis tertentu. Kalau kamu suka menulis, bergabunglah dengan komunitas penulis. Yang suka foto-foto bisa ikut klub fotografi. Pencinta olahraga bisa ikutan komunitas yang rajin meramaikan CFD (car free day), lapangan padel, atau apa pun jenis olahraga yang sama-sama kalian sukai.

Kalau punya minat lebih dari satu? Tentu saja boleh. Siapa yang berhak melarangmu ikut berbagai komunitas sekaligus, selama kamu bisa bagi waktu dan senang-senang saja? Ibarat buku cerita “pilih sendiri petualanganmu”.

Eh, tapi ingat. Main-main antar komunitas tetap ada aturan tak tertulis. Mau tetap aman, nyaman, sekaligus menjaga kesopanan? Berikut tips-nya:

  1. Ikuti aturan komunitas setempat, baik yang tertulis maupun tidak.

Meskipun terkesan bebas dan santai, ada aturan komunitas yang tetap harus dipatuhi. Misalnya: datang tepat waktu, berbusana sopan, hingga yang paling serius macam “hormati sesama anggota komunitas, baik penyelenggara maupun peserta” dan tidak melakukan pelecehan hingga kekerasan.

  1. Bersosialisasilah dengan semua orang.

Namanya juga komunitas sosial. Masa iya mau tetap mojok sendirian? Bersosialisasi dengan semua orang tidak otomatis harus berteman dengan semuanya atau menjadi people pleaser.

Gak ada salahnya dengan berusaha mengenal sebanyak mungkin orang. Kita nggak pernah tahu di mana kita akan menemukan rezeki tambahan. Bisa jadi, dari mereka-lah kamu mendapat tawaran pekerjaan lebih baik … atau … jodoh, mungkin?

  1. Tinggalkan perilaku egosentris di luar ranah komunitas.

Sebisa mungkin, utamakan keamanan dan kenyamanan bersama. Masalahnya, komunitas jadi terasa tidak nyaman bila apa-apa terlalu dominan mengikuti kemauan satu atau segelintir orang saja. Paling parah bila caranya memaksa dan intimidasi. Jangan heran bila lama-lama komunitasnya jadi sepi.

  1. Hindari persaingan tak sehat, apalagi yang tidak penting.

Kultur komunitas akan terasa semakin seru tanpa saling bersaing yang tidak perlu. Okelah, kita semua punya selera masing-masing. Namun, hindarilah sampai menjelek-jelekkan komunitas lain. Kita nggak pernah tahu masa depan. Bisa jadi, suatu saat kita yang butuh mereka atau mereka yang butuh kita.

Lagipula, saingan melulu emang bakal dapat hadiah apaan, sih?

  1. Tahu saatnya diam maupun waktunya bicara.

Sama seperti di forum-forum lain di masyarakat, kamu pasti akan ketemu beragam jenis orang di komunitas. Sayangnya, tidak semua manusia menyenangkan. Bahkan, ada yang kehadirannya malah senang bikin drama.

Bila drama tersebut tidak melibatkanmu, gak usah ikutan. Gak usah sok-sok membela salah satu pihak atau jadi penengah, meskipun kebetulan salah satu temanmu terlibat.

Gimana kalo kamu yang diajak ribut? Gak perlu reaktif dan membela diri bila kamu memang tidak salah. Hadapi dengan tenang. Tapi, kalo kamu memang salah, sebaiknya minta maaf. Gak mau ‘kan, kamu sampai didepak dari komunitas atau kena cancel?

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“ALASANKU AKHIR-AKHIR INI JARANG UPDATE BLOG SENDIRI”

Sebenarnya ada rasa tidak enak saat harus mengakui hal ini. Tapi, lagi-lagi aku memang harus sering-sering mengingatkan diri sendiri. Maaf, ya. Inilah beberapa alasan akhir-akhir ini aku jarang banget update blog sendiri:

  1. Maaf, aku sibuk kerja.

Mengapa dulu sempat, terus akhir-akhir ini tidak? Hehe, hingga akhir tahun 2025 kemarin aku harus bolak-balik commuting ke tempat kerja. Naik transport umum, dengan durasi perjalanan dua hingga tiga jam!

Alhasil, aku jadi sulit mencari waktu menulis. Pas sebelum ngantor, sudah diburu waktu. Pas di kantor juga mustahil curi-curi waktu. Bukan apa-apa, takut ketahuan lagi ngerjain yang bukan kerjaan kantor, tapi pas jam kantor, hehe.

Lalu, gimana pas pulang kantor? Pernah sih, aku mencoba menulis di bus. Sayangnya, aku tidak selalu berhasil melakukannya. Selain belum tentu akan selalu kebagian tempat duduk selama perjalanan pulang, ternyata malah aku jadi sakit kepala. Boro-boro menulis, membaca di bus saja sering pusing.

  1. Keseringan ikut tantangan menulis (writing challenge) di Instagram (IG).

Oke, ini satu godaan lain yang kerap membuatku menelantarkan blog ini. Banyaknya tantangan menulis / writing challenge (terutama yang 30 hari) di IG praktis membuatku tergoda. Apalagi, exposure – nya langsung jelas.

Maka itu, jadilah aku lebih banyak menulis untuk IG. Aku tahu, seharusnya aku meluangkan waktu untuk blog ini. Rasanya seperti punya rumah yang lama tidak dihuni, hehe. Yah, semoga tahun ini aku lebih banyak menulis juga di sini.

  1. Hidup yang sempat agak (terlalu) monoton.

Gimana nggak monoton? Kerja-rumah-kerja-rumah. Kebanyakan di jalan karena commuting. Pernah sih, aku coba variasi hidup dengan mulai ikut berbagai komunitas. Yah, mulai ketemu banyak orang lagi, hanya biar lebih terpacu untuk banyak menulis lagi.

Sayang, hasilnya malah makin … capek. Alhasil, aku malah gak jadi nulis apa pun selain yang di IG.

Yah, berhubung aku mengawali 2026 ini dengan kerja part-time dan freelance secara remote, semoga aku akan punya lebih banyak waktu untuk menulis lagi.

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi CeritaSetelahBaca

#CERITASETELAHBACA – “e … y” Bikin Baca Puisi Berasa Naik Pesawat Ulang-Alik

Sumber: gramedia.com

#CERITASETELAHBACA – “e … y” Bikin Baca Puisi Berasa Naik Pesawat Ulang-Alik

Lho, kok bisa gitu? Hehe, sesuai janji kepada sang penulis, Mbak Anya alias  Gratiagusti Chanaya Rompas, aku mau menulis review buku kumpulan puisinya yang berjudul “e … y”.

Pertama, “e … y” itu apa, sih? Kamu yang Gen-X atau Gen-Z penggemar ‘dunia malam’ dalam kehidupan urban – termasuk di kota Jakarta – mungkin akan langsung paham. Yang belum, baca dulu buku ini.

Bagi yang masa remaja dan usia 20-an-nya lebih banyak dihabiskan di sekolah / kampus, perpus, kafe, mall, hingga rumah … “e … y” mungkin terasa banyak chaos-nya. Gimana enggak? Dunia malam yang penuh hingar-bingar musik dan kerlap-kerlip lampu disko mungkin terasa asing bagi mereka.

Tidak semuanya dalam buku ini ditulis dalam gaya konvensional puisi pada umumnya. Itu tuh, yang berima macam “a-a-a-a” atau “a-b-a-b” – dengan satu bait minimal tiga atau empat baris. Ada yang lebih mirip prosa, bahkan sampai ada yang tak berima. Bahkan, ada yang lebih mirip skrip iklan atau film. (Apalagi, Mbak Anya pernah berprofesi sebagai copywriter.)

Tema dalam buku “e … y” ini juga macam-macam. Garis besarnya sih, tetap sama, yaitu kehidupan urban yang meriah. Keruwetan tiap sudut kota yang seakan siap ‘membanting’ kita dari satu realita ke realita lainnya. Begitu berlapis-lapis, meski tak selalu ‘legit’. Ada yang tentang dunia malam, isu sosial, kesehatan mental, drama keluarga, hingga … kekerasan seksual. Mbak Anya dengan berani dan blak-blakan mengulas realita yang seringkali masih dihindari banyak orang untuk dibahas secara terbuka.

Jika disuruh memilih tulisan Mbak Anya paling favorit di sini, coba baca “ExtraEasy”, deh. Kamu yang suka horor, fantasi gelap, bercampur komedi aneh mungkin akan terkikik-kikik geli. Apalagi kalau melihat puisi ini (hah, puisi?) dibawakan secara live – yang pastinya membutuhkan bala bantuan.

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Usaha Mengkerdilkan ‘Sabar dan Ikhlas’

Usaha Mengkerdilkan ‘Sabar dan Ikhlas’

‘Sabar’ dan ‘ikhlas’ adalah dua kata yang sekilas terdengar sangat indah. Nasihat dengan dua kata tersebut sering banget keluar untuk orang yang mengeluh karena sedang didera cobaan berat.

Lalu, apa yang salah dengan ‘sabar’ dan ‘ikhlas’? Gak ada. Sayangnya, kedua kata tersebut jadi kehilangan makna saat ada yang berusaha mempersempit artinya lewat taktik manipulasi. Hal ini sering terjadi, terutama akhir-akhir ini.

Contoh: kamu terlalu lama disepelekan. Hak-hakmu tidak hanya dilanggar, tapi juga dirampas. Karena sudah lelah dan muak, maka kamu meledak marah dan balas melawan. Namun, apa yang kemudian terjadi? Alih-alih didukung dan dibela, malah kamu yang disalahkan. Lho, kok? Iya, malah kamu yang kena marah! Bahkan, kamu kerap disuruh sabar dan ikhlas dengan beberapa ucapan menggampangkan masalah seperti ini:

“Kamu nggak boleh marah.”

“Sabar. Orang sabar disayang Tuhan.”

“Kamu nggak bisa mengontrol perbuatan orang lain ke kamu. Yang bisa kamu lakukan hanya mengontrol reaksi kamu ke mereka.”

Oke, sekilas semua nasihat di atas terdengar SANGAT BIJAK. Sekali lagi, nggak ada yang salah dengan nasihat untuk sabar dan ikhlas. Yang salah adalah saat kedua kata tersebut sengaja digadang-gadangkan secara manipulatif. Sabar dan ikhlas jadi terasa begitu dangkal maknanya saat kamu hanya merasa tidak nyaman dengan amarah mereka. Maumu, mereka diam saja dan tidak bereaksi apa-apa saat disepelekan. Jangan merusak suasana.

Padahal, ada kalanya orang yang terlalu sering disepelekan memang berhak dan harus marah. Mereka masih manusia yang punya perasaan, pikiran, dan harga diri, lho! Bila terlalu pasif alias banyak diam, yang ada mereka malah semakin disepelekan. Mereka akan semakin diinjak-injak, karena toh tidak akan (berani?) melawan balik. Mainnya pasrahan saja.

Setelah itu, jangan dikira masalah akan langsung selesai. Yang ada mereka malah semakin diremehkan. Intinya begini:

“Melawan sudah pasti akan ditindas. Namun, diam juga tidak akan membuat mereka berhenti menindas, apalagi bila sudah begitu jahat dan terbiasa dibiarkan berbuat jahat. Tidak akan ada kata bosan, selama mereka masih bisa menindas sampai puas!”

Sabar dan ikhlas itu bukan dua kata yang bisa dipermainkan begitu seenaknya. Sabar itu harus tetap ikhtiar, melawan yang zalim – terutama kepada yang lemah. Kalau nggak bisa dengan senjata ya, dengan tangan. Kalau nggak bisa dengan tangan, ya dengan lisan.

Kalau masih gagal juga? Ya, lawan dengan hati lewat doa, meskipun itu selemah-lemahnya iman. Jangan diam saja, karena sabar dan ikhlas tidak sama dengan “pasrahan saja tiap kali diinjak haknya”!

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis CeritaSetelahBaca

#CeritaSetelahBaca – “Bergidik Berkat KELAB DALAM SWALAYAN”

Sumber: Gramedia.com

#CeritaSetelahBaca – “Bergidik Berkat KELAB DALAM SWALAYAN”

Pertama kali membaca novel debut Abi Ardianda ini, judulnya saja sudah bikin penasaran. Kelab macam apa yang ada di dalam swalayan? Mengapa sepertinya hanya Sonja yang sadar akan keberadaan kelab misterius tersebut?

Tumbuh dengan ragam bacaan dan tontonan genre misteri, detektif, psikologi, dan thriller sukses membuatku langsung suka dengan buku ini. Sejak awal, ketegangan demi ketegangan dalam nuansa muram sudah dibangun dengan rapi. Bagai bermain jigsaw puzzle, setiap kepingan misteri secara bertahap ditemukan oleh Sonja. Sonja, yang sejak kecil hidup dengan ibu dan kedua kakak perempuannya sudah terbiasa dengan tangan dingin sang ibu yang otoriter. Banyak sekali aturan dan larangan yang wajib dipatuhi Sonja tanpa syarat.

Makanya, kelab dalam swalayan misterius tersebut seakan menawarkan pelarian sementara bagi Sonja yang selalu dituntut untuk tampil sempurna bagi semua orang. Bahkan, calon suaminya, Nohan yang tampan, kaya, dan sukses, lama-lama membuat Sonja sesak dan bosan.

Siapa sangka, kelab dalam swalayan tersebut juga menguak rahasia kelam yang mengancam kesempurnaan hidup Sonja …

Meskipun alurnya sedikit lambat dan banyak detail penting, membaca “Kelab Dalam Swalayan” seru bagi pencinta cerita misteri, detektif, dan thriller psikologi. Konsep premisnya sederhana, namun begitu mengena:

“Ada rahasia berupa cela di balik yang tampak sempurna … “

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Baca pada tahun 2019. Novel Abi Ardianda lainnya adalah “Laila Tak Pulang”.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Di Tengah?

Di Tengah?

Bagaimana rasanya berada di tengah-tengah persoalan orang lain? Gak usah dibahas. Pastinya memusingkan, apalagi bila kebetulan kamu kenal dengan mereka yang udah terlibat.

Kalo udah pake rasa sayang segala, pastinya mau objektif jadi rasa susah, ya? Bawaannya baper mulu. Makanya dokter sebaiknya tidak menangani pasien penyakit kronis bila kebetulan masih keluarga sendiri.

Lalu, gimana rasanya ada di tengah?

 

Kebetulan … atau Takdir?

Hmm, sebenernya aku nggak boleh bertanya-tanya seperti ini. Tapi gimana ya, kalo selama ini aku ibarat sudah melihat ‘algoritma’ hidupku sendiri? Pokoknya hampir mirip-mirip.

Pertama, aku lahir sebagai anak tengah. Aku punya kakak perempuan dan adik laki-laki. Berkat keduanya, aku bisa berteman dengan perempuan maupun laki-laki. Dari situ, pertemananku lumayan meluas, meski tak selalu tampak di mata orang awam.

Mulai dari beda agama, beda kelas sosial, hingga orientasi seksual – pokoknya sebut saja. Tapi, meskipun demikian, aku masih punya Batasan. Aku paling tidak tahan bila sampai harus berteman dengan:

  1. Orang yang paling suka memaksakan kehendak hingga standar hidup mereka kepada orang lain.

Begini, ya. Sebisa mungkin aku tidak akan mengusik-usik pilihan hidup orang lain. Tentu saja, dengan catatan: pilihan hidup mereka tidak sampai merugikan atau menyakiti orang lain.

Tapi, kalau hal itu membuat mereka sampai merasa sebagai “si paling benar / ideal”, maka aku jadi malas berurusan dengan mereka. Paling parah yang modelnya sampai merendahkan hingga menyumpahi mereka yang punya pilihan berbeda dengan doa yang jelek-jelek. Contoh: kamu perempuan yang cukup santai soal jodoh meski sudah berusia di atas 35 tahun. Gara-gara itu, mereka (terutama laki-laki dan siapa pun yang sudah menikah duluan) merasa berhak menghinamu dengan sebutan ‘perawan tua’ dan berharap kamu akan merana sendirian di usia senja.

  1. Laki-laki misoginis dan perempuan penjilat patriarki (pick-me girls).

Persetan bila masih ada yang (memilih) salah sangka dan mengira aku benci laki-laki. Aku sudah terlalu malas dan muak berusaha menjelaskan apa-apa pada mereka. Biarlah mereka terbutakan oleh salah paham mereka sendiri. Susah memang kalo orang sudah merasa paling benar.

Buat yang masih ingin menyimak, laki-laki misoginis adalah laki-laki yang membenci perempuan hanya karena mereka perempuan. Maksudnya? Oh, ayolah. Contohnya sudah terlalu banyak. Laki-laki yang belum apa-apa sudah sinis duluan sama pemimpin perempuan, suami yang jadi nyolot gara-gara gaji kalah tinggi sama istri (padahal belum tentu istri jadi tidak menghormati lagi!), hingga laki-laki yang menganggap perempuan bawel, reseh, rewel, sulit diatur, hingga dianggap “lupa kodrat” hanya karena berani mendebat mereka.

Padahal, laki-laki tidak selalu benar dan paling berlogika, lho! Perempuan juga belum tentu asal mendebat atau hanya pake emosi alias gak berotak. Kalo memang ada ketidakadilan, ya harus dilawan.

Nah, kalo ‘pick-me girls’? Mereka ini termasuk pengkhianat kaumnya sendiri. Mereka hobi menjilat laki-laki dengan cara menjatuhkan sesama perempuan. Contohnya udah banyak banget, kayak:

  • Si tomboy yang mengejek si feminin.

Ini gambaran umum perempuan dengan ‘internalized misogyny’. Mereka tipe perempuan yang dengan bangganya mengaku lebih senang berteman dengan laki-laki, karena menurut mereka sesama perempuan LEBIH BANYAK DRAMA.

Perempuan ini memusuhi yang serba feminin, karena menganggapnya sebagai ‘kelemahan’. Mereka cenderung lebih memuja yang serba maskulin. Padahal, belum tentu juga mereka bakalan dianggap setara sama laki-laki yang mereka bela mati-matian sampai menghina sesama perempuan.

Yang ada malah dimanfaatin.

  • Si ‘tradwife-wannabe’ (perempuan yang ingin jadi ibu rumah tangga).

Gak ada yang salah kalo kamu perempuan yang beneran ingin jadi ibu rumah tangga sesuai peran tradisional istri dalam pernikahan. Trad-wife = traditional wife.

Cuma, kamu jadi sosok nyebelin kalo lantas nyinyirin pilihan perempuan lain yang berbeda. Terus kenapa kalo emang mereka memilih berkarir di kantor atau belum mau menikah dulu? Paling ganggu kalo kamu nyinyir begini: “Udahlah, ngapain cewek capek-capek kerja? Biar cowok aja yang cari nafkah. Cewek cukup senang-senang di rumah!”

Kecuali yang ngomong punya suami super kaya yang bisa menyewa asisten rumah tangga saat si nyonya kecapekan, ucapan di atas sangat tidak realistis dan termasuk ‘tone deaf’ (gak peka). Terserahlah bila mereka merasa demikian.

Tapi, nggak usahlah ngatur-ngatur hidup orang lain.

Apa kesamaan mereka berdua sebagai ‘pick-me girls’? Tentu saja, mereka sama-sama merasa (paling) paham akan kebutuhan laki-laki dan bisa jadi pahlawan ego mereka.

 

Meskipun anak tengah dan terkesan bisa berteman dengan siapa saja, semua yang kusebutkan di atas itu pengecualian.

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

#ReviewBuku – Half Past Twenties : Krisis Seperempat Baya yang Relevan untuk Milenial dan Gen-Z

#ReviewBuku – Half Past Twenties : Krisis Seperempat Baya yang Relevan untuk Milenial dan Gen-Z

Aku baru saja menikmati perjalanan benak melalui antologi puisi ketiga Firnita – “Half Past Twenties”. Sama seperti dua antologi sebelumnya — “Strings Attached” dan “Shorter Stories” — buku ini hadir dalam kemasan yang lucu. Hampir seukuran saku, dengan warna-warna lucu dan puisi-puisi modern yang pendek.

 

Isi buku ini juga bisa disebut “bercerita dengan sajak”. Fase ini juga merupakan bagian dari kehidupan, terutama bagi generasi Milenial dan Gen-Z. Menjelang tahun 2025, banyak sekali cerita relevan tentang perjuangan anak muda dalam bekerja dan berkarir dalam Work Challenges”. Misalnya, seberapa efektifkah situs jejaring sosial dalam membantu kita mendapatkan pekerjaan atau karier impian kita?

 

Kejujuran dan kerentanan dapat dirasakan dalam Family Issues”, “Friendship Dramas”, dan Romance Problems”. Bagaimanapun, ini adalah hal-hal penting yang dimiliki sebagian besar orang berusia dua puluhan dalam hidup mereka. Interaksi Anda dengan keluarga pasti akan membawa perubahan dari waktu ke waktu. Teman juga bisa datang dan pergi. Cinta? Hanya Tuhan yang tahu.

 

Bagi siapa pun yang belum berusia 20-an, buku ini mungkin bisa membuat mereka tersenyum. Jika usia 20-an Anda sudah berada di awal era digital, “Half Past Twenties” masih sangat menarik! Jika Anda tinggal di Jakarta, silakan cek di Gramedia.

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Diam yang Mencelakakan:

Tentang Diam yang Mencelakakan:

Sejak kecil, ada satu hal yang takkan kusetujui dari Mama. Mohon tidak langsung menyederhanakan hal ini sebagai perilaku anak durhaka. Silakan baca dulu sampai selesai.

Aku paham, Mama dibesarkan sebagai anak perempuan yang (diharapkan selalu) penurut, tidak cari masalah, dan sebisa mungkin menjaga hubungan baik dengan orang lain. Gak ada yang salah dengan ini, kok. Menjaga perdamaian itu bagus.

Namun, ada kalanya kita perlu – dan bahkan wajib – bicara. Ada saatnya diam itu bukan emas. Malah, ada diam yang sebenarnya mencelakakan …

 

“Kamu Gak Boleh Marah!”

Gak ada manusia waras mana pun yang ingin dan suka marah, apalagi mudah dan terus-terusan. Aku juga tahu itu. Bersabar itu baik.

Namun, ada kalanya kita wajib bicara. Ada saatnya kita berhak marah, terutama bila kita sudah terlalu sering disakiti. Hak-hak kita terus-terusan dilanggar. Ini tidak sama dengan membalas dendam lho, ya.

Sabar juga tidak sama dengan diam saja dan tidak melawan. Sabar bukan berarti membiarkan ketidakadilan dan penyelewengan. Memang sih, Tuhan Maha Adil dan akan membalas perbuatan jahat yang menurut-Nya pantas dibalas. Tapi, Tuhan ‘kan, juga ingin melihat usaha kita dulu. Jangan apa-apa lantas menunggu Dia terus.

 

Kepedulian di Balik Kemarahan

Mengapa amarah itu harus selalu dipandang sebagai sesuatu yang buruk? Kalo marah-marahnya gak jelas atau karena hal sepele, apalagi sampai terus-terusan, memang gak baik. Mudah marah itu juga bukan pertanda sehat. Coba cek dulu tekanan darahmu bila kamu punya kebiasaan ini. Jangan-jangan hipertensi.

Namun, amarah juga bisa berupa tanda kepedulian. Coba bayangin, kalo seumur hidup kamu gak pernah merasakan ditegur, padahal jelas-jelas perbuatanmu salah. Bisa-bisa kamu menjadi pribadi yang narsisistik. Gak pernah merasa dan sudi mengaku salah. Selalu mencari-cari alasan, pembenaran, dan bahkan kambing hitam.

Yang paling parah, kamu jadi hobi bermain sebagai ‘si paling tersakiti, korban sejuta tuduhan’.

Bersyukurlah bila ada yang menegurmu saat berbuat salah atau melanggar hak-hak orang lain, baik sengaja maupun tidak. Jangan lantas merengek, terus bawa-bawa alasan basi macam “manusia gak ada yang sempurna”. Justru karena gak sempurna, sesama manusia harus saling mengingatkan. Ya, biar brengsek-mu gak kebangetan, apalagi sampai keterusan!

Kalo udah diingatkan berkali-kali tapi gak juga ada perubahan? Ya, berarti mereka memang pribadi yang bermasalah. Jangan merasa percuma. Yang penting ‘kan, kita gak diam dan membiarkan. Kita udah berusaha mengingatkan dan menegur sekalian.

 

Agar Tidak (Mudah) Disepelekan

“Elo terlalu baik, sih … “

Ada nada menghina dan merendahkan yang kerap terdengar dari ucapan di atas. Memangnya ada yang salah dengan berbuat baik? Tentu tidak. Yang salah adalah mereka yang tidak menghargai kebaikan orang dan malah cenderung menyepelekan. Yang salah juga mereka yang memilih diam saja saat terjadinya ketidakadilan dan penyelewengan di depan mata dengan alasan “ogah cari drama” atau “malas ribut”.

Dengan kata lain, kita hanya mau cari aman untuk diri sendiri. Kesulitan orang lain yang disebabkan penindasan sama sekali bukan urusan/masalah kita. Sebodo amat!

Diam seperti itulah yang mencelakakan. Gak perlu nunggu jadi korban dulu, sih. Sebagai korban, diammu malah membuatmu semakin disepelekan orang. Kamu takut melawan atau gak berani protes, makanya dianggap gampangan.

Sebagai saksi, diammu bikin kamu jadi manusia egois dan gak berguna, kecuali buat dirimu sendiri. Kamu hanya mau cari aman, padahal bisa saja mereka berharap bantuan darimu – terutama saat mereka terlalu lemah untuk membela diri sendiri.

Mungkin inilah penyebab aku sudah malas cerita apa-apa lagi pada Mama, terutama soal alasan aku marah. Beliau tidak akan mengerti dan aku tak bisa memaksa beliau untuk mengerti.

Mulai sekarang, aku hanya cukup membela diri sendiri …

 

R.