3 Alasan Wajib Pikir-pikir Lagi Sebelum Oversharing Kehidupan Pribadimu di Dunia Maya

Foto: https://www.freepik.com/free-vector/influencer-woman-social-media-landing-page_5481523.htm#page=1&query=social%20media%20influencer&position=1

Mungkin saya terdengar julid, tapi saya yakin bukan saya saja yang berpendapat begini. Saya juga enggan menyebut nama influencer siapa pun sebagai contoh kasus. Tinggal Google atau cek yang lagi trending di medsos, kalian pasti langsung nemu.

Terserah sih, berhubung itu bukan akun atau platform saya. Apalagi kalau cara itu bisa bikin mereka dapat uang lebih banyak dari kerja kantoran biasa. Saya juga nggak mau mengatur-atur cara orang mencari nafkah, selama masih halal dan tidak merugikan orang lain.

Tapi, setelah melihat banyaknya contoh kasus oversharing kehidupan pribadi seorang influencer di dunia maya yang berujung ricuh, mungkin saya hanya bisa kasih saran untuk yang baru kepikiran untuk ikutan jadi influencer. Terserah sih, mau diikuti atau tidaknya.

Kenapa sih, kamu harus pikir-pikir lagi sebelum terlalu banyak berbagi soal kehidupan pribadimu di dunia maya? Ini dia tiga (3) alasan utamanya:

  • Nggak semua orang tertarik untuk mengetahui hidupmu.

Mungkin ini terdengar kejam seperti omongan julid mereka yang sirik. Pada kenyataannya, nggak semua orang tertarik untuk mengetahui hidupmu. Apalagi, bisa jadi yang kamu lakukan itu belum tentu seistimewa itu di mata mereka. Lain cerita kalau kontenmu menghibur, tapi lebih mendidik dan menginspirasi.

Misalnya: kamu suka banget sama satu jenis makanan tertentu, terus kepikiran bikin beragam menu dari bahan makanan tersebut. Atau kamu bisa memposting video parodi film-film lucu favoritmu. (Khusus ini, kamu memang harus jago akting beneran.) Atau kamu bisa bikin eksperimen sosial yang lain daripada yang lain. Misalnya: sehari pakai wig rambut warna pelangi di ruang publik.

Emang, untuk saran-saran di atas effort-nya lebih gede. Jadi gak asal nge-prank orang tapi gak berfaedah atau pun pamer barang-barang mahal tanpa tujuan jelas.

  • Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang – dan nggak semua kritikus itu benci secara pribadi sama kamu.

Ayolah, bahkan sebenarnya kamu sudah tahu saat berinteraksi dengan sesama manusia lain di dunia nyata. Kamu nggak akan bisa menyenangkan semua orang, meskipun kamu sudah berusaha mengambil hati mereka. Namanya juga hidup. Cukup fokus sama hal-hal yang bisa kamu kendalikan dalam hidup ini.

Memang, nggak menutup kemungkinan bakal ada juga yang gerah dengan kontenmu. Apalagi bila menurut mereka konten kamu itu ‘enggak banget’. Nah, di sini kamu harus bisa menekan egomu dan bijak dalam menyeleksi: mana kritikus yang sebaiknya kamu dengerin dan mana yang asli haters.

Belum bisa bedain? Hei, nggak semua kritikus itu benci secara pribadi sama kamu, kok. Bisa jadi, tadinya mereka followers kamu yang kemudian merasa kecewa dengan mutu kontenmu. Kalau mereka memang punya saran yang bagus, kenapa nggak hargai mereka yang mungkin hanya ingin melihat kamu menjadi content creator yang lebih baik lagi? Toh, pada akhirnya, keputusan tetap ada di tanganmu.

Kalau mereka hanya mengkritik tanpa memberi solusi, apalagi ditambah dengan menghina menggunakan makian kasar, berarti mereka memang benci sama kamu. Nggak perlu membela diri atau menjelaskan apa-apa kalau memang kamu nggak merasa salah. Toh, meskipun kamu sudah berusaha menjadi lebih baik, kalau mereka masih begitu, berarti memang asli sentimen aja.

Bisa jadi, mereka lama-lama risih juga dengan kehidupan pribadimu yang terlalu sering kamu jadikan konten. Dengan semakin berkurangnya ruang untuk privasimu, kamu bisa rentan mengalami alasan berikut ini:

  • Demi menyenangkan semua orang, kamu rentan dikendalikan oleh followers-mu sendiri.

Memang menyenangkan rasanya disukai banyak orang, meskipun nggak semuanya kamu kenal secara langsung. Rasanya ngartis (jadi artis) dengan banyak penggemar. Rasanya kayak punya banyak teman.

Cuma, hati-hati aja. Kamu bisa kejebak dalam kondisi ini: jadi diatur-atur sama banyak orang lewat komentar-komentar followers kamu. Gara-gara takut kekurangan likes dan views hingga kehilangan followers, kamu jadi rela – bahkan mati-matian – mengubah dirimu menjadi sosok yang berbeda.

Kalau memang kamu-nya ingin berubah menjadi lebih baik demi kenyamananmu sendiri sih, nggak masalah. Lain cerita kalau kamu justru melakukannya demi menyenangkan dan memenuhi tuntutan orang lain. Apalagi, orang-orang ini statusnya orang-orang asing buatmu, bukan keluarga maupun teman.

Diatur-atur keluarga sendiri atau teman saja belum tentu semua mau. Ini, kamu malah menuruti orang-orang yang sama sekali nggak kamu kenal dan hanya kenal kamu lewat “pencitraan” di dunia maya.

Makanya, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bikin konten dari kehidupan pribadimu. Jangankan sampai oversharing, berbagi sedikit saja juga belum tentu akan disukai semua orang. Kamu juga akan mudah tertekan secara mental bila tujuan utamamu bikin konten adalah biar disenangi banyak orang sekaligus monetisasi.

Jangan lupa juga untuk bersenang-senang, selama tidak merugikan diri sendiri maupun sesama. Jadilah inspirasi, alih-alih hanya “biar dilihat”. Sudah terlalu banyak influencer lokal yang melakukan hal serupa.

R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *