Categories
#catatan-harian #menulis #tips

Mudahnya Bikin Website untuk Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb

Mudahnya Bikin Website untuk Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb

Rumahweb, aku pun tergoda untuk bikin blog untuk diri sendiri. Berawal dari senang-senang, kemudian aku ingin lebih serius. Salah satunya adalah mewujudkan Mudahnya Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb. Kenapa tidak? Kini sudah banyak blogger dan content writer yang mengawali bisnis mereka dari blog pribadi.

Banyak Cara Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb Dengan Domain Murah

Sebagai salah satu provider layanan jasa pembuatan domain, hosting, hingga website, Rumahweb sangat user-friendly. Aku dapat menciptakan branding produkku sendiri lewat blog pribadi. Aku memang belum terpikir sampai membuat toko online sendiri, namun anggap saja semua tulisan di blog-ku sebagai portofolio.

Lalu, bagaimana agar blog kamu dapat dijadikan tempat untuk memulai bisnis online di rumah bersama Rumahweb? Inilah lima (5) cara untuk memanfaatkan Rumahweb sebagai bisnis online:

  • Rancang platform sesuai kebutuhan bisnismu, seperti: blog, website, hingga toko online. Untuk blog, kamu dapat menggunakan platform WordPress, Blogger (Blogspot), atau yang lain.
  • Tujuan tujuan dan konten atau materi blog kamu. Misalnya: kamu ingin mempromosikan tulisan, desain, atau bahkan barang-barang yang kamu mau jual di toko online kamu. Mau promosi jasa lainnya juga boleh.
  • Tentukanlah target pembaca atau konsumen berdasarkan demografi standar, seperti: rentang usia, jenis kelamin, dan lain-lain.
  • Beli domain saja bila platform pilihanmu adalah Blogger (Blogspot). Bila ingin membeli domain berikut hosting, kamu dapat menggunakan WordPress dan platform lain.
  • Update isi blogmu secara konsisten agar pembaca atau konsumen selalu tahu yang terbaru. Misalnya: artikel atau produk terbaru. Tidak perlu setiap hari bila sulit, namun tentukan jadwal. Misalnya: dalam seminggu, kamu wajib update tiga (3) kali – yaitu setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

Banyak cara untuk mewujudkan Mudahnya Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb. Inilah tiga (3) contoh utama:

  • Menjadi seorang blogger atau content writer.

Seperti yang sudah disebutkan tadi, aku juga berprofesi sebagai seorang blogger atau content writer. Memang, akhir-akhir ini aku sedang jarang menulis di blog-ku sendiri. Alasannya adalah kesibukan di pekerjaan utama disertai menulis untuk pesanan orang lain atau ghostwriting.

Namun, bagi pemula dalam bidang ini, mempunyai blog pribadi dengan domain buatan sendiri merupakan langkah awal branding yang baik. Lewat contoh semua tulisanmu di blog, pembaca bisa mengetahui ciri khas tulisanmu. Siapa tahu ada media digital yang tertarik ingin bekerjasama denganmu perihal penulisan artikel atau proyek sejenis.

  • Membuka kursus online.

Banyak kursus online yang bisa kamu tawarkan lewat domain dan hosting website pribadimu lewat Rumahweb. Misalnya: kursus kepenulisan, kursus penerjemahan, hingga kursus editing. Bila ingin menawarkan kursus desain, kenapa tidak? Tentu saja, website hanyalah media promosi sekaligus ibarat kantor digital untuk bisnismu.

Tentu saja, saat berinteraksi dengan peserta kursus, kamu tetap membutuhkan platform yang interaktif, seperti Google Meet atau Zoom. Jangan lupa sambungkan tautan kelas online dari salah satu platform chat tersebut ke website kamu.

  • Menjual produk berupa barang atau jasa lewat toko online.

Sekarang sudah banyak toko online yang menawarkan produk berupa barang atau jasa. Misalnya: kamu hobi berjualan pernak-pernik buatan sendiri atau membuka jasa terjemahan dan penulisan artikel pesanan (ghostwriting). Meskipun promosi lewat media sosial semacam Instagram dianggap lebih menarik perhatian, bisnismu tetap membutuhkan website atau toko online sebagai tempat resmi untuk berinteraksi.

Ya, sebenarnya di atas cuma sebagian kecil contoh untuk mewujudkan betapa Mudahnya Memulai Bisnis Online Bersama Rumahweb. Bila aku masih konsisten dengan tulis-menulis sebagai bagian dari bisnis, bagaimana denganmu? Apa idemu untuk memulai bisnis online bersama Rumahweb?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Negeri Pendukung Pemerkosa

Negeri ini aman bagi pemerkosa.

Silakan, banyak yang bisa berbuat suka-suka.

Korban bisa kau salahkan dengan banyak cara:

Pakaian mereka, cara bicara,

hingga yang paling jelas – JENIS KELAMIN MEREKA.

Pokoknya, buat semua tercela,

sementara kau mengaku korban sesungguhnya,

tak berdaya, lemah, begitu mudah tergoda

layaknya binatang liar tanpa akal.

Negeri ini masih aman bagi pemerkosa,

karena korban masih dipaksa melawan stigma,

mulai dari murahan hingga wahai penggoda.

Cukup perlambat langkah mereka,

karena saat semua bukti sudah ada,

mereka sudah kembali lebih dalam terluka,

hingga lelah luar biasa.

Kau cukup bicara soal tercorengnya nama.

Tanpa sesal, karena kau yakin masih akan baik-baik saja.

Apalagi, pendukungmu banyak yang buta hati, meski masih punya mata.

Negeri ini aman bagi pemerkosa,

apalagi bila kamu terkenal dan kaya raya.

Kamu punya lebih banyak kuasa

menyuap dan membungkam mereka

membayar para pendukung setia

khusus meneror semua yang tak suka.

Kalau sampai harus dipenjara,

tenang, biasanya takkan lama.

Hukuman pun seadanya.

Saat akhirnya bebas, kamu masih sama.

Kembali seperti sedia kala,

seakan tidak pernah ada apa-apa.

Negeri ini aman bagi pemerkosa.

Kau akan banyak diliput media

karena korbanmu tidak menarik minat mereka.

Kau akan disambut bak pahlawan berjasa,

bintang paling bercahaya,

meskipun baru keluar dari penjara.

Persetan dengan realita yang menyakitkan mata.

Yang penting, masih banyak pendukung buta.

Ah, rasanya seperti surga dunia.

Bukankah demikian, wahai pemerkosa?

Cukup nyatakan kau telah menebus dosa,

lalu tampil dengan senyum pada dunia

tanpa peduli korban yang masih trauma.

Yang penting,

kau dapat kesempatan kedua

untuk kembali berlaga di layar kaca …

Ah, beruntungnya para pemerkosa

hidup di negeri yang selalu mendukung mereka …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Teman-teman Lama dan Mantan Teman-teman

Foto: Teman-teman

Tentang Teman-teman Lama dan Mantan Teman-teman

Ini percakapan saya dengan seorang sahabat. Pandemi Covid-19 edisi Omicron ini memang semakin menyebalkan. Bikin susah ketemuan, tapi mau nggak mau emang harus ekstra sabar.

Di depan dua gelas kopi di atas meja marmer, kami berdua pun larut dalam percakapan. Awalnya, kami saling bertukar cerita dan sama-sama mengenang teman baik kami yang telah berpulang tahun lalu.

“Natal kemarin, keingetnya pengen kasih dia kue bikinan sendiri,” kata sahabat dengan sedih. “Eh, pas baru mau bikin, baru keinget kalo dia udah meninggal.”

Sesaat kami berdua terdiam, sama-sama larut dalam kesedihan. Lalu, entah kenapa, tahu-tahu pembicaraan kami beralih kepada … mantan teman-teman.

Singkat cerita, sahabat pernah punya seorang teman yang cukup dekat. Hubungan mereka mulai renggang sejak teman si sahabat mulai sering mengeluh. Kebetulan berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah, teman si sahabat selalu mengeluh bahwa hidup ini tidak adil. Mengapa orang lain hidupnya selalu lebih mudah? Mengapa dia selalu susah?

“Sebenernya dia udah pernah beberapa kali dapet kerjaan bagus,”keluh sahabat. “Sebenarnya dia juga pintar. Bahasa Inggris-nya bagus.”

“Lho, terus kenapa?”

“Selalu ada saja yang salah di matanya,” lanjut sahabat lagi. “Entah itu bos nyebelin, gaji terlalu kecil tapi kerjaan banyak, sama entah apa lagi. Baru sebentar, resign. Sebentar-sebentar resign. Begitu terus.”

Lalu, teman si sahabat juga pernah mempunyai seorang kekasih royal. Kekasihnya rajin mentraktir dan membanjirinya dengan hadiah-hadiah mewah. Bahkan, si teman sempat mendapatkan uang saku segala. Untuk sesaat, tentu saja dia sangat bahagia. Meskipun belum punya pekerjaan, dia bisa hidup enak. Tidak perlu khawatir akan uang.

Sayang sekali, dongeng cintanya berumur pendek. Setelah putus, sang mantan pulang ke negaranya. Teman sahabat harus memulai segalanya dari awal lagi.

Bisa ditebak sih, kelanjutannya. Sosok ini kembali menjadi tukang mengeluh. Lama-lama, sahabatku tidak tahan lagi.

“Capek nasihatin dia terus,” katanya mengakui. “Lama-lama aku bilang, terserah dia mau apa sama hidupnya sendiri. Toh, dia sudah dewasa ini. Eh, dia malah marah-marah. Katanya, aku nggak sopan dan bukan sahabat pengertian!”

Bukan Cuma Putus Cinta:

Patah hati bukan hanya karena putus cinta. Ada yang karena kehilangan hewan peliharaan, kematian orang kesayangan (keluarga, teman, sebut saja), hingga bubarnya persahabatan. Semuanya sama saja: menyakitkan. Gak perlu main perbandingan, karena emang gak adil dan mustahil juga dibandingin.

Setiap jenis patah hati juga punya tantangannya masing-masing. Gak perlu lihat siapa yang cari gara-gara, siapa yang jadi (atau merasa) korban.

Apa sih, yang biasanya bikin seseorang menjadi ‘mantan teman’? Banyak sekali. Secara pribadi, sebenarnya saya paling enggan harus memutuskan persahabatan. Bahkan, kalau boleh mengakui, saya lebih sering ditinggalkan duluan, hehehe …

Sedih sih, pasti. Tapi, mau gimana lagi? Suka tidak suka, hal semacam ini suatu saat akan terjadi. Kadang kita hanya bisa berusaha. Bila sudah menjalankan bagian kita dan ternyata masih ambyar juga, ya sudah.

Kadang persahabatan memang terpaksa berakhir demi pembelajaran sesudahnya. Ya, mirip-mirip putusnya pacaran dan perceraian. Apakah selama ini kita sudah cukup mengenal diri kita dan mereka? Apakah ada harapan berlebihan, baik dari kita untuk mereka maupun sebaliknya?

Kadang ada hubungan yang mungkin masih bisa diperbaiki. Kadang memang ada yang harus direlakan untuk usai. Sekali lagi, kita hanya bisa melakukan bagian kita tanpa harus terlalu banyak berharap pada mereka atau siapa pun.

Bahkan, berharap pada sesama manusia – APALAGI SAMPAI KEBANGETAN – lebih banyak ruginya …

Yang pasti, kita-lah yang sebisa mungkin tetap menjadi teman bagi diri sendiri …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Diam di Depan Pencela

Bodyshaming
Foto: freepik.com

Diam di Depan Pencela

Diam di depan pencela?

Bukan masalah, biasa saja

Biarkan mereka bicara

hingga menulis suka-suka

sementara kamu hemat suara.            

Simpan tenaga.           

Diam di depan pencela?

Butuh sabar dan usaha

Latihan secara berkala

Kadang cobaan luar biasa,

karena mereka suka menghina

tak kira-kira.

Diam di depan pencela?

Ada banyak cara

Rata-rata mudah saja

Anggap saja mereka tiada

Sibukkan diri dengan yang berguna

Setidaknya,

waktumu tak percuma.

Saat pencela akhirnya

sudah kehabisan suara

bahkan hilang tenaga,

tersadarkah mereka

waktu hilang sia-sia

sementara dirimu sudah jauh di depan mata?

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Kenapa Penting Sih, Untuk Lebih Melek Asuransi?

Kenapa Penting Sih, Untuk Lebih Melek Asuransi?

Apa yang ada di benakmu saat pertama kali mendengar kata ‘asuransi’? Mungkin banyak yang akan langsung teringat dengan ‘asuransi jiwa’. Sama seperti tabungan lainnya, kita harus menabung dulu untuk bisa merasakan manfaatnya di kemudian hari. Misalnya: saat kita harus berobat ke rumah sakit atau saat kecelakaan terjadi.

Terutama saat pandemi Covid-19 ini, asuransi jiwa sudah terasa semakin penting dan genting. Bahkan, bisa bahaya juga bila kita masih belum sadar juga akan pentingnya melek asuransi.

Sebelumnya, apa sih, asuransi itu?

Sekilas Mengenai Asuransi

Asuransi adalah sebuah kesepakatan antara pihak penanggung (yaitu perusahaan) dengan pihak tertanggung (yaitu nasabah). Dalam kesepakatan ini, nasabah diharuskan membayar premi kepada perusahaan untuk mengganti berbagai risiko yang kemungkinan besar dapat terjadi di kemudian hari.

Beberapa risiko yang dapat ditanggung oleh asuransi adalah sebagai berikut:

  • Kerusakan
  • Kematian
  • Kehilangan yang diderita akibat peristiwa di luar dugaan

Meskipun banyak yang masih mengasosiasikan asuransi dengan kesehatan jiwa, sebenarnya fungsinya tidak hanya itu. Selain sebagai perlindungan kesehatan, asuransi juga berfungsi sebagai proteksi keuangan demi membantu ketahanan hidup nasabah, terutama karena peristiwa di luar dugaan.

Semakin Pentingnya Asuransi di Tengah Pandemi

Sudah bukan rahasia lagi bahwa wajib sadar akan pentingnya melek asuransi, terutama di tengah pandemi. Seperti yang sudah kita lihat akhir-akhir ini, pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar bagi masyarakat di seluruh dunia. Ada yang sampai kehilangan pekerjaan karena terkena PHK (pemutusan hubungan kerja), bisnisnya bangkrut, jatuh sakit, depresi, hingga tidak punya tabungan lagi.

Apalagi, penyakit akibat virus Covid-19 (mulai dari yang pertama di tahun 2020 hingga Delta, Delta Plus, serta Omicron mulai di akhir 2021 ini) belum ada obatnya hingga kini. Kita baru bisa memproteksi diri dengan vaksinasi (maksimal dua kali ditambah satu booster) serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Memakai masker dan menjaga jarak sudah menjadi kewajiban di era new normal ini.

Bila sudah memulai tabungan asuransi, baguslah. Teruskan usahamu demi mendukung ketahanan dan kualitas hidup. Bagi yang belum, tidak ada salahnya untuk memulai sekarang. Belum terlambat, kok. Mintalah semua dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Mengapa Kita Harus Sadar Akan Pentingnya Melek Asuransi?

Banyak alasan bagi kita untuk mulai menyadari pentingnya punya asuransi. Beberapa alasan yang saya ketahui adalah sebagai berikut:

  • Sebagai dana darurat.

Kecelakaan atau jatuh sakit merupakan contoh paling mudah diingat. Keduanya merupakan musibah. Pastinya, tidak ada seorang pun yang ingin mengalaminya.

Namun, kecelakaan maupun jatuh sakit sama-sama tidak selalu bisa dihindari. Bayangkan bila kita butuh berobat segera, namun terkendala biaya. Asuransi akan membantumu dalam hal ini.

  • Sebagai simpanan jangka panjang.

Suka atau tidak, kita tidak akan selamanya bisa bekerja mencari uang. Tidak semua orang beruntung mendapatkan pekerjaan seumur hidup atau terlahir dari keluarga kaya raya. Apalagi bila ada orang-orang lain yang bergantung secara finansial pada kita, seperti: orang tua sepuh, pasangan (bagi yang menikah), adik-adik yang masih usia sekolah atau belum punya pekerjaan, hingga anak-anak.

Nah, meskipun amit-amit semoga tidak kejadian, bagaimana bila suatu saat kita tiba-tiba kecelakaan atau jatuh sakit dan meninggal dunia? Bagaimana dengan mereka yang tergantung secara finansial pada kita? Bila kita mendaftarkan mereka sebagai pihak tertanggung premi asuransi, maka kita masih dapat melindungi mereka.

Simpanan jangka panjang juga bisa digunakan untuk membayar keperluan darurat. Misalnya: asuransi mobil atau properti yang hancur akibat bencana alam.

  • Sebagai antisipasi terhadap kemungkinan penyakit baru yang ada.

Pandemi Covid-19 menjadi contoh nyata semakin pentingnya melek asuransi. Virus Corona yang telah menyerang seluruh penduduk di dunia sejak akhir 2019 tidak hanya berdampak secara kesehatan. Kekhawatiran akan penyebaran virus tersebut menyebabkan gerak ekonomi kita menjadi amat terbatas. Yang tadinya bebas leluasa ke kantor kini harus lebih banyak di rumah.

Banyak bisnis yang tumbang karena gagal mendapatkan profit. Banyak karyawan yang terpaksa di-PHK.

Karena itulah, belum terlambat untuk memulai tabungan asuransi. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan lupa banyak bertanya kepada pihak penawar asuransi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Barisan Perundung

Barisan Perundung

Barisan perundung

Tak tahu diuntung

Manfaatkan pendukung

Bikin hak korban buntung

Barisan perundung

Sialnya makin beruntung

Para pengecut mendukung

Lewat bungkam tak berujung

Ah, bagaimana membasmimu?

Ibarat kecoak, berbiak selalu

Mati satu, tumbuh seribu

Kian banyak, menindas tanpa malu

Barisan perundung minta dibunuh

Pongahnya bikin suasana keruh

Bersikap cengeng saat dituduh

Makin lama makin bikin gaduh

Mau jadi apa negara ini

dengan makin banyaknya manusia yang cacat hati?

Apakah integritas telah lama mati

berganti perundung nan keji?

Sialnya, jumlah pengecut lebih banyak lagi

lewat wajah-wajah tak peduli

atau dukungan buat perundung

demi cari aman sendiri …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

“Life begins at/after 40.”

Banyak yang bilang begini saat ultah saya November kemarin. (Iya, saya sudah 40 sekarang.) Jujur, saya sempat terbingung-bingung.

Bila hidup dimulai saat seseorang berusia/sesudah 40 tahun, berarti kemaren-kemaren ke mana aja? Ngelindur apa koma?

Banyak teori seputar pernyataan soal usia 40. Iseng-iseng saya cek lewat Google:

  • Ada buku motivasi berjudul sama karya Walter B. Pitkin. Cuma, kalo tanya saya, kayaknya saya nggak gitu tertarik baca. (Tumben, mengingat saya masih jadi pencinta setia buku meskipun di era digital ini.) Takutnya isi bukunya sudah nggak gitu relevan lagi dengan zaman sekarang.
  • Ada yang bilang, usia 40 berarti (harusnya) usia seseorang sudah ‘ajeg’ dengan banyak hal. Ya, sudah selesai dengan dirinya, sudah jelas tujuan hidupnya, dan sudah punya cukup banyak keahlian untuk bertahan hidup. Yang pasti, udah bukan saatnya lagi terlalu main-main dengan banyak hal.
  • Ada juga yang beranggapan bahwa usia 40 berarti mulai siap kehilangan lebih banyak. Ya, kehilangan masa muda, jatah umur, sampai orang-orang yang dulunya dekat sekarang jauh. Bahkan, meskipun jauhnya belum tentu karena musuhan juga.

Selain itu, dunia karir dan percintaan juga mulai berkurang dari segi ‘keramahan’. Apalagi kalau kebetulan kamu seorang perempuan. Di dunia karir (terutama akhir-akhir ini), lebih banyak perusahaan yang memilih rekrutan yang berusia lebih muda. Realistis saja. Yang belum punya banyak pengalaman kerja relatif lebih bisa digembleng, belum terlalu keras kepala seperti yang sudah lebih tua, dan … bisa dibayar murah.

Dalam dunia percintaan (terutama di Indonesia) sialnya, perempuan lajang berusia 30+ paling banyak dipojokkan. Dibilang perawan tua-lah, udah gak laku-lah, sampai disuruh jangan terlalu milih. Ironisnya, pas masih muda juga dinasihatin agar jangan terlalu agresif. Gak konsisten, deh.

Yang bisa bertahan tetap waras hanyalah mereka yang mau belajar bersikap cuek. Pada kenyataannya, berusaha memenuhi standar orang lain terus-terusan itu lama-lama memuakkan. Enak di mereka, rugi di kita. Mereka bebas ngebacot sampai puas, lalu malah milih cuci tangan pas kita celaka karena mencoba mengikuti maunya mereka.

Bagi saya, hidup bukan dimulai di usia 40. Hidup itu (harus terus) berlanjut!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Harapan yang (Harus) Terpendam

Sumber foto: Rawpixel (Unsplash.com)
Kadang, harapan itu seperti harta karun.
Sebaiknya sembunyikan.
Terlalu berharga untuk kau pamerkan.
Awas, kecurian!
Selain itu, siap-siaplah jadi bahan tertawaan.

Harganya mungkin seperti napasmu,
yang kian pendek dan terus memburu
terkikis ucapan mereka yang merasa lucu
saat menilai harapmu tak sepenting itu.
Percayalah, satu kata pun mampu
mengoyak seisi kalbu.

Bisa juga seharga lebih dari permata,
meski tak tampak wajah yang suka.
Jangan tertipu topeng para pencela.
Saat kau tak awas,
mereka akan sikat harapmu sampai tandas.

Jadi, harapan itu seperti harta karun.
Sembunyikan, kubur dalam-dalam.
Cukup kamu yang paham
bahwa perwujudannya tak mungkin dalam semalam
dan lebih aman dalam diam …

R.
Categories
#catatan-harian #menulis

Menonton Hidup di Media Sosial

Menonton Hidup di Media Sosial

Di media sosial, hidup kita dinilai dari sebaris status. Sepotong cerita yang tidak lengkap, namun dianggap sumber paling tepat. Hidup kita dipuja-puji dari dua-tiga baris doa, dicela dari separagraf-dua paragraf curhatan. Bahkan, tak jarang foto dan video yang kita tampilkan pun siap jadi sasaran.

Yang sadar punya banyak pilihan. Mereka bisa memoles citra diri mereka agar terlihat mengesankan. Siapa tahu, status atau postingan berikutnya akan banjir pujian. Rasanya membahagiakan, bukan? Bagai candu gratisan, kita merasa seperti mendapatkan tambahan teman. Apalagi, pandemi Covid-19 sialan ini sudah bikin kita sulit ke mana-mana.

Yang tidak sadar mungkin memilih dikendalikan begitu saja dengan situasi media sosial yang cair, berubah, kadang dalam waktu super cepat. Terlalu cepat bahagia saat banyak yang suka, lalu terlalu jatuh dalam nelangsa saat dicela. Penonton di media sosial memang sangat reaktif, cenderung tanpa banyak berpikir. Tanpa sadar, mereka semua begitu mudah dikendalikan.

Di media sosial, hidup kita dinilai hanya dari sebaris status. Yang terlihat rajin membagi doa tampak bagai orang saleh. Yang sering curhat langsung dianggap kesepian, gila perhatian. Yang marah-marah dituduh kurang bersyukur dan perusak suasana. Banyak yang rebutan panggung di dunia maya, demi kebanggaan semu sesaat. Aku. Ada aku. Lihat aku, jangan dia. Pokoknya aku!

Orang yang berbagi kabar bahagia, seperti kelahiran anak, kesuksesan mereka masuk universitas bergengsi, hingga momen jadian dan lamaran, langsung dianggap pamer. Anak-anak yang gemar berbahasa asing di ruang publik langsung dianggap tidak menghargai bahasa dan budaya sendiri. Yang berbahasa daerah dituduh sok eksklusif, sementara yang menuduh kerap menggunakan bahasa nasional sendiri sesuka hati. Perkara ejaan hingga tata bahasa mereka anggap: “Ah, cuman segitu doang. Salah sedikit, ribet amat!”

Banyak yang menganggap standar hidup mereka sudah paling ideal. Suami bekerja, istri harus jadi ibu rumah tangga. Belum punya anak (apalagi setelah bertahun-tahun menikah) dianggap bermasalah. Baru punya anak satu, dianggap kurang. Punya anak banyak, dianggap tidak kira-kira menilik realita. Ekonomi makin susah, kerusakan lingkungan sudah makin parah.

Mereka yang merasa menjadi anak paling berbakti pada orang tua kemudian menghujat juga seorang anak yang pernah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo. Yang harusnya tidak diumbar kemudian terjadi juga. Pelakunya adalah salah satu pekerja di panti jompo tersebut. Meskipun sudah tahu akan bahayanya serba terbuka di media sosial, mereka pun memposting foto ibu tersebut dengan kalimat yang menyakitkan.

“Ibu dibuang anak di panti jompo.”                                  

Entah apa tujuan pelaku menyebarkan kabar seperti itu. Entah kenapa sampai menyebut tempat itu setara dengan tempat sampah. Bukankah itu sama saja dengan menghina rumah sendiri dan seisinya?

Lalu, apa hak mereka yang menghujat, bahkan menyumpahi bahwa si anak akan masuk neraka segala? Bantuin enggak, nyakitin iya. Apakah dengan kekasaran semacam itu, si anak akan serta merta menuruti mereka? Padahal, kenal saja juga tidak. Ikut merasa dirugikan juga tidak. Sungguh, kadang jari-jemari bisa jauh lebih berbahaya daripada isi kepala yang serba penuh cerca.

Kadang … Lebih Baik Tidak Usah Cerita Pada Siapa-siapa

Ini bukan perkara anak kecil ngambekan. Bukan juga pandemi Covid-19 yang jadi penyebab. Masalah ini sesungguhnya sudah lama terjadi, namun kelamaan dibiarkan. Saking lamanya dibiarkan, lama-lama banyak yang menganggapnya normal. Biasa saja, komentar khas mereka yang (terpaksa memilih) mati rasa.

Interaksi sosial dengan sesama manusia lama-lama jadi tidak begitu menyenangkan lagi. Semakin takut atau malas orang bercerita, meskipun bukan UU ITE penyebabnya. Penghakiman dan semangat menghujat tanpa ampun dari sesama, bahkan meskipun belum tahu kisah lengkapnya. Tak heran, kini lebih banyak yang menemukan nyaman dalam kesendirian.

Sudah, tidak perlu cerita apa-apa. Tidak perlu jelaskan pada siapa-siapa. Diam saja. Biarkan mereka terus mencari cacat dari sesama, hanya agar semakin puas menghujat dan merasa diri bebas dari dosa.

Jika hidupmu dinilai hanya dari sebaris status, maka silakan nilai mereka dari komentar yang mereka keluarkan dengan mudahnya. Tidak perlu membalas. Tidak ada gunanya. Biarkan mereka percaya hanya yang ingin mereka percaya. Mereka mengira sudah mendapatkan kisah lengkapnya, seperti biasa. Mereka merasa berjasa telah melaknat sosok yang mereka anggap penuh cela.

Mungkin, hanya sampai situ kemampuan mereka menghargai waktu luang yang ada. Hanya sekian …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Melalui Mata Mereka

Melalui Mata Mereka

Maafkan aku.

Aku hanya ingin melihatmu,

bukan dari mata ini

atau mata sosok yang kau cintai

dulu maupun kini.

Bukan dari para sahabat yang selalu mendukungmu

atau musuh yang benci setengah mati.

Aku ingin mengenalmu

melalui mata mereka

sosok-sosok yang pernah tumbuh bersama

dan mengenalmu paling lama.

Aku hanya ingin tahu

sudah cukupkah cinta untukmu

bahkan sejak dari dalam rumah?

R.