Perjalanan Terburukku dengan Kereta Api

Foto: https://unsplash.com/photos/YQaNsGzQe48

Yang namanya serba mepet alias last minute itu benar-benar menyebalkan. Apalagi bila kebetulan kamu sudah lama tidak traveling dengan apa pun.

Singkat cerita, aku tidak merencanakan perjalanan ini dengan matang akhir pekan itu. Bagaimana tidak? Ini undangan kopdar (kopi darat) kru redaksi media online tempatku bekerja selama dua tahun terakhir. Setelah lama hanya menyapa di platform media sosial, akhirnya kita bertemu muka. Sebuah vila di pinggiran kota Jogja yang sunyi dan masih adem menjadi pilihan tempat untuk berkumpul.

Jadi, hitungannya bukan benar-benar liburan, meskipun diadakan selama akhir pekan. Lagipula, Senin siang aku sudah harus mengajar corporate training di salah satu perusahaan klien.

Singkat cerita, aku sempat agak kelabakan saat mempersiapkan perjalanan perdana naik kereta api seorang diri. (Serius.) Pekerjaanku sebagai pengajar kursus part-time sekaligus penulis dan penerjemah freelance membuatku harus siap berakrobat dengan jadwal. Bayangkan, setelah semua urusan yang harus kuselesaikan di Jakarta kelar, aku baru bisa membeli tiket kereta sehari sebelum saatnya berangkat. Untung masih dapat di kelas bisnis, demi kenyamanan. Aku tidak mau munafik dan sok mengirit. Perjalanan yang cukup panjang – memakan waktu sekitar enam jam – takkan terasa nyaman dengan kelas ekonomi.

Sabtu pagi, aku sudah menaiki kereta dari Stasiun Gambir. Aku duduk seorang diri. Tadinya sih, mau sok-sokan seperti karakter di buku-buku atau film-film favoritku. Ya, seperti karakter Michael yang diperankan oleh Liam Neeson di film “The Commuter”. Setiap naik kereta, selama mendapatkan tempat duduk, Michael selalu menyempatkan diri untuk membaca buku yang dibawanya.

Sayangnya, novel yang sedang kubawa hanya berakhir di dalam tas, karena ternyata aku pusing saat mencoba hal yang sama. Akhirnya, aku hanya duduk menatap ke luar jendela. Mau mencoba menulis atau menggambar juga sama saja. Aku bahkan malah tertidur…sehingga hampir melewatkan makan siang. Agak-agak tidak yakin apakah mereka tetap akan meninggalkan makanan di sampingku bila melihatku tertidur.

Untunglah, perjalanan naik kereta berakhir. Aku tiba di Stasiun Tugu menjelang sore. Tanpa pikir panjang karena sudah terburu waktu, aku mencegat taksi untuk mengantarkanku ke tujuan…

-//-

Singkat cerita, aku kehabisan tiket pulang. Alih-alih bisa segera pulang pada Minggu sore, aku baru mendapatkan tiket kereta api pada hari Senin…jam tiga pagi. Karena tidak mungkin berlama-lama di vila sewaan sesudah acara berakhir, aku memutuskan untuk wara-wiri dulu di Malioboro seorang diri. Sempat berhenti di satu restoran untuk makan sore, meskipun entah kenapa…tiba-tiba aku merasa mual.

Duuuh…jangan sakit, dong, tegurku pada diri sendiri. Semoga ini bukan gara-gara tengkleng gajah yang kumakan semalam sebelumnya – atau kurang tidur karena terlalu senang dengan rangkaian acara kumpul redaksi. Agak ngeri juga bila kolesterol mendadak lebih tinggi.

Langit sore semakin menggelap. Kusadari rencana untuk tetap melek hingga Senin dini hari sangat tidak realistis. Aku kelelahan. Sempat aku menyewa kamar losmen termurah untuk tidur selama beberapa jam. Pemiliknya tampak bingung, karena aku rela membayar penuh.

“Istirahat sebelum mengejar kereta jam tiga di Tugu,” kataku menjelaskan. Pemilik losmen hanya manggut-manggut. Untung beliau cepat tanggap, karena saat tengah malam aku checkout, beliau masih terjaga.

Tunggu sebentar. Kenapa tengah malam? Mendadak aku terbangun karena mual tak terperi. Aku sukses memuntahkan makananku di kamar mandi. Karena khawatir akan tertinggal kereta bila tertidur lagi, akhirnya aku menggosok gigi, mencuci muka, sebelum berkemas untuk pergi. Kuberikan kunci kamar pada pemilik losmen sambil mengucapkan terima kasih, sebelum keluar dan memutuskan untuk naik becak langsung ke Stasiun Tugu. Toh, jaraknya cukup dekat ini.

Penantian selama dua setengah jam di stasiun untuk kereta api-ku tak kalah menyiksa. Udara dingin, aku terlanjur masuk angin. Aku hanya duduk bersandar pada satu bangku sambil sibuk mengkonsumsi Tolak Angin yang kubeli di Alfamart terdekat.

Perjalanan pulang dengan kereta kali ini lebih menyiksa daripada sewaktu pergi. Aku seperti sudah tidak berselera melihat apa-apa lagi. Kali ini aku lebih banyak tidur, sampai melewatkan sarapan yang dibagikan. Sial. Masuk anginku semakin parah. Untung aku tidak kelewatan makan siang.

Mau tahu separah apa sakitku waktu itu? Seorang laki-laki tampan yang duduk di seberangku saja sudah tidak menarik minatku. Yang kuinginkan hanya pulang…dan tidur. Aku bahkan sudah meminta izin bosku untuk tidak mengajar hari itu.

Mau tahu yang lebih memalukan lagi? Berpasang-pasang mata menatapku prihatin saat aku sukses menghabiskan empat kantong plastik hitam yang tersedia…hanya untuk muntah lagi. Mungkin mereka berpikir begini:

“Kasihan, sudah perginya sendirian, sakit pula.”

Akhirnya, keretaku tiba di Stasiun Gambir pada sore hari. Untung isi tasku tidak berat, jadi aku masih bisa cepat-cepat keluar untuk mencari taksi. Ajaib aku masih bisa sadar dan berbicara normal pada supirnya, karena begitu tiba di kamar kosanku, aku langsung ambruk di tempat tidur…dan baru terbangun 12 jam kemudian dengan sakit kepala dan rasa mual yang lumayan mereda.

Hhh, ada-ada saja. Untung tidak sampai pingsan di kereta…

R.

(Dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta – 6 Agustus 2020. Topik: “Perjalanan Naik Kereta”)

2 thoughts on “Perjalanan Terburukku dengan Kereta Api

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *