Categories
#catatan-harian #menulis

Yang Bisa Saya Pelajari dari Kecopetan Tiga Kali

Yang Bisa Saya Pelajari dari Kecopetan Tiga Kali

“Pada 30 Juli, sekitar jam 8:00 malam di halte Trans-Jakarta Karet-Kuningan, Jakarta Selatan, ada yang berani membuka ritsleting tas ransel gw dan mengambil telepon serta dompet gw. Gw baru sadar sekitar 30 menit kemudian. Nomor telepon gw adalah **-***********.

Kayaknya udah gak mungkin lagi bisa dapet itu dompet sama hape kembali. Jadi gw akan melakukan banyak tindakan prioritas besok, dari mengunjungi kantor polisi ke bank ke posko Trans-Jakarta dengan surat perintah polisi untuk izin menonton rekaman cctv mereka.

Siapa pun yang memiliki dompet dan telepon gw sekarang, bersyukur lo gak perlu berhadapan sama gw.”

Baiklah, saya tahu saya terdengar menakutkan ketika memposting itu di media sosial. Saya kira banyak orang sudah bisa tahu betapa takutnya saya ketika itu terjadi.

Sekadar info, ini adalah ketiga kalinya saya dicopet. Percayalah, ini bukan karena kecerobohan murni saya. Jakarta kejam dalam banyak hal. Singkatnya, izinkan saya menceritakan dua insiden serupa lainnya:

1. Di mal.

Pertama kali saya dicopet adalah di salah satu mal di Jakarta Selatan, sekitar satu dekade yang lalu. (Ya, bisa ketebak usia saya sekarang!) Malam itu dengan Ma, saya mencari sepasang sepatu baru.

Modusnya sama: seseorang menyelinap di belakang, membuka ritsleting tas kecil saya, dan kemudian mengeluarkan dompet saya. Syukurlah, ponsel lama saya sangat kecil dan tepat di bagian bawah tas di dalamnya. Aman, deh.

Tentu saja, saya tidak pernah mendapatkan dompet itu kembali. Saya sangat sedih hari itu, karena itu dompet yang keren banget (dengan gambar-gambar kucing di atasnya) hadiah dari kakak untuk ulang tahun saya. Plus, saya kehilangan foto teman-teman dan saya.

Apa yang paling bikin jengkel? Petugas polisi di kantor polisi dekat dengan rumah waktu itu meminta Rp10.000 (sebagai bagian dari biaya admin) untuknya mengetikkan laporan dompet saya yang hilang. Saya ingat bengong sebelum menjawab: “Pak, saya kehilangan dompet saya. Saya tidak punya uang. ”

Sayangnya, dia tidak peduli. Saya akhirnya menyerahkan kepadanya uang dari Ma … tentu saja dengan cemberut. Benar-benar melindungi dan melayani, ya?

2. Di bus, beberapa tahun kemudian.

Saya lupa tahun berapa, tetapi itu terjadi ketika saya berada di bus – dalam perjalanan ke tempat kerja. Merasa lelah karena kurang tidur, saya tertidur.

Sudah bisa ditebak yang terjadi setelah itu. Saya bangun dan menemukan ritsleting tas saya terbuka … dan dompet saya hilang. Untung bukan ponsel saya. Saya menyimpannya di suatu tempat di kantong bagian dalam tas.

Tetap saja, itu sangat menjengkelkan.

Untungnya, kali ini petugas polisi lebih ramah dan lebih simpatik daripada yang pertama ketika hal yang sama terjadi pada saya.

Sejak itu, saya benci naik bus umum. Trans-Jakarta relatif oke, asalkan penumpang lain nggak bertingkah kayak rombongan binatang liar merangsek masuk bus!

Dua peristiwa itu terjadi ketika saya masih tinggal bersama keluarga. Yang ini berbeda.

Saya sangat ketakutan malam itu. Setelah menenangkan diri, saya menelusuri kembali langkah-langkah saya dan bertanya kepada siapa pun di halte bus terakhir yang saya kunjungi. Tidak beruntung. Saya pulang ke rumah dengan tangan kosong dan penuh amarah.

Pertama, saya meminta semua kartu ATM saya di dompet untuk diblokir – via online. Kemudian saya mengirim email kepada atasan saya untuk izin absen agar dapat mengurus semua laporan yang barang hilang /  dicuri.

Setelah itu, saya memberi tahu siapa pun yang saya pikir perlu saya kabari. Keluarga saya, teman-teman saya, dan bahkan klien lepas saya dan editor saya saat ini. (Saya sedang mengerjakan buku.)

Tentu saja, saya mencoba melakukan beberapa pekerjaan malam itu, tetapi hanya berhasil menyelesaikan sedikit. Terlalu kesal, jadi akhirnya saya malah tertidur lelap.

– *** –

Pagi berikutnya, saya mencoba mencari ponsel melalui Google. Tidak beruntung. Siapa pun yang melakukannya pasti mematikan atau menukar kartu SIM saya. Untuk mengamankan semua data saya, saya menghapus telepon secara digital.

Kemudian saya pergi ke kantor polisi terdekat, yang jauh dari menyenangkan. (Emangnya pernah menyenangkan?)

Sebagai catatan, ini bukan film aksi Hollywood di mana polisi selalu bersedia membantu dengan langsung beraksi. Sama seperti sebelumnya, saya hanya bisa mengajukan laporan dan kemudian … itu saja. Tidak ada lagi. Jangan berharap terlalu banyak.

Mungkin seharusnya saya tidak berharap perlakuan istimewa. Kita berbicara tentang pejabat pemerintah, penegak hukum yang terlalu banyak bekerja, kelelahan, dan mungkin sudah melihat terlalu banyak keburukan di dunia. Tidak heran mereka menjadi skeptis … hampir sinis.

Tidak heran salah seorang petugas di lantai dua, yang telah membaca laporan pertama saya yang dibuat oleh petugas pertama di lantai pertama, mencibir:

“Ini hanya kasus kehilangan BIASA.”

BIASA. Terima kasih banyak. Meremehkan, ya?

Tidak ingin terpengaruh energi negatif mereka, saya meninggalkan kantor polisi dan langsung pergi ke bank. Sepanjang hari, semua yang saya lakukan ibarat tindakan darurat untuk mengatasi kehilangan.

Jangan tanya saya tentang pekerjaan hari itu. Saya mencoba untuk mengejar sebanyak yang saya bisa, bahkan ketika saya tidak pergi bekerja sama sekali. (Terima kasih, kehidupan digital!)

Apa yang saya pelajari dari pengalaman dicopet? Hanya satu, jangan sampai kecopetan. Anda tidak punya pilihan selain berhati-hati dan lebih sadar dengan sekitar. Ini penting, terutama jika Anda sendirian di kota-kota besar.

Jangan berharap terlalu banyak dari penegak hukum setempat. Ini bukan film di mana orang baik selalu menang. Terkadang Anda harus menerima bahwa Anda tidak mendapatkan yang Anda inginkan.

Jika Anda bertanya kepada saya, saya dapat memaafkan tanggapan dingin petugas tersebut – selama polisi lebih memperhatikan kasus-kasus seperti perkosaan, perdagangan manusia, dan pembunuhan. Saya masih tahu cara mendapatkan lebih banyak uang.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Jumawa

Jumawa

Siapa yang mati

dan menobatkanmu sebagai

Sang Ilahi?

Kau buatku geli,

wahai pencari atensi

ingin didengar sepenuh hati

dipuja-puji

setenga-mati

Mungkin ada yang cukup gila

untuk biarkanmu menang

Tiada guna

Kau begitu jumawa

Bila kau memang luar biasa,

kenapa hobi memaksa?

Kenapa begitu keras kepala?

Narcissus era terkini

Tiada cermin yang cukup

Karenamu, semuanya remuk

Otakmu penuh kepercayaan palsu

Padahal kau tidak sesempurna itu

Ayolah,

aku butuh yang lebih lucu

dari semua usaha gagalmu

untuk mengesankanku…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Yang Paling Ganggu Dari Pelawak Berlelucon Kasar

Yang Paling Ganggu Dari Pelawak Berlelucon Kasar

Dunia ini penuh dengan pelawak kasar. Mereka ada di mana-mana, termasuk seseorang yang Anda kenal. Mungkin Anda juga salah satunya.

Apa yang salah dengan bercanda? Tidak juga, selama lelucon itu dianggap pantas oleh audiens saat ini dan di waktu yang tepat. Apa yang membuat sebuah lelucon buruk? Ya, kebalikan daripada yang saya bilang barusan.

Jadi, apa yang bikin pelawak kasar itu ganggu banget? Ada jawaban yang di luar dugaan Anda.

Ngerti, kok. Pengen bikin orang terkesan, kan? Senang banget juga kalau kita dianggap lucu. Salah satu cirinya adalah saat mereka tertawa karena lelucon kita.

Namun, tidak semua lelucon itu lucu dan tidak semua orang (bisa jadi) seorang pelawak. Jika orang-orang berpikir terkadang Anda sangat serius, biarkan saja. Sama seperti ketika Anda berpikir mereka pelawak yang buruk. Terus kenapa, Anda dianggap ‘nggak asik’ hanya karena menolak (berpura-pura) menertawakan lelucon konyol mereka? Hanya karena Anda membela diri sendiri, setelah mereka mengolok-olok Anda?

Kebanyakan orang hanya mengidentifikasi pelawak buruk dari konten lelucon mereka. Entah itu lelucon yang hanya mengolok-olok orang tertentu hanya untuk iseng … atau lebih seperti penghinaan yang ‘tersamarkan’.

Sebenarnya, tipe pelawak ganggu lebih dari itu. Mereka sering salah memilih target lelucon mereka. Nggak apa-apa sih, toh pelawak profesional juga pernah salah kayak begini.

Sayangnya, kadang-kadang hanya segelintir orang yang mau belajar dan membuat setidaknya satu perubahan signifikan untuk menjadikan segalanya lebih baik. Yang lain hanya bersikap defensif dan mulai membuat semua alasan payah – didorong oleh ego mereka, atas nama hak pribadi dan superioritas yang memuakkan. Begini deh, teman-teman sekalian, kebiasaan buruk yang kemudian membawa mereka menuju kebiasaan buruk yang lain:

Memaksa orang lain untuk menertawakan lelucon konyol mereka dan menerima mereka apa adanya itu…kasar. Jika Anda memberi tahu mereka dengan jelas seberapa menyinggung lelucon mereka, mereka akan menyebut Anda terlalu sensitif. Mereka akan mengatakan bahwa Anda terlalu serius dan tidak dapat menerima lelucon mereka.

Beberapa dari mereka bahkan lebih lancang lagi. Mereka akan menyuruh Anda supaya bersikap biasa saja dan nggak usah kasar karena lelucon mereka. Bagus banget, ya? Setelah mereka menyinggung, mereka berani mengatur-atur perasaan Anda, supaya mereka tidak perlu merasa tidak enak atau merasa bersalah.

Dengan begitu, mereka tidak perlu meminta maaf. Khas narsis banget.

Harus tahan dengan pelawak ganggu ini adalah tantangan yang tanpa henti. Sangat disayangkan, tapi inilah hidup. Anda tidak pernah dapat benar-benar menghindari orang-orang seperti mereka. Mereka mendapatkan kekuatan mereka dengan menghabiskan energi Anda. Mereka hobi mengolok-olok orang lain lewat pujian palsu mereka.

Dengan begitu, mereka dapat bersikap tidak bersalah dan sok merasa terluka pada saat yang sama ketika orang lain yang mereka targetkan tersinggung oleh yang mereka katakan atau lakukan. Mereka harus memastikan tangan mereka tetap bersih. Intinya (harus) tetap Anda yang (diper)salah(kan).

Pelawak ganggu ada di mana-mana. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah membatasi interaksi Anda dengan mereka. Abaikan saja kenyinyiran mereka. Jika mereka mengharapkan – atau menuntut – agar Anda menurut, menertawakan lelucon bodoh mereka hanya untuk menyenangkan mereka, kita tahu siapa yang sebenarnya menyedihkan di sini. Tidak ada yang berhak mengatur-atur perasaan Anda setelah tersinggung.

Merekalah yang harus menjaga mulut dan jari mereka yang jahat. Anda masih suka bercanda, hanya saja bukan yang menyinggung. R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Alien

Alien

Asing di antara sesama

saling tatap curiga

bising tuduhan dan cela

geming tanpa usaha

hening kehilangan kata-kata

keping sisa hati terluka

pusing kepala…

…dan kita tak lagi berdaya,

dipecah, dibelah,

marah-marah,

hingga akhirnya…

…sama-sama kalah…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Ada yang Lucu dari ‘Menghamili Perempuan’?

Ada yang Lucu dari ‘Menghamili Perempuan’?

Ada yang lucu dari ‘menghamili perempuan’?

Rasanya emang harus nanya begini. Masalahnya, sudah dua kejadian terkait lelucon tentang ibu hamil yang menurut saya sama sekali nggak lucu:

Contoh kejadian pertama

Kejadian ini dialami oleh teman saya yang sedang hamil anak kedua. Waktu itu, dia naik transportasi publik. Karena sedang penuh, semua kursi terisi oleh penumpang lain. Teman pun memberitahu petugas mengenai kehamilannya pada petugas, sehingga petugas membantunya mencarikan kursi kosong.

“Permisi,” panggil si petugas. “Ada kursi kosong? Ada yang hamil, nih.”

Entah kenapa, mendadak seorang penumpang laki-laki langsung nyeletuk hingga beberapa penumpang lainnya tertawa:

“Kalo yang menghamili ada, nggak?”

Jangan tanya gimana reaksi teman saya waktu itu. Berdasarkan status yang ditulisnya di media sosial, teman mengaku ingin sekali menampar laki-laki yang mulutnya kayak nggak pernah masuk sekolah. Bener-bener nggak sopan!

Anggap saja laki-laki itu beruntung, karena teman saya masih ingat dia lagi hamil. Mana waktu itu juga pas bulan puasa lagi.

Contoh kejadian kedua

Atasan di kantor saya meminta saya mencarikan brand ambassador untuk maternity product klien kami. Dengan memanfaatkan banyaknya grup Whatsapp, saya meminta tolong pada para anggota, salah satunya di grup teman-teman lama. Eh, bukannya langsung dibantuin (atau minimal bilang enggak ada aja kalo memang nggak kenal calon potensial untuk jadi brand ambassador), teman-teman lama malah bercanda.

Bahkan, ada seorang teman laki-laki yang bercanda:

“Ada, tapi sebentar ya…gue hamilin dulu.”

Satu grup tertawa, termasuk anggota yang perempuan. Saya sendiri akhirnya merasa hanya buang-buang waktu meminta tolong sama mereka. Bukannya nggak suka bercanda, tapi ‘kan, ada waktu dan tempat yang tepat. Siapa tahu saat itu saya minta tolong karena sudah terdesak deadline.

Apa sih, yang lucu dari ‘menghamili perempuan’? Kenapa ketawa pas mikirin hal itu?

Saya yakin, kalo kedua laki-laki tadi saya tanya gitu, pasti pada nggak bisa jawab. Paling ngelesnya cuman, “Becanda, gitu aja serius amat.” Atau paling enggak, saya dituduh baperan dan diminta biasa aja, gak usah galak-galak amat alias nge-gas. Biasa banget, ‘kan? Mungkin lain cerita kalo yang negur mereka kebetulan juga sama-sama laki-laki. Gak tau, deh.

“Belum hamil aja udah sensi gini. Gimana entar?”

Padahal, saya yakin mereka udah nggak perlu dikasih tau lagi kalo buat perempuan, hamil ini perkara serius. Ini bukan soal pembuktian bahwa laki-laki yang menghamili mereka nggak masuk kategori MANDUL. Ini soal perubahan drastis dalam setiap aspek kehidupan mereka sebagai perempuan dan manusia.

Nggak hanya secara fisik, hormon juga udah pasti bakal mengubah kondisi psikis perempuan. Kayak teman saya yang tadinya bisa melenggang santai naik transport publik dan gak peduli kalo gak dapet kursi, sekarang mau nggak mau harus duduk. Bukan apa-apa, banyak kasus perempuan hamil kelelahan hingga hampir jatuh pingsan atau punya masalah hernia karena terlalu lama berdiri.

Laki-laki yang nggak pernah harus mengalami semua hal di atas tinggal menjadikan pengalaman menghamili perempuan sebagai bahan bercandaan. Ngakunya memuliakan perempuan, tapi kok gaya bercandanya gini amat, yah?

Jujur, saya bergidik. Tiba-tiba saya membayangkan pelaku pemerkosaan yang akhirnya ‘untung dua kali’ gara-gara kebijakan ‘damai’ maupun ‘menikahkan korban dengan pelaku’ sebagai solusi yang entah kenapa sering banget dipilih masyarakat negeri +62 ini.

Bisa aja ‘kan, laki-laki ini tadinya naksir korban, namun karena ditolak – jadinya dia menempuh jalan biadab ini demi mendapatkan si perempuan dengan cara apa pun? Toh, masyarakat juga masih akan tetap berpihak pada mereka. Korban jadi dipaksa nggak punya pilihan, kecuali ‘diikat’ seumur hidup dalam perkawinan yang sama sekali nggak mereka inginkan. Intinya, masyarakat lebih peduli bahwa korban terlanjur hamil tanpa suami, bukannya korban trauma dengan laki-laki yang memaksa menghamilinya.

Sampai sini, yakin masih ada mau ketawa soal menghamili perempuan?

Saya yakin, yang hobi bercanda soal menghamili perempuan sebenarnya sudah tahu bahwa ada nyawa yang dipertaruhkan di sini. Ya nyawa calon ibu, ya nyawa janin di kandungan. Tapi, mereka ngeh nggak, kalo perempuan masih harus merasakan berbagai kekhawatiran lain? Badan yang berubah, jadi lebih gemuk dan belum tentu bisa langsing lagi serta payudara kendur bikin insecure.

Takutnya, abis itu suami jadi nggak tertarik lagi sama istri…eh, terus cari-cari alasan buat selingkuh atau poligami. Gila, udah bertaruh nyawa demi anak, buntutnya malah ditinggal pergi. Nggak usah mendebat dengan argumen #TidakSemuaLakilaki, karena intinya memang banyak yang model begini. Gak usah berkelit.

Banyak bukti lain yang nunjukin kalo perempuan hamil itu bukan perkara remeh yang bisa dijadiin bahan lelucon, apalagi lelucon model fratboys barusan. Salah satunya soal stunting. Menurut data terkini dari artikel Katadata Januari 2019 kemarin, satu dari tiga bayi di Indonesia berisiko mengalami stunting. Penyebab awalnya dari ibu hamil yang kekurangan gizi. Bukan karena si ibu nggak mau makan makanan yang bergizi, tapi banyak juga yang mengalami kesulitan ekonomi.

Udah gitu, masih risiko disalah-salahin lagi. Ya, gak bisa ngatur duit belanja dari suami, gak ngurusin anak dengan baik. Ih!

Banyak juga perempuan usia remaja yang dipaksa menikah demi menghindari zina. Hamil terlalu muda membuat mereka lebih rentan terkena masalah kesehatan, termasuk risiko keguguran. Eh, lakinya malah cuman bisa bangga karena bisa menghamili yang lebih muda. Apa-apaan, sih?

Bukti terakhir ada di teman saya, Tiar Simorangkir dari @lamhorasproduction . Saat ini Tiar dan teman-temannya sedang merampungkan film dokumenter berjudul “Invisible Hopes”, tentang napi perempuan yang hamil dan terpaksa melahirkan serta membesarkan bayi mereka di penjara. Gak semua beruntung punya keluarga yang mau menampung anak mereka. Ada juga yang terpaksa menyerahkan anak mereka untuk diadopsi.

Mau menghujat perempuannya? Terserah, karena sebenarnya banyak dari mereka yang sebenarnya menjadi korban karena ditipu suami sendiri. Sudah nggak boleh kerja, nggak boleh bantah dan banyak nanya suami, tahunya suami kerja yang nggak halal (kayak jadi bandar narkoba). Begitu dicari-cari polisi, mereka kabur seperti pengecut, membiarkan istri sendiri ditangkap karena narkoba yang ditemukan di rumah mereka.

Lagipula, yang jadi masalah lebih kritis di sini juga kesejahteraan si anak.

Okelah, mungkin yang hobi bercanda soal menghamili perempuan belum sadar kalau itu termasuk pelecehan. Tapi, setelah membaca artikel ini, saya tanya sekali lagi, ya:

Yakin nih, kalau perkara ‘menghamili perempuan’ itu bisa kalian jadiin bahan lucu-lucuan?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Jangan Hina Dirimu!

Jangan Hina Dirimu!

Masa kau sudi

dibandingkan sama kucing

yang tak tahan melihat ikan asin?

Ayolah.

Mana akalmu?

Katanya mahluk berlogika.

Masa mau jadi serendah itu?

Perempuan itu hanya lewat,

meski dia sendirian

jangan jadi alasan kau berlaku bejad.

Dasar bangsat!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

3 Keuntungan Dianggap Bodoh

3 Keuntungan Dianggap Bodoh

Hah? Dianggap bodoh kok, untung? Bukan harusnya merasa terhina, ya?

Saya yakin, banyak yang berpendapat begitu. Sudah sekolah tinggi-tinggi, tapi masih juga diremehkan – entah karena masih junior atau perempuan. Bahkan, mereka yang hobi meremehkan suka nggak tanggung-tanggung mengecilkan dan mempermalukan Anda di depan umum.

Tapi sebenarnya, Anda nggak perlu merasa tersinggung amat. Bahkan, Anda bisa memanfaatkan mereka yang menganggap Anda bodoh. Inilah tiga (3) keuntungan dianggap bodoh:

  • Bebas upgrade diri tanpa terlihat orang lain.

Sebenarnya, Anda juga nggak perlu cerita semuanya ke orang lain, termasuk mereka yang menganggap Anda bodoh. Biarkan saja. Justru Anda bisa lebih berkonsentrasi saat upgrade diri sendiri. Nggak perlu ditonton orang lain juga, ‘kan?

Entah itu skill, kepribadian, atau bahkan penampilan, Anda fokus sama diri sendiri. Tanpa banyak bicara, Anda bisa buktikan pada mereka bahwa selama ini mereka salah. Kapan? Ya, tinggal tunggu waktunya. Misalnya: saat mereka lengah dan berbuat kesalahan, lalu Anda datang dan membenarkan.

Eh, tapi sebenarnya nggak perlu begitu juga nggak apa-apa, hehe. Yang penting tetap bahagia dengan diri sendiri.

  • Bikin mereka tanpa sadar membuka aib sendiri.

Orang yang menganggap Anda bodoh biasanya terlalu percaya diri dan cenderung sok tahu. Mereka sangat gemar berasumsi, bahkan meskipun nggak kenal-kenal banget dengan Anda. Daripada capek-capek berusaha menjelaskan kepada mereka atau membela diri, mendingan diam saja. Biarkan mereka mempercayai yang ingin mereka percayai.

Tanpa sadar, mereka merasa aman-aman saja membuka aib sendiri, seperti dua (2) hal ini:

  • Menunjukkan kelemahan mereka.
  • Membocorkan rahasia mereka yang suatu saat (dapat digunakan untuk) mengancam posisi mereka sendiri.

Untuk yang terakhir, Anda bisa menyimpan semua ‘bocoran info’ dari mereka dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu, suatu saat nanti bisa berguna.

Hihihihihi…..

  • Diam-diam bebas balas ‘membodohi’ mereka tanpa mereka sadar.

Mungkin Anda akan tergoda untuk berbuat jahil atau jahat, mungkin juga tidak. Berhubung mereka lengah, kenapa tidak? Hitung-hitung, sekalian membalas dendam karena selama ini diremehkan.

Tapi…eh, ngapain juga, sih? Hati belum tentu tenang meski sakit hati terbalaskan. Lagipula, ini sama saja seperti di film-film drama thriller. Hanya karena mereka nggak sadar ditipu orang yang selama ini mereka anggap bodoh, bukan berarti orang lain nggak melihat yang sebenarnya.

Biasanya, yang pintar dan nggak banyak bicara yang lama-lama bisa tahu, bahwa Anda sebenarnya tidak sebodoh yang dikira. Makanya, jangan senang dulu saat merasa lolos-lolos saja setelah berhasil mengerjai orang yang selama ini menganggap Anda bodoh.

Hehe, untuk poin terakhir, sebaiknya jangan pernah dicoba, ya? Lain cerita kalau merasa hidup Anda kurang drama. Saya sendiri nggak menyarankan Anda agar pura-pura bodoh. Maksud saya, daripada mudah tersinggung karena diremehkan, buktikan saja lewat prestasi nyata. Nggak perlu sesumbar segala. Biasa saja.

Biarkan saja mereka percaya bahwa Anda bodoh luar biasa. Pada waktu yang tepat, giliran Anda yang paling akhir tertawa.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tempurung

Tempurung

Di baliknya,

kau aman.

Tidak ada aib yang terbuka.

Namun, jangan.

Jangan paksa mereka

untuk jadi katak yang sama.

Tidak, bila mereka ingin melihat dunia.

Terlalu sempit tempurung itu,

dengan kau dan egomu.

Biarkan mereka bebas

bukan mati kehabisan napas.

Kau sendiri yang memilih penjaramu…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

IPOT – Aplikasi Investasi Saham Indopremier yang User-Friendly

IPOT – Aplikasi Investasi Saham Indopremier yang User-Friendly

Seminggu telah berlalu sejak saya berkesempatan hadir di acara “Maximize Your Rupiah” with Indopremier. Acara yang diadakan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, pada 22 Juni 2019 lalu, bertepatan dengan ulang tahun ibukota Jakarta. Meskipun masih sedikit terbingung-bingung sebagai awam, IPOT berhasil mencuri perhatian saya.

Dulu, sebagai orang awam, berinvestasi saham terdengar ‘wah’ di telinga saya. Meskipun terdengar keren, ada rasa khawatir akan merugi bila saham yang sudah dibeli mendadak turun harga dalam waktu cepat. Bahkan, kabarnya untuk ikutan saja membutuhkan prosedur yang rumit dan memakan waktu lama.

Namun, dengan adanya aplikasi IPOTPAY, orang awam pun bisa mencobanya. Bahkan, setelah mendaftar di aplikasi ini, Anda sudah langsung bisa jadi investor dalam waktu kurang dari sejam. Bila jumlah dana yang jadi kekhawatiran, Anda bisa memulai investasi saham hanya dengan 100 ribu rupiah.

IPOTPAY terdiri dari berbagai jenis, seperti: IPOTGO (termasuk untuk reksadana), IPOTKU, IPOTSTOCK, IPOTFUND, IPOTPLAN, IPOTNEWS, sampai IPOTSyariah khusus investor saham beragama Islam yang ingin berinvestasi murni secara halal. Tiga (3) manfaat menggunakan IPOTPAY adalah:

  • Adanya imbal hasil harian hingga 10 persen per tahun. Enaknya, imbalan ini bisa diambil kapan pun.
  • Tidak ada biaya administrasi.
  • Gratis biaya transfer. Bahkan, tidak ada limit transaksi saat transfer ke bank.

Mencoba Aplikasi IPOTPAY

Mendaftar pada aplikasi IPOT tidak rumit, hanya butuh teliti dan mau membaca keseluruhan persyaratan. Selain itu, ada dua (2) kali login untuk pengamanan dobel pada akun Anda. Yang pertama adalah login dengan nama akun dan password. Yang kedua adalah login PIN, hampir sama dengan login PIN kalau mau mengakses akun bank di ATM.

Setelah itu, barulah Anda bisa mulai mencoba melakukan online trading. Bila mengalami kendala, Anda bisa langsung melapor ke support@indopremier.com

Mengapa Berinvestasi Saham Itu Penting?

Bapak Marco Poetra Kawet, perwakilan BEI yang hadir sebagai salah satu pembicara hari itu, menyebutkan bahwa ada tiga (3) hal yang dapat membuat fintechs (financial technologies) seperti IPOT dapat ‘menguasai pasar dunia’, yaitu:

  1. Simplicity.

Tidak perlu banyak berkas untuk mendaftar di akun IPOTPAY dan lain-lain. Bahkan, cukup beberapa klik saja, akun Anda sudah jadi.

  • Efficiency.

IPOT tidak akan ribet, karena banyak fitur di dashboard yang dilengkapi dengan dua bahasa (Inggris dan Indonesia, tergantung pilihan user) yang mudah dipahami. Bila masih mengalami kendala, user bisa melapor langsung ke

  • Speed.

Bila dulu butuh waktu lama untuk ikut berinvestasi saham (misalnya: sebulan hanya untuk mengurus pendaftaran), maka aplikasi IPOT hanya membutuhkan minimal sejam untuk hal serupa.

Bila selama ini kita sudah terbiasa untuk menabung, kenapa tidak mulai coba berinvestasi saham?

Menggunakan IPOTGO Untuk Online Trading

Guilty as charged, hingga kini saya belum sempat banyak mencoba menggunakan aplikasi IPOTGO. Beberapa detil yang saya ingat pada tanggal 22 Juni di BEI waktu itu adalah bahwa keuntungan bagi pemegang saham adalah capital gain yang bisa mereka dapatkan.

Selain itu, keuntungan punya saham lewat aplikasi IPOTGO ini sama dengan investasi saham secara non-digital. Laba perusahaan dibagi secara adil kepada semua pemilik saham, tentu sesuai perjanjian yang berlaku.

Bila baru pertama kali berinvestasi saham, saran dari para ahli adalah berinvestasi saham untuk produk sehari-hari, terutama yang sudah familiar bagi Anda. Bila di IPOT tidak menemukan saham produk yang dicari saat ini, Anda tinggal gunakan fitur search untuk mulai berburu produk incaran Anda.

Hmm, sepertinya saya harus meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk menggunakan IPOT. Tidak hanya menambah pengalaman di bidang finansial, siapa tahu saya bisa mendapatkan penghasilan sampingan.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lelaki Penuh Dengki

Lelaki Penuh Dengki

Lelaki penuh dengki

berkicau di Twitter penuh benci

menyebut makeup di wajah perempuan

sebagai tanda mereka tak berotak.

Lelaki penuh dengki

mungkin sedang tak tahan dengan sepi

Perhatian pun dia cari

lewat hinaan sana-sini.

Siapa yang sudi

cintai lelaki penuh dengki?

Mungkin dia memang harus sendiri

bila masih gemar mencaci…

R.