Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Tips Main-main Antar Komunitas yang Aman, Nyaman, dan Tetap Sopan di Jakarta

5 Tips Main-main Antar Komunitas yang Aman, Nyaman, dan Tetap Sopan di Jakarta

Bosan keliling mall tanpa tujuan jelas? Malas nongkrong berlama-lama di kafe tanpa ada kegiatan jelas atau obrolan berguna bareng teman? Berarti ini saatnya kamu mulai menjajal berbagai komunitas yang ada di Jakarta. Tinggal cek di mesin pencari macam Google atau sesuaikan algoritma media sosialmu. Bahkan, kamu tidak perlu pakai aplikasi kencan segala.

Misalnya: kamu yang suka buku bisa gabung di klub buku. Setiap bulan, kalian berkumpul untuk membahas buku genre atau karya penulis tertentu. Kalau kamu suka menulis, bergabunglah dengan komunitas penulis. Yang suka foto-foto bisa ikut klub fotografi. Pencinta olahraga bisa ikutan komunitas yang rajin meramaikan CFD (car free day), lapangan padel, atau apa pun jenis olahraga yang sama-sama kalian sukai.

Kalau punya minat lebih dari satu? Tentu saja boleh. Siapa yang berhak melarangmu ikut berbagai komunitas sekaligus, selama kamu bisa bagi waktu dan senang-senang saja? Ibarat buku cerita “pilih sendiri petualanganmu”.

Eh, tapi ingat. Main-main antar komunitas tetap ada aturan tak tertulis. Mau tetap aman, nyaman, sekaligus menjaga kesopanan? Berikut tips-nya:

  1. Ikuti aturan komunitas setempat, baik yang tertulis maupun tidak.

Meskipun terkesan bebas dan santai, ada aturan komunitas yang tetap harus dipatuhi. Misalnya: datang tepat waktu, berbusana sopan, hingga yang paling serius macam “hormati sesama anggota komunitas, baik penyelenggara maupun peserta” dan tidak melakukan pelecehan hingga kekerasan.

  1. Bersosialisasilah dengan semua orang.

Namanya juga komunitas sosial. Masa iya mau tetap mojok sendirian? Bersosialisasi dengan semua orang tidak otomatis harus berteman dengan semuanya atau menjadi people pleaser.

Gak ada salahnya dengan berusaha mengenal sebanyak mungkin orang. Kita nggak pernah tahu di mana kita akan menemukan rezeki tambahan. Bisa jadi, dari mereka-lah kamu mendapat tawaran pekerjaan lebih baik … atau … jodoh, mungkin?

  1. Tinggalkan perilaku egosentris di luar ranah komunitas.

Sebisa mungkin, utamakan keamanan dan kenyamanan bersama. Masalahnya, komunitas jadi terasa tidak nyaman bila apa-apa terlalu dominan mengikuti kemauan satu atau segelintir orang saja. Paling parah bila caranya memaksa dan intimidasi. Jangan heran bila lama-lama komunitasnya jadi sepi.

  1. Hindari persaingan tak sehat, apalagi yang tidak penting.

Kultur komunitas akan terasa semakin seru tanpa saling bersaing yang tidak perlu. Okelah, kita semua punya selera masing-masing. Namun, hindarilah sampai menjelek-jelekkan komunitas lain. Kita nggak pernah tahu masa depan. Bisa jadi, suatu saat kita yang butuh mereka atau mereka yang butuh kita.

Lagipula, saingan melulu emang bakal dapat hadiah apaan, sih?

  1. Tahu saatnya diam maupun waktunya bicara.

Sama seperti di forum-forum lain di masyarakat, kamu pasti akan ketemu beragam jenis orang di komunitas. Sayangnya, tidak semua manusia menyenangkan. Bahkan, ada yang kehadirannya malah senang bikin drama.

Bila drama tersebut tidak melibatkanmu, gak usah ikutan. Gak usah sok-sok membela salah satu pihak atau jadi penengah, meskipun kebetulan salah satu temanmu terlibat.

Gimana kalo kamu yang diajak ribut? Gak perlu reaktif dan membela diri bila kamu memang tidak salah. Hadapi dengan tenang. Tapi, kalo kamu memang salah, sebaiknya minta maaf. Gak mau ‘kan, kamu sampai didepak dari komunitas atau kena cancel?

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“ALASANKU AKHIR-AKHIR INI JARANG UPDATE BLOG SENDIRI”

Sebenarnya ada rasa tidak enak saat harus mengakui hal ini. Tapi, lagi-lagi aku memang harus sering-sering mengingatkan diri sendiri. Maaf, ya. Inilah beberapa alasan akhir-akhir ini aku jarang banget update blog sendiri:

  1. Maaf, aku sibuk kerja.

Mengapa dulu sempat, terus akhir-akhir ini tidak? Hehe, hingga akhir tahun 2025 kemarin aku harus bolak-balik commuting ke tempat kerja. Naik transport umum, dengan durasi perjalanan dua hingga tiga jam!

Alhasil, aku jadi sulit mencari waktu menulis. Pas sebelum ngantor, sudah diburu waktu. Pas di kantor juga mustahil curi-curi waktu. Bukan apa-apa, takut ketahuan lagi ngerjain yang bukan kerjaan kantor, tapi pas jam kantor, hehe.

Lalu, gimana pas pulang kantor? Pernah sih, aku mencoba menulis di bus. Sayangnya, aku tidak selalu berhasil melakukannya. Selain belum tentu akan selalu kebagian tempat duduk selama perjalanan pulang, ternyata malah aku jadi sakit kepala. Boro-boro menulis, membaca di bus saja sering pusing.

  1. Keseringan ikut tantangan menulis (writing challenge) di Instagram (IG).

Oke, ini satu godaan lain yang kerap membuatku menelantarkan blog ini. Banyaknya tantangan menulis / writing challenge (terutama yang 30 hari) di IG praktis membuatku tergoda. Apalagi, exposure – nya langsung jelas.

Maka itu, jadilah aku lebih banyak menulis untuk IG. Aku tahu, seharusnya aku meluangkan waktu untuk blog ini. Rasanya seperti punya rumah yang lama tidak dihuni, hehe. Yah, semoga tahun ini aku lebih banyak menulis juga di sini.

  1. Hidup yang sempat agak (terlalu) monoton.

Gimana nggak monoton? Kerja-rumah-kerja-rumah. Kebanyakan di jalan karena commuting. Pernah sih, aku coba variasi hidup dengan mulai ikut berbagai komunitas. Yah, mulai ketemu banyak orang lagi, hanya biar lebih terpacu untuk banyak menulis lagi.

Sayang, hasilnya malah makin … capek. Alhasil, aku malah gak jadi nulis apa pun selain yang di IG.

Yah, berhubung aku mengawali 2026 ini dengan kerja part-time dan freelance secara remote, semoga aku akan punya lebih banyak waktu untuk menulis lagi.

 

R.