3 Tips Hadapi Pelaku Bodyshaming di Kantor
Sudah lama sekali saya merasa muak.
Ya, saya sudah muak sekali dengan kebiasaan orang Indonesia yang satu ini: kalau basa-basi atau bercanda, bawaannya
usil mengomentari fisik. Memang sih, nggak semua orang Indonesia kayak
begini. (Please, nggak perlu juga
mengingatkan saya dengan tagar #notallIndonesians. Kayak apaan aja,
gitu.)
Sayangnya, yang model begini sudah
banyak, paling kelihatan, dan berisik pula. Mendadak rasanya kayak balik ke
zaman sekolah, padahal sudah sama-sama dewasa. Nggak lucu banget, ‘kan?
Apalagi, mereka hobi banget asal mangap, lalu pakai alasan klasik sejagat:
“Cuma bercanda.”
Meskipun beralasan demikian,
sebenarnya kita berhak kok, merasa tersinggung dengan ucapan mereka. Namun,
biasanya mereka akan berusaha membela diri dengan menyebut kita baperan. Biasa banget, ‘kan?
Tenang, banyak cara untuk membungkam mereka, tanpa perlu memaki-maki. Tapi, saat ini saya baru kepikiran tiga (3) berdasarkan pengalaman sendiri, yaitu:
- Tantang saja mereka dengan makan seperti biasa.
Sebenarnya, rekan kerja semcam ini
hanya caper (cari perhatian), biar
dianggap ada. Sayang, caranya nggak banget. Contoh: pas acara makan-makan di
kantor. Rekan kerja lelaki ini menghampiri saya yang baru saja hendak
menyuapkan sesuatu ke dalam mulut. Komentarnya:
“Cewek makannya nggak boleh banyak-banyak.”
Yang saya lakukan hanya ini:
Saya: “Oh, ya? Kata siapa?”
Dia: “Kata gue.”
Saya: “Oh, gitu yah?”
Lalu…saya tetap menyantap makanan
seperti biasa dan tidak mempedulikan mereka. Kalau masih berisik juga, tinggal
sumpal telinga sendiri dengan headset. Masih
lebih mending dengerin musik metal ketimbang suara mereka. Ya, nggak?
Kayak anak kecil banget, yah? Tapi,
mau gimana lagi? Nggak semua orang se-dewasa yang mereka kira.
Mungkin mereka pikir mereka lucu.
Misalnya: Anda lagi enak-enak makan kerupuk. Sebungkus nggak mungkin habis
untuk sendirilah. Anda sudah halo-halo ke satu ruangan, mengizinkan mereka
untuk datang dan tinggal ambil kerupuknya juga kalau pada mau.
Ehh…ujug-ujug mahluk yang satu ini
menghampiri, lalu mulai bertanya-tanya soal kapan terakhir kali saya olahraga. (Memangnya kenapa saya harus menjelaskan
soal itu sama dia?) Mulai dari nanya-nanyain jenis olahraga, frekuensi
berolahraga, sampai menasihati mengenai yang boleh dan tidak boleh saya makan.
Astaga, memangnya saya anak kecil, yah?
Buntutnya, orang ini malah mau minta
kerupuknya. Konyol banget, ‘kan? Kenapa nggak dari awal aja ngomong baik-baik,
ketimbang acara nyindir berat badan segala? Itulah yang kemudian saya katakan
langsung padanya:
“Kalo mau minta, ya tinggal minta aja. Nggak usah pake basa-basi soal
berat badan segala!”
Kalau orang macam ini kesal dengan
respon seperti itu, biar saja. Siapa juga yang cari gara-gara duluan?
- Diamkan saja – atau beri tatapan
dingin nan tajam.
Kadang cara ini jauh lebih efektif
daripada sekadar marah-marah. Saat mereka mulai iseng mencari gara-gara dengan
Anda, pura-pura saja tidak dengar. Anggaplah mereka tidak beda dengan anak
kecil yang sedang mencari perhatian gara-gara bosan.
Kalau mereka masih juga berisik,
cukup pelototi mereka. Bahkan, kalau sudah kelewatan, bilang saja begini: “Mending ngebahas pekerjaan deh, daripada
berat badan gue yang sama sekali nggak ada hubungannya!”
Memang sayang, nggak semua orang bisa
benar-benar bersikap dewasa. Tapi, Anda juga nggak perlu ikut-ikutan mereka
dengan bersikap kekanak-kanakan. Justru, cukup tunjukkan Anda bisa tetap elegan.
Bodo amat dibilang galak.
R.