Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Alasan Logis Sebaiknya Tidak Buru-buru Saat Memulai Hubungan Baru

5 Alasan Logis Sebaiknya Tidak Buru-buru Saat Memulai Hubungan Baru

Baru putus atau malah ditinggal nikah? Pastinya menyakitkan. Ada perasaan marah, kalah, sekaligus gundah. Bahkan, meski sudah termasuk pihak yang berusaha keras mempertahankan hubungan, risiko ditinggal sayangnya tetap ada.

Mungkin sudah banyak yang menyarankan Anda untuk segera move on. Bahkan, banyak juga yang langsung berusaha menjodohkan Anda dengan siapa pun yang mereka kenal. (Semoga masih sama-sama single juga, ya. Kalo nggak, percuma.)

Harapan mereka? Tentu saja agar Anda tidak sedih lagi dan segera punya pasangan hidup (yang syukur-syukur bisa langgeng hingga akhir hayat).

Nggak apa-apa, sih. Mungkin ada yang langsung berhasil dengan cara itu. Ya, kira-kira secepat anak kecil yang gembira lagi, karena ada yang membelikannya mainan baru setelah yang lama hilang.

Oh, saya kedengaran nyinyir ya, barusan? Maaf, saya sebenarnya hanya mau bilang bahwa cara di atas belum tentu berhasil untuk semua orang. Jangan langsung menuduh mereka kurang berusaha dulu, karena ini dia lima (5) alasannya:

  1. Anda memulai hubungan dengan alasan salah.

Klise memang, tapi ini beneran. Mulai dari takut kesepian, cari pelarian, hingga ngikutin omongan orang (mulai dari perkara umur, permintaan ortu soal cucu, dan entah apa lagi.) Masalahnya, Anda yang nanti akan menjalani hubungan itu, bukan mereka. Pastikan Anda melakukannya karena murni keinginan dan kesiapan pribadi, bukan kata orang.

  1. Anda masih sering terbayang-bayang atau bahkan ngomongin mantan.

Mungkin ini sering Anda lakukan tanpa sadar. Bahkan, saat akhirnya ‘jadian’ lagi sama yang baru, Anda masih melakukannya. Jangan salahkan si dia bila akhirnya malah menjauh. Siapa sih, yang sudi saingan sama masa lalu?

Gambar: thedesignerprotraitstudio.com
  1. Si mantan udah punya yang baru dan Anda merasa ‘kalah’.

Haduh, masih zaman yah, soal beginian? Jangan kayak anak kecil, ah. Apalagi, menikah itu komitmen serius lho, bukan soal balapan atau ‘laku’ duluan. Janganlah suka membandingkan diri dengan barang dagangan di pertokoan. Nggak ada istilah diskon-diskonan, apalagi sampai banting harga!

  1. Punya harapan tidak realistis pada calon pasangan baru.

Ini bukan hanya soal mencari ‘ganti’ yang mirip dengan mantan, baik dari segi penampilan hingga kepribadian. (Berhubung nggak mungkin ada manusia yang 100% sama dengan yang lainnya, siap-siap aja kecewa. Kembar identik aja juga punya perbedaan.)

Ini juga bukan soal mencari sosok yang (menurut Anda nih, ya) jauh lebih baik daripada mantan. (Duile, segitu dendamnya. Lagi-lagi main perbandingan!) Sadar atau enggak, Anda pasti punya harapan bahwa hubungan berikutnya jangan sampai putus lagi.

Nggak salah sih, berharap yang terbaik. Namun, jangan sampai jadi obsesi. Yang ada malah stres sendiri dan ini juga mempengaruhi pasangan. Ingat, semua perlu proses dan pembelajaran, disertai dengan sabar. (Padahal yang nulis ini juga lagi belajar sabar, hihihi.)

Kalo sukses, syukurlah. Kalo enggak, anggep aja sebagai bahan pembelajaran atau pengalaman. Boleh usaha, tapi jangan lupa santai dan berbahagia.

  1. Belum bisa atau bahkan lupa berbahagia saat sedang sendiri.

Oke, saya sedang tidak menyangkal. Ya, kadang-kadang memang suka ada rasa sepi. Namun, inilah bahayanya bila Anda sampai segitu butuhnya punya pasangan, biar nggak kesepian dan merasa bahagia:

Anda jadi cenderung menggantungkan seluruh kebahagiaan Anda pada si dia. Yang ada, si dia malah jadi terbebani dan Anda jadi kayak lepas tanggung jawab sama perasaan sendiri.

Klise sih, tapi bahagia itu sebenarnya pilihan. Mau sedang sendiri atau bersama orang lain (terutama pasangan, hehe), bahagia itu perlu. Lagipula, orang yang bahagia akan memancarkan aura menyenangkan. Jadinya, mereka lebih mudah didekati, karena auranya positif. Percaya, deh.

R.

 

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

Yuk, Aktif Jadi Pendonor Darah untuk #AksiSehatCeria

“Yuk, Aktif Jadi Pendonor Darah untuk #AksiSehatCeria”

Semua pasti sudah tahu, kesehatan adalah anugerah tak terhingga. Bila termasuk yang bugar dan tahu cara menjaga kesehatan, pasti lebih mudah melakukan #AksiSehatCeria. Sebagai rasa syukur atas kesehatan tubuh, boleh dong, berbagi dengan sesama. Tidak perlu uang, bisa juga dengan donor darah.

Sumber: biologimu.com

Nah, apa saja manfaat donor darah? Anda yang bergolongan darah O (universal) adalah pendonor yang paling dibutuhkan, terutama dalam kondisi darurat. Bayangkan banyaknya orang yang dapat tertolong, bahkan yang berbeda golongan darah.

Beberapa manfaatnya pasti sudah Anda ketahui bila sudah rajin melakukannya, yaitu:

  1. Mengurangi kadar zat besi dalam darah dan menyelamatkan kesehatan jantung Anda.

Kelebihan zat besi dalam darah sangat berbahaya bagi jantung, karena menyebabkan kardiovaskular. Jangan sampai Anda mendadak terkena serangan jantung atau stroke, hanya karena jarang – atau malah tidak pernah – menjadi pendonor darah.

  1. Tidak hanya jantung yang selamat, hati pun juga.

Zat besi yang berlebih di dalam darah tidak hanya membahayakan jantung. Organ lain yang terancam olehnya adalah hati. Karena hati berfungsi menetralisir racun, jangan sampai hati teracuni oleh banyaknya zat besi di dalam darah.

  1. Menambah pasokan sel darah merah.

Mungkin sewaktu kecil ada yang pernah takut kehabisan darah hanya gara-gara menjadi pendonor. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Ibarat daur ulang, darah yang didonorkan akan langsung diganti dengan yang baru berkat fungsi sumsum tulang belakang.

  1. Sebagai program diet yang aman.

Percaya atau tidak, menjadi pendonor darah juga dapat membantu menurunkan berat badan. Yang pasti, bukan berarti Anda harus menguras darah lebih banyak lagi, ya. Cukup 450 ml saja dan 650 kalori sudah bisa dibakar. Ini setara dengan usaha merampingkan pinggang dengan olahraga biasa.

  1. Merasa lebih positif dan bahagia karena bisa membantu sesama.

Beramal tidak melulu dikaitkan dengan uang. Bahkan, manula yang masih rajin jadi pendonor darah (ini dengan catatan kondisi tubuh mereka masih memungkinkan, ya) mengaku merasa lebih sehat, bugar, dan bahagia. Positif sekali, bukan?

  1. Hitung-hitung sekalian tes kesehatan gratis.

Ini berlaku bagi yang suka lupa untuk melakukan medical checkup. Saat mau mendonor darah, sebelumnya Anda akan dites kesehatan dulu. Tes ini untuk menentukan kelayakan kondisi fisik Anda sebagai pendonor darah.

Jika belum sempat melakukan medical checkup, ini dia manfaat donor darah untuk Anda. Anda bisa sekalian memeriksakan diri, terutama mulai dari: nadi, tekanan darah, suhu tubuh, hingga kadar Hb atau Hemoglobin.

Semoga setelah dicek, Anda tidak menemukan beberapa virus penyebab penyakit membahayakan, termasuk: Hepatitis B dan C, HIV, sifilis, dan masih banyak lagi. Bila sampai ada, sayangnya Anda sudah tidak boleh mendonorkan darah lagi.

  1. Menurunkan risiko kanker.

Bagi yang rajin menjadi pendonor darah, Anda bisa sekalian mencegah sel-sel kanker agar tidak berkembang di dalam tubuh.

Lalu, bagaimana cara menjadi pendonor darah yang baik?

Yang pasti, jangan sampai kurang tidur sebelum mendonorkan darah. Sebagai pemilik golongan darah O (universal), saya suka sedih saat ditolak menjadi pendonor hanya gara-gara kurang tidur. Selain itu, perbanyak minuman air putih dan makanan sehat (jangan yang berlemak seperti menu cepat saji dan es krim).

Menu seperti daging merah dan sayuran yang kaya akan zat besi sangat penting bagi pendonor darah.

Khusus perempuan usia produktif dan subur: pastikan tidak sedang datang bulan, karena termasuk yang dilarang untuk mendonorkan darah. Jika sudah selesai, beri jeda minimal seminggu sebelum boleh menjadi pendonor darah.

Jangan lupa, pakailah baju yang lengannya mudah digulung untuk mempermudah proses pendonoran darah.

Selesai mendonorkan darah, bangunlah ke posisi duduk pelan-pelan. Jangan langsung memaksakan diri bila merasa pusing atau mual. Tunggulah lima jam sebelum melepas perban. Angkat lengan lebih tinggi bila darah masih keluar dan tekan sampai pendarahan berhenti.

Kompres es selama 24 jam setelah perban dibuka dapat mengurangi nyeri pada luka terbuka. Bila masih nyeri, ganti dengan kompres air hangat.

Tuh, manfaat donor darah ternyata banyak, lho. Ingin melakukan #AksiSehatCeria lainnya? Cek saja DokterSehat untuk inspirasi Anda.

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

“Yuk, Ikut Melakukan Pencegahan ‘Stunting’ Demi Indonesia Sehat”

“Yuk, Ikut Melakukan Pencegahan ‘Stunting’ Demi Indonesia Sehat”

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Sebagai bangsa yang mencintai negerinya, visi menciptakan Indonesia Sehat merupakan keinginan kita. Tentu saja, untuk mewujudkannya juga tidak mudah. Mengingat masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, ada salah satu masalah yang berpotensi menciptakan ‘the lost generation’ atau generasi yang hilang di masa depan. Ya, masalah tersebut bernama ‘stunting’.

Sangat disayangkan bila hingga kini, masih banyak yang belum akrab dengan istilah ini. Tidak perlu menjadi dokter gizi atau ahli kesehatan untuk tahu. Yang diperlukan adalah kepedulian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Untuk itu, mari kita lihat dulu sekilas tentang masalah ini.

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Sekilas Tentang ‘Stunting’

Bersiaplah, karena definisinya mengerikan. ‘Stunting’ adalah kondisi seorang anak yang kronis akibat sangat kurangnya asupan gizi ke dalam tubuh. Bahkan, stunting sudah mulai terjadi bila sejak dalam kandungan, ibu hamil tidak mendapatkan gizi yang cukup. Sayangnya, kondisi ini baru bisa terdeteksi saat anak menginjak usia dua tahun.

Jangan heran bila menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO atau World Health Organization), Indonesia menempati urutan kelima di dunia untuk kasus ‘stunting’ pada anak. Ini bukan prestasi. Daerah dengan kasus tertinggi masalah ini ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Riskesdas saja menyatakan bahwa hampir setengah populasi balita di sana – atau lebih tepatnya sekitar 40.5% – mengalami ‘stunting’.

Yang cukup memprihatinkan, rata-rata nasional kasus ‘stunting’ mencapai angka 37%.

Data WHO cukup mencengangkan: satu dari empat anak di seluruh dunia menderita pertumbuhan yang terhambat alias ‘stunting’. Ini berarti sekitar 178 juta anak yang berusia di bawah lima tahun mengalami pertumbuhan yang super lambat akibat masalah ini.

Ciri-ciri dan Gejala Penderita ‘Stunting’:

UNICEF mwmbagi kasus ‘stunting’ ke dalam dua kategori, yaitu:

  1. Kelas sedang dan berat.

Penderitanya anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan, dengan tinggi jauh di bawah rata-rata alias minus.

  1. Kelas kronis.

Penderitanya anak-anak yang tinggi badan mereka di bawah 3 cm (masih di dalam kategori rentang umur yang sama.)

Tidak hanya tinggi badan yang jauh di bawah rata-rata untuk ukuran balita, anak-anak yang menderita ‘stunting’ juga mengalami perkembangan otak yang sangat lambat. Hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental mereka serta mengganggu kemampuan belajar dan berprestasi di sekolah.

Beberapa risiko kesehatan lain yang mengintai anak-anak ini nantinya termasuk:

  • Diabetes.
  • Hipertensi.
  • Obesitas.
  • Kematian karena kasus infeksi.

Bayangkan bila jumlah ini bertambah setiap tahunnya. Bukan tidak mungkin lagi negara-negara berkembang (yang mempunyai masalah kemiskinan akut) akan semakin tertinggal dalam pembangunan. Selain berisiko menciptakan ‘the lost generation’, biaya kesehatan yang harus ditanggung pemerintah akan semakin membengkak.

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah ‘Stunting’ Pada Anak Balita?

 

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Pemerintah Indonesia telah menyerukan ajakan bersama untuk melakukan pencegahan stunting pada anak. Ajakan ini resmi dimulai pada tanggal 16 September 2018 kemarin, tepatnya di Monumen Nasional.

Mengapa hanya mencegah, bukannya sekalian mengobati?

Kabar buruk bagi kita: ‘stunting’ atau terhambatnya tumbuh kembang anak akibat kurang gizi tidak bisa diobati bila sudah terlanjur terjadi. Yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisasi kerusakan yang sudah ada. Pastinya, ini penyebab biaya kesehatan membengkak, mengingat ini sama saja dengan perawatan seumur hidup.

Berhubung masalah ini terbukti sudah dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan, maka fokus pertama adalah ibu-ibu hamil. Bila ibu-ibu hamil tidak mendapatkan akses gizi yang cukup, maka jangan heran bila mereka kesulitan menjaga kesehatan janin di dalam kandungan.

Demi masa depan anak dan untuk mencegah kemungkinan lahirnya ‘the lost generation’ dalam jumlah banyak, sebaiknya kesejahteraan ibu jangan hanya jadi slogan. Sebelum menjadi ibu, setiap anak perempuan juga wajib mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang cukup memadai.

Terlepas dari tuduhan sinis seputar feminisme, sesungguhnya masalah ini juga menjadi perhatian para feminis. Inilah sebabnya pendidikan seks untuk remaja yang memadai jangan ditabukan, meski tetap harus disesuaikan dengan perkembangan usia mereka. Justru dengan pengetahuan yang cukup akan menghindari mereka dari hubungan seksual yang tidak aman (dan di luar nikah pula). Sehingga dapat menghindari kehamilan yang tidak direncanakan, apalagi dalam usia yang masih sangat muda (16 tahun ke bawah).

Bukankah jauh lebih aman bila pernikahan terjadi karena kedua belah pihak sudah sama-sama siap, baik secara fisik, materi, hingga emosional? Jadi, perempuan jangan hanya dianggap sebagai sumber fitnah maupun beban ekonomi. Bila tidak ingin mereka jadi beban ekonomi, pastikan mereka mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang baik selain gizi yang cukup.

Pernikahan dini juga rentan dari segi ekonomi, kesiapan mental, psikologis, hingga kesehatan fisik. Kehamilan remaja (dengan organ reproduksi yang belum tentu berfungsi sempurna untuk melahirkan) juga berpotensi menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’. Apalagi bila ibu tidak lagi punya akses ke pendidikan, terutama kesehatan reproduksi dan gizi. Akses ke pekerjaan? Apalagi.

Kemungkinan di atas juga dapat diperparah dengan suami yang berpenghasilan rendah, kurang paham dengan pentingnya gizi bagi ibu hamil dan bayi, belum siap secara mental untuk mengayomi, dan malah tidak peduli.

Sudah banyak pernikahan dini, terutama di kelas ekonomi menengah ke bawah, yang berakhir dengan perceraian atau suami yang kabur untuk kawin lagi. Sementara itu, istri yang ditinggal dalam keadaan hamil atau harus mengurus bayi tidak mendapatkan dukungan berupa akses edukasi, pekerjaan yang mencukupi, dan bantuan mengurus anak selama dia harus bekerja mencari nafkah.

Jadi, jangan heran bila pernikahan dini juga berkontribusi besar dalam menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’.

Setelah gizi ibu hamil tercukupi, barulah fokus ke bayinya saat lahir. Tidak hanya ayah yang berhak makan dengan gizi lengkap, ibu dan anak juga. Itulah cara efektif untuk melakukan pencegahan stunting.

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Program Pencegahan ‘Stunting’

Banyak program pencegahan ‘stunting’ yang dapat dilakukan. Tidak hanya pemerintah, keterlibatan masyarakat juga sangat dibutuhkan. Di Indonesia sendiri ada program Kampanye Gizi Nasional (KGN) yang menyasar posyandu-posyandu di Indonesia. Bahkan, para ibu juga diajak turut aktif berpartisipasi dalam penyuluhan, demi pengetahuan dan pelaksanaan program tersebut. Selain itu, tentu saja masih ada imunisasi sebagai perlindungan ekstra pada anak.

Sebagai sesama anak bangsa, kita bisa berpartisipasi mencegah masalah ini dengan beberapa cara sederhana. Selain lebih aktif menyumbang dana bagi kaum yang membutuhkan, sebisa mungkin jangan lagi suka membuang-buang makanan. Daripada tidak mampu menghabiskannya, lebih baik bagi porsinya kepada ibu-ibu dan anak-anak yang kekurangan gizi, namun tidak punya akses ke makanan yang lebih sehat.

Ingin mewujudkan Indonesia Sehat? Jangan sampai ada lagi satu orang anak pun yang menderita ‘stunting’ di negeri ini. Jangan hanya menunggu program dari pemerintah. Kita sebagai warga negara juga bisa terlibat dalam pencegahan ‘stunting’ – sekarang juga.

Sumber:

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180916/2427924/27924/

https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/siti-anisah-2/fakta-penting-tentang-stunting-yang-wajib-kamu-tahu-c1c2/full

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/02/08/100300123/mengenal.stunting.dan.efeknya.pada.pertumbuhan.anak

 

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

Banyak tips untuk perempuan mengenai cara bersikap, terutama pada laki-laki. Padahal, perempuan juga punya keinginan, berhak didengar, dan dipahami. Mari sama-sama bersikap adil.

Kesal karena sering mengalami hal ini? Baru kenalan dengan perempuan lewat aplikasi kencan. Awalnya hangat, lama-lama kok, dingin? Lalu, tahu-tahu dia ‘menghilang’ begitu saja. Paling parah Anda sampai diblokir atau dilaporkan ke admin segala dengan tuduhan pelecehan.

Nah, sebelum menuduh perempuan itu tukang PHP (pemberi harapan palsu), sok kecantikan, hingga lebay binti baperan (biasa banget, ‘kan?), coba cek dulu lima (5) kemungkinan pahit di bawah ini. Jangan-jangan Anda tanpa sadar melakukannya.

  1. Anda cuek sama profil yang sudah dia bikin dengan susah-payah.

Oke, istilah ‘susah-payah’ mungkin memang agak berlebihan. Tapi, tinggal asal klik ‘like’ sama ‘swipe right’ (geser kanan) hanya karena tertarik dengan foto cantiknya memang gampang.

Padahal, sebuah hubungan serius tidak hanya mengandalkan ketertarikan fisik belaka. Memang, mungkin banyak yang suka berbohong lewat profil mereka, entah soal berat badan atau kesukaan. Tapi, bukan berarti nggak ada yang serius, lho.

Ayolah, era digital jangan dijadikan alasan untuk malas membaca.

  1. Memang belum bertemu yang cocok saja.

Nah, mungkin awalnya kalian baik-baik saja. Setelah beberapa saat, kok chemistry tidak kunjung ada? Belum tentu karena Anda yang dianggap nggak cukup baik atau si dia yang sok laku atau kecakepan.

Ada banyak faktor lain di luar kendali Anda. Visi dan misi yang berbeda. Anda sendiri masih ingin pacaran dulu, sementara dia sudah ingin menikah – atau bahkan sebaliknya. Yang pasti, perasaan juga tidak bisa dipaksa.

  1. Bersikap posesif dan terlalu menuntut macam-macam, termasuk tidak menghargai privasi dan ruang geraknya.

Anda mudah kesal saat dia lama membalas pesan Whatsapp dari Anda. Bahkan, saat jelas hanya dibaca tanpa dibalas seketika, pikiran Anda negatif duluan. Begitu pula dengan telepon dari Anda. Akhir pekan selalu maunya ketemuan, tanpa peduli saat itu dia juga butuh berkumpul bersama keluarga maupun teman-temannya.

Singkat cerita, Anda seakan tidak peduli kalau si dia juga manusia dengan kehidupannya sendiri. Maunya, perhatian si dia hanya tercurah untuk Anda 100%. Lha, Anda siapa? Bahkan, Anda tidak peduli saat dia memberi alasan sedang jam kerja, makanya tidak menjawab telepon atau pesan dari Anda seketika.

Yang paling ganggu, Anda meneleponnya tengah malam. Bukan buat kasih kejutan ultah (padahal resmi jadian saja belum) maupun keperluan mendadak seperti Anda-nya kecelakaan dan minta dijenguk. Mungkin ini hanya dianggap romantis di film-film drama Korea.

Di dunia nyata? GANGGU BANGET. Asli. Ngebet sih, ngebet. Tapi siap-siap aja dijauhin karena jadi terkesan creepy. Nakutin banget. Kayak nggak ada kerjaan lain gitu.

  1. Lupa bahwa masih ada proses penjajakan yang harus dilalui, alias nggak beda sama kenalan lewat dunia nyata.

Jangan mentang-mentang kenalannya lewat aplikasi kencan, maunya semua harus serba cepat. Padahal, ini sama saja dengan kenalan lewat dunia nyata. Ada proses penjajakan yang tetap harus dilalui. Lain cerita sih, kalau Anda dan si dia sudah sama-sama sreg dan mau langsung lanjut serius.

Gambar: https://unsplash.com/photos/z40srU0ugCk
  1. Masih terjebak pola pikir ‘berburu dan menaklukkan’.

Eh, kok mendadak jadi kayak di hutan belantara begini, sih? Coba tanya lagi deh, sama diri sendiri:

Mau cari pasangan hidup – atau berburu hewan langka?

Selain itu, ini dia satu kesalahan klasik yang masih lazim dilakukan banyak orang. Anda lalu berusaha mengubahnya agar sesuai dengan maunya Anda. Contoh: meski menurut Anda cantik dan seru, si dia ternyata tomboi dan suka musik metal. Anda maunya dia lebih feminin sedikit, seperti lebih sering pakai gaun dan mendengarkan lagu pop.

Hah, selamat mencoba. Kalau dia memang ikhlas ingin berubah karena keinginan diri sendiri (dan merasa itu baik), baguslah. Kalau tidak? Ya, siap-siap saja kehilangan. Lucu sekali, bukan? Anda enggan menerima dia apa adanya, sementara dia dituntut untuk selalu mengerti maunya Anda. Standar ganda.

 

Moga-moga sih, lima (5) kemungkinan di atas tidak pernah terjadi dalam usaha Anda mencari pasangan. Kalau sudah terlanjur, Anda bisa bersabar dan introspeksi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Semoga jodoh pasti bertemu ya, biar kayak lagunya Afghan.

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

Masih Suka Transaksi Manual? Coba Mandiri Online, Deh!

Masih Suka Transaksi Manual? Coba Mandiri Online, Deh!

Era digital ini telah banyak mempermudah kegiatan kita sehari-hari. Contoh: tadinya belanja harus ke toko, sekarang bisa online. Begitu juga dengan transaksi keuangan. Buat kamu nasabah Bank Mandiri, pasti juga sudah transaksi secara online, dong.

Belum? Padahal, sebagai nasabah langsung kamu sudah bisa lho, memanfaatkan kemudahan transaksi menggunakan mandiri online. Apalagi bagi kamu yang sudah punya laptop sendiri dan ponsel pintar. Tinggal manfaatkan keduanya untuk transfer maupun terima uang.

Mari cek dulu dua versi aplikasi Bank Mandiri, yaitu:

  • Mandiri online app alias Mandiri Mobile Banking.
  • Mandiri online web alias Mandiri Internet Banking.

Yang online app atau mobile banking dapat langsung diakses lewat ponsel pintar kamu. Yang online web alias internet banking bisa kamu cek di laptop. Enaknya, cukup dengan satu ID, kamu bisa langsung akses keduanya.

Aman Bayar Belanja Online dengan Bank Mandiri

Bayar belanja online dengan Mandiri dijamin aman, karena sampai dua lapis, yaitu:

  1. Lapis pertama:

Seperti yang sudah disebutkan tadi, kamu tinggal mengakses aplikasi digital Mandiri-mu dengan ID dan PIN akun yang sama. Mau di Mobile Banking atau Internet Banking juga bisa.

  1. Lapis kedua:

Setelah melalui lapis pertama, kamu masih harus menggunakan MPIN. MPIN ini adalah Kode Persetujuan atau Otentifikasi pemilik akun. Kamu bisa menggunakannya lewat device token Mandiri milikmu. Pastinya MPIN sudah harus dibuat saat kamu mendaftar langsung di kantor cabang Bank Mandiri.

Untuk lapis kedua, kamu bisa memilih menggunakan token atau langsung lewat ponsel. Ya, kecuali bila ponselnya kebetulan sedang di-charge atau ketinggalan di rumah.

Buat yang banyak keperluan, menggunakan dua aplikasi Mandiri ini bisa sangat membantu kamu, lho. Contoh: membayar tagihan bulanan listrik, air, ponsel, dan masih banyak lagi. Daripada meluangkan seharian untuk mengantri di kantor PLN seperti zaman ortu, mending pakai cara ini.

Apalagi bila kamu termasuk generasi milenial super sibuk. Senin sampai Jumat kerja, belum lagi kalau kena lembur. Akhir pekan lebih seru bila kamu ikut komunitas tertentu. Padahal, bisa jadi kamu juga masih perlu berbelanja ini-itu.

Nah, dengan aplikasi digital dari Mandiri ini, kamu bisa menghemat waktu. Misalnya: sebelum joging bersama si dia dan geng kalian, kamu masih sempat bayar belanja online untuk produk fashion favoritmu atau buku keluaran penulis keren. Waktu jadi tidak terbuang percuma alias efektif sekali.

Era digital juga semakin mempermudah generasi milenial untuk berinovasi. Misalnya: menciptakan aplikasi, membangun website, hingga mendesain toko online sendiri. Bukan cerita baru lagi bila banyak media digital untuk berbagi informasi. Salah satunya adalah Jadi Mandiri.

Apa Itu Jadi Mandiri?

Komunitas ini berisi banyak anak muda yang peduli dengan perkembangan diri, namun masih bisa tetap santai dan bersenang-senang. Makanya, banyak banget konten informatif dan mendidik di sini.

Di Jadi Mandiri, ada empat (4) kategori konten yang bisa kamu nikmati, yaitu:

  • Destinasi (terutama buat yang suka berwisata).

Sesuai nama rubriknya, Mandiri akan membuatmu lebih cepat mandiri dalam hal pengetahuan tentang keuangan. Tips dan info keuangan yang ada tidak akan bikin kamu pusing, karena bahasa yang dipakai ringan dan khas anak muda banget.

Generasi milenial terkenal dengan ide-ide segar dan keinginan mereka untuk cepat mencari penghasilan sendiri. Mereka juga lebih berani dalam bereksplorasi dan mengambil risiko keuangan.

Makanya, Jadi Mandiri bisa bikin kamu cepat sukses dalam berusaha. Ragam tips dan cerita inspirasional seputar entrepreneurship ada di sini. Jadi, kamu yang tadinya ragu untuk mulai berbisnis sedini mungkin udah nggak perlu takut lagi. ‘Kan banyak caranya di sini. Tinggal ikuti mana yang paling cocok dengan passion kamu.

Mau Daftar Mandiri Online? Buruan!

Segera datangi Kantor Cabang Bank Mandiri terdekat untuk daftar Mandiri Online. Cukup dengan KTP, Buku Tabungan, dan kartu ATM, kamu langsung mendaftar sebagai pengguna Internet Banking dan SMS Banking. Harus yang versi lengkap ya, biar bisa menikmati layanan transaksi finansial.

Setelah itu, barulah mengaktivasi akunmu.

Cara Mengaktivasi Mandiri Online

  1. Mobile Banking:
  • Untuk versi Mobile Banking, kamu bisa buka aplikasi digital Mandiri di ponsel kamu. Setelah itu, tinggal klik aktivasi.
  • Baca dulu syarat dan ketentuan yang muncul setelah klik aktivasi. Sesudah paham, tinggal klik ‘accept’.
  • Masukkan 16 digit nomor kartu debit Mandiri kamu, masa berlaku, dan tanggal lahir kamu. Sesudah lengkap, tinggal klik ‘Lanjut’.
  • OTP adalah One Time Password dan terdiri dari enam digit kode. Sesudah menerimanya lewat sms atau pop up, silakan gunakan nomor itu sebagai password untuk aplikasi digital kamu.
  • Lengkapi profile form yang muncul sesudahnya, mulai dari alamat email hingga foto profil. Setelah lengkap terisi, tinggal klik ‘Register’.

Nah, aplikasi digital Mandiri kamu sudah langsung bisa digunakan dari ponsel.

  1. Internet Banking.
  • Kunjungi website resmi Bank Mandiri. Klik Link Aktivasi Mandiri Online.
  • Lakukan langkah-langkah serupa seperti aplikasi digital Mandiri versi Mobile Banking di atas.

Nah, aplikasi digital Mandiri kamu sudah bisa langsung diakses melalui laptop.

Ragam Fitur Transaksi dengan Mandiri Online:

  1. Transaksi

Riwayat transaksi, mutasi rekening sebulan, hingga info saldo terkini dapat kamu cek.

  1. Transaksi untuk Bayar, Beli, dan Transfer.

Pembayaran tagihan, pembelian secara online, hingga transfer ke sesama pemilik akun Mandiri maupun antar bank bisa kamu lakukan di sini. Mengangsur pakai multipayment feature pun bisa.

  1. Online Extraordinary.

Mau buka deposito berjangka, top up e-money, dan top up e-cash? Gunakan fitur ini.

Proses Transaksi dengan Mandiri Online:

  1. Cek dashboard dan jumlah saldo. Lalu klik tiga garis horizontal di kiri atas.
  2. Pilih salah satu fitur yang tersedia. Setelah itu, klik transfer.
  3. Pilih menu transfer yang ada. Klik rekening tujuan dan jumlah uang yang mau kamu transfer. Klik “Tambah sebagai tujuan baru”.
  4. Jangan lupa konfirmasi bahwa nama dan nomor rekening tujuan sudah benar. Setelah itu, lengkapi data transfer, termasuk nominal dana dan berita acara. (Contoh: ‘bayar utang’.) Bila sudah, tinggal klik lanjut.
  5. Yakin sudah benar semua? Klik ‘Kirim’.
  6. Jangan lupa masukkan kode MPIN. Rampung deh, transaksi online Mandiri kamu.

Gangguan atau Kendala?

Seperti biasa, ada Mandiri Call: 14000 yang bisa kamu hubungi 24 jam seminggu. Kamu pasti akan dibantu dan dipandu.

Jadi, gimana? Masih mau pakai yang manual? Manfaatkan saja kemudahan transaksi menggunakan Mandiri online.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

Diam Atas Nama Kemuakan

Diam Atas Nama Kemuakan

Sesungguhnya ada kemuakan tak terkira saat berkali-kali harus menghadapi hal yang sama. Kadang diam (dan bersikap masa bodoh) adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Lagipula, malas juga buang-buang waktu dan tenaga. Untuk apa ribut dengan mereka yang mentalitasnya begitu – dan hanya segitu – saja?

Bayangkan bila ada sesama perempuan yang tidak Anda kenal dengan dekat. Entah demi bisnis atau keperluan sementara, Anda terpaksa harus berbaik-baik dengan mereka, terlepas dari perilaku mereka yang sesungguhnya tidak patut.

Entah ada angin apa, ujug-ujug perempuan itu banyak menanyakan hal yang sangat pribadi. Bayangkan perasaan Anda (sebagai sesama perempuan) saat harus terlibat dalam percakapan tidak menyenangkan ini:

“Sudah nikah?”

“Belum.”

“Umurnya berapa?”

“36.”

“Kenapa belum menikah?”

“Ya, belum ada aja.”

Lalu, tatapan perempuan itu jatuh ke tubuh Anda yang kebetulan tambun. Dari caranya melirik, yaitu ke atas dan ke bawah, Anda langsung tahu. Anda sedang dinilai, seperti biasa. Ini bukan peristiwa perdana.

“Nggak mau coba diet? Udah pernah belum?”

Tuh, ‘kan?

Kadang Anda terlalu malas dan muak berurusan dengan pencari drama yang caranya sama. Memang ada orang-orang yang merasa hidup mereka terlalu biasa, kurang istimewa. Agar lebih bahagia, mereka sampai harus merendahkan – kalau perlu menjatuhkan – sesama, di depan umum pula.

Karena itulah, orang-orang seperti mereka hanya patut mendapatkan satu senyuman ‘sopan’. Cukup satu saja, tidak perlu lebih dari itu. Orang-orang seperti mereka tidak berhak mendapatkan senyum tulus dari Anda. Toh, belum apa-apa mereka sudah menilai dan menghakimi.

Belum kenal? Tidak masalah. Tidak perlu kenal bagi mereka yang merasa sudah tahu segalanya.

Kadang diam adalah tembok penanda kemuakan. Biarkan mereka berpikir suka-suka, sementara Anda tinggal melenggang saja. Semoga mereka nanti masih cukup sabar saat orang lain berbuat sama pada putri-putri mereka.

Atau, jangan-jangan mereka malah memperparah suasana, sehingga putri-putri tercinta sendiri semakin merasa JELEK luar biasa?

Ah, sudahlah. Anggap saja bukan urusan Anda. Anggap saja mereka belum lulus dari “ujian menjaga lisan”.

Sayang sekali.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

7 Tips Receh Biar Nggak Mudah Nyinyir

7 Tips Receh Biar Nggak Mudah Nyinyir

Duh, kok saya malah jadi ngebahas ini lagi, ya? Abis gimana? Udah menjelang Pilpres (Pemilihan Presiden) lagi dan mulut-mulut nyinyir (serta jari-jemari jahil di atas papan ketik) kembali beraksi.

Eh, sebenernya enggak juga, deh. Manusia emang punya kecenderungan doyan nyinyir. (Sialnya termasuk saya juga kadang-kadang, hehehe. Serius. Beneran kadang-kadang.) Biar nggak jadi kebiasaan, ini dia tujuh (7) tips receh yang bisa Anda coba. Gampang banget, kok.

  1. Terimalah fakta bahwa setiap orang itu emang…BEDA.

Kalo ada yang hobi banget nyuruh-nyuruh Anda supaya jadi sama atau malah berubah seperti orang lain, rasanya gimana? Pastinya nggak mau, ‘kan? Apalagi bila kebetulan orang itu nggak Anda suka.

Begitu pula sebaliknya. Nah, biar adil dan sama-sama enak (semoga), terima aja fakta bahwa manusia itu nggak ada yang sama. Beneran, lho. Jangan sampai sebatas ucapan aja, tapi nggak ada praktiknya.

  1. Segera sadar diri begitu mulai banyak yang menjauhi.

Nggak hanya jumlah followers yang berkurang di media sosial. (Itu juga kalo Anda peduli, ya.) Di dunia nyata, orang seakan enggan mendekat. Ada apa, ya?

Jangan-jangan karena selama ini Anda punya hobi nyinyir terang-terangan. Apa-apa harus jadi bahan sindiran. Sekali-dua kali mungkin masih nggak masalah. Lama-lama, siapa juga sih yang tahan? Anda sendiri juga belum tentu kalo saban hari urusan sama model begini.

  1. Jangan keseringan berurusan dengan tukang nyinyir.

Emang, mutusin tali silaturahim itu nggak baik, apalagi bila yang termasuk manusia model begini itu masih teman, rekan kerja, atau bahkan…keluarga sendiri. (Ups!)

Sayangnya, keseringan deket sama pemilik mulut nyinyir juga nggak sehat. Selain bikin Anda jadi ikutan mikir negatif melulu, lama-lama bisa jadi stres, deh.

Habis itu, bertambahlah jumlah orang nyinyir di dunia. Kayak yang udah ada belum cukup bikin pusing aja.

Biar aman, mending interaksinya sama tukang nyinyir seperlunya aja. Serius. Biar tetap waras juga.

  1. Hindari sirik nggak penting gara-gara postingan di media sosial.

Nah, ini kebiasaan yang harusnya udah hilang, tapi kok rasanya sulit, ya? Padahal udah pada tahu ‘kan, kalo semua yang tampak ‘indah’ di postingan IG temanmu belum tentu aslinya sesempurna itu? Bisa aja cuma pencitraan.

Terus, kalo ternyata emang terbukti pencitraan kenapa? ‘Kan yang repot harusnya mereka, bukan Anda. Kalo nggak suka, tinggal unfollow biar nggak usah lihat atau baca. Kalo Anda sendiri mau ikutan pencitraan juga terserah. Apa pun itu, toh Anda juga yang harus bertanggung jawab sendiri nantinya.

  1. Bila sulit, minimal kurangin berdebat atau sindir-sindiran dengan orang lain – siapa pun itu – di media sosial maupun dunia nyata.

Nggak capek, apa? Meski yakin Anda yang benar, belum tentu mereka mau terima. Yang ada malah tanding nyinyir-nyinyiran (yang jelas-jelas nggak ada di cabang olah raga mana pun hingga berakhir jadi debatan macam anak kecil ngambekan:

“Iya, deh. Kaum elo nggak pernah salah. Kaum gue salah melulu.”

“Lo kayaknya doyan banget deh, playing victim. Makanya jadi orang jangan baperan mulu.”

Saya yakin Anda masih punya pekerjaan lain yang lebih penting daripada meladeni macam mereka. Ya, kecuali bila ada kegiatan nyinyir yang dibayar, bahkan kalo perlu sampai ngalahin gaji bulanan Anda.

  1. Lebih baik diem-diem aja tapi banyak berprestasi (yang sungguhan lho, ya.)

Ini mungkin juga udah sering banget diulang-ulang. Ampe bosen? Biarin. Nggak usah banyak omong. Biarkan prestasi yang bicara. Mungkin sebagian tukang nyinyir akan diam, mungkin malah makin cari-cari kesalahan. Nggak apa-apa. Anggep aja latihan jadi selebriti nanti.

Siapa tahu? Suatu saat Anda akan jauh lebih berguna bagi dunia, sementara mereka nggak ke mana-mana. Ya, masih di situ-situ aja, jadi yang mensukseskan Tim Nyinyir Nasional.

  1. Nggak (mudah) baperan begitu kelar baca tips receh ini.

Merasa ada yang ‘makjleb’ di hati begitu kelar baca tulisan ini? Maaf, itu bukan tanggung jawab saya sama sekali. Hihihihi…

Kalo nganggep saya pun nyinyir dengan cara ini, silakan balas di komen. Saya termasuk nyante nanggepin kritikan. Siap-siap aja tambah baper. Hihihihi (lagi.)

 

Jadi, udah pada siap ngurangin hobi nyinyir? Ayolah. Jadiin dunia ini tempat lebih ramah, biar sama-sama bahagia. Ya, nggak?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

Perang Komentar di Media Sosial Bikin Stres? Ini 4 Strateginya

Perang Komentar di Media Sosial Bikin Stres? Ini 4 Strateginya

Ingin anteng-anteng saja ber-media sosial? Balaslah komentar negatif secara cerdas. Kalau nggak penting-penting amat, diamkan saja.

  1. Lihat dulu masalah yang sedang diperdebatkan.

Apakah masalahnya secara langsung relevan dengan hidup Anda sehari-hari? Misalnya: selebriti A digosipkan berkelakukan buruk karena suatu hal. Bila kebetulan kenal dengan si A dan kabar itu nggak benar, sebagai teman silakan membela – dengan bahasa yang masih sopan, ya.

  1. Melihat nama-nama yang berkomentar.

Apakah ada yang dikenal? Bila ada, silakan ajak bicara baik-baik secara japri (jalur pribadi). Mereka boleh saja nggak sepakat sama suatu hal, namun tidak perlu memaksakan pendapatnya pada orang lain. Bila sampai marah, biarkan saja. Yang penting sudah menegur dengan baik-baik.

  1. Berusaha nggak mudah terpancing emosi, meski mendapat ‘serangan’ berupa ucapan kasar.

Namanya juga manusia, pasti beda-beda. Ada yang kalem, ada yang enggak. Bukannya memaklumi sih, tapi kita nggak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan orang lain. Kalau misalnya malah balik diserang dengan ucapan kasar, usahakan agar nggak mudah terpancing. Kelihatan sekali bahwa orang itu nggak bisa berdebat secara dewasa, karena lawan bicara selalu diserang secara personal. Entah dibilang masih kecil, sok tahu, atau kurang beribadah.

  1. Memilih untuk diam.

Choose your battles wisely. Ini kata Ibu dan beberapa teman. Bukannya pengecut ya, tapi masih banyak kerjaan lain dalam hidup yang lebih penting daripada meladeni semua orang yang nggak setuju atau nggak suka sama kita. Toh, kita juga nggak bisa mengendalikan pola pikir mereka, begitu pula sebaliknya.

Ingin anteng-anteng saja ber-media sosial? Balaslah komentar negatif secara cerdas. Kalau nggak penting-penting amat, diamkan saja.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Tips Agar Tidak Membuang-buang Makanan

Sekarang lagi banyak kampanye online dengan tagar semacam #jangansisakanmakanan hingga #piringbersih. Ada juga artikel yang viral mengenai sumbangan makanan sisa dari acara kawinan (serius!). Yang paling saya ingat adalah postingan di media sosial soal orang Indonesia yang kena semprot warga Jerman pas ketahuan nggak ngabisin pesanan mereka di restoran sana.

Komentar saya?

“DARI DULU, KEK! MASA NUNGGU MALU DI MATA INTERNASIONAL DULU?!”

*krik krik*

*tarik napas sebentar*

Oke, andai dulu saya cukup tegas dan berani untuk mulai kampanye begini duluan, siap-siap aja dicaci sesama sebagai sok alim dan diketawain, terus dibecandain: “Emang elo mo ngabisin semua makanan sisa? Nggak kurang gendut apa?”

Ada juga yang nyinyirnya defensif banget dan 11-12 sama mereka yang dengan enaknya nyampah atau bikin meja kafe atau resto berantakan, lalu main tinggal begitu aja:

“Kita ‘kan, udah bayar mereka.” (Baca: ‘mereka’ yang dimaksud di sini adalah pelayan restoran dan tim oranye alias petugas kebersihan di jalanan – meski yang ini lewat uang pajak rakyat, semoga. Kalo soal makanan gratis di kawinan, paling alasannya lebih konyol lagi: “Mumpung bisa makan banyak gratis.”)

Mungkin banyak yang sebal – dan bahkan muak – dengan perilaku ‘sok kaya’ dan “mentang-mentang ada uang” orang-orang model begini. Nah, meskipun mungkin juga udah banyak yang pada tahu, saya ingetin lagi deh, lewat lima (5) tips ini agar tidak membuang-buang makanan:

1.Dari rumah: Masak dan Belanja Seperlunya

Gambar: https://unsplash.com/photos/Mx5kwvzeGC0

Ayo, kita bisa belajar untuk tidak membuang-buang makanan mulai dari rumah. Silakan hitung jumlah orang yang tinggal bersama Anda plus kebiasaan makan mereka, termasuk porsi dan jenis menu favorit. Ini bisa mencegah adanya makanan sisa karena kekenyangan atau rasa tidak suka.

Bila ada sisa makanan di kulkas dan Anda ingin memanaskannya, sesuaikan dengan porsi makan Anda. Jangan langsung panaskan semuanya, lalu begitu kekenyangan, sisa makanan yang sudah dipanaskan ulang Anda kembalikan ke kulkas. Yang pasti, kualitas makanan tersebut sudah masuk kategori ‘diragukan’.

2. Jangan kalap saat melihat banyak makanan enak di kondangan.

Gambar: https://image.freepik.com/free-photo/celebration-party-gourmet-table-buffet_1203-4935.jpg

Nah, ini dia salah satu kebiasaan yang wajib dikurangin. Meskipun datang dalam kondisi lapar atau banyak yang disuka, jangan lantas jadi norak, ah. Apalagi bila yang menikah juga keluarga sendiri atau sahabat dekat.

Daripada malu-maluin, mending ambil dulu dikit-dikit. Kalo masih laper atau mau coba menu lain, ya ngantri lagi. Inget, bukan Anda saja yang diundang ke kawinan itu. Kasihan tamu-tamu lain yang mungkin datang telat karena halangan di jalan, lalu nggak kebagian makanan gara-gara Anda justru tega membuang-buang jatah mereka.

3. Jangan ngelunjak juga saat ditraktir makan.

Meski pacar/teman/saudara/anggota keluarga lain/bos dengan suka rela mentraktir (di tempat mahal pula!) Anda, tahu dirilah sedikit. Jangan terlalu artikan secara harafiah saat mereka bilang Anda boleh pesan apa pun yang Anda suka. Ingat ya, “apa pun” itu beda dengan “sebanyak apa pun”.

Malu-maluin banget kalo semua menu pesanan udah di atas meja, namun Anda hanya sanggup menghabiskan sebagian. Wuih, padahal tadi pas mesen semangat banget. Lima deret menu ampe disebut. Ketahuan banget aji mumpungnya kalo gitu.

4. Bila porsi makanan emang kegedean, berbagilah sama teman atau minta dibungkus, terus dibawa pulang.

Gambar: https://unsplash.com/photos/inDRPMBfX8M

Niatnya emang hanya pesan seporsi. Apa daya, seporsi pun gedenya amit-amit (apalagi kalo makan di resto internasional atau malah di luar negeri). Daripada kelihatan konyol, mending lihat-lihat dan tanya-tanya dulu ukurannya di menu. Jangan sampai Anda jadi merasa kepaksa sendiri ngabisin semuanya sekaligus sekali duduk.

Kalo lagi pergi sama teman atau rombongan masih enak. Masih ada yang bisa diajak berbagi makanan. Kalo enggak, kita tinggal minta pelayan agar membungkus sisa makanan yang kemudian bisa kita langsung bawa pulang. Gampang, ‘kan?

5. Sering-seringlah memberi makanan kepada mereka yang kelaparan namun tidak punya akses semudah Anda ke sumber makanan.

Gambar: http://www.utusan.com.my/polopoly_fs/1.338532.1465009968!/image/image.jpg_gen/derivatives/landscape_1000/image.jpg

“Orang masih banyak yang kelaparan, kamu malah buang-buang makanan.”

Nasihat ini mungkin terdengar klise. Tapi coba bayangin deh, kalo situasinya dibalik: Anda yang kelaparan dan nggak punya uang buat beli makanan. Lalu, orang lain dengan enaknya membuang sisa makanan pas di depan mata Anda. Hayo, kira-kira gimana reaksi Anda?

Mending itu makanan sisa dikasih ke Anda yang lagi kelaparan. Iya, nggak?

Nah, gimana kalo Anda nggak yakin makanan sisa yang dibungkus dari resto itu bakal kemakan dan nggak hanya ngendon di kulkas kelamaan? Daripada buntutnya kedaluarsa dan dibuang juga, mending segera kasih ke anak jalanan.

 

Berusaha agar tidak membuang-buang makanan ternyata nggak susah, kok. Cukup ikuti lima (5) tips di atas. Bahkan, kalo mau nambah tips lagi yang lebih oke juga boleh banget!

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Sumber Ide Menulis Andalan

Banyak teman dan kenalan yang bertanya mengenai cara saya bisa menulis begitu banyak. (Haduh, padahal belum sempet nerbitin buku lagi, nih!) Dari mana semua idenya? Kenapa saya memilih topik tersebut? Apakah saya punya ritual khusus atau harus berada dalam kondisi tertentu? Hmm, kayaknya harus dijawab satu-satu ini.

Daftar ini bisa bertambah panjang. Banyak alasan untuk menulis topik tertentu. Ritual khusus? Hmm, kayaknya enggak ada, tuh. Untuk lebih jelasnya, inilah lima (5) sumber ide menulis andalan sejauh ini:

1.Memperhatikan keadaan sekitar.

Apa iya hidup saya selalu seru? Nggak juga. Kadang biasa aja. Kalo terlalu seru, salah-salah saya malah nggak sempet nulis apa-apa dan dalam waktu lama.

Kadang banyak hal menarik di sekitar yang justru sering kita acuhkan. Misalnya: salah seorang editor saya paling suka mendokumentasikan kebiasaan dua kucing peliharaannya yang aneh-aneh. Saya hobi nguping obrolan orang-orang nggak dikenal yang kebetulan semeja makan saat di warung.

2.Membaca dan menonton film.

Gambar: https://unsplash.com/photos/2aKwWD-VuU8 (by.Luo Ping)

Kayaknya udah keniscayaan kalo mau nulis banyak harus banyak baca (dan nonton film). Intinya, belajar juga dari karya orang lain (bukannya nyontek lho, ya. Beda banget.) Bahkan, ada seorang teman yang pernah menyarankan saya untuk menambah variasi bacaan dan tontonan. Jadi, jangan hanya mau dengan yang saya suka dan sudah terbiasa.

3.Mimpi dan khayalan.

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Jangan pernah menganggap diri terlalu tua untuk kedua hal ini kalo mau bisa sering menulis. Memang, tetap menjejak realita itu penting. Namun, jangan sampai kreatifitas kita jadi kering, gara-gara kita ‘membunuh’-nya dengan anggapan kita terlalu tua untuk bermimpi, berkhayal, dan menganalisa keduanya. Justru, dari situlah ide-ide segar dan kadang gila tercipta.

Makanya, saya juga punya jurnal mimpi atau dream journal. Sebisa mungkin, setiap mimpi yang saya ingat begitu bangun langsung saya catat. Siapa tahu bisa jadi ide cerita seru.

4.Ikut tantangan menulis.

Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8 (by.Thought Catalog)

Ada yang butuh dorongan untuk menulis, terutama bila sedang bingung atau mengalami writers’ block. Solusinya bisa dengan banyak ikutan tantangan menulis. Nggak hanya lomba berhadiah dan pekerjaan sampingan (sebagai penulis konten), saya juga mendapatkannya dari klub menulis dan komunitas puisi yang saya ikuti.

5.Postingan media sosial.

Suka pusing baca status curhatan atau meme aneh-aneh yang diposting orang lain? Eneg baca twitwar atau sindiran #nomention? Geli ama curhatan yang kayaknya…ah, kok lebih cocok jadi konsumsi pribadi, apalagi seputar urusan ranjang? Percaya deh, bukan hanya kita yang merasakannya. Bahkan, sadar nggak sadar, kita juga suka melakukan hal serupa.

Jadi, hati-hati ya, sebelum main tuding ke wajah sesama.

Selain dengan harapan bisa sekalian numpang viral, kadang ini juga cara saya memberi komentar dengan lebih hati-hati. Daripada cenderung reaktif dan langsung menjawab di kolom komentar (apalagi bila yang ngajak debat sebenernya hanya mau cari menang), mending saya kasih tulisan panjang sekalian.

Nah, ini baru lima (5), lho. Kalo kamu sumber ide nulisnya dari mana aja?

R.