Categories
#catatan-harian #menulis CeritaSetelahBaca

#CeritaSetelahBaca – “Bergidik Berkat KELAB DALAM SWALAYAN”

Sumber: Gramedia.com

#CeritaSetelahBaca – “Bergidik Berkat KELAB DALAM SWALAYAN”

Pertama kali membaca novel debut Abi Ardianda ini, judulnya saja sudah bikin penasaran. Kelab macam apa yang ada di dalam swalayan? Mengapa sepertinya hanya Sonja yang sadar akan keberadaan kelab misterius tersebut?

Tumbuh dengan ragam bacaan dan tontonan genre misteri, detektif, psikologi, dan thriller sukses membuatku langsung suka dengan buku ini. Sejak awal, ketegangan demi ketegangan dalam nuansa muram sudah dibangun dengan rapi. Bagai bermain jigsaw puzzle, setiap kepingan misteri secara bertahap ditemukan oleh Sonja. Sonja, yang sejak kecil hidup dengan ibu dan kedua kakak perempuannya sudah terbiasa dengan tangan dingin sang ibu yang otoriter. Banyak sekali aturan dan larangan yang wajib dipatuhi Sonja tanpa syarat.

Makanya, kelab dalam swalayan misterius tersebut seakan menawarkan pelarian sementara bagi Sonja yang selalu dituntut untuk tampil sempurna bagi semua orang. Bahkan, calon suaminya, Nohan yang tampan, kaya, dan sukses, lama-lama membuat Sonja sesak dan bosan.

Siapa sangka, kelab dalam swalayan tersebut juga menguak rahasia kelam yang mengancam kesempurnaan hidup Sonja …

Meskipun alurnya sedikit lambat dan banyak detail penting, membaca “Kelab Dalam Swalayan” seru bagi pencinta cerita misteri, detektif, dan thriller psikologi. Konsep premisnya sederhana, namun begitu mengena:

“Ada rahasia berupa cela di balik yang tampak sempurna … “

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Baca pada tahun 2019. Novel Abi Ardianda lainnya adalah “Laila Tak Pulang”.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Di Tengah?

Di Tengah?

Bagaimana rasanya berada di tengah-tengah persoalan orang lain? Gak usah dibahas. Pastinya memusingkan, apalagi bila kebetulan kamu kenal dengan mereka yang udah terlibat.

Kalo udah pake rasa sayang segala, pastinya mau objektif jadi rasa susah, ya? Bawaannya baper mulu. Makanya dokter sebaiknya tidak menangani pasien penyakit kronis bila kebetulan masih keluarga sendiri.

Lalu, gimana rasanya ada di tengah?

 

Kebetulan … atau Takdir?

Hmm, sebenernya aku nggak boleh bertanya-tanya seperti ini. Tapi gimana ya, kalo selama ini aku ibarat sudah melihat ‘algoritma’ hidupku sendiri? Pokoknya hampir mirip-mirip.

Pertama, aku lahir sebagai anak tengah. Aku punya kakak perempuan dan adik laki-laki. Berkat keduanya, aku bisa berteman dengan perempuan maupun laki-laki. Dari situ, pertemananku lumayan meluas, meski tak selalu tampak di mata orang awam.

Mulai dari beda agama, beda kelas sosial, hingga orientasi seksual – pokoknya sebut saja. Tapi, meskipun demikian, aku masih punya Batasan. Aku paling tidak tahan bila sampai harus berteman dengan:

  1. Orang yang paling suka memaksakan kehendak hingga standar hidup mereka kepada orang lain.

Begini, ya. Sebisa mungkin aku tidak akan mengusik-usik pilihan hidup orang lain. Tentu saja, dengan catatan: pilihan hidup mereka tidak sampai merugikan atau menyakiti orang lain.

Tapi, kalau hal itu membuat mereka sampai merasa sebagai “si paling benar / ideal”, maka aku jadi malas berurusan dengan mereka. Paling parah yang modelnya sampai merendahkan hingga menyumpahi mereka yang punya pilihan berbeda dengan doa yang jelek-jelek. Contoh: kamu perempuan yang cukup santai soal jodoh meski sudah berusia di atas 35 tahun. Gara-gara itu, mereka (terutama laki-laki dan siapa pun yang sudah menikah duluan) merasa berhak menghinamu dengan sebutan ‘perawan tua’ dan berharap kamu akan merana sendirian di usia senja.

  1. Laki-laki misoginis dan perempuan penjilat patriarki (pick-me girls).

Persetan bila masih ada yang (memilih) salah sangka dan mengira aku benci laki-laki. Aku sudah terlalu malas dan muak berusaha menjelaskan apa-apa pada mereka. Biarlah mereka terbutakan oleh salah paham mereka sendiri. Susah memang kalo orang sudah merasa paling benar.

Buat yang masih ingin menyimak, laki-laki misoginis adalah laki-laki yang membenci perempuan hanya karena mereka perempuan. Maksudnya? Oh, ayolah. Contohnya sudah terlalu banyak. Laki-laki yang belum apa-apa sudah sinis duluan sama pemimpin perempuan, suami yang jadi nyolot gara-gara gaji kalah tinggi sama istri (padahal belum tentu istri jadi tidak menghormati lagi!), hingga laki-laki yang menganggap perempuan bawel, reseh, rewel, sulit diatur, hingga dianggap “lupa kodrat” hanya karena berani mendebat mereka.

Padahal, laki-laki tidak selalu benar dan paling berlogika, lho! Perempuan juga belum tentu asal mendebat atau hanya pake emosi alias gak berotak. Kalo memang ada ketidakadilan, ya harus dilawan.

Nah, kalo ‘pick-me girls’? Mereka ini termasuk pengkhianat kaumnya sendiri. Mereka hobi menjilat laki-laki dengan cara menjatuhkan sesama perempuan. Contohnya udah banyak banget, kayak:

  • Si tomboy yang mengejek si feminin.

Ini gambaran umum perempuan dengan ‘internalized misogyny’. Mereka tipe perempuan yang dengan bangganya mengaku lebih senang berteman dengan laki-laki, karena menurut mereka sesama perempuan LEBIH BANYAK DRAMA.

Perempuan ini memusuhi yang serba feminin, karena menganggapnya sebagai ‘kelemahan’. Mereka cenderung lebih memuja yang serba maskulin. Padahal, belum tentu juga mereka bakalan dianggap setara sama laki-laki yang mereka bela mati-matian sampai menghina sesama perempuan.

Yang ada malah dimanfaatin.

  • Si ‘tradwife-wannabe’ (perempuan yang ingin jadi ibu rumah tangga).

Gak ada yang salah kalo kamu perempuan yang beneran ingin jadi ibu rumah tangga sesuai peran tradisional istri dalam pernikahan. Trad-wife = traditional wife.

Cuma, kamu jadi sosok nyebelin kalo lantas nyinyirin pilihan perempuan lain yang berbeda. Terus kenapa kalo emang mereka memilih berkarir di kantor atau belum mau menikah dulu? Paling ganggu kalo kamu nyinyir begini: “Udahlah, ngapain cewek capek-capek kerja? Biar cowok aja yang cari nafkah. Cewek cukup senang-senang di rumah!”

Kecuali yang ngomong punya suami super kaya yang bisa menyewa asisten rumah tangga saat si nyonya kecapekan, ucapan di atas sangat tidak realistis dan termasuk ‘tone deaf’ (gak peka). Terserahlah bila mereka merasa demikian.

Tapi, nggak usahlah ngatur-ngatur hidup orang lain.

Apa kesamaan mereka berdua sebagai ‘pick-me girls’? Tentu saja, mereka sama-sama merasa (paling) paham akan kebutuhan laki-laki dan bisa jadi pahlawan ego mereka.

 

Meskipun anak tengah dan terkesan bisa berteman dengan siapa saja, semua yang kusebutkan di atas itu pengecualian.

 

R.