Categories
#catatan-harian #menulis

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

“Life begins at/after 40.”

Banyak yang bilang begini saat ultah saya November kemarin. (Iya, saya sudah 40 sekarang.) Jujur, saya sempat terbingung-bingung.

Bila hidup dimulai saat seseorang berusia/sesudah 40 tahun, berarti kemaren-kemaren ke mana aja? Ngelindur apa koma?

Banyak teori seputar pernyataan soal usia 40. Iseng-iseng saya cek lewat Google:

  • Ada buku motivasi berjudul sama karya Walter B. Pitkin. Cuma, kalo tanya saya, kayaknya saya nggak gitu tertarik baca. (Tumben, mengingat saya masih jadi pencinta setia buku meskipun di era digital ini.) Takutnya isi bukunya sudah nggak gitu relevan lagi dengan zaman sekarang.
  • Ada yang bilang, usia 40 berarti (harusnya) usia seseorang sudah ‘ajeg’ dengan banyak hal. Ya, sudah selesai dengan dirinya, sudah jelas tujuan hidupnya, dan sudah punya cukup banyak keahlian untuk bertahan hidup. Yang pasti, udah bukan saatnya lagi terlalu main-main dengan banyak hal.
  • Ada juga yang beranggapan bahwa usia 40 berarti mulai siap kehilangan lebih banyak. Ya, kehilangan masa muda, jatah umur, sampai orang-orang yang dulunya dekat sekarang jauh. Bahkan, meskipun jauhnya belum tentu karena musuhan juga.

Selain itu, dunia karir dan percintaan juga mulai berkurang dari segi ‘keramahan’. Apalagi kalau kebetulan kamu seorang perempuan. Di dunia karir (terutama akhir-akhir ini), lebih banyak perusahaan yang memilih rekrutan yang berusia lebih muda. Realistis saja. Yang belum punya banyak pengalaman kerja relatif lebih bisa digembleng, belum terlalu keras kepala seperti yang sudah lebih tua, dan … bisa dibayar murah.

Dalam dunia percintaan (terutama di Indonesia) sialnya, perempuan lajang berusia 30+ paling banyak dipojokkan. Dibilang perawan tua-lah, udah gak laku-lah, sampai disuruh jangan terlalu milih. Ironisnya, pas masih muda juga dinasihatin agar jangan terlalu agresif. Gak konsisten, deh.

Yang bisa bertahan tetap waras hanyalah mereka yang mau belajar bersikap cuek. Pada kenyataannya, berusaha memenuhi standar orang lain terus-terusan itu lama-lama memuakkan. Enak di mereka, rugi di kita. Mereka bebas ngebacot sampai puas, lalu malah milih cuci tangan pas kita celaka karena mencoba mengikuti maunya mereka.

Bagi saya, hidup bukan dimulai di usia 40. Hidup itu (harus terus) berlanjut!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Harapan yang (Harus) Terpendam

Sumber foto: Rawpixel (Unsplash.com)
Kadang, harapan itu seperti harta karun.
Sebaiknya sembunyikan.
Terlalu berharga untuk kau pamerkan.
Awas, kecurian!
Selain itu, siap-siaplah jadi bahan tertawaan.

Harganya mungkin seperti napasmu,
yang kian pendek dan terus memburu
terkikis ucapan mereka yang merasa lucu
saat menilai harapmu tak sepenting itu.
Percayalah, satu kata pun mampu
mengoyak seisi kalbu.

Bisa juga seharga lebih dari permata,
meski tak tampak wajah yang suka.
Jangan tertipu topeng para pencela.
Saat kau tak awas,
mereka akan sikat harapmu sampai tandas.

Jadi, harapan itu seperti harta karun.
Sembunyikan, kubur dalam-dalam.
Cukup kamu yang paham
bahwa perwujudannya tak mungkin dalam semalam
dan lebih aman dalam diam …

R.
Categories
#catatan-harian #menulis

Menonton Hidup di Media Sosial

Menonton Hidup di Media Sosial

Di media sosial, hidup kita dinilai dari sebaris status. Sepotong cerita yang tidak lengkap, namun dianggap sumber paling tepat. Hidup kita dipuja-puji dari dua-tiga baris doa, dicela dari separagraf-dua paragraf curhatan. Bahkan, tak jarang foto dan video yang kita tampilkan pun siap jadi sasaran.

Yang sadar punya banyak pilihan. Mereka bisa memoles citra diri mereka agar terlihat mengesankan. Siapa tahu, status atau postingan berikutnya akan banjir pujian. Rasanya membahagiakan, bukan? Bagai candu gratisan, kita merasa seperti mendapatkan tambahan teman. Apalagi, pandemi Covid-19 sialan ini sudah bikin kita sulit ke mana-mana.

Yang tidak sadar mungkin memilih dikendalikan begitu saja dengan situasi media sosial yang cair, berubah, kadang dalam waktu super cepat. Terlalu cepat bahagia saat banyak yang suka, lalu terlalu jatuh dalam nelangsa saat dicela. Penonton di media sosial memang sangat reaktif, cenderung tanpa banyak berpikir. Tanpa sadar, mereka semua begitu mudah dikendalikan.

Di media sosial, hidup kita dinilai hanya dari sebaris status. Yang terlihat rajin membagi doa tampak bagai orang saleh. Yang sering curhat langsung dianggap kesepian, gila perhatian. Yang marah-marah dituduh kurang bersyukur dan perusak suasana. Banyak yang rebutan panggung di dunia maya, demi kebanggaan semu sesaat. Aku. Ada aku. Lihat aku, jangan dia. Pokoknya aku!

Orang yang berbagi kabar bahagia, seperti kelahiran anak, kesuksesan mereka masuk universitas bergengsi, hingga momen jadian dan lamaran, langsung dianggap pamer. Anak-anak yang gemar berbahasa asing di ruang publik langsung dianggap tidak menghargai bahasa dan budaya sendiri. Yang berbahasa daerah dituduh sok eksklusif, sementara yang menuduh kerap menggunakan bahasa nasional sendiri sesuka hati. Perkara ejaan hingga tata bahasa mereka anggap: “Ah, cuman segitu doang. Salah sedikit, ribet amat!”

Banyak yang menganggap standar hidup mereka sudah paling ideal. Suami bekerja, istri harus jadi ibu rumah tangga. Belum punya anak (apalagi setelah bertahun-tahun menikah) dianggap bermasalah. Baru punya anak satu, dianggap kurang. Punya anak banyak, dianggap tidak kira-kira menilik realita. Ekonomi makin susah, kerusakan lingkungan sudah makin parah.

Mereka yang merasa menjadi anak paling berbakti pada orang tua kemudian menghujat juga seorang anak yang pernah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo. Yang harusnya tidak diumbar kemudian terjadi juga. Pelakunya adalah salah satu pekerja di panti jompo tersebut. Meskipun sudah tahu akan bahayanya serba terbuka di media sosial, mereka pun memposting foto ibu tersebut dengan kalimat yang menyakitkan.

“Ibu dibuang anak di panti jompo.”                                  

Entah apa tujuan pelaku menyebarkan kabar seperti itu. Entah kenapa sampai menyebut tempat itu setara dengan tempat sampah. Bukankah itu sama saja dengan menghina rumah sendiri dan seisinya?

Lalu, apa hak mereka yang menghujat, bahkan menyumpahi bahwa si anak akan masuk neraka segala? Bantuin enggak, nyakitin iya. Apakah dengan kekasaran semacam itu, si anak akan serta merta menuruti mereka? Padahal, kenal saja juga tidak. Ikut merasa dirugikan juga tidak. Sungguh, kadang jari-jemari bisa jauh lebih berbahaya daripada isi kepala yang serba penuh cerca.

Kadang … Lebih Baik Tidak Usah Cerita Pada Siapa-siapa

Ini bukan perkara anak kecil ngambekan. Bukan juga pandemi Covid-19 yang jadi penyebab. Masalah ini sesungguhnya sudah lama terjadi, namun kelamaan dibiarkan. Saking lamanya dibiarkan, lama-lama banyak yang menganggapnya normal. Biasa saja, komentar khas mereka yang (terpaksa memilih) mati rasa.

Interaksi sosial dengan sesama manusia lama-lama jadi tidak begitu menyenangkan lagi. Semakin takut atau malas orang bercerita, meskipun bukan UU ITE penyebabnya. Penghakiman dan semangat menghujat tanpa ampun dari sesama, bahkan meskipun belum tahu kisah lengkapnya. Tak heran, kini lebih banyak yang menemukan nyaman dalam kesendirian.

Sudah, tidak perlu cerita apa-apa. Tidak perlu jelaskan pada siapa-siapa. Diam saja. Biarkan mereka terus mencari cacat dari sesama, hanya agar semakin puas menghujat dan merasa diri bebas dari dosa.

Jika hidupmu dinilai hanya dari sebaris status, maka silakan nilai mereka dari komentar yang mereka keluarkan dengan mudahnya. Tidak perlu membalas. Tidak ada gunanya. Biarkan mereka percaya hanya yang ingin mereka percaya. Mereka mengira sudah mendapatkan kisah lengkapnya, seperti biasa. Mereka merasa berjasa telah melaknat sosok yang mereka anggap penuh cela.

Mungkin, hanya sampai situ kemampuan mereka menghargai waktu luang yang ada. Hanya sekian …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Melalui Mata Mereka

Melalui Mata Mereka

Maafkan aku.

Aku hanya ingin melihatmu,

bukan dari mata ini

atau mata sosok yang kau cintai

dulu maupun kini.

Bukan dari para sahabat yang selalu mendukungmu

atau musuh yang benci setengah mati.

Aku ingin mengenalmu

melalui mata mereka

sosok-sosok yang pernah tumbuh bersama

dan mengenalmu paling lama.

Aku hanya ingin tahu

sudah cukupkah cinta untukmu

bahkan sejak dari dalam rumah?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Pengguna Aplikasi Kencan

https://unsplash.com/photos/KgLtFCgfC28

5 Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Pengguna Aplikasi Kencan

Pandemi #Covid19 masih jadi penghambat berbagai interaksi sosial. Mau ke mana-mana masih diikuti perasaan waswas. Acara kumpul-kumpul di ruang publik masih harus pakai batasan.

Yang masih lajang dan sedang mencari calon pasangan mungkin juga menggunakan aplikasi kencan atau dating app/web. Nah, entah kenapa, saya melihat masih banyak yang melakukan lima (5) kesalahan umum ini.

Obrolan garing sih, masih bisa diasah supaya asik. Cuma, lima (5) kesalahan umum ini dijamin bisa bikin targetmu di aplikasi kencan jadi malas menanggapi atau ilfil sekalian (apalagi kalau mereka mencari yang beneran serius, bukan buat sesaat):

  1. Malas baca profil karena terlalu fokus sama foto.

Oke, saya nggak mau munafik. Siapa sih, yang nggak tertarik sama wajah tampan atau cantik di foto profil seseorang? Perkara asli, hasil photoshop, atau colongan dari punya orang lain itu urusan belakangan. Yang penting suka.

Tapi, hubungan gak cuma mengandalkan tampang yang ‘enak dilihat’, bukan? Gimana kalo pas ngobrol garing? Gimana kalo ternyata aslinya dia kasar, gak sopan, dan gak menghargai kamu? Lain cerita sih, kalo kamu butuhnya hanya ‘piala berjalan’  buat dipamerin ke mana-mana, tapi sebenarnya kamu sama sekali nggak (mau) peduli sama kepribadian, pikiran, dan perasaan mereka.

https://unsplash.com/photos/1-Osp6CvhXc

2. Gak perhatian sama profil.

Sudah capek-capek menulis profil di akun aplikasi kencan, buntutnya nggak dibaca. Malah kasih pertanyaan yang itu-itu saja, padahal di profil sudah tercantum cukup jelas. Contoh: saya sudah menulis profesi saya, buntutnya ada saja yang mengirim DM dengan pertanyaan ini:

“Kerja di mana?”                                              

Itu masih mending. Ada juga dari luar negeri yang pernah bertanya asal negara saya. Selain itu, kadang rasanya percuma saya sudah pasang DISCLAIMER gede-gede soal kebijakan memberikan nomor ponsel. Kalau masih merasa belum nyaman setelah interaksi selama sebulan pertama, ya tidak akan saya berikan. Bahkan, saya nggak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Memangnya yakin, mereka nggak akan tersinggung?

Orang yang nggak perhatian sama profilmu sejak awal biasanya nggak cukup perhatian untuk mengenalmu. Maunya kamu yang harus (lebih) perhatian sama mereka.

https://unsplash.com/photos/XL-hPDNeZvs

3. Belum apa-apa sudah berani merayu, bahkan melamar.

Entah scammer atau korban cerita dongeng, strategi awal mereka selalu mirip. Mulai dari memuji foto kita, seperti menyebut kita cantik/tampan, hingga mengaku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Halah, padahal ketemu beneran aja belum!

Berdasarkan banyak cerita yang sudah beredar, baik di dunia nyata maupun lewat dunia maya, ketemu sama orang kayak gini di aplikasi kencan kudu hati-hati. Berbagai bahaya mengintai, mulai dari kasus penipuan (catfishing / scamming) sampai usaha penculikan yang berujung pada perdagangan manusia. Nah, lho. Gimana nggak ngeri, tuh?

https://unsplash.com/photos/lSMf7GJoDz4

4. Terang-terangan berpikir mesum.

Nah, ini lagi yang menjijikan. Apakah normal bagi orang dewasa untuk mikirin seks? Normal-normal saja. Mau sering berfantasi soal itu juga masih wajar. Gak laki gak perempuan, sama aja.

Yang jadi masalah adalah bila kamu ceritakan fantasimu itu pada sembarang orang. Bila kebetulan yang kamu kenal di aplikasi kencan tidak masalah dengan hal itu, baguslah.

Lain cerita bila orang yang baru kamu kenal di sana ternyata nggak suka dan merasa jijik dengan ulahmu. Bila beralasan “Biasanya nggak apa-apa, kok”, jatuhnya tetap nggak sopan. Memangnya kamu bisa baca pikiran orang? Enggak, ‘kan? Percuma juga main perkara untung-untungan, apalagi mentang-mentang selama ini kamu sudah sering ketemu orang yang nggak keberatan dengan kemesumanmu yang salah tempat.

Jangan salahkan mereka bila kamu ditolak, dimaki-maki, dilaporkan ke admin, hingga diblokir maupun akunmu di-suspend. Kalau mau aman, nggak usah sotoy deh, berasumsi semua orang akan suka dengan pendekatanmu.

https://unsplash.com/photos/8s9cDpite-8

5. Menganggap targetmu bukan orang sibuk.

Mentang-mentang kenalannya di aplikasi digital, kamu jadi lupa tata krama dan batasan. Kamu lupa kalau si dia juga masih manusia biasa. Punya pekerjaan, kesibukan, pokoknya kehidupan sendiri. Sama saja seperti kamu.

Makanya, kamu nggak berhak menuntut si dia untuk segera membalas pesanmu. Apalagi sampai marah-marah dan mengancam segala. ‘Kan bisa tanya baik-baik dulu mengenai kesibukannya, ketimbang menuduhnya hanya ingin mempermainkanmu. Siapa juga sih, yang suka asal dituduh sama orang yang belum kenal pula? Nggak mau gitu juga, ‘kan?

Hargailah privasinya. Kalau masih susah, coba bayangin, deh. Mau nggak, tengah malam kamu mendadak ditelepon sama orang yang ingin ngobrol ngalor-ngidul, tanpa peduli udah ganggu tidur nyenyakmu?

https://unsplash.com/photos/LDcC7aCWVlo

Nah, inilah lima (5) kesalahan yang masih suka dilakukan oleh para pengguna aplikasi kencan digital. Moga-moga nggak termasuk kamu, ya!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lucu

Foto: https://unsplash.com/photos/QFZ_72_NxIQ

Lucu

Aku terhibur akan manusia-manusia sepertimu

Kau jadikan hampir seluruh hidupmu

hiburan gratis sejuta umat

mimpi indah siang bolong untuk rakyat

Lalu,

kau gelagapan saat tak semua suka

melihat aibmu yang kau umbar ke mana-mana

Lantas kau merasa difitnah?

Tapi tenang.

Semua penggemarmu ada di garda terdepan,

siap membelamu mati-matian.

Perkara kamu benar atau salah,

biar itu urusan belakangan

Yang penting bukti kesetiaan

Kini kau minta privasimu dihargai

Hihihihi … apa arti privasi?

Kamu juga yang membukanya sendiri,

bahkan tiap hari,

hingga tanpa henti

Jangan takut dengan kritikus

Boleh saja menuduh mereka pembenci

Sayang sekali,

untuk semua penonton yang bereaksi,

bukan kau yang pegang kendali

Tak bisa kau pilih-pilih jenis konsekuensi

Bukankah risiko tetap kau yang tanggung sendiri?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“JADI KORBAN KEKERASAN KOK, MALAH BANGGA?”

“JADI KORBAN KEKERASAN KOK, MALAH BANGGA?”

Pertanyaan ini sering mampir di benak saya setiap kali melihat kebanggaan semu (dan kerap berlebihan) dari generasi lama. Dari angkatan tua ini, kalian pasti pernah dengar ocehan sejenis yang mengagung-agungkan diri (dan rekan-rekan seangkatan mereka), tapi sekaligus merendahkan generasi muda (yang di bawah mereka):

“Dulu digampar bokap ampe nyaris bonyok gak sampai ngadu, kok. Anak-anak sekarang pada lembek banget. Baru ditabok sekali aja udah mewek, terus curhat ke mana-mana, galau di medsos. Pake bawa-bawa hak asasi segala … “

Hmm, apa jangan-jangan malah kalian lagi yang lebih sering ngomong kayak gini ke generasi yang lebih muda?

Oke, saya paham kalau yang namanya ‘generation gap’ (jarak antar generasi atau angkatan) akan selalu ada. Wajar saja bila beda pemahaman hingga pandangan hidup, berhubung tumbuh besar di zaman berbeda. Cuma, kewajaran ini jadi nggak asik saat salah satu generasi merasa lebih unggul daripada generasi lainnya. Dalam hal ini, generasi yang lebih tua meremehkan yang lebih muda. Ini hanyalah wajah lain dari ‘ageism’.

Gak Semua Memang, Tapi …

… banyak. Sudahlah, nggak usah bawa-bawa angka hanya untuk mengecilkan masalah. Satu orang sok dari generasi mana pun saja sebenarnya sudah masalah.

Ngomong-ngomong, jadi korban kekerasan kok, malah bangga? Berasa prestasi, ya? Butuh disakiti dari direndahkan orang lain dulu, baru merasa kuat? Butuh merendahkan orang lain dulu yang tidak bernasib sama – lebih beruntung malah – hanya dianggap lebih jagoan?

Kenapa, sih? Pada gila validasi, gara-gara dulu waktu kecil (merasa) nggak pernah (dianggap) berarti?

Berani bertaruh, yang merasa jagoan karena merasa sudah ‘survive’ jadi korban kekerasan nggak akan mau kalau sampai harus mengalami hal yang sama lagi. Cara kalian merendahkan generasi sekarang sebagai generasi yang ‘manja-manja dan payah’ sebenarnya hanya proyeksi kegetiran diri sendiri dan dendam sama masa lalu.

Wajar kok, kalau merasa sakit hati dan berpendapat bahwa hidup ini tidak adil. Masa kecil kalian mungkin lebih banyak menderita daripada generasi sekarang yang menurut kalian lebih banyak enaknya. Memangnya akan mengubah keadaan bila melampiaskan rasa frustrasi kalian dengan cara merendahkan mereka? Memangnya akan mengembalikan waktu yang sudah hilang?

Seperti biasa, saya paling muak sama kesombongan macam ini. Sudahlah, bilang saja niat kalian hanya ingin balas dendam ke generasi yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal masa lalu pahit kalian, lalu kalian minta bertanggung jawab atas perasaan kalian. Terus, kalian kecewa begitu respon mereka adalah langsung balas melawan, karena sudah lebih sadar akan – yes, kalimat yang menurut kalian hanya jadi andalan anak manja saat didisiplinkan – hak asasi mereka sebagai manusia. Berbeda dengan zaman kalian dulu.

Main perbandingan dengan generasi sekarang juga nggak adil dan percuma. Memangnya kalian sudi generasi kalian dinilai sebagai angkatan yang kaku, arogan, dan hobi memaksakan kehendak? Atau malah nggak peduli? Paling kalian cukup memberi cap ‘kurang ajar’, ‘nggak sopan’, sama ‘nggak respek sama yang lebih tua’ kepada yang mengkritik kalian? Gitu ‘kan, cara mainnya? Padahal semua manusia sama-sama bisa salah, berapa pun umurnya.

Biasa, namanya juga senioritas. Yang nggak suka atau nggak terima terus berani melawan cukup kalian sebut ‘cengeng dan manja’. Gaslighting orang hanya biar diri sendiri merasa lebih superior emang paling gampang!

Setiap generasi punya masalah dan tantangan masing-masing, kok. Jadi, nggak usahlah merasa yang paling tangguh se-jagad, padahal sesungguhnya inner child kalian yang terluka. Mending cari bantuan profesional ketimbang melampiaskan amarah kalian ke generasi yang sama sekali nggak tahu apa-apa masalah kalian dulu. Udah gak adil, salah tempat pula!

Cobalah berdamai dengan realita agar tidak menjadi sosok menyebalkan. Toh, kejulidan kalian sama “enaknya” jadi generasi sekarang juga nggak akan menghasilkan apa-apa yang berguna. Waktu nggak akan bisa otomatis diulang.

Kecuali … yah, kalian mau usaha dan bisa bikin mesin waktu, terus balik ke masa lalu …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

“TERIMA KASIH KARENA TIDAK MEMINTAKU UNTUK BERCERITA”

“TERIMA KASIH KARENA TIDAK MEMINTAKU UNTUK BERCERITA”

Terima kasih.

Terima kasih atas kejujuranmu.

Karena itu,

kali ini kuputuskan untuk tidak buang-buang waktu.

Aku bisa menghemat napasku.

Aku tidak perlu bercerita

bila jelas-jelas kamu enggan mendengar

entah karena lelah

atau tiada lagi sabar.

Aku takkan bersuara

bila hanya sunyi yang kau damba.

Pandemi ini telah memberi yang kau minta:

“Jarak … antara … kita … “

Terima kasih.

Terima kasih, karena telah menyuruhku diam.

Jangan takut, aku takkan dendam.

Aku belajar untuk lebih sering memendam

daripada membuang.

Diri ini takkan merasa malang

apalagi sampai kalap meradang.

Aku bahkan akan berhenti mengirim pesan

yang takkan pernah lagi kalian baca.

Mungkin kau akan hapus semua

seakan tidak pernah ada kita

apalagi sampai ada artinya.

Sekali lagi,

terima kasih.

Memang,

tak semua sanggup berempati.

Ada yang lebih senang bicara,

namun untuk bergantian mendengar sepertinya tak sudi.

Tenang,

takkan kutuduh kau egois setengah mati.

Kapasitasmu hanya sampai di sini.

Taka da yang ingin kau lakukan lagi.

Aku cukup berhenti peduli

dan memilih pergi.

Sepertinya,

aku juga harus berterima kasih

pada pandemi kali ini.

Kurasa,

aku telah melihat dirimu yang sejati.

R.

(Jakarta, 14 Maret 2021, 9:00 AM di Kopi Kroma, Cipete, Jakarta Selatan)

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Hal yang Nyebelin Dari Orang Berpasangan di Indonesia

Foto: Unsplash.com

5 Hal yang Nyebelin Dari Orang Berpasangan di Indonesia

Kemungkinan besar tulisan ini akan memancing drama di dunia maya. Namun, bila selama ini orang Indonesia banyak yang merasa sah-sah saja merundung para lajang, kenapa kami tidak bisa mengkritik kalian juga? Ini bukan perkara balas dendam, biar sama-sama berkaca saja.

Pertama, saya secara pribadi sebenarnya tidak punya masalah sama mereka yang sudah berpasangan. Apalagi bila mereka memang benar-benar bahagia dan tidak sungkan menunjukkan kebahagiaan mereka kepada semua orang.

Namun, mereka menjadi sangat mengganggu dan menyebalkan bila melakukan kelima (5) hal ini, terutama kepada para lajang:

  • Merasa hidup mereka jauh lebih baik daripada yang masih lajang.

“Elo belum benar-benar dewasa bila belum berani menikah.”

“Sepinter dan sesukses apa pun elo dalam berkarir, nggak ada gunanya kalo elo belum punya suami/istri.”

“Nggak usah baper, ‘kan kita cuman ngingetin. Apalagi, agama juga menganjurkan menikah.”

Sering dengar ucapan-ucapan seperti itu dari semua kenalan – baik keluarga sendiri maupun teman – yang sudah menikah? Mungkin mereka merasa yang mereka lakukan itu baik, ‘sekadar mengingatkan’ agar yang masih lajang jangan “keasyikan sendirian / mengejar karir / senang-senang / dan lain-lain”.

Tapi, alangkah sombong dan lancangnya mereka bila sampai menuduh yang lajang belum se-dewasa mereka. Okelah, mereka merasa lebih baik karena ‘sudah laku’. (Hiii … hari gini masih ada saja yang mau-maunya menyamakan diri dengan barang dagangan!) Padahal, kedewasaan seseorang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan status menikah.

Buktinya? Banyak pasangan yang secara mental dan psikologis belum dewasa, sudah dipaksa menikah dengan alasan “menghindari zina”. (Padahal masih ada puasa.) Terserah sih, kalau mereka merasa sudah dewasa. Cuma ya, tidak perlu mengkerdilkan para lajang yang mungkin belum terpikir atau memang tidak mau menikah … hingga mereka yang sebenarnya memang mau menikah, tapi apa daya jodoh belum datang juga. Lain cerita kalau kamu Tuhan yang bisa langsung mendatangkan jodoh untuk mereka.

Sama … plis, gak usah deh, nyinyir dengan bawa-bawa prestasi dan kesuksesan mereka selama ini meskipun masih melajang. Kamu hanya terdengar seperti manusia iri dan dengki. Bukankah menikah seharusnya membuat kepribadian seseorang menjadi lebih baik?

  • Memaksa para lajang untuk segera mengikuti ‘jejak’ mereka.

“Kamu kapaaan nikah jugaaa? Hayooo, jangan lama-lamaaa. Ntar keburu tuaaa. Expired, loooh … “

“Buruan, sebelum kehabisan. Gak mau ‘kan, dicap perawan tua?”

“Gak kasihan sama orang tua kamu? Ntar mereka gak punya cucu, loh.”

Tolong, bedakan ajakan dengan paksaan. Ajakan yang baik hanya saran dan sebaiknya cukup diberikan sekali. Tidak perlu berkali-kali, seolah-olah kami para lajang belum cukup dewasa untuk mengerti dan mampu mengambil keputusan sendiri. Selain itu, tolong jangan samakan manusia dengan susu dalam kemasan karton. Pake ngomong expired segala … HIH!

Saya sudah tahu kalian akan bawa-bawa alasan jam biologis perempuan untuk menyuruh-nyuruh kami menikah. Makanya, kalian paling getol berbuat begini sama para lajang yang berjenis kelamin perempuan. Jujur saja, cap perawan tua sudah tidak menakutkan. Justru, takutlah bila sudah menikah, tapi tidak ada perbaikan juga dari kepribadian kalian.

Gak usah bawa-bawa orang tua kami, apalagi sampai merongrong mereka – atau anggota keluarga kami lainnya – untuk menyuruh-nyuruh kami segera menikah. Lagipula, soal jodoh dan anak itu urusan Tuhan. Memangnya kalian mau bantu mengurus anak kami nanti? Gak juga, ‘kan? Cuma ngomong doang.

  • Menyindir para lajang sebagai sosok egois dan menyuruh mereka untuk ‘berintrospeksi’ diri.

“Harusnya jomblo-jomblo introspeksi apa yang salah sama dirinya sampe gak ada yang mau sama mereka.”

“Elo terlalu pemilih kali, makanya gak nikah-nikah juga ampe sekarang.”

“Mungkin kalo elo belajar untuk gak egois dan mikirin diri sendiri melulu, bakal ada yang mau sama elo.”

Ahem, sebentar. Kamu siapa, ya? Apa yang bikin kamu yakin bahwa hanya karena sudah menikah, kamu lantas merasa sudah jauh lebih baik daripada yang masih lajang? Yakin, situ gak punya kekurangan? Daripada nyuruh-nyuruh orang lain introspeksi, mending banyak-banyak bersyukur deh, pasanganmu masih bisa tahan dengan segala kekuranganmu.

Ini juga komentar menyebalkan yang paling banyak terlontar dari mereka yang merasa sombong karena sudah menemukan pasangan hidup. Bagus, cari-cari saja kesalahan si lajang terus. Serba salah, memang. Asal pilih dibilang gampangan, giliran milihnya hati-hati malah dituduh picky. Tolong deh, kurang-kurangin maen asumsi, kalo gak mau jatuhnya jadi fitnah.

Benarkah semua lajang itu egois dan hanya memikirkan diri sendiri? Terus, apa kabar mereka yang mengurus orang tua mereka yang sudah tua – dan membiayai adik-adik mereka yang masih usia sekolah? Apa kabar mereka yang berkiprah sebagai pekerja sosial, membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa pamrih? Egoisnya di mana, coba?

Jangan sampai status menikah malah mempersempit pandanganmu akan dunia, hingga asal menuduh saja. Ibadahmu sayang nantinya.

  • Menakut-nakuti para lajang bahwa mereka akan sendirian tak terurus saat tua, karena tidak punya anak.

“Nanti pas tua sebatang kara loh, gak ada yang ngurusin. Gak nikah, gak punya anak, dah.”

Loh, kok malah jadi nyumpahin yang masih lajang, sih? Berani-beraninya mendahului takdir Tuhan. Dari mana bisa tahu bahwa semua yang masih melajang akan bernasib demikian? Memangnya kita bisa tahu umur orang? Dari mana tahu semua pernikahan akan langgeng dan tidak aka nada perceraian, kematian pasangan, atau bahkan kematian anak?

Bukannya mau nyumpahin balik loh, yah. Meskipun situ niatnya bercanda, ucapannya jahat sekali. Saya gak bisa menjamin semua lajang penyabar diperlakukan seperti itu. Kalo gak mau bales didoain yang jelek-jelek, mending diam, deh. Gampang, ‘kan?

  • Sudah julid habis-habisan sama para lajang, buntutnya tidak punya malu saat ingin meminjam uang atau meminta bantuan lainnya sama mereka.

“Pinjem duit, dong. Lo masih single, ‘kan? Pasti duit lo banyak, karena lo kerja melulu sama belum harus bayar biaya sekolah anak.”

Nah, yang ini gak hanya nyebelin, tapi bikin saya mau ngakak. Sesudah habis-habisan julidin lajang dan berusaha bikin mereka merasa gak berguna, buntutnya kena batunya. Giliran butuh duit, barulah para lajang yang semula kamu hina-hina dari kemarin kamu cari-cari.

“Kok pelit, sih? Eh, elo tuh, masih untung. Belum tau rasanya pusing bayar banyak tagihan demi ngurus anak!”

Okelah, kamu merasa kebutuhanmu jauh lebih penting daripada si lajang, hanya karena kamu sudah (memilih) menikah. Tapi kalo habis jumawa baru sadar si lajang berguna juga, salah nggak sih, kalo banyak lajang yang merasa sikapmu itu nyebelin banget?

Nah, inilah lima (5) hal yang nyebelin dari orang berpasangan di Indonesia. Semoga kamu nggak kayak gini juga, ya!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Opia

Opia

Foto: Unsplash.com

Kaukah sang legenda

yang membuat mereka bersuka cita?

Apakah kau sosok seram

dari mimpi buruk semalam?

Siapa pun kau,

efekmu serupa

meski tak selalu sama.

Aku gemetar tanpa daya

menanti efek pesonamu berikutnya …

R.