Wajah-wajah

Bisa jadi ini kemunafikan seseorang – atau usaha bertahan hidup di masyarakat ini. Kadang juga bisa keduanya. Terkadang karena pilihan, di lain waktu karena kebutuhan.

Terkadang bisa keduanya.

Beberapa orang mengatakan bahwa kejujuran masih merupakan kebijakan terbaik. (Serius, nih?) Katakan apa pun yang Anda pikirkan atau rasakan saat ini. Tidak usah peduli reaksi mereka. Jika mereka terluka atau tersinggung oleh kebenaran (menurut Anda), maka itu bukan masalah Anda. Mereka adalah orang-orang yang perlu bersikap dewasa dan menerima kenyataan. Ya, ‘kan?

Yang lain menyarankan diam sebagai tindakan damai. Jangan bertengkar. Apa gunanya berdebat, terutama karena hal-hal sepele? (Eh, kata siapa?) Beberapa hal lebih baik tidak perlu diucapkan.

Namun, kebijakan semacam itu dapat menyebabkan bom waktu dalam diri kita. Hanya masalah waktu sebelum akhirnya bom itu meledak. Saat terjadi, pastinya lebih buruk.

Inilah akibatnya bila masalah penting tidak sepenuhnya diselesaikan. Tidak ada kedamaian sejati kecuali kesunyian akibat ada yang merasa tertekan. Ada pihak-pihak tertentu yang secara konsisten ditindas, semua atas nama stabilitas.

Mari jujur ​​pada diri sendiri. Kita sering menunjukkan wajah yang berbeda kepada orang-orang berbeda di sekitar kita. Keluarga Anda mungkin tidak mengenal Anda dengan cara yang sama seperti teman Anda – begitu pula sebaliknya. Hal yang sama berlaku untuk pasangan, rekan kerja, dan orang-orang yang kita sebut ‘hanya kenalan’.

Oh, jangan lupakan orang asing yang melihat Anda juga – terutama mereka yang merasa tahu segalanya.

Tentunya, kita semua memiliki banyak wajah. Ada beberapa yang hanya ditunjukkan kepada beberapa orang. Ada yang ditunjukkan kepada semua.

Tentu saja, setidaknya ada setidaknya satu wajah yang hanya ditunjukkan pada diri sendiri. Inilah wajah kebenaran pribadi yang hanya diketahui oleh Tuhan. Kita menyembunyikannya dari sesama manusia, sadar atau tidak. Mengapa kita melakukannya?

Siapa yang mau kita bodohi? Kita tidak senaif itu. Inilah sebabnya saya tidak percaya pada horoskop / zodiak, tes Myers-Briggs, atau hal lain seperti itu. Saya juga skeptis dengan orang-orang yang mengklaim bahwa mereka selalu – atau selamanya – introvert atau ekstrovert.

Pertama, semua orang berubah. Peristiwa hidup tertentu, terutama yang paling traumatis, dapat mengubah perilaku, sikap, dan pilihan mereka. Beberapa orang memang menjadikannya alasan untuk menyakiti orang lain, sementara yang lain masih ingat untuk membuat pilihan yang lebih baik.

Keluarga Anda sendiri mungkin mengenal Anda sebagai pendiam. Saat bersama teman, Anda berbeda. Anda ramai dan lebih berisik. Saat bersama pasangan, Anda mungkin lebih berbeda atau kombinasi dari beberapa sikap yang Anda tunjukkan kepada orang lain.

Kita semua punya alasan untuk melakukan pilihan kita. Kita tahu siapa yang menerima kita apa adanya. Kita tahu siapa yang tidak atau bahkan tidak mau.

Kita juga memperhatikan siapa yang tidak peduli, apa pun yang kita lakukan dan cara kita membawa diri. Sama seperti sebagian dari kita yang memilih untuk tidak peduli akan disukai orang lain atau tidak. Mereka adalah jenis orang yang tidak merasakan kebutuhan untuk perhatian. Pikiran mereka bebas dari rasa sakit akan penolakan.

Yang benar adalah, tidak ada yang benar-benar jujur. Kita hanya bisa menjadi 100% diri sendiri saat sendirian. Kita tidak pernah bisa benar-benar menyenangkan semua orang di dunia, bahkan mereka yang kita cintai dan yang (mengaku) ​​menyayangi kita. Kita semua punya harapan.

Jadi, wajah seperti apa yang sering Anda tunjukkan?R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *