Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“STRINGS ATTACHED: Kunjungan Singkat Serial Pendek Komedi Romantis”

REVIEW BUKU:

“STRINGS ATTACHED: Kunjungan Singkat Serial Pendek Komedi Romantis”

Untuk ukuran orang yang tengah skeptis akan romansa, saya tidak pernah mengira akan benar-benar menikmati membaca antologi fiksimini ini. Ditulis oleh Firnita Taufick, “Strings Attached” membawa saya kembali ke masa remaja.

Bagi banyak orang, masa remaja adalah masanya percaya akan cinta. Ini masanya cerita roman remaja, serial sinetron, dan komedi romantis Ini masanya kita lebih peduli apakah orang yang kita suka menyukai kita juga atau tidak.

Masa remaja adalah masa-masa patah hati nyaris terasa seperti akhir dunia … setidaknya pada awalnya. Seperti kata orang-orang: masih banyak ikan di laut. Tak peduli kamu bilang ke mereka kalau kamu vegetarian. (Bercanda!)

Ngomong-ngomong, saya merasa ‘dekat’ dengan banyak cerita di buku ini. Pada “Chapter I: Hope”, kita tahu rasanya debar-debar itu. Tahu ‘kan, seperti banyaknya kupu-kupu yang terbang menari-nari di dalam perut – saat melihat sosok yang kita taksir di sekolah / kampus. Bisa teringat – atau mungkin terbayangkan – saat berpapasan dengan mereka – di perpustakaan maupun di kedai kopi.

Pada “Chapter II: The Bliss”, saya teringat akan keajaiban, semua kemungkinan yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Apakah perasaan ini nyata? Apakah si dia juga merasakan yang saya rasakan?

Seberapa lama perasaan ini akan berlangsung? Akankah saya patah hati saat fantasi ini berakhir? Bisakah saya merelakan orang itu secepat mungkin? Apakah saya akan menemukan seseorang yang lain lagi bila hal itu sampai terjadi?

 “Chapter III: The Despair” mungkin yang terberat untuk saya baca. Tidak ada orang waras pun yang mau mengalami hal ini. Hubungan bisa saja berakhir. Pasangan bisa putus. Kadang kamu terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada apa pun dan seorang pun yang kamu harap bisa tinggal lebih lama. Cinta sejati adalah konsep kekanak-kanakan, abstrak, dan mustahil. Kita sadar dan belajar akan hal itu seiring bertambahnya usia.

Tetap saja, mengenai romantika remaja, inilah semua fase yang mungkin akan kita semua lewati. Tidak ada tawar-menawar. Sudah bagian dari risiko.

Membaca “Strings Attached” akan membuatmu merasa pahit dan manis. Bahkan untuk pembaca yang skeptic akan roman seperti saya selesai membacanya dengan senyum. Siapa tahu? Mungkin keajaiban lama bernama cinta masih ada, bahkan meskipun kita masih ingin memastikan bahwa kita tetap berpegangan pada realita …

Eh, buku keduanya Firnita – “The Short Stories”sudah ada di Gramedia, lho!

R.

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Ekspedisi Terakhirku

“Ayolah, ini akan menyenangkan,” janjimu padaku dalam bahasa Inggris beraksen Rusia itu. “Travelling berdua, camping, menikmati hutan belantara. Aku bisa memotret alam sesukaku, sementara kamu bisa menulis. Kamu belum pernah travelling ke alam terbuka, ‘kan?”

Entah apa yang membuatku termakan oleh ajakanmu. Kamu yang begitu mempesona sejak awal bertemu. Kata teman-temanku (yang disertai jengit di wajah mereka) sih, kamu jauh dari tampan. Dekil dan berantakan malah. Kalau Mama sampai tahu aku diam-diam pacaran dengan laki-laki bule, gondrong, brewokan tapi nyaris botak di puncak kepala, berkacamata segede pantat botol, dan dengan tampilan kayak nggak mandi seminggu, beliau pasti akan mengamuk.

“Ayolah,” bujukmu sambil membelai ikal gelapku. Kalau sudah begini, aku suka luluh. Tambah luluh lagi saat kamu mencium bibirku dengan penuh napsu. Ah, ke manakah otakku? Biasanya aku selalu berhati-hati.

Mungkin karena saat itu aku sedang jenuh dan muak dengan tuntutan keluarga. Sudah di atas 30, kata mereka. Kapan menikah? Kenapa nggak bisa seperti kakakmu? Mungkin karena menurut mereka aku terlalu gemuk, makanya laki-laki tidak ada yang mau.

Tapi, kamu justru mengaku lebih suka dengan perempuan gemuk. Berbanding terbalik dengan sosokmu yang menjulang, rada kerempeng – tapi hebatnya kuat bawa tas gede pas travelling. Itulah yang kuperhatikan dengan kagum, saat akhirnya – ya, kuputuskan untuk ikut travelling perdana denganmu. Aku sampai bertengkar hebat dengan Tobey, sahabatku laki-laki Australia yang sudah lebih seperti abangku sendiri.

“Rina, please. Aku tahu perempuan macam apa kamu. Aku nggak mau kamu menyesal nanti.”

Kutinggalkan pesan untuk ibu kos sebelum pergi. Aku sengaja tidak memberitahu siapa-siapa lagi, meski ponsel tetap kubawa. Jujur, aku mungkin anak kota yang juga sedang merasa sangat bosan. Aku butuh petualangan.

Dan laki-laki seperti kamu begitu menggiurkan…

-//-

Tiga bulan berlalu. Mungkin aku praktis sudah jadi orang hilang saat itu. Di hutan, terutama yang belantara, waktu seakan berjalan lambat – bahkan nyaris berhenti. Setiap hari terasa sama. Tidak banyak manusia lain, hanya kita berdua. Aku dan kamu. Dengan alasan berhemat, kita akhirnya tidur satu tenda.

Oh, ayolah. Semua pasti sudah tahu apa yang kemudian terjadi. Apalagi, kamu begitu menggebu-gebu. Aku yang tadinya ragu akhirnya pun mau.

Hingga saat itu…

Sial, kenapa aku mual begini, ya?

“Kamu nggak apa-apa?” tanyamu saat aku banyak tertinggal di belakang. Tidak hanya itu, aku pun mulai sering ngos-ngosan dan ingin muntah. Kepalaku pusing, berputar hebat. Saat kulihat wajahku di layar kamera ponsel, astaga. Pucat bukan kepalang.

Aku tahu, yang kutakutkan selama ini akhirnya terjadi. Aku tidak bisa bilang kamu memaksaku, namun entah kenapa aku tidak menolakmu waktu itu. Mungkin karena malam itu hanya kita berdua di dalam tenda…di tengah hutan belantara…

Saat menyempatkan diri ke kota kecil, kudatangi apotik yang sekaligus minimarket. Ajaib, apotik sekaligus minimarket itu menjual test pack. Untunglah, di kota kecil itu belum ada peraturan aneh-aneh soal larangan menjual alat kontrasepsi, alat tes kehamilan, dan semacamnya secara terbuka.

Setelah membayar, buru-buru aku keluar. Aku harus mengetesnya segera. Aku hanya ingin memastikan…

-//-

“Nggak mungkin,” bantahmu saat kuberitahu hasil tes itu. “Aku ‘kan waktu itu pakai pengaman-“

“Mungkin nggak efektif,” tukasku dingin. Kulihat ponselku sudah penuh dengan notifikasi pesan. Ada ratusan. Mama…Tobey…teman-temanku yang lain…

Maafkan aku…

“Aku nggak bisa,” katamu sambil menggeleng-geleng. “Kamu tahu gimana keluargaku. Aku nggak pernah kenal ayahku dan ibuku – “

“Tapi aku nggak bisa pulang dalam keadaan begini!” Tangisku kini pecah. Barulah, di atas tebing dekat hutan, kulihat sosokmu yang sebenarnya. Liar, tak pedulian, dan sepertinya siap menyingkir dariku kapan saja. Kuraih tangannya. “Please…”

“Aku nggak bisa!” Tanpa sengaja kamu menepisku. Saat itulah aku tiba-tiba merasakan tubuhku melayang…jauh…jauh…hingga…

Jatuh. Lalu gelap.

-//-

Keluargaku datang menangisi jenazahku. Aku sendiri tidak tahan melihat separuh wajahku yang kini hancur karena menghantam karang di bawah air terjun. Ada yang melihatku, lalu melapor penduduk setempat. Kamu akhirnya diamankan pihak berwajib sebelum jadi sasaran amukan warga, tak peduli bila kamu membela diri dan bilang kalau itu kecelakaan.

Di sudut kamar jenazah, rohku terpaku, memandangi akhir ekspedisiku…

  • Tamat –
Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Bukan Kulkasku

Gambar: Kulkas siapa?

Aku tak punya kulkas.

Sejak pindah rumah untuk ngekos sendirian enam tahun lalu, aku tak pernah punya kulkas sendiri. Kulkas di kosan ada sih, meskipun kulkas bersama. Nama kerennya, kulkas komunal. Sama dengan dapur yang mau nggak mau harus berbagi. Ya, gantian masaknya dan kadang harus menahan murka saat ada yang lupa – atau memutuskan – untuk nggak cuci piring sehabis makan.

Selama enam tahun terakhir, aku sudah dua kali pindah kosan. Keduanya sama-sama punya satu dapur dan satu kulkas. Ada juga PRT yang dipekerjakan khusus cuci-gosok pakaian. (Untuk mencegah salah paham dan tuduhan, kamar penghuni tetap wajib dibersihkan oleh masing-masing penyewa. Kalo mau pakai jasa PRT, ya harus bayar ekstra.)

Oke, balik lagi ke soal kulkas.                   

Jujur, sebenarnya aku kurang merasa nyaman harus berbagi kulkas dengan orang asing. Di rumah keluargaku, sebenarnya aku sudah terbiasa berbagi kulkas dengan banyak orang. Di sini, aku harus siap menghadapi berbagai kemungkinan seperti ini:

  • Nggak kebagian tempat, gara-gara ada anak kos lain yang memonopoli isi kulkas. Mending isinya bakal mereka habiskan semua tiap bulan. Ini malah suka mereka biarkan mengendap sampai busuk. Hiii…
  • Kecurian bahan makanan yang sudah kamu beli dengan uangmu sendiri. Entah ada yang salah ambil, emang niat mengutil, pokoknya yang mungkin merasa bahwa “kulkas komunal berarti isinya milik bersama”. Padahal bungkus makanannya sudah dikasih nama. Yaaa…nggak gitu juga kali, Bambaaang!
  • Tergoda untuk mengutil makanan orang di kulkas di akhir bulan. Nah, ini bisa aja terjadi, terutama bila kebetulan kamu sudah keburu jatuh miskin di akhir bulan. Menunggu gaji cukup menyiksa, meskipun tidak seperti menunggu Rangga…eh, purnama…

Nah, aku termasuk yang mana, ya?

Kebetulan, aku termasuk yang paling jarang memakai kulkas. Bukan apa-apa, awal ngekos aku lebih banyak di luar rumah. Paling aku hanya sempat sarapan dan makan malam. Itu pun, makan malamnya juga nggak selalu di kosan, apalagi saat lembur di kantor.

Lalu, berbagai cobaan sempat mengubah alur hidupku selama jadi anak kos di Jakarta. Mulai dari kehilangan pekerjaan, terkena pemotongan gaji, hingga pernah menunggak utang hingga nyaris diusir dari kosan. Entah kenapa, alih-alih pulang kembali ke rumah Ibu, aku memilih bertahan.

Tahun 2020 ini, pandemi virus Corona kembali memaksaku untuk tidak banyak keluar rumah. Pastinya, aku lebih banyak meluangkan waktu di kosan berkat kebijakan WFH (work from home) dari kantor. Hmm, tapi sepertinya aku tetap sulit menggunakan kulkas bersama. Bukan aku satu-satunya penghuni kos yang terpaksa bekerja dari rumah.

Isi kulkas di kosanku ini masih tetap sama: penuh selalu. Ada berkantong-kantong daging beku nugget di deretan teratas, telur, mentega, margarin, bumbu-bumbu, sayuran, daging, buah-buahan, minuman botol, minuman kaleng, sama entah apa lagi. Aku selalu telat kebagian tempat di dalamnya. Mau tak mau, solusiku dari dulu hingga kini tetap sama:

  • Makan di warung sebelah. Lumayan, nggak perlu cuci piring.
  • Menerima makanan kering buatan Ibu, seperti abon dan teri kacang.
  • Menyisipkan sebagian kecil simpananku, seperti yogurt dan telur. Kadang juga ada cokelat batangan favoritku.

Setelah itu? Harapanku tetap sama: semoga nggak ada yang memutuskan untuk mengambil makananku dan semoga aku nggak tergoda mengambil yang bukan hakku saat sedang sulit.

Sekian.

R.

(Dari Tantangan Menulis Mingguan Online Klub Menulis Couchsurfing Jakarta, 16 Juli 2020. Tema: “Apa isi kulkasmu?”)

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Rahasiaku

Wabah Corona memaksa kami semua berhenti ke kantor. Untungnya, tidak sampai berhenti bekerja. Bahkan, jam bekerja kami semakin fleksibel layaknya pekerja lepas / freelance. Meskipun jam kantor resminya 9 to 5, gara-gara beralih jadi WFH (Work From Home), ada kalanya kami dihubungi di luar jam-jam kerja yang wajar. Bahkan, sampai rapat video-call segala.

Jujur, kadang aku sebal dengan kebiasaan baru ini. Misalnya: rapat sesudah jam makan malam. Biasanya, pada waktu itu aku sudah leha-leha di depan TV, nonton serial favoritku. Kadang aku juga duduk membaca buku atau mendengarkan lagu di radio. Kalau sudah terlalu lelah, biasanya aku memilih tidur lebih cepat.

Apa boleh buat. Karena kebanyakan staf kantorku juga orang tua (termasuk si bos), waktu bekerja disesuaikan. Kebanyakan dari mereka harus memenuhi kewajiban sebagai orang tua dulu. Mengurus anak, termasuk menemani mereka belajar – berhubung sekolah mereka juga ikutan online. Berbelanja bahan makanan. Membayar tagihan. Membersihkan rumah dan masih banyak lagi.

Ada untungnya sih, masih melajang di era Corona ini. Apalagi bila tinggal sendirian seperti aku. Aku hanya harus mengurus diriku sendiri. Merasa sepi, sesekali pasti terjadi. Tapi, nikmati saja waktu luang yang ada sebisa mungkin. Setidaknya aku masih punya pekerjaan, meskipun gaji terpangkas sedikit karena kita tidak perlu lagi uang transport untuk ke kantor.

Malam Selasa, ternyata ada rapat tim. Seperti biasa, aku sudah siaga di depan laptop kesayanganku. Meskipun di rumah, aku tetap mengenakan kemeja rapi dan rok panjang. Biasa, untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba harus berdiri di depan webcam. Aku tidak ingin terlihat tidak pantas, berhubung hitungannya masih bekerja.

Singkat cerita, rapat berlangsung selama sejam. Kebanyakan rekan kerjaku tampak cuek, hanya mengenakan kaus dan jins. Tidak apa-apa sih, sampai tiba-tiba salah seorang hampir berdiri, sebelum tersadar dan buru-buru menutupi bawahannya dengan selimut. Di kamera, kami semua nyengir geli. Ada yang terkikik.

Hmm, makanya berdandan rapi saat rapat live di chatroom tetap penting. Beda kalau hanya chatting dengan teman-teman dekat.

“Ran, tumben kamu pakai rok panjang,” tegur Anna, salah satu rekan kerjaku di tim. Waktu itu, aku sedang berdiri sebentar untuk meluruskan punggungku sebelum duduk kembali.

“Lagi malas pakai celana panjang,” ujarku cuek.

Ketika rapat sudah selesai, aku mematikan webcam, laptop dan bernapas lega. Dengan perlahan aku beranjak ke tempat tidur. Setelah duduk di ranjang, dengan hati-hati kulepaskan satu kaki palsuku sebelum tertidur.

Selama ini, aku berhasil menyembunyikan rahasiaku di kantor. Sebelum pindah ke perusahaan ini, aku pernah mengalami kecelakaan yang membuat satu tungkaiku harus diamputasi. Untunglah, berkat terapi berbulan-bulan, akhirnya aku bisa kembali berjalan seperti orang normal. Tidak ada yang curiga, karena aku tidak pernah terlihat pincang. Toh, yang diamputasi masih di bawah lutut. Aku masih bisa menekuk kakiku.

Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin dikasihani. Bayangkan, apa jadinya kalau tadi aku rapat tanpa bawahan yang cukup panjang…

R.

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Kisah Klasik Pembunuhan

Kisah Klasik Pembunuhan

Ini kasus pertamaku. Aku datang ke vila besar berlantai dua dengan kolam renang di halaman belakang. Malam itu, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 11:45. Nyaris tengah malam.

Jenazah lelaki itu terkapar di ruang tengah, berlumuran darah. Permadani Turki yang mahal itu ternoda. Darah mulai mengering dari luka terbuka di perut lelaki itu.

Sang Istri yang tersedu-sedu sedang diwawancarai oleh Detektif Senior di ruangan lain. Tim Forensik sibuk memotret, menyapu berbagai permukaan untuk mencari dan mengumpulkan contoh sidik jari dan barang-barang bukti lainnya. Tim Pemeriksa Medis yang termasuk bagian dari Tim Forensik kemudian membawa jenazah ke laboratorium mereka untuk divisum lebih lanjut.

Katanya sih, usaha perampokan yang gagal total. Perampok Amatiran yang masuk terpergok Sang Suami (yang sekarang berstatus Almarhum atau Korban) dan mereka pun berkelahi. Pecahan kaca di dekat jenazah Sang Suami membuktikan bahwa kemungkinan besar senjatanya adalah salah satu potongan dari pecahan kaca yang ada. Lukanya agak terlalu lebar untuk pisau biasa.

Namun, berdasarkan laporan sementara Tim Forensik dan yang kulihat, ada yang janggal.

Pertama, kenapa hanya pintu belakang yang menuju kolam renang terbuka dan jendela besar di sampingnya yang pecah? Tembok di belakang terlalu tinggi untuk dipanjati dengan cepat. Kecuali ada manusia super di dunia nyata dan pelakunya pakai alat pendaki (niat banget!), terlalu mustahil untuk jadi jalur masuk dan keluar.

Kedua, hanya ada jejak kaki berdarah yang mengarah ke halaman belakang…dan berhenti pas di pinggir kolam renang.

“Dez, coba lihat ini, deh.”

Ben, salah satu anak Tim Forensik, menunjukkan foto-foto file rumah sakit terdekat. Kulihat Sang Istri sering sekali harus ke UGD (unit gawat darurat) di sana. Patah lengan. Kaki keseleo.  Hidung patah. Gigi tanggal. Mata lebam.

Semuanya tertulis: KECELAKAAN. Tapi kok, sering sekali, bisa sampai sebulan-dua bulan sekali selalu harus ke rumah sakit atau berobat ke dokter?

“Ben, aku mau nyebur dulu.”

“Hah?” Terlambat. Byur! Hanya berbekal senter tahan air, aku menyelam untuk menyinari lantai kolam renang. Tak peduli sudah tengah malam dan aku akan menggigil kedinginan…

Kisah Klasik Pembunuhan
Foto: unsplash.com

-***-

“Dez, kamu ngapain?” Detektif Senior bingung melihatku menggigil karena basah kuyup. Kutunjukkan sebilah besar pecahan kaca yang kutemukan di dasar kolam renang.

“Senjata pembunuhan.”

Mendadak Sang Istri tampak gugup. Kuperhatikan satu tangannya yang ternyata sedang diperban. Kutanya:

“Tangan Ibu kenapa?”

  • Selesai –

R.

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Tirani Itu Bernama Patriarki dan Hierarki

Tirani Itu Bernama Patriarki dan Hierarki

Bodyshaming
Foto: freepik.com

Seperti apa sih, rata-rata nasib perempuan Indonesia sesudah menikah? Pastinya bermacam-macam. Mengingat kebudayaan yang masih sangat patriarkal, kebanyakan istri otomatis mengikuti suami tanpa banyak bacot. (Biasa, ancaman disebut durhaka dan dimasukkan ke dalam neraka menurut agama). Pokoknya, keinginan suami nomor satu. Kalau bisa, istri tidak usah punya mau kecuali manut.

Hell hath no fury like a woman’s scorned. Tiada yang bisa melampaui murkanya perempuan.

Dulu, aku pernah bangga dengan pepatah itu. Kesannya keren dan gagah. Hati-hati bila perempuan sudah marah. Semua yang di depannya pun bisa habis seketika.

Sayangnya, pepatah di atas juga bisa jadi bahan ejekan. Kata mereka, perempuan kalau marah itu lebay. Histeris seperti orang gila. Emosional, tidak masuk akal.

Itulah persepsi tirani sosial bernama patriarki yang sangat kubenci. Bila yang marah lelaki, mereka menganggapnya tegas dan berani. Pokoknya, jantan sekali. Tak peduli mereka kasar, pakai memukul dan memaki.

Sementara perempuan? Bah, jangan harap dapat nilai sama. Kalau tidak disebut bawel, banyak maunya, tidak sopan, hingga…ahem, melawan suami. Tidak peduli bila perempuan itu kemudian terbukti benar. Pasti ada saja alasan mereka semua untuk pura-pura tidak sadar. Benar-benar minta ditampar!

Intinya, jangan sampai laki-laki kelihatan atau dituding salah di depan khalayak. Bisa ambyar harga diri dan ego mereka.

Duh, celakalah bila suami pilihanku seperti itu…

-***-

Bagaimana bila suami belum bisa punya rumah sendiri, alias masih tinggal bersama orang tuanya? Otomatis, istri harus ikhlas mengurus mereka semua. Apalagi, ibu adalah perempuan paling pertama dalam hidup suami. Jangan pernah sekali-sekali memintanya memilih antara ibu dan istri. Sama saja cari mati atau minta cerai.

Respect the elders, always.

Aku tidak bodoh. Aku bisa hormat dan sopan sama yang lebih tua. Tak perlu mengancamku dengan kata ‘durhaka’, ‘dosa’, hingga ‘masuk neraka’.

Tapi, apa kabar dengan mereka yang lebih tua – tapi hobi semena-mena dengan sesama? Gila hormat dan selalu minta diperlakukan seperti dewa. Lupa kalau masih sama-sama manusia. Bisa juga berbuat salah.

Oh, tidak, tidak. Jangan pernah permalukan mereka yang lebih tua. Kasihan, sudah uzur. Mereka lebih sensitif, sayangnya hanya bila menyangkut perasaan mereka sendiri. Tak peduli mereka hobi mendamprat yang lebih muda, lebih kecil, atau bahkan lebih miskin daripada mereka – di depan umum pula. Maklumi saja. Sudah, jangan membantah. Meskipun memang kamu yang (terbukti) benar, yang ada malah tetap dianggap kurang ajar sama mereka. Tidak punya adat. Tidak tahu sopan santun. Okay, boomers.

Tirani sosial ini bernama hierarki. Aku benci sekali, karena banyak orang tua yang terlalu menuruti ego mereka sendiri. Anak yang tadinya punya potensi jadi tidak kenal diri sendiri gara-gara orang tuanya berperan sebagai pengendali. Tidak terbayangkan bila suatu saat orang tuanya pergi. Bisa tidak, anak itu menentukan nasibnya sendiri?

Ah, aku kok jadi jahat begini, sih? Tapi beneran, deh. Bagaimana kamu bisa menghormati mereka yang justru malah tak layak untuk dihormati, tapi merasa berhak?

-***-

Kebetulan, aku beruntung sekali menikahi laki-laki yatim piatu yang baik sekali. Selain tidak perlu berurusan dengan mertua yang belum tentu berkenan dengan pendamping hidup pilihan putranya, suamiku untungnya juga lebih menghargai keluargaku. Dia tak punya ibu lagi, makanya dia sangat memanjakan mamaku.

Amara, kembaranku, ternyata tidak seberuntung itu. Setelah menikah, dia langsung ikut suaminya ke luar kota. Tinggal bersama keluarga mertua.

Awalnya, semua baik-baik saja. Sikap mertua mulai berubah saat usaha suaminya bangkrut. Sayangnya, suami Amara kurang cepat tanggap dan gigih dalam menyikapi perubahan ekonomi keluarganya, sehingga Amara harus ikut mencari nafkah. Namun, urusan pengasuhan anak dan rumah tangga pun tetap dibebankan padanya.

Intinya, sejak saat itu, Amara lebih banyak diperlakukan seperti babu. Sering dibentak-bentak dan dimarahi, bahkan untuk kesalahan paling remeh sekali pun. Semua harus serba sempurna. Selalu diingatkan bahwa Amara dan suaminya hanya ‘menumpang’. Tahu dirilah, jangan merepotkan.

Anehnya, suami Amara tidak pernah kena marah karena belum punya penghasilan tetap lagi. Menurut pengakuan Amara, di sana laki-laki diperlakukan seperti raja. Selalu dimanja, seakan-akan tidak pernah salah. Bahkan, ibu mertuanya sendiri sampai pernah bilang begini:

“Kalau sama laki-laki, ngomongnya harus lembut.” Astaga, selemah itu-kah mereka? Alasan basi mereka, istri-lah yang harus selalu lebih sabar dan kuat. Lucunya, laki-laki tetap harus dianggap sebagai pemimpin keluarga dan dijaga wibawanya. Benar-benar standar ganda menjijikan!

Lalu, apa yang terjadi bila Amara marah dan membela diri? Gaslighting pun terjadi. Amara dibilang gagal paham dan sensi. Padahal, jelas-jelas mereka-lah yang gemar memaki.

Makanya, aku tidak heran ketika suatu hari, Amara pulang dengan koper seadanya dan mata sembab. Wajahnya tampak lelah dan lebih tua, padahal kami kembar identik. Amara datang tanpa suaminya. Aku tak perlu bertanya. Bibirnya yang tampak pucat gemetar.

“Anita…”

Tangisnya pun pecah. Kami berpelukan. Dua istri yang sama-sama sadar, ini masih Indonesia yang sama. Mendewakan patriarki dan senioritas, namun tak pernah sungguh-sungguh dengan jargon ‘memuliakan perempuan’.

Seperti biasa, paling mereka hanya menuntut bahwa istri harus selalu sabar, ikhlas, dan lebih banyak menurut dalam diam. Tidak hanya pada suami, namun pada keluarga suami. Bila memang tidak setuju dengan perempuan pilihan putra mereka untuk menjadi istri, kenapa tidak dari dulu melarang? Kenapa tetap merestui, bila pada akhirnya hanya untuk bebas menyakiti?

Di Indonesia, kamu sedikit lebih beruntung sebagai perempuan dengan beberapa privilege ini: lebih tua, lebih kaya, dan lebih berkuasa. Sayangnya, kamu bisa terjebak kultur patriarki sehingga tetap misoginis secara internal. Akhirnya kamu pun bisa sama saja, malah ikut menindas sesama perempuan…

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Naja dan Charlita

Naja dan Charlita

“Dia culas seperti ular.”

Kudengarkan curhatannya panjang lebar. Ah, Charlita. Lagi-lagi dia mengeluhkan orang-orang yang sama. Entah si A yang menurutnya tidak tahu terima kasih, si B yang hanya memanfaatkan kebaikannya, hingga si D yang menusuknya dari belakang.

Aku sudah bersahabat dengan Charlita sejak dua bulan lalu. Gadis mungil, ramping, dan yang sebenarnya cantik ini ternyata merasa semua orang selalu memusuhinya. Alasannya selalu sama.

“Mereka pasti iri sama gue. Padahal, mereka lebih cantik dan kaya.”

“Gue deket sama cowok ini dan mereka langsung kayak musuhin gue.”

“Makanya, Naja. Cuma elo sahabat gue satu-satunya sekarang,” ucap Charlita sambil tersenyum penuh rasa terima kasih padaku. Digenggamnya tanganku dengan lembut. Hangat, membuat darahku tiba-tiba berdesir. “Elo gak akan pernah mengkhianati gue, ‘kan?”

Aku tersenyum agak dipaksakan. “I’ll try.”

-***-

Sebenarnya, kalau ingin melihat dari dua sisi, Charlita tidak selalu benar. Dia tidak selalu korbannya. Saat kutanya pada orang-orang yang pernah (dianggap) bermasalah dengannya, jawaban mereka berbeda. Mereka tampak tersinggung saat kuceritakan pendapat Charlita tentang mereka.

“Astaga, dia melulu kok, yang cari gara-gara,” kata Alex tampak geram. “Yang ratu drama siapa, yang disalahin kita.”

“Gue cuma nggak sepaham sama dia dalam beberapa hal – dan dia langsung nganggepnya serangan personal,” keluh Biyan. “Capek deh, kalo urusan sama Charlita. Mending seperlunya aja. Gak usah sering-sering.”

“Oh, my God.” Donna melotot. “She thinks she’s all that. She always plays the victim, but you have no idea how nasty her big mouth is. She’s the snake, actually.”

Aku hanya tersenyum tipis. Kukumpulkan semua kesaksian mereka dalam ingatanku. Apakah aku akan balas mengadukan mereka pada Charlita? Ah, tidak perlu. Dia tidak perlu tahu.

Bahkan, kujamin Charlita juga tidak akan pernah tahu. Kurasa aku harus menolongnya, membebaskan dirinya dari penderitaan yang diciptakannya sendiri. Lagipula, demi keseimbangan ekosistem, Bunda selalu memintaku untuk memilih dengan hati-hati.

-***-

Malam itu, aku menginap lagi di rumah Charlita. Seperti biasa, gadis manja dan egois itu butuh teman setia…atau lebih tepatnya, penonton. Beruntunglah, aku cukup dingin untuk jadi pemujanya. Aku pendiam, efektif, dan tidak mudah dipengaruhi.

Tak lama, Charlita akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan. Aku masih terjaga. Kulihat bulan sudah purnama. Kutatap Charlita sekali lagi sambil menghela napas.

“Maaf, ya,” bisikku, meski tidak pernah benar-benar menyesal. Secara perlahan, kurasakan diriku berubah. Kedua kaki dan tanganku menyatu pada badan. Kulitku yang semula putih pucat mirip kulit manusia pada umumnya mulai robek, menunjukkan sisik-sisik berwarna gelap di bagian dalam. Tinggiku semakin berkurang, sebelum akhirnya aku melata di lantai kamar Charlita yang dari marmer. Dingin dan nyaman.

Charlita masih terlelap, tak sadar bahwa aku sudah secara perlahan melata ke atas tempat tidurnya. Ada ekspresi geli pada wajahnya saat aku merayap di atas tubuhnya.

Tak lama, kutatap wajahnya yang pulas. Aku sengaja menunggu matanya terbuka. Aku yakin, instingnya cukup tajam untuk merasakan dirinya dalam bahaya.

Mata Charlita terbuka. Semula dia tampak bingung menatapku, sebelum ekspresi ngeri perlahan merayapi wajahnya.

“Ah-“

Terlambat. Kedua taring panjangku sudah menancap di lehernya, sekaligus mengeluarkan bisa. Charlita tidak pernah tersadar lagi. Sesudah puas, aku turun merayap di lantai. Jendela kamarnya sudah agak kubuka tadi, sewaktu masih berwujud manusia. Perlahan aku menyelinap keluar, meninggalkan jenazah berwajah kaget yang pastinya akan tampak sangat mengerikan bagi orang tuanya – saat menemukannya esok pagi…

-***-

“Kerja bagus, anakku.”

Aku senang Bunda memujiku. Saat ini, aku sedang bersantai karena udara masih dingin. Mengikuti instruksi Bunda, besok-besok aku akan mencari korban berikutnya. Ya, manusia yang merasa paling tahu, mana sesamanya yang bersifat ular. Manusia yang gagal mengendalikan lisannya, padahal lidah mereka jauh lebih kaku daripada lidah kami yang tak henti menjulur.

Ya, manusia yang dengan enteng menilai sesamanya: “Culas seperti ular.”

  • Selesai –

R.

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

Aku bukan perempuan romantis. Dulu mungkin iya, sebelum realita mengubahku menjadi sinis. Sebelum luka mengubahku menjadi seorang skeptis.

Bahkan, sejak remaja pun, fantasiku akan hal-hal romantis sudah keburu ‘dibunuh’ oleh cibiran. Mulai dari tubuh gendutku yang selalu dipermasalahkan, dianggap jelek, hingga diprediksi bakal selalu jadi penyebab susah dapat pacar.

“Jangan mau dibodohi rayuan cowok,” kata kakak perempuanku waktu itu. Ironisnya, dia sendiri pencinta lagu-lagu dan film-film romantis. Dia juga paling senang diberi bunga dan dirayu oleh pacarnya. “Itu hanya ada di fiksi.”

Jadilah aku termakan semua ucapan negatif tersebut. Lagipula, sebenarnya dulu aku juga tidak begitu suka dengan konsep pacaran. Untuk apa, sih? Jadinya kayak membatasi pertemanan. Sedikit-sedikit cemburuan. Terlalu banyak aturan.

Lalu, pada akhirnya berantem dan jadi drama. Kemudian putus dan musuhan. Mana masih satu sekolah lagi. Apa enaknya, sih?

Belum lagi kalau cowoknya sakit hati dan memutuskan untuk balas dendam. Misalnya: bikin gosip yang jelek-jelek soal si mantan pacar, bahkan sampai yang tingkat parah seperti: “Dia selingkuh”, “Dia matre”, hingga “Dia gampangan” dan “Eh, dia ‘kan udah nggak perawan lagi, bahkan sebelum sama gue.”

Maka rusaklah reputasi si cewek, bahkan sebelum ada bukti yang kongkrit. (Kalau pun memang benar, apa urusannya dengan seluruh dunia?)

Yang tahan mungkin akan cuek. Yang enggak, tahu-tahu keluar dari sekolah atau diam-diam depresi. Paling parah bunuh diri, seperti yang banyak diekspos di media sosial akhir-akhir ini.

Apa gunanya jatuh cinta kalau akhirnya terluka?

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Pada suatu masa, barangkali iya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan puisi dan prosa, sudah pernah kutulis atas nama cinta. Meskipun demikian, pada kenyataannya, aku tetap seorang lajang yang begitu takut memberi kesempatan pada cinta.

Di sinilah, mereka mulai menyalahkanku. Mengapa aku hanya termangu, tanpa sekali pun berusaha maju? Takut patah hati menjadi alasan basiku.

“Dari mana kamu tahu kalau belum pernah sekali pun mencobanya?”

“Jatuh cinta boleh, tapi tetap harus pakai otak! Hati-hati.”

Ah, sesederhana itukah? Buktinya, aku jadi serba salah. Terlalu hati-hati dibilang kelewat pemilih dan pengecut. Giliran mengambil risiko terus gagal, daftar hinaan bertambah. Mulai dari dianggap kurang hati-hati, kegeeran, sama desperate dan…nggak pake otak.

Begitu pula bila cowok yang kusukai mereka anggap ‘di bawah standar’:

“Nggak ada yang lain?”

Giliran sebaliknya:

“Yakin dia beneran suka sama kamu? Jangan-jangan hanya manfaatin kamu doang.”

Maka kamu tahu jadinya aku seperti apa. Aku kembali ragu. Maju-mundur. Makanya, pada akhirnya semua cowok yang kusukai selalu pergi. Mungkin ini terdengar cengeng, tapi inilah kenyataannya. Aku tidak tahu cara membuat mereka mau tinggal. Aku juga tidak mau memohon. Gengsi. Apa kabar harga diri?

Tanpa kusadari, lama-lama semua tulisanku berubah muram, kering, dan basi. Lebih banyak kisah patah hati dan dendam kesumat (kepada mereka yang dianggap menyakiti dan cari mati). Banyak juga kisah bunuh diri karena depresi.

Aku tidak romantis lagi. Lama-lama tulisanku mulai sering dikeluhkan pembaca: terlalu gloomy.

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Dulu pernah, meski hanya sebentar. Habis itu, tidak lagi.

“Kutunggu kamu, cinta

Bagai lelaki menanti pengantinnya…”*

Apa maksudnya itu? Kamu mengirimiku puisi dengan dua bait itu sebagai sebagian isinya, tanpa penjelasan apa-apa. Apakah kamu sedang mencoba melamarku? Astaga, kamu bahkan belum kukenalkan pada Ibu.

Kita bahkan belum pernah sekali pun bertemu. (Maaf, Sayangku. Video chat tidak dihitung.) Masih kurang, karena kita belum pernah berinteraksi di dunia nyata, saling melihat bagaimana masing-masing di keseharian, dan semacamnya.

Mengapa dua bulan lalu kuputuskan untuk menerima ajakanmu membina hubungan jarak jauh ini?

Ada teman-teman yang lagi-lagi menyarankanku. Cobalah. Siapa tahu kali ini kamulah laki-laki baik yang memang untukku, jodohku.

Ya, aku percaya kamu laki-laki baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada laki-laki di luar sana yang membuktikan mereka salah. Aku pun cantik, berharga, dan patut dicintai. Sejak awal, kamu bahkan tidak takut atau gengsi untuk jujur mengenai kekuranganmu sebagai manusia.

Namun, apakah lantas aku bisa langsung jatuh cinta padamu dan menjawab ya, aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi? Apakah aku akan senaif itu, lalu tega meninggalkan keluarga dan melupakan aturan agama?

Aku mungkin mulai sayang padamu, namun akalku masih menjejak di bumi. Kita masih harus bertemu. Masih banyak yang harus kita bahas.

Mungkin, ada untungnya juga aku bukan perempuan romantis lagi. Aku jadi lebih hati-hati.

Semoga kamu serius. Aku muak kembali merasa (di)bodoh(i).

Mungkin, bila memang kamu orangnya, setelah ini aku bisa kembali menulis sesuatu yang romantis…

– Selesai –

(Jakarta, 4 Februari 2018)

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“OH, JAKARTA!”

“OH, JAKARTA”

Sekembalinya aku dari liburan Sydney, aku tidak pernah sama lagi. Banyak yang telah terjadi.

Apa rasanya kembali ke Jakarta, ke semua kekacauan yang familiar? Polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas (berisik dan ganggu banget soalnya)…

Mungkin ini rasanya terlalu lama berada di satu tempat yang sama. Setiap kali mendapatkan kesempatan traveling ke tempat lain (yang buatku jarang terjadi), hanya satu yang selalu kurasakan saat liburan (harus) berakhir:

Aku tidak mau pulang.

Namun, seperti biasa, akhirnya aku pulang juga. Kembali ke kamar kosku yang sempit namun nyaman, dengan AC, koneksi wifi, dan TV kabel berlangganan. Hanya sesekali aku keluar, entah untuk mencari makan, bertemu teman, hingga kerja. Oh, satu lagi: pulang ke keluarga. Satu hal yang pasti, aku tidak mau dituduh tidak sayang atau mulai lupa sama mereka hanya gara-gara jarang berkunjung.

Hhh, kadang mereka enggan mengerti, ada batas tipis antara peduli dengan menghakimi. Meskipun Mama sudah lama mengerti dengan pilihanku, tidak berarti seluruh dunia harus setuju. Semesta masih menunjukkan warna-warni untukku, lebih beragam dari lampu-lampu dari sekitar Jakarta.

“Kadang elo emang harus belajar diam dan cuek sama mereka,” kata Wina, sahabatku di Sydney. Sudah sembilan tahun dia tinggal di sana bersama suaminya, Ant. “Tapi nggak enaknya, di sini kalo enggak biasa ama sepi elo bisa garing juga, Ri. Jam lima toko-toko udah banyak yang tutup. Nggak banyak temen-temen yang beneran bisa lo andelin di sini.”

Ya, bisa dibilang berbeda dengan Jakarta. Lebih dari tiga dekade aku hidup di sini. Aku menjadi saksi hidup geliat perkembangan (dan kemunduran) ibukota negeri ini. Mulai dari semakin banyaknya mal dan hotel, penggusuran paksa pemukiman rumah penduduk (rata-rata secara kasar atau sabotase berupa pembakaran yang disengaja), dan kursi politik yang kerap jadi rebutan.

Saat baru pulang, Mama seperti bisa melihat sesuatu di wajahku. Bahkan, sebelum aku berani menyebut yang sudah kudiskusikan dengan Wina, Ant, dan Toby (sahabatku yang satu lagi di sana), mendadak Mama menyahut:

“Kamu kalo mau coba aja apply pekerjaan di sana. Siapa tahu…”

Yeah, siapa tahu…

— // —

Semula aku sempat tidak (mau) terlalu memikirkannya. Takut kecewa bila tidak kesampaian. Jadi, untuk beberapa saat, aku hanya kirim CV ke pekerjaan menulis apa pun yang bisa kukirimkan. Bahkan, meski tidak pernah jadi mahasiswa teladan, kucoba juga berburu beasiswa ke sana. Short course tiga – enam bulan pun juga tidak masalah.

Hidup memang lucu. Kadang Tuhan mengujimu dengan cara yang tak pernah kau duga.

Saat Adam mengajakku menikah dan berhasil meraih restu keluargaku, aku tidak menolak. Namun, saat Adam mendapat kabar bahwa pekerjaan barunya mengharuskan dia berada di Sydney, perutku mendadak mulas setengah mati. Antara bahagia…dan sedih.

Bahagia, karena petualangan baru yang kunanti-nantikan akhirnya terkabul. Aku juga akan bertemu Wina, Ant, dan Toby lagi. Menjelajahi Sydney dan sekitarnya. Belajar budaya dan kebiasaan di sana…

Namun, aku juga akan merindukan Jakarta. Bukan, bukan polusi, macet, ketidakteraturan di jalan, orang-orang yang berlaku sembarangan, gundukan sampah, pelaku cat-calling yang berkeliaran bak hewan lepas, dan mal-mal yang tinggi menyesakkan.

Tidak ada lagi jalan-jalan sama Mama, memeluk para keponakan, makan sate ayam di pinggir jalan, datang ke perkumpulan puisi, dan…ah, masih banyak lagi.

Oh, Jakarta. Ternyata jeratmu masih kuat juga…

R.

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.