Bermain Kata dan Rima Bersama “BERPUISI DENGAN GEMBIRA”
Komunitas puisi di Jakarta bisa dibilang cukup banyak. Sebenarnya, aku sudah lama wira-wiri antar komunitas puisi di Jakarta, tepatnya sejak 2015. Namun, karena dulu belum kepikiran untuk menulis ulasan tentang tiap komunitas yang pernah kudatangi di blog, aku hanya kepikiran posting penampilanku saja selama di sana di akun media sosialku.
Nah, mulai 2026 ini (meskipun telat juga), kuputuskan untuk mulai sering bikin review soal berbagai kegiatan komunitas yang kuikuti di Jakarta. Sekadar informasi, ini proyek sukarela. Tidak ada yang secara khusus membayarku maupun mengajakku jadi endorser mereka. Ada yang sudah kutulis juga di blog Bahasa Inggris milikku di https://rubyastari.medium.com/ . Yang lainnya di sini.
Sekilas Mengenai Berpuisi Dengan Gembira
Christian Paskah Pardamean Situmorang adalah salah satu pendiri komunitas puisi ini. Berpuisi Dengan Gembira hadir dengan kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, dikritik, dan dilecehkan.
Kelompok ini dibangun pada 1 Desember 2023 dengan sebuah pembacaan puisi daring. Acara ini mendapatkan sambutan luas saat diadakan di Kedai Patjarmerah pada Januari 2024 lalu oleh Christian, beserta Annisa Ramadhani, Radhitya Yoga, Nanda Putri Nugrahani, dan Fadhila Eka Ratnasari.
Meskipun baru dua kali menghadiri acara Berpuisi Dengan Gembira sejauh ini, aku mendapat kesan baik dan menyenangkan dari kegiatan mereka:
Januari 2026
Ini kegiatan perdanaku bersama Berpuisi Dengan Gembira. Tanggal 17 Januari 2026, mereka mengadakan acara membaca puisi secara daring berjudul “Terima Kasih Sudah Bertahan”. Mereka bahkan mengundang Ratih Ratnasari, M.Psi. Di sini, Kak Ratih berperan sebagai fasiliator.
Berhubung aku tidak bisa banyak bercerita karena ada peserta yang tidak bersedia diekspos, aku hanya akan menulis review ini dari sudut pandangku saja.
Singkat cerita, malam itu peserta diajak berefleksi mengenai alasan mereka bertahan hidup hingga sejauh ini. Setelah itu, masing-masing peserta dipersilakan untuk menulis puisi selama 20 menit.
Penasaran dengan puisiku? Sayangnya, aku tidak bisa menunjukkannya di sini. Aku mengikutsertakan puisi tersebut dalam buku kumpulan puisi komunitas ini. Ya, Berpuisi Dengan Gembira merayakan tiga tahun keberadaan mereka. Kapan bukunya akan keluar? Ditunggu saja!
Maret 2026
Karena Kongsi 8, Jatinegara, Jakarta Timur, akan ditutup permanen pada 15 Maret 2026, Berpuisi Dengan Gembira menyempatkan diri menggelar acara puisi di sana. Pada 7 Maret 2026 (bertepatan di tengah bulan puasa bagi umat Muslim, Ramadan), acara mereka bertajuk “Hangat di Kening, Manis Dikenang”.
Sayangnya, sore itu aku tidak bisa berlama-lama di sana. Namun, setidaknya aku menyempatkan membaca satu puisi, berinteraksi dengan kawan-kawan sesama pencinta puisi, dan juga mengelus-elus kucing abu-abu gelap yang gemuk dan lucu – yang dipanggil ‘Sayang’.
Nah, kalau saat ini, aku bisa membagi puisiku di sini:
“Puisi Perpisahan”
Harapan yang kumiliki saat ini
Adalah agar Tuhan yang Maha Kuasa
Sudi menghapus rasa kasih yang tak sampai
Dari hati yang kian renta dan lelah ini
Dan mengganti isinya dengan pengingat
Bahwa taka da yang selamanya menetap …
Semoga aku bisa terus ikut kegiatan-kegiatan selanjutnya bersama Berpuisi Dengan Gembira.
R.