Pengajar, penerjemah, penulis, dan pemikir kritis. Jangan mudah baper sama semua tulisannya. Belum tentu sedang membicarakan Anda.
Juga dikenal sebagai RandomRuby di http://www.pikiranrandom.com/ dan GadisSenja di http://www.perjalanansenja.com/. Kontributor Trivia.id (http://trivia.id/@/rubyastari) dan beberapa media digital lain.
Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, satu aja nggak akan cukup. Bagaimana bisa? Simpel aja. Orang lain mungkin melakukannya dengan mudah. Ketika orang diminta untuk berbicara tentang pahlawan mereka, jawaban mereka bervariasi. Itu sudah pasti. Banyak yang mungkin akan menyebutkan orang tua mereka. Orang lain akan mengatakan itu adalah guru mereka.
Sesekali, Anda bisa bilang salah satu teman atau lebih adalah pahlawan Anak kecil mungkin akan menyebut pahlawan super favorit mereka, meskipun mereka jelas-jelas fiksi. Saya nggak akan memulai dengan anti-heroes, meskipun kayaknya lagi trend banget.
Jika Anda meminta saya untuk melakukan ini, saya mungkin akan cepat kehabisan kertas. Tangan saya bakalan sakit karena menulis surat cinta kepada banyak pahlawan.
Sebenarnya, sulit untuk memilih. Saya tahu bahwa beberapa orang dalam kehidupan kita akan memiliki lebih banyak energi, waktu, kemauan, kemampuan – sebagian atau semuanya – untuk berbuat lebih banyak bagi kita.
Terkadang, mereka tidak bisa atau tidak mau. Terkadang kita yang harus menyelamatkan diri dan nggak gampang kesal saat mereka menolak menolong kita. Lagi pula, mereka hanya manusia biasa, sama seperti kita. Ada saat-saat mereka merasa capek banget.
Namun, haruskah kuantitas – seperti seberapa banyak atau seberapa sering – menjadi faktor di sini? Bagaimana dengan orang asing yang papasan sama kita di jalanan? Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi, tetapi bagaimana jika momen yang sangat langka itu – mereka melakukan sesuatu yang heroik, tidak peduli seberapa kecil dan apakah waktunya tepat? Bukankah itu berarti sesuatu? Bukankah itu juga penting?
Apakah mereka tidak layak dianggap sebagai ‘pahlawan’ juga?
Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, yang pasti nggak mungkin hanya satu. Jadinya banyak … dan nggak akan pernah selesai. Karena kenyataannya, kita akan selalu bertemu dengan mereka di mana-mana.
Pahlawan setiap hari Anda akan selalu ada, terutama jika Anda (ingin) melihat lebih dekat. Orang-orang terdekat Anda, seperti keluarga dan teman-teman, pasti bisa dianggap pahlawan.
Orang asing bisa menjadi pahlawan Anda juga. Mereka bisa jadi orang yang memanggil Anda karena Anda telah menjatuhkan dompet Anda. Mereka bisa jadi menghadang penumpang laki-laki cabul di kereta, jadi bajingan itu tidak akan meraba-raba dada Anda hanya karena dia pikir dia bisa. Mungkin Anda akan melihatnya lagi, mungkin tidak. Mungkin kalian akan menjadi teman atau lebih.
Mungkin kalian akan tetap saling nggak kenal, tetapi siapa yang tahu?
Kita juga sering lupa bahwa terkadang, kita bisa menjadi pahlawan kita sendiri. Bagaimanapun, kita harus menjadi yang pertama untuk mencintai diri kita sendiri tanpa syarat.
Saya beruntung sudah bertemu dengan banyak teman baik. Beberapa bahkan sudah masuk ke dalam kategori sejati. Mungkin definisi saya tentang ‘teman sejati’ berbeda dengan Anda. Tapi, inilah lima (5) ciri teman sejati menurut saya:
Menghargai perbedaan pendapat.
Waktu remaja dulu, mungkin persepsi kita akan teman sejati masih dangkal. Pokoknya, apa-apa harus sama. Harus suka dan benci sama orang-orang/band/hal-hal yang sama. Kalo beda, dianggap nggak setia kawan.
Padahal, yang musuhan sama si A hanya si teman, masa kita yang nggak ada urusan apa-apa disuruh ikut ngejauhin? Payah, ah.
Bagi saya, teman sejati harus bisa bersikap dewasa dan menerima perbedaan, termasuk pendapat. Ini bukan lagi masalah suka film atau band yang beda atau semacamnya. Prinsip kadang memang nggak bisa diganggu, apalagi sampai digugat. Daripada berantem terus, mending terima aja kenyataannya kalau yah, kalian nggak selalu sepakat.
Nggak perlu pake drama. Nggak mau gila, ‘kan?
Menghargai privasi dan ruang gerak masing-masing.
Mungkin waktu remaja, kita suka saling curhat sama teman. Kita saling berbagi rahasia, bahkan sampai ada yang tahu A – Z aib masing-masing.
Kedengaran familiar, yah? Eh, pas tahu ternyata teman menyimpan rahasia sendiri dan enggan berbagi seperti biasanya, kita jadi kesal. Ada rasa nggak nyaman dan nggak aman yang kemudian bikin baperan.
Padahal, baik Anda maupun teman sama-sama berhak akan privasi, lho. ‘Kan, nggak semua hal kalian harus selalu saling tahu. Toh, belum tentu juga kalian suka bila akhirnya dikasih tahu.
Belajar menerima saat lagi sama-sama sibuk dan susah punya waktu untuk ketemu.
Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash
Nah, nah. Jangan mudah baperan kalau udah kayak gini. Semakin dewasa, mau nggak mau hidup bakalan tambah kompleks. Prioritas berubah. Beda dengan waktu masih sama-sama single dulu, apalagi kalau tinggalnya deket dan kerjanya bareng. Mau ketemuan buat nongkrong sampai malam lebih gampang. Tinggal bikin rencana, usaha, dan jadilah.
Sekarang? Boro-boro. Seringnya, rencana tinggal wacana. Kalau sudah begini, biasanya hanya kesal yang tersisa.
Terimalah kenyataan. Nggak ada yang berlangsung selamanya. Mungkin ini lagi belum saatnya kalian bisa ketemuan dan ngumpul lagi seperti biasa. Nggak berarti ada yang lupa, memutuskan untuk lupa, atau karena benci dan udah nggak mau temenan lagi. Hidup ‘kan, nggak sesederhana itu, kali.
Memaafkan dan saling mengingatkan.
Gambar: https://unsplash.com/photos/17yojkc2so4
Rasanya mustahil kalau berharap semua orang akan bisa ‘memaafkan sekaligus melupakan’. Bagian ‘memaafkan’ – nya sih, harus – kalau memang mau tetap jadi teman. Bagian ‘melupakan’ – nya itu yang susah dan bahkan nggak mungkin. Yang benar adalah menerima bahwa ‘berusaha berdamai dengan masa lalu’. Toh, manusia juga nggak ada yang sempurna.
Membuat Anda tumbuh menjadi sosok yang lebih baik.
Nggak masalah kalian tumbuh bareng terus atau beda lokasi. Nggak masalah juga kalian lagi pada sama-sama sibuk dan sulit meluangkan waktu untuk ketemu atau sekadar ngobrol. Yang pasti, giliran bisa, rasanya seperti kemarin saja baru ngobrol dan ketemuan. Nggak ada bedanya.
Yang pasti, beruntunglah bila sudah menemukan teman seperti ini. Meski bukan satu-satunya, belum tentu semua orang seberuntung Anda.
Kenapa sih, orang pada suka banget travelling? Alasannya pasti beda-beda. Ada yang penasaran dengan budaya lain dan ingin menambah teman. Ada yang hanya ingin jalan-jalan. Ada juga yang ingin membunuh rasa bosan. Apa enaknya sih, berada di tempat yang sama terus-terusan?
Namun, ada juga yang travelling demi kelihatan keren, alias atas nama gengsi. Yang penting sering-sering keluar negeri, sekalian pamer foto-foto selfie. Ada yang sampai berhutang di sana-sini, terus nggak tahu malu lagi.
Bagaimana dengan Anda? Semoga bukan termasuk golongan yang terakhir.
Ada yang menyamakan travelling dengan kebutuhan spiritual. Tujuannya untuk menenangkan diri, entah setelah kehilangan orang terdekat, patah hati, hingga entah apa lagi. Apa pun alasannya, semoga travelling mendatangkan bahagia dan manfaat (serta nggak perlu pake ngutang maupun bikin berang orang.)
Kita semua pasti pernah kenal model begini di kota-kota besar. Mungkin, pada satu masa dalam hidup kita, kita juga pernah begini. Kita semua kenal mereka. Bisa jadi mereka keluarga sendiri atau teman. Bisa jadi mereka kenalan – atau hanya beberapa selebriti lokal yang sedang naik daun yang ingin buru-buru mengesankan semua orang.
Siapa pun mereka bagi kita, polanya sudah kelihatan. Cara mereka berusaha terlihat selalu meyakinkan dan bersikap baik di awal. Pakaian mewah mereka, selera tinggi mereka untuk hampir … semuanya dalam hidup. Mereka bakalan bilang mereka nggak mau yang kurang dari itu. Ini jenis gaya hidup yang ingin mereka pertahankan mati-matian.
Nggak salah sih, kalau ingin hidup mewah dan nyaman. Saya sendiri nggak mau munafik; saya juga ingin. Rasanya memang jauh lebih nyaman. Cuma, cara itu hanya berhasil kalau Anda memang beneran mampu. Kalau enggak, ya bisa ketahuan juga akhirnya. Anda hanya akan membodohi diri sendiri. Lebih buruk lagi, Anda juga mungkin menyakiti orang lain. Mungkin ini ada hubungannya dengan rasa minder Anda. Tolong, jangan salahkan kota besar ini. Alasan itu udah terlalu basi.
Ada cara untuk mengatasi minder akan penampilan diri sendiri. Jika Anda berusaha nggak membuatnya jadi masalah (meskipun masyarakat memang hobi banget menghakimi), banyak senyum ramah dan bersikap baik sama orang merupakan solusi.
Nggak merasa jelek? Baguslah. Harusnya semua orang bisa merasa seperti itu. Persetan dengan standar kecantikan! Namun, tantangan berat sebenarnya adalah masalah kepribadian. Sori, tapi ini beneran. Saya sendiri nggak pernah percaya sama orang yang mengaku diri mereka baik. Semua orang juga bisa mengaku-ngaku.
Namun, kayaknya nggak mungkin mengaku-ngaku begitu tanpa kedengeran sombong. Bagaimana Anda tahu Anda orang baik? Jawabannya: enggaklah. Anda hanya bisa berusaha menjadi baik. Kalau mengaku baik, siap-siap saja dimanfaatkan orang. Pada akhirnya, sikap Anda terhadap orang lain jadi bukti atau patokan.
Jadi pembohong itu capek. Anda harus selalu berpura-pura dan berbohong, mungkin selama sisa hidup Anda. Anda berbohong, menipu, dan memanipulasi. Anda mengeksploitasi orang. Anda memakai topeng yang menutupi wajah asli Anda. Terus saja tampil palsu, apalagi demi menyenangkan orang yang sama sekali nggak tahu aslinya Anda.
Anda juga bisa sampai menjelek-jelekkan korban supaya mereka nggak berani bicara. Menurut benak sinting Anda, Anda nggak akan pernah salah. Anda-lah korbannya. Mereka seharusnya memahami Anda, termasuk alasan dari yang Anda lakukan. Egois? Tidak, Anda hanya bersikap realistis. Itu soal kebutuhan Anda.
Itu semua soal bertahan hidup. Orang mungkin ingin melakukan apa pun yang Anda minta – atau tuntut. Anda dapat meninggalkan mereka, begitu mereka nggak ada gunanya lagi buat Anda. Nggak peduli itu menyakiti mereka. Ini ‘kan soal Anda, bukan mereka. Bukan siapa-siapa.
Semua pembohong memang pendongeng yang luar biasa. Mereka akan selalu menemukan cara untuk memikat Anda. Hanya orang-orang yang skeptis yang mempertanyakan motif mereka. Cerita-cerita mereka memang hebat, tapi apa iya selalu bisa dipercaya?
Saya nggak pernah kepikiran bakalan menulis sesuatu seperti ini. Berkah kegelapan? Saya pasti gila. Bagaimana bisa kegelapan penuh berkah? Bukankah seharusnya penuh dengan hal-hal yang mematikan dan kejam? Jika Anda ingin melihatnya secara berbeda, bukankah seharusnya kegelapan berarti kosong?
Sebenarnya, kegelapan tidak selalu jahat. Sebagai contoh: gelap dapat membantu Anda sembunyi dari lawan yang selalu berlagak sempurna. Tentu saja, Anda tidak bisa bersembunyi selamanya. Ada saatnya Anda harus keluar dari kegelapan, menghadap mereka secara langsung. Melawan mati-matian.
Kegelapan mengajarkan Anda untuk memilih teman dengan bijak. Suara mereka yang manis dan menenteramkan nggak cukup meyakinkan. Anda juga perlu memperhatikan apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Seperti biasa, beberapa orang hanya ingin memanfaatkan dan yang lain hanya teman sementara, hanya saat baik. Apa pun mereka, cobalah untuk nggak terlalu dimasukin ke hati. Yang hobi memanfaatkan akan selalu segera pergi dan – jika mereka pernah kembali, Anda tahu apa yang harus dilakukan. Biarkan mereka membuktikan kata-kata mereka jika mereka bersumpah mereka telah berubah atau usir saja mereka.
Tipe yang satunya lagi hanya memiliki energi terbatas. Anda tidak dapat memaksa mereka untuk melakukan lebih dari kemampuan dan kemauan mereka yang sebenarnya.
Namun, jangan berkecil hati dengan mudah dengan adanya mereka. Faktanya adalah, masih ada orang di luar sana yang benar-benar peduli. Anda seharusnya tidak pernah mengusir mereka. Anda harus bersyukur bahwa mereka ada. Bersikap sok tegar kayak nggak butuh siapa-siapa nggak akan bikin Anda menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat.
Terkadang, Anda membutuhkan mereka lebih dari yang ingin Anda akui – bahkan sama diri sendiri. Terkadang harga diri lebih banyak nyusahin.
Sekali-sekali nggak apa-apa kok, ngebiarin mereka membantu. Biarkan mereka menjaga Anda sejenak, sampai Anda cukup kuat untuk jalan sendiri lagi.
Namun, berhati-hatilah terhadap perangkap halus ini yang disebut ‘mengasihani diri sendiri’. Nggak usah muna, semua orang pada dasarnya senang dimanjakan. Senang rasanya kalau ada orang – atau beberapa orang – yang merawat Anda. Saya nggak akan berbohong; itu zona nyaman. Saya aja juga suka.
Tetap saja, Anda tahu nggak bisa kayak gitu terus. Ada titik di mana Ada saatnya Anda harus mandiri lagi. Orang-orang yang seharusnya baik ini juga bisa lelah. Mereka juga manusia, sama seperti Anda.
Kegelapan juga mengajarkan Anda bahwa ya, kepercayaan itu lemah dan hidup terkadang nggak adil. Anda nggak tahu segalanya dan nggak apa-apa juga. Anda nggak bisa melihat semuanya, karena memang bukan takdir Anda. Nggak ada yang bisa.
Akhir kata, kegelapan juga mengajarkan Anda untuk menemukan atau menciptakan cahaya sendiri. Jangan bisanya hanya baperan dan bete. Lakukan sesuatu, apa saja. Nggak usah maki-maki. Berhentilah mengasihani diri sendiri.
Coba jalan, deh. Nggak usah lari, karena masih berisiko menabrak benda-benda dalam kegelapan. (Belajarlah menerima dan) nikmati prosesnya. Dalam kegelapan, Anda memang harus bertarung. Dengan atau tanpa siapa pun, Anda harus menemukan jalan kembali ke tempat terang lagi.